Sikap Pertengahan Ahlus Sunnah

Sikap Pertengahan Ahlus Sunnah


Salah satu karakteristik agama Islam adalah keadilan, bersikap pertengahan antara sikap melampaui batas dan sikap terlalu meremehkan.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا… {143}

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu….” (QS. Al Baqarah: 143)

Continue reading

Advertisements

Ilustrasi tentang merapatkan Shaf yang benar dan salah

Ilustrasi tentang merapatkan shaf yang benar dan salah

Imam Wajib Meluruskan Shaf

Imam Wajib Meluruskan Shaf

(Soal-Jawab: Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XII)
PERTANYAAN :

Sebelum mengucapkan takbir dalam shalat, imam menghadap makmum untuk meluruskan dan merapatkan shaf. Apa yang seharusnya diucapkan ? Bila imam tidak melakukannya, bagaimana hukumnya? Tolong diberikan contoh-contoh dari hadits dan Sahabat. Continue reading

Kiat Mengatasi Terorisme Di Tengah Kaum Muslimin

Kiat Mengatasi Terorisme Di Tengah Kaum Muslimin

(Oleh: Ustadz Ahmas Faiz bin Asifuddin)

Ada beberapa cara yang secara teoritis dapat ditempuh oleh kaum Muslimin dan pihak-pihak berkepentingan untuk mengatasi dan memutus berlangsungnya kegiatan teror. Namun, secara praktis memerlukan kesungguhan dan keikhlasan kerja dari berbagai pihak. Motivasi yang mendorong kerja keras ini, yang paling pokok adalah keimanan kepada Allâh Ta’âla, dengan maksud mencari ridha serta pahala-Nya. Sehingga yang diutamakan adalah kemaslahatan dan kepentingan umum, bukan kemaslahatan dan kepentingan pribadi. Dengan demikian, akan tercipta upaya penanggulangan bersama, dalam lingkup ta’âwun ‘alal al-birri wat-taqwa (tolong menolong serta kerjasama berdasarkan kebaikan dan ketakwaan), bukan atas dasar berebut kepentingan duniawi yang memicu persaingan tidak sehat dan saling mencurigai. Continue reading

Bermula dari Pengkafiran, Berujung Pengeboman

Bermula dari Pengkafiran, Berujung Pengeboman

(Oleh: Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari)

Kehormatan seorang Muslim sangat mulia di sisi Allâh Ta’âla. Oleh karena itu, tidak boleh merusak kehormatan seorang Muslim dengan cara-cara yang tidak dibenarkan syari’at, seperti menuduh dan menghukumi kafir terhadap seseorang yang zhahirnya Muslim tanpa kaedah-kaedah yang benar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâh berkata:

“Tidak seorang pun berhak mengkafirkan seseorang dari kaum Muslimin, meskipun dia telah melakukan kekeliruan atau kesalahan, sampai ditegakkan hujjah (argumen) kepadanya dan dijelaskan jalan yang benar. Karena orang yang keislamannya telah diketahui secara yakin, maka keislamannya itu tidak akan hilang darinya hanya dengan keraguan. Bahkan keislamannya itu tetap ada sampai ditegakkan hujjah dan dihilangkan syubhat (kesamaran)”.[1] Continue reading

Infor­masi dauroh bersama:Ust.Ahmad Sabiq bin Abu Yusuf.LC, 22–24 April’11 (BATAM)

Infor­masi dauroh Islam Ilmiyyah bersama:Ustadz.Ahmad Sabiq bin Abu Yusuf.Lc, dari Ma’had Al Furqon Gresik  22–24 April’11  (Batam )

Sumber : http://www.hang106.or.id/

Tafsir Surat al-Qâri’ah

Tafsir Surat al-Qâri’ah

(Oleh: Abu Abdillah Arief B. bin Usman Rozali)

Qs. al-Qari'ah

1. Hari Kiamat.
2. Apakah hari Kiamat itu?
3. Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?
4. Pada hari itu manusia adalah seperti kupu-kupu yang bertebaran.
5. Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.
6. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya,
7. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
8. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya,
9. maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah.
10. Tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu?
11. (Yaitu) api yang sangat panas.

Surat yang mulia ini adalah makkiyah, dan ayat-ayatnya berjumlah sebelas ayat.[1]

Pada ayat yang pertama sampai ketiga, Allâh Ta’ala mengulang-ulang kata al-Qâri’ah (القَارِعَةُ). Diawali dengan kalimat pernyataan atau berita, kemudian dilanjutkan dengan dua kali kalimat pertanyaan. Sebagaimana telah diterangkan oleh para ulama, hal ini merupakan pengagungan Allâh Ta’ala terhadap betapa besar dan dahsyatnya hari Kiamat.[2] Continue reading

%d bloggers like this: