Fenomena dan Bahaya hasad

Fenomena dan Bahaya hasad


 

Oleh: Ustadz Abu Qotadah

(al-Mawaddah Edisi 10 Tahun 1 )

Hasad merupakan akhlaq yang tercela, akhlaq syaithoniyyah, dan sedikit sekali orang yang selamat darinya. Maka perhatikanlah bahaya-bahayanya agar kita bisa menjauhinya.

1. Hasad termasuk akhlaq orang Yahudi.

Alloh berfirman:

Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran…. (QS. al-Baqoroh [2]: 109)

Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Alloh telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrohim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. Maka di antara mereka (orang-orang yang dengki itu) ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan di antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) dari beriman kepadanya. Dan cukuplah (bagi mereka) Jahannam yang menyala-nyala apinya. (QS. an-Nisa’ [4]: 54–55)

2. Hasad termasuk dosa besar.

3. Dalam hasad terdapat indikasi ketidakrelaan terhadap taqdir Alloh.

Sebab orang yang hasad tidak rela terhadap nikmat Alloh yang ada pada seorang hamba, seolah-olah ia tidak setuju kepada ketentuan Alloh. Ia tidak rela nikmat itu ada pada orang lain padahal Alloh telah mencintainya.

4. Hasad adalah sumber kemaksiatan dan keburukan.

Al-Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Sumber keburukan ada tiga.

  1. Pertama: kesombongan yang menyebabkan Iblis tetap dalam penolakannya.
  2. Kedua: kerakusan yang menyebabkan Adam dikeluarkan dari surga.
  3. Ketiga: hasad yang menyebabkan salah seorang keturunan Nabi Adam membunuh saudaranya.

Maka barang siapa yang menjaga diri (menghindari) tiga perkara ini, ia akan terjaga dari keburukan; kekufuran dengan sebab kesombongan, kemaksiatan dengan sebab kerakusan, serta kezholiman dengan sebab hasad.” (al-Fawa-id: 57)

5. Hasad akan menghalangi seseorang untuk menerima nasihat.

Al-Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Rukun kekafiran ada empat: kesombongan, hasad, marah, dan syahwat.

Sombong akan menghalangi ketundukan, hasad akan menghalangi untuk menerima nasihat, marah akan menghalangi keadilan, dan syahwat akan menghalangi seseorang untuk beribadah. Apabila seseorang bisa menghilangkan kesombongan maka akan mudah baginya untuk tunduk, apabila ia bisa menghilangkan hasad maka akan mudah baginya untuk menerima nasihat, apabila ia bisa menghilangkan marah maka akan memudahkan baginya untuk bersikap adil, dan apabila ia bisa menolak syahwat maka akan mudah baginya untuk sabar, ibadah, dan menjaga dirinya (dari kemaksiatan).” (al-Fawa-id: 158)

6. Dalam hasad terdapat sikap penentangan terhadap Alloh.

Al-Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Hasad adalah salah satu bentuk penentangan terhadap Alloh, sebab orang yang hasad membenci nikmat Alloh pada seorang hamba padahal Alloh telah mencintainya sedangkan ia mengharapkan hilangnya (nikmat tersebut). Dan Alloh membenci hal itu, maka dengan demikian ia telah menentang Alloh dalam ketentuan-ketentuan-Nya, kecintaan-Nya, dan kebencian-Nya.” (al-Fawa-id)

7. Apabila hasad telah tertanam di dalam hati seseorang maka akan senantiasa bergejolak dan membara sehingga ia akan diliputi angkara murka dan kesedihan.

Sebab nikmat Alloh amatlah banyak tiada terhingga, maka setiap ia melihat kenikmatan itu ada pada orang lain, hasad akan bergejolak dalam hatinya sehingga membakarnya.

8. Hasad akan menyebabkan permusuhan di antara manusia.
Sehingga menyeret kepada tindak kejahatan seperti pembunuhan, sebagaimana Alloh telah mengisahkan terbunuhnya salah seorang anak Nabi Adam oleh saudaranya.

9. Hasad adalah dosa yang pertama kali dilakukan oleh Iblis kepada Alloh.

Al-Imam Malik bin Anas berkata: “Maksiat yang pertama kali dilakukan adalah hasad, kibr (sombong), dan syuh (bakhil).”

10. Hasad adalah mengikuti jejak dan jalan setan.

Hasad adalah perkara tercela dan terlarang. Ia telah mendorong Iblis berbuat dosa, ketika Iblis hasad kepada Adam karena Alloh telah menciptakannya dengan kedua tangan-Nya, dan memerintah malaikat untuk sujud kepadanya, mengajarkan kepadanya nama-nama, dan menempatkannya di sisi-Nya, maka setan terus-menerus berusaha untuk mengeluarkannya dari surga sehingga Adam dikeluarkan darinya. (Lihat Jami’ul Ulum wal-Hikam)

11. Hasad menyebabkan setan terlaknat dan terjerumus pada kesesatan.

12. Akhir dari hasad hanyalah kesedihan.

Orang yang memiliki sifat hasad akan senantiasa dirundung kesedihan; mengapa? Sebab setiap melihat nikmat Alloh ada pada orang lain maka hasad tersebut akan timbul dan bergejolak dan berkata-kata dalam hatinya: “Aku ingin memilikinya, aku ingin nikmat itu ada padaku.” Apabila ia tidak mendapatkannya maka ia bersedih dan terus bersedih, sebab nikmat Alloh amatlah banyak dan tidak pernah ada yang bisa menolaknya.

13. Orang yang hasad meremehkan nikmat Alloh kepadanya.

14. Hasad merupakan tanda buruknya hati dan jiwa seseorang.

Sebab orang yang hasad berhati buruk kepada saudaranya, ia tidak merasa senang dengan adanya nikmat Alloh yang di sisi orang lain, padahal seharusnya ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Seharusnya ia merasa senang jika Alloh menganugerahkan nikmat-Nya kepada saudaranya.

15. Hasad hanya timbul dari jiwa yang buruk dan sempit.

Sebab ia sebenarnya tidak mencintai kebaikan, tetapi hanyalah angan-angan belaka bahwasanya segala sesuatu diharapkan berada di sisinya.

16. Hasad akan menghalangi seseorang untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.

Sebab seseorang yang memiliki sifat hasad selalu sibuk berpikir “bagaimana si fulan bisa mendapat kedudukan, harta yang banyak, istri yang cantik, ilmu yang banyak, dan seterusnya” sehingga ia terlalaikan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri.

17. Hasad menyibukkan hati dari ingat kepada Alloh.

18. Hasad menghalangi seseorang untuk menerima kebenaran.

Hasad telah menghalangi orang-orang Yahudi untuk menerima risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad, karena nabi yang mereka tunggu-tunggu ternyata bukan dari kelompoknya. Mereka menginginkan bahwa nabi itu diutus dari kaumnya. Oleh karena itu, ketika Alloh mengutus nabi yang bukan dari kaumnya, mereka hasad/dengki sehingga menolak kebenaran dari orang yang mereka didengkinya.

19. Hasad adalah salah satu bencana dalam ilmu bahkan yang akan melenyapkan barokahnya ilmu.

Ilmu adalah cahaya. Maka tidak bisa akan didapatkan kecuali oleh orang-orang yang hatinya bersih, dan tidak akan diberikan oleh Alloh kepada orang-orang yang hatinya buruk.

20. Pengaruh hasad dalam mencari ilmu.

Di antara bentuk hasad dalam mencari ilmu adalah seseorang hasad kepada temannya, maka hasad ini akan menghalanginya untuk bertanya kepada temannya dan tidak mau mudzakaroh (menghafal) bersamanya, sehingga ia akan terhalang untuk meraih ilmu, sebab hidupnya ilmu adalah dengan bertanya dan menghafal. Atau ia hasad kepada gurunya dengan apa yang dimilikinya, sehingga ia menganggap tidak ada perbedaan dengan gurunya, maka ia terhalangi untuk belajar dan mengambil faedah darinya. Atau hasad kepada teman-temannya, ia enggan jika ada yang menyaingi atau melebihinya, sehingga ia terhalangi untuk menginfaqkan ilmunya, atau ia hasad akan pemahaman dan semangat yang ada pada temannya, maka ia ingin menyainginya, ia sibuk berpikir “mengapa si fulan bisa seperti itu” sehingga ia dirinya sendiri terlalaikan dari ilmu.

Sumber : http://almawaddah.wordpress.com/2008/12/31/fenomena-dan-bahaya-hasad/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: