Dialog Bersama Kaum Sufi

 Dialog bersama kaum Sufi ( bagian 1)

﴿  حوار مع الصوفية ﴾

Oleh : Abu Bakar al-Iraqi

Terjemah : Muhammad Iqbal Ghazali

Editor : Eko Abu Ziyad

Sumber : http://www.islamhouse.com

          Segala puji bagi Allah I, kita memuji-Nya, memohon pertolongan, ampunan dan petunjuk kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah I dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah I memberi petunjuk kepadanya maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan sesungguhnya Muhammad r adalah hamba dan rasul-Nya, semoga rahmat Allah I dan kesejahteraan selalu tercurah kepadanya, dan kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari pembalasan.

Amma ba’du:

          Ini adalah sebuah kitab yang berjudul ‘Dialog bersama kaum sufi’, kami hadirkan kepada saudara-saudara para penuntut ilmu. Semoga Allah I memberi manfaat dan petunjuk dengannya kepada kaum yang telah tersesat dari jalan Allah I. Dalam buku ini, pengarang membela Syaikh Imam Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah dan membahas tentang dakwahnya yang bersih –semoga Allah I membalaskan kebaikan kepadanya.

          Pengarang buku ini adalah salah seorang dai, yaitu saudara kita Syaikh Abu Bakar al-Iraqi –semoga Allah I memberi taufik kepadanya untuk yang dicintai dan diridhai-Nya. Beliau termasuk orang yang berdakwah kepada Allah I, kepada tauhid-Nya, dan menolak segala bid’ah dan khurafat. Beliau termasuk orang yang mengalami kebanyakan persoalan kita ini, semoga Allah I menolongnya di dalam dakwahnya dan menambah kebaikan dan keteguhan kepadanya. Dia –hafidhahullah– memberikan hadiah satu buah dari kitabnya ini, ternyata membahas masalah penting, sekalipun singkat, dan aku melihat sangat perlu untuk dipublikasikan –semoga Allah I memberi manfaat dengannya.

          Lalu aku mengawasi percetakannya dan mentashhihnya sebatas kemampuan. Aku memohon kepada Allah I agar menjauhkan kita dari kekeliruan, mengampuni dosa kita, memberi taufik kepada pengarang kitab ini, memberi manfaat dengan kepadanya, memberi manfaat dengannya, meneguhkan kita dan dia, dan memberi manfaat kepada pembacanya.

          Kemudian, sesungguhnya agama ini adalah nasehat, maka barangsiapa yang menemukan kesalahan maka hendaklah ia memberi arahan dan nasehat, dan barangsiapa yang ingin mengirim nasehat atau merevisi atau koreksi, maka semoga Allah I memberi balasan kebaikan kepadanya, dan untuknya kami haturkan ucapan terima kasih dan penghargaan, dan dia diberi pahala –Insya Allah I.

Ditulis oleh

Abu Yazid as-Sabi’i

Semoga Allah I mengampuninya, kedua orang tuanya, dan semua kaum muslimin

Dan semoga Allah I memberi rahmat kepada hamba yang berkata ‘Amin’.

Riyadh, malam Jum’at tanggal 3-5-1410 H.

Alamat: P.O.Box 60517 Riyadh 11555

Pembukaan

          Sesungguhnya pujian hanya bagi Allah I, kita memuji-Nya, memohon pertolongan, petunjuk dan ampunan serta bertaubat kepada-Nya I. Kita berlindung kepada Allah I dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah I maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan kembali. Ya Allah, berilah rahmat dan kesejahteraan kepada nabi dan pilihan-Mu Muhammad r, dan kepada keluarga dan semua sahabatnya. Dan sesudah itu:

          Maka ini merupakan ringkasan dialog yang terjadi di antara saya dan beberapa pemimpin kaum sufi di Iraq dalam beberapa majelis dan di beberapa wilayah yang berbeda sekitar dakwah penuh berkah yang telah dilakukan oleh Syaikh Imam Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah, dan beberapa masalah yang digembar gemborkan di sekitarnya dan yang dikatakan tentangnya. Aku menjawab dalam dialog ini tentang beberapa masalah keraguan yang dibuat-buat. Aku menjelaskan di dalamnya  kebenaran yang dipegang oleh Imam dan para pengikutnya dan kebatilan segala tuduhan yang ditujukan kepada beliau dan para pengikutnya. Buku ini saya beri judul ‘Dialog Bersama Kaum Sufi’.

          Aku memohon kepada Allah I agar memberi taufik kepadaku untuk melayani dakwah dan mengikuti salafus shalih –semoga Allah I ridha-Nya kepada mereka semua. Dan segala puji bagi Allah I Rabb semesta amal.

Muhibbusy Syaikhain Abu Bakar al-Iraqi

1 Ramadhan 1409 H.

Nasehat dan harapan sebelum memulai dialog

          Nasehatku kepada setiap muslim yang ingin dan cemburu terhadap agama dan akidahnya agar membaca buku-buku Syaikhul Islam Imam Muhammad bin Abdul Wahab –rahimahullah-, dan bersambung dengan murid-murid dakwahnya yang sangat banyak –segala puji bagi Allah I-. Kemudian setelah itu mengambil keputusan terhadap dakwahnya yang penuh berkah dan para dai kepadanya.

          Saudaraku seagama, dahulu aku adalah seorang murid di sekolah agama (islam) di kota kami, dan syaikh di sekolah –dia seorang sufi thariqat (aliran) Qadiriyah- berbicara kepada kami tentang Syaikh dan dakwahnya yang bertentangan dengan kebenaran dan hakikat. Dia melarang kami membaca buku-bukunya dan buku-buku Syaikhul Islam dan muridnya Ibnul Qayyim –rahimahumullah-. Sehingga dia melukis kepada kami gambaran yang disamarkan bagi dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Dia selalu menggunakan ungkapan ‘Wahabi’ untuk membuat orang menjauhkan diri, dan ia berkata bahwa ia adalah mazhab kelima yang keluar dari mazhab islam.

          Sungguh Allah I mentaqdirkan saya melanjutkan pendidikan di Jami’ah al-Islamiyah (Islamic Universiti) di Madinah al-Munawwarah pada fakultas Syari’ah. Maka aku melihat kebalikan apa apa yang telah kudengar dari guru-guru yang jahat. Aku melihat para tokoh dakwah tauhid adalah orang-orang yang berilmu, ahli al-Qur`an, orang yang baik dan berkah, berpegang kepada al-Qur`an dan sunnah rasul-Nya r, berpegang teguh terhadap ajaran Islam, dan memandang diri mereka sebagai pelayan Islam dan dakwah tauhid yang penuh berkah.

          Dan setelah aku lulus dari Universitas pada tahun 1397 H, Allah I menghendaki aku bertugas sebagai imam, khathib, dan penceramah di salah satu masjid penting di kota kami. Maka aku melihat bid’ah tersebar di dalam masjid di antara shaf orang yang shalat, maka aku memulai –dengan meminta pertolongan kepada Allah I- merubahnya dengan cara yang hikmah dan nasehat yang baik.

          Tindakan ini membuat para ahli bid’ah, ulama jahat dan fitnah berkata: fulan wahabi dan berdakwah kepada mazhab wahabi, karena dia seorang alumni Saudi…hingga akhir ucapan mereka yang tidak dimaksudkan kecuali kebatilan. Sebagaimana dikatakan : ‘Seringkali kali yang berbahaya itu memberi manfaat’ maka aku berjanji kepada Allah I untuk menjadi salah seorang pelayan dakwah tauhid dan aku tidak takut pada Allah I terhadap celaan orang yang mencela. Aku menekuni kitab-kitab tauhid, kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan Muhammad bin Abdul Wahab rahimahumullah. Dan aku banyak membaca biografi Imam Ahmad bin Hanbal t, terutama pendiriannya terhadap fitnah bahwa al-Qur’an al-Karim adalah makhluk. Maka hal itu sangat memberi pengaruh positif terhadap kehidupanku, yang mengembalikannya kepada tauhid yang murni dan islam yang bersih. Segala puji bagi Allah I Rabb semesta alam.

          Dan setelah itu aku menjadi  salah seorang murid dakwah yang berdakwah kepadanya. Dengan karunia Allah I, masuk di dakwah ini jumlah yang banyak dari para pemuda, orang tua, wanita, dan laki-laki. Maka mereka menjadi orang-orang yang mencintai dakwah dan meninggalkan masa lalu mereka dari persoalan jahiliyah. Segala puji bagi Allah I yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Permulaan dialog

          Sufi berkata: engkau adalah wahabi, pengikut mazhab kelima, kamu tidak mengakui empat mazhab, dan tidak melihat adanya ijtihad. Bahkan kaum wahabi berdiri di sisi nash dan tidak terkait dengan mazhab tertentu.

          Aku menjawab: pertama-tama aku mengenalkan kepadamu pengertian wahabi. Wahabi adalah sandaran yang tidak tepat, karena syaikh Abdul Wahab bapak pembaharu dakwah bukanlah yang melaksanakan dakwah tauhid. Yang melaksanakannya adalah putranya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah. Karena seharusnya dinisbahkan kepadanya, maka dikatakan: dakwah muhammadiyah sebagai gantian wahabiyah karena itulah nisbah yang benar. Akan tetapi musuh-musuh dakwah memalingkan kenyataan untuk membuat orang lari, lalu mereka menyandarkannya kepada bapak, bukan kepada anak, karena adanya tujuan tertentu dalam jiwa mereka.

          Terkadang dakwah dinisbahkan kepada bapak atau kakek, sebagaimana dikatakan asy-Syafi’iyah, atau al-Hanbaliyah, dan ini tidak ada celaan padanya dan nisbah dakwah tauhid kepada Syaikh Abdul Wahab juga seperti itu.

          Akan tetapi apakah makna wahabiyah? Al-Wahhab adalah salah satu dari nama-nama Allah I yang indah (asma`ul husna) yang artinya adalah: Yang Maha Pemberi, maka ia adalah pemberian nama yang penuh berkah yang disandarkan kepada salah satu asma`ul husna (al-Wahhab). Maka al-Wahhabiyah atas pengertian ini berarti pemberian yang memberi kepada manusia aqidah yang selamat (benar) dan memberikannya jalan atas dasar al-Qur`an dan as-Sunnah serta perjalanan para salafus shalih, dan memberi rasa yaitu aman dalam aqidah yang bersih lagi kosong dari syirik, sihir dan dajal.

          Adapun pernyataan bahwa wahabi adalah mazhab yang kelima, maka ungkapan itu ditolak oleh realita dan logika, karena sesungguhnya Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahab) rahimahullah di dalam ushul dan aqidah di atas aqidah salafus shalih –radhiyallahu ‘anhum ajma’in-, dan di dalam furu’ (fiqih) di atas mazhab imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal –rahimahullah– dan dia tidak keluar dari mazhabnya dalam persoalan furu’ seperti keluarnya Syaikhul Islam Ahmad bin Taimiyah –rahimahullah– sekalipun keduanya sama-sama berijtihad dalam beberapa masalah berbeda dengan mazhab. Dan hal itu terjadi saat jelas baginya dalil yang berbeda dengan mazhab, maka ia mengambilnya karena mengikuti kebenaran dan berpegang terhadap dalil. Kitab-kitab dan risalah-risalahnya menjadi bukti atas semua itu. Dan sesungguhnya dia mengakui semua mazhab ahlus sunnah seperti Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Tsauriyah serta mazhab-mazhab lainnya yang dikenal.

          Maka yang berkata ‘mazhab kelima’ menjelaskan kebodohannya dan sesungguhnya ia tidak mengenal ilmu dan ulama. Sesungguhnya yang dilaksanakan Imam tidak bisa dikatakan baginya mazhab kelima, dan ia hanyalah dakwah kepada tauhid yang murni (Dan mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Allah I, memurnikan agama bagi-Nya).

          Adapun yang terjadi dalam ungkapan para ulama dari pernyataan mereka ‘mazhab fulan’ atau ‘pergi kepadanya fulan’, maka sungguh hanya terjadi dalam hukum karena perbedaan mereka padanya menurut sampainya dalil dan memahaminya. Dan ini tidak tertentu hanya pada imam yang empat, bahkan semua mazhab ulama sebelum dan sesudah mereka dalam masalah hukum yang sangat banyak. Sungguh telah terjadi perbedaan pendapat di antara para sahabat dan para ahli fikih yang tujuh (fuqaha sab’ah) dari generasi tabi’in dan berbagai masalah yang saling berbeda pendapat satu sama lain. Dan tujuan dari ucapan si jahil ini ‘mazhab kelima’ adalah ungkapan yang rusak, tidak ada maknanya seperti kondisi orang-orang seperti dia dari golongan yang suka berdebat dan sesat di masa kita.

          Kemudian, sesungguhnya para pengikut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berpandangan ijtihad dan sesungguhnya ijtihad tidak diangkat hingga hari kiamat apabila syarat-syaratnya terpenuhi.

          Dan keadaan kaum wahabi tidak terkait mazhab tertentu, maka ini adalah pendapat semua fuqaha islam, dan seperti ini pendapat para penganut mazhab yang empat dan para imamnya:

  1. Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata: ‘Apabila ada hadits shahih maka ia adalah mazhabku.’ Dan dia berkata: ‘Tidak boleh bagi seseorang mengambil ucapan kami selama ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya. Sesungguhnya kami adalah manusia, kami mengatakan satu pendapat pada hari ini dan besok harinya kami menarik kembali (ruju’).’ Dan dia berkata pula: ‘Apabila aku mengatakan satu ungkapan yang menyalahi al-Qur`an dan hadits Rasulullah r maka tinggalkannya pendapatku.’
  2. Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata: ‘Sesungguhnya aku adalah manusia yang bisa salah dan benar, maka lihatlah pendapatku, maka segala yang sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah maka ambilah, dan segala yang tidak sesuai al-Qur`an dan as-Sunnah maka tinggalkanlah.
  3. Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi`i rahimahullah berkata: ‘Tidak ada seseorang melainkan dan pergi atasnya sunnah Rasulullah r dan menjauh darinya. Maka apabila aku mengatakan satu pendapat atau diriwayatkan dari Rasulullah r berbeda dari pendapatku, maka pendapat yang benar adalah sabda Rasulullah r, dan itulah pendapatku.’ Dan dia berkata: ‘Apabila shahih sebuah hadits maka itulah mazhabku.’ Dan dia berkata: ‘Apabila kamu melihatku mengatakan satu pendapat, dan ada hadits shahih dari Nabi r yang menyalahinya maka ketahuilah sesungguhnya akalku telah hilang.’ Dan dia berkata: ‘Segala yang kuucapkan, maka ia berbeda dengan sabda Nabi r, maka hadits Nabi r lebih utama  maka janganlah kamu bertaqlid kepadaku.’
  4. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: ‘Janganlah kamu bertaqlid kepadaku, jangalah bertaqlid kepada Malik, Syafi’i, Auza’i, dan jangan pula kepada Tsauri, dan ambilah dari tempat mereka mengambil.’ Dan dia berkata: ‘Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah r maka ia berada di atas tepi kebinasaan.’

Inilah ungkapan para imam yang empat, semuanya melarang taqlid tanpa mengetahui dalil. Maka wajib kepada orang yang sampai kepadanya perkara Rasulullah r agar mengikutinya dan menjelaskan kepada umat. Banyak sekali para ulama mazhab yang menyalahi ucapan imam mereka karena alasan dalil. Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan dua murid imam Abu Abu Hanifah telah menyalahi pendapat guru mereka dalam masalah mengusap dua kaus dan selain keduanya.

          Wahabi bukanlah mazhab ke lima dan bukan hanya dia yang keluar dari pendapat para imam mazhab, dan hal itu saat adanya dalil. Bahkan mereka yang paling banyak berijtihad dan berdiri tegak di sisi nash-nash yang datang dalam al-Qur`an dan as-Sunnah berdasarkan firman Allah I:

وما أتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا

Dan sesuatu yang Rasulullah r datang kepadamu maka ambillah, dan sesuatu yang dia melarangmu darinya maka berhentilah.”

Dan Allah I mengetahui segala tujuannya.

Mengucap shalawat kepada Nabi r

          Sufi berkata: ‘Kaum Wahabi tidak mengucap shalawat kepada Nabi r  setelah azan dan mereka melarang para mu`azzin meninggikan suara membaca shalawat di antara menara, dan mereka mengatakan sesungguhnya yang biasa dilakukan para mu`azzin adalah bid’ah, maka bagaimana pendapatmu?

          Aku menjawab: ‘Sesunggunya para pengikut Imam Muhammad bin Abdul Wahab adalah orang-orang yang paling banyak mengucap shalawat kepada Nabi r dan paling konsisten dengan perintah dan larangannya, serta taat kepadanya r.

          Apakah Bilal t dan Ibnu Ummi Maktum t serta orang yang melaksanakan azan untuk Rasulullah r melakukan seperti yang dilakukan sebagian mu`azin di masa sekarang berupa meninggikan suara membaca shalawat kepada Nabi r setelah azan? Apakah pernah dilakukan di masa khilafah rasyidah yang kita disuruh mengikuti sunnah mereka, demikian pula di masa para imam empat, pengikut para tabi’in, atau salah satu  di antara tiga abad pertama yang utama? Sekali-sekali tidak pernah. Dan barangsiapa mengatakan berbeda dengan hal ini berarti dia telah mengada-ngada terhadap islam dan para dainya yang utama.

          Dan yang dikatakan bahwa hal itu terjadi di masa Shalahudin al-Ayyubi rahimahullah, dan Shalahudin bukanlah syari’at yang kita diperintah mengikutinya.

          Apakah ditemukan sifat azan dalam kitab fiqih dan hadits yang diperpegangi apa-apa yang dibuat-buat oleh para muazin berupa mengucap shalawat kepada Nabi r di atas menara setelah azan? Sesungguhnya hal itu tidak pernah ada, hingga dalam kitab-kitab fuqaha yang ditulis belakangan. Ini dari sisi syara’. Adapun dari sisi yang lain, mereka yang berpendapat mengucap shalawat setelah azan lagi konsisten baginya, mereka tidak mengucap shalawat saat terputus aliran listrik atau tidak ada pengeras suara atau di tempat perayaan, dan pada azan magrib dan Jum’at. Maka bisa jadi ada shalawat di setiap waktu azan, dan jika tidak demikian maka sesungguhnya ini hanyalah mengikuti hawa nafsu. La haula wa laa quwwata illa billah.

          Dan setiap yang tidak datang dari Nabi r:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang membuat-buat dalam perkara kami ini yang bukan darinya, maka ia ditolak.” Muttafaqun ‘alaih dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Dan setiap bid’ah dalam agama adalah kesesatan di neraka. Inilah yang kita yakini bahwa setiap yang tidak datang dari Nabi r dan tidak pula dari para khilafah rasyidah, maka ia ditolak. Dan tidak ada bid’ah hasanah dan yang lain sayyi`ah dalam Islam.

          Ustadz Sayyid Sabiq rahimahullah berkata dalam fiqih sunnah: ‘Azan adalah ibadah dan ruang lingkup perintah dalam ibadah adalah di atas dasar mengikuti. Maka kita tidak boleh menambah atau mengurangi sedikitpun dalam agama kita. Dan dalam hadits yang shahih: “Barangsiapa yang membuat-buat dalam perkara kami ini yang bukan darinya, maka ia ditolak.”  Maksudnya batil.

Dan di sini kami menyinggung beberapa hal yang tidak disyari’atkan, yang banyak dilakukan sehingga sebagian orang mengira bahwa ia termasuk bagian dari agama, padahal ia bukan darinya. di antaranya:

  1. Ucapan muazin saat azan atau iqamah ‘asyhadu anna sayyidana Muhammadar rasulullah’ al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: ‘Sesungguhnya hal itu tidak boleh ditambah dalam kata-kata yang ma’tsur (yang bersumber dari hadits).’
  2. al-Ajluni berkata dalam Kasyful Khafa: ‘Mengusap dua mata dengan batin (bagian dalam) dua telunjuk setelah mengecupnya setelah mendengar ucapan muazin ‘asyhadu anna muhammadar rasulullah’ bersama bacaannya ‘asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluhu, radhitu billah rabba, wa bil islami dina, wa bimuhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam nabiya‘. Diriwayatkan oleh ad-Dailami dari Abu Bakar t, ia berkata dalam al-Maqashid: Tidak shahih.
  3. Bernyanyi dalam azan dan lahan padanya dengan menambah huruf atau harakah (baris) atau madd adalah makruh. Maka jika membawa kepada perubahan makna atau menyamarkan yang dilarang maka hukumnya haram.
  4. Membaca tasbih sebelum fajar dan membaca nasyid serta meninggikan suara dan sebelum Jum’at dan shalawat kepada Nabi r bukan bagian dari azan, tidak secara bahasa dan tidak pula secara syara’, al-Hafizh mengatakannya dalam al-Fath.
  5. Mengeraskan suara membaca shalawat dan salam kepada Rasulullah r setelah azan tidak disyari’atkan, bahkan termasuk bid’ah yang makruh. Ibnu Hajar berkata dalam ‘al-Fatawa al-Kubra’: ‘Dasarnya sunnah dan tata caranya bid’ah.’ Imam Muhammad Abduh –Mufti Mesir- berkata saat ditanya tentang hal itu: ‘Terdapat dalam al-Khaniyah: sesungguhnya azan terdiri dari 15 kata dan akhirnya di sisi kami adalah ‘laailaaha illallah’, dan yang disebutkan sebelumnya atau sesudahnya semuanya adalah bid’ah yang dibuat-buat untuk talhin, bukan karena yang lain. Tidak ada seorang pun yang membolehkan talhin ini dan tidak dianggap orang yang berkata: ‘Sesungguhnya sedikit dari hal itu adalah bid’ah hasanah,’ karena setiap bid’ah dalam ibadah seperti ini adalah sayyiah (buruk), dan barangsiapa yang mengaku bahwa hal itu tidak mengandung talhin, maka ia bohong.
  6. Dan lebih atas semua itu adalah yang dinamakan tamjid pada malam jum’at, dan yang terdapat di dalamnya berupa tawassul dan istighatsah yang tidak disyari’atkan, dan yang dibuat-buat oleh para muazin di masa sekarang sangat banyak.

          Adapun mengucap shalawat keapda Nabi r, maka kami adalah manusia yang paling mengenalnya, dan berikut ini sebagian dari keutamaannya dari al-Qur`an dan sunnah Rasulullah r”

  1. Firman Allah I:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. al-Ahzab:56)

  1. Dari Abu al’Aliyah: Shalawat Allah I kepada nabi-Nya adalah pujian-Nya kepada beliau r di sisi para malaikat. (HR. al-Bukhari).
  2. Ibnu Katsir rahimahullah berkata: Dikumpulkan pujian kepadanya dari penghuni alam semesta, alam atas dan alam bawah semuanya.
  3. Dari Abdullah bin Amr bin Ash t, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah r bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

Barangsiapa yang mengucap shalawat kepadaku, niscaya Allah I membalas sepuluh.” HR. Muslim.

  1. Dari Abdullah bin Mas’ud t, sesungguhnya Rasulullah r bersabda:

أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثُرُهُمْ عَلَي صَلاَةً

Manusia yang paling utama denganku di hari kiamat adalah yang paling banyak mengucap shalawat kepadaku.” HR. at-Tirmidzi dan ia berkata: Hasan shahih.

  1. Dari Abu Hurairah t, sesungguhnya Rasulullah r bersabda:

لاَتَجْعَلُوْا قَبْرِي عِيْدًا وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ

Jangan kamu jadikan kuburnya sebagai hari raya, dan ucapkanlah shalawat kepadaku, maka sesungguhnya shalawatmu sampai kepadaku di manapun kamu berada.” HR. Abu Daud dan ia berkata: Shahih.

  1. Dari Aus al-Anshari t, sesungguhnya Rasulullah r bersabda:

إَنَّ أَفْضَلَ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ  فِيْهِ  فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ. فَقَالُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ, كَيْفَ تُعْرَضُ صَلاَتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أرمت؟ قَالَ: إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى اْلأَرْضِ أَنْ تَأُكُلَ أَجْسَادَ اْلأَنْبِيَاءِ.

Sesungguhnya harimu yang paling utama adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah mengucap shalawat kepadaku padanya, maka sesungguhnya shalawatmu disampaikan kepadaku.’ Mereka bertanya, ‘Bagaimana disampaikan shalawat kami kepadamu, sedang engkau telah hancur? Beliau r menjawab:

‘Sesungguhnya Allah I mengharamkan bumi memakan jasad para nabi.’ HR. Abu Daud, an-Nasa`i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, al-Hakim dan ia menshahihkannya, dan Ahmad.

  1. Dari Abu Hurairah t,  sesungguhnya Rasulullah r bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيَّ رُوْحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

Tidak ada seorang muslim yang mengucap salam kepadaku melainkan Allah I mengembalikan ruhku sehingga aku menjawab salamnya.” HR. Abu Daud.

  1. Dari Abu Thalhah al-Anshari t, ia berkata, ‘Rasulullah r di pagi hari terlihat senang hati dan kebahagiaan terlihat di wajahnya, mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, di pagi hari ini engkau senang hati dan terlihat di wajahmu kebahagiaan.’ Beliau r menjawab:

أَتَانِي آتٍ مِنْ رَبِّي عَزّ وجل فَقَالَ: مَنْ صَلًَّى عَلَيْكَ مِنْ أُمَّتِكَ صَلاَةً كَتَبَ اللهُ بِهَا عَشْرَ حَسَنَاتٍ وَمَحَا عَنْهُ عَشْرَ سَيِّئَاتٍ ورَفَعَ لَهُ عَشْرَ دَرَجَاتٍ وَرَدَّ عَلَيْهَا مِثْلَهَا

 ‘Datang pembawa berita dari Rabb-ku I, ia berkata, ‘Barangsiapa yang mengucap shalawat kepadamu dari umatmu satu kali shalawat niscaya Allah I menulis sepuluh kebaikan dengannya, menghapus sepuluh keburukan darinya, dan mengangkat baginya sepuluh derajat, dan mengembalikan atasnya semisalnya.’ HR. Ahmad, an-Nasa`i, dan Ibnu Hibban dalam shahihnya.

  1. Dari Abu Hurairah t, sesungguhnya Rasulullah r bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُكَالَ لَهُ بِاْلمِكْيَالِ اْلأَوْفَى إِذَا صَلَّى عَلَيْنَا أَهْلَ الْبَيْتِ فَلْيَقُلْ: اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ وَأَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَذُرِّيَّتِهِ وَأَهْلِ بَيْتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Barangsiapa yang ingin diberi timbangan yang sempurna, apabila ia mengucap shalawat kepada kami ahli bait, maka hendaklah ia membaca ‘Ya Allah, berilah rahmat kepada nabi Muhammad r, istri-istrinya para ibu kaum mukminin, keturunannya, dan ahli baitnya, sebagaimana engkau memberi rahmat kepada Ibrahim u, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia’.’ HR. Abu Daud dan an-Nasa`i.

  1. Dari Ubay bin Ka’ab t, ia berkata, ‘Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku banyak mengucap shalawat kepadamu, maka berapakah aku jadikan untukmu dari shalawatku? Beliau r bersabda, ‘Apa yang engkau kehendaki.’ Aku berkata, ‘Seperempat.’ Beliau r bersabda, ‘Apa yang engkau kehendaki, jika engkau tambah maka ia lebih baik bagimu.‘ Aku berkata, ‘Setengah.’ Beliau bersabda, ‘Apa yang engkau kehendaki, jika engkau tambah niscaya lebih baik bagimu.’ Aku berkata, ‘Dua pertiga.’ Beliau r bersabda: ‘Apa yang engkau kehendaki, jika engkau tambah niscaya lebih baik bagimu.‘ Abu berkata, ”Aku jadikan shalawatku semuanya.’ Beliau r bersabda, ‘Kalau begitu, engkau mencukupkan semangatmu dan dosamu diampuni.” HR. at-Tirmidzi.

Banyak sekali hadits-hadits shahih dalam keutamaan membaca shalawat kepada Nabi r. Karena inilah mayoritas fuqaha mewajibkan membaca shalawat setiap kali namanya yang mulia disebutkan dan menganjurkan menulis shalawat dan salam kepadanya setiap kali namanya ditulis. Al-Khathib menyebutkannya dari Imam Ahmad rahimahullah. Dan digabungkan di antara shalawat dan salam kepadanya, disebutkan oleh an-Nawawi rahimahullah. Dan dianjurkan mengucapkan shalawat kepada para nabi dan malaikat secara tersendiri.

  1. Dari Abu Mas’ud an-Anshari t, dari Basyir bin Sa’ad t, ia berkata, ‘Kami disuruh mengucap shalawat kepadamu, wahai Rasulullah, bagaimana kami mengucap shalawat kepadamu? Ia berkata, ‘Maka Rasulullah r diam sehingga kami berangan-angan bahwa ia tidak bertanya kepadanya. Kemudian Rasulullah r bersabda:

قُوْلُوْا: اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِى اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Bacalah: ‘Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad r dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberi rahmat kepada Ibrahim u, dan berilah berkah kepada Muhammad r dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau beri berkah kepada keluarga Ibrahim u di alam semesta, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” HR. Muslim.

          Inilah yang kami imani dan kami beribadah kepada Allah I dengannya, bukan seperti yang dikatakan oleh kaum sufi yang hanya terbatas bagi para muazin di atas menara dan menganggapnya sebagai bagian dari azan dan tidak ada dalil atas ucapan mereka. wallahul musta’aan.

Buku-buku maulid

          Sufi berkata:  ‘Sesungguhnya kalangan wahabi  mengharamkan membaca kitab ‘Dalail al-Khairaat’, demikian pula ‘Raudh ar-Rayyahin’ dan buku-buku maulid lainnya, mereka mengharamkan membacanya padahal di dalamnya mengandung pujian kepada Rasulullah r.

          Aku menjawab: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan para pengikutnya tidak mengharamkan membaca buku-buku ini, beliau hanya melarang disibukkan dengannya dan meninggalkan Kitabullah dan sunnah rasul-Nya r.

          Baik, Syaikh rahimahullah telah melakukan, sungguh kamu –wahai kaum sufi- telah mengganti  bacaan ‘dalailul khairat’ dengan meninggalkan membaca Kitabullah. Dan di dalam ‘Dalailul khairat’ terhadap iftiraa (yang dibuat-buat) dan kebohongan di atas lisan Rasulullah r dan salafus shalih, dan sungguh telah dipenuhi dengan hadits-hadits maudhu’ dan bohong.

          Demikian pula yang dinamakan ‘Raudhu ar-Rayyahiin’ dan lebih pantas dinamakan raudhu asy-syayathin dan melebihi atasnya  ‘Mujarrabat ad-diyarbi’ yang lebih mereka utamakan atas kitab ‘ath-Thibb an-Nabawi’ karya Ibnul Qayyim. Dan ‘ar-Raudh al-Fa`iq, Majalis al-‘Ara`is, Maulid Ibnu Hajar, Mawaj Ibnu Abbas t. Mayoritas kaum sufi merasa cukup dengan buku-buku berbahaya ini, yang dikumpulkan di antara yang keji, maudhu’, bid’ah, dan mendorong atasnya dengan memalsukan hadits-hadits baginya. Dan mereka meninggalkan buku-buku hadits yang dijadikan pegangan seperti ash-Shahihain, Sunan, al-Muwaththa`, al-Musnad, dan yang lainnya dari kitab-kitab hadits yang penuh dengan hadits-hadits yang bersinar dengan sunnah Rasulullah r.

          Berikut ini adalah sebagian contoh dari kitab-kitab mereka yang telah disebutkan:

          Pengarang buku ‘Majalis al-‘Arais’ menyebutkan sesungguhnya Allah I menciptakan bumi di atas tanduk sapi dan sesungguhnya melebarnya lautan dan pulau-pulaunya disebabkan nafas sapi, dan sesungguhnya Allah I menciptakan arsy di atas air, lalu bergerak, lalu Dia I menciptakan ular, maka ia menoleh di sekitar arsy, lalu ia diam.

          Adakah kebohongan lagi setelah kebohongan ini, wahai kaum sufi, apakah kamu tidak berakal?

          Adapun pengarang ar-Raudhu al-Fa`iq yang dinamakan ‘Huraifisy’, ia menyebutkan segala yang gharib (aneh), ajib (luar biasa),  dan khurafat yang melebihi pengarang al-Majalis. Huraifisy berkata, ‘Dari Abu Said al-Maghribi imam masjid al-Khasysyabain di Bashrah, sesungguhnya ia pergi menunaikan ibadah haji, sedang dia tetap melaksanakan shalat lima waktu di masjidnya, tidak terputus darinya sedikitpun. Dan ia menyebutkan hikayat yang panjang dalam kisah ini. Apakah orang ini berpikir, yang mempunyai akal dan agama, bagaimana mungkin ia berhaji dan dia tetap melaksanakan shalat di masjidnya di Bashrah. Apakah terjadi keanehan yang bohong ini bagi Rasulullah r.

          Dia menyebutkan pula: sesungguhnya Qadhib al-Ban yang dikubur di Musoul di wilayah Iraq telah melayani seorang syaikh selama 40 tahun. Lalu syaikh itu mengabarkan kepadanya tiga hari sebelum wafatnya  bahwa ia akan mati di luar agama islam, padahal dia adalah syaikh yang disangka. Qadhib al-Ban pembantunya bertanya: Bagaimana engkau mengetahui hal itu? Ia menjawab: ‘Aku telah melihat di lauhul mahfuzh, maka aku mendapatkan hal itu. Dan dia menyebutkan cerita yang panjang. Maka inilah sebagian hikayat Huraifisy.

          Buku-buku maulid tidak kalah beraninya terhadap Rasulullah r. Disebutkan dalam salah satu buku ini, dari Abu Bakar t, dari Rasulullah r, beliau bersabda: Barangsiapa yang berinfak satu dirham pada maulid, maka ia seolah-olah berhaji 70 kali haji. Apakah ungkapan batil ini pernah diucapkan Rasulullah r? Apakah maulid sudah dikenal di masa kenabian dan khilafah rasyidah serta di abad yang utama? Demi Allah, tidak. Bahkan ia merupakan bid’ah-bid’ah bani Fathimiyah.

          Hati-hatilah, wahai saudaraku seagama dari membaca buku-buku beracun ini atau membelinya. Berpeganglah dengan Kitabullah dan sunnah rasul-Nya r, ambillah dari sumbernya yang diperpegangi dari kitab-kitab hadits yang masyhur seperti Shahihain, Sunan, Masanid, Mushannafaat, Muwaththaath dan kitab-kitab hadits lainnya yang mu’tabar. Sesungguhnya buku-buku itu sudah cukup bagimu daripada buku-buku beracun.

          Di antara buku-buku yang bermanfaat dalam bab ini adalah ‘Jala`ul afhaam fi ash-shalati wa as-salami ‘ala khairil anam‘ karya Ibnu al-Qayyim, ‘al-Azkaar’ dan ‘Riyadh ash-Shalihin’ karya an-Nawawi, ‘asy-Syifa bi ta’rif huquq al-Mushthafa’ karya Qadhi ‘Iyadh, dan ‘al-Kalim ath-Thayyib’ karya Ibnu Taimiyah. Semoga Allah I memberi rahmat kepada mereka semua.

Maulid Nabi r

          Sufi berkata: Kenapa kaum Wahabi mengatakan bahwa merayakan maulid nabi hukumnya bid’ah? Padahal perayaan maulid merupakan salah satu bentuk merealisasikan kecintaan kepadanya r.

          Aku menjawab: Kaum Wahabi selalu menjaga perintah Rasulullah r dan larangannya. Karena itulah kami bertanya kepada kaum sufi, apakah Nabi r pernah merayakan maulidnya, atau menyuruh dengannya, atau mendorong atasnya, atau berwasiat kepada orang yang sesudahnya dengan merayakan malam maulidnya. Apakah para khilafah rasyidah merayakan yang kita disuruh berpanutan kepada mereka semua, di mana Rasulullah r bersabda:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِيْنَ مِنْ بَعْدِي عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang diberi petunjuk sesudahku, gigitlah atasnya dengan gigi geraham.” HR. ahlus sunan.

          Dan apakah tiga generasi utama juga merayakannya, yang Nabi r bersabda tentang tiga abad tersebut:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي  ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

Manusia yang terbaik adalah yang ada di abadku, kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka.” Muttafaqun ‘alaih.

          Sesungguhnya mereka semua tidak pernah melaksanakan peringatan malam maulid, sedangkan mereka adalah orang-orang yang memiliki iman yang benar dan aqidah yang bersih.

          Dan sesungguhnya bid’ah yang buruk ini yaitu bid’ah merayakan maulid dibuat-buat oleh bani Fathimiyah yang syi’ah, seperti maulid imam Ali bin Abi Thalib t, maulid az-Zahra`, Imam al-Qa`im, dan di antaranya adalah maulid Rasulullah r. Dan sesungguhnya perayaan ini pada malam dua belas Rabiul Awal adalah permulaan bid’ah yang tidak ada dasarnya dari al-Qur`an atau sunnah atau perbuatan salah seorang salafus shalih, dan sesungguhnya ia terjadi belakangan.

          Imam al-Fakihani berkata: Berulang kali pertanyaan  jama’ah tentang berkumpul yang dilakukan sebagian orang di bulan Rabiul Awal dan mereka menamakannya maulid, apakah ada dasarnya di dalam agama? Mereka mencari jawaban atas hal itu. Maka aku berkata: semoga Allah I memberi taufik: aku tidak mengetahui bagi maulid ini dasar dari al-Qur`an dan sunnah, serta tidak diriwayatkan melaksanakan dari seorang ulama umat yang mereka merupakan panutan dalam agama, yang berpegang teguh dengan peninggalan para pendahulu, bahkan ia merupakan bid’ah yang dibuat oleh orang-orang batil dan nafsu syahwat yang diperhatikan oleh orang-orang yang suka makan.

          Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, ‘Dan demikian pula diciptakan oleh sebagian manusia –bisa jadi karena menyerupai kaum nashrani dalam merayakan kelahiran Isa u dan bisa jadi karena cinta dan membesarkan Nabi r- berupa menjadikan hari lahirnya sebagai hari raya padahal manusia berbeda pendapat tentang hari lahirnya. Sesungguhnya hal ini tidak pernah dilakukan oleh salafus shalih. Jika merupakan kebaikan murni atau lebih niscaya kaum salaf lebih berhak dengannya daripada kita. Sesungguhnya mereka lebih mencintai dan mengagungkan dalam mutaba’ahnya, taat kepadanya, mengikuti perintahnya, menghidupkan sunnahnya secara lahir dan batin, menyebarkan yang dia r dibangkitkan dengannya, berjihad atas hal itu dengan hati, tangan, dan lisan. Sesungguhnya hal ini adalah jalan orang-orang yang terdahulu dari kalangan muhajirin dan anshar serta yang mengikuti mereka dengan kebaikan.

          Para pengikuti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab tidak mengatakan hal ini tentang maulid tanpa dalil dan ittiba’, bahkan telah mendahului mereka orang yang lebih dari mereka dari sisi ilmu dan taqwa dari generasi salafus shalih rahimahumullah.

          Dan sesungguhnya yang terjadi dalam perayaan maulid di masa sekarang membuat bulu kuduk merinding, berupa bercampurnya perempuan dengan laki-laki, menyaringkan suara, anasyid, syair-syair yang diharamkan yang mengandung syirik, tawassul, dan istighatsah kepada selain Allah I, dan bagi yang ingin mendapat penjelasan lebih, maka murja’ahlah kitab-kitab berikut ini:

  1. Risalah karya Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah dalam hukum merayakan maulid.
  2. al-Qaul al-Fash fi hukm al-ihtifal bi maulid khairi ar-rusul karya Syaikh Ismail al-Anshari.

Dan yang lainnya dari buku-buku para imam salaf dan para pengikut dakwah tauhid rahimahumullah ta’ala.

Wahabi dan para wali

          Sufi berkata: kaum wahabi mengkafirkan selain mereka dan orang yang tidak berjalan di jalur mereka. Mereka mencela para wali, tidak beriman dengan adanya wali abdal, ghauts, quthub, watad. Dan mereka mengkafirkan Ibnu Arabi, al-Hallaj, Ibnu al-Faridh dan selain mereka, bagaimana pendapatmu?

          Saya menjawab: Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan bin Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata: ‘Saya tidak mengetahui sandaran ucapan ini, yaitu mengkafirkan dan tindakan berani mengkafirkan orang yang lahirnya adalah islam, tanpa sandaran syar’i dan tanpa bukti yang diridhai yang menyalahi para ulama dari kalangan ahlus sunnah wal jamaah. Metode ini adalah metode para ahli bid’ah dan sesat, dan tanpa adanya rasa takut dan taqwa, yang muncul darinya berupa ucapan dan perbuatan. Dan senang seperti persoalan ini terkadang mempunyai berbagai latar belakang, terutama telah banyak terjadi peperangan dan umat tenggelam dalam harta dan darah, kesusahan dan bala bertambah berat, kebenaran menjadi samar, tersebar hawa nafsu dan kebodohan. Sedikit sekali yang berpegang dengan al-Qur`an dan sunnah, sedikit pula yang memahami keduanya dan mengetahui batasan-batasan Allah I dalam hukum syara’ seperti islam, iman, kufur, dan nifaq. Disebutkan dalam hadits dari Abdullah bin Amr bin Khathab t, dari Nabi r, beliau bersabda:

مَنْ كَفَّرَ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

Barangsiapa yang mengkafirkan saudaranya, sungguh kembali dengannya salah seorang dari keduanya.”HR. al-Khathib, Ahmad dan al-Bukhari darinya dengan lafazh:

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ ِلأَخِيْهِ يَاكَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

Apabila seseorang berkata kepada saudaranya: ‘wahai kafir’ sungguh kembali dengannya salah seorang dari keduanya.”

Dan Abu Daud meriwayatkan:

أَيُّمَا مُسْلِمٍ كَفَّرَ رَجُلاً مُسْلِمًا فَإِنْ كَانَ كَافِرًا وَإِلاَّ كَانَ هُوَ الْكَافِرُ

Muslim manapun yang mengkafirkan muslim yang lain, jika ia kafir (berarti benar) dan jika tidak demikian dialah (yang berkata) yang kafir.”

Menggunakan ungkapan kafir merupakan bukti kebodohan dan tidak mengerti hukum.

          Para ulama menta`wilkan dari penggunakan kata kufur atas sebagian maksiat, seperti dalam hadits Abdullah bin Mas’ud t, dari Nabi r:

سِبَابُ اْلمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Mencela seorang muslim adalah fasik dan membunuhnya adalah kufur.” HR. Jama’ah kecuali Abu Daud.

Dan seperti hadits ini, mereka menta’wilkannya atas kufur amali bukan seperti kufur i’tiqadi yang mengeluarkan dari agama, seperti yang ditegaskan oleh Ibnu al-Qayyim rahimahullah. Syaikhul Islam rahimahullah menyebutkan: Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib t tidak mengkafirkan kaum Khawarij yang memeranginya dan mengkafirkan dia dan Utsman bin Affan t.

          Syaikh Muhammad Basyir as-Sahsawani berkata dalam kitab ‘Shiyanah al-Insan ‘an waswasah Dahlan‘ (menjaga manusia dari waswas Dahlan): Sesungguhnya apabila manusia masuk dalam islam dan dihukumkan dengan islamnya, tidaklah mengeluarkannya dari islam apa yang dilakukannya berupa dosa-dosa besar seperti mencuri, berzina, minum arak, mengambil harta secara zalim dan permusuhan. Dan yang mengeluarkannya dari islam kepada kufur adalah syirik kepada Allah I dan mengingkari sesuatu yang datang dengannya Rasulullah r dari ajaran agama, setelah ia mengetahui hal itu dan berdiri hujjah atasnya.

          Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata: Mazhab ahlus sunnah, sesungguhnya seorang muslim tidak kafir kecuali dengan syirik. Ia berkata pula: Apabila kami tidak mengkafirkan orang yang menyembah berhala di atas kubur Abdul Qadir, al-Badawi, dan semisal keduanya karena kebodohan mereka dan tidak ada yang memperingatkan mereka, maka bagaimana kami mengkafirkan orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah I apabila tidak hijrah kepada kami atau tidak berperang bersama kami. Maha suci Engkau (ya Allah), ini adalah kebohongan besar.

          Maka yang kami yakini dan kami menganut agama Allah I dengannya: sesungguhnya orang yang berdoa kepada nabi atau wali dan meminta dari mereka ditunaikan hajat dan dilapangkan dari kesusahan, sesungguhnya hal ini termasuk syirik terbesar yang orang-orang syirik menjadi kafir kepada Allah I dengannya, di mana mereka menjadikan para wali sebagai pemberi syafaat, mereka menarik manfaat dengan mereka dan mereka menolak bahaya dengan mereka dengan sangkaan mereka. Maka barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai perantara di antaranya dan di antara Allah I dengan caya ini, maka ia menjadi kafir yang halal darahnya.

          Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata: Mazhab kami dalam dasar agama (ushuluddin) adalah mazhab Ahlus sunnah wal jamaah dan jalan kami adalah jalan salafus shalih yang lebih selamat, lebih mengetahui, dan lebih kokoh.

          Dan tuduhan bohong yang ditujukan kepada kami karena menutupi kebenaran dan menyamarkan kepada makhluk bahwa kami menafsirkan al-Qur`an dengan pendapat kami, mengambil dari hadits yang sesuai pemahaman kami tanpa muraja’ah kepada syarah, tidak berpegang kepada syaikh, kami menurunkan derajat nabi kita Muhammad r, kami mengatakan beliau hancur di kuburnya dan tongkat salah seorang dari kami lebih bermanfaat darinya, kami melarang mengucap shalawat kepadanya r, kami melarang ziarah kubur…hingga akhir tuduhan. Maka sesungguhnya kami berkata: Maha Suci Engkau (ya Allah), ini adalah kebohongan besar.

          Dan orang-orang (maksudnya: para ulama) yang mengkafirkan orang yang menyalahi tauhid yang murni dan syirik kepada Allah I sangat banyak sekali, di antara mereka: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnu al-Qayyim, Ibnu ‘Aqil,  pengarang fatawa al-Bazaziyah, Shun’ullah al-Halabi, al-Maqrizi asy-Syafii, az-Zubaidi, ash-Shan’ani, asy-Syaukani, pengarang al-Iqna`, Ibnu Hajar al-Makki, al-Bakri asy-Syafii, Ibnu Katsir, Ibnu Abdil Hadi, Muhammad bin Ahmad al-Hifzhi, dan selain mereka, dan bukan hanya Muhammad bin Abdul Wahab saja.

          Adapun para waliyullah yang bertaqwa, mendekatkan diri kepada-Nya dengan taat, menjauhkan diri dari maksiat, menyuruh yang ma’ruf dan melarang yang mungkar, berpegang dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah r, yang menegakkan yang wajib dan menunaikan yang sunnah, maka sesungguhnya kami mencintai mereka karena Allah I, seperti imam al-Hasan al-Bashri, Sufyan ats-Tsauri, Ibnu Uyainah, al-Junaid al-Baghdadi, Ahmad bin Hanbal, asy-Syafii, Malik, Abu Hanifah, dan para imam salaf lainnya.

          Adapun ucapan kaum sufi bahwa kami tidak percaya kepada quthub, ghauts, autad, dan abdal, maka ini termasuk yang kami tidak meragukan padanya. Karena sesungguhnya kami tidak menemukan dalil dari al-Qur`an dan sunnah Rasulullah r yang menunjukkan atas mereka, dan semua yang datang padanya dari atsar, maka ia adalah hadits batil yang tidak shahih. Hanya lafazh abdal saja yang ada dalam hadits dha’if, bahkan maudhu’ atau munqathi’ (terputus).

          Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: yang diriwayatkan bahwa ghulam (budak) Mughirah bin Syu’bah t adalah salah seorang dari (wali) yang tujuh, maka berita itu adalah bohong dengan kesepakatan ulama, sekalipun Abu Nu’aim meriwayatkannya dalam ‘al-Hilyah’. Demikian pula hadits yang diriwayatkan dari Nabi r dalam hitungan (jumlah) para wali, abdal, aqthab (quthub), nuqaba`, nujaba`,  dan autad, seperti empat (4) orang atau tujuh (7) orang, atau dua belas (12) orang, empat puluh (40) orang, atau tujuh puluh (70) orang, atau tiga ratus (300) orang, atau tiga ratus tiga belas (313) orang atau quthub yang satu orang. Maka tidak ada sesuatu yang shahih dari Nabi r, dan salafus shalih tidak pernah mengucapkan sedikitpun dari kata-kata (lafazh-lafazh) ini kecuali lafazh abdal. Dan diriwayatkan pada mereka satu hadits bahwa sesungguhnya mereka berjumlah empat puluh (40) orang laki-laki dan mereka berada di Syam. Riwayat itu ada dalam al-Musnad dari hadits Ali bin Abi Thalib t. Ia adalah hadits yang kami pastikan tidak shahih. Dan yang lebih bohong darinya adalah yang diriwayatkan oleh sebagian dari mereka bahwa Nabi r merobek pakaiannya dan sesungguhnya Jibril u mengambil potongannya lalu menggantungnya di atas arasy. Maka riwayat ini dan yang semisalnya termasuk kebohongan terhadap Rasulullah r yang sudah diketahui para ulama. Demikian pula yang diriwayatkan sebagian mereka dari Umar bin Khaththab t, ia berkata, ‘Nabi r dan Abu Bakar t berbincang-bincang dan aku di antara keduanya bagaikan orang negro (orang hitam)’, adalah hadits maudhu’ dengan kesepakatan para ulama hadits.

          Syaikhul Islam pernah ditanya tentang hadits abdal, ghauts aghwats, quthb aqthab,  quthb ‘alam, quthb kabir, khatamul auliya`, maka beliau rahimahullah menjawab: ‘Adapun nama-nama yang beredar di lidah kebanyakan ahli ibadah dan kalangan awam seperti wali ghauth yang ada di Makkah, wali autadh yang berjumlah empat orang, wali quthb yang berjumlah tujuh orang, wali abdal yang berjumlah empat puluh orang, dan wali nujaba` yang berjumlah tiga ratus orang, maka nama-nama ini tidak ada dalam Kitabullah (al-Qur`an) dan tidak pernah diriwayatkan dari Nabi r dengan sanad yang shahih dan tidak pula yang dha’if, yang dibawakan atasnya kata-kata abdal. Diriwayatkan pada mereka hadits Syam (yang diriwayatkan orang-orang Syam) yang terputus sanadnya dari Ali bin Abu Thalib t disandarkan kepada Nabi r, sesungguhnya pada mereka ada wali abdal yang berjumlah empat puluh (40) orang, setiap kali wafat satu orang, Allah I menggantikan kedudukannya laki-laki yang lain.’ Dan kata-kata ini tidak pernah ada dalam ucapan kaum salafus shalih.

          Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata: ‘Allah I mengutus rasul-Nya r di Makkah dengan kebenaran dan beriman bersamanya semasa di Makah golongan yang kecil, mereka kurang dari tujuh orang, kemudian kurang dari empat puluh (40) orang, kemudian kurang dari tujuh puluh (70) orang, kemudian kurang dari tiga ratus (300) orang, maka bisa diketahui secara pasti bahwa jumlah ini tidak pernah ada pada mereka. Dan termasuk yang mustahil bahwa hal itu pada orang kafir. Kemudian beliau r dan para sahabatnya hijrah ke Madinah, dan kota itu merupakan dengeri hijrah, sunnah, kemenangan, tempat tinggal kenabian, dan tempat khilafah. Dan dan di sana dilakukan bai’at kepada para khalifah rasyidah Abu Bakar t, Umar t, Utsman t, dan Ali t, maka kenapa mereka tidak berada di Madinah negeri khilafah? Dan mereka berada di Syam padahal saat itu belum ditaklukkan. Dan saat ditaklukkan, wilayah Syam berseberangan dengan khalifah secara syar’i yaitu Ali bin Abi Thalib t, sedangkan di dalam tentara Ali t adalah orang yang lebih utama daripada Mu’awiyah t, kenapa wali abdal itu ada di dalam tentara Mu’awiyah dan bukan berada di dalam tentara Ali bin Abi Thalib t.

          Adapun lafazh ghauts dan ghayyash maka tidak ada yang berhak menyandang nama itu kecuali Allah I. Maka Dia I adalah Maha Penolong kepada orang orang yang minta tolong. Maka tidak boleh meminta pertolongan dengan sangat (istighatsah) kepada selain-Nya, tidak dengan malaikat yang dekat dan tidak pula dengan nabi yang diutus. Barangsiapa yang menyangka bahwa orang-orang yang mendapat rahmat hanya kepada tiga ratus orang, dan tiga ratus kepada tujuh puluh orang, tujuh puluh kepada empat puluh orang, empat puluh kepada tujuh orang, tujuh orang kepada empat, dan empat orang kepada ghauts, maka ia orang yang pembohong, sesat, lagi musyrik. Sungguh kaum musyrik  sebagaimana Allah I mengabarkan tentang mereka dengan firman-Nya:

) وَإِذَا مَسَّكُمُ الْضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلاَّ إِيَّاهُ(.

Dan apabila kamu ditimpa mara bahaya di lautan, niscaya sesatlah orang yang kamu berdoa kecuali hanya kepada-Nya).

Maka bagaimana orang-orang beriman melaporkan kebutuhan mereka kepadanya sesudahnya dengan perantaraan hijab? Sedangkan Dia I berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ(.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. al-Baqarah:186)

Mereka yang mengakui martabat-martabat ini, pada mereka ada kemiripan dengan kaum Rafidhah (Syi’ah) dari beberapa sisi.

          Adapun autad, maka tidak ditemukan dalam ucapan sebagian bahwa ia berkata ‘fulan termasuk dari wali autad, maksudnya sesungguhnya Allah I menetapkan dengannya iman dan agama di hati orang yang Allah I memberi hidayah kepada mereka dengannya, sebagaimana Dia I menetapkan bumi dengan pasaknya. Dan pengertian ini ada bagi setiap orang yang memiliki sifat ini dari para ulama, dan bukan terbatas hanya pada empat orang saja tidak kurang dan tidak lebih, bahwa empat orang itu dijadikan serupa dengan ucapan para ahli nujum pada pasak bumi.

          Demikian pula aqthab, abdal, quthb aqthab, badal budala`, tidak ada riwayat dengan hal itu dengan riwayat yang shahih atau dha’if (lemah), dan semua riwayat tentang hal itu adalah maudhu’ (palsu) dan munqathi’ (terputus).

          Demikian pula lafazh khatamul auliya (penutup para wali) adalah lafazh batil yang tidak ada dasarnya, dan yang pertama kali menyebutkannya adalah Muhammad bin Ali bin Hakim at-Tirmidzi dan segolongan dari mereka mengaku bahwa ia adalah penutup para wali seperti Ibnu Arabi dan para pemimpin sesat lainnya, dan setiap orang dari mereka mengaku bahwa ia lebih utama daripada Nabi r dari sebagian jalan, hingga pengakuan lainnya yang termasuk kufur dan pengakuan bohong. Semua itu karena ingin berada di pucuk pimpinan penutup para wali, padahal wali yang paling utama dari umat ini adalah generasi pertama dari kalangan muhajirin dan anshar, dan yang terbaik dengan petunjuk Nabi r adalah Abu Bakar t, kemudian Umar t, kemudian Utsman t, kemudian Ali t. Dan abad terbaik adalah adalah abad yang Nabi r dibangkitkan padanya, kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka. Penutup para wali yang sebenarnya adalah seorang mukmin lagi bertaqwa yang terakhir pada manusia dan itu tidak berarti yang terbaik dan paling utama. Bahkan sebaik-baik mereka adalah Abu Bakar t kemudian Umar t yang tidak pernah terbit dan terbenam matahari atas seseorang  setelah para nabi dan rasul yang lebih utama dari keduanya.

Kondisi sebagian pembesar kaum sufi dan hakikat karangan mereka

          Disebutkan dalam ‘Majmu’ah ar-Rasa`il an-Najediyah’ tentang kitab ‘Ihya` ulumuddin karya al-Ghazali:  Dia (al-Ghazali) di dalam al-Ihya` melalui jalan kaum filsafat dan ahli kalam di banyak pembahasan tentang ilahiyat dan ushuluddin dan memberi pakaian filsafat dengan pakaian syari’at, sehingga orang-orang bodoh dengan kebenaran mengiranya termasuk agama Allah I yang para rasul datang dan kitab-kitab turun serta manusia masuk dalam agama islam dengannya. Padahal sebenarnya ia adalah filsafat murni yang busuk, yang diketahui orang-orang yang berakal. Para ulama telah memberi peringatan dari memandang padanya, bahkan para ulama Maghrib menfatwakan agar membakarnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ‘Akan tetapi Abu Hamid memasukkan beberapa perkara dari ilmu filsafat, dan ia menurut Ibnu Taimiyah adalah zindiq. Abu Bakar ibnul Arabi rahimahullah berkata: Guru kami Abu Hamid masuk dalam rongga filsafat, kemudian ia ingin keluar tetapi tidak bisa. Adz-Dzahabi berkata: guru kami Abu Hamid telah menelan ilmu filsafat dan ia ingin memuntahkannya, namun ia tidak mampu. Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: Abu Hamid mempunyai berita yang keji dan karangan besar yang ghuluw dalam tasawuf, ia sungguh-sungguh membela mazhabnya, dan kitab-kitabnya di bakar di Maroko.

          Adapun Ibnu Arabi, maka ia memiliki ucapan yang aneh dan munkar, dan pernyataannya membuktikan atas hal itu, ia mengatakan dengan wihdatul wujud, hulul, ittihad, selamatnya fir’aun dan ia masuk surga, dan sesungguhnya orang-orang kafir tidak kekal di neraka, hingga ucapan-ucapan mungkar lainnya. Dan Ibnu al-Muqri berkata: sesungguhnya siapa yang ragu pada kufurnya kaum Yahudi, Nashrani dan golongan Ibnu Arabi, maka ia menjadi kafir secara zhahir.

          Dan (di antara pemuka sufi) Ibnu Sab’in Abdul Haq al-Isybili, wafat tahun 669 H. di Makkah, adz-Dzahabi berkata tentang dia: ia termasuk kaum filsafat yang zuhud dan termasuk yang mengatakan wahdatul wujud.

          Adapun al-Hallaj yang dibunuh pada tahun 309 H, dia adalah Abu Mughits al-Husain bin Manshur al-Farisi, tumbuh di Iraq. Ia berteman al-Junaid al-Baghdadi dan ia berpendapat seperti mazhab Ibnu Arabi dalam masalah wihdatul wujud, ittihad, dan hululiyah. Dia dihukum bunuh setelah para ulama islam memberikan fatwa untuk membunuhnya. al-Khathib al-Baghdadi rahimahullah berkata: Dia (al-Hallaj) seorang ahli sihir, buruk I’tiqad, dia menentang al-Qur`an, dan para ulama mengeluarkan fatwa dengan kafirnya dan membunuhnya.

          Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah membantah orang yang meyakini dia seorang wali dari beberapa alasan, di antaranya adalah bahwa sesungguhnya para pemimpin agama (islam) dan fuqaha kaum muslimin sepakat atas halalnya darah al-Hallaj dan yang semisalnya.

 Bersambung…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: