Dialog Bersama kaum Sufi ( bagian 2)

Dialog Bersama kaum Sufi ( bagian 2)

﴿  حوار مع الصوفية ﴾

Oleh : Abu Bakar al-Iraqi

Terjemah : Muhammad Iqbal Ghazali

Editor : Eko Abu Ziyad 

Sumber ; http://www.islamhouse.com

Ziarah kubuh dan tawassul

Sufi berkata: Sesungguhnya kaum wahabi mengharamkan ziarah kubur dan berkata sesungguhnya tawasul dengan penghuni kubur adalah syirik, padahal Rasulullah r menyuruh untuk ziarah kubur, apakah bantahanmu terhadap masalah ini?

          Aku berkata: kami tidak mengharamkan ziarah kubur secara mutlak dan tidak membolehkannya secara mutlak. Kami mengharamkan dari sisi jika ziarah itu adalah ziarah syirik dan bid’ah, dan penziarah bertujuan tawasul dengan penghuni kubur dan berdoa kepada mereka.

Adapun apabila ziarah itu bertujuan untuk mengambil pelajaran dan nasehat dengan penghuni kubur, maka kami mengatakan hukumnya sunnah karena mengikuti Rasulullah r di mana beliau r bersabda:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ أَلاَ فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ اْلآخِرَةَ

Dulu aku melarang kamu ziarah kubur, ketahuilah maka ziarahlah karena sesungguhnya ia mengingatkan akhirat.”

Dan dalam satu riwayat ‘…mengingatkan mati.’ HR. Ahmad, Muslim, dan kitab-kitab sunan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Adapun meminta kepada orang yang mati atau yang gaib, apakah dia seorang nabi atau bukan, maka ia termasuk perbuatan haram yang mungkar dengan kesepakatan kaum muslimin. Allah I tidak pernah menyuruhnya, tidak pula rasul-Nya, tidak pula seorang pun dari para sahabat dan yang mengikuti mereka dengan kebaikan (tabiin), dan tidak ada seorangpun dari pemimpin umat Islam (para imam) yang mengatakan sunnah. Dan ini diketahui secara lumrah dari agama Islam. Sesungguhnya seseorang dari mereka, apabila ditimpa musibah atau ada kebutuhan tidak pernah berkata kepada mayit: ‘Wahai sayyid pulan, aku berada dalam hitunganmu, atau tunaikanlah hajatku,’ seperti yang dikatakan sebagian orang-orang musyrik kepada orang yang mereka berdoa kepadanya dari orang-orang yang sudah mati atau gaib. Tidak ada seorangpun dari kalangan sahabat yang istighatsah (berdoa dengan sangat) kepada Nabi r, tidak pula di kubur para nabi, dan tidak pula shalat di sisinya.

Saya katakan: banyak sekali kaum sufi yang tidak berdoa kecuali kepada orang-orang yang sudah meninggal dunia, mereka meminta kepada mereka melebihi permintaan mereka kepada Allah I, seperti meminta rizqi, anak, istri, sukses, sembuh dari sakit. Ini adalah realita, maka tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah I Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Sungguh aku pernah melihat salah seorang ahli bid’ah –dia salah seorang imam dan khatib di salah satu masjid Diali yang penting- ia berkata: Aku berdoa kepada Allah I selama enam tahun agar diberi anak, maka tidak dikabulkan, dan aku pergi kepada guruku Mushthafa an-Naqsyabandi di Arbil, lalu aku istighatsah dan memohon kepadanya hingga aku diberi dua anak kembar, apakah ada syirik yang melebihi ini?

Perbuatan ini bukan termasuk yang disyari’atkan oleh Rasulullah r, tidak dibolehkan dan tidak disunnahkan, dan tidak ada seorangpun dari para imam yang menganjurkannya. Bahkan mereka sepakat melarang perbuatan itu, dan Rasulullah r mengutuk orang yang menjadikan kubur sebagai masjid, beliau bersabda:

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Allah I mengutuk kaum Yahudi dan Nashrani, mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid.” HR. Muslim dari Abu Hurairah secara marfu’.

Dan Nabi r bersabda:

الشِّرْكُ فِى هذِهِ اْلأُمَّةِ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ

Syirik dalam umat ini lebih samar daripada gerakan semut.” HR. Abu Hatim dan yang lainnya.

Tidak diragukan lagi, para ahli bid’ah datang ke kubur para nabi dan orang-orang shalih, melakukan ziarah yang tidak disyari’atkan, bukan berdoa untuk mereka seperti shalat terhadap jenazah. Akan tetapi ziarah di sisi mereka dan safar untuk hal itu karena mengagungkan dan berdoa kepada mereka dan di sisi mereka, meminta hajat dari mereka dan niat yang lainya yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah I.

Nabi r bersabda:

مَنْ دَعَى إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk niscaya untuknya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun, dan barangsiapa yang melakukan sunnah yang buruk, maka atasnya dosanya dan dosa orang yang melakukanya hingga hari kiamat.’HR. Muslim.

Kami mengikuti Rasulullah r dan dengan sunnahnya, maka kami mendapat pahala dan pahala orang yang mengikuti kami hingga hari kiamat –insya Allah I- dan kamu wahai kaum sufi, mendapatkan dosa.

Adapun perbuatan bid’ah maka bukan termasuk syari’at Allah I dan Rasulullah r tidak pernah menyuruhnya. Rasulullah r bersabda:

لاَ تَطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَ ابْنَ مَرْيَمَ إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ

Janganlah kamu mengagungkan aku terlalu berlebihan (ithra`) sebagaimana kaum nashrani mengagungkan Isa putra Maryam u. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah hamba Allah I danRasul-Nya.” HR. al-Bukhari.

Jika ada yang berkata: orang yang ziarah di masa hidup, sesungguhnya ia mencintainya karena Allah I mencintainya, dan orang-orang beriman mencintai Rasulullah r, demikian pula mereka mencintai para nabi dan orang-orang shalih, maka mereka berkunjung kepada mereka dan ziarah ke kubur mereka.

Kami katakan: mencintai Rasulullah r termasuk kewajiban dalam agama yang terbesar. Dan beliau lebih kita cintai dari harta, keluarga, dan diri kita sendiri serta semua manusia, karena dia lebih utama dengan kita dari para diri kita sendiri. Firman Allah I:

اَلنَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ

Nabi r lebih utama dengan orang-orang beriman dari pada diri mereka sendiri.”

Maka mencintai, taat, mendukung, dan menghormati beliau r tidak tertentu hanya satu tempat tanpa yang lainnya dan ziarah ke kuburnya yang mulia disyari’atkan dan disunnahkan.

Orang-orang yang melarang ziarah dan tawasul, sungguh mereka mengkafirkan karena penyembahan mereka kepada selain Allah I, seperti doa mereka kepada yang sudah meninggal dunia, di mana mereka meminta dari mereka sesuatu yang tidak mampu atasnya kecuali Allah I. Dan seperti menyembelih, bernazar bagi mereka, dan bertawakal kepada mereka setelah mengenal kebenaran dan tersadar atasnya, dan mereka tidak mengatakan bahwa manusia adalah orang-orang musyrik hanya karena tawasul mereka dengan Nabi r dan dengan para nabi dan orang-orang shalih lainnya serta hanya mereka ziarah ke kubur Nabi r. Ini adalah kebohongan yang nyata. Sesungguhnya mereka menjadi syirik dengan tawasul dan ziarah yang mengandung ibadah kepada selain Allah I berupa doa, menyembelih, dan bernazar. Adapun tawasul dengan membenarkan Nabi r, beriman dengan ajaranya, taat dalam perintah dan larangannya r, berdoa kepadanya di masa hidupnya dan bertawasul dengan membaca shalawat atasnya r, demikian pula ziarah syar’iyah, tidak ada seorang pun yang melarangnya.

Benar, tawasul dengan benar dan mengokohkan tunggangan, di antara mereka ada yang melarangnya dan ada pula yang membutuhkannya. Yang benar bahwa ia termasuk perbuatan bid’ah yang tidak mengkafirkan, selama mereka tidak melakukan yang menyebabkan kafir.

Sawadul A’zham (Golongan Besar)

Shufi berkata:

Kami adalah golongan besar, sedangkan kamu –wahai kaum Wahabi- sangat sedikit, dan Rasulullah r berwasiat di dalam hadits agar kita bersama golongan besar, apakah jawabanmu dalam masalah ini?

Aku berkata:

jika yang kamu maksudkan bahwa golongan besar adalah mereka yang selalu berada di atas kebenaran, maka ini sesuatu yang mustahil karena orang-orang yang berada di atas kebenaran adalah mereka yang selalu terpilih dan sedikit yang penuh berkah, dimulai sejak zaman nabi Nuh u yang tidak beriman dengannya kecuali sedikit sekali. Tanpa diragukan lagi, mereka itulah orang-orang yang berada di atas kebenaran, sedangkan sawadul a’zham tidak beriman dan tetap di atas kekafiran. Mereka berada di atas kebatilan tanpa diragukan lagi dan barang siapa yang mengatakan selain yang demikian itu berarti ia kafir.

Demikian pula nabi Ibrahim u bapak para nabi dan kekasih ar-Rahman, orang-orang yang beriman dengannya sedikit sekali. Musa u Kalimullah (yang berbicara dengan Allah I), Isa u ruhullah (ruh yang berasal dari Allah I), dan Muhammad r mereka semua mempunyai pengikut yang sedikit dan musuh-musuh mereka sangat banyak. Masa sawadul a’zham selalu orang-orang yang batil dan sesat. Karena sesungguhnya mayoritas itu bisa salah dan minoritas itu bisa benar, dan sesungguhnya kebaikan dan petunjuk pada manusia itu sedikit, sedangkan kejahatan dan kesesatan sangat banyak. Firman Allah I:

ولا تجد أكثرهم شاكرين

‘Dan engkau tidak menemukan kebanyakan mereka bersyukur.’

وإن تطع أكثر من فى الأرض يضلوك عن سبيل الله…

‘dan jika engkau menuruti kebanyakan orang yang ada di muka bumi niscaya mereka menyesatkan engkau dari jalan Allah I.’

وقليل من عبادي الشكور

‘dan sedikit sekali dari hamba-Ku yang bersyukur.’

Maka dalam semua ayat ini merupakan isyarat yang jelas bahwa orang-orang baik itu sangat sedikit dan kejahatan serta pengikutnya sangat banyak, firman Allah I:

فأبى أكثر الناس إلا كفورا

“Maka engganlah kebanyakan manusia kecuali kufur.”

ولكن أكثر الناس لا يؤمنون

‘Akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.”

وأكثرهم للحق كارهون

‘Dan kebanyakan mereka benci terhadap kebenaran.”

Dan ayat-ayat seperti ini berulang-ulang dalam cerita para nabi; nabi Nuh u, Shalih u, Luth u, dan Syu’aib u.

Maka bagaimana mungkin benar ucapan dengan mengikuti sawadul a’zham atau mayoritas manusia. Ya Allah, sesungguhnya tidak ada yang mengatakan ungkapan ini kecuali orang yang akal dan agamanya telah hilang, atau tidak pernah membaca al-Qur`an dan tidak pula sunnah Rasulullah r dengan bacaan tadabbur dan berfikir.

Adapun hadits yang berbunyi:

إِنَّ أُمَّتِي لاَ تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمْ خِلاَفًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ اْلأَعْظَمِ

Sesungguhnya umatku tidak bersepakat (ijma’) di atas kesesatan, maka apabila kamu melihat terjadi perbedaan pendapat maka ikutilah sawadul a’zham.’ Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik t. Dalam sanadnya ada perawi yang bernama Ma’an bin Rifa’ah, dia layyinul hadits lagi banyak melakukan irsal. Dan dalam sanadnya juga ada Abu Khalaf al-A’ma, dia matruk dan dianggap pembohong oleh Yahya bin Ma’in. dijelaskan oleh ‘allamah Basyir as-Sahsawani dalam Shiyanatul insan.

Maka hadits sawadul a’zham adalah dha’if (lemah), bahkan mungkar, dan setidaknya belum bisa dijadikan hujjah. Sawadul a’zham adalah pengikut imam kaum muslimin. Mereka adalah jama’ah para sahabat yang mulia, dan mereka adalah yang mengikuti Kitabullah dan sunnah rasul-Nya r. Mereka adalah orang-orang yang berada di atas kebenaran dan kebaikan, dan tidak dipandang orang yang menyalahi mereka.

Imam Abu Syamah berkata dalam ‘al-Hawadits wal Bida’: Di mana ada perintah agar tidak meninggalkan jama’ah, maka maksudnya adalah selalu berada di atas kebenaran dan para pengikutnya, sekalipun yang berpegang dengannya sangat sedikit dan yang menentang sangat banyak, karena kebenaran adalah yang dipegang jama’ah pertama dari masa Nabi r dan para sahabatnya yang mulia, dan tidak perlu dipandang banyaknya orang-orang batil sesudahnya.

Disebutkan dalam hadits-hadits shahih yang sangat banyak, yang menunjukkan bahwa orang-orang yang berpegang dengan tali Allah I yang kokoh dan jalan-Nya yang lurus, mereka itulah jama’ah, dan mereka itulah yang kita disuruh berpegang dengan mereka dan tidak meninggalkan mereka.

Ahlul haqq adalah sawadul a’zham dan jama’ah yang penuh berkah, sekalipun hanya sedikit dan selain mereka adalah batil sekalipun berjumlah banyak.

Bersumpah kepada selain Allah I

Sufi berkata: kaum Wahabi berkata: ‘Sesungguhnya orang yang bersumpah dengan selain Allah I adalah kafir atau syirik’, dan disebutkan dalam hadits bahwa Rasulullah r bersumpah dengan bapaknya. Beliau r bersabda kepada arab badawi: ‘Dia beruntung  -demi bapaknya- jika ia benar’. Apakah ucapanmu setelah itu?

Saya berkata: Bukan kaum Wahabi yang mengharamkan sumpah kepada selain Allah I dan ia hanya mengikuti sunnah Rasulullah r dalam hal itu, di mana terdapat larangan bersumpah kepada selain Allah I dalam hadits-hadits shahih yang jelas, yang akan kami sebutkan sebagian darinya berikut ini:

  1. al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Umar t, sesungguhnya Umar bin Khathab t ikut dalam rombongan kecil dan bersama mereka ada Rasulullah r, kemudian beliau bersabda:

أَلاَ إِنَّ اللهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوْا بِآباَئِكُمْ فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ أَوْ لِيَنْذَرْ) ، وفي رواية أخرى): أَوْ لِيَصْمُتْ) ، وفي ثالثة: ( مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلاَ يَحْلِفْ إِلاَّ بِاللهِ)

Ketahuilah, sesungguhnya Allah I melarangmu bersumpah dengan nama bapak-bapakmu. Maka barangsiapa yang bersumpah maka hendaklah ia bersumpah dengan nama Allah I atau ia meninggalkan.’ Dan dalam satu riwayat: ‘Atau hendaklah ia diam‘. Dan dalam riwayat ketiga: ‘Barangsiapa yang bersumpah maka janganlah ia bersumpah kecuali dengan Allah I.’

  1. Dari Ibnu Umar t, sesungguhnya Rasulullah r bersabda:

(( مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ أَشْرَكَ)) وفي رواية أخرى: (( فَقَدْ كَفَرَ)) رواه الترمذي وحسنه والحاكم وصححه وأبو داود وابن حبان وأحمد.

Barangsiapa yang bersumpah kepada selain Allah I maka sungguh ia berbuat syirik.” Dalam satu riwayat: ‘Ia kafir.’ Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia menghasankannya, al-Hakim dan ia menshahihkannya, Abu Daud, Ibnu Hibban, dan Ahmad.

Al-Hakim berkata: Setiap sumpah yang dilakukan bukan kepada Allah I adalah syirik.

Ka’ab rahimahullah berkata: Sesungguhnya kamu berbuat syirik dalam ucapan seseorang: sekali-sekali tidak demi bapakmu, atau ka’bah,  atau hidupmu, dan semisal yang demikian itu. Bersumpahlah dengan nama Allah I benar atau bohong dan jangan engkau bersumpah dengan selain-Nya. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam ‘ash-Shumt’, dan para ulama sepakat bahwa sumpah tidak terjadi kecuali kepada Allah I atau salah satu nama-Nya atau sifat-Nya Yang Maha Tinggi, dan mereka dilarang bersumpah dengan selain-Nya I.

Ibnu Abdilbar rahimahullah berkata: ‘Tidak boleh bersumpah kepada selain Allah I dengan ijma’ (konsensus para ulama) dan tidak dipandang  pendapat sebagian muta`akhkhirin bahwa hukumnya adalah makruh, karena hal itu menyalahi sabda Rasulullah r dan larangannya dari hal itu.’

Ibnu Abbas t berkata: ‘Sungguh aku bersumpah dengan nama Allah I, benar atau bohong, lebih baik dari pada aku bersumpah dengan selain-Nya, kendati benar.’ Maka hal ini menunjukkan bahwa bersumpah dengan selain Allah I termasuk dosa besar.

Jika sufi berkata: ‘Sesungguhnya Allah I bersumpah dengan sebagian makhluk.’ Maka kami berkata: ‘Sesungguhnya Allah I bersumpah dengan apa yang dikehendaki-Nya dari makhluk-Nya untuk menunjukkan atas kekuasaan-Nya, keesaan-Nya, Uluhiyah-Nya, Kerajaan-Nya, dan selain hal itu dari sifat kesempurnaan-Nya.

Asy-Sya’bi rahimahullah berkata: al-Khaliq (Allah I) boleh bersumpah dengan makhluk-Nya dan makhluk tidak boleh bersumpah kecuali dengan al-Khaliq. Sungguh aku bersumpah dengan Allah I, lalu aku melanggar lebih baik dari aku bersumpah dengan selain-Nya, lalu aku menepatinya.’

Mutharrif bin Abdullah rahimahullah berkata:  Sesungguhnya Allah I bersumpah dengan makhluk-makhluk ini untuk membuat heran makhluk dengannya dan mengenalkan mereka qudrat-Nya karena besar perkaranya di sisi mereka dan dalalahnya di sisi al-Khaliq.

Adapun ucapan kaum sufi bahwa sesungguhnya Rasulullah r bersumpah dengan bapaknya, dan sesungguhnya Allah I berfirman:

لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ {72}

(Allah berfirman):”Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)”. (QS. al-Hijr :72)

Maka ia menunjukkan boleh bersumpah dengan selain Allah I.

Aku berkata: kata-kata ini ‘demi bapaknya’, ada beberapa pendapat:

  1. Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata: kata-kata ini adalah munkar dan tidak mahfuzh, dan ada riwayat dari perawinya yaitu Ismail bin Ja’far ‘Ia beruntung –demi Allah- jika ia benar.’ Ia lebih utama daripada riwayat ‘Ia beruntung –demi bapaknya’. Karena semua atsar menunjukkan atas menolaknya, dan tidak terjadi sama sekali dengan riwayat Malik rahimahullah.
  2. Yang lainnya berkata: sesungguhnya ia adalah mushahhafah (tertukar huruf/kata) dari sabdanya r: ‘aflaha wallahi’, maka dibuang lafazh jalalah dan ditukar dengan lafazh ‘waabihi’.
  3. Sesungguhnya kata ini berlaku dilidah mereka tanpa tujuan bersumpah dengannya. Hal ini disebutkan oleh al-Baihaqi dan disenangi oleh Sufyan ats-Tsauri rahimahumallah.
  4. Jika tujuannya adalah membesarkan, maka itulah yang dilarang, dan jika tujuannya adalah menguatkan maka hukumnya boleh, dan pendapat ini jauh dari kebenaran karena bersumpah dengan selain Allah I dilarang secara mutlak, tanpa membedakan tujuan membesarkan atau lainnya. Hal ini diperkuat oleh riwayat bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash t pernah bersumpah dengan lata dan uzza karena lupa, maka Rasulullah r melarangnya dari hal itu. Dan jika terjadi di lisannya tanpa tujuan bersumpah atau lupa atau keliru, maka itulah yang dimaafkan darinya, karena sabda Rasulullah r:

رُفِعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأُ وَالنِّسْيَانُ وَمَااسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ

Diangkat dari umatku kesalahan dan lupa, serta sesuatu yang mereka dipaksa atasnya.”

  1. Al-Mawardi dan as-Suhaili rahimahumallah berkata, di atas pendapat inilah mayoritas pensyarah hadits, dan didukung oleh Ibnu al-Arabi al-Maliki rahimahullah: sesungguhnya bersumpah dengan bapak-bapak boleh dipermulaan Islam, kemudian dinasakh setelah itu.

Pendapat terakhir inilah yang benar –insya Allah-, karena bersumpah dengan bapak tersebar luas dalam masyarakat jahiliyah dan dipermulaan Islam, seperti adat istiadat lainnya, seperti minum arak. Lalu dilarang dari kebiasaan ini dengan tadarruj (sedikit demi sedikit), dan termasuk di antaranya adalah bersumpah dengan selain Allah I berdasarkan dalil-dalil yang terdahulu, seperti hadits Umar t, Ibnu Umar t, Sa’ad bin Abi Waqqash t tatkala ia bersumpah demi lata dan uzza, lalu Nabi r melarangnya, kemudian beliau r bersabda kepadanya:

قُلْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ثُمَّ أنْفثْ عَنْ يَسَارِكَ ثَلاَثاً ثُمَّ تَعَوَّذْ وَلاَ تَعُدْ

Bacalah: laailaaha illallah wahdahu laa syarikalah (Tidak ada ilah –yang berhak disembah- selain Allah I, sendirian, tiada sekutu bagi-Nya), kemudian meludah sedikit ke sebelah kirimu sebanyak tiga kali, kemudian berlindung kepada Allah I, dan janganlah engkau ulangi.”    HR. al-Bukhari dan Ibnu Majah.

Orang-orang yang membolehkan juga berkata: (Sesungguhnya malaikat bersumpah dengan hidup luth u, mereka berkata:

لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ {72}

(Allah berfirman):”Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)”. (QS. al-Hijr :72)

Maka ini menunjukkan makhluk boleh bersumpah dengan makhluk). Ini adalah ucapan yang tidak benar. Ibnu al-Arabi, Ibnu al-Jauza`, asy-Syaukani dan para ahli tafsir sepakat: sesungguhnya Allah I bersumpah dengan kehidupan Nabi kita Muhammad r dan bukan para malaikat. Dan mereka juga beralasan bahwa Allah I bersumpah dengan kehidupan Muhammad r atau Luth u  dan kami sudah mengatakan –seperti yang telah lalu- sesungguhnya Allah I bisa bersumpah dengan apa yang dikehendaki-Nya dari makhluk-Nya.

Adapun hukum bersumpah dengan selain Allah I, maka kami katakan: Bersumpah dengan selain Allah I adalah syirik kecil, kecuali apabila sumpah disertai pengagungan bagi yang disumpah dengannya seperti mengagungkan dan membesarkan Allah I, maka ia termasuk syirik besar yang mengeluarkan dari agama.

Inilah perkataan kami dan inilah dalil-dalil kami sekitar bersumpah dengan selain Allah I, dan barangsiapa yang tetap di atas pendapatnya dan membolehkan bersumpah kepada selain Allah I sungguh batal usahanya dan gugur amal ibadahnya, dan tidak membahayakan kami orang yang menyalahi kami sehingga datang perkara Allah I.

Adapun yang dilakukan oleh para penyembah kubur dari kaum sufi –pada hari ini- apabila diminta dari mereka  dengan nama Allah I, mereka memberikan kepadamu apa yang engkau inginkan, benar atau bohong. Dan apabila diminta dari mereka bersumpah dengan syaikh atau wali atau nabi atau penghuni kubur, ia tidak pernah memberikan yang bohong sama sekali. setelah itu, apakah yang dikatakan kaum sufi, semoga Allah I melindungi kita dari perdebatan dalam kebatilan, dan semoga Dia I menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan ucapan, lalu mengikuti yang terbaik.

Perbedaan Sulaiman bin Abdul Wahab

Sufi berkata: Sesungguhnya Muhammad bin Abdul Wahab ditentang oleh saudaranya Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahab dan membantahnya dalam kitabnya yang bernama ‘ash-Shawa’iqul ilahiyah fir raddi ‘alal wahhabiyah’. Ini menunjukkan bahwa Muhammad bin Abdul Wahab telah keluar dari kebenaran.

Aku berkata: Sekalipun Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahab saudara Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah telah kembali dari kesesatannya dan dari memerangi dakwah salaf serta mengarang dalam hal itu beberapa risalah.  Maka sesungguhnya ia tidak membahayakan dakwah tauhid dan para du’atnya, terutama Imam Muhammad bin Abdul Wahab. Dan bagi kami dalam ahli kebenaran ada panutan yang baik, nabi Nuh u atau para utusan Allah I ditentang oleh anak dan istrinya. Ibrahim u, bapak para nabi, ditentang oleh bapaknya. Dan rasul kita Muhammad r ditentang oleh pamanya Abu Lahab dan anak-anak pamannya dari suku Quraisy. Apakah para penentang itu membahayakan dakwah tauhid sepanjang sejarah? Tidak, sesungguhnya kebenaran pasti menang dan kesudahan bagi ketaqwaan.

Risalah Syaikh Abdullah bin Imam Muhammad bin Abdul Wahab

Diringkas dari risalah bapaknya Syaikh Imam rahimahullah ta’ala.

Untuk kebenaran, aku menjelaskan risalah penting karya Syaikh ‘allamah Abdullah bin Imam Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahumallah yang menjelaskan di dalamnya riwayat hidup bapaknya dan para pengikutnya yang berada di atas kebenaran dan mencintai dakwah tauhid.

Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah berkata:

Sesungguhnya mazhab kami dalam ashuluddin (aqidah) adalah mazhab Ahlus sunnah wal jamaah dan jalan kami adalah jalan salaf, dan kami dalam furu` di atas mazhab Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, kami tidak mengingkari orang yang bertaqlid kepada imam empat, bukan mazhab yang lain seperti Rafidhah, Zaidiyah, Imamiyah, maka kami tidak mengakui sedikitpun dari mazhab mereka yang rusak, bahkan kami memaksa mereka bertaqlid kepada salah satu imam. Kami tidak merasa berhak mencapai martabat ijtihad mutlak, tidak ada seorangpun yang mengakuinya di sisi kami, kecuali dalam sebagian masalah, apabila shahih bagi kami larangan yang jelas dari kitabullah atau sunnah yang tidak dinasakh, tidak ditakhshish, tidak ada mu’aridh (yang bertentangan) yang lebih kuat darinya,  dan itu adalah pendapat salah seorang imam, kami mengambilnya dan meninggalkan mazhab, seperti warisan kakek dengan saudara. Maka sesungguhnya kami mendahulukan kakek dengan warisan. Sekalipun menyalahi mazhab Hanabilah, dan kami tidak menentang seseorang dalam mazhabnya.

Apabila kami melihat atas larangan yang jelas yang menyalahi mazhab sebagian imam, dan masalah itu termasuk syi’ar yang nampak seperti imam shalat, maka kami menyuruh imam yang bermazhab Maliki dan Hanafi misalnya, agar menjaga seperti thuma`ninah, i’tidal,  duduk di antara dua sujud, karena sangat jelasnya dalil tentang hal itu. Berbeda jaharnya (nyaringnya) imam Syafii dengan bacaan basmalah, sangat jauh perbedaan di antara dua masalah. Apabila kuat dalil, kami menunjukkan mereka bagi nash sekalipun berbeda dengan mazhab dan hal itu sangat jarang sekali. Tidak ada larangan ijtihad dalam sebagian masalah dan tidak ada pertentangan karena tidak ada pengakuan ijtihad mutlak.  Dan segolongan ulama mazhab empat telah lebih dahulu kepada pilihan-pilihan bagi mereka dalam sebagian masalah yang berbeda dengan pendapat mazhab serta tetap konsisten bertaqlid kepada pendiri mazhab. Kemudian, sesungguhnya kami meminta bantuan dalam memahami Kitabullah dengan tafsir-tafsir yang beredar lagi diakui, dan karena itulah kami berpegang kepada tafsir Ibnu Jarir dan mukhtasharnya karya Ibnu Katsir asy-Syafii, demikian pula al-Baidhawi, al-Baghawi, al-Khazin, al-Haddad, al-Jalalain dan selainnya. Dan untuk memahami hadits, kami berpegang dengan syarah-syarah hadits seperti al-Qasthalani dan al-‘Asqalani atas Shahih al-Bukhari, an-Nawawi atas Shahih Muslim, dan al-Manawi atas al-Jami’ ash-Shaghir. Kami sangat berpegang atas kitab-kitab hadits, terutama kutubus sittah dan syarah-syarahnya, dan kami memberikan perhatian dalam semua disiplin ilmu, baik ushul maupun furu’, qawa`id, sejarah, sharaf, nahwu, dan semua ilmu umat. Dan kami tidak pernah sama sekali memerintahkan memusnahkan kitab-kitab kecuali yang menjerumuskan manusia dalam kekafiran seperti Raudh ar-Rayyahin, atau yang menyebabkan cacat dalam aqidah seperti ilmu manthiq, maka sesungguhnya kebanyakan ulama telah mengharamkannya, sekalipun kami tidak meneliti atas hal itu. Dan seperti ad-Dala`il kecuali jika penganutnya menampakkan penentangan niscaya dimusnahkan atasnya.

Kami tidak berpendapat membunuh wanita dan anak-anak. Adapun tuduhan dusta kepada kami karena menutupi kebenaran dan menyamarkan terhadap makhluk bahwa kami membaca al-Qur`an menurut kemauan kami dan kami mengambil dari hadits yang sesuai pemahaman kami tanpa muraja’ah kepada syarah dan tidak berpegang kepada syaikh, dan kami merendahkan martabat Nabi r dengan ucapan kami: Nabi r sudah menjadi debu di dalam kuburnya dan tongkat salah seorang dari kami lebih bermanfaat darinya, tidak ada syafaat baginya r, berziarah kepadanya tidak disunnahnya, dan sesungguhnya dia r tidak mengenal makna laa ilaaha illallah sampai diturunkan kepadanya ayat:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُُ

Maka ketahuilah bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah I”.
padahal ayat tersebut adalah ayat Madaniyah, dan sesungguhnya kami tidak berpegang kepada pendapat para ulama dan memusnahkan kitab-kitab mazhab karena di dalamnya ada yang hak dan batil, kami adalah mujassimah, kami mengkafirkan manusia secara mutlak dan orang yang hidup setelah enam ratus Hijriyah kecuali yang satu pendapat dengan kami. Dan kami tidak menerima bai’at seseorang sehingga kami beriqrar atasnya bahwa ia sebelumnya musyrik dan kedua orang tuanya mati di atas kemusyrikan, dan sesungguhnya kami melarang membaca shalawat kepada Nabi r, mengharamkan ziarah kubur yang disyari’atkan secara mutlak,  dan orang yang menganut seperti keyakinan kami gugurlah darinya semua tuntutan termasuk hutang. Dan sesungguhnya kami tidak memandang adanya hak ahli bait ridhwanullah ‘alaihim, kami memaksa menikahkan mereka yang tidak sepadan, dan sesungguhnya kami memaksa sebagian orang tua agar menceraikan istrinya yang masih muda untuk dinikahkan dengan pemuda atas dasar murafa’ah di sisi kami.

Tidak ada jalan bagi semua itu, maka semua khurafat ini dan yang semisalnya … tidak ada jawaban kami atasnya dalam semua masalah dari hal itu kecuali (Maha suci Engkau, ini adalah tuduhan besar). Maka barangsiapa yang meriwayatkan sesuatu dari kami sesuatu dari hal itu atau menyandarkannya kepada kami maka sungguh ia telah berdusta dan mengada-ada atas kami. Dan barangsiapa yang menyaksikan keadaan kami dan melihat majelis kami serta meyakini apa yang ada di sisi kami, niscaya ia mengetahui secara pasti bahwa semua itu hanya dibuat-buat atas kami oleh mayoritas musuh-musuh agama dan saudara syetan karena melarikan manusia dari tunduk untuk memurnikan tauhid kepada Allah I dengan ibadah. Sesungguhnya kami meyakini bahwa orang yang melakukan berbagai jenis dosa besar seperti membunuh seorang muslim dengan tidak benar, berzinah, riba, meminum arak,  dan berulang kali hal itu darinya, ia tidak keluar dengan melakukan hal itu dari wilayah Islam dan tidak kekal dengannya di negeri pembalasan, apabila ia wafat tetap bertauhid kepada Allah I dalam semua jenis ibadah.

Dan yang kami yakini dalam martabat nabi kami Muhammad r bahwa ia adalah martabat tertinggi dari semua makhluk, sesungguhnya beliau r hidup di dalam kuburnya dengan kehidupan yang tetap melebihi kehidupan para syuhada yang ditegaskan atasnya dalam al-Qur`an, karena beliau r lebih utama dari mereka tanpa diragukan lagi, beliau mendengar salam orang yang memberi salam kepadanya, disunnahkan ziarah kepadanya r namun tidak dianjurkan melakukan perjalanan jauh kecuali untuk ziarah ke masjid dan shalat di dalamnya. Dan apabila berniat untuk hal itu disertai ziarah maka tidak mengapa. Dan barangsiapa yang memberikan waktu-waktu yang berharga dalam membaca shalawat kepadanya yang diriwayatkan darinya maka ia mendapat keberuntungan dunia akhirat dan dicukupkan keinginannya, seperti yang terdapat dalam hadits.

Maka akidah Imam Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah adalah akidah salafus shalih dari golongan sahabat, tabi’in, dan para pengikut mereka, seperti Abu Hanifah, Malik, Syafii, Ahmad, ast-Tsauri, al-Auza’i, Ibnul Mubarak, al-Bukhari, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, adz-Dzahabi dan selain mereka sangat banyak.

  1. Beriman dengan tauhid uluhiyah, rububiyah, asma dan sifat, dan berlepas diri dari setiap yang bertentangan bersamanya.
  2. Beriman kepada Allah I, para malaikat-Nya, para rasul, kitab-kitab, hari akhir, kebangkitan, hisab (penghitungan amal), mizan (timbangan), shirath, surga dan neraka.
  3. Beriman dengan qadar, baik dan buruknya, dan berlepas diri dari keyakinan Qadariyah, nufaah (yang menafikan asma dan sifat), Jabariyah, Murji`ah,  dan bersifat wala` (loyal) kepada para sahabat yang mulia dan ahli baik (keluarga 0Rasulullah r), berdiam diri terhadap perselisihan yang terjadi di antara mereka, dan meyakini keutamaan Abu Bakar t, kemudian Umar t, kemudian Utsman t, dan kemudian Ali t.
  4. Bersifat loyal kepada para ulama Islam dari kalangan ahli fikih, hadits, tafsir, zuhd, dan ibadah, terutama imam empat, kecuali orang yang ada cacat dalam akidah dan agamanya seperti kaum Rafidhah dan Imamiyah.

Syaikh Imam rahimahullah berkata: sesungguhnya aku –segala puji bagi Allah- adalah pengikut dan bukan melakukan yang baru. Akidah dan agamaku yang aku menganut agama Allah I dengannya adalah mazhab Ahlus sunnah wal jama’ah yang atasnya para imam kaum muslimin, seperti imam empat dan para pengikut mereka hingga hari pembalasan. Akan tetapi aku menjelaskan kepada manusia memurnikan agama dan melarang mereka dari berdoa kepada orang-orang yang hidup yang gaib, orang-orang shalih yang sudah wafat dan selain mereka.

Sejarah ringkas Syaik Imam dan pujian para ulama atasnya

Beliau lahir pada tahun 1115 H. dan wafat tahun 1206 H. tumbuh dalam rumah penuh ilmu dan agama, di mana bapaknya adalah qadhi di Uyainah dan kakeknya dikenal sebagai ahli fikih, qadhi, shaleh di kota Najed. Bapaknya melihatnya sangat cerdas sehingga menikahkannya saat masih kecil, dan melihat dia sudah berhak untuk menjadi imam sehingga ia menjadikannya imam shalat.

Beliau menuntut ilmu kepada para ulama di masanya dan merantau dalam menuntut ilmu ke Makkah, Madinah, Bashrah, dan Baghdad.

Belajar fikih dan tafsir kepada bapaknya dan dia sangat memperhatikan kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim rahimahumallah. Kemudian dia menunju Madinah untuk shalat di masjid nabawi dan menuntut ilmu.

Dia mengambil ilmu dari guru-gurunya seperti Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif an-Najedi yang tinggal di Madinah al-Munawarah, Muhammad bin Hayah as-Sindi, Ali Afandi ad-Daghisani, Ismail al-‘Ajluni, Abdul Lathif al-Ihsa`i al-‘Afaliqi, Muhammad al-Ihsa`i al-Faliqi, dan dia mengambil manfaat dari semua syaikh tersebut. Kemudian ia safar ke Bashrah dan Baghdad dan mengambil ilmu dari Syaikh Muhammad al-Majmu’i dan menemui banyak gangguan dari penduduk Bashrah. Kemudian ia safar ke Ihsa` dan mengambil manfaat dari ilmu syaikh-syaikhnya dan belajar kepada syaikhnya Abdullah bin Abdul Lathif asy-Syafii, kemudian ia menuju Huraimila` karena bapaknya telah berpindah ke sana, kemudian ia mulazamah kepada bapaknya, lalu belajar kepadanya ilmu tafsir dan hadits, dan mempelajari kitab-kitab Syaikhul Islam dan muridnya.

Syaikh menyaksikan kondisi Najed dari sisi agama dan politik, dia melihat kemungkaran, syirik yang keji, dan istighatsah yang terus menerus dengan para nabi dan orang-orang shalih.

Najed adalah pusat khurafat dan aqidah rusak yang bertentangan dengan dasar aqidah shahihah. Banyak sekali kubur yang disandarkan kepada sebagian sahabat, orang-orang berhaji kepadanya dan istighatsah kepadanya. Bahkan yang lebih aneh dari hal itu, sesungguhnya di Manfuhah ada pohon korma jantan yang diyakini kalangan awam bisa mewujudkan impian mereka, maka wanita yang belum menikah pergi kepadanya lalu berkata: Wahai jantan semua pejantan, aku ingin suami sebelum satu tahun. Demikian pula wanita yang belum hamil dan seperti ini. Dan kondisi di Hijaz lebih buruk lagi, manusia pergi ke kubur para sahabat, ahli bait, dan orang-orang shalih, dan mereka memberikan mereka yang merupakan sifat-sifat Allah I. Demikian pula kondisi di Iraq, Syam, Mesir, Yaman, dan yang lainnya yang mengandung jahiliyah dan watsaniyah yang tidak terbayang akal dan tidak diakui syara’. Kondisi Najed dan Hijaz dari sisi politik juga sangat buruk. Semenanjung Arab telah tersobek-sobek menjadi keamiran yang saling berjauhan, yang kuat memakan yang lemah. Keluarga Ma’mar di ‘Uyainah, Banu Khalid di Ihsa`, asyraf (alawi) di Hijaz, dan selain mereka yang tidak terhitung.

Setelah Syaikh memastikan kondisi ini dan melihat diamnya para ulama di Najed dan Hijaz terhadap segala kemungkaran dan bid’ah, Syaikh segera memproklamirkan dakwah tauhid dari kota Huraimila dan menjelaskan kepada mereka bahwa tidak boleh berdoa kecuali kepada Allah I, tidak boleh menyembelih dan bernazar kecuali karena Allah I, menjelaskan kebatilan akidah kubur, istighatsah dan tawasul kepada mereka, dan menyuruh mereka untuk kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah serta sirah salafus shalih. maka terjadilah perselisihan dan pertentangan di antaranya dan manusia, akan tetapi kesudahan adalah untuknya dan para pengikutnya yang bertauhid.

Sekalipun wilayah yang meliputi Najed telah masuk di bawah administratif khilafah Utsmaniyah, namun Najed tidak merasakan aktifitas langsung khilafah Utsmaniyah  sebelum dakwah Syaikh.

Kondisi politik, budaya, sosial, ekonomi sangat rendah di semenanjung arab, seperti yang terjadi di abad ke dua belas Hijriyah sampai muncul reformis besar imam Muhammad bin Abdul Wahab, sedangkan Najed terbagi-bagi kepada beberapa imarah (keamiran) kecil yang saling tidak mengakui satu sama lain, tidak pula dengan pemerintahan Alu Utsman, sedangkan masyarakat Najed adalah masyarakat arab yang terdiri kabilah-kabilah yang selalu bertengkar dan para syaikh kabilah yang memerintah Najed. Kondisi ekonomi berdiri di atas menggembala kambing, pertanian, perdagangan, dan hubungan di antara pelosok semenanjung arab dan kota-kota yang berdekatan.

Kebudayaan di semenanjung arab lebih buruk lagi, kebodohan dan buta huruf meliputi wilayah Najed. Tidak ada pendidikan formal, sekalipun ada orang-orang yang mengenal baca tulis, dan sebagian ulama yang mengajar ilmu-ilmu islam dari al-Qur`an, hadits, dan fikih, terutama fikih Hanbali, karena mazhab Hanbali mendapatkan bumi subur di bumi Najed, ia merupakan mazhab islam yang paling dekat kepada al-Qur`an dan as-Sunnah.

Kebodohan manusia dengan ajaran agama mereka menyeret kepada penyimpangan akidah, banyak sekali perbuatan syirik dalam kehidupan manusia dari sisi akidah dan ibadah, dan tersebar kesyirikan di Najed dan Hijaz, banyak keyakinan pada pohon, batu, kubur dan membangunnya serta mengambil berkah dengannya, bernazar baginya, istighatsah kepada penghuninya,  berlindung kepada jin dan menyembelih, meletakkan makanan untuk mereka dan menaruhnya di sudut rumah untuk kesembuhan orang yang sakit, memberi manfaat dan menolak bahaya dari mereka. Banyak sumpah dengan selain Allah I, tawasul dan istighatsah kepada selain-Nya. tersebarnya tukang sihir dan dukun, bertanya dan membenarkan mereka, mendahulukan dunia dan syahawatnya, masjid-masjid sangat sedikit dari jama’ahnya, tersebarnya kerusakan dan orang-orang yang merusak di setiap tempat, maka harus ada tokoh reformasi yang memperbaharui perkara umat ini. Dalam kondisi inilah dilahirkan Syaikh Imam.

Setelah bapaknya wafat tahun 1153 H. nampaklah dakwahnya dan diikuti oleh penduduk kotanya. Kemudian dia rahimahullah pindah ke Uyainah, yang amirnya adalah Utsman bin Muhammad bin Ma’mar,  lalu ia memuliakannya dan menikahkannya dengan putrinya dan menerima dakwahnya. Maka syaikh mengumumkan amar ma’ruf dan nahi munkar, mentauhidkan Allah I, membersihkan akidah dari fenomena syirik, mencabut pohon yang diagungkan, menghancurkan kubur Zaid bin Khattab t dengan dirinya sendiri dan dia tidak terkena apapun, seperti yang diduga kalangan awam.

Dan tatkala Syaikh ingin menerapkan had (hukum) zinah, perkaranya menjadi besar dan tersebar, maka sampailah beritanya kepada amir Ihsa` dan Qathif, maka ia menulis surat kepada Utsman bin Muhammad bin Ma’mar menyuruhnya membunuh Syaikh. Maka Utsman berpendapat untuk mengusir Syaikh karena ia tidak mampu berperang melawan amir Isha` dan Qathif.

Maka Syaikh keluar pada tahun 1158 H ke Dir’iyah dan menuju rumah Muhammad bin Suwailim al-Uraini. Amir Dir’iyah saat itu adalah Muhammad bin Su’ud, ia membantu, mengikuti dan membai’atnya di atas menolong agama Allah I dan rasul-Nya, berjihad di jalan Allah I, menegakkan syari’at Islam, amar ma’ruf dan nahi munkar. Dan setelah Syaikh menetap di Dir’iyah, para pengikutnya yang bersamanya di Uyainah dan di tempat yang lain berpindah kepadanya, dan jadilah Dir’iyah dasar penting bagi dakwah Syaikh. Bertolaknya darinya para du’at untuk menyebarkan dasar-dasar yang didakwahkan Syaikh. Dan di jalur sabilillah untuk menyebarkan dasar-dasar tersebut, amir Muhammad bin Su’ud rahimahullah melakukan peperangan melawan kabilah-kabilah  dan berkorban di jalan Allah I dengan harta, pasukan, anak-anak, dan kerabatnya.

Syaikh adalah yang memberikan arahan untuk gerakan penuh berkah tersebut, dan tentara berangkat dengan musyawarah dan perintahnya. Di samping itu, Syaikh berdiri dengan mengirim surat-surat atau pengajian khusus dan umum.

Dan bagi usianya yang panjang, memberikan pengaruh besar dalam menanamkan pengertian, dasar-dasar dan pemikiran pembaharuan yang dia berdakwah kepadanya, dan hal itu terus berlangsung hingga akhir hayatnya pada tahun 1206 H.

Syaikh rahimahullah sangat dalam imannya dan kuat semangatnya untuk membela islam, banyak berzikir kepada Allah I, lisannya tidak terputus dari ucapan ‘Subhanallah wal hamdulillah wa laailaaha illallah wallahu akbar’. Dia telah mengembalikan kehebatan islam setelah menjadi asing, membela sunnah, menekan bid’ah, menyebarkan bendera jihad,  mengenalkan tauhid kepada anak kecil dan orang tua, manusia berkumpul untuk shalat, pengajian, dan bertanya tentang dasar Islam. Tsaqafahnya berpegang di atas al-Qur`an dan as-Sunnah serta fikih Islam, terutama mazhab Hanbali, dan dia rahimahullah terpengaruh dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim rahimahumallah, dan ia banyak mengambil faedah dari perjalanannya yang berulang kali.

Pendirian para ulama terhadap dakwah Syaikh rahimahullah

Syaikh Imam mendapat tantangan berat dari para ulama ahli bid’ah di masanya, mereka memerangi dakwahnya secara khusus dalam masalah syirik yang dia mengajak untuk meninggalkannya, dan para ulama terbagi  beberapa bagian dalam menghadapinya:

  1. Satu golongan melihat haq (kebenaran) menjadi batil dan batil sebagai kebenaran, mereka meyakini bahwa membangun di atas kuburan, menjadikan masjid atasnya, berdoa kepadanya selain Allah I, istighatsah dengannya dan yang semisalnya. Mereka memandangnya sebagai agama dan petunjuk, dan mereka meyakini bahwa orang yang mengingkari hal itu berarti marah terhadap orang-orang shalih dan para wali Allah I.
  2. Golongan yang lain tidak mengetahui siapa sebenarnya Syaikh dan tidak mengenal dakwahnya, bahwa mereka bertaqlid kepada yang lain dan mempercayainya, serta mengira bahwa mereka (yang diikuti) berada di atas petunjuk dalam tuduhannya terhadap Syaikh berupa membenci para wali, memusuhi dan mengingkari karamah mereka, maka mereka mencela Syaikh dan dakwahnya, dan menyuruh manusia menjauh darinya.
  3. Golongan yang lain merasa takut terhadap kedudukan dan jabatan mereka, maka mereka memusuhinya karena sebab itu agar kedudukan dan jabatan mereka tidak hilang, dan jumlah golongan ini banyak.
  4. Dan muncul para ulama besar yang menyambut dakwahnya dan mengajak manusia kepadanya, serta memuji Syaikh Imam Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.

Kami menyebutkan sebagian dari mereka secara ringkas:

  1. Imam Muhammad bin Ali asy-Syaukani, ahli tafsir besar dan ulama yang terkenal, pengarang kitab Fath al-Qadir dan Nailul Authar, dan dia membuat syair ritsa` (ratapan) dengan syair yang panjang tatkala mendengar berita kematiannya.
  2. al-Amir Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani, pengarang beberapa kitab terkenal, di antaranya Subulus Salam, dan dia memuji Syaikh dengan syair yang panjang juga.

Demikian pula telah berkumpul segolongan ulama Syam dan Mesir di musim haji dan bertemu dengan ulama dakwah di masa pemerintah Su’ud bin Abdul Aziz bin Muhammad dan Su’ud al-Kabir –rahimahumullah-, dan terjadi perdebatan di antara dua kelompok dan berakhir dengan menerimanya para ulama dengan dakwah Syaikh, dan sesungguhnya ia berada di atas kebenaran dalam dakwahnya.

  1. Muhammad bin Ahmad al-Hifzhi meratapinya dengan qashidah (syair) yang panjang.
  2. Husain bin Ghannam al-Ihsa`i, pengarah kitab Raudhatul Afkaar, ia meratapinya dengan syair.
  3. Imran bin Ali bin Ridhwan dari negeri Persia, ia meratapinya dengan syair.
  4. Ahmad bin Musyarraf al-Ihasa`i, ia meratinya dengan syair.
  5. Ulama Iraq Mahmud Syukri al-Alusi dalam Tarikh Najed.
  6. al-Amir Syakib Arsalan dalam ‘Hadhirul ‘Alamil Islami’.
  7. Muhammad Hamid al-Faqi dalam ‘Atsaru ad-Dakwah al-Wahhabiyah’

10.Abdul ‘Aal ash-Sha’idi dalam kitabnya ‘al-Mujaddidun’.

11.Muhammad Rasyid Ridha dalam beberapa risalah dan kitabnya.

12.Ahmad Abdul Ghafur al-Hijazi dalam bukunya ‘Muhammad bin Abdul Wahab.

13.Muhammad Bahjat al-Iraqi dalam bukunya ‘Muhammad bin Abdul Wahab.’

14.Thaha Husein dalam ‘Jazirah al-Arab.

15.Muhammad Qasim dalam ‘Tarikh Urubba’.

16. Manah Harun dalam bantahannya terhadap penulis Inggris Cont Wilis.

17. Umar Abu an-Nashr dalam bukunya ‘Ibnu Suud’.

18. Muhammad Kard dalam bukunya ‘al-Qadim wa al-Hadits’.

19. Ahmad bin Sa’id al-Baghdadi dalam bukunya ‘Nadim al-Adab’.

20. az-Zirikli dalam ‘al-A’laam’.

21. Muhammad Abdullah Madhi dalam bukunya ‘Hadhir al-‘Alam al-Islami’.

22. Muhammad Dhiya`uddin ar-Risi, ustadz Sejarah Islam.

23. Abdul Karim al-Khathib dalam bukunya ‘Muhammad Abdul Wahab, pemikiran bebas’.

24. Muhammad Basyir as-Sahwani al-Hindi dalam ‘Shiyanatul Insan’.

25. Muhammad Jamil Baiham dalam bukunya ‘al-Halqah al-Mafqudah fi Tarikh al-Arab’.

26. DR Nabih Amin Faris dan Munir al-Ba’labakki dalam ‘Tarjamah al-Qarn at-Tasi’ al-Miladi’.

27. Mushthafa al-Hafnawi dalam bukunya ‘Ibnu Suud, politik dan peperangannya.

28.  Adil Zu’aitir dalam ‘Tarjamah Tarikh al-Arab’.

29. Ali ath-Thanthawi dalam buku ‘Muhammad bin Abdul Wahab’.

30. Abu as-Sam’ azh-Zhahiri dalam ulama Mesir dalam syair.

31. Ahmad Husein dalam buku ‘Musyahadati fi Jazirah al-Arab’.

32. Muhammad Abdul dalam buku “50 Amaan fi Jazirah al-Arab’.

33. Samahah al-‘Allamah Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah dalam buku-buku dan risalahnya, juga seorang ulama Najed.

34.Syaikh Ahmad bin Ali bin Hajar alu Abu Thami al-Ban’ali al-Qathari dalam buku-buku dan risalahnya, terutama bukunya ‘Muhammad Abdul Wahab Da’watuhu al-Ishlahiyah’.

Banyak sekali ulama besar yang memuji Syaikh serta dakwahnya yang penuh berkah, kita memohon kepada Allah I agar selalu memberi berkah pada para du’atnya dan padanya serta memberi rahmat kepada yang berdakwah kepadanya.

Tuduhan kekerasan terhadap gerakan dan bantahannya

Sesungguhnya gerakan Syaikh Imam tidak bersifat kekerasan secara mutlak, bahkan bersifat dengan hikmah, nasehat yang baik, dan dengan dalil yang berdiri di atas al-Qur`an dan as-Sunnah, dan Syaikh dan para pengikutnya hanya semata-mata membela aqidah dan orang yang berdiri di depannya.

Syaikh rahimahullah berkata dalam risalahnya kepada ulama Iraq Abdurrahman as-Suwaidi:

‘Adapun peperangan, maka kami tidak pernah memerangi seseorang hingga hari ini kecuali karena mempertahankan diri dan kehormatan, dan mereka yang mendatangi negeri kami, akan tetapi kami berperang atas jalan seumpama dan balasan kejahatan dengan kejahatan seumpamanya karena logika perkembangan peristiwa membawa kepada ini.’

Karena Syaikh berdakwah kepada pemurnian aqidah dan berdakwah kepadanya, dan ketika kota Dir’iyah menjadi pusat gerakan reformasi, mayoritas pemimpin kabilah menjadikannya pusat permusuhan yang membawa kepada penyerangan terhadap gerakan dan para duatnya.

          Hasil karya Syaikh yang terpenting:

  1. Kitab tauhid, beliau mengarangnya di permulaan hidupnya.
  2. Kasyf asy-Syubuhat.
  3. Masa`il al-Jahiliyah.
  4. Ushul al-Iman.
  5. Fadha`il al-Islam.
  6. Mukhtashar as-Sirah.
  7.  Kitab al-Ahkam wa al-Fitan.
  8. Mukhtashar Zad al-Ma’ad.
  9. Nashihah al-Muslimin.
  10. Tsalatsata ‘asyar risalah fi at-Tauhid wa al-Iman dan yang lainnya.

Dakwah Syaikh yang terpenting

  1. Kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, serta berpegang dengan keduanya.
  2. Kembali kepada tauhid yang murni dan meninggalkan yang lainnya.
  3. Mentauhidkan Allah I dalam asma-Nya yang maha indah dan sifat-Nya yang maha tinggi.
  4. Tauhid uluhiyah dan rububiyah.
  5. Mengingkari bid’ah dalam akidah kaum muslimin.
  6. Amar ma’ruf dan nahi mungkar.
  7. Menegakkan shalat dan mendorong untuk melaksanakannya dalam waktunya.
  8. Meninggalkan fanatisme mazhab yang mencapai puncaknya di abad terakhir.
  9. Mencintai sahabat dan ahlul bait dan menempatkan setiap orang dari mereka di tempatnya radhiyallahu ‘anhum.

Syaikh Imam sungguh telah mampu dengan gerakannya yang penuh berkah dan dakwah tauhidnya kepada menyebarkan tauhid yang bersih dari syirik di segenap penjuru negeri dan membebaskan kaum muslimin dari bid’ah dan kebohohan serta khurafat yang mengotori kebersihan aqidah, dan memperbaharui madrasah al-Kitab dan as-Sunnah yang didakwahkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dan diikuti oleh Syaikhul Islam Ahmad bin Taimiyah serta muridnya Ibnul Qayyim rahimahumallah.

Dan dia memberikan pemahaman kepada para pengikutnya dan manusia semuanya tentang hakikat tauhid dan kerusakan syirik, dan memusnahkan tempat-tempat yang dikunjungi dan kubur-kubur yang dihiasi yang disembah selain Allah I.

Setiap kali Syaikh memasuki kota atau negeri, dia mendirikan masjid padanya dan mengadakan pengajian dalam bidang tauhid, hadits, tafsir, fikih, dan syari’at Islam. Berkah dakwahnya mencapai negeri-negeri kaum muslimin, maka mencapai India, Iraq, Mesir, Syam, Afrika, Asia, Indonesia, Malaysia, dan tidak ada satu negeri kecuali di sana ada murid-murid dan pengikut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah dan para dai tauhid.

Dan kita melihat pengaruh gerakan sangat jelas sekarang dalam arah pemikiran islam kontemporer dan para reformis Islam yang muncul  sekitar abad ke empat belas dan ke lima belas Hijriyah. Mereka telah memahami aqidah menurut mazhab salafus shalih dan meninggalkan fanatisme mazhab dan mengajak untuk meninggalkannya, membuat fikih islam perbandingan, dan membuat dasar untuk ijtihad fikih yang baru. Beberapa wilayah yang berada di bawah hukum perbaikan dari para dai dan pemerintah berada dalam posisi yang nikmat dengan bumi, aman, tenang, menghilangkan kezaliman dan kerusakan. Semua merasa aman terhadap diri, harta, dan keluarga mereka, dan inilah kerajaan Arab Saudi yang merasakan aman, tenang di bawah naungan dakwah tauhid dan melaksanakan syari’at Allah I, kemudian dengan berkah  dakwah Syaikh Imam Muhammad bin Abdul Wahab, pegangan keluarga penuh berkah baginya dan bagi dakwahnya, serta naungan para dai kepadanya.

Segala puji bagi Allah I Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad r, keluarga dan para sahabatnya sekalian.

Referensi:

  1. al-Qur`an al-Karim.
  2. Kitab-kitab hadits: al-Bukhari, Muslim, kitab sunan empat, Muwaththa` imam Malik, dan Musnad imam Ahmad.
  3. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Abdullah bin Shalih al-Utsaimin, cet an-Nahdhah, Mesir.
  4. Lam’u asy-Syihab fi sirah Muhammad bin Abdul Wahab, DR. Mushtafa Abu Hakimah.
  5. Tarikh al-Mamlakah, Shalahuddin al-Mukhtar, cet 1 Berut 1376 H.
  6. Unwan al-Majd fi Tarikh Najed,  Utsman Bisyr, cet. 3 Riyadh 1385 H.
  7. Muhammad bin Abdul Wahab: Dakwah dan riwayat hidupnya, Samahah Syaikh Abdul Aziz bin Baz, cet. 2 Riyadh 1389 H.
  8. al-Wahhabiyah: sebuah gerakan pemikiran, Abdurrahman bin Sulaiman ar-Ruwaisyid, cet. Kairo 1397 H.
  9. Biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Amin Sa’id, cet. 1 Berut 1383 H.
  10. al-Jami’ al-Farid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, cet. 2, tahun Jedah.
  11. al-Hadiyah as-Saniyah fi at-Tuhfah al-Wahhabiyah, Sulaiman an-Najdi, Mekah 1393 H.
  12. Shiyanah al-Insan min Waswasati Syaikh Dahlan, Muhammad Basyir as-Sahsawani, cet. Ke 4 tahun 1386 H.
  13. Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan alu Syaikh, cet. Ke 7 Kairo tahun 1377 H.
  14. Qadatu al-Fikri al-Islami ‘abra al-Qurun, Abdullah bin Sa’ad ar-Ruwaisyid, cet. Al-Halabi, Kairo.
  15. Qurratu ‘Uyuni al-Muwahhidin, Syaikh Abdurrahman bin Hasan, Dar al-Ifta, tahun 1404 H.
  16. Muhammad bin Abdul Wahab Mushlih Mazhlum, Mas’ud an-Nadawi, cet tahun 1371 H.
  17. Jazirah al-Arab fi al-Qarn al-Isyriin, Hafizh Wahbah.
  18. Atsar ad-Dahwah al-Wahhabiyah, Muhammad Hamid al-Faqi.
  19. al-Badr ath-Thali’, Imam Muhammad bin Ali asy-Syaukani.
  20. ad-Dar an-Nadhid, Imam Muhammad bin Ali asy-Syaukani, Mesir 1343 H.
  21. at-Tuhaf fi Mazhib as-Salaf, Imam Muhammad bin Ali asy-Syaukani, cet. Al-Jami’ah al-Islamiyah.
  22. at-Tanbihat al-Lathifah, Syaikh Abdurrahman as-Sa’dy dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz.
  23. al-Fiqh al-Akbar, Imam Abu Hanifah.
  24.  al-Mughni, Ibnu Quddamah.
  25. Syarh al-Aqidan ath-Thahawiyah, Abu Ja’far ath-Thahawi al-Hanafi.
  26. Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dikumpulkan oleh Syaikh Abdurrahman al-Qasim dan putranya Muhammad.
  27. Tashawuf dan jalan kepadanya, Abdurrazzaq Naufal.
  28. Sawad al-‘Ain fi Manaqib ar-Rifa’i.
  29. Hujaj ad-Darawisy.
  30. Mada`ih ath-Thariqain; al-Qadiriyah wa ar-Rifa’iyah, karya gabungan kaum sufi.
  31. al-Majalis ar-Rifa’iyah, Mahmud Fadhil as-Samirani.
  32. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Syaikh Ahmad Hajar alu Abu Thami.
  33. ar-Radd ‘ala al-Akhna`I, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
  34. Hasyiyah Ibnu Abidin, Ibnu Abidin.
  35. I’laam al-Muwaqqi’in, Ibnu al-Qayyim.
  36. al-Jami’ lil Ahkam, Ibnu abdil Bar.
  37. Ushul al-Ahkam, Ibnu Hazm.
  38. al-Fatawa, Imam as-Subky.
  39. ar-Raudh al-Fa`iq, al-Huraifisy cet. Al-Maktabah al-‘Allamiyah, qadimah.
  40. ar-Rasa`il an-Najdiyah, Syaikh Abdul Lathif alu Syaikh, cet. Dar al-Manar, Mesir.
  41. Fiqh as-Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq.
  42. Jala` al-‘Ain fi Mahkamah al-Ahmadin, Nu’man Syukri al-Awi, Kairo, tahun 1381 H.
  43. Ila at-Tashawwuf ya ‘Ibadallah, Syaikh Abu Bakar al-Jazairy, cet tahun 1404 H.

Daftar isi:

Judul

–         Ihda`

–         Sambutan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad alu Syaikh.

–         Pengantar musyrif terhadap cetakan dan pengantar pengarang.

–         Tariqah tasawuf yang terpenting di Iraq.

–         Sebelum memulai dialog: nasehat dan harapan.

–         Permulaan dialog.

–         Shalawat kepada Nabi r.

–         Buku-buku maulid.

–         Maulid Nabi r.

–         Al-Wahhabiyah dan auliya`.

–         Kondisi sebagian pemimpin sufi dan hakikat hasil karya mereka.

–         Ziarah kubur dan tawasul.

–         As-Sawadul A’zham.

–         Bersumpah kepada selain Allah I.

–         Perbedaan Sulaiman bin Abdul Wahab.

–         Risalah Syaikh Abdullah bin Imam Muhammad bin Abdul Wahab, ia meringkas dari risalah bapaknya Imam rahimahumallah.

–         Biografi singkat tentang kehidupan Syaikh Imam dan pujian sebagian ulama kepadanya.

–         Pendirian para ulama terhadap dakwah Syaikh rahimahullah.

–         Tuduhan terhadap gerakan dengan kekerasan dan bantahannya.

–         Dakwah Syaikh Imam yang terpenting.

–         Referensi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: