DIBALIK WASIAT MENJELANG KEMATIAN [Kisah seorang yang berwasiat kepada keluarganya , apabila meninggal agar membakar jenazahnya karena takut akan Adzab Alloh]

DIBALIK WASIAT MENJELANG KEMATIAN [Kisah seorang yang berwasiat kepada keluarganya , apabila meninggal agar membakar jenazahnya karena takut akan Adzab Alloh]


Penulis : Abu Faiz

Ini adalah sebuah kisah tentang seorang yang terlanjur tenggelam dalam kubangan kemaksiatan seumur hidupnya . Dia tidak sadar hingga malaikat pencabut nyawa datang mengetuk pintu menemuinya, dan menyerunya untuk menghadap Robbnya, maka diapun tersentak kaget, bingung, dan merasa takut akan Adzab Alloh Tabaroka wa ta’ala .

Dia baru menyadari  bahwa ia tidak akan bisa selamat dari siksa –Nya, apabila saat itu harus menghadap Alloh Tabaroka Wata’ala. Dosa-dosanya begitu banyak , sementara kebaikannya sangat sedikit, nyaris hilang lenyap tak terlihat. Dia pun ingin lari dari Adzab Alloh Ta’ala , akan tetapi dia tidak mendapati jalan keluar dari rasa takutnya kecualai dia berpesan agar jasadnya nanti dibakar setelah dia mati , kemudian abu dari jasadnya tersebut ditebar didarat dan di laut.

Wasiat ini tampaknya konyol , karena melazimkan dua hal yang sangat kontradiksi , yaitu antara besarnya rasa takut dia terhadap adzab Alloh Tabaroka wa Ta’ala : yang hal ini adalah merupakan ibadah yang paling agung – dan tidak tahunya dia akan besarnya Qudroh Alloh Tabaroka wa Ta’ala, Sehingga Alloh mampu menghidupkan kembali jasad manusia walaupun sudah menjadi abu dan ditebar didarat dan di laut .Subhanallah , Alloh Tabaroka wa Ta’ala yang Maha Penyayang mema’afkan sebab kebodohannya dan mengampuninya sebab rasa takutnya kepada –Nya.

AL KISAH

Al-Imam Muslim rohimahullah ta’ala meriwayatkan didalam kitab shohihnya ( 5/2756, 2757 ), dari jalan sahabat Abu Huroiroh Rodhiyallahu anhu bahwasannya Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda : “ Ada seorang laki-laki yang dia tidak pernah beramal kebaikan sama sekali sepanjang hidupnya, lalu dia berwasiat kepada keluarganya : apabila dia meninggal agar mereka membakar jenazahnya , lalu menebar abunya sebagian di daratan dan sebagiannya di lautan. Demi Alloh , seandainya Alloh Azza wa Jalla mampu, maka Alloh Azza wa Jalla akan mengadzab dengan adzab yang Alloh tidak mengadzab ( dengan adzab itu ) seorang pun dari makhluk seluruhnya. Ketika laki-laki itu meninggal , keluarganya melaksanakan apa yang diwasiatkan . Hingga kemudian Alloh Azza Wa Jalla memerintahkan Bumi untuk mengumpulkan abunya, dan memerintahkan lautan untuk mengumpulkan abunya, seraya berfirman : “ Mengapa engkau melakukan perbuatan seperti ini ? “ Laki-laki itu menjawab : “ ( aku melakukan seperti ini ) karena takut kepada Mu wahai Robbku, dan Engkau adalah Dzat yang Maha Mengetahui . “ Kemudian Alloh Azza wa Jalla pun mengampuninya.”

Kisah diatas diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dan al Imam Bukhori Rohimahullah ta’ala di berbagai tempat dalam kitab shohihnya , dalam Kitab Ahaditsul Anbiya’ , bab Mayudzkar ‘An Bani Isroil 3452, 3479 dan dalam Kita bar- Rqoiq bab Al Khouf Minalloh 6480.

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa laki-laki tersebut adalah seorang yang dikaruniai harta yang melimpah, dan anak keturunan yang banyak [1].

Dalam riwayat yang lain pula disebutkan bahwa laki-laki tersebut berkata kepada anak-anaknya : “ Bagaimanakah pendapat kalian tentang sikapku duku kepada kalian?”, mereka menjawab : “ Engkau adalah bapak yang paling baik.” [2]

Dan sebagian riwayat datang dengan penjelasan terperinci . Laki-laki itu berkata :” Jika aku meninggal , maka kumpulkanlah kayu bakar yang banyak, kemudian nyalakan api hingga bila telah terbakar semua dagingku , dan telah merata ke seluruh tulangku , maka ambilah , dan hancurkanlah sampai seperti debu, kemudian tebarkanlah debu itu ke lautan disaat hari yang panas.” [3]

IBROH

Demikianlah kisah seorang yang tenggelam dan terus larut dalam dosa dan kemaksiatan kepada Alloh Azza wa Jalla ,s epanjang hidupnya dia tidak bersyukur atas nikmat-nikmat Alloh Tabaroka wa Ta’ala , padahal dia adalah seorang yang diberi kelebihan dalam harta, dan keturunan .

Maka ketika kematian , “tamu yang pasti datang “ itu mulai menghampirinya, dia bingung , takut karena teringat dosa dan kelalaian yang selama ini dia lakukan , dia betul-betul takut kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala karena dia sadar apabila dia kelak dihadapkan kepada Alloh , maka  Alloh akan mengadzabnya dengan adzab  yang tidak pernah Alloh Azza wa Jalla timpakan kepada selainnya.

Maka dia pun mencari jalan untuk keluar dari rasa takut yang terus menghantuinya. Dia datang kepada anak-anaknya dan mengingatkan akan kebaikan-kebaikan yang pernah dia perbuat kepada mereka, seraya mengatakan :

” Bagaimanakah pendapat kalian tentang sikapku dulu kepada kalian ?”, mereka menjawab : “ Engkau adalah seorang Bapak yang paling baik.” Laki-laki itu kemudian mernceritakan dosa-dosa kemaksiatan yang dia telah perbuat yang bisa mendatangkan adzab yang tidak pernah ditimpakan kepada seorang pun dari makhluk seluruhnya. Kemudiasn dia berwasiat , apabila mati, agar mereka membakar jasadnya dan menebarkan abunya.

Dia telah lupa, bahwa Alloh Tabaroka wa Ta’ala Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sungguh Alloh  akan membangkitkan semua hamba- Nya kelak di hari kiamat, walaupun sebagian jasad mereka mungkin telah dimakan ikan dilautan , sebagiannya lagi mungkin telah dimakan binatang buas atau burung pemakan bangkai, atau jasadnya telah menjadi tanah atau bahkan telah menjadi pupuk , tapi Maha Suci Allah Dzat yang Berkuasa dan mampu untuk membangkitkan serta menghidupkan mereka kembali.

Sebagaimana Firmanya :

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ إِلا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا

لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا

وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا

Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. (QS. Maryam [19]: 93-95 )

Laki-laki itu mengancam anak-anaknya jika tidak melaksanakan wasiat, maka harta warisan haram bagi mereka . Merekapun bersumpah akan melaksanakannya.

Alloh memerintahkan bumi dan lautan mengumpulkan abu jasad itu dan mengatakan kepadanya : “ Jadilah si fulan” maka tiba-tiba dia pun berdiri dihadapan Robbnya , dan tatkala ditanya tentang mengapa ia melakukan hal tersebut , dia menjawab : “ ( Aku berwasiat seperti itu ) karena rasa cemas dan rasa takutku kepada-Mu , Yaa Alloh .” Maka Alloh Azza wa Jalla pun mengampuninya . Maha Suci Alloh Tabaroka wa Ta’ala Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Kuasa atas segala sesuatu.

MUTIARA KISAH [4]

Faidah Pertama :

Al Khouf ( Takut kepada Alloh ) memiliki kedudukan yang tinggi , dengan sebabnya Alloh Tabaroka wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa yang banyak. Sungguh Alloh Ta’ala telah mengampuni laki-laki tersebut dari Dosa besar, hal itu karena rasa Khouf kepada Robbnya.

Faidah ke Dua :

Kisah ini menunjukkan Luasnya rohmat Alloh  Tabaroka wa Ta’ala kepada makhluk-Nya . Allah Tabroka wa Ta’ala mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki , demikian juga mengadzab  siapa saja yang Dia kehendaki , yang tentunya hal itu sesuai dengan keadilan dan Hikmah-Nya.

Kisah ini tidaklah menganjurkan kita supaya meremehkan setiap Dosa dengan bersandar pada Luasnya rohmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala sehingga membuatnya malas beramal atau merasa yakin bila Alloh Subhanahu wa Ta’ala nanti pasti akan mengampuninya . Sungguh, ini adalah prasangka yang keliru . Siapakah yang dapat menjamin kita pasti mendapatkan ampunan Alloh Subhanahu wa Ta’ala .

Kewajiban kita adalah giat beramal Sholih dengan mengharap ampunan Alloh Subhanahu wa Ta’ala , dan hendaknya setiap manusia khawatir akan adzab Alloh Subhanahu wa Ta’ala , karena sebab perbuatan dosa yang diremehkan . Perhatikan Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berikut :

دَخَلَتِ امْرَأَةٌ النَّارَ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا فَلاَ هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلاَ هِيَ أَرْسَلَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ اْلأَرْضِ حَتَّى مَاتَتْ هَزْلاً

“ Seorang wanita masuk neraka gara-gara seekor kucing yang dia ikat , tidak dia beri makan dan tidak dia lepaskan agar bisa makan serangga bumi , sampai kucing itu mati kelaparan . ( HR. Bukhori 3071 Muslim 4951 )

Maka selayaknya seseorang menggabungkan antara rasa Khouf ( takut ) dan Roja’ ( berharap ) , karena rasa Khouf itu akan membuatnya senantiasa menjaga diri  dari dosa , sementara  Roja’ akan membuatnya tidak pernah putus asa untuk mengharap Rohmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang Maha  Luas.

Faidah keTiga :

Alloh Subhanahu wa Ta’ala Maha Pengampun mema’afkan seorang hamba karena kebodohannya , sebagaimana Alloh Subhanahu wa Ta’ala mema’afkan laki-laki tersebut yang dia menyangka bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mampu membangkitkannya setelah abu dari jasadnya disebarkan di darat dan di laut .

Para ulama berselisih dalam menafsirkan perkataan laki-laki tersebut “ “ Seandainya Alloh Subhanahu wa Ta’ala mampu, maka Alloh Subhanahu wa Ta’ala akan mengadzab dengan adzab yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak mengadzab seorangpun dari makhluk-makhluk seluruhnya.”

Sebagian ulama mengatakan : “ Tidak benar bila kalimat tersebut dimaknai bahwa dia menafikan Qudroh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala . Karena ragu terhadap qudroh Alloh Subhanahu wa Ta’ala hukumnya kufur, padahal di akhir kisah dia mengatakan bahwa tidaklah dia melakukan demikian kecuali karena takut kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala , sedangkan orang kafir tidak takut kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala , dan Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengampuninya . Sehingga makna yang benar  adalah “ Jikalau Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah memutuskan kepadanya atau jika Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyempitkan atau mempersulitkannya.”

Sebagian Ulama mengatakan bahwa laki-laki itu mengatakan kalimat tersebut tanpa memaksudkan maknanya, dia mengatakan demikian karena kebingungan dan ketakutan , sehingga hilang kesadaran terhadap kalimat yang dia ucapkan, maka dia seperti orang yang lalai atau pun lupa, dan pada keadaan seperti ini , seorang tidaklah dibalas karenanya.

Seperti orang yang mengatakan perkataan kufur karena terlampau gembira, tatkala menemukan kembali perbekalan dan tunggangannya setelah dia mencari-cari karena hilang di luasnya padang pasir.Kemudian dengan  spontan tanpa sadar berkata : “ Engkau hambaku dan aku Robb-mu ,” maka perkataan seperti ini tidak dibalas karena diucapkan tidak sadar.

Sebagian Ulama juga berkata bahwa laki-laki tersebut hidup di Zaman Fatroh[5] dimana pada waktu itu , hanya sekedar Tauhid yang murni maka telah cukup dan bermanfa’at bagi seseorang, dan tidak tidak ada beban/taklif sebelum datangnya syariat Alloh Subhanahu wa Ta’ala menurut Madzab yang shohih, karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا

Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang Rasul. ( Qs. Al- Isro’ [17] : 15 ) dan beberapa pemaparan yang lain dari para Ulama [6]

Al- Khottobi rohimahullah berkata :

“ Ada sedikit kerancuan dalam perkataan laki-laki tersebut , karena bagaimana bisa dia diampuni padahal dia mengingkari hari Kebangkitan, dan mengingkari qudroh Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang menghidupkan kembali orang yang telah meninggal.” Maka Jawabannya adalah bahwa sesungguhnya dia tidak mengingkari hal itu semua , hanya saja dia melakukan itu karena sebab Jahil / Bodoh. Dia menyangka bila dia dibakar sampai menjadi abu , maka dia tidak akan dibangkitkan kembali dan tidak akan di adzab oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala , dan hal itu dilakukan karena besarnya rasa takut kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala [7]

Faidah ke Empat :

Kisah diatas menunjukkan bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala Maha Mampu menghidupkan kembali Makhluk-Nya yang telah mati. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan kembali kelak di hari Kiamat semua makhluk sekalipun telah berserakan tulang-tulang mereka dan telah terputus bagian-bagiannya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى بَلَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. ( QS. Al Ahqoof [46] : 33 )

Sesungguhnya mudah bagi Alloh Subhanhu wa Ta’ala untuk menciptakan makhluk yang asalnya tidak ada , maka lebih mudah lagi bagi Alloh Subhanahu wa Ta’ala untuk menghidupkan kembali makhluk  yang asalnya telah ada.

Faidah ke Lima :

Tidak boleh bagi seseorang untuk mengkafirkan orang lain karena sebab dosa yang dia perbuat. Seorang mukmin yang terjerumus dalam perbuatan Dosa kemudian tidak bertaubat dari dosa nya , maka perkaranya adalah di tangan Alloh Subhanahu wa Ta’ala , Jikalau Alloh Subhanahu wa Ta’ala berkehendak maka akan mengampuninya , dan sebaliknya Jikalau Alloh Subhanahu wa Ta’ala berkehendak pula maka akan mengadzabnya.

Sebagai mana hal ini telah ditetapkan oleh Ahlu Sunnah wal Jama’ah , berbeda dengan keyakinan yang dipegang oleh orang-orang Khowarij dan Mu’tazilah – yang mereka mengkafirkan para pelaku dosa besar- dan hal ini merupakan ketetapan Alloh Azza wa Jalla dalam syariatyang muliya ini, salah satu buktinya adalah ampunan Alloh Subhanahu wa ta’ala pada laki-laki tersebut, sekalipun dia telah terlanjur terjerumus dalam perbuatan dosa dan kemaksiatan. Wallahu ‘Alam

Catatan Kaki :

1)      Shohih Bukhori6/514 dan Shohih Muslim 4/2112

2)      Shohih Bukhori 13/466 dan Shohih Muslim 4/2112

3)      Shohih Bukhori 6/514

4)      Lihat Shohih al Qoshos an-Nabawi, Dr. Sulaiman al Asyqor 234 dengan beberapa tambahan.

5)      Zaman Fatroh adalah zaman yang kosong dari diutusnya seorang Nabi dan Rosul , seperti zaman antara Nabi Isa alaihi salam dan Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam

6)      Syarh Shohih Muslim ( 17/226 )

7)      Fathul Bari 6/639

Artikel : https://abufahmiabdullah.wordpress.com/

Sumber : Diketik ulang dari Majalah Al Furqon Edisi 9 Tahun ketujuh/Robi’ul Akhir  1429 [ April- Mei ‘08]

2 Responses

  1. Al-Imam Muslim rohimahullah ta’ala meriwayatkan didalam kitab shohihnya ( 5/2756, 2757 ), dari jalan sahabat Abu Huroiroh Rodhiyallahu anhu bahwasannya Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda : “ Ada seorang laki-laki yang dia tidak pernah beramal kebaikan sama sekali sepanjang hidupnya, lalu dia berwasiat kepada keluarganya : apabila dia meninggal agar mereka membakar jenazahnya , lalu menebar abunya sebagian di daratan dan sebagiannya di lautan. Demi Alloh , seandainya Alloh Azza wa Jalla mampu, maka Alloh Azza wa Jalla akan mengadzab dengan adzab yang Alloh tidak mengadzab ( dengan adzab itu ) seorang pun dari makhluk seluruhnya. Ketika laki-laki itu meninggal , keluarganya melaksanakan apa yang diwasiatkan . Hingga kemudian Alloh Azza Wa Jalla memerintahkan Bumi untuk mengumpulkan abunya, dan memerintahkan lautan untuk mengumpulkan abunya, seraya berfirman : “ Mengapa engkau melakukan perbuatan seperti ini ? “ Laki-laki itu menjawab : “ ( aku melakukan seperti ini ) karena takut kepada Mu wahai Robbku, dan Engkau adalah Dzat yang Maha Mengetahui . “ Kemudian Alloh Azza wa Jalla pun mengampuninya.”

    Kisah diatas diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dan al Imam Bukhori Rohimahullah ta’ala di berbagai tempat dalam kitab shohihnya , dalam Kitab Ahaditsul Anbiya’ , bab Mayudzkar ‘An Bani Isroil 3452, 3479 dan dalam Kita bar- Rqoiq bab Al Khouf Minalloh 6480.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: