Syubhat Seputar Maulid (1-2 )

Syubhat Seputar Maulid (1-2)

Cara Berdalil Yang Aneh bin Ajaib Ala Ustadz Novel Alaydrus

Berikut ini kami kutipkan bagaimana Ustadz Novel berdalil untuk membenarkan perayaan maulid Nabi SAW.;

Kemuliaan hari jum’at

Dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ahmad, disebutkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda:

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا

Hari terbaik di mana matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu Adam dimasukkan ke dalam Surga, dan pada hari itu juga Adam dikeluarkan dari Surga. (HR Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad).

Dalam hadis di atas Rasulullah SAW. menyebutkan tiga alasan penyebab kemuliaan hari Jumat, dan salah satunya adalah sebagai hari penciptaan Nabi Adam AS. Hari itu menjadi mulia karena di dalamnya terjadi banyak peristiwa mulia. Nah, jika di hari penciptaan Nabi Adam kita diperintahkan untuk banyak bershalawat kepada Rasulullah SAW., lalu apakah kita tidak boleh merayakan hari kelahiran beliau SAW. dengan menyelenggarakan majelis shalawat? [1]) Continue reading

Syubhat2 Seputar Maulid Nabi (1-1)

Syubhat2 Seputar Maulid Nabi (1-1)

Syubhat 1:

Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam Tidak Pernah Melarang Maulid

Dalam buku Mana Dalilnya 2, Ustadz Novel mengakui bahwa peringatan Hari Besar Islam adalah bid’ah hasanah. Ia mendasarkan pendapatnya pada kenyataan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam tidak pernah melarang umatnya untuk merayakan maulid Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam, demikian pula para sahabat tidak ada satu pun yang melarang penyelenggaraan maulid Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam. Kemudian Ustadz Novel menganggap bahwa ketika ada orang yang mengingkari perayaan maulid, maka berarti ia merasa lebih sempurna dari Allah dan Rasul-Nya! Ia berani mengharamkan sesuatu yang Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaih wasallam sendiri tidak pernah mengharamkannya… dst? [1]) Continue reading

Dialog Seputar Cinta Rasul dan Maulid Nabi Shallallahu alaihi wa sallam

Dialog Seputar Cinta Rasul dan Maulid Nabi Shallallahu alaihi wa sallam

Oleh: Ustadz Sufyan Fuad Baswedan, Lc

Sebenarnya adakah kaitan antara cinta Rosul dan perayaan maulid, alias hari kelahiran beliau? Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh bagi mereka yang kerap merayakannya. Bagaimana tidak, sedang disana dibacakan sejarah hidup beliau, diiringi dengan syair-syair pujian dalam bahasa Arab untuk beliau (yang dikenal dengan nama burdah), yang kesemuanya tak lain demi mengenang jasa beliau dan memupuk cinta kita kepadanya…?

Dalam sebuah muktamar negara-negara Islam sedunia, salah seorang dai kondang dari Saudi yang bernama Dr. Said bin Misfir Al Qahthani, berjumpa dengan seorang tokoh Islam (syaikh) dari negara tetangga. Melihat pakaiannya yang khas ala Saudi, Syaikh tadi memulai pembicaraan[1]:

Syaikh : “Assalaamu ‘alaikum…”

Dr. Said : “Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabaraatuh”

Syaikh : “Nampaknya Anda dari Saudi ya?”

Dr. Said : “Ya, benar”

Syaikh : “Oo, kalau begitu Anda termasuk mereka yang tidak cinta kepada Rosul…!”

(kaget bukan kepalang dengan ucapan Syaikh ini, ia berusaha menahan emosinya sembari bertanya):

Dr. Said : “Lho, mengapa bisa demikian?”

Syaikh : “Ya, sebab seluruh negara di dunia merayakan maulid Nabi  kecuali negara Anda; Saudi Arabia… ini bukti bahwa kalian orang-orang Saudi tidak mencintai Rosulullah ”. Continue reading

Dialog Seputar Maulid Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam

Dialog Seputar Maulid Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam

Oleh: Ustadz Abu Abdillah Ahmad Zainuddin, Lc

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Abdullah: “Abdurrahman, kamu hadirkan ntar malam?”

Abdurrahman: “Kemana? Ngapain?”

Abdullah: “Lho kamu nggak dapat undangan peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?, penting lho …!ada ceramah ustadznya lagi…banyak faedahnya! Cuma sekali setahun koq, kesempatan emas, susah dicari”.

Abdurrahman: “Saya dapat undangan, tapi saya fikir acara itu tidak boleh dikerjakan”.

Abdullah: “Lho apa sebabnya?! kamu ini gimana sih…?! Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendirikan yang bersabda kalau hari Senin itu hari kelahirannya…haditsnya diriwayatkan oleh Imam Muslim lagi, dari shahabat Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang berpuasa pada hari Senin, lalu beliaupun menjawab:

قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ

Artinya: “Itu Adalah hari dimana aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkan kepadaku wahyu (pertama kali)”, para ulama mengatakan dengan berdasarkan hadits ini boleh kita memperingatinya bahkan sangat dianjurkan!!”

Abdurrahman: “Saya paha…m tapi ntar dulu! Kalau diurut-urut, menurut kamu siapa yang paling paham tentang agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ini?” Continue reading

Download Audio: “Kupas Tuntas Maulid Nabi” (Al-Ustadz Zainal Abidin,Lc)

Download Audio: “Kupas Tuntas Maulid Nabi” (Al-Ustadz Zainal Abidin,Lc)

kupas tuntas maulid tahlilan

Setiap muslim wajib mencintai Nabi Muhammad -shalallahu ‘alaihi wa sallam- bahkan melebihi cinta kepada dirinya sendiri, akan tetapi bukan hanya sekedar kata – kata, nyanyian dan Qosidah ?

Salah satu ritual tradisional untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad – shalallahu ‘alaihi wa sallam- yaitu Perayaan Maulid Nabi yang diperingati setiap tahunnya

Apakah ritual kebiasaaan ini dicontohkan oleh generasi terbaik ummat islam, sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in?

Lalu bagaimana hakikat cara mengungkapkan rasa cinta kita kepada Nabi – shalallahu ‘alaihi wa sallam-?

Simak pembahasannya yang di sampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ahmad Zainal Abidin, Lc Dari pembahasan yang sangat menarik seputar ” Perayaan Maulid Nabi ” yang dirayakan kaum muslimin pada umumnya setiap tahun di bulan rabi’ul awwal.

Download:  Kupas Tuntas Maulid Nabi.mp3

Semoga bermanfaat.

http://moslemsunnah.wordpress.com/

Ini Dalilnya (3): Tidak Semua yang Baru Berarti Bid’ah

Ini Dalilnya (3): Tidak Semua yang Baru Berarti Bid’ah

Syubhat 1: Tidak Semua Yang Baru Berarti Bid’ah

Banyak orang yang salah faham akan makna bid’ah yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mengatakan bahwa semua bid’ah adalah kesesatan. Mereka menganggap bahwa dengan memahami hadits ‘kullu bid’atin dholalah, wa kullu dholalatin finnaar’ [1] secara tekstual, maka semua orang akan masuk neraka, sebab kehidupan kita dipenuhi dengan bid’ah. Cara berpakaian, berbagai jenis perabotan rumah tangga, sarana transportasi, pengeras suara, permadani yang terhampar di masjid-masjid, lantai masjid yang terbuat dari batu marmer, penggunaan sendok dan garpu, hingga berbagai kemajuan teknologi lainnya, semua itu merupakan hal baru yang tidak pernah ada di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau. Semuanya adalah bid’ah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat dan semua yang sesat tempatnya di neraka.[2]

Pemahaman yang rancu semacam ini muncul dari ketidaktahuan mereka akan uslub (gaya bahasa) Al Qur’an, Hadits, atau ucapan para ulama yang senantiasa membedakan pengertian suatu kata dari segi etimologis (bahasa) dan terminologis (istilah/syar’i). Kerancuan tadi juga disebabkan oleh ketidak fahaman orang tersebut akan konteks suatu nash (ayat/hadits), atau karena pemahaman parsial — yang memegangi satu nash dan mengabaikan nash-nash lainnya–, atau akibat mencomot nash tersebut dari konteks selengkapnya. Dan yang terakhir ini cukup fatal akibatnya, sebagaimana yang akan kami jelaskan nanti. Continue reading

Penjelasan Dari Nahdlatul Ulama (NU), Wali Songo, 4 Madzhab Tentang Bid’ahnya Tahlilan

Penjelasan Dari Nahdlatul Ulama (NU), Wali Songo, 4 Madzhab Tentang Bid’ahnya Tahlilan

Tahlilan

Segala puji bagi Allah, sholawat serta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya. Do’a dan shodaqoh untuk sesama muslim yang telah meninggal menjadi ladang amal bagi kita yang masih di dunia ini sekaligus tambahan amal bagi yang telah berada di alam sana.

Sebagai agama yang mencerahkan dan mencerdaskan, Islam membimbing kita menyikapi sebuah kematian sesuai dengan hakekatnya yaitu amal shalih, tidak dengan hal-hal duniawi yang tidak berhubungan sama sekali dengan alam sana seperti kuburan yang megah, bekal kubur yang berharga, tangisan yang membahana, maupun pesta besar-besaran. Bila diantara saudara kita menghadapi musibah kematian, hendaklah sanak saudara menjadi penghibur dan penguat kesabaran, sebagaimana Rasulullah memerintahkan membuatkan makanan bagi keluarga yang sedang terkena musibah tersebut, dalam hadits:

“Kirimkanlah makanan oleh kalian kepada keluarga Ja’far, karena mereka sedang tertimpa masalah yang menyesakkan”.(HR Abu Dawud (Sunan Aby Dawud, 3/195), al-Baihaqy (Sunan al-Kubra, 4/61), al-Daruquthny (Sunan al-Daruquthny, 2/78), al-Tirmidzi (Sunan al-Tirmidzi, 3/323), al- Hakim (al-Mustadrak, 1/527), dan Ibn Majah (Sunan Ibn Majah, 1/514)

Namun ironisnya kini, justru uang jutaan rupiah dihabiskan tiap malam untuk sebuah selamatan kematian yang harus ditanggung keluarga yang terkena musibah. Padahal ketika Rasulullah ditanya shodaqoh terbaik yang akan dikirimkan kepada sang ibu yang telah meninggal, Beliau menjawab ‘air’. Bayangkan betapa banyak orang yang mengambil manfaat dari sumur yang dibuat itu (menyediakan air bagi masyarakat indonesia yang melimpah air saja sangat berharga, apalagi di Arab yang beriklim gurun), awet dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Continue reading

%d bloggers like this: