Panduan Akhlaq Salaf (End)

PANDUAN AKHLAQ SALAF ( AINA NAHNU MIN AKHLAQIS  SALAF)

Sikap terhadap saudara sesama Muslim

Dari Maimun bin Mihram diriwayatkan bahwa ia berkata:

“Aku pernah mendengar Ibnu Abbas mengatakan: “Setiap kali aku mendengarkan khabar yang tidak mengenakkan dari saudaraku sesama muslim, pasti aku sikapi dengan salah satu dari tiga hal : apabila ia lebih tinggi derajatnya dariku, kukenali kedudukannya; apabila ia sejajar denganku, aku berbuat baik kepadanya, dan seandainya lebih rendah dariku, aku tidak akan menyusahkanya. Itulah alur hidup dalam diriku. Barangsiapa yang tidak menyukai sikap semacam itu, ingat, bumi Allah itu luas.” [Shifatush Shafwah I:754

Dari Humaid Ath-Thawiel, dari Abu Qilabah diriwayatkan bahwa ia berkata:

“Apabila ada khabar yang tidak mengenakkan dari saudaramu sesama muslim, carilah hal yang dapat memaafkannya sebisa kamu, kalau tak kau dapati alasan yang tepat, katakan keppada dirimu sendiri : “Mungkin saudaraku ini memiliki alasan yang tidak aku ketahui.” [Shifatush Shafwah III : 237

Dari Raja bin Haiwah diriwayatkan bahwa ia berkata:

“Barangsiapa yang hanya bershahabat dengan orang yang (menurutnya) tidak tercela, akan sedikit shahabat yang dimilikinya. Barangsiapa yang hanya mengharapkan keikhlasan dari shahabatnya, ia akan banyak mendongkol. Dan barangsiapa yang mencela shahabatnya atas setiap dosa yang dilakukan mereka, akan banyak memiliki musuh.” [Siyaru A’lamin Nubalaa’ IV:557

Dari Abu Ya’qub Al Madani diriwayatkan bahwa ia berkata:

“Konon pernah ada persoalan antara Hasan bin Hasan dengan Ali bin Al-Husein. Hasan bin Hasan mendatangi Ali bin Husein yang kala itu sedang bersama teman-temannya di masjid. Ia mengungkapkan segala uneg-uneg yang ada kepadanya. Sementara Ali sendiri terdiam. Maka Hasan pun pergi dan pada malam harinya, Ali mendatangi rumahnya. Ia mengetuk mengetuk pintu rumah Hasan. Setelah Hasan keluar, Ali berkata: “Wahai saudaraku, kalau apa yang engkau katakan benar adanya, semoga Allah mengampuniku. Namun kalau yang engkau katakan tidaklah benar, semoga Allah
mengampunimu. As-Salamualaikum.” Setelah itu dia berlalu. Perawi menyebutkan: “Setelah itu Hasan mengikutinya dan memeluknya dari belakang, sambil terseguk-seguk. Kemudian ia berkata: “Sudah selesai masalahnya. Aku tidak akan melakukan lagi hal yang tidak engkau senangi.” Ali membalas: “Engkau juga sudah kumaafkan atas apa yang telah
engkau katakan kepadaku.” [Shifatush Shafwah II : 94

Dari Sufyan bin Uyanah diriwayatkan bahwa ia berkata:

“Said bin Musayyab pernah berkata: “Sesungguhnya dunia itu hina, dan dunia akan lebih condong kepada setiap orang yang hina. Dan yang lebih hina lagi bagi orang yang mengambilnya dengan cara yang haram, atau mencarinya bukan lewat jalan yang sesungguhnya, untuk kemudian diletakkannya di luar jalur yang dibenarkan.” Dari Malik bin Anas diriwayatkan bahwa ia berkata: “Sesungguhnya
setiap orang terhormat, orang alim dan pemilik keutamaan pasti memiliki cela. Tetapi sementara orang ada yang tidak pantas disebut-sebut celanya: Barang siapa yang keutamannya lebih banyak dari celanya, kekurangannya itu akan ditutupi oleh keutamaanya tersebut.” [Shifatush Shafwah II : 81

Menjauhi Popularitas

Dari Habib bin Abi Tsabit, katanya:

“Pada suatu hari Abdullah bin Mas’ud keluar dari rumahnya, kemudian manusia membuntutinya. Ia bertanya: ‘Apakah kalian punya keperluan?. ‘Tidak, akan tetapi kami ingin berjalan bersamamu’, jawab mereka. ‘Kembalilah, sesungguhnya hal itu sebuah kehinaan bagi yang mengikuti dan membahayakan (fitnah) hati bagi yang diikuti.’ tukas Ibnu Mas’ud. (Shifatush Shafwah, 1/406)

Dari Al-Harits bin Suwaid, katanya:

“Abdullah bin Mas’ud berkata: ‘Seandainya kalian mengetahui diriku (seperti) yang aku ketahui, pasti kalian akan menaburi tanah di ats kepalaku’.” (Shifatush Shafwah, 1/406, 497)

Dari Bistham bin Muslim, katanya:

“Adalah Muhammad bin Sirin jika berjalan dengan sseorang, ia berdiri dan berkata, ‘Apakah kamu punya keperluan?’. Jika orang yang berjalan bersamanya mempunyai keperluan, maka ia tunaikan. Dan jika kembali berjalan bersamanya, ia bertanya lagi, ’Apakah kamu mempunyai keperluan?.” (Shifatush Shafwah 3/243)

Dari Al-Hasan, salah seorang murid Ibnul Mubarak, katanya:

“Pada suatu hari aku bepergian bersama Ibnul Mubarak. Lalu kami mendatangi tempat air minum di mana manusia berkerumun untuk mengambil airnya. Ibnul Mubarak mendekat untuk minum. Tidak ada seorangpun yang mengenalnya sehingga mereka mendesak dan menyingkirkannya. Ketika telah keluar, berkatalah ia kepadaku, ‘Inilah kehidupan, yaitu kita tidak dikenal dan tidak dihormati. ’ Ketika di Kufah, kitab manasik dibacakan kepadanya, hingga sampai pada hadits dan terdapat ucapan Abdullah bin Al-Mubarak (Ibnul Mubarak, red) dan kami mengambilnya. Ia berkata, ‘Siapa yang menulis ucapanku ini?’ Aku katakan, ‘Penulis.’ Maka ia mengerik tulisan itu dengan jari tangannya hingga terhapus, kemudian berkata, ’Siapakah aku hingga ditulis ucapannya?’.” (Shifatush Shafwah, 5/135)

Dari seseorang, katanya:

“Aku melihat wajah Al-Imam Ahmad sangat muram setelah dipuji seseorang (dengan ucapan) ‘Jazakallahu khairan (semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan, red) atas perjuangan Islam Anda. Al-Imam Ahmad berkata, ‘Bahkan Allah telah memberi kebaikan Islam kepadaku. Siapakah aku ini?’.” (Siyar A’lamin Nubala, 11/225)

Akhlak Dalam Menghadapi Godaan Wanita

Dari Abu Said Al-Khudri diriwayatkan bahwa ia berkata: “Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

“Sesungguhnya dunia ini indah dan manis, dan sesungguhnya Allah telah menjadikan kamu sekalian sebagai khalifah lalu melihat apa yang akan kalian perbuat. Maka waspadailah dunia dan wanita. Sesungguhnya godaan dan bencana pertama yang menimpa Bani Israil adalah wanita.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Dari Ali bin Zaid bin Said bin MUsayyib diriwayatkan bahwa ia berkata : “Setiap kali syetan putus asa menghadapi manusia, ia pasti menggunakan godaan wanita. ” Said mengatakan kepada kami ucapannya itu ketika ia berumur delapan puluh empat tahun; salah satu matanya sudah buta, sementara yang lainnya rabun malam. Beliau juga berkata: “Tidak ada yang lebih aku khawatirkan daripada wanita.” (Shifatush Shafwah II : 80)

Abul Faraj dan yang lainnya menceritakan , bahwa ada seorang wanita cantik tinggal di Makkah. Ia sudah bersuami. Suatu hari ia bercermin dan menatap wajahnya sambil bertanya kepada suaminya:

“Apakah menurutmu ada seorang lelaki yang melihat wajah dan tidak akan tergoda?” Sang suami menjawab:”Ada!” Si istri bertanya lagi: “Siapa dia?”Suaminya menjawab: “Ubaid bin Umeir.” Si istri menjawab: “Ijinkan aku untuk menggodanya.”Silakan, aku telah mengijinkanmu,” jawabnya. Abul Faraj menuturkan: “Maka wanita itu mendatangi Ubaid seperti layaknya orang yang meminta fatwa. Beliau membawanya ke ujung masjid Al-Haram dan menyingkapkan wajahnya yang bagaikan kilauan cahaya rembulan. Maka Ubeid berkata kepadanya; “Wahai hamba Allah, tutuplah wajahmu.” Si wanita menjawab: “Aku sudah tergoda denganmu. “Beliau menanggapi; “Baik. Saya akan bertanya kepadamu tentang satu hal, apabila engkau menjawabnya dengan jujur, aku akan perhatikan keinginanmu.” Si wanita berkata: “Saya akan jawab setiap pertanyaanmu dengan jujur.”

Beliau bertanya: “Seandainya sekarang ini malaikat maut datang kepadamu untuk mencabut nyawamu, apakah engkau ingin aku memenuhi keinginanmu?” Si wanita menjawab: “Tentu Tidak.” Beliau berkata:”bagus, engkau telah menjawabnya dengan jujur.”

Beliau bertanya lagi: “Seandainya engkau telah masuk kubur dan bersiap-bersiap untuk ditanya, apakah engkau suka bila sekarang kupenuhi keinginanmu?” Si wanita menjawab: “Tentu tidak.” Beliau berkata: “Bagus, engkau telah menjawabnya dengan jujur.”

Beliau bertanya lagi: “Apabila manusia sedang menerima catatan amal perbuatan mereka, lalu engkau tidak mengetahui apakah akan menerimanya dengan tangan kanan atau dengan tangan kiri, apakah engkau suka bila sekarang kupenuhi keinginanmu?” Si wanita menjawab: “Tentu tidak.” Beliau berkata:”Bagus, engkau telah menjawab dengan jujur.”

Beliau bertanya lagi: “Apabila engkau sedang akan melewati Ash-Shirat (jembatan yang terhampar di atas neraka dan ujungnya adalah surga -ed-), sementara engkau tidak mengetahui apakah akan selamat atau tidak, apakah engkau suka bila sekarang kupenuhi keinginanmu?” Si wanita menjawab:”Tentu tidak.” Beliau berkata: “Bagus, engkau telah menjawab dengan jujur.”

Beliau bertanya lagi: “Apabila telah didatangkan neraca keadilan, sementara engkau tidak mengetahui apakah timbangan amal perbuatanmu akan ringan atau berat, apakah engkau suka bila sekarang kupenuhi keinginanmu?” Si wanita menjawab: “Tentu tidak.” Beliau berkata:”Bagus, engkau telah menjawabnya dengan jujur.”

Beliau bertanya lagi: “Apabila engkau sedang berdiri di hadapan Allah untuk ditanya, apakah engkau suka bila sekarang kupenuhi keinginanmu?” Si wanita menjawab:”Tentu tidak.” Beliau berkata: “Bagus, engkau telah menjawabnya dengan jujur.”

Beliau lalu berkata: “Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah telah memberi karunia-Nya kepadamu dan telah berbuat baik kepadamu. “Ibnul Faraj berkata: “Maka wanita itupun pulang ke rumahnya menemui suaminya. Si suami bertanya: “Apa yang telah engkau perbuat?” Si istri menjawab: “Sungguh engkau ini pengangguran (kurang ibadah) dan kita ini semuanya pengangguran. ” Setelah itu si istri giat sekali melaksanakan shalat, shaum dan ibadah-ibadah lain. Konon si suami sampai berkata: “Apa yang terjadi antara aku dengan Ubeid? Ia telah merubah istriku. Dahulu setiap malam bagi kami bagaikan malam pengantin, sekarang ia telah berubah menjadi (Ahli Ibadah)???” (Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaaqin, karya Ibnul Qayyim Al-Jauzi hal.340)

Memelihara Lidah

Dari Maimun bin Mihran diriwayatkan bahwa ia berkata:

“ada seorang lelaki yang datang menemui Salman (Al-Farisi), lalu berkata kepadanya: “Berikan aku nasihat.” Beliau berkata: “Jangan banyak bicara.” Lelaki itu berkata: “Orang yang hidup di tengah manusia, mana bisa tidak berbicara?” Beliau menanggapi: “Kalaupun Anda hendak berbicara, berbicaralah yang benar, atau diam.” Lelaki itu berkata lagi: “Tolong tambahkan yang lain.” Beliau berkata: “Jangan suka marah.” Lelaki itu berkomentar: “Terkadang terjadi pada diriku, apa yang aku tidak bisa menahan diri.” Beliau berkata menanggapi: “Kalau begitu, bila engkau marah, jaga lidah dan tanganmu.” “Tambahkan lagi.’ Lelaki itu meminta. Beliau berkata: “Jangan campuri urusan orang lain. ” Lelaki itu menjawab: “Orang yang hidup bersama orang banyak, tidak mungkin tidak mencampuri urusan orang lain. “Beliau berkata: “Kalau engkau harus mencampuri urusan orang lain, katakan perkataan yang benar, dan tunaikanlah amanah kepada yang berhak. (Shifatush Shafwah I:549)

Dari Mu’adz bin Said diriwayatkan bahwa ia berkata:

“kami pernah bersama Atha’ bin Rabbah. Tiba-tiba seorang lelaki berbicara dan pembicaraannya dipotong oleh temannya. Maka Atha berkata: “Subhanallah, akhlak macam apa ini?” Sesungguhnya aku dengar orang lain berbicara, sedangkan aku lebih mengerti daripada dirinya, tetapi aku seolah-olah menunjukkan bahwa aku belum mengerti apa yang disampaikannya. (Shifatush Shafwah II:214)

Dari Utsman bin Al-Aswad diriwayatkan bahwa ia berkata:

“Aku pernah bertanya kepada Atha’: “Ada seorang lelaki yang lewat di hadapan sekelompok orang, tiba-tiba ada di antara mereka yang mengejeknya (dan dia tidak mendengarnya), apakah sebaiknya ia diberitahu?” Beliau menjawab: “Tidak. Karena orang-orang yang duduk di satu majelis, harus mampu menjaga amanah.” (Shifatush Shafwah II:214)

Dari khalaf bin Tamim diriwayatkan bahwa ia berkata:

“Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Al-Auza’i, bahwa ia berkata: “Umar bin Abdul Aziz pernah menulis surat kepada kami yang hanya dihafal isinya oleh aku dan Makhul. Yakni sebagai berikut: “Amma Ba’du: Sesungguhnya orang yang banyak mengingat-ingat kematian, ia akan senang dengan bagian di dunia yang sedikit; orang yang menganggap bicaranya itu termasuk amal perbuatannya, ia akan sedikit berbicara, kecuali dalam hal yang membawa manfaat buat dirinya. Wassalam (Siyaru A’laamin Nubalaa’)

Akhlak Terhadap Para Ulama

Dari Muhammad bin Amru, dari Salamah diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas pernah berdiri di sisi Zaid bin Tsabit dan langsung memegang tali kekang tunggangannya. Beliau (Zaid) berkata:

“Wahai anak paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, menjauhlah kamu.” Ia menjawab: “Beginilah yang kami lakukan untuk menghormati para ulama dan senior-senior kami.” (“Siyaru A’laamin Nubalaa’” II:437)

Dari Umar bin Mudrik diriwayatkan bahwa ia berkata:

“Al-Qasim bin Abdurrahman telah menceritakan kepada kami: Asy’ats bin Syu’bah Al-Mashishi telah menceritakan kepada kami, ia berkata: “Rasyid pernah datang ke Raqqah. Maka orang-orang pun pada berdesak-desakkan di belakang Ibnul Mubarak, sehingga tali-tali sendal saling berputusan dan debu-debu beterbangan. Ummu Walad (budak wanita yang melahirkan anak dari tuannya -ed) dari Amirul Mukminin melongok dari istana kayunya sambil bertanya: “Ada apa rupanya?” Mereka menjawab: “Ada ulama dari negeri Khurasan datang kemari.” Ia berkomentar: “Demi Allah, inilah raja. Raja Harun tidak bisa mengumpulkan orang-orang kecuali disertai penjagaa keamanan dan polisi.” (“Siyaru A’laamin Nubalaa’” VIII:384)

Ibrahim bin Ishaq Al-Harbi pernah berkata:

“Atha’ bin Abu Rabbah dahulu adalah seorang budak berkulit hitam milik seorang wanita dari kalangan penduduk Makkah. Konon hidungnya menyerupai sebutir kacang. “Perawi menuturkan: “Suatu hari Amirul Mukminin Sulaiman bin Abdul Malik bersama kedua anaknya datang menemui Atha’. Mereka duduk di sisinya, sementara beliau masih menjalankan shalat. Ketika beliau usai shalat, beliau menyisihkan waktu untuk mereka. Mereka terus saja bertanya kepada beliau tentang manasik haji, padahal beliau telah membelakangi mereka. Sulaiman berkata kepada kedua anaknya; “Wahai anak-anakku, janganlah kalian lalai dalam menuntut ilmu. Sungguh saya tidak akan melupakan rendahnya kita di hadapan budak hitam satu ini.” (“Shifatush Shafwah” II:212)

Rustah berkata;

“Aku pernah mendengar Abdurrahman bin Mahdi berkata: “Ada kebiasaan kami yang menyatakan: “Apabila seseorang bersua dengan orang yang lebih alim dari dirinya, itulah hari ia bisa mengambil sejuta faedah (yakni ilmu yang datang tiba-tiba); apabila ia berjumpa dengan orang yang sejajar dengannya dalam ilmu, ia bisa saling belajar dan menimba ilmu; dan apabila ia bertemu dengan orang yang kurang berilmu dari dirinya, hendaknya ia berendah hati dan sudi mengajarnya. Tidak layak seseorang orang menjadi seorang ahli ilmu, kalau ia berbicara dengan segala yang didengarnya. Demikian juga seseorang tidak akan menjadi seorang imam ahli ilmu, kalau ia menyampaikan hadits dari siapa saja, juga orang yang suka menyampaikan hadits yang ganjil. Sesungguhnya hafalan itu adalah demi melekatnya ilmu.” (“Siyaru A’laamin Nubalaa’” IX : 203)

Ibnu Basykuawaal berkata menceritakan pengalaman Ibrahim Al-Harbi:

“Aku pernah menukil dari buku Ibnu ‘Attab: “Ibrahim Al-Harbi adalah sosok seorang lelaki shalih dari kalangan ulama. Beliau pernah mendengar ada kaum yang suka duduk di majelisnya dan lebih mengutamakan dirinya dari Ahmad bin Hambal. Beliau mengkonfirmasikan hal itu kepada mereka, dan merekapun mengakuinya. Maka beliau berkata; “Sungguh kalian telah menzhalimi saya dengan mengutamakan saya dari orang yang saya tidak bisa menyerupainya, saya juga tidak bisa mengikuti jejak beliau dalam banyak hal. Maka saya bersumpah atas nama Allah, saya tidak akan menyampaikan ilmu apapun kepada kalian lagi. Maka mulai hari ini, jangan kalian datang lagi menemuiku.” (“Siyaru A’laamin Nubalaa’” XIII:364)

Akhlak dalam Menyikapi Kesalahan-kesalahan

Dari Humaid Ath-Thawiel, dari Abu Qilabah diriwayatkan bahwa ia berkata:

“Apabila ada kabar yang tidak mengenakkan dari saudaramu sesama muslim, carilah hal yang dapat memaafkannya sebisa kamu, kalau kau tak dapati alasan yang tepat, katakan kepada dirimu sendiri: “Mungkin saudaraku ini memiliki alasan yang tidak aku ketahui.” (”Shifatush Shafwah”III:237)

Dari Raja bin Haiwah diriwayatkan bahwa ia berkata:

“Barangsiapa yang hanya bersahabat dengan orang yang (menurutnya) tidak tercela, akan sedikit sahabat yang dimilikinya. barangsiapa yang hanya mengharapkan keikhlasan dari sahabatnya, ia akan banyak mendongkol. Dan barangsiapa yang mencela sahabatnya atas setiap dosa yang dilakukan mereka, akan banyak memiliki musuh.” (”Siyaru A’laamin Nubalaa’ IV:557)

Dari Abu Ya’qub Al-Madani diriwayatkan bahwa ia berkata:

“Konon pernah ada persoalan antara Hasan bin Hasan dengan Ali bin Al-Husein. Hasan bin Hasan mendatangi Ali bin Al-Husein yang kala itu sedang bersama teman-temannya di masjid. Ia mengungkapkan segala uneg-uneg yang ada kepadanya. Sementara Ali sendiri terdiam. Maka Hasan pun pergi dan pada malam harinya, Ali mendatangi rumahnya. Ia mengetuk pintu rumah Hasan. Setelah Hasan keluar, Ali berkata: “Wahai saudaraku, kalau apa yang engkau katakan kepadaku benar adanya, semoga Allah mengampuniku. Namun kalau yang engkau katakan tidaklah benar, semoga Allah mengampunimu. As-Salaamu’alaikum.” Setelah itu ia berlalu. Perawi menyebutkan; “Setelah itu Hasan mengikutinya dan memeluknya dari belakang sambil menangis sampai terseguk-seguk. Kemudian ia berkata: “Sudah selesai masalahnya. Aku tidak akan melakukan lagi hal yang tidak engkau senangi.” Ali membalas: “Engkau juga sudah kumaafkan atas apa yang telah engkau katakan kepadaku.” (”Shifatush Shafwah” II:94)

Yunus Ash-Shadafi pernah menyatakan:

“Aku tidak pernah mendapatkan orang yang lebih jenius dari Imam Syafi’ie, Suatu hari aku berdiskusi dengan beliau tentang satu persoalan, namun kami tidak menemukan titik temu. Beliau lalu menemuiku lagi dan menggandeng tanganku seraya berkata: “Wahai Abu Musa, apakah tidak sepantasnya kita untuk tetap bersaudara, meskipun kita tidak menemukan titik temu di antara kita dalam satu masalah?” (”Siyaru A’laamin Nubalaa’” X:16)

Dari Yunus bin Abdul A’la diriwayatkan bahwa ia berkata:

“Asy-Syafi’ie pernah berkata kepadaku: “Wahai Yunus, apabila engkau mendengar kabar yang tidak mengenakkan dari seorang teman, janganlah lantas terburu memusuhinya dan memutus hubungan tali kasih. Karena dengan demikian engkau akan termasuk orang yang menghilangkan keyakinannya dengan keraguan. Tetapi yang benar, temuilah dia, dan katakan kepadanya: “Aku mendengar engkau mengatakan begini dan begini. Ingat, jangan sebutkan secara mendetail. Apabila ia mengelak, katakan kepadanya: “Engkau lebih benar dan lebih baik dari yang kudengar.” Dan jangan perpanjang lagi urusannya. Tapi kalau ia mengakuinya, dan kamu bisa melihat ada yang bisa dijadikan alasan baginya dalam hal itu, terimalah alasan itu. Namun apabila engkau juga tidak mendapatkan alasan apapun baginya, sementara amat sulit jalan untuk mendapatkannya, engkau bisa tetapkan bahwa ia melakukan kesalahan. Setelah itu, engkau bisa memilih: kalau engkau mau, engkau bisa membalas dengan yang setara dengan perbuatannya tanpa menambah-nambah, dan kalau engkau mau, engkau bisa memaafkannya. Dan memaafkannya berarti lebih dekat dari ketakwaan dan lebih menunjukkan kemuliaanmu.

Sebagaimana Firman Allah:
Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tangguangan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim.” (Asy-Syura : 40).


Kalau dengan balasan yang setimpal engkau masih mendapat tantangan dari dirimu sendiri, pikirkanlah kembali kebaikan-kebaikannya di masa lampau, hitung semuanya, lalu balaslah kejahatannya sekarang dengan kebaikan. Janganlah karena kejahatannya, engkau melupakan kebaikannya yang terdahulu. Karena yang demikian itu adalah kezhaliman yang sesungguhnya, wahai Yunus. Apabila engkau memiliki teman, gandenglah dengan tanganmu erat-erat, karena mencari teman itu susah, dan berpisah dengannya itu perkara mudah.” (”Shifatush Shafwah II:252,253″)

Akhlak Dalam Memelihara Waktu

Dari Hasan Al-Bashri -Radhiallahu ‘anhu- diriwayatkan bahwa ia berkata:

“Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu tidak lain hanyalah perjalanan waktu; setiap kali waktu berlalu, berarti hilang sebagian dirimu.” (Siyaru A’laamin Nubalaa’ IV:585)

Diantara ungkapan Hasan lainnya: “Aku pernah bertemu dengan orang-orang di mana masing-masing mereka lebih pelit dalam memelihara umurnya daripada menjaga hartanya.” (“Syarhus Sunnah”, karya Al-Baghawi XIV:225)

Termasuk juga ucapan Al-Hasan dalam menasihati para sahabatnya agar mereka bersikap zuhud terhadap dunia dan menggairahkan mereka untuk mengejar akherat, beliau berkata:

“Janganlah benda dunia fana yang sedikit ini melenakan dirimu, demikian juga janganlah mengukur-ukur dirimu. Semua itu akan berlalu dengan cepat mengikis umurmu. Kejarlah ajalmu, jangan lagi katakan: “Besok dan besok.” karena kamu tidak pernah tahu, kapan kamu akan kembali menemui Rabb-mu.” (“Hilyatul Awliyaa” II:140)

Ar-Razi berkata:

“aku pernah mendengar Ali bin Ahmad Al-Khawarizmi menyatakan: “aku pernah mendengar Abdurrahman bin Abu Hatim berkata: “Kami pernah berada di Mesir tujuh bulan dan tidak pernah makan sayur (makanan berkuah). Pada setiap siang, kami berkumpul di majelis-majelis para Syaikh. Dan pada malam harinya kami menyalin pelajaran dan mendiktekannya kembali. Pada suatu hari, aku bersama teman dekatku datang menemui seorang Syaikh. Namun orang-orang bilang: “Beliau sedang sakit.’ Di tengah perjalanan, kami melihat ikan yang menarik. Kamipun membelinya. Ketika kami tiba di rumah, tepat datang waktu belajar, sehingga kami belum sempat membereskannya. Kamipun langsung berangkat ke majelis. Demikian terus waktu berlalu hingga tiga hari. Ikan itu tentu saja sudah hampir busuk. Maka kamipun memakannya dalam keadaan mentah. Kami tidak sempat memberikannya kepada seseorang untuk dibakar.” Kemudian beliau menyatakan: “Sesungguhnya ilmu itu tidak bisa diperoleh dengan bersenang-senang.” (“Siyaru A’laamin Nubalaa’” XIII:266)

Abul Wafa Ali bin Abu Aqil menceritakan tentang dirinya sendiri:

“sesungguhnya aku tidak membiarkan diriku membuang-buang waktu meski hanya satu jam dalam hidupku. Sampai-sampai apabila lidahku berhenti berdzikir atau berdiskusi, pandangan mataku juga berhenti membaca, segera aku mengaktifkan fikiranku kala beristirahat sambil berbaring. Ketika aku bangkit, pasti sudah terlintas sesuatu yang akan kutulis. Dan ternyata aku mendapati hasratku untuk belajar pada umur delapan puluhan, lebih besar dari hasrat belajarku pada umur dua puluh tahun.” (“Al-Muntazhim” karya Ibnul Jauzi IX:214 menukil dari buku “Sawanih Wa Tawilat Fii Qimatinz Zaman” karya Khaldun Al-Ahdab hal.24)

Beliau juga berkata:

“Dengan segala kesungguhan, aku juga memendekkan waktu makanku, sampai-sampai aku lebih memilih memakan biskuit yang dilarutkan dengan air dari pada memakan roti. Alasannya karena kedua makanan tersebut berbeda ketika dikunyah. Yakni demi lebih memberi waktu untuk membaca dan menyalin berbagai hal bermanfaat yang belum sempat kuketahui.” (“Dzail Thabaqatil Hanabilah” I:177, menukil dari buku “Sawanih Wa Ta-wilat Fii Qimatinz Zaman “34)

Semoga Allah merahmati seorang perdana mentri yang faqih semacam Yahya bin Muhammad bin Hubairah – guru dari Ibnul Jauzi, ketika menuturkan:

“Waktu akan semakin berharga bila dijaga dengan baik, tapi aku melihat waktu itu sesuatu yang paling mudah dilalaikan.” (“Dzail Thabaqatil Hanabilah” I:281, menukil dari buku “Sawanih Wa Ta-wilat Fii Qimatinz Zaman “39)

Tentang dirinya sendiri Ibnul Jauzi -Rahimahullah- pernah menuturkan:

“Saya telah melihat banyak orang yang berjalan-jalan bersama saya untuk acara kunjung mengunjungi sebagaimana yang menjadi kebiasaan masyarakat. Mereka menyebutkan kebiasaan itu sebagai “pelayanan”. Mereka biasanya mencari tempat duduk (di kediaman seseorang) dan memperbincangkan omongan orang yang tidak berguna. Kadang-kadang semuanya itu diselingi dengan menggunjing orang lain.”

Kebiasaan semacam itu banyak dilakukan oleh anggota masyarakat di jaman kita sekarang ini. Terkadang acara kunjung-mengunjungi itu menjadi tuntutan yang digandrungi, seorang diripun pergi dipaksa-paksakan; khususnya pada hari-hari raya dan ‘Ied. Kita bisa melihat mereka saling tandang ke rumah temannya, tidak hanya mencukupkan diri dengan mengucapkan selamat dan sejenisnya, tapi mereka menyelinginya dengan membuang-buang waktu seperti yang telah saya paparkan.

Ketika kulihat bahwa waktu itu adalah sesuatu yang paling berharga, sementara kewajiban kita adalah melakukan kebajikan, akupun tidak menyukai kebiasaan itu. Sikapku terhadap mereka antara dua hal saja; Kalau aku menyangkal mereka, akan terjadi kerusuhan yang bisa memecah persahabatan. Tapi kalau aku menerima ajakan mereka, aku akan membuang-buang waktu. Akhirnya aku memilih berusaha menolak secara halus, kalau gagal, aku ikuti mereka, namun aku tidak mau ngobrol panjang agar cepat selesai pertemuannya.”

Kemudian aku menyiapkan berbagai aktifitas yang tidak menghalangi aku untuk berbincang-bincang dengan mereka ketika bertemu muka, artinya agar waktuku tidak terbuang sia-sia. Sehingga yang aku persiapkan sebelum bertemu dengan mereka adalah memotong kaghid (kertas yang disiapkan untuk menulis) dan meruncingkan pena serta menyiapkan buku-buku tulis. Semuanya itu perangkat yang tidak boleh tertinggal. Dan untuk mempersiapkannya tidak terlalu membutuhkan fikiran dan konsentrasi. Aku pun mempersiapkannya pada saat-saat terjadi pertemuan dengan mereka agar waktuku tidak terbuang sia-sia.” (“Shaidul Khatir” hal 184,185)

Akhlak Dalam Tertawa dan Bercanda

Dari Anas diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki yang datang menjumpai Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dan berkata:

“Wahai Rasulullah, bawalah aku berjalan-jalan.” Beliau berkata: “Kami akan membawamu berjalan-jalan menaiki anak unta.” Lelaki itu menukas: “Apa yang bisa kuperbuat dengan anak unta?” “Bukankah setiap unta adalah anak ibunya?” Ujar beliau (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam”Sunan”-nya dalam kitab “Al-Adab”-92 bab Riwayat Tentang Bersenda Gurau Hadits No.3998 (V:270) dan dishahihkan ole Al-Albani)

Dari Shuhaib diriwayatkan bahwa ia berkata:

“Aku pernah menemui Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Ketika itu di hadapan beliau ada roti dan kurma. “Sini mendekatlah dan makanlah.” Beliau menawarkan. Akupun mulai memakan kurma tersebut. Tiba-tiba Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menjawab: “Lho, kamu kok makan kurma, bukankah kamu sakit mata?” Aku menjawab: “Iya . Tetapi aku memakannya lewat mata yang sebelahnya.” Beliaupun tersenyum.(Dihasankan oleh Al-Albani dalam “Shahih Sunan Ibnu Majah”II:253 No.2776)

Dari Usaid bin Hudhair diriwayatkan bahwa ia berkata:

“Ketika Shuhaib sedang berbincang dengan sekelompok orang (ia dikenal suka bercanda), ia menuturkan cerita yang lucu, maka Nabi menohok pinggangnya (dengan tongkat). Ia kontan berkata: “Coba aku balas engkau ya Rasulullah!” Beliau menanggapi: “Balaslah.” Lelaki itu menukas: “Tetapi Anda memakai gamis, sedangkan saya tidak memakai gamis.” Maka Nabi menyingkapkan gamisnya. Tetapi tak dinyana, ternyata Shuhaib justru memeluk beliau dan menciumi kulit perutnya, sambil berkata: “Sesungguhnya yang kumaui tidak lain adalah ini wahai Rasulullah.” (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam “Sunan”-nya dalam kitab “Al-Adab”-160, bab Mencium Tubuh (Nabi) hadits No.5223 dan dishahihkan oleh Al-Albani [“Shahih Abi Dawud” III:980 No.4352])

Dari Abu Hurairah diriwayatkan bahwa ia berkata:

“Orang-orang bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah Anda juga mengajak kami bercanda?” Beliau menjawab: “Iya, cuma aku hanya mengatakan sesuatu apa adanya (tanpa berdusta).” (Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dalam bab-bab kitab “Al-Birr wash Shillah”-57 bab Riwayat Tentang Senda Gurau 1991, dan beliau berkomentar: “Hadits ini hasan shahih.”)

Jarir menuturkan: “Setiap kali Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melihatku, beliau pasti tersenyum.” (Al-Bukhari dan Muslim)

Sumber : Aina Nahnu Min Akhlaaqis Salaf, Abdul Azis bin Nashir Al-Jalil Baha’uddien ‘Aqiel, Edisi Indonesia “Panduan Akhlak Salaf” alih bahasa : Ustadz Abu Umar Basyir Al-Medani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: