Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf (Bag 2)

Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf (Bag 2)

Salaf dan al-Qur’an al-Karim

Sahabat :

Dari Jundub bin Ka’ab berkata :

Kami anak-anak muda belia disisi Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam. Kami belajar Iman sebelum mempelajari al-Qur’an, kemudian kami baru belajar al-Qur’an. Sehingga iman kami bertambah karena al-Qur’an. (Ahmad, Ibnu Majah, Thabrany, Rijalnya Tsiqqoh III/175)

Ibnu Mas’ud berkata :

Kami belajar al-Qur’an dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam sepuluh ayat, kami tidak menambah sepuluh ayat sesudahnya sampai kami memahami apa-apa yang ada pada sepuluh ayat pertama. Yaitu ilmu (I/490). Dalam riwayat lain ; Adalah seorang diantara kami, jika belajar sepuluh ayat, tidak menambah ayat selanjutnya sampai ia memahaminya dan beramal dengannya. (Tafsir Thobary I/35 dengan sanad hasan)

Tabi’in :

Hasan al-Bashory berkata :

Wahai anak adam, Demi Allah jika kamu membaca al Qur’an lalu beriman kepadanya, kesedihanmu didunia ini akan bertambah panjang, rasa takutmu (kepada Allah) akan menghebat dan tangismu akan bertambah banyak (IV/575)

Abu ‘Aliyah berkata :

Kami dulu adalah budak, diantara kami ada yang melaksanakan tugas dan ada juga yang membantu keluarganya. Kami terbiasa mengkhatamkan al-Qur’an setiap malam. Kami merasa terbebani karenanya, sehingga kami saling mengadu. Maka kami menemui para Sahabat. Mereka berpesan kepada kami agar mengkhatamkannya setiap jum’at. Akhirnya kami bisa shalat, bisa tidur dan tidak lagi merasa berat. (IV/209)

Tabi’ut Tabi’in :

Telah memberi khabar kepada kamia Muhammad ibnu Isma’il, telah menghabarkan kepada kami Husain al-Karobisyi;

Pada suatu hari saya telah bermalam dirumah Syafi’i. Pada waktu dia shalat dipertiga malamnya. Maka ketika itu dia didalam shalat malamnya membaca ayat dari al-Qur’an lebih dari lima-puluh ayat atau kurang dari seratus ayat. jika ia melewati ayat yang berkenaan dengan ayat rahmat, maka dia berhenti lalu meminta kepada Allah rahmat-Nya. Dan jika ia melewati ayat tentang adzab, dia berhenti lalu berlindung dari adzab Allah. Seolah-olah dia mengumpulkan dalam dirinya antara raja’ dan khouf. (X/35)

Beberapa sahabat waki’ yang pernah bermulazamah dengannya mengatakan bahwa waki’ tidak tidur sebelum menyelesaikan bacaan Qur’annya yang sepertiga      Qur’an setiap malamnya. Waki’ bangun diakhir malam, membaca surat-surat pendek lalu duduk dan beristighfar sampai terbit fajar. (IX/148-149)

Salam al-Khowwas berkata :

Aku berkata pada diriku, Hai jiwaku,bacalah al-Qur’an. Seolah-olah kau mendengarnya dari Allah ketika Dia berkalam dengannya, maka halawah membaca akan datang. (VIII/176)

Salaf dan penjagaan mereka akan lisan dan perkataan.

Tabi’in :

Ibnul Kiwa’ menemui ar-Rabi’ bin Khutsaim, bertanya :

Tunjukkanlah kepadaku siapakah yang lebih utama dari anda ? Ia menjawab, Ya, baiklah. Siapa saja yang ucapannya adalah dzikir, diamnya adalah berfikir,dan perjalanannya adalah tadabbur, maka ia lebih baik dariku. (IV/261)

Dari Muslim bin Ziyad berkata :

Adalah Abdullah bin bin Abi Zakariya hampir-hampir tidak berbicara kecuali jika ia ditanya oleh seseorang dan dia seorang yang murah senyum dari kebanyakan manusia pada zamannya. (V/287)

Berkata : Al Auza’i ;Umar bin Abdul Aziz telah menulis surat kepada kami, dimana tidak seorangpun yang hafal kecuali aku dan Makhul, bunyinya :

Kemudian dari pada itu, sesungguhnya orang yang banyak mengingat mati, maka dia akan ridha dengan kehidupannya didunia ini. Dan dia mengambinya sekedarnya saja. Dan sebaik-baik orang adalah yang sedikit perkataannya tapi amal perbuatannya melebihinya. Kecuali perkataan yang berguna bagi dirinya dan kehidupan didalamnya. (V/133)

Al-Hasan bin Shalih berkata :

Saya meneliti sifat wara’, maka saya dapatkan bahwa wara’ yang paling langka adalah wara’ dalam lisan (perkataan) (VII/368)

Fudhoil  bin ‘Iyadl berkata :

Bukanlah haji, bukanlah jihad dan bukan pula ribath yang lebih berat untuk menahannya akan tetapi adalah lesan yang ada pada setiap manusia. Kalaulah kamu tahu betapa beratnya (susah) menahan lesan kamu, niscaya kamu pasti akan memenjarakan lesan kamu. Sehingga kamu menjadi muslim yang baik. Dan tidaklah salah seorang dari kamu menemui sesuatu yang lebih susah untuk menjaganya kecuali lesan . (Hilyatul Auliya’ VIII/110)

Tabi’ut-Tabi’in :

Imam al-Auza’i berkata :

Siapa yang banyak mengingat mati maka ia akan merasa kecukupan dengan sedikit dunia (yang ia dapatkan). Dan barang siapa yang mengetahui bahwa percakapannya adalahukuran dari kedalaman ilmunya, akan sedikit bicaranya. (VII/117)

Sa’id bin Abdul Aziz berkata :

Tidak ada kebaikan dalam kehidupan kecualisalah satu dari dua jenis manusia : pendiam yang menjaga lisannya atau yang suka berbicara dengan kebajikan. (VIII/23)

Hatim al-Asham berkata ;

Seandainya seorang ahli hadits duduk didepanmu, untuk menulis perkataanmu, pasti kamu sangat hati-hati (dalam berkata) darinya. Kenapa kamu tidak berhati-hati sedang perkataanmu akan diperiksa Allah swt. (Sifat IV/141)

Salaf dan Waktu

Tabi’in :

Dari Sufyan ast-Tsaury berkata :

Adalah Amru bin Dinar membagi waktu malamnya dengan tiga bagian. Sepertiga pertama untuk tidur, sepertiga kedua untuk belajar hadits, dan sepertiga akhir untuk shalat malam. (V/304)

Tabi’ut-Tabi’in :

Telam memberi khabar kepada kami, ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya :

Adalah Imam Syafi’i dalam waktu malamnya membagi dalam tiga bagian. Sepertiga pertama untuk menulis, sepertiga kedua untuk shalat dan sepertiga terakhir untuk tidur. (X/35)

Sa’id bin Abdul Ghofar berkata kepada Muhammad bin Yusuf :

Berilah aku nasehat ! Beliau berkata : Jika engkau mempu menjadikan waktumu sebagai milikmu yang paling mahal, maka lakukanlah ! (Sifat IV/77)

Salaf dan penjagaan mereka terhadap shalat.

Sahabat :

Dari Amru bin Dinar berkata :

Adalah Ibnu Umar Shalat diatas batu, tiba-tiba ada sebuah menjanikmusuh melesat mengenai baju beliau. Beliau tidmenoleh sedikitpun walau lawan telah mengepung beliau (III/369)

Dari Amar bin Qois dari ibunya bahwasanya beliau berkunjung kerumah Ibnu Zubair, Tatkala beliau shalat, tiba-tiba ada seekor ular menjatuhi Hisyam anaknya. Ornag-orang berteriak, Ada Ular-ada ular. Lalu dibuanglah ular tadi, dan beliaupun tidak membatalkan shalatnya. (III/370)

Berkata Adi bin Hatim radhiyallahu anhu :

Tidak ada iqomat shalat ditegakkan sejak keislaman saya, kecuali saya telah berwudlu. (III/164)

Tabi’in :

Berkata Rabi’ah bin Yazid ;

Tidaklah seorang muadzin mengumandangkan adzan dzuhur sejak empat puluh tahun, kecuali aku telah berada didalam masjid. kecuali bila aku sedang sakit atau bepergian. (V/230)

Tabi’ut Tabi’in :

Ahmad bin Sinan berkata : Aku melihat, jika waki’ berdiri dalam shalat,tidaklah muncul satu gerakan pada dirinya (selain gerakan sholat). (IX/157)

Amru bin ‘Aun berkata :

Aku tidak pernah sholat (bermakmum) dibelakang ibnu Abdillah, kecuali kudengar tetesan air-matanya jatuh diatas tikar. (VIII/288)

Salaf dan Dzikrul Maut

Tabi’in :

Berkata Bilal bin Sa’ad, Wahai sekalian hamba-hamba Allah yang bertaqwa, sesungguhnya kalian tidak akan terhindar dari kehancuran dan sesungguhnya kalian akan bergilir menemuhinya. Berpindah dari suatu ruangan yang satu keruangan yang lainnya sebagaimana kalian dulu dari air mani berpindah menuju kedalam rahim. Dari rahim menuju kedunia, dari dunia menuju ke alam kubur dari alam kubur menuju kealam perhitungan (hisab) dan dari tempat itu menuju kealam yang kekal abadi, apakah itu Jannah atau Neraka. (V/91)

Dari Maimun bin Mihran, adalah Umar bin Abdul Aziz setiap malam mengumpulkan para fuqoha’, mereka saling bermudzakarah tentang mati, hari kiamat, dan hari akhirat. Sehingga mereka kemudian menangis. Dikatakan, Umar bin Abdul Aziz telah menulis surat kepada seseorang yang berbunyi ;

Sesungguhnya jika kamu merasakan benar-benar untuk mengingat mati baik diwaktu malam maupun siang, sungguhlah akan tunduk setiap yang tidak berguna bagi kamu. (meninggalkannya) Dan kamu pasti akan mencintai setiap yang bermanfaat bagi kamu. Wassalam. (V/134)

Dari Abi Qobil bahwasanya Umar bin Abdul Aziz menangis, dan beliau masih muda belia. Tatkala ibunya mendapatinya menangis, ia bertanya :

Anakku, apa yang menyebabkan engkau menangis, beliau menjawab : Saya ingat mati, Serta merta ibunya menangis juga. (Al-Bidayah : IX/  ) Dan adalah beliau jika ingat kematian, bergetarlah anggota badannya. Pernah ada seorang membaca ayat  (al-Furqon : 13) dihadapan beliau, beliau menangus keras hingga berdiri dan beranjak kerumah beliau.

Tabi’ut Tabi’in :

Abdullah bin al-Mubarak berkata :

Adalah Muhammad bin an-Nadlr bila mengingat akan maut, seluruh persendiannya gemetar. (VIII/157)

Salaf dan keseimbangan mereka antara tawa dan canda.

Shohabiyah :

Dari Ibrahim, Saudah ummul mukminin berkata :

Ya Rasulullah, pada malam tadi saya ikut shalat dibelakangmu, akupun ikut ruku’. Tapi kututup hidungku, aku takut darah menetes darinya (karena lamanya ruku’). Maka Rasulullah tertawa. Begitulah kadang-kadang beliau (Saudah) sengaja membuat Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam tertawa dengan sesuatu. (II/268)

Tabi’in :

Qobisah berkata : Sufyan ats-Tsaury adalah orang yang suka bercanda, maka saya berada dibelakangnya karena takut terkena getahnya. (VII/275)

Berkata Muhammad bin an-Nu’man bin Abdus-Salam :

Belum pernah terlihat olehku Yahya bin Himad dalam kesehariannya tertawa sekalipun. Adz-Dzahaby berkata : Beliau lebih banya tersenyum karena tersenyum adalah lebih afdhal. (X/146)

Salaf dan fitnah perempuan.

Tabi’in :

Al-Ahnaf berkata :

Jauhkanlah penyebutan wanita dan makanan dari majlis-majlis kita. Sesungguhnya aku adalah orang yang paling benci menjadi orang yang disifati untuk kemaluan dan perutnya.(IV/  )

Sa’id bin Musayyib berkata :

Tidaklah aku takutkan sesuatu akan diriku melebihi rasa takutku kepada wanita. Orang-orang berkata, wahai Abu Muhammad, Sesungguhnya orang sepertimu ini tidaklah menginginkan wanita dan tidak diinginkan oleh wanita. Sa’id berkata : Inilah kenyataan yang aku sampaikan kepada kalian. Saat itu Sa’id telah renta dan kabur penglihatannya. (IV/241)

Salaf dan rasa takut mereka menjadi terkenal.

Tabi’in :

Sufyan ats-Tsaury berkata, Hendaklah engkau menjauhi syuhrah (terkenal). Tidaklah aku menemuhi seorang syaikh kecuali selalu melarangku darinya. (VII/260)

Ibrahim bin Adham berkata :

Seorang hamba belumlah bersikap sidiq terhadap Allah jika ia menyukai syuhrah. (VII/393)

Tabi’ut Tabi’in :

Ibnu Mubarak bertanya kepada Ibnu Idris :

Saya ingin pergi keperbatasan. (jihad), tunjukkan kepadaku orang yang paling afdhal disana. Ia berkata : Hendaklah engkau menemui Muhammad bin Yusuf al-Asbahany. Aku bertanya : Dimana tempat tinggalnya ? Ia bertanya . Di Mashiroh dekat pantai. Maka Abdullah bin Mubarak pergi ke Mashiroh dan bertanya tentang Muhammad bin Yusuf. Sedang manusia tidak ada yang mengetahuinya. Ibnu Mubarak berkata : Kelebihan anda adalah anda tidak dikenal orang. (Sifat IV/76-77)

Dari Muhammad bin al-Munkadir berkata ;

Aku memilih sebuah tiang khusus di masjid Rasulullah shallallah ‘alihi wa-sallam yang biasanya aku duduk dan shalat malam di dekatnya. Ketika penduduk Madinah dilanda kemarau panjang, mereka ramai-ramai melakukan Istisqo’, tetapi hujan tak kunjung datang. Disuatu malam seusai menunaikan shalat Isya’ aku bersandar pada tiang pilihanku, tiba-tiba datang seorang berkulit hitam menuju ke tempat aku bersandar. Ia di sisi depan dan aku di sebaliknya. Dia shalat dua raka’at lalu duduk dan berdo’a, “Duhai Rabbku, penduduk kota Nabi-Mu telah keluar untuk meminta hujan tetapi Engkau belum mengabulkannya. Maka, aku bersumpah pada-Mu agar Engkau menurunkannya.” Aku bergumam, “Orang gila.”

Tetapi belum sempat dia meletakkan tangannya kudengar suara bergemuruh dan turunlah hujan yang membuatku ingin pulang. Tatkala mendengar suara hujan orang itu memuji Allah ‘Azza wa-Jalla dengan pujian yang belum pernah kudengar sama sekali. Lalu dia berdiri shalat. Menjelang Shubuh, barulah ia sujud , lalu berwitir dan shalat fajar. Kemudian terdengar iqomah, maka ia pun berdiri dan melaksanakan shalat bersama orang banyak. Demikian juga aku. Setelah imam salam ia keluar dan aku ikuti. Sesampai di pintu masjid ia keluar sambil mengangkat kainnya agar tidak basah. Aku mengikutinya, tetapi karena aku  sibuk dengan bajuku agar tidak basah aku tidak tahu kemana ia pergi.

Di malam berikutnya kutunggu dia di tiang yang sama. Dan ia pun datang, berdiri shalat sampai menjelang Shubuh. Lalu sujud, melaksanakan shalat Witir, shalat fajar dan shalat Shubuh. Setelah imam salam, ia keluar dan aku mengikutinya sampai ia memasuki sebuah rumah. Lalu aku kembali ke Masjid. Ketika matahari sudah tinggi, aku melaksanakah shalat (Dluha) lalu pergi menemui orang itu. Ternyata orang itu adalah tukang sepatu. Tatkala melihatku ia mengenaliku dan berseru, “Wahai Abu Abdullah, adakah yang bisa saya bantu?” Lalu aku duduk dan kukatakan, “Bukankah Anda yang bersamaku kemarin malam?” Mendengar itu berubahlah rona wajahnya dan berkata dengan suara yang keras, “Wahai Ibnu al-Munkadir, apa urusanmu!?”  Dia marah dan aku pun ingin segera berlalu darinya.

Di malam ketiga, setelah shalat Isya’, kembali aku bersandar pada tiang khususku untuk menunggunya. Tetapi ia tidak datang. Kukatakan pada diriku sendiri, “Inna lillah… Apa yang telah aku perbuat?” Katika datang waktu Shubuh, aku duduk di masjid sampai  matahari terbit. Kemudian aku keluar untuk mendatangi rumahnya. Aku dapati pintu rumahnya terbuka dan tidak kudapatkan seorang pun di dalamnya. Tetangga-tetangganya bertanya kepadaku, “Wahai Abu Abdullah, apa yang terjadi antara tukang sepatu itu dan Anda?”  Aku ganti bertanya, “Apa yang terjadi?” Mereka menjawab, “Setelah kepergianmu kemarin, orang  itu menghamparkan kainnya dan tidak meninggalkan satu barang pun kecuali ia bungkus dengannya. Lalu ia keluar dan kami tidak tahu ke mana ia pergi. Ibnu al-Munkadir berkata, ”Tidak aku tinggalkan sebuah rumah pun di Madinah kecuali aku cari di sana dan aku tidak menemukannya. Semoga Allah merahmatinya.” [1]

[1]Shifah, II/190-192

Syu’bah dan Hisyam berkata:

Diriwayatkan dari Qatadah, dari Yunus bin Jubeir bhwa ia berkata: ” Kami menjenguk Jundub.” Kemudian aku berkata: “Berwasiatlah kepadaku.” Eliau berkata: “Saya nasihatkan kamu sekalian agar bertakwa kepada Allah, saya nasihatkan juga agar kalian membaca Al Quran, karena sesungguhnya ia adalah cahaya di malam yang gelap dan petunjuk di siang hari. Amalkanlah ajarannya, dengan segala konsekuensi susah dan lelahnya. Apbila harus berhadapan dengan sebuah cobaan, dahulukan kepentingan agamamu dari kepentingan duniamu. Apabila cobaan berlalu, dahulukan juga kepentingan agamamumeski harus mengorbankan diri dan hartamu. Sesungguhnya orang yang rusak adalah yang rusak agamanya dan orang yang merugi adalah orang yang  terampok agamanya. Ketahuilah, tidak ada lagi kesulitan sesudah engkau masuk Jannah dan tidak ada kebahagiaan lagi sesudah engkau masuk Naar. *

** Siyaru a’laamin Nubala III : 174

Sumber : Diambil dari terjemahan kitab “Aina Nahnu min Akhlaaqis Salaf” Panduan Akhlak Salaf, karya Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil Bahauddien `Aqiel. Penerjemah: Ustadz Abu Umar Basyir Al-Medani. Penerbit: At-Tibyan – Solo, Cet. pertama, September 2000.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: