Fenomena Jasad Utuh Setelah Bertahun-Tahun Meninggal

Fenomena Jasad Utuh Setelah Bertahun-Tahun Meninggal

Oleh : Al akh al fadhil Abu Al-Jauzaa’

Al-Imaam An-Nasaa’iy rahimahullah berkata :
أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْجُعْفِيُّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ، عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ الصَّنْعَانِيِّ، عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ عَلَيْهِ السَّلَام، وَفِيهِ قُبِضَ، وَفِيهِ النَّفْخَةُ، وَفِيهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ “، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ أَيْ يَقُولُونَ قَدْ بَلِيتَ؟ قَالَ: ” إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَام “

 

Telah mengkhabarkan kepada kami Ishaaq bin Manshuur[1], ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Husain Al-Ju’fiy[2], dari ‘Abdurrahmaan bin Yaziid bin Jaabir[3], dari Abul-Asy’ats Ash-Shan’aaniy[4], dari Aus bin Aus[5], dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Sesungguhnya seutama-utama hari adalah hari Jum’at. Pada hari itu Aadam ‘alaihis-salaam diciptakan, padanya ia diwafatkan, padanya ditiup sangkakala (kiamat), dan padanya diwafatkan seluruh makhluk. Maka, perbanyaklah oleh kalian ucapan shalawat, karena ucapan shalawat kalian itu akan disampaikan kepadaku”. Para shahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami disampaikan kepadamu, padahal engkau telah lenyap atau hancur ?”. Beliau menjawab : “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi ‘alaihim as-salaam” [Al-Mujtabaa, no. 1374].
Diriwayatkan oleh beberapa imam hadits dari jalan-jalan yang semuanya berasal dari Husain bin ‘Aliy Al-Ju’fiy, dari ‘Abdurrahmaan bin Yaziid bin Jaabir, dari Abul-Asy’ats Ash-Shan’aniy, dari Aus bin Aus secara marfuu’.
Beberapa huffaadh men-ta’liil riwayat ini dengan alasan bahwa ‘Abdurrahmaan dalam sanad itu bukanlah Ibnu Yaziid bin Jaabir, akan tetapi Ibnu Yaziid bin Tamiim, seorang yang dla’iif. Ibnu Rajab rahimahullah yang berkata :

Aku Bukan Siapa-Siapa

Aku Bukan Siapa-Siapa.. [Tafakkur dan Merenung Sejenak]

Di tengah hamparan lautan yang luas dan dalam aku merenung..
Kiri, kanan, depan dan belakang semuanya lautan..
Melihat ke atas yang tampak hanya langit yang tak terjangkau besarnya beserta awan, matahari pada waktu siang, bulan dan bintang-bintang pada waktu malam..
Melihat ke bawah yang tampak hanyalah lautan yang kedalamannya mencapai seribu seratus meter, satu kilo meter lebih?!..

Subhaanallooh…

Apalah artinya aku?..
Alam semesta yang demikian besar dan dahsyat menjadikan aku merasa benar-benar tidak ada apa-apanya dan bukan siapa-siapa..
Ketika aku dilahirkan oleh Ibuku, aku tidak memiliki apa-apa..
Ketika mati nanti, aku juga tidak akan membawa apa-apa selain amal perbuatanku..
Sungguh dunia ini benar-benar permainan dan sendagurau saja, sandiwara saja, dan tidak lebih dari itu..
Betapa banyak kita lalai, lupa dan menyombongkan ilmu, harta atau apa saja yang kita miliki..
Kematian menjadikan kita baru tersadar dan menyesal karena sandiwara telah berakhir, akan tetapi sadar dan penyesalan yang sudah tidak ada gunanya lagi..
Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada guna.. Continue reading

Kisah Taubatnya Kelompok Takfir Setelah Berdialog dengan Syaikh Al-Albani rahimahullah

Berbagi Sedikit Oleh-Oleh Daurah Syar’iyyah ke 12 Masyayikh Yordania di Trawas Juli 2011; Kisah Taubatnya Kelompok Takfir Setelah Berdialog dengan Syaikh Al-Albani rahimahullah

Oleh : Ustadz Abdullah Sholeh Hadrami

Pada hari keempat, yaitu hari Rabu 4 Sya’ban 1432 H / 6 Juli 2011 M Daurah Syar’iyyah ke 12 yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Ali bin Abi Thalib Surabaya bekerjasama dengan Markaz Al-Imam Al-Albani Yordania mulai tanggal 1-7 Sya’ban 1432 H / 3-9 Juli 2011 M bertempat di Blessing Hills Trawas Mojokerto Jawa Timur, sebagaimana biasa setiap malam Daurah selalu ditutup dengan Liqo’ Maftuh atau pertemuan terbuka antara Masyayikh dengan peserta Daurah untuk musyawarah dan berbagi cerita serta pengalaman, juga membahas semua permasalahan yang berkaitan dengan dakwah dan ilmu.

Pada malam itu Liqo’ Maftuh dipimpin oleh Fadhilatusy Syaikh Prof. DR. Basim bin Faishol Al-Jawabiroh hafidhahullah dengan dipandu oleh panitia yang diwakili oleh Mudir Sekolah Tinggi Agama Islam Ali bin Abi Thalib Surabaya, Al-Ustadz Abdur Rahman At-Tamimi hafidhahullah.

Fadhilatusy Syaikh Prof. DR. Basim bin Faishol Al-Jawabiroh hafidhahullah diminta oleh Al-Ustadz Abdur Rahman At-Tamimi hafidhahullah untuk menceritakan pengalamannya semasa muda bersama Muhaddits Al-‘Ashr [Ahli Hadits Abad Ini] Al-Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah yaitu kisah yang penuh dengan pelajaran di dalamnya tentang taubatnya kelompok takfir setelah beberapa kali dialog dengan Syaikh Al-Albani rahimahullah. Continue reading

%d bloggers like this: