Mukhalafah Lawan dari Ittiba’

Mukhalafah Lawan dari Ittiba’

Lawan dari ittiba’ adalah mukhalafah (penyelisihan). Mukhalafah juga terjadi di dalam keyakinan, perkataan, perbuatan dan perkara-perkara yang ditinggalkan.

Adapun penyelisihan di dalam keyakinan, seorang hamba meyakini suatu keyakinan yang berbeda dengan keyakinan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contohnya:

Seseorang yang menganggap (meyakini) halalnya suatu perkara yang jelas-jelas diketahui keharamannya di dalam agama Islam. Atau mewajibkan sesuatu yang jelas-jelas diketahui halal atau haramnya hal itu di dalam agama Islam. Contoh lain, seorang hamba membuat sesuatu hal yang baru di dalam agama Allah, sesuatu yang bukan dari agama. Dan juga seperti orang yang memiliki keyakinan bahwa orang-orang yang menyelisihi syariat Allah dan risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wali-wali Allah dan orang-orang yang Dia cintai.

Mukhalafah di dalam perkataan adalah dengan tidak menerapkan makna dan kandungan perkataan yang berupa kewajiban-kewajiban atau larangan-larangan.
Mukhalafah di dalam perbuatan adalah dengan menyimpang dari yang semisal dengannya sedangkan hal itu merupakan kewajiban.

Mukhalafah di dalam perkara yang ditinggalkan adalah dengan melaksanakan apa yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggalkan sedangkan hal itu merupakan perkara yang haram.

Dan tidak ada Mukhalafah di dalam meninggalkan perkara-perkara yang mandub (sunnah, disukai) dan melaksanakan yang makruh. Akan tetapi Mukhalafah terjadi hanya di dalam meninggalkan perkara yang wajib dan melaksanakan perkara yang haram. Baik terjadi di dalam perkataan, perbuatan atau perkara-perkara yang ditinggalkan. (1)

Kaitan Ittiba’ dengan Waktu dan Tempat

Tidak ada kaitan antara suatu perbuatan (yang diikuti –pen) dengan waktu atau tempat tertentu hanya karena semata-mata perbuatan itu terjadi padanya. Kecuali dengan dalil lain selain perbuatan itu. Maka jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan suatu waktu atau tempat untuk suatu perbuatan dengan dalil lain selain perbuatan itu, kita juga mengkhususkannya. Seperti pengkhususan ka’bah untuk thawaf, hajar aswad dan rukun yamani untuk disentuh – sesuai dengan perbedaan sifatnya –, pengkhususan bulan Ramadhan untuk puasa wajib, pengkhususan wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah dan pengkhususan dua hari raya dengan waktunya yang telah ma’ruf (diketahui).

Adapun perbuatan yang beliau lakukan secara kebetulan dan beliau tidak memaksudkan dzat (perbuatan) itu sendiri, maka tidak disyariatkan mutaba’ah (mencontoh) di dalam hal tersebut, meskipun hal itu terjadi berulang kali. Contohnya: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam singgah pada suatu tempat dan shalat padanya, namun beliau tidak berniat mengkhususkannya untuk shalat atau singgah. Jika kita berniat mengkhususkan tempat itu untuk shalat atau singgah, maka – menurut pendapat yang benar – kita bukanlah muttabi’ (orang yang ittiba’, mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam –pen).

Dan telah datang larangan dari Umar Al-Faruq radhiallahu ‘anhu, ketika beliau melihat orang-orang yang berada dalam perjalanan bersegera menuju suatu tempat, beliau menanyakannya. Lalu mereka menjawab, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di tempat itu.” Maka Umar pun berkata, “Sesungguhnya ahli kitab binasa hanya karena mereka mencari-cari bekas peninggalan Nabi-nabi mereka, lalu mereka menjadikannya sebagai gereja-gereja dan tempat-tempat peribadahan (sinagog). Maka barangsiapa kedatangan waktu shalat (yakni di tempat shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), hendaknya dia shalat atau melanjutkan (perjalanan).”(2)

Di dalam riwayat lain beliau berkata, “Barangsiapa kedatangan waktu shalat pada salah satu masjid-masjid tempat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka hendaknya dia shalat di sana, jika tidak maka janganlah menyengaja untuk mendatanginya.”(3)

Hal ini juga ditegaskan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha. Beliau berkata, “Singgah di Abthah bukan merupakan sunnah. Hanya saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam singgah di sana karena hal itu lebih mudah bagi safar beliau ketika beliau safar.” (4)

Dan banyak dari kalangan para ulama juga telah menetapkan hal ini. Seperti Ibnu Taimiyah di dalam al-Fatawa (5) dan Al-Amidi di dalam al-Ihkam, dimana beliau berkata, “Seandainya perbuatan beliau terjadi pada suatu tempat atau waktu tertentu, maka tidak ada pintu mutaba’ah padanya. Baik hal itu terjadi berulang kali ataupun tidak. Kecuali dengan suatu dalil yang menunjukkan pengkhususan ibadah itu padanya. Seperti pengkhususan haji dengan Arafah, shalat-shalat yang wajib dengan waktunya dan pengkhususan puasa Ramadhan.” (6)

Footnote:

(1) Lihat Al-Ihkam karya al-Amidi (1/227)
(2) Majmu’ Fatawa (10/418). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Nukilan ini datang dengan sanad yang shahih.” Fathul Bari karya Ibnu Hajar (1/569)
(3) Mukhtashorul mukhtashor karya Abul Mahasin al-Hanafi (2/177)
(4) Shahih Muslim (2/951) no. 1311
(5) Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah (10/409)
(6) Al-Ihkam karya Al-Amidi (1/226)

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Artikel: EkonomiSyariat.com

Sumber : http://ekonomisyariat.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: