Kisah Taubatnya Kelompok Takfir Setelah Berdialog dengan Syaikh Al-Albani rahimahullah

Berbagi Sedikit Oleh-Oleh Daurah Syar’iyyah ke 12 Masyayikh Yordania di Trawas Juli 2011; Kisah Taubatnya Kelompok Takfir Setelah Berdialog dengan Syaikh Al-Albani rahimahullah

Oleh : Ustadz Abdullah Sholeh Hadrami

Pada hari keempat, yaitu hari Rabu 4 Sya’ban 1432 H / 6 Juli 2011 M Daurah Syar’iyyah ke 12 yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Ali bin Abi Thalib Surabaya bekerjasama dengan Markaz Al-Imam Al-Albani Yordania mulai tanggal 1-7 Sya’ban 1432 H / 3-9 Juli 2011 M bertempat di Blessing Hills Trawas Mojokerto Jawa Timur, sebagaimana biasa setiap malam Daurah selalu ditutup dengan Liqo’ Maftuh atau pertemuan terbuka antara Masyayikh dengan peserta Daurah untuk musyawarah dan berbagi cerita serta pengalaman, juga membahas semua permasalahan yang berkaitan dengan dakwah dan ilmu.

Pada malam itu Liqo’ Maftuh dipimpin oleh Fadhilatusy Syaikh Prof. DR. Basim bin Faishol Al-Jawabiroh hafidhahullah dengan dipandu oleh panitia yang diwakili oleh Mudir Sekolah Tinggi Agama Islam Ali bin Abi Thalib Surabaya, Al-Ustadz Abdur Rahman At-Tamimi hafidhahullah.

Fadhilatusy Syaikh Prof. DR. Basim bin Faishol Al-Jawabiroh hafidhahullah diminta oleh Al-Ustadz Abdur Rahman At-Tamimi hafidhahullah untuk menceritakan pengalamannya semasa muda bersama Muhaddits Al-‘Ashr [Ahli Hadits Abad Ini] Al-Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah yaitu kisah yang penuh dengan pelajaran di dalamnya tentang taubatnya kelompok takfir setelah beberapa kali dialog dengan Syaikh Al-Albani rahimahullah.

Banyak sekali kisah-kisah menarik yang tentang Syaikh Al-Albani rahimahullah terutama tentang kesabaran Beliau untuk menyadarkan kaum muda yang terjangkit virus takfir, yaitu penyakit kronis yang sangat berbahaya karena mudah menvonis kafir kaum muslimin.

Fadhilatusy Syaikh Prof. DR. Basim bin Faishol Al-Jawabiroh hafidhahullah berkisah:

“…Saat itu aku masih belajar di jenjang SMA. Bersama beberapa pemuda, kami mengkafirkan kaum muslimin dan enggan mendirikan sholat di masjid-masjid umum. Alasan kami, karena mereka adalah masyakarat jahiliyah. Orang-orang yang menentang kami, selalu saja menyebut-nyebut nama Syaikh Al-Albâni rahimahullah, satu-satunya orang yang mereka anggap sanggup berdialog dengan kami dan mampu melegakan kami dengan argumen-argumen tajamnya serta mengembalikan kami ke jalan yang lurus.

Ketika Syaikh datang ke Yordania dari Damaskus, beliau diberitahu adanya sekelompok pemuda yang seringkali mengkafirkan kaum muslimin. Lantas Beliau mengutus saudara iparnya, Nizhâm Sakkajha – kepada kami untuk menyampaikan keinginan beliau untuk berjumpa dengan kami.

Dengan tegas kami jawab: “Siapa yang ingin berjumpa dengan kami, ya harus datang, bukan kami yang datang kepadanya”.
Akan tetapi, Syaikh panutan kami dalam takfir memberitahukan bahwa Al-Albâni rahimahullah termasuk ulama besar Islam, ilmunya dalam dan sudah berusia tua. Ia pun mengarahkan supaya kami lah yang mendatangi Beliau.

Lantas kami pun mendatangi Beliau di rumah iparnya, Nizhâm , menjelang sholat Isya. Tak berapa lama, salah seorang dari kami mengumandangkan adzan. Setelah iqamah, Syaikh Al-Albâni rahimahullah berkata:
“Kami yang menjadi imam atau imam sholat dari kalian?”.
Syaikh kami dalam takfir berujar:
“Kami meyakini Anda seorang kafir”
Syaih Al-Albâni rahimahullah menjawab: “Kami masih yakin kalian orang-orang beriman (kaum Muslimin)”.

Syaikh kami akhirnya memimpin sholat. Usai sholat, Syaikh Al-Albâni rahimahullah duduk bersila melayani diskusi dengan kami sampai larut malam. Syaikh kami lah yang berdialog dengan Syaikh al-Albâni rahimahullah. Sedangkan kami dalam rentang waktu yang lama itu, sesekali berdiri, duduk lagi, merentangkan kaki dan berbaring. Anehnya, kami lihat Syaikh al-Albâni rahimahullah tetap dalam posisi duduk awalnya, tidak berubah sedikit pun, meladeni argumen beberapa orang. Saat itu, aku benar-benar takjub dengan kesabaran dan ketahanan beliau!!

Kemudian, kami masih mengikat janji untuk berjumpa lagi dengan Beliau keesokan hari. Sepulangnya kami ke rumah, kami mengumpulkan dalil-dalil yang menurut kami mendukung takfir yang selama ini kami lakukan. Syaikh Al-Albâni rahimahullah hadir di salah satu rumah teman kami.

Persiapan buku dan bantahan terhadap Syaikh Al-Albâni rahimahullah telah kami sediakan. Pada kesempatan kedua ini, dialog berlangsung setelah sholat Isya` sampai menjelang Fajar menyingsing.

Perjumpaan ketiga berlangsung di rumah Syaikh Al-Albâni rahimahullah. Kami berangkat ke rumah Beliau setelah Isya. Dialog pada hari ketiga ini berlangsung sampai adzan Subuh berkumandang. Kami mengemukakan banyak ayat yang memuat penetapan takfir secara eksplisit. Begitu pula, hadits-hadits yang mengandung muatan sama yang menetapkan kekufuran orang yang berbuat dosa besar. Setiap kali menghadapi argumen-argumen itu, Syaikh Al-Albâni rahimahullah dapat mematahkannya dan justru ‘menyerang’ balik dengan membawakan dalil yang lain. Setelah itu, Beliau mengakomodasikan dalil-dalil yang tampaknya saling bertolak belakang itu, menguatkannya dengan keterangan para ulama Salaf dan tokoh-tokoh umat Islam terkemuka di kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Begitu adzan Subuh terdengar, sebagian besar dari kami bergegas bersama Syaikh Al-Albâni rahimahullah menuju masjid untuk menunaikan sholat Subuh. Kami telah merasa puas dengan jawaban Syaikh Al-Albâni rahimahullah tentang kesalahan dan kepincangan pemikiran yang sebelumnya kami pegangi. Dan saat itu juga kami melepaskan pemikiran-pemikiran takfir tersebut, alhamdulillah. Hanya saja, ada beberapa gelintir dari kawan kami yang tetap menolaknya. Beberapa tahun kemudian, kami mendapati mereka murtad dari Islam. Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan kepada keselamatan”

Demikianlah kisah yang diceritakan oleh Fadhilatusy Syaikh Prof. DR. Basim bin Faishol Al-Jawabiroh hafidhahullah kepada kami pada malam itu. Kisah ini juga dimuat dalam kitab tentang biografi Syaikh Al-Albani yang berjudul, ‘al-Imâm al-Albâni, Durûs Wa Mawâqif Wa ‘Ibar’, karya Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Muhammad bin ‘Abdullah as-Sadhân, yang diterbitkan oleh penerbit Dârut Tauhîd Riyadh Cet I, Th 1429H-2008M, hal155-158, yang pernah dimuat terjemahannya di Majalah As-Sunnah Solo Edisi 11/Tahun XII/1430H/2009M.

Subhanallah.. Semula mereka berpemahaman takfir yang ekstrem kemudian berubah menjadi murtad atheis komunis.. Perubahan ini terjadi setelah mereka mendekam dalam penjara karena berurusan dengan pihak berwenang.. Ini adalah tipu daya setan yang kita harus mewaspadainya..

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya agama ini adalah mudah, dan tidak ada seorangpun yang memberat-beratkan agama melainkan ia akan kalah sendiri”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: “Tiadalah amalan seorang hamba melainkan setan mempunyai dua cara menyesatkan; yaitu setan menjadikannya bersikap berlebih-lebihan atau menjadikannya bersikap menyepelekan. Setan berharap untuk menang dengan salah satunya”.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan (dalam beragama)”. Beliau ucapkan ini tiga kali. (HR. Muslim).

Kisah seperti mereka ini banyak terjadi di berbagai penjuru dunia, yaitu kelompok yang semula mengamalkan agama dengan cara yang keras, kasar, ekstrem, mudah menjatuhkan vonis kafir kepada sesama muslim, melakukan peledakan-peledakan, pembunuhan, perampokan, menghalalkan darah yang terlindungi, menuduh para ulama dengan tuduhan-tuduhan keji dan berbagai macam kekerasan lainnya. Kemudian setelah itu berubah menjadi murtad dan keluar dari Islam. Kenapa hal ini bisa terjadi?..

Pangkal dari semua ini adalah mengedepankan hawa nafsu. Setiap kelompok beragama yang ekstrem dan berlebih-lebihan itu pasti mengikuti hawa nafsu. Merasa dirinya dan kelompoknya paling benar dan berfatwa sesuai selera hawa nafsu mereka yang keras dan kasar. Demikian pula setiap kelompok yang meremehkan agama seperti kelompok liberal, sekuler dan semisalnya juga seperti itu. Jadi, pada hakekatnya kedua kelompok itu sama, yaitu sama dalam hal mengedepankan hawa nafsu dan berfatwa sesuai selera hawa nafsunya. Hanya saja hawa nafsu keduanya berbeda, yang satu cenderung keras dan ekstrem dan yang satunya lagi cenderung meremehkan dan menggampang-gampangkan agama. Keduanya adalah tipu daya setan. Dari kegelapan menuju kegelapan.

Solusi terbaik agar terhindar dari pemikiran-pemikiran sesat adalah dengan mempelajari Islam melalui para ulama yang jelas dan diakui keilmuannya dan menghindari serta mewaspadai majelis-majelis taklim atau kajian-kajian yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tidak mencukupkan diri mengambil ilmu-ilmu agama dari media saja, seperti internet dan semisalnya, akan tetapi harus melalui guru yang ilmunya mumpuni, jelas dan pernah berguru kepada para ulama yang jelas dan diakui keilmuannya. Selalu berdoa memohon kepada Allah agar diselamatkan dari semua kesesatan dan penyimpangan serta agar di tuntun ke jalan yang lurus, yaitu jalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dan para sahabat Beliau serta para Salafush Sholeh radhiyallahu ‘anhum ajma’in.. Semoga bermanfaat.. [Abdullah Sholeh Hadrami].

Dipublikasi ulang dari : http://www.kajianislam.net/modules/smartsection/item.php?itemid=509

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: