KABUT RINDU YANG TERSULAM ( Ayahku ! )

KABUT RINDU YANG TERSULAM

Risalah ini di ambil dari kajian Radio Rodja, 756 AM Yang disampaikan oleh Ustadz. Abuz Zubair.Al-Hawaary.Lc {hafidzohullahu-ta’alla}

Bismillaah…

Tulisan ini ditujukan khusus kepada orang tua,para ayah khususnya dan kaum muslimin /muslimat umumnya.

Sebuah risalah yang mewakili suara hati anak ,entah apa namanya silahkan kaum muslimin menamainya,

mungkin ini sebuah nasehat,pengaduan,keluh kesah dari anak-anak kaum muslimin jaman sekarang

Sebuah nasehat,sebuah keluh kesah,suara hati anak-anak di jaman sekarang yang penuh kegelapan syahwat dan syubhat,

Semoga…keluh kesah,aduan,dan ungkapan hati para anak di dengar oleh para ayah dan para calon-calon ayah ,

karena bagaimanapun,anak-anak kita yang kecil hari ini adalah pria-pria nanti,yang akan menggantikan kita.

Alangkah celakanya…

alangkah celaka dan menderitanya seorang ayah ketika meninggalkan anak-anak yang tidak mengenalAllaah tabaarakka wa ta’alla,jauh dari agamanya.

Dan..alangkah sengsaranya masyarakat ketika di tengah masyarakat tersebut,

tumbuh generasi-generasi muda yang tidak kenal lagi tanggung jawab diatas pundaknya,

tidak memiliki cita-cita kecuali untuk memenuhi hasrat dan syahwatnya.

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Datanglah kepada mereka generasi-generasi yang melalaikan sholat, dan mereka akan mendapatkan kesengsaraan ..” (Q.S Maryam : )

Adalah wajib diri kita dan orangtua khususnya ayah akan tanggung jawab anak-anak ini.

Inilah dia risalah,dari anak-anak jaman sekarang,yang jarang didengar oleh para orang tuanya,

semoga setiap orang tua dimanapun berada,sampai risalah ini dan menyadari tanggung jawabanya

dan intropeksi diri dan mulai menata diri keluarga dan istri serta anak-anaknya.

Kami beri judul “AYAHKU” dirangkum dari beberapa kajian,tulisan,’ulama dan masyaikh kemudian terbentuk menjadi sebuah risalah.

Ayahku,
Dengarkan keluh kesahku wahai ayahku,
Yang ingin aku sampaikan kepadamu,
Problema-problema hidup yang ingin aku tuangkan kehadapanmu,
Sesungguhnya wahai ayah,
Problema hidupku sesungguhnya adalah engkau,
Ya, engkaulah ayahku sesungguhnya masalah yang aku hadapi dalam hidup ini.

Ayah, Rumah yang engkau bangun memanggilmu,
Anak-anak yang masih kecil yang engkau tinggalkan selalu mencari-carimu,
Agar dia bisa dekat denganmu,
Bermain bersamamu,
Bercekrama denganmu,
dan merasakan kasih sayangmu,

Ayahku,
Usaha-usahamu,
Pekerjaan-pekerjaanmu,
Perusahaan-perusahaanmu,
Perniagaan dan perdaganganmu,
Teman-temanmu,
Karib-kerabatmu,
Dan sahabat-sahabat dekatmu,
Sesungguhnya semua itu adalah musuh bebuyutannku,
Karena mereka yang telah merampas dan menjauhkan dirimu dariku,
Sekalipun aku tahu,
Karena, engkau lakukan itu demi kebaikan aku dan saudara-saudaraku.

Ayahku,
Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak-hak yang wajib engkau tunaikan,
Istrimu dan anak-anakmu memiliki hak,
Maka tunaikanlah hak itu kepada orang yang memilikinya,
Alangkah besarnya dosa orang-orang yang menyia-yiakan
orang-orang yang berada di bawah naungannya.

Ayahku,
Aku menginginkanmu,
Aku berangan-angan meletakkan kepalaku didadamu,
Aku bermimpi menyampaikan semua keluh kesah dan kesedihanku kepadamu, menempelkan wajahku diantara jari jemarimu
dan mengungkapkan isi hati, kecintaan dan keriduanku kepadamu.
Aku ingin engkau bermain denganku wahai ayahku,
Memanjakan aku, Memahamkan aku dan mendidikku,
Aku ingin agar aku dapat merasakan kebersamaanku denganmu,
Ada untukku dan aku ingin hidup bersamaku.
Akan tetapi…., kemanakah engkau wahai ayahku…..?

Ayahanda yang Semoga Senantiasa dirahmati oleh Allah Tabaraaka Wa Ta’ala

Berilah aku kesempatan untuk berterimakasih kepadamu,
Mengucapkan syukur atas pengorbanan yang telah engkau berikan
untukku dan saudara-saudaraku,
Jerih payah dan keringat yang engkau teteskan
untuk ketenangan, kenyamanan dan kebahagianku,
Engkau telah bekerja keras, memeras keringat,
menyediakan dan memfasilitasi kebutuhan makanan, minum, pakaian dan tempat tinggal,

Engkau telah menempatkan aku disebaik-baik rumah,
Semua itu, Engkau lakukan untuk anak-anakmu,
Akan tetapi…..

wahai ayah…
Aku lihat…
Engkau melalaikan salah satu sisi yang penting dan bahkan
teramat penting dalam kehidupanku,
Engkau melalaikan sisi keruh, hati dan keimananku,
Padahal semua perkara ini, Makanannya adalah ketaatan dan bekalnya adalah takwa dan yang membangkitkannya adalah ibadah serta amal shalih,
Wahai ayahku,
Apakah engkau sudah menunaikan hak-hak itu semua?
Sebagaimana engkau telah menunaikan hak-hak jasadku,

Kapan engkau membimbing tanganku dan mengajakku untuk
menghadiri salah satu kajian-kajian Islam yang menambah bekal keimanan dan ketakwaan?
Kapan engkau, wahai ayah, suatu hari memberiku hadiah kaset-kaset islam yang berfaedah, yang memenuhi waktuku dan memperbanyak kebaikan-kebaikan untuk diriku?
Kapan engkau menghadiahkan aku satu buku agama
yang menjadi penerang dan membimbing diriku di tengah jalan ini,
ditengah jalan yang gelap gulita yang dikelilingi dengan nafsu, syahwat dan subhat?

Kapan itu wahai ayahku,

menempelkan telapak kakimu dengan telapak kakiku, berdiri bersama di shaff, sholat di belakang imam untuk sholat berjama’ah di masjid, mengajakku untuk menunaikan peritah Allah Tabarakka Wa Ta’ala ?.

Allah berfirman (artinya):

“Perintahkanlah keluarga menunaikan shalat, dan bersabarlah diatasnya, kami tidak mengharapkan rizki darimu, akan tetapi kami yang akan memberimu rizki dan akhir yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa”.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda :

”Perintahkan anak-anak untuk melakukan sholat apabila usia telah sampai tujuh (7) tahun dan apabila telah sampai sepuluh (10) tahun pukullah dia apabila ia tidak mau melakukannya”. (Hadist riwayat Abu Daud, yang dishahihkan oleh Syaikh Al-albani didalam shahih sunan Abi Daud).

Ayah,

Kapan engkau membimbingku untuk menghafal Al Qur’an?

Kapan engkau mengajarkanku sunnah?

Kapan engkau memahamkan aku akan agama ini?

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda:

”Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap orang tersebut terhadap apa yang dia pimpin, apakah dia menjaga atau menyia-yiakan orang yang dipimpinnya, sehingga seorang pria akan ditanya tentang ahli baitnya”. (H.S.R At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-albani)

Wahai ayah,

Pernahkah engkau suatu hari melihat perahu kecil yang terombang-ambing dihantam gelombang lautan, dengan penuh kecongkakan dan kesombongannya?

Pernahkan engkau melihat bunga yang mekar, dengan kelemahannya berusaha menghadang tiupan badai?

Pernahkan engkau menyaksikan seekor burung yang lemah, patah sayapnya dikejar-kejar oleh binatang buas?

Wahai ayah,

Sesungguhnya aku lebih lemah dari itu semua,

Menghadapi fitnah-fitnah dan syahwat serta syubhat, Yang aku hadapi setiap malam dan siang,

Mataku tidaklah melihat sesuatu kecuali sesuatu yang mengaburkannya,

Telingaku tidaklah mendengar sesuatu kecuali yang memekakkanya,

Anggota tubuhku tidaklah merasakan kecuali sesuatu yang menipu dayanya,

Hatiku hanya merasakan segala sesuatu yang menfitnahnya,

Dan akalku hanya bisa menangkap dan memahami sesuatu kecuali yang bisa merusak dan menyesatkannya.

Engkau wahai Ayah,

Telah menyiapkan, menciptakan suasana maksiat,

Dan membimbingku dengan berbagai bentuk penyimpangan didalam rumah,

Sehingga aku menghirup udara-udara syahwat dan syubhat yang mencekik leherku,

Lalu keluarlah dari hidung, mata, kedua telinga dan anggota tubuhku perbuatan dan akhlak-akhlak tercela,

Siaran-siaran televisi yang engkau hidupkan dihadapanku,

Semua telah tertanam di dalam jiwa dan hatiku.

Engkau Wahai ayah,

Telah mencampakkanku di dalam lautan syahwat,

Tanpa engkau berikan aku jaket pengaman, pelampung untuk menyelamatkan diri,

Kemudian setelah itu engkau mengingikan aku untuk menjadi seorang malaikat yang maksum,

tidak ingin aku salah!!,

tidak ingin aku keliru!!…,

Tidak wahai ayahku, tidak!!!

Wahai Ayahku,

Aku tidak ingin menjadi musuhmu dihari kiamat,

Sesungguhnya Allah berfirman (artinya):

“Yaitu dihari dimana harta dan anak anak tidak dapat menolongnya, kecuali orang-orang yang menemui Allah dengan hati yang mulia dan bersih”.

Aku tidak mau menjadi musuhmu di hari kiamat nanti, bergantung kepadamu di hari kiamat, di hari penyesalan, lalu aku berkata kepada Allah:

“Ya Allah, ambillah hak-hakku dari ayahku,

Ya Allah…, sesungguhnya ayahku melihatku melakukan maksiat tetapi dia tidak mencegahku,

Ya Allah…, dia melihatku tidak mau melakukan kebaikan, tetapi dia tidak pernah mengajakku dan tidak pernah memerintahkanku,

Ya Allah…, dialah ayahku, yang menyiapkan segala fasilitas perbuatan maksiat atas diriku, Wahai Rabbku…, dialah yang membuat keburukan itu menjadi seakan-akan menjadi baik didalam mataku,

Dan dia adalah ayahku yang telah mencampakkan aku didalam neraka syahat, membakar keimananku, menolak kebaikan-kebaikanku,

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

”perumpamaan orang yang membantu kerabatnya (kaummnya) untuk melakukan maksiat seperti onta yang terjerembab lalu diseret dengan ekornya”.

Wahai Ayahku,

Aku adalah anakmu,

Aku adalah amanah yang diletakkan oleh Allah diatas pundakmu,

Engkau akan di tanya tentangku dihadapan Allah Tabaraka Wata’Ala, Tuhanku dan Tuhanmu, Rasulullah shalallohu ‘alaihi wassalam:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta perangungjawabannya. Dan setiap pria (laki-laki) adalah pemimpin di tengah keluarganya dan dia akan di tanya tentang apa yang dia pimpin”.

Wahai Ayahku,

Sibukanlah aku dengan ketaatan kepada Allah,

Agar aku tidak menyibukkan diriku dengan bermaksiat kepadaNya,

Mudahkanlah aku untuk keridhoan Allah,

Agar aku tidak terjerumus kedalam apa-apa yang dapat menimbulkan kemurkaanNya,

Dorong aku agar tetap mendekatkan diri kepada Allah,

Agar aku tidak lancang melakukan kemungkaran-kemungkaran,

Allah berfirman (artinya): “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu-batu, yang dijaga oleh malaikat yang bengis lagi kasar dan keras. Mereka tidak menentang Allah, mereka melakukan apa yang di perintahkan kepada mereka”.

Wahai ayahanda,

Berbuat baiklah kepadaku sedari aku kecil,

Agar aku berbuat baik kepadamu ketika aku besar,

Jangan durhakai aku ketika kecil,

Agar aku tidak mendurhakaimu ketika aku dewasa,

Sebagaimana engkau memperlakukan seseorang,

Seperti itulah engkau akan di perlakukan,

Apa yang engkau tanam hari ini, Akan engkau petik esok hari,

Barangsiapa yang mengingikan keselamatan, Pastilah ia akan menempuh jalan itu.

Ayahku,

Sesungguhnya aku hidup dalam kebingungan,

Aku hidup dalam pergulatan dan pertarungan batin yang aneh,

kenapa?

Karena…., Aku melihat engkau wahai ayah,

Memerintahkanku tetapi engkau tidak melakukannya,

Engkau melarangku tetapi malah engkau melanggarnya,

Apakah engkau menginginkanku untuk meneladani dan mengikut kata-katamu atau perbuatanmu?

Yang perbedaannya sejauh antara timur dan barat,

Engkau memerintahkan aku untuk jujur dalam berbicara,

Engkau mendorong dan memotifasiku serta engkau mengingatkanku agar hati-hati dan melarangku agar tidak berdusta,

Tetapi…. Sering aku melihat, engkau malah melanggar apa yang engkau larang,

Kadang engkau berdusta,Dan dilain waktu engkau malah memerintahkan aku untuk berdusta, Ingatkah engkau wahai ayah, ketika ada tamu yang mengetuk pintu, ingin bertemu denganmu, lalu,

engkau berkata kepadaku: “sampaikan kepadanya bahwa ayahmu tidak ada”,

Engkau memaksaku mengucapkan dengan lisanku apa yang di dustai oleh mataku,

Engkau memaksaku mengucapkan dengan lisanku yang aku tidak diinginkan dari hatiku dan dimurkai oleh Tuhanku.

Ayahku,

Engkau memerintahkan aku untuk memakan yang halal,

Dan agar aku jauh dari perkara-perkara yang haram, Bahkan engkau menyampaikan kepadaku hadist Rasululllah: “Setiap jasad yang tumbuh dari yang haram maka api neraka lebih utama untuknya”. (Hadist shahih yang dishahihkan oleh syaikh Al-albani dalam jamia’tul shoghir).

Tetapi mengapa…?

Engkau malah memerintahkanku ke kedai,

Membeli sebungkus rokok,

Menentang perintah Allah, Perintah Allah dan RasulNya

Lantas apa ayah yang harus aku ikuti?

Perkataanmukah atau perbuatanmu?

Ucapan-ucapanmukah atau perilakumu?

Sifat-sifatmu atau kata-katamu?

Ayahku,

Izinkan aku membisikan firman Allah Tabarakka Wa Ta’ala ditelingamu (yang artinya):

“Wahai orang-orang yang berimana kenapa engkau mengatakan sesuatu yang engkau tidak melakukannya. Alangkah besarnya kemurkaan disisi Allah, engkau mengatakan sesuatu yang engkau tidak kerjakan,”

Wahai Ayahanda, Aku tidak inginkan mendapatkanmu di hari kiamat termasuk kedalam kelompok orang orang yang di katakan oleh Rasulullah dalam hadist shahih :

“Didatangkan seorang pria dihari kiamat, lalu dicampakkan kedalam neraka, maka berserakanlah disisinya ….., lalu dia berputar-putar seperti keledai berputar-putar, lalu penghuni neraka berkumpul, dan mereka berkata: “Ya fulan, ada apa denganmu?, bukankah di dunia dulu engkau yang memerintahkan kebaikan dan mencegah dari kemungkaran!”. Pria itu berkata: “Dulu aku memerintahkan kalian untuk berbuat kebaikan tetapi aku tidak melakukaknnya, dulu aku didunia yang melarang kalian untuk melakukan kemungkaran tetapi aku yang melakukannya”.

Wahai ayahanda,

Semoga engkau tidak termasuk kedalam kelompok-kelompok yang disebutkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasalam tersebut.

Ayahku,

Aku mengadu kepadamu tentang diriku yang tidak sanggup menghadapi beratnya kehidupan di dunia ini,

Aku mengeluhkan kelemahanku dan ketidakmampuannku menghadapi ujian dan cobaan dalam hidup ini,

Aku dapatkan diriku, berjalan tanpa dirimu wahai ayah,

Mengarungi kehidupan ini, bagaikan orang yang berperang tanpa senjata,

Atau… Seperti dedaunan yang berguguran yang ditiup oleh angin,

Atau… Seperti perahu kecil yang terombang-ambing dipermainkan oleh ombak di lautan, yang kehilangan layarnya,

Cobalah ingat sedikit, wahai ayah

Lembaran-lembaran kehidupan kita dahulu diwaktu aku masih kecil

Lihatlah aku …

Mengapa aku menjadi orang yang sangat lemah dalam menghadapi kehidupan

Engkau berlebih-lebihan dalam menyikapiku,

Engkau berlebih-lebihan dalam menyediakan segala fasilitas kehidupanku,

Engkau terbiasa memenuhi segala kebutuhan dan permintaanku,

Yang bagus itu adalah ucapanku,

Yang baik adalah perbuatanku,

Kesalahanku dimatamu adalah kebenaran,

Keburukanku dimatamu adalah kebaikan,

Aku terbiasa dilayani dan tidak terbiasa melayani,

Aku terbiasa mengambil dan tidak terbiasa untuk memberi,

Aku terbiasa memerintah dan melarang,

Ketika aku kehilanganmu wahai ayah…..

Aku merasa kehilangan segala sesuatu dan aku merasa bukan lagi sesuatu di dunia ini,

Aku terbiasa ketika kecil, ketika tumbuh, aku terbiasa hidup dengan kata-kata pujian dan sanjungan,

Aku tidak sanggup hidup dengan kata-kata yang mencelaku,

Aku terbiasa hidup dengan segala sesuatu yang tersedia,

Aku tidak bisa hidup ketika aku tidak mendapatkankan lagi apa yang aku inginkan

Aku terbiasa hidup mewah,

Sehingga aku tidak lagi sabar ketika menghadapi kehidupan yang susah,

Aku terbiasa dengan ucapan kasih sayang, pujian dan sanjungan,

Sehingga aku tak sanggup menghadapi kata-kata yang tidak enak untuk aku dengar.

Andai saja engkau wahai ayah,

Dahulu tidak memenuhi apa saja yang aku pinta,

Andai saja wahai engkau ayah,

Engkau mengawasi setiap keinginan-keinginanku,

Niscaya aku hidup dengan kepribadian yang seimbang,

Niscaya aku akan sanggup menghadapi ujian dan cobaan di dalam hidup ini.

Wahai ayah,

Aku pernah membaca sebuah buku,

Di dalam buku tersebut dituliskan seorang pemuda belia, melewati seorang syaikh, seorang syaikh yang telah tua, pemuda itu berjalan sambil menangis. Lalu syaikh itu berkata kepada pemuda tersebut: “Kenapa engkau wahai ananda menangis?”. Pemuda itu berkata:” aku tadi melihat ibuku menyalakan pelita, aku tadi melihat ibuku menyalakan api, lalu… aku teringat neraka, dan aku takut, Allah menyalakan api neraka yang menyiapkan untukku dan untuk orang-orang sepertiku di neraka jahanam kelak dihari kiamat, sehingga aku sedih dan takut, lalu aku menangis”.

Wahai ayahanda,

Kenapa aku tidak merasakan seperti yang dirasakan oleh pemuda tersebut,

Kenapa aku tidak hidup seperti dia hidup,

Karena engkau wahai ayahku,

Dengan terus terang aku katakan,

Engkau tidak mendidikku seperti mereka terdidik,

Engkau tidak mengajarku seperti mereka belajar,

Maafkan ayah,

Maafkan anakmu

Seandainya kata-kataku ini keras dan kasar,

Tetapi aku sampaikan ini karena aku tahu engkau adalah orang yang memiliki dada yang lapang,

Aku tahu, karena engkau memiliki kasih sayang kepadaku,

Aku tahu, karena engkau mau mendengar setiap keluh kesahku,

Wahai ayah,

Engkau mendidikku sebagai seorang budak bagi dunia,

Diatasnyalah aku hidup

Karenanyalah aku berlari,

Dan aku berjalan di atas dunia,

Cita-citaku yang tertinggi, perhatianku, tekadku, dan impianku bagaimana mendapatkan kehidupan dunia sebanyak-banyaknya,

Engkau tidak mendidikku sebagai seorang hamba Allah,

Sebagaimana yang diinginkan oleh Allah,

Engkau tidak pernah mengajarkanku,

Untuk bercita-cita dan bertemu dengan Allah Tabarakka Wa Ta’ala,

Engkau tidak pernah mengingatkankaku akan hari kiamat, akan sorga dan akan neraka. Ingatkah engkau wahai ayah,

Ketika suatu hari aku terlambat berangkat ke sekolah,

Lalu engkau memarahiku dan tidak menerima sedikitpun alasannku,

Dan pernah aku tidak sholat satu raka’at pun hari itu,

Engkau mengetahuinya tetapi engkau diam saja.

Wahai ayahku,

Engkau menghukumku karena aku terlambat sekolah,

Tetapi….. Engkau tidak menghukumku dan engkau tidak memarahi karena aku tidak sholat, Apakah engkau menginginkan aku lebih mengutamakan duniaku daripada agamaku?

Apakah engkau ingin aku lebih takut kepadamu, daripada lebih takut kepada Allah Tabarakka Wa Ta’ala?

Apakah engkau ingin aku… wahai ayah, agar aku memakmurkan duniaku dan menghancurkan akhiratku?

Lalu aku tinggalkan kehidupan yang makmur di dunia ini menuju kehancuran di akhirat kelak?

Wahai Ayahku,

Kenapa engkau mengingatkan aku agar tidak menyebabkan engkau marah,

Tetapi… Engkau tidak pernah mengingatkan aku agar tidak menyebabkan Allah Tabarakka Wa Ta’ala marah,

Apakah dunia ini yang lebih engkau cintai daripada akhirat?

Apakah kehidupan yang fana ini lebih baik di sisimu daripada kehidupan yang kekal dan abadi disisi Allah Tabarakka Wa Ta’ala?

Ingatlah Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang cita-citanya dia akhirat, maka dijadikan kekayaan dihatinya, Allah satukan segala urusannya dan dunia akan datang kepadanya mau tidak mau. Dan barangsiapa yang cita-citanya adalah dunia, Allah jadikan kemiskinan itu dihadapan matanya, Allah cerai beraikan segala urusannya dan tidaklah datang dunia kepadanya kecuali sebatas apa yang sudah ditakdirkan untuknya. ( Hadist shahih disahihkan oleh Syaikh Al-albani dalam shahih Al Jami’).

Rasulullah bersabda:

“Tidak seorang hambaku yang diberikan amanah, tanggung jawab untuk mengayomi keluarganya anak, istrinya, lalu dia mati dalam keadaan berkhianat, menghianati keluarganya, melainkan Allah haramkan atasnya sorga”. (Hadist shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim).

Ayah,

Beri aku kesempatan untuk mengungkapkan kesedihan dan kepedihan di dalam hatiku kali ini,

Karena hari ini adalah hari untuk berterus terang

Wahai ayahku, Langit dan bumi ini tidak tegak kecuali dengan keadilan,

Allah Tabarakka Wa Ta’ala memerintahkan untuk berlaku adil,

Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda:

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk berlaku adil, berbuat baik, serta memberikan hak-hak karib kerabatmu dan melarang kalian untuk berbuat keji dan mungkar dan melampaui batas”.

Lantas….. wahai ayah,

Kenapa…. Engkau tidak berlaku adil antara aku dan saudara-saudaraku

Engkau memberi mereka tetapi tidak memberiku,

Engkau tidak memurkai mereka tetapi engkau memurkaiku,

Engkau mendekatkan mereka dan malah menjauhi aku,

Engkau memuji-muji mereka tetapi kenapa engkau mencelaku,

Engkau menghukumku dan menghukum mereka ketika mereka salah,

Tetapi engkau meninggalkanku disaat aku berbuat kebaikan,

Tidakkah engkau pernah mendengar hadist Rasulullan Shalallahu A’laihi wasalam bersabda:

“Takutlah kalian kepada Allah serta berbuat adillah kepada anak-anak kalian”.

Dan Rasulullah bersabda beliau: “Berlaku adillah kalian dalam membagi-bagi harta kepada anak-anak kalian sebagaimana kalian ingin agar anak-anak kalian berlaku adil dalam hal berbuat baik dan kasih sayang kepada kalian”. (Hadist Shahih, dishahihkan oleh Syaikh Al-albani)

Seperti diceritakan oleh seorang sahabat, yang datang kepada Rasulullah Shallahu alaihi dan berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku datang dan memberikan hadiah kepada putraku seorang budak, lalu Rasulullah Shallahu alaihi wasalam bertanya: “Apakah engkau memberikan juga kepada seluruh anak-anakmu?”. Ayahnya menjawab: “Tidak”. Rasulullah berkata: “Tarik kembali pemberianmu itu”. Dalam riwayat lain, Ayah Nu’man bin Basyir berkata: “Ya Rasulullah bersaksilah untukku bahwa aku telah menghadiahkan kepada putraku ini seorang budak ”. Lalu Rasulullah menjawab: “Apakah ada orang lain yang bersaksi untuk itu selain diriku?”, Lalu Rasulullah bersabda: “Apakah engkau ingin agar anak-anakmu berlaku adil dan berbuat baik kepadamu?”, Orang tadi menjawab: “Ya”. Lalu Rasulullah pun menjawab: “Kalau begitu aku tidak akan bersaksi di atas kezhaliman”. (Hadish shahih riwayat Imam Muslim dan imam-imam lainnya). Dalam riwayat lain, Rasulullah Shalallahu A’laihi wasalam bersabda: “Jangan engkau mengajakku bersaksi diatas kezhaliman”.

Wahai Ayahanda,

Jangan biarkan syaithon menanamkan bibit-bibit kedengkian dan kebencian di dalam hati antara aku dengan saudara-saudaraku.

Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu A’laihi wasalam bersabda:

“Sesungguhnnya syaithon itu telah berputus asa, orang-orang di jazirah arab menyembahnya akan tetapi syaithon berusaha memecah belah di antara kalian”. (Hadist riwayat Imam Muslim).

Rasulullah bersabda : “Tidaklah ada seorang yang memimpin 10 orang atau lebih, melainkan Allah akan membangkitkan dia di hari kiamat dalam keadaan terbelenggu tangannya, lehernya dan pundaknya, maka dia akan dibebaskan oleh anak-anaknya atau dia akan dicelakakan dan dibinasakan oleh dosa-dosanya”.

Wahai ayahku,

Engkau yang telah berjasa untuk mendidik dan memperhatikanku,

Engkau adalah orang yang sangat memperhatikan dan tidak ingin aku melakukan kesalahan dan kekeliruan,

Tidakkah engkau mengetahui wahai ayahku,

Bahwasannya aku adalah manusia, yang pasti keliru dan setiap kita akan salah dan melakukan kesalahan,

Lantas kenapa … Wahai ayah,

Aku melihat tongkat adalah caramu untuk memberikan aku pemahaman,

Lantas kenapa… Telapak tangan, menjadi cara bagimu untuk mendidikku, mengalahkanku, untuk menyadari kesalahan-kesalahan,

Lantas, kenapa… ayahanda… Kekerasan adalah tanda yang engkau jadikan untuk mendidikku dan mengajarku,

Sehingga aku tidak mendapatkan jalan untuk menyampaikan pendapat, Sehingga aku tidak lagi mendapatkan harapan untuk menyampaikan alasan.

Wahai ayah,

Kenapa engkau mengambil jalan pintas, Kenapa engkau tidak menempuh jalan itu dari pangkalnya?

Apakah tidak ada pengobatan lain selain dengan besi panas?

Kenapa engkau tidak mencari jalan-jalan yang lain?

Kecuali… jalan-jalan yang keras, kasar?

Sementara Allah Tabarakka Wa Ta’ala berfirman (artinya):

“Jika engkau berlaku keras dan hatimu kasar, niscaya orang-orang akan lari dari sekelilingmu”.

Mana kelembutan yang aku ingin lihat dari dirimu, wahai ayah…?

Mana kelembutan yang dikatakan oleh Rasulullah Shalallahu A’laihi wasalam kepada Aisyah:

“Kelembutan itu tidak diletakkan pada sesuatu melainkan menjadikannya indah, dan tidak dihapuskan diangkat melainkan menjadikan sesuatu menjadi buruk dan tercela”. Rasulullah bersabda : “dan suatu rumah tangga keluarga tidak dianugerahkan kelembutan melainkkan didatangkan manfaat kepada mereka”. Mana sikap menahan amarah,

sedangkan …..

Rasulullah Shalallahu A’laihi wasalam bersabda: “Barangsiapa menahan amarahnya, padahal dia sanggup untuk melampiaskan kemarahannya tersebut, dihari kiamat dia akan di panggil oleh Allah dihadapan seluruh makhluk hidup, sehingga dia diperintahkan memilih bidadari yang dia sukai. Dan Allah akan nikahkan dia di hari kiamat dengan bidadari yang dia sukai”. ( Hadist shahih, dishahihkan oleh syaikh Al-albani).

Wahai ayahanda,

Jadilah engkau seorang yang lembut tetapi tidak lemah,

Jadilah engkau seorang yang kuat tetapi tidak kasar dan keras,

“Barangsiapa yang lembut, kasih sayang, maka Allah akan haramkan atasnya neraka”.

Wahai ayahanda,

Setiap penyakit tidak diobati dengan satu obat,

Tetapi pengobatan itu dengan bertahap,

Tetapi mengapa engkau mengambil metode paling akhir,

Wahai ayahanda,

Sesungguhnya tatapan matamu yang membeliak, ketika marah itu merupakan hukuman yang berat,

Sesungguhnya ketika engkau mendiamkanku, itu telah menyiksaku,

Sesungguhnya teguranmu…, wahai ayahku, telah bisa membuatku sadar,

Bagi setiap penyakit itu ada obatnya,

Dan setiap kesalahan itu ada hukumannya.

Wahai ayahanda, Teladanilah Rasulullah,

Beliau adalah yang disifati oleh sahabat paling kasih sayang terhadap istri-istri dan anak-anak.

Rasulullah bersabda:

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak mengasihi yang kecil dan tidak menghormati yang besar”.

Dialah suri tauladan kita dan telah bersabda: “Ajarkanlah, permudahlah, jangan mempersulit, sampaikanlah kabar gembira, jangan membuat orang lari dan menjauh, apabila seorang dari kalian marah, maka diamlah”.

Wahai ayahku,

Sesungguhnya di antara tulang-tulang rusukku ada hati yang berdetak,

Dan didalam kepalaku ada akal yang berfikir,

Lantas… Kenapa….engkau ..wahai ayah, menginginkan aku menjadi seorang yang terampas atas keinginanku,

Tidak memiliki hasrat dan cita-cita,

Tidak memiliki kecenderungan?

Kenapa engkau merampas dariku,

Kemampuan untuk berfikir dan mengatur?

Kenapa engkau wahai ayah,

Menjadikan aku dirumah seperti boneka dan wayang?

Yang tidak memiliki keinginan, kehendak dan kemampuan,

Sehingga aku tidak lagi memiliki harga,

Sehingga aku tidak lagi dipandang,

Engkau tidak pernah mau menanyakan pendapatku,

Engkau tidak pernah mau mengajakku bermusyawarah dalam suatu perkara,

Engkau tidak pernah pula menggambil pendapatku dalam segala urusan,

Kata-kataku pasti salah di matamu,

Sekalipun aku belum mengatakannya,

Pikiranku adalah sebuah kegagalan,

Sekalipun aku belum mengungapkannya,

Sehingga aku seolah-olah tidak pernah ada dalam kehidupanmu.

Allah Tabarakka Wa Ta’Ala memerintahkan NabiNya untuk bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya:

“Berlaku lembutlah engkau kepada mereka, jika engkau kasar, dan memiliki hati yang keras, maka mereka akan lari dari sekelilingmu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, ajaklah mereka bermusyawarah menyelesaikan suatu urusan, apabila engkau telah bertekad, tawakallah (serahkanlah) urusan kepada Allah, Sesungguhnya Allah sebaik-baik penolong”.

Wahai ayahanda,

Lihatlah pendapat para sahabat,

Sahabat juga adalah manusia

Yang terkadang salah dan keliru,

Tetapi lihatlah bagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam bermusyawarah dengan mereka dan terkadang menerima pendapat mereka.

Wahai ayahanda,

Siapakah yang akan mengembangkan keahlianmu kecuali diriku,

Siapa yang mengajarkan kepadaku untuk memilih,

Siapakah yang mengajarkan kepadaku untuk menentukan sebuah pilihan,

Menggunakan otakku, menggerakkan akal pikirannku dan,

Siapakah yang membimbingku untuk percaya diri?

Setelah Allah, Wahai ayahanda, selain dirimu.

Wahai ayahanda,

Aku pernah membaca disekolah, belajar disekolah,

Allah berfirman (artinya)

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah satu kaum mengolok-olok kaum yang lain boleh jadi kaum tersebut lebih baik dari kaum yang mengolok-olok, dan jangan pula wanita mengolok-olok wanita yang lain bisa jadi wanita yang kalian perolok-olok lebih baik dari mereka, jangan kalian mencemooh atau mencibir diri kalian, jangan kalian saling memberikan gelar-gelar. Gelar itu seburuk-buruk nama setelah keimanan. Barangsiapa yang tidak bertaubat mereka orang-orang zhalim.”

Tetapi… kenapa…Wahai ayah…,

Aku mendengar dari lisanmu ungkapan-ungkapan cemoohan tersebut,

Lafadz-lafadz yang keji,

Kata-kata yang melukai dan mencela diriku,

Kenapa engkau memperolok-olok kesalahanku,

Kenapa engkau mencemooh kekeliruanku,

Kenapa engkau mengelar-gelariku dengan gelar-gelar yang aku tidak suka terhadapnya? Ketika aku mengambil pena dari sakumu tanpa sepengetahuanmu,

Engkau langsung berteriak… wahai pencuri..!

Ketika aku bersenda gurau dengan saudaraku, lalu aku mengambil sesuatu dari tangannya, walaupun ku tahu aku salah,

Engkau mengatakan aku… wahai penghianat!… wahai… penipu…!

Jika aku terlambat melakukan suatu hari melakukan perintahmu karena suatu urusan, Engkau berkata… Wahai pemalas!

Ketika aku memukul adik perempuannku, sekali saja,

Engkau langsung berteriak.. . wahai anak nakal!

Ketika aku berdusta satu kali, walaupun itu hanya dengan senda gurau,

Engkau berkata… wahai pendusta…!

Setiap kali aku mendengar ucapan-ucapan tersebut,

Aku merasa batinku berubah,

Aku merasakan raut wajahku, rona wajahku berubah,

Aku merasa jiwaku dan hatiku terbakar,

Aku merasa ada sesuatu yang pahit dari kerongkonganku,

Sepahit kalimat-kalimatmu yang melukai batinku,

Aku merasakan sesuatu yang meledak-ledak didalam dadaku seperti gunung api yang hendak meletus.

Wahai ayahku,

Rasulullah bersabda: “Setiap orang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela, orang yang suka melaknat, orang yang suka mengucapkan kata-kata keji dan kasar”. (Hadist riwayat Bukhari dan Muslim)

Demi Allah, Wahai ayahaku,

Aku sering melihatmu memperolok-olokku,

Aku sering melihatmu merendahkanku dihadapan manusia,

Sehingga aku menjadi malu,

Sehingga aku kehilangan rasa dan kepekaananku di hadapan mereka,

Sehingga aku menangkap suatu nasehat adalah hal yang buruk,

Sehingga aku merasakan, bimbingan, pelajaran dan petuah adalah sebuah hinaan dan celaan bagiku.

Wahai ayahku,

Aku sering mendengar ucapan-ucapan bahwa rumah itu adalah surga,

Tempat seorang mendapatkan ketentraman dan rasa aman,

Rumah yang dinaungi oleh cinta dan kasih sayang,

Rumah yang dipenuhi oleh keceriaan, kedamaian, dan ketentraman

Tetapi …. kenapa wahai ayahanda,

Rumah kita dipenuhi dengan pertengkaran dan perselisihan,

Yang sering aku dengar dan aku saksikan.

Wahai ayah..,

Kenapa aku dapati rumah kita seperti medan peperangan antara engkau dan ibu,

Engkau sering bertengkar dengan ibu,

Yang menghancurkan kebahagian kami,

Yang merampas kasih sayang diantara kami,

Seakan-akan kami melihat kalian berdua adalah dua hewan buas, yang saling bertarung yang satu dengan yang lainnya.

Wahai ayahku,

Kenapa engkau tidak mencukupkan dan berusaha meredam pertikaian, dan pertengkaran yang telah membakar di nadi kami,

Yang telah mengoyak-goyak kebahagian kami,

Yang menjadikan rumah kita ini bagaikan neraka yang kami tidak sanggup lagi untuk merasakannya,

Bahkan karena itulah, wahai ayah, Aku berusaha untuk tidak masuk kerumah,

Aku berangan angan setiap hari untuk lari dan keluar dari rumah ini,

Tetapi aku takut jika aku keluar dari rumah ini,

Dunia akan segera merampasku,

Sehingga dunia ini terasa sempit, jiwaku terasa sesak,

Di rumah aku tidak mendapatkan ketenangan dan kedamaian.

Diluar, Aku dihadapkan oleh syahwat dan subhat,

Serta syaithon-syaithon manusia yang hendak menerkamku,

Sehingga seakan-akan aku ini laksana seseorang yang meminta bantuan, Seakan-akan aku adalah orang yang meniup debu dengan mata terbuka,

Sehingga debu-debu tersebut mengotori mataku.

Wahai ayahanda,

Kapan aku akan merasakan harapan nyaman dan tenangnya yang aku impi-impikan,

Kapan aku meraskan cinta dan kasih sayang dirumah kita,

Kapan dan kapan…., wahai ayahku?

Ataukah kasih sayang itu nanti baru aku rasakan setelah engkau menemuiku di rumah sakit, Atau setelah engkau nanti mengunjungiku di penjara,

Atau kasih sayang itu baru muncul setelah engkau mendapatkanku tulang-belulang atau potongan-potongan daging yang berserakan ditengah jalan,

Jangan cela, Jangan cela aku,

Jika suatu saat,

Aku menjadi korban pertikaian dan pertengkaran antara engkau dengan ibu Wahai ayah

Ayahanda,

Dengarkanlah bisikan-bisikan hatiku ini,

Ayahku, aku memiliki hak, Mendapatkan ayah, yang aku merasa bangga dengannya,

Aku punya hak mendapatkan seorang ayah yang menjadi kebanggaanku,

Ketika aku berkata itu adalah ayahku, Ini adalah ayahku,

Dihadapan saudara-saudarku,

Dihadapan teman-temanku,

Dihadapan sahabat-sahabatku,

Ketika aku berada disekolah,

Aku berangan-angan orang-orang bertanya kepadaku

Lalu, Aku dengan bangga bercerita kepada guruku, sahabat-sahabatku tentang ayahku,

Apabila aku dimasjid,

Aku berangan-angan orang bertanya-tanya tentang ayahku,

Aku berharap orang bertanya tentang ayahku,

Dan aku dengan bangga berceritakan kepada mereka tentang engkau, wahai ayahku.

Ketika aku berada di luar rumah,

Aku berharap tetangga, masyarakat, bertanya padaku tentang ayahku,

Lalu aku bercerita tentang ayahku dengan bangga Tetapi apa yang aku cerita kepada mereka, wahai ayah

Karena aku lihat…. Engkau tidak bergaul dan berteman dengan orang-orang yang sholeh, Kebanggaan apa yang harus aku ceritakan kepada mereka,

Sementara Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda: “Seseorang itu di nilai sesuai dari agama sahabat-sahabatnya, maka hendaklah seseorang itu melihat siapa yang menjadikan sahabatnya”.

Aku tidak melihat engkau bersahabat dengan orang-orang di masjid, wahai ayahku

Aku tidak melihat engkau terdepan di lapangan dakwah,

Aku tidak melihat engkau terdepan ditengah masyarakat dalam berbuat baik,

Bahkan aku tidak melihat engkau terdepan dalam segala pintu-pintu kebaikan,

Lalu bagaimana aku akan membanggakan dirimu, wahai ayah.

Wahai ayahku,

Sekolah-sekolah mengaduh, masjid merintih, rumah-rumah merindu, teman-teman sering berlomba,

Lantas, apa yang engkau perbuat terhadapku, wahai ayahku…?

Wahai ayahku, Aku coba memperhatikan didada setiap orang-orang yang mengelilingiku,

Tentang cinta dan kasih sayang mereka kepadaku,

Tetapi aku tidak dapatkan kecuali hati-hati yang penuh dengan kebencian dan kedengkian,

Aku coba untuk mencarinya penyebabnya

Dalam lembaran-lembaran kehidupanku yang lalu,

Dan lembar-lembar kehidupan yang dilipat oleh mata dan perputaran waktu,

Lantas aku dapatkan,

Lantas aku dapatkan dahulu, aku telah menyakiti mereka,

Aku dapatkan dahulu, tanganku jahil, menjahili rumah-rumah mereka, mengambil, mencuri harta-harta mereka,

Aku dapatkan, lisanku mencela, mencaci mereka, memperolok-olok mereka Aku dapatkan, diriku memukul anak-anak mereka,

Aku dapatkan diriku melakukan kezhaliman dan maksiat di hadapan mereka,

Semuanya itu aku lakukan sebenarnya bukanlah dari keinginan dari hati kecilku,

Tetapi….

Karena sewaktu aku kecil,

Aku tidak pernah di larang, aku tidak pernah diingatkan,

Aku tidak pernah dijelaskan tentang jalan-jalan maksiat,

Aku tidak pernah dijelaskan tentang perangkap-perangkap syaithon,

Sehingga aku menjadi sampah dimasyarakat,

Sehingga masyarakat membenciku,

Kenapa dahulu engkau tidak meluruskan kesalahanku,

Kenapa engkau dahulu tidak memperbaiki kekeliruanku,

Kenapa engkau dahulu tidak menegakkan hukum-hukum Allah di rumah kita,

Kenapa engkau dahulu membiarkan aku dengan bebas melakukan kesalahanku,

wahai ayah…,

Sehingga aku menjadi musuh bagi masyarakat sekeliling.

Wahai ayahanda,

Aku telah menempuh jalan hidup ini,

Aku telah melewati hari-hari,

Sekarang aku telah beranjak dewasa

Hari ini aku sudah menjadi seorang laki-laki,

Wahai ayah,

Hari ini aku telah merasakan di urat-urat nadiku mengalir darah seorang laki-laki

Tetapi yang aku sayangkan engkau wahai ayah…,

Masih saja meganggap aku sebagai anak kecil,

Masih saja memandangku sebagai bocah,

Wahai ayah,

Aku mengharapkan engkau seorang ayah yang penuh kasih sayang seperti dahulu,

Dan hari ini aku mengharapakmu sebagai seorang ayah yang lembut dan bijaksana, menjadi teman, sahabat, saudara, tempat aku bercerita,

Kapan engkau duduk bersamaku, mendengarkan kata-kataku,

Kapan engkau berjalan bersamaku, mendengarkan ucapanku dengan terus terang dan terbuka,

Kapan engkau melepaskan masa-masa lalu ketika aku masih kecil, dengan menyikapiku sebagai seorang yang telah dewasa,

Wahai ayah,

Aku tidak ingin mengadukanmu tetapi aku ingin mengadu kepadamu,

Kapan engkau memejamkan matamu, dari anak kecilmu dahulu,

Lalu engkau membukanya, untuk bisa melihat laki-laki dihadapanmu

Beri aku kesempatan untuk menjadi laki-laki dewasa,

Beri aku peluang untuk menjadi pria yang dewasa,

Beri aku kesempatan untuk hidup mandiri,

Untuk menentukan pilihan yang baik dan benar,

Yang aku harapkan darimu arahan,bimbingan, bukan larangan-larangan.

Wahai ayahku,

Aku menimba darimu, segala sesuatu yang aku praktekan hari ini,

Aku mendapatkan darimu, segala sesuatu yang aku wujudkan hari ini,

Karena Rasulullah bersabda: “setiap anak itu di lahirkan diatas fitrah, maka kedua orangtuanya lah yang membuat anaknya menjadikannya yahudi, atau nasrani, atau majusi”.

Lantas… kenapa … wahai ayah,

Engkau dahulu mendidiku di atas pemahaman-pemahaman yang keliru, akhlak-akhlak yang tidak terpuji, lalu aku hidup diatas,

Sehingga aku tumbuh, besar dan terbentuk diatas itu pula,

Rasulullah bersabda: “Siapapun dari seorang pemimpin berkhianat dari apa yang dia pimpin maka tempatnya adalah di neraka”.(Hadist riwayat Imam Muslim)

Wahai ayahku,

Kenapa ketika aku melakukan sesuatu yang membuatmu murka,

Ketika aku melakukan sesuatu yang membuatmu marah,

Lalu engkau mengangkat kedua telapak tanganmu menengadahkannya ke langgit,

Lalu engkau melaknat dan mendoaku,

Lalu engkau mengutuk-ngutukku,

Tidakkah engkau pernah mendengar wahai ayahku, bahwa doamu termasuk tiga doa yang dikabulkan oleh Allah Tabaraakka Wa Ta’ala,

Rasulullah bersabda : “ada tiga do’a yang dikabulkan dan tidak diraguka lagi, doa orang tua yang melaknat anaknya, doa musafir dan doa orang yang dizhalimi”.

Kenapa ketika aku keliru, ketika engkau marah kepadaku, engkau tidak berdo’a untuk kebaikan agar aku diberi kesadaran untuk diriku,

wahai ayahku….,

Rasulullah bersabda: “ jangan berdoa melaknat diri kalian sendiri, jangan kalian berdoa menghukum anak-anak kalian, jangan kalian berdoa untuk melaknat pembantu-pembantu kalian, jangan kalian berdoa melaknat harta-harta kalian, jangan sampai doa kalian itu bertepatan dengan suatu saat waktu Allah diminta, dan Allah mengabulkan permintaan-permintaan kalian”.

Wahai ayah

Sepatutnya engkau,

Siang dan malam, pagi dan petang

Dalam keadaan susah dan senang,

Dalam keadaan lapang dan sempit,

Mengangkat kedua tanganmu, meneteskan air matamu,

Merintih dihadapan Allah, lalu engkau berkata:

“Ya Allah berikanlah petunjuk kepada anakku.,

Ya Allah jadikanlah anak-anakku, anak yang shaleh, yang taat, menjadilah mereka imam-imam dan pemimpin dalam agamamu”.

Terakhir….,Wahai ayahku,

Ayahanda yang aku hormati dan aku cintai,

Aku mewakili anak-anakmu yang lain,

Mereka adalah anak-anakmu yang sebenarnya merasakan apa yang aku rasakan,

Yang sebenarnya ingin mengungkapkan apa yang aku ungkapkan

Wahai ayahanda

Wahai ayah yang memiliki amanah dan tanggung jawab yang besar,

Wahai ayahanda yang memegang amanah, yang langit dan bumi takut untuk

mengembannya, wahai orang-orang yang telah dianugerahkan oleh Allah harta dan anak-anak,

Allah menguji kalian dengan kami, ketahui sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah fitnah dan bahwasannya disisi Allah pahala yang besar

Ingatlah firman Allah, Allah mewasiatkan kepada kalian agar berbuat baik kepada anak-anak kalian.

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya dari istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang akan menjadi musuh bagi kalian, maka waspadailah mereka”. Wahai ayahanda, Bertakwalah kepada Allah terhadap kami Sesungguhnya kami adalah belahan jantungmu Kami lahir dari tulang sulbimu Kami adalah generasi yang melanjutkan tugas dan tanggung jawabmu Kami adalah impianmu Kami adalah harapan dimasa depanmu Kami adalah harapanmu dan harapan umat ini

Wahai Ayah,

Bertakwalah kepada Allah

Didiklah kami atas cinta kepada Allah

Didiklah kami sampai tumbuh besar untuk takut dan harap kepada Allaah

Didiklah kami untuk bertakwa kepada Allaah

Didiklah kami untuk selalu merasa diawasi oleh Allaah

Didiklah kami untuk menjadi pejuang-pejuang agama Allah

Dan meneladani Rasulullah shalallahu alaihi wassalam

Wahai ayah Kenalkan kami kepada Rasulullah

Perkenalkan kami kepada para sahabat

Kenalkan kepada kami para syuhada

Kenalkan kepada kami para ulama-ulama

Orang-orang yang telah berjasa kepada agama ini

Wahai ayah,

Jangan engkau kenalkan kami kepada orang-orang yang fasik,

Orang-orang yang keji yang ada di media-media masa, di televisi, dan media-media cetak lainnya

Wahai ayahanda,

Kami berharap dan berdo’a, agar kami dapat berbakti kepadamu

Kami berharap berkumpul denganmu kelak di sorga

Kami berharap dapat memberi syafaat kepadamu

Karena kami hafal al-Qur’an

Karena kami mati syahid di jalanMu

Karena engkaulah yang membimbing dan mengarahkan kami untukmu

Ini sebagian risalah yang sebenarnya dirasakan oleh anak-anak dizaman sekarang, yang telah banyak dilalaikan oleh para ayah.

Ini sebagian ungkapan isi hati sebagian anak-anak di jalanan, anak-anak yang dibiarkan bebas yang tidak mengenal Tuhannya dan Rasul dan tidak mengenal agamanya.

Yang sebenarnya tidak lepas dari kelalaian para orang tua, termasuk diantaranya para ayah.

Semoga ini menjadi koreksi, semoga ini menjadi intropeksi bagi kita, mengingatkan kita, bahwa orang tua , ayah khususnya yang menjadi pemimpin di keluarga, menyadari bahwa anak-anak itu adalah surga dan nerakanya, karena, barangsiapa yang melalaikan anak-anaknya yang dibebankan oleh Allah Tabaraka Wa Ta’ala, maka neraka adalah tempatnya. kemudian Allah Tabaraka Wa Ta’ala mengingatkan setiap ayah membimbing, membantu dan mengarahkan untuk anak-anaknya dan semoga Allah memberi petunjuk kepada setiap calon ayah menyadari tanggungjawab dan amanahnya kedepan, karena anak-anak tersebut adalah tanggung jawab kita semua.


Sumber : Di publikasi ulang dari : http://aqeedahsaleemah.multiply.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: