Bentuk-Bentuk Perendahan Sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam – Golongan Al Qur’aniun

Bentuk-Bentuk Perendahan Sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam – Golongan Al Qur’aniun

Golongan Al Qur’aniun (hanya menerima Al-qur’an dan menolak sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam yang shahih)

Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda:

لاَ أُلْفِيَنَّ أحدَكم مُتَّكِئًا على أريكته يأتيه الأمر من أمري مما أمرت به أو نهيت عنه فيقول لا ندري ما وجدنا في كتاب الله اتبعناه

“Aku sungguh tidak ingin mendapati salah seorang dari kalian dalam keadaan bertelekan di atas dipannya, datang kepadanya suatu perkara agama baik perintahku maupun laranganku lalu ia berkata, “Kami tidak tahu, apa yang kami temui dalam Al-Qur’an maka kami laksanakan””[1] Continue reading

Berlebih-lebihan Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Hingga Mengangkat Beliau pada Derajat Ketuhanan

Berlebih-lebihan Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Hingga Mengangkat Beliau pada Derajat Ketuhanan


عن ابن عباس سمع عمر رضي الله عنه يقول على المنبر سمعت النبي  صلى الله عليه وسلم  يقول لا تطروني كما أطرت النصارى بن مريم فإنما أنا عبده فقولوا عبد الله ورسوله

Dari Ibnu Abbas, dia mendengat Umar berkata di atas mimbar, “Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian terlalu berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan kepada Isa bin Maryam, sesunggunhya aku hanyalah seorang hamba Allah maka katakanlah hamba Allah dan RasulNya” HR Al-Bukhari no 3445, 6830

Perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah” menunjukan bahwa beliau hanyalah manusia biasa, demikian juga para nabi yang lain. Oleh karena itu para nabi makan, minum, beristri, memiliki keturunan, mereka juga ditimpa dengan penyakit, mereka meninggal, bahkan ada di antara mereka yang dibunuh. Continue reading

HIKMAH ITTIBA’ KEPADA RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

HIKMAH ITTIBA’ KEPADA RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Dari ayat-ayat, hadits-hadits serta penjelasan para ulama tentang wajibnya ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita tidak boleh durhaka dan menyalahi jalannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan dari penjelasan tersebut, kita dapat mengambil manfaat yang banyak sekali, di antaranya :

1. Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wajib.

2. Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah termasuk iman. Dan tidak dikatakan orang yang beriman, orang yang tidak ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan dasar surat an Nisaa’ ayat 65. Continue reading

KEWAJIBAN ITTIBA’ KEPADA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

KEWAJIBAN ITTIBA’ KEPADA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM


Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Agama Islam yang mulia ini dibangun di atas dua prinsip.
Pertama : Kita tidak boleh beribadah, melainkan hanya kepada Allah saja dan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun.

Allah berirman :

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah : “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun, dan tidak (pula) sebagian menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka : “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. [Ali Imran : 64]. Continue reading

%d bloggers like this: