SUCIKAN HATI GAPAI KEBAHAGIAAN HAKIKI

SUCIKAN HATI GAPAI KEBAHAGIAAN HAKIKI

Ustadzuna  Adil Abu Ashim.Lc

Kata tazkiyah ber­arti men­sucikan atau mem­ber­sihkan. Karena itulah sedekah harta dinamakan Zakat harta . Tujuan­nya adalah dengan dikeluar­kan­nya hak Allah Ta‘ala dari harta itu ia men­jadi suci dan ber­sih. Dari kata tazkiyah dikenallah istilah Tazkiyah An-Nafs yang ber­makna mem­ber­sihkan Jiwa . dari setiap kotoran dan pening­katan­nya menuju kemuliaan akh­lak.

Hal ini merupakan salah satu tujuan pen­ting diutus­nya Nabi Muham­mad Shollallahu alaihi wasallam yang juga merupakan salah satu rukun kenabian beliau. Firman Allah:

هُوَ الَّذى بَعَثَ فِى الأُمِّيّۦنَ رَسولًا مِنهُم يَتلوا عَلَيهِم ءايٰتِهِ وَيُزَكّيهِم وَيُعَلِّمُهُمُ الكِتٰبَ وَالحِكمَةَ وَإِن كانوا مِن قَبلُ لَفى ضَلٰلٍ مُبينٍ

Dia-lah yang meng­utus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang mem­bacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan meng­ajarkan kepada mereka Kitab dan Hik­mah (As Sunah). Dan sesung­guh­nya mereka sebelum­nya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”( QS. Al-Jum‘ah:2 )

Karenanya siapapun yang meng­harapkan surga dan takut neraka serta meng­harapkan kebahagiaan hakiki mesti mem­per­hatikan keber­sihan hatinya. Sebab Allah juga telah meng­gan­tungkan kebahagiaan seorang hamba kepada tazkiyah an-nafs ini. Sam­pai Allah ber­sum­pah sebanyak 11 kali secara berun­tun di dalam Al-Qur‘an untuk memas­tikan hal ter­sebut. Firman Allah:

وَالشَّمسِ وَضُحىٰها ﴿١﴾ وَالقَمَرِ إِذا تَلىٰها ﴿٢﴾ وَالنَّهارِ إِذا جَلّىٰها ﴿٣﴾ وَالَّيلِ إِذا يَغشىٰها ﴿٤﴾ وَالسَّماءِ وَما بَنىٰها ﴿٥﴾ وَالأَرضِ وَما طَحىٰها ﴿٦﴾ وَنَفسٍ وَما سَوّىٰها ﴿٧﴾ فَأَلهَمَها فُجورَها وَتَقوىٰها ﴿٨﴾ قَد أَفلَحَ مَن زَكّىٰها ﴿٩﴾ وَقَد خابَ مَن دَسّىٰها ﴿١٠

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila meng­iringinya, dan siang apabila menam­pak­kan­nya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pem­binaan­nya, dan bumi serta peng­ham­paran­nya, dan jiwa serta penyem­pur­naan­nya (cip­taan­nya), maka Allah meng­il­hamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan, sesung­guh­nya ber­un­tunglah orang yang men­sucikan jiwa itu, dan sesung­guh­nya merugilah orang yang meng­otorinya. (QS.As-Syams:1–10) [1]

Ter­nyata kecukupan materi dan kemajuan tek­nologi yang kita sak­sikan belakangan ini tidak men­jamin kebahagiaan hidup. Bahkan fakta ber­bicara lain, bahwa kegalauan hidup dan kekeringan jiwa men­jadi fenomena yang men­jamur di mana-mana. Manusia saat ini lebih meng­edepankan alam materi, yang men­jadikan mereka bak robot yang otak­nya hanya ter­peras demi uang. Semen­tara kebutuhan rohani ber­upa pengajaran agama, tauhid, pen­didikan ruhiyah, tazkiyah bagi jiwa seakan tak men­dapat porsi bagi waktu-waktu mereka.[2] Mereka ter­tipu dengan kesenangan Al-Wahmiayah ( semu ) dan lupa dengan kesenangan yang hakiki dan abadi. Firman Allah ta‘ala:

يَعلَمونَ ظٰهِرًا مِنَ الحَيوٰةِ الدُّنيا وَهُم عَنِ الءاخِرَةِ هُم غٰفِلونَ

Mereka Hanya meng­etahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka ten­tang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS.Arrum: 7 )

Mereka hanya ter­paku dan yakin pada sebab-sebab yang zhohir. Tidak yakin kepada zat yang men­jadikan sebab akibat dan yang ber­kuasa ter­hadap apa saja. Sehingga hati mereka dan cen­derung hanya men­cari dunia dan gemer­lap­nya yang fana, lalai dari akhirat, tidak meng­harap Surga, tidak takut Neraka, per­jum­paan dengan Allah tidak meng­getar­kan­nya. Sung­guh inilah kelalaian yang nyata dan per­tanda kecelakaan yang abadi.

Aneh­nya dari jenis manusia seperti ini ada yang kecerdikan dan kamahiran­nya ter­hadap hal yang ber­sifat duniawi dapat men­cengangkan akal dan menakjubkan bagi orang-orang yang punya pikiran. Mereka men­cetuskan ber­ba­gai tek­nologi mutakhir, pem­bang­kit lis­trik, sarana komunikasi dan tran­por­tasi, serta yang lain­nya. Sehingga merekapun bangga dengan otak dan kemam­puan yang Allah mudahkan bagi mereka. Merekapun meman­dang orang lain dengan pan­dangan remeh dan hina.

Tetapi ter­nyata mereka juga adalah manusia paling bodoh ter­hadap diin ( agama ) mereka, orang paling lalai ter­hadap akhirat mereka, lupa kepada Allah sehingga Allahpun mem­buat mereka lupa ter­hadap diri mereka sen­diri, sung­guh mereka itulah orang – orang yang fasik.[3]

Per­hatikanlah siksa demi siksa yang Allah tim­pakan bagi mereka akibat lalai men­tazkiyah hati mereka dan meng­ikuti hawa nafsu saja, Allah ta‘ala berfirman :

وَلا تُطِع مَن أَغفَلنا قَلبَهُ عَن ذِكرِنا وَاتَّبَعَ هَوىٰهُ وَكانَ أَمرُهُ فُرُطًا

“ …dan janganlah kamu meng­ikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari meng­ingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaan­nya itu melewati batas. (QS.Alkahfi:28 )

Dian­tara siksa yang Allah ber­ikan kepada mereka yang lalai dari per­ingatan dan meng­ingat Allah adalah : Hati yang selalu sibuk. Selalu lalai yang men­jadikan lupa akan hal-hal yang ber­man­faat baginya. Kemudian urusan­nya kacau balau. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan per­tolongan Allah. Lihat­lah mereka, kalau otak sudah sibuk, fisik selalu mak­siat, lalu lalai dari tugas yang sebenar­nya apa lagi pen­deritaan yang kurang dari ini.[4]

Barang kali seba­gai bahan renungan, setiap kita mung­kin telah tahu kemajuan dan kemak­muran Negara Swiss, negara ini ter­masuk salah satu negara ter­kaya di dunia. Fakta men­cengangkan ter­nyata negara ini adalah negara dengan kasus bunuh diri ter­banyak. Akan­kah mereka tega mem­bunuh diri mereka jikalau mereka men­dapatkan kebahagiaan yang hakiki? Ataukah memang mereka bunuh diri untuk meng­akhiri kegalauan dan pen­deritaan batin yang mereka rasakan? Tentu jawabanya ialah karena ingin menyudahi pen­deritaan batin yang mereka alami. Kasihan memang.

Kemudian kita semua mung­kin masih ingat krisis moneter yang melanda negeri kita yang ter­cinta ini. Per­sis­nya pada tahun 1998/1999 di peng­hujung Era Orde Baru. Dimana harga Rupiah ter­hadap Dollar US. sekitar 14,000 rupiah. Keributan, demon­strasi, pen­jarahan merupakan peman­dangan sehari-sehari. Parah­nya lagi, yang barang kali luput dari per­hatian sebagian kita yaitu penuh­nya rumah sakit jiwa saat itu. Siapakah yang memenuhi rumah-rumah sakit ter­sebut? orang mis­kin atau para buruh? ter­nyata tidak, mereka adalah orang-orang kaya, para konglomerat kelas atas. Benar­lah firman Allah Ta‘ala yang berbunyi :

الَّذينَ ءامَنوا وَتَطمَئِنُّ قُلوبُهُم بِذِكرِ اللَّهِ ۗ أَلا بِذِكرِ اللَّهِ تَطمَئِنُّ القُلوبُ

(yaitu) orang-orang yang ber­iman dan hati mereka man­jadi ten­teram dengan meng­ingat Allah. Ingat­lah, Hanya dengan meng­ingati Allah-lah hati men­jadi ten­teram.( QS.Ar-Ro‘du: 28 )

ٍMakna ( Tath­mainnu Qulubuhum ) Hati mereka jadi ten­teram ialah : lenyaplah kegon­cangan dan kecemasan dari hati mereka, kemudian Allah gan­tikan dengan kedamaian, kesenangan serta kelapangan pada batin mereka.[5]

Adapun orang-orang yang jauh dari pedoman hidup yang benar ( Islam ) dan jauh dari tun­tunan Allah dan Rasul­nya maka mereka merasakan kegon­cangan hati, putus asa, tidak per­nah puas dengan apa yang mereka miliki. Kecen­drungan ter­jadinya stress pada diri mereka sangat tinggi. Hidup tidak ber­kah, itu semua merupakan salah satu siksa dari Allah pada mereka di dunia. Adapun orang ber­iman Allah akan men­jadikah kekayaan pada hati mereka, bagaikan per­ben­daharaan harta yang tidak ada habis­nya. Sabda Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam :

من كانت الآخرة همه جعل الله غناه في قلبه وجمع له شمله وأتته الدنيا وهي راغمة، ومن كانت الدنيا همه جعل الله فقره بين عينيه وفرق عليه شمله ولم تأت من الدنيا إلا ما قدر له . رواه الترميذي وابن ماجه

“ Barang siapa yang meng­harapkan akhirat, Allah akan men­jadikan kekayaan di hatinya dan meng­him­pun seluruh urusan­nya bagi dia, serta dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tun­duk. Adapun siapa yang meng­harapkan dunia, Allah akan men­jadikan kefakiran di depan matanya dan men­cerai ber­aikan urusan­nya, serta dunia tidak akan datang kepadanya kecuali yang sudah ditakdirkan baginya”. ( Riwayat Tir­midzi dengan riwayat yang dhoif, tetapi diper­kuat dengan haitds serupa riwayat Ibnu Majah, dalam Az-Zuhd II/1375 dengan lafal yang berbeda)

Demikianlah, kalau sean­dainya para Raja pun meng­etahui kelezatan dan kesenangan (batin) yang didapatkan para Ulama, niscaya mereka akan meram­pas kesenangan ter­sebut dari para Ulama sekalipun dengan pedang-pedang mereka. Hal ter­sebut adalah dikarenakan Allah tidak akan mem­berikan kesenangan, keber­kahan hidup, kepuasan batin kecuali kepada kekasih dan para walinya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah ber­kata: Demi Allah tidak akan per­nah memasukan ke surga akhirat orang yang tidak per­nah merasakan surga dunia. Mak­sud beliau surga dunia ialah kelezatan batin yang didapatkan seseorang tat­kala sedang melakukan ketaatan kepada Allah ta‘ala. Hal ini senada dengan apa yang dikatan Imam An-Nawawi Rahimahullah tat­kala men­tafsirkan Hadits Rasululloh Shollallahu alaihi wasallam yang berbunyi:

ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله ، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أن أنقذه الله منه ، كما يكره أن يقذف في النار . رواه البخاري ومسلم

“ Ada tiga poin barang siapa ada padanya akan merasakan manis­nya iman : Allah dan Rasul­nya lebih ia cin­tai dari selain keduanya, men­cin­tai seseorang karena Allah, benci untuk kem­bali kepada kekafiran setelah Allah meng­eluar­kan­nya dari kekufuran ter­sebut, seba­gaimana ben­cinya apabila ia dicam­pakkan kedalam neraka.” ( HR.Bukhori no :16. dan Mus­lim no:43 )

Makna “ Halawatul Iman” ( Manis­nya iman ) kata beliau ialah: Merasakan kelezatan ibadah dan sabar menang­gung kesusahan ibadah ” . [6] Sehingga dia meyakini dan merasakan kedamaian dan kesejukan batin hanya kalau ber­ada di sam­ping Allah dan ber­kholwat dengan­nya, dengan melalui men­jalankan segala per­in­tah dan men­jauhi segala larangan-Nya. Keseng­saraan dan kecelakaan sangat ter­asa tat­kala jauh dari sang Kholiq dan juga tat­kala mening­galkan per­in­tah atau melang­gar larangan-Nya.Renungkan juga firman Allah:

وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرى فَإِنَّ لَهُ مَعيشَةً ضَنكًا وَنَحشُرُهُ يَومَ القِيٰمَةِ أَعمىٰ ﴿١٢٤﴾ قالَ رَبِّ لِمَ حَشَرتَنى أَعمىٰ وَقَد كُنتُ بَصيرًا ﴿١٢٥﴾ قالَ كَذٰلِكَ أَتَتكَ ءايٰتُنا فَنَسيتَها ۖ وَكَذٰلِكَ اليَومَ تُنسىٰ ﴿١٢٦

“ Dan barang­siapa ber­paling dari peringatan-Ku, Maka Sesung­guh­nya baginya peng­hidupan yang sem­pit, dan kami akan meng­him­pun­kan­nya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Ber­katalah ia: “Ya Tuhanku, Meng­apa Eng­kau meng­him­punkan Aku dalam keadaan buta, padahal Aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”.

Allah ber­firman: “Demikianlah, Telah datang kepadamu ayat-ayat kami, Maka kamu melupakan­nya, dan begitu (pula) pada hari Ini kamupun dilupakan “( QS.:Thoha : 124–126 )

Demi Allah, Sik­saan batin yang dirasakan orang Kafir didunia ini bila diban­dingkan dengan ‘adzab Allah di akhirat nanti belum ada apa-apanya. Masih dikatakan dunia ini adalah surga bagi mereka (Semoga Allah melin­dungi kita dari azabnya) jika dikiyaskan dengan pen­deritaan yang Allah akan tim­pakan bagi mereka diakhirat ber­upa ‘Azab kubur, Api neraka dan lainya. Semen­tara bagi seorang muk­min dunia ini lak­sana pen­jara sekalipun ia ber­ada diatas kemewahan duniawi. Kalau memang diban­dingkan dengan kesenangan yang Allah Ta‘ala siapkan bagi orang-orang yang ber­iman diakhirat kelak. Seperti nik­mat kubur, nik­mat surga, ter­lebih lagi jika melihat Wajah Yang Maha Rohman Jalla Wa‘ala.

Jangan sam­pai kita digolongkan kepada orang-orang yang seperti disebutkan dalam Firman Allah, yaitu yang di akhirat kelak penuh dengan pen­deritaan dan penyesalan :

وَهُم يَصطَرِخونَ فيها رَبَّنا أَخرِجنا نَعمَل صٰلِحًا غَيرَ الَّذى كُنّا نَعمَلُ ۚ أَوَلَم نُعَمِّركُم ما يَتَذَكَّرُ فيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجاءَكُمُ النَّذيرُ ۖ فَذوقوا فَما لِلظّٰلِمينَ مِن نَصيرٍ

“Dan mereka ber­teriak di dalam neraka itu, ‘Ya Rabbi, keluar­kanlah kami. niscaya kami akan meng­er­jakan amalan saleh ber­lainan dengan apa yang telah kami ker­jakan.’ Bukan­kah Kami telah meman­jangkan umurmu dalam masa yang cukup bagi orang yang mau ber­pikir?! Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.” (QS: Faathir: 37)

Sean­dainya kita mau ber­pikir betapa meng­erikan­nya hari-hari itu sehingga kita merenungkan jalan hidup kebanyakan manusia di dunia yang kita lihat selama ini, niscaya kita akan sadar betul bahwa ter­nyata masih banyak di antara kita yang telah ter­lena dengan kein­dahan dunia yang semu ini dan lupa bahwa setelah kehidupan dunia yang semen­tara ini masih ada kehidupan lain yang kekal abadi yang lamanya satu hari di sana sama dengan 50 ribu tahun di dunia!

Kita telah ter­lena dengan gemer­lap­nya dunia dan lupa untuk ber­ibadah kepada Allah dan ber­amal saleh. Padahal pada hakikat­nya kita hanya diminta untuk ber­amal selama 30 tahun saja! Tidak lebih dari itu. Suatu waktu yang amat singkat!

Ya, kalaupun umur kita 60 tahun, sebenar­nya kita hanya diminta untuk ber­amal selama 30 tahun saja. Karena umur yang 60 tahun itu akan dikurangi masa tidur kita di dunia yang jika dalam satu hari adalah 8 jam, ber­arti masa tidur kita adalah seper­tiga dari umur kita yaitu : 20 tahun. Lalu kita kurangi lagi dengan masa kita sebelum balig, karena seseorang tidak ber­kewajiban untuk ber­amal melainkan setelah ia balig, taruh­lah jika kita balig pada umur 10 tahun, ber­arti umur kita hanya ting­gal 30 tahun!

Subhanallah, bayangkan, pada hakikat­nya kita diperin­tahkan untuk ber­susah payah dalam ber­amal saleh di dunia hanya selama 30 tahun saja! Alang­kah naif­nya jika kita enggan ber­susah payah selama 30 tahun di dunia untuk ber­amal saleh, sehingga akan ber­akibat kita men­dapat sik­saan yang amat pedih di akhirat selama puluhan ribu tahun.[7] Maka janganlah kita men­jual akhirat kita dengan harga dunia. Selayak­nya kita jus­tru mem­beli akhirat kita dengan segala apa yang kita miliki di dunia ini.

Wallohu A’alam Bishowab.

 

Sum­ber: Majalah As-Saliim edisi 1,Agustus 2008

______________

Maroji’:

[1] Manajemen Qalbu Para Nabi menurut al-Qur‘an dan as-Sunnah, Syekh Salim Bin Ied al-Hilali hal: 33.

[2] Lihat Mukoddimah ter­jemah Tazkiyatun Nufus, Imtihan As-Syafi‘I  hal: V.

[3] Taisirul Karimir Rahman Fi taafsiri Kalamil Mannan, Syekh Abd.Rahman as-Sa‘di hal : 748. dengan penyesuaian.

[4] Lihat Tazkiyatun Nufus watar­biyatuha kama yuqor­riruha Ulamau As-Salaf, Dr.Ahmad Farid hal: 38.

[5] Fiqh ad‘iyah wal-adzkar, Syekh Abdur Rozzaq Abdul Muhsin Badr hal: 17.

[6] Fathul majid lisyarhi Kitab at-Tauhid, Abdir­rohman Bin Hasan Bin Muham­mad Bin Abdil Wahhab hal: 388.

[7] Kutipan dari Makalah : Abu Abdir­rahman Abdullah Zaen, Lc. yang beliau ambil dari satu nasihat yang disam­paikan Syaikh Prof. Dr. Abdur­razzaq bin Abdul Muhsin al-’Abbad .

Sumber : http://www.hang106.or.id/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: