AKIDAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL -rohimahulloh-

AKIDAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL -rohimahulloh-

Oleh : Abu Abdillah Addariny

BIOGRAFI IMAM AHMAD BIN HAMBAL –rohimahulloh-

Nama beliau Ahmad bin Hambal bin Hilal adz-Dzuhli asy-Syaibani al-Marwazi al-Baghdadi. Kun-yahnya Abu Abdillah.

Nenek moyang beliau berasal dari Moro, tapi beliau dilahirkan di Kota Bagdad dan di sanalah beliau belajar agama.

Beliau telah safari menuntut ilmu ke berbagai negara, diantaranya: Kufah, Bashroh, Syam, dan Yaman. Dalam perjalanan itu beliau lebih menitikberatkan pada hadits. Setelah itu beliau kembali lagi ke bagdad.

Ketika Imam Syafii datang ke Bagdad, beliau belajar fikih kepadanya. Kemudian beliau berijtihad sendiri dalam masalah-masalah fikih. Beliaulah imamnya Madzhab Hambali, beliau juga imam dalam bidang hadits dan fikih.

Beliau terkenal dengan sikap tegasnya ketika terjadi fitnah merebaknya pemikiran bahwa “Alquran itu makhluk”, sekaligus menjadi sosok terdepannya kelompok yang menentang pemikiran bid’ah itu. Sehingga beliau dan para sahabatnya mengalami banyak penyiksaan dan cobaan.

Al-Mu’tashim sebagai kholifah pada waktu itu, telah memerintahkan para algojonya untuk menderanya hingga tubuhnya tercabik-cabik, lalu dijebloskan ke tahanan selama kurang lebih 28 bulan. Selama di penjara itu beliau mengalami berbagai macam penyiksaan, tapi beliau tetap teguh dalam pendiriannya, sambil mengharapkan pahala dari Alloh ta’ala.

Ketika mereka yakin bahwa beliau tidak akan menuruti tuntutan mereka, akhirnya mereka melepaskan beliau dari tahanan.

Pada masa pemerintahan al-Watsiq Billah, beliau dilarang berfatwa kepada siapapun, dan diharuskan untuk mengungkung dirinya dari masyarakat, maka beliau pun menetap dalam rumahnya sampai meniggalnya Al-Watsiq Billah.

Dan cobaan itu baru berakhir ketika Al-Mutawakkil menjadi kholifah, dan sirnalah fitnah pemikiran bahwa “Alquran itu makhluk”.

Kholifah Almutawakkil kemudian menampakkan penghormatannya kepada beliau, dan memanggil beliau ke istana, untuk memberikan penghargaan yang sangat besar, tapi beliau tidak bersedia menerimanya.

Tidak sampai di sini, bahkan Almutawakkil setiap harinya juga mengirim makanan khususnya kepada beliau, ia mengira beliau memakannya, tapi sebenarnya beliau selalu puasa sepanjang hari itu, hingga meninggalkan Kota Samurro dan pulang kembali ke Bagdad

Beliau mengambil hadits dari para pemuka ahli hadits dan para syeikh besar kota Bagdad. Sebaliknya banyak pula yang meriwayatkan darinya, diantaranya: Imam Bukhori, Imam Muslim, dan banyak imam lain yang sederajat dengan keduanya.

Beliau adalah imamnya para ahli hadits di zamannya. Kedudukan beliau lebih kuat di barisan para ahli hadits dari pada di barisan para ahli fikih.

Diantara hasil karyanya adalah: “Al-Musnad” yang berisi lebih dari 40 ribu hadits. kitab “Tho’atur Rosul”, kitab “an-Nasikh wal Mansukh”, kitab “Al-Ilal”, kitab “Al-Jarhu wat Ta’dil”, dan masih banyak kitab-kitab beliau yang lainnya. Beliau meninggal pada usia 77 tahun.

(Lihat biografi beliau di Al-A’lam 1/192, Tarikh Bagdad 4/412, Al-Bidayah wan Nihayah 10/316, Syadzarotudz Dzahab 2/96, Wafayatul A’yan 1/63, Al-Ibar 1/435, Al-fahrosat 320, Da’irotul Ma’arif al-islamiyah: Ibnu Hambal)

AKIDAH IMAM AHMAD BIN HAMBAL –rohimahulloh-

قال الإمام أحمد: لم يزل الله عزَّ وجلَّ متكلماً، والقرآن كلام الله عزَّ وجلَّ، غير مخلوق، وعلى كل جهة، ولا يوصف الله بشيءٍ أكثر مما وصف به نفسه، عزَّ وجلَّ

Imam Ahmad mengatakan: “Alloh azza wajall itu selamanya maha berbicara, sedang Alquran itu firman-Nya (kalamulloh) dan tidak makhluk dari sisi manapun. Alloh tidak boleh disifati lebih dari sifat yang diberikan-Nya untuk diri-Nya azza wajall. (kitab al-Mihnah li hambal, hal 68)

عن أبي بكر المروذي قال: سألت أحمد بن حنبل عن الأحاديث التي تردها الجهمية في الصفات والرؤية والإسراء وقصة العرش فصححها، وقال: تلقتها الأمة بالقبول وتمر الأخبار كما جاءت

Abu Bakar al-Marudzi mengatakan: Aku pernah bertanya kepada Ahmad bin Hambal tentang hadits-hadits yang ditolak oleh kelompok Jahmiyah, dalam hal sifat-sifat Alloh, ru’yah (melihat Alloh), isro’ mi’roj, kisah Arsy, maka beliau menshohihkan hadits-hadits tersebut. Beliau mengatakan: “Seluruh umat telah menerimanya, dan memperlakukannya dengan apa adanya”. (Manaqibusy Syafii libni Abi Hatim, hal. 182)

قال عبد الله بن أحمد: إن أحمد قال: من زعم أن الله لا يتكلم فهو كافر، إلاَّ أننا نروي هذه الأحاديث كما جاءت

Abdulloh bin Ahmad mengatakan, sungguh Imam Ahmad pernah mengatakan: “Barangsiapa beranggapan bahwa Alloh tidak berkata-kata, maka ia kafir. Sungguh kami meriwayatkan hadits-hadits tentang ini sebagaimana adanya”. (Thobaqotul Hanabilah 1/56)

عن حنبل أنه سأل الإمام أحمد عن الرؤية فقال: أحاديث صحاح، نؤمن بها، ونقر، وكل ما روي عن النبي – صلى الله عليه وسلم – بأسانيد جيدة نؤمن به ونقر

Hambal pernah bertanya kepada Imam Ahmad tentang ru’yah (melihat Alloh di surga), maka beliau menjawab: “Hadits-hadits (yang menerangkan hal itu) shohih, maka kami mengimani dan mengikrarkannya. Begitu pula setiap hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dengan sanad-sanad yang jayyid (bagus), maka kami mengimani dan mengikrarkannya. (Syarhu Ushuli I’tiqodi Ahlis sunnah wal Jama’ah lilla laka’i 2/507, as-Sunnah, hal. 71)

أورد ابن الجوزي في المناقب كتاب أحمد بن حنبل لمسدَّد وفيه: صفوا الله بما وصف به نفسه، وانفُوا عن الله ما نفاه عن نفسه

Ibnul Jauzi menceritakan dalam kitabnya “Al-Manaqib” tentang surat Imam Ahmad bin Hambal untuk Musaddad, beliau mengatakan: “Sifatilah Alloh dengan sifat yang diberikan-Nya kepada diri-Nya, dan nafikanlah dari Alloh, apa yang dinafikan-Nya dari diri-Nya. (Siyaru a’lamin nubala 10/591, Tahdzibut tahdzib 10/107)

قال الإمام أحمد: وزعم – جهم بن صفوان – أن من وصف الله بشيءٍ مما وصف به نفسه في كتابه، أو حدَّث عنه رسوله كان كافراً وكان من المشبِّهة

Imam Ahmad mengatakan: “Jahm bin Shofwan telah beranggapan (dengan anggapan yang salah), bahwa siapa saja yang menyifati Alloh dengan sifat yang diberikan Alloh di dalam kitab-Nya, atau diberikan Rosul untuk-Nya, maka ia kafir dan termasuk dalam golongan musyabbihah (yang menyerupakan Alloh dengan makhluk-Nya)” (Manaqibul Imami Ahmad, hal. 221)

قال الإمام أحمد: نحن نؤمن بأن الله على العرش، كيف شاء، وكما شاء، بلا حد، ولا صفة يبلغها واصف أو يحده أحد؛ فصفات اللهِ منه وله، وهو كما وصف نفسه، لا تدركه الأبصار

Imam Ahmad mengatakan: “Kami mengimani bahwa Alloh berada di atas Arsy, sesuai kehendak-Nya, seperti yang dikehendaki-Nya, dengan tanpa batasan dan sifat dari siapapun. Karena sifat Alloh adalah dari-Nya dan untuk-Nya, Dia itu sebagaimana disifati oleh-Nya, dan Dia tidak bisa dilihat oleh indra mata (ketika di dunia)”. (Dar’u Ta’arudhil Aqli wan Naql libni Taimiyah 2/30)

قال الإمام أحمد: من زعم أن اللهَ لا يُرى في الآخرة فهو كافر مكذب بالقرآن

Imam Ahmad mengatakan: “Barangsiapa beranggapan bahwa Alloh tidak bisa dilihat pada hari kiamat, maka ia telah kafir, dan telah mendustakan Alqur’an” (Thobaqotul Hanabilah 1/59, 145).

عن عبد الله بن أحمد، قال: سألت أبي عن قوم يقولون: لما كلم اللهُ موسى، لم يتكلم بصوت فقال أبي: تكلم اللهُ بصوت، وهذه الأحاديث نرويها كما جاءت

Abdulloh bin Ahmad mengatakan: “Aku pernah bertanya kepada ayahku, tentang suatu kaum yang mengatakan bahwa “ketika Alloh berbicara dengan Musa, Dia tidak berbicara dengan suara”, maka ayahku menjawab: “Alloh berbicara dengan suara, dan hadits-hadits tentang hal ini, kami meriwayatkannya sebagaimana adanya”.

عن عبدوس بن مالك العطار، قال: سمعت أبا عبد الله أحمد بن حنبل يقول: … والقرآن كلام اللهِ، وليس بمخلوق، ولا تضعف أن تقول ليس بمخلوق؛ فإن كلام اللهِ منه، وليس منه شيء مخلوق

Abdus bin Malik al-Aththor mengatakan: Aku pernah mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hambal mengatakan: “… Alquran adalah kalamulloh, ia tidaklah makhluk. Dan jangan sampai kamu lembek untuk mengatakan bahwa Alquran itu tidak makhluk, karena kalamulloh itu dari-Nya, dan tidak ada sesuatupun dari-Nya yang makhluk. (Syarhu ushuli I’tiqodi Ahlis sunnah wal jama’ah lilla laka’i 1/157)

Demikian seri tulisan akidah imam empat ini, penulis berharap semoga tulisan ini menjadi amal yang ikhlas karena mengharap wajah-Nya yang mulia, dan semoga Dia memberikan taufiq kepada kita semua, untuk menyusuri jalan kitab-Nya dan tuntunan sunnah rosul-Nya… amin. wa’aakhiru da’waanaa ‘anil hamdulillahi robbil alamin…

Selesai di Madinah, selasa, 22/11/1430 H.

NB: Serial akidah imam empat ini, adalah tarjamah -dengan sedikit penyesuaian- dari tulisan syeikh Abu Ibrohim ar-Ro’isi al-ummani, tertanggal 18 shofar 1423 H. Yang ingin naskah aslinya, bisa merujuknya ke link berikut: http://arabic.islamicweb.com/sunni/imams_creed.htm

Sumber : http://addariny.wordpress.com/2009/11/10/akidah-imam-ahmad-bin-hambal-rohimahulloh/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: