Apakah salah menjadi wahabi… ??

Apakah salah menjadi wahabi… ??


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :  Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Rohimahullah

Ini adalah kisah nyata dari perjalanan hidup seorang ulama Ahlu Sunnah yang dahulunya beliau berpahaman Sufi/Tasawuf yang kemudian mendapatkan Taufiq dan Hidayah dari Allah Tabaroka wa ta’ala dengan kegigihan dan perjuangan dalam mencari kebenaran sampai akhirnya beliau kembali kepada pemahaman Islam yang benar yang masih murni dan bersih sebagaimana pemahaman para Salafush Shalih ( pendahulu yang Shalih ), Semoga beliau Rohimahullah Ta’ala  diberikan tempat yang muliya di sisi-Nya, diampuni segala dosa-dosanya dan diberikan balasan pahala yang besar dan dikumpulkan bersama Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam dan para sahabat,syuhada,shidiqin dan sholihin.

Pengertian Wahabi *)

orang-orang yang memusuhi tauhid biasa memberi julukan “wahabi” kepada setiap orang yang bertauhid yang mereka nisbatkan kepada Muhammad bin Abdul Wahhab. Jika mereka mau jujur, sebenarnya julukan yang lebih tepat adalah “muhammadi“, yaitu nisbat kepada namanya, yaitu Muhammad. Namun Allah pun menghendaki nama Wahab itu sebagai nisbat kepada Al-Wahhab (Yang Maha Memberi), yaitu salah satu dari nama-nama-Nya yang mulia.

Jadi, kalau orang-orang sufi menisbatkan diri kepada jamaah yang biasa memakai shufi (kain wol), maka orang-orang wahabi pun menisbatkan diri mereka kepada Al-Wahhab, yaitu Allah yang telah memberi mereka tauhid dan meneguhkan mereka untuk mendakwahnya.

Mereka biasa menuduh Wahabi kepada siapa saja yang keluar dari tradisi, kepercayaan dan perbuatan-perbuatan bid’ah mereka, sekalipun kepercayaan-kepercayaan mereka itu sebenarnya rusak, bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits shahih; lebih-lebih bila orang tadi mendakwahkan ajaran tauhid dan agar mereka berdoa semata-mata kepada Allah.

Pernah, di depan seorang syaikh penulis membacakan hadits Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhuma yang juga tercantum di daiam kitab Arba’in An-Nawawiyah di mana di situ Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:

“]ika engkau hendak meminta, maka memintalah kepada Allah; dan jika engkau hendak memohon pertolongan, maka mohon-lah pertolongan kepada Allah!” (Hadits ini diriwayatkan oieh At-Tirmidzi; dan dia berkata, “Hadits ini hasan shahih.”)

Penulis sungguh merasa kagum dengan keterangan imam Nawawi Rohimahullah Ta’ala terhadap hadits tersebut.

Dia menjelaskan, “Kemudian bila keperluan yang dimintanya itu di luar batas kemampuan manusia, seperti meminta hidayah, iimu, memohon kesembuhan dari sakit, dan meminta keselamatan, maka itu semua harus dia minta kepada Allah saja. Jika untuk hal-hal semacam itu dia meminta kepada makhluk, maka itu sangatlah tercela.”

Lalu penulis bacakan hadits di atas beserta penjelasan dari Imam Nawawi itu kepadanya yang intinya melarang meminta pertolongan kepada selain Allah. Akan tetapi dia menjawab, “Boleh saja. Kenapa tidak?”

Penuiis jawab, “Mana dalilnya?” Syaikh itu marah, lalu berkata dengan nada tinggi,

“Sesungguhnya bibiku pernah berdoa, ‘Wahai Syaikh Sa’ad!,’**) lalu saya tanyakan kepadanya, ‘Wahai bibiku, apakah Syaikh Sa’ad masih bisa memenuhi permintaanmu?’ Bibiku menjawab, ‘Aku meminta kepadanya, lalu dialah yang akan menyampaikan permintaanku kepada Ailah, kemudian Allah pun akan menyembuhkanku.’

Kemudian penulis katakan kepadanya, “Sesungguhnya engkau adalah seorang alim. Engkau banyak habiskan umurmu untuk menelaah banyak kitab. Tetapi sungguh amat mengherankan, engkau justru mengambil pelajaran akidah dari bibimu yang bodoh itu.”

Dia kembali menjawab,

“Pola pikirmu itu pola pikir wahabi. Engkau pergi berumrah, lalu datang dengan membawa kitab-kitab ajaran wahabi.

Padahal penulis sendiri tidak tahu sedikitpun apa itu wahabi, kecuali sekedar yang penulis dengar dari para syaikh.

Para syaikh itu menuturkan,

“Wahabi adalah mereka yang keluar dari tradisi kebanyakan manusia; mereka tidak mempercayai adanya wali-wali dan berbagai keistimewaannya; mereka tidak mencintai Rasul;” dan berbagai tuduhan dusta lainnya dialamatkan kepada mereka.

Akhirnya penulis pun berkata di dalam hati,

“Bila orang-orang wahabi adalah mereka yang hanya percaya kepada pertolongan Allah semata, dan yang percaya bahwa hanya Allahlah yang bisa menyembuhkan orang sakit, maka rasanya saya perlu mendalami ajaran wahabi lebih dalam.”

Suatu ketika penulis bertanya kepada para peserta jama’ah yang dituduh beraliran wahabi itu tentang kajian yang mereka selenggarakan. Mereka menjawab, bahwa setiap Kamis sore mereka mengadakan kajian tentang tafsir, hadits dan fiqih.

Kemudian bersama anak-anak dan sebagian pemuda yang kelihatan telah memiliki wawasan cukup luas, penulis mendatangi majelis mereka. Kami pun masuk ke sebuah ruangan yang cukup besar. Kami duduk menunggu pelajaran dimulai. Tidak selang berapa lama, masuklah seorang syaikh yang sudah cukup tua memberi salam kepada kami dan menjabat tangan kami satu persatu dimulai dari yang sebelah kanan. Kemudian dia pun duduk di kursi dan tidak ada seorang pun di antara yang hadir berdiri untuk memberi hormat kepadanya.

Penulis pun berkata di dalam hati, “Ini seorang syaikh yang tawadhu’. Dia tidak menyukai orang-orang berdiri untuk menghormatinya.”

Kemudian Syaikh membuka pelajaran dengan ucapan:innal hamdalilah dan seterusnya hingga seiesai, sebagaimana Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam biasa membuka khutbah dan acara ta’limnya. Dia pun memulai pelajarannya; dengan bahasa Arab dia menyampaikan penjelasannya. Dia menyampaikan beberapa hadits seraya menjelaskan derajat hadits-hadits tersebut dan siapa-siapa yang meriwayatkannya.

Setiap kali menyebut nama Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam dia selalu mengucapkan shalawat untuknya. Dan di akhir pelajaran beberapa pertanyaan tertulis pun diajukan kepadanya. Dia menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi dengan membawakan dalil dari Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam. Dia senang berdiskusi dengan para peserta kajian, dan enggan menolak setiap pertanyaan yang diajukan. Dia menutup kajiannya dengan ucapan: “alhamdulillah, kita termasuk orang-orang Islam dan termasuk golongan salafi“.

Banyak orang menuduh kita orang-orang wahabi. Ini tidak lain adalah salah satu gelaran-gelaran buruk yang ditimpakan kepada kita, padahal Allah telah melarang perbuatan tersebut dengan firman-Nya:

وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ

“Dan janganlah kalian panggil-memanggil dengan panggilan-panggilan yang buruk” (QS. Ai-Hujurat: 11)

Dahulu, orang-orang yang serupa dengan mereka itu menuduh Imam Syafi’i sebagai rafidhah (syi’ah).

Namun, beliau menjawab dengan mengatakan,

“Bila rafidhah artinya orang-orang yang mencintai keluarga Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam maka hendaklah seluruh manusia dan jin menyaksikan, bahwa aku adalah termasuk rafidhah.”

Maka, kita pun juga membantah orang-orang yang menuduh kita wahabi dengan ucapan sebagaimana diucapkan oieh seorang penyair”

Bila pengikut Ahmad (Muhammad) adalah wahabi maka, aku serukan bahwa sesungguhnya aku adalah wahabi

Dan setelah kajian usai, kami pun keluar bersama para pemuda yang semuanya mengagumi ilmu dan ketawadhu’an gurunya. Bahkan, aku mendengar salah seorang dari mereka berkata, “Inilah syaikh yang sebenar-benarnya.

——————————————————————————–

*) Dinukil dari kitab Firqatun Najiyah, Karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Bahasan ke 16.

**) Syaikh Saad, adalah seorang yang di kuburkan di dalam mesjid di negeri dimana penulis berada.

Tambahan tentang biografi singkat penulis :

Syaikh Zainu rahimahullah dilahirkan di Kota Halab di Suria tahun 1925 M bertepatan dengan tahun 1344 H.

Ketika beliau berumur 10 tahun, beliau belajar di sekolah “Daar el-Huffazh”, selama 5 tahun menghafal al-Qur’an.

Kemudian beliau melanjutkan pendidikan di Halab yang dikenal dengan ‘Kuliyah asy-Syar’iyyah at-Tajhiziyah’ di bawah ‘Al-Auqaf al-Islamiyah’, sekolah tersebut mengajarkan ilmu-ilmu syar’I dan modern.

Lalu beliau melanjutkan pendidikan di “Darul Mu’allimin” di Halab, dan mengajar di sana sekitar 29 tahun. Kemudian beliau meninggalkan dunia mengajar di Halab. Dan mengajar di Makkah al-Mukarramah. Lalu beliau pergi ke Yordan untuk berdakwah, dan menjadi Imam, Khatib, dan pengajar al-Qur’an di sana.

Pada tahun 1400 H beliau kembali ke Makkah, dan mengajar di “Daar el-Hadits al-Khairiyah” di Mekkah.

Di antara kitab-kitab karangan beliau yang mulia yang digandakan (diperbanyak) oleh Al-Maktabah al-Islamiyah adalah: ‘Takrimu al-Mar’ah Fi al-Islam’, ‘Aqidatu Kulli Muslimin Fi Sualin wa Jawabin’, ‘Taujihat Li Ishlahi al-Fardi wa al-Mujtama'”, dan ‘Minhaju al-Firqah an-Najiyah wa ath-Thaifah al-Manshurah’, ‘Kaifa Ihtadaitu Ila at-Tauhid wa ash-Shirati al-Mustaqim’, dan ‘Tafsir wa Bayan Li A’zhami Surati fi al-Qur’an, dan ‘Qutuf min asy-Syamail al-Muhammadiyah, wa al-Akhlaq an-Nabawiyah’ dan ‘Al-Adab al-Islamiyah’.” (http://www.almoslim.net/node/135296)

Syaikh Muhammad Jamil Zainu Rahimahullah,  wafat pada hari Jumaat lalu, 8 Oktober 2010/29 Syawal 1431 H, setelah sholat Isya’, jenazah Syeikh Muhammad Jamil Zainu disholati oleh jama’ah di Masjidil Haram, Makkah.

Dirangkum berbagai sumber.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: