Mengenal Ahlul Bait Nabi Shallallahu alaihi wa sallam

Mengenal Ahlul Bait Nabi Shallallahu alaihi wa sallam

Oleh : Ahmad Khamidin As-Sidawy 

Di antara bukti keimanan seseorang muslim adalah mencintai ahlul bait Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, karena mencintai ahlul bait merupakan pilar kesempurnaan iman seorang muslim. Hal ini sebagaimana telah disebutkan pada artikel pengantar mengenai sikap ahlus sunnah terhadap ahlul bait. Untuk itu, mari kita kenali apa itu ahlul bait Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam dan siapa saja mereka.

Pernyataan cinta kepada ahlul bait Nabi sekarang tidak hanya datang dari kalangan Ahlus Sunnah semata, akan tetapi juga didengungkan oleh beberapa kelompok ahlul bid’ah seperti Syi’ah dan yang sealiran dengan mereka.

Mereka lakukan hal itu dalam rangka mengelabui dan menipu umat Islam sehingga mereka bingung dan tidak mengenal kebejatan dan kebencian mereka terhadap ahlul bait, khususnya Syi’ah yang tidak kalah hebatnya dalam mempropagandakan pernyataan cinta mereka kepada ahlul bait seakan-akan merekalah satu-satunya kelompok yang paling mencintai ahlul bait.

Untuk menjawab kebingungan umat ini, maka perlu adanya pembahasan tuntas tentang perbedaan Ahlus Sunnah dan Ahlul Bid’ah di dalam menempatkan kedudukan Ahlul bait, serta siapakah yang sebenarnya yang benar-benar mencintai ahlul bait dan siapakah yang justru membenci mereka?

1 Siapakah Ahlul Bait Itu?

Sebelum kita membahas tentang Ahlul Bait secara detail dan yang memusuhi mereka, sepantasnyalah kita mengenal terlebih dahulu, siapakah sebenarnya Ahlul Bait itu?

Secara bahasa, kata (Al-Ahlu) berasal dari (Ahila – Ya’halu = Ahlan wa uhuulan) seperti (Ahlul makaan) berarti menghuni suatu tempat. 1

(Ahlu) jamaknya adalah (Ahluuna wa Ahlaatu wa Ahaalii) misal (Ahlul Islam) artinya pemeluk Islam. (Ahlul Makkah) artinya penduduk Mekah. (Ahlul Bait) berarti penghuni rumah. 2 Dan (Ahlu Baitin Nabi) artinya keluarga Nabi yaitu para istri, anak perempuan Nabi serta kerabatnya Ali dan istrinya. 3

Sedangkan menurut istilah, para ulama’ Ahlussunnah telah sepakat tentang Ahlul bait bahwa mereka adalah keluarga Nabi yang diharamkan memakan shadaqoh. 4 Mereka terdiri dari keluarga Ali, keluarga Ja’far, keluarga Aqil, keluarga Abbas 5 keluarga bani Harits bin Abdul Muthalib serta para istri beliau dan anak-anak mereka. 6

Memang ada perselisihan, apakah para istri Nabi termasuk Ahlul bait atau bukan? Dan yang jelas bahwa arti Ahlu menurut bahasa (etimologi) tidak mengeluarkan para istri nabi untuk masuk ke ahlul bait, demikian juga penggunaan kata “Ahlu” di dalam Al-Qur’an dan hadits tidak mengeluarkan mereka dari lingkup istilah tersebut, yaitu Ahlul bait.

Allah Tabaroka Wa Ta’ala berfirman,

وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Dan taatlah kalian kepada Allah dan rasulNya, sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan rijs dari kalian wahai ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya. (Al-Ahzab: 33)

Ayat ini menunjukkan para istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam termasuk ahlul bait. Jika tidak, maka tidak ada faidahnya mereka disebutkan dalam ucapan itu (ayat ini) dan karena semua istri Nabi adalah termasuk ahlul bait sesuai dengan nash Al-Qur’an. Maka mereka mempunyai hak yang sama dengan hak-hak ahlul bait yang lain. 7

Berkata Ibnu Katsir rohimahullah , “Orang yang memahami Al-Qur’an tidak ragu lagi bahwa para istri Nabi masuk ke dalam ahlul bait.” 8 Dan ini merupakan pendapat Imam Al-Qurtuby, Ibnu Hajar, Ibnu Qoyim dan yang lainnya. 9

Ibnu Taimiyah Rohimahullah berkata,

Yang benar (dalam masalah ini) bahwa para istri Nabi adalah termasuk ahlul bait. Karena telah ada dalam hadits yang diriwayatkan di shahihain yang menjelaskan bahwa Nabi mengajari lafadz bersholawat kepadanya dengan,

[Allaahumma shalli ‘ala muhammadin wa azwaajihi wa dzurriyatihi] yang artinya, Ya Allah berilah keselamatan atas muhammad dan istri-istrinya serta anak keturunannya. (Diriwayatkan Imam Bukhari) 10

Demikian juga istri Nabi Ibrahim adalah termasuk keluarganya sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Al-Qur’an.

Maka bagaimana istri Nabi Shallallaahu alaihi Wa Sallam bukan 11 termasuk keluarga beliau?!

Ada pula sebagian ulama yang berpendapat bahwa keluarga Nabi Shallallaahu alaihi Wa Sallam adalah para pengikutnya dan orang-orang yang bertaqwa dari umatnya, akan tetapi pendapat ini adalah pendapat yang lemah dan telah dibantah oleh Imam Ibnu Qoyim rohimahullah dengan pernyataan beliau bahwa Rasulullah telah menyatakan bahwa Ahlu bait adalah mereka yang diharamkan menerima shadaqah. 12

Setelah kita mengetahui ta’rif (definisi) ahlul bait dari segi bahasa dan istilah, maka untuk menepis kerancuan yang dihembuskan oleh Syi’ah, berikut akan kami jelaskan kecurangan syi’ah yang membatasi ahlul bait hanya sebagian kecilnya saja. Ini menjadi bukti bahwa sebenarnya mereka tidak mencintai ahlul bait itu sendiri.

2 Perbedaan Ahlul Bait Dalam Istilah Syar’i Dengan Versi Syi’ah

Setelah kita mengetahui siapa sebenarnya ahlul bait itu, perlu kita pahami bahwa istilah “syar’i” yang dipakai dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dan bukan merupakan istilah bid’ah.

Allah berfirman tentang para istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam,

وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Dan taatlah kalian kepada Allah dan rasulNya, sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan rijs dari kalian wahai ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya. (Al-Ahzab: 33).

Berkata Syaikh Abdurrahman As-Sa’di,

Makna rijs adalah (ahlul bait dijauhkan) segala macam gangguan, kejelekan, dan perbuatan keji. 13

Allah Ta’ala berfirman memerintah para istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ,

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ

Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). (Al-Ahzab: 34)

Ibnu Katsir rohimahullah berkata,

Yaitu kerjakanlah dengan apa yang diturunkan oleh Allah kepada RasulNya berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah di rumah-rumah kalian.

Berkata Qotadah dan yang lainnya,

Dan ingatlah dengan nikmat yang dikhususkan kepada kalian dari sekalian manusia, yaitu berupa wahyu yang turun ke rumah-rumah kalian tanpa yang lain. 14

Dalam sebuah hadits juga dijelaskan,

Dari Zaid bin Arqom, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam suatu hari berkhutbah, “Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlul baitku (sampai tiga kali).” Maka Husain bin Sibroh (yakni perawi hadits) bertanya kepada Zaid,

Siapakah Ahlul bait beliau wahai Zaid, bukankah istri-istri beliau termasuk ahlil baitnya?

Zaid menjawab, Para istri nabi memang termasuk ahlul bait, akan tetap yang dimaksud di sini, orang yang diharamkan sedekah setelah wafatnya beliau.

Lalu Husain berkata, “Siapakah mereka?” Beliau menjawab, “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas.” Husain bertanya kembali, “Apakah mereka semuanya diharamkan zakat?” Zaid menjawab, “Ya..” 15

Dari sini jelas penggunaan istilah ahlul bait adalah istilah syar’i dan bermakna istri dan kerabat dekat beliau dari keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas yang merupakan keluarga bani Hasyim.

Sedangkan Ahlul bait menurut orang syi’ah hanyalah sahabat Ali, kemudian anaknya, Hasan bin Ali, putrinya yaitu Fatimah. Mereka dengan terang-terangan mengatakan bahwa semua pemimpin kaum muslimin selain Ali dan Hasan adalah thoghut walaupun mereka menyuruh kepada kebenaran.

Orang Syi’ah menganggap bahwa Khulafaur Rasyidin adalah para perampas kekuasaan Ahlul bait sehingga mereka mengkafirkan semua khalifah, bahkan semua pemimpin kaum muslimin. 16

Tidak diragukan lagi, bahwa mereka telah menyimpang dari Aqidah yang lurus, yaitu Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Maka kita katakan bahwa membatasi Ahlul bait itu hanya terbatas kepada Ali, Hasan bin Ali serta Fatimah, yang keduanya adalah anak Sahabat Ali adalah merupakan batasan yang tidak ada sandaran yang benar baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah.

Sesungguhnya pembatasan ini adalah merupakan perkara bid’ah yang tidak dikenal oleh ulama salaf sebelumnya.

Anggapan ini sebenarnya hanyalah muncul dari hawa nafsu orang-orang syi’ah karena dendam kesumat serta kedengkian mereka terhadap Islam dan Ahlul bait Rasulullah. Sehingga orang-orang syi’ah sejak zaman sahabat tidak menginginkan kejayaan Islam dan kaum muslimin, den dikenal sebagai firqoh yang ingin merongrong Islam dan menghancurkannya dengan segala cara.

Dan salah satu cara mereka adalah berlindung dibalik slogan cinta ahli bait Rasulullah walaupun secara hakikat sebenarnya merekalah yang membenci dan memusuhi mereka.

Pada bagian terakhir, akan dijelaskan syubhat (sesuatu yang dapat menimbulkan keragu-raguan) dari kaum syi’ah yang seolah-olah mereka membawakan dalil dengan benar. Simak bantahan terhadap syubhat itu dari para ulama’ pembela sunnah dengan keterangan mereka yang sangat jelas, sehingga sirnalah syubhat itu. Sekaligus juga akan disimpulkan mengenai ahul bait Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

3 Syubhat Dan Bantahannya

Syi’ah Rafidhah menyatakan bahwa Ali dan keturunannya dari Ahlul bait adalah orang-orang yang ma’shum dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.,

Wahai para manusia! Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian suatu perkara, kalau kalian mengambilnnya, maka kalian tidak akan tersesat, (yaitu) Kitabullah dan itrohku, ahli baitku. 17

Dalam hadits ini Rasulullah menggandengkan penyebutan kitabullah dan ahlul bait dengan menggunakan wawu ‘athof, sedangkan dalam kaidah ushul fiqh dikatakan bahwa fungsi wawu ‘athfi adalah,

Berserikatnya dua hal yang digandengkan dalam satu hukum, tidak dapat ditiadakan kecuali dengan dalil.

Hal ini berarti Ahlul bait sama dengan kitabullah dalam hal sebagai sumber yang terpelihara. Dan itu menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang ma’shum.

Maka kita jawab syubhat ini dengan ucapan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Beliau menjelaskan,

Bahwa yang dimaksud Ahlul bait di sini adalah para ulama’, orang-orang sholeh serta orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dari kalangan mereka (ahlul bait).Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thohawy berkata,

Al-Itrah

adalah Ahlul bait Nabi, yaitu orang-orang beragama dan komitmen dalam berpegang teguh dengan perintah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

Syaikh Ali Al-Qory juga mengucapkan perkataan senada dengan beliau, Sesungguhnya Ahlul bait itu pada umumnya adalah orang yang paling mengerti tentang shahibul bait 18 dan yang paling tahu hal ihwalnya.

Maka yang dimaksud dengan ahlul bait di sini adalah Ahul Ilmi (ulama’) di kalangan mereka yang mengerti tentang seluk-beluk hidupnya dan orang-orang yang menempuh jalan hidupnya serta orang-orang yang mengetahui hukum dan hikmahnya.

Dengan inilah, maka penyebutan ahlu bait dapat digandengkan dengan kitabullah, sebagaimana firmanNya,

… Dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. (Al-Jumu’ah: 2).

Syaikh Al-Albani mengatakan,

Dan yang semisalnya adalah firman Allah, Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu)… (Al-Ahzab: 34).

Maka jelaslah bahwa yang dimaksud Ahlul bait adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah dari kalangan mereka (ahlul bait). Mereka itulah yang dimaksud dengan ahlul bait dalam hadits itrah ini.

Dan oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjadikannya salah satu dari tsaqalain (dua hal yang berat) dalam hadits Zaid bin Arqom (yang telah lalu disebutkan) dan digandengkan dengan kitabullah.

Yang penting, penyebutan Ahlul bait bergandengan dengan kitabullah dalam hadits ini sama seperti penyebutan sunnah Khulafaurrasyidin beriringan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam sabdanya,  berpegangteguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin setelahku.

Syaikh Ali Al-Qory berkata tentang hadits ini,

Hal tersebut karena mereka tidak beramal kecuali dengan sunnahku (maksudnya Rasululllah Shallallahu alaihi wa sallam), maka penyebutan sunnah ini dinisbatkan kepada mereka baik karena mengamalkan sunnah Rasul atau karena istimbath 19 mereka terhadap sunnah itu. 20

Dari penjelasan Syaikh Al-Albani kita dapat mengambil dua kesimpulan yang mendasar, yaitu:

Bahwa yang dimaksud dengan Ahlul bait di sini adalah mereka yang mengerti sunnah Rasulullah dan perjalanan hidup beliau dan orang-orang yang komitmen di dalam memegang teguh dengan sunnahnya.

Setelah jelas bagi kita siapa yang dimaksud Ahlul bait di sini, maka penyebutan mereka bergandengan dengan penyebutan kitabullah itu, kedudukannya seperti penyebutan sunnah khulafaur rasyidin beriringan dengan sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam.

Sedangkan kita mengetahui bahwa penyebutan sunnah mereka dengan sunnah Rasul adalah karena mereka tidak pernah beramal kecuali dengan sunnah Rasulullah, sehingga penisbatan sunnah kepada mereka tidak berarti individu-individu mereka itu ma’shum.

4 Kesimpulan

Disebutkan oleh Ats-Tsa’labi dan Qodhi ‘Iyadh bahwa mereka adalah bani Hasyim secara keseluruhan. Dan yang termasuk dalam kategori ahlul bait adalah sebagai berikut:

Keluarga Ali, yaitu mencakup sahabat Ali sendiri, Fathimah (putrinya), Hasan dan Husain beserta anak turunnya.

Keluarga Aqil, yaitu mencakup Aqil sendiri dan anaknya yaitu Muslim bin Aqil beserta anak cucunya.

Keluarga Ja’far bin Abu Thalib, yaitu mencakup Ja’far sendiri berikut anak-anaknya yaitu Abdullah, Aus dan Muhammad.

Keluarga Abbas bin Abdul Muththolib, yaitu mencakup Abbas sendiri dan sepuluh putranya yaitu Abdullah, Abdurrahman, Qutsam, Al-Harits, Ma’bad, Katsir, Aus, Tamam, dan puteri-puteri beliau juga termasuk di dalamnya.

Keluarga Hamzah bin Abdul Muththolib, yaitu mencakup Hamzah sendiri dan tiga orang anaknya, yaitu Ya’la, ‘Imaroh, dan Umamah. 21

Para Istri Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam tanpa terkecuali. 22

Inilah pembahasan sekilas tentang Ahlul bait dan bagaimana sikap salaf terhadap mereka ditambah dengan bantahan-bantahan terhadap syubhat yang dilontarkan oleh Rafidhoh. Untuk lebih lanjut mengetahui bantahan-bantahan para ulama’ terhadap syubhat-syubhat mereka dapat dilihat dalam kitab Minhajus Sunnah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan iman dan taqwa kepada kita sehingga kita tetap istiqomah di dalam berpegang kepada manhaj nubuwah sampai akhir hayat kita. Amiin.

Catatan Kaki

…1 Lihat kamus Mu’jamul Wasith, hal. 31.

…2 Lihat kamus Lisanul Arab 1/253.

…3 Lihat kamus Muhit 1245.

…4 Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Zaid bin Arqom ketika Hushain bin Sibrah kepadanya tentang Ahlul bait Nabi. Lihat Shahih Muslim 7/122-223.

…5 Lihat kitab Taqrib Baina Ahlus Sunnah wasy Syi’ah oleh Dr. Nashir bin Abdillah bin ‘Ali Al-Qarafy 1/102 dan Syarah Aqidah Wasithiyah oleh Kholid bin Abdillah dan Al-Muslikh hal. 189. Majmu’ Fatawa 28/492.

…6 Lihat Minhajus Sunnah An-Nabawiyah 7/395.

…7 Lihat Majmu’ Fatawa 17/506.

…8 Lihat Tafsir Qur’anil Azhim 3/506.

…9 Seperti dinukil oleh Dr. Nashir bin Abdillah bin Ali Al-Qofari dalam kitab beliau, Masalatu Taqrib Bainas Sunnah Wa Syi’ah 1/103-105.

…10 Lihat Fathul Bari 6/408.

…11 Lihat Syarah Aqidah Wasithiyah oleh Syaikh Kholid bin Abdillah Al-Muslikh hal. 190.

…12 Lihat Jala’ Al-afham, hal. 126.

…13 Lihat Tafsir Karimir Rahman 2/916.

…14 Lihat Tafsir Al-Qur’anil Azhim 3/365.

…15 Shahih Muslim 7/122-123.

…16 Lihat Ushul Madhab Syi’ah karya Dr. Nashir bin Abdillah bin Ali Al-Qafary, 1/735-758.

…17 Diriwayatkan Imam Tirmidzi 2/308 dan Thabroni 2680 dan hadits ini shahih dengan syawahidnya. Lihat Ash-Shahihah 4/355,1761.

…18 Yang dimaksud adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

…19 istimbath yaitu mengambil/menetapkan hukum

…20 Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah 4/360-361.

…21 Lihat Fathul Bari 7/98.

…22 Lihat Minhajus Sunnah An-Nabawiyah, 7/76.

Dikutip dari majalah As-Sunnah 12/V/1421H hal 12 – 15

Dipublikasi ulang dari : http://blog.vbaitullah.or.id/

3 Responses

  1. kalau istri2 NAbi termasuk dalam ahlul bait dan juga yang dimaksud dengan ayat :
    Dan taatlah kalian kepada Allah dan rasulNya, sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan rijs dari kalian wahai ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya. (Al-Ahzab: 33).

    maka bagaimana kita melihat aisyah (sebagaiman sejarah mencatat), salah seorang istri Nabi, justru memerangi Khalifah Ali, yang justru diangkat secara aklamasi oleh umat muslim ?
    itu menunjukkan bahwa istari nabi tidk terbeas dari sifat rijs.

    jadi penjelasan ulama Islam Syiah lebih masuk di akal daripada penjelasan diatas.

  2. Mari kita lihat saat ini zaman yg menunjujkan siapa ulama yg sebenarnya,.ulama Syiah jauh lebih tampak menunjukan bahwa merekalah ulama yg sesungguhnya,.yg menjauhi diri dari nafsu dunia tetapi tetap melayani muslimnya,.tidak seperti ulama wahabi yg menunjukan ketamakan akan dunia, bahkan mereka selalu bekerja sama dalam memberangus negara2 muslim,..dimana kah Al bani yg kau elu2kan sebagai ulama disaat palestina,irak,libanon,suriah dan negra muslim lainnya di tindas,..adakah sedikit saja perannya berjuang para kafirun tersebut,.atau malah membantunya dalam membantai negara muslim sendiri,..laknatullah untuk kalian para ulama Wahabi yg selalu menyesatkan Umat,…

    • Orang yang tertipu…, semoga Allah Tabaroka wa Ta’ala memberikan dirimu taufiq dan hidayah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: