Bencana di atas Bencana (Sebuah Renungan Menjelang Letusan Merapi – bagian 2)

Bencana di atas Bencana (Sebuah Renungan Menjelang Letusan Merapi – bagian 2)

Penulis: Abu Muslih Ari Wahyudi (Alumni Ma’had Ilmi)

Murojaah: Ustadz Abu Isa

Penyimpangan Kedua
Mengantisipasi Ancaman Bencana Dengan Cara yang Salah

Pembaca yang budiman, sebagai seorang muslim kita harus yakin bahwa Alloh Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Alloh terhadap hamba-hambaNya senantiasa mengandung hikmah atau keadilan. Alloh juga Maha Pengasih kepada hamba-hambaNya. Alloh tidak pernah dan tidak akan berbuat zalim kepada hamba-hambaNya barang sedikit pun.

Alloh ta’ala berfirman,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ

“Sesungguhnya Alloh tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah…” (QS An Nisaa’: 40)

Apabila seorang hamba tertimpa keburukan maka pada hakikatnya sumber kesalahannya adalah dirinya sendiri. Alloh ta’ala berfirman,

مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Alloh, dan apa saja bencana yang menimpamu maka dari kesalahan dirimu sendiri.” (QS An Nisaa’: 79)

Dan Alloh telah menetapkan takdir segala sesuatu sebelum terjadinya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makhluk pertama yang diciptakan Alloh adalah pena. Kemudian Alloh memerintahkan kepadanya, “Tulislah!” Maka pena itu bertanya, “Apa yang harus saya tulis?” Alloh berfirman, “Tulislah takdir segala sesuatu hingga hari kiamat.” (HR. Abu Dawud dari ‘Ubadah bin Shamit rodhiallohu ‘anhu)

Semua musibah sudah tertulis, Alloh ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh.” (QS Al Hadiid: 22) (silakan baca Syarah ‘Aqidah Wasithiyah Syaikh Shalih Al Fauzan, hal. 125-128)

Kaidah Sebab Akibat Dalam Perspektif Tauhid
Alloh ta’ala telah menciptakan hukum sebab akibat yang berlaku di alam semesta ini dengan amat sempurna. Apabila seseorang lapar maka hendaknya dia makan supaya kenyang. Apabila seseorang ingin berharta maka hendaknya dia bekerja. Apabila seseorang ingin memiliki anak maka hendaknya dia menikah. Demikianlah di antara hukum-hukum sebab akibat yang sama-sama sudah kita mengerti. Dalam urusan mencari kemanfaatan dan menolak bahaya pun berlaku hukum sebab akibat, maka tidak boleh kita menempuh suatu jalan sebagai jalan keluar dari masalah kecuali apabila memenuhi tiga syarat berikut ini :

  1. Hanya mencari sebab atau cara yang diizinkan oleh agama, tidak boleh memakai sebab yang haram atau tidak masuk akal/tidak ilmiah.
  2. Hanya menggantungkan hati kepada Alloh.
  3. Meyakini bahwa berhasil atau tidaknya hanya Alloh yang menentukan
    (lihat Al Qaul As Sadiid karya Syaikh As Sa’di rohimahulloh, hal. 34-35)
    Orang yang kehilangan syarat pertama maka dia telah terjatuh dalam syirik atau keharaman. Orang yang kehilangan syarat kedua maka dia terjatuh dalam syirik ashghar yang dosanya lebih berat daripada dosa-dosa besar lain seperti berzina dan minum khamar. Sedangkan apabila orang kehilangan syarat yang ketiga maka dia terjatuh dalam syirik akbar dan keluar dari Islam, meskipun dia sholat dan berpuasa, selama dia belum bertaubat, sebab pada hakikatnya dia adalah musyrik dan kafir dengan keyakinannya yang mendustakan takdir tersebut.

Penerapan Kaidah Guna Mengantisipasi Musibah
Sekarang mari kita terapkan kaidah ini untuk kasus ancaman bencana yang kita hadapi. Taruhlah sekarang ancaman letusan Gunung Merapi sudah sangat dimungkinkan berdasarkan perhitungan ilmiah. Kemudian sekarang apa yang akan kita perbuat untuk mengantisipasi datangnya bencana itu? Apakah yang akan kita tempuh? Apabila kita mengikuti kaidah di atas maka sudah seharusnya kita hanya menempuh cara-cara yang diizinkan oleh agama. Artinya kita hanya akan menempuh cara syariat dan cara-cara yang terbukti secara ilmiah. Bukan dengan cara-cara lain yang tidak ada tuntunannya di dalam syariat dan bukan dengan cara-cara yang tidak memiliki keterkaitan hukum sebab akibat dalam kacamata akal sehat dan ilmu pengetahuan. Apa yang dimaksud dengan cara syariat? Seorang muslim tentu yakin Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu, oleh karena itu sudah selayaknya dia berdoa kepada Alloh dengan penuh harap dan berusaha memilih waktu dan tempat yang mustajab agar Alloh menyelamatkannya dari bencana dan keburukan. Tentu saja dalam berdoa harus ikhlas dan sesuai tuntunan. Karena doa adalah ibadah. Dan ibadah tidak akan diterima kecuali apabila ikhlas dan mengikuti tuntunan. Tidak boleh menggunakan cara-cara berbau syirik dan bid’ah. Oleh karena itulah tidak perlu membuat tumpeng, menyembelih ayam hitam, mempersembahkan sesaji, bersemedi 3 hari 3 malam, atau cara-cara sesat lainnya. Sebab perbuatan-perbuatan semacam itu pada hakikatnya bukan menolak bala akan tetapi justru mengundang bala, bahkan bala yang lebih besar dan lebih mengerikan, yaitu ancaman tertimpa bencana dan siksa di akhirat. Alloh ta’ala berfirman,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS An Nuur: 63) Wallaahul musta’aan.

Cara lainnya ialah dengan senantiasa bertakwa kepada Alloh yaitu dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Dan juga bertawakal kepada-Nya. Karena Alloh ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Alloh maka Alloh akan menjadikan baginya jalan keluar dan akan memberikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Alloh maka Alloh pasti mencukupinya.” (QS. Ath Thalaq: 2,3)

Cara lainnya adalah dengan bersabar, karena Alloh telah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan meminta tolonglah kepada Alloh dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya Alloh bersama dengan orang-orang yang bersabar.” (QS Al Baqarah: 153)

Sabar itu ada tiga macam:

Pertama, Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Alloh.

Kedua, Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Alloh. Umat-umat terdahulu yang binasa adalah disebabkan karena kemaksiatan mereka. Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Alloh ke dalam lautan, ada pula yang binasa karena disambar petir, ada pula yang dimusnahkan dengan suara yang mengguntur, dan ada juga di antara mereka yang dibenamkan oleh Alloh ke dalam perut bumi, dan ada juga di antara mereka yang diubah bentuk fisiknya (dikutuk).

Alloh ta’ala berfirman,

فَكُلّاً أَخَذْنَا بِذَنبِهِ فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِباً وَمِنْهُم مَّنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُم مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُم مَّنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka masing-masing (kaum yang durhaka itu) kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Alloh sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS Al ‘Ankabuut: 40)

Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab saja yaitu maksiat kepada Alloh tabaaraka wa ta’aala. Karena hak Alloh adalah untuk ditaati tidak boleh didurhakai, maka kemaksiatan kepada Alloh merupakan kejahatan yang sangat mungkar yang akan menimbulkan kemurkaan, kemarahan serta mengakibatkan turunnya siksa-Nya yang sangat pedih. Apabila seseorang sudah terlanjur terjatuh di dalamnya hendaklah dia segera bertaubat kepada Alloh dengan taubat yang sebenar-benarnya, meminta ampunan dan menyesalinya di hadapan Alloh. Dan hendaknya dia mengikuti kejelekan-kejelekannya dengan berbuat kebaikan-kebaikan. Sebagaimana difirmankan Alloh ‘azza wa jalla,

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّـيِّئَاتِ

“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan kejelekan-kejelekan” (QS Huud: 114)

Dan juga sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallAllohu ‘alaihi wa sallam, “Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya” (HR. Ahmad, dll, dihasankan Al Albani dalam Misykatul Mashaabih 5043)

Ketiga, Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Alloh. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Alloh di alam semesta (lihat Thariqul wushul ila Idhaahi Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Zaid bin Hadi Al Madkhali, hal. 15-17)

Kemudian dia juga harus menempuh cara-cara penyelamatan yang disarankan oleh para pakar yang menguasai bidang kegunungapian, mungkin seperti Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) dan aparat-aparat terkait lainnya. Karena prediksi yang mereka sampaikan bukanlah termasuk menklaim ilmu gaib, akan tetapi pengetahuan yang diperoleh berdasarkan perhitungan ilmiah. Dan tentu saja mereka harus tetap meyakini bahwa segalanya sudah ditentukan oleh Alloh, terjadi atau tidaknya bencana tersebut. Kemudian apabila tanda-tanda bencana itu memang semakin jelas maka dia harus mengungsi ke tempat-tempat aman yang sudah disediakan oleh pemerintah ataupun ke tempat lain yang diperhitungkan aman dari ancaman bencana letusan. Dan ini semua harus dilakukan dengan senantiasa menggantungkan harapan hati kepada Alloh saja, jangan gantungkan hati kepada sebab. Karena dengan menggantungkan hati pada sebab akan menjerumuskan kita ke dalam syirik ashghar, dan lebih parah lagi kalau ternyata kita mati dalam keadaan berbuat syirik ashghar dan belum bertaubat. Karena bencana yang timbul akibat dosa syirik di akhirat tentu lebih dahsyat dan lebih mengerikan!!

Selain itu, kita harus yakin seyakin-yakinnya bahwa selamat atau tidaknya kita dari bencana letusan itu –jika benar-benar terjadi- maka itu berada sepenuhnya pada keputusan Alloh. Kita tetap yakin bahwa meskipun cara penyelamatan yang kita tempuh sudah merupakan cara yang terbaik namun jika Alloh memang sudah menakdirkan kita terkena maka tidak ada yang bisa mengelakkannya dari diri kita. Kalau keyakinan ini sudah tidak ada pada diri kita maka meskipun kita berhasil selamat dari terpaan bencana letusan itu namun pada hakikatnya kita sedang terancam bencana lain yang lebih dahsyat dan jauh lebih menyakitkan, yaitu menemui ajal dalam keadaan musyrik sehingga berhak untuk menghuni neraka kekal selama-lamanya, apabila kita tidak segera bertaubat kepada Alloh ta’ala, wal ‘iyaadzu billaah. Inilah bencana di atas bencana! Lalu bagaimana lagi kalau ternyata kita termasuk orang yang mengikuti cara-cara bid’ah, tidak ilmiah serta berbau kesyirikan dalam rangka mengantisipasi bahaya itu, dan kemudian kita mati dalam keadaan seperti itu (mati tertimpa bencana dalam keadaan musyrik) apakah yang bisa kita peroleh? Anda sudah tahu jawabannya… Ibarat orang sudah jatuh tertimpa tangga pula. Laa haula wa laa quwwata illa billaah, inilah musibah, inilah bencana di atas bencana!! Lantas hati siapa yang tidak menangis apabila hak Alloh diinjak-injak dan dilecehkan. Alloh ta’ala saja yang menciptakan kita, memberikan rezeki kepada kita, kemudian kok berani-beraninya mereka berbuat syirik, bukankah itu artinya mereka telah menghina Alloh ta’ala. Inilah kezaliman terbesar di alam semesta.

Alloh ta’ala berfirman,

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar” (QS Luqman: 13)

Dahsyatnya Bencana Kesyirikan
Kesyirikan merupakan dosa yang tidak akan diampuni oleh Alloh ‘azza wa Jalla (apabila pelakunya tidak bertaubat -pent), sebagaimana difirmankan Alloh ta’ala,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa yang berada di bawah tingkatan itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS An Nisaa’: 48)

Orang yang berbuat syirik terhapus seluruh amalnya, sebagaimana difirmankan Alloh ta’ala,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh jika kamu berbuat syirik, niscaya akan lenyaplah seluruh amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi” (QS Az Zumar: 65)

Alloh juga berfirman,

وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan (Alloh dengan selain-Nya) pasti akan lenyaplah dari mereka semua amal yang selama ini mereka kerjakan” (QS Al An’aam: 88)

Orang yang berbuat syirik termasuk golongan makhluk terjelek di sisi Alloh ta’ala sebagaimana difirmankan Alloh subhanahu wa ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik berada di dalam neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya, mereka itulah sejelek-jelek ciptaan” (QS Al Bayyinah: 6)

Penyimpangan ketiga
Menangkal musibah dengan bid’ah

Bid’ah adalah sesuatu yang diada-adakan di dalam tuntunan agama yang menyimpang dari ajaran Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau, baik yang berupa keyakinan maupun perbuatan. Sehingga bid’ah itu bisa jadi berupa meyakini sesuatu yang menyelisihi kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah dan yang diturunkan oleh Alloh. Atau bisa juga berupa amalan ibadah/ritual yang dilakukan dengan cara yang tidak diizinkan oleh Alloh, yang berupa peletakan dan tata cara yang diada-adakan di dalam agama (lihat ‘Isyruuna ‘uqbatan fii thariiqil muslim, Darul Wathan)

Apabila para warga mengadakan selamatan nasi tumpeng jagung yang dilengkapi dengan uba rampe lainnya yaitu; golong jagung, pelas, polowijo, wedang kopi, teh, air putih dan gula jawa. Selain itu ada pula jenang abang putih, nasi kepyar, bubuk deli panggang buto, jadah bakar, ketela bakar dan rokok. Sesaji lengkap dengan hasil pertanian itu diyakini warga sebagai hidangan kesukaan penguasa gunung Merapi. Seluruh uba rampe itu, kemudian didoakan untuk memohon keselamatan kepada Sang Pencipta agar apabila Merapi meletus, warga bisa terhindar dan tidak ada korban jiwa. Makanan yang tersedia kemudian dibagikan dan dimakan bersama-sama. Maka sekarang kita akan bertanya dari manakah cara ibadah semacam itu datang, dari ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ataukah bukan? Jawablah wahai kaum… Kalau sudah jelas bahwa cara itu tidak ada tuntunannya dari beliau maka tidak ada yang bisa kita sampaikan kecuali sebuah hadits yang mulia, “Barang siapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami maka dia tertolak.” (HR. Muslim) Lalu bagaimana permohonan kita bisa diterima jika cara yang kita tempuh sarat dengan bid’ah bahkan berbau syirik? Apa lagi ini namanya kalau bukan bid’ah?!

Imam Syathibi rohimahulloh mengatakan, “Bid’ah adalah sebuah tata cara dalam menjalankan agama yang diada-adakan sehingga menyerupai syariat, yang ditujukan untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Alloh subhanahu.” (lihat ‘Ilmu Ushul Bida’, hal. 24) Adakah orang yang akan mengatakan, “Ini ‘kan cuma tradisi, kita harus menghormati budaya warisan nenek moyang, jangan sok ekstrim lah!!” Kalau ada yang mengatakan demikian, maka akan kami sampaikan kepadanya firman Alloh ta’ala,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ

“Dan apabila diperintahkan kepada mereka “Ikutilah apa yang diturunkan Alloh”, maka mereka justru mengatakan: ‘(Tidak), kami hanya akan mengikuti apa-apa yang sudah kami dapatkan dari ajaran nenek-nenek moyang kami’. Duhai, apakah mereka akan tetap mengikutinya walaupun nenek-nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun serta tidak mendapat petunjuk?” (QS Al Baqarah: 170)

Celaan Terhadap Bid’ah Di Dalam Al Quran
Bid’ah tercela berdasarkan Al Kitab, Sunnah dan Ijma’. Adapun di dalam Al Kitab yaitu firman Alloh ta’ala,

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً

“Katakanlah, ‘Maukah kukabarkan kepada kalian tentang orang yang paling merugi amalnya? Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya di dunia padahal mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya” (QS Al Kahfi: 103,104)

Dan demikian itulah yang menimpa para pelaku bid’ah dengan penyimpangannya terhadap syariat Alloh yang menandingi agama-Nya serta bersikap lancang terhadap Nabi-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam sementara dia menyangka berada di atas jalan yang lurus (shirothol mustaqim) Alloh ta’ala juga berfirman,

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

“Pada hari itu ada wajah-wajah yang memutih cerah dan ada wajah-wajah yang menghitam legam” (QS Ali Imran: 106)

Ibnu ‘Abbas rodhiallohu ‘anhuma mengatakan, “Memutih wajah-wajah pembela sunnah dan persatuan, dan menghitam wajah-wajah pembela bid’ah dan perpecahan.”

Celaan Terhadap Bid’ah Di Dalam As Sunnah
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan agama kami ini sesuatu yang tidak ada tuntunan darinya maka itu tertolak” (Muttafaq ‘alaih) dan dalam riwayat Muslim, “Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka tertolak”. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Kalian harus berpegang dengan sunahku dan sunnah khulafaa’ ar rasyidiin yang mendapatkan hidayah sesudahku, gigitlah sunnah itu dengan gigi-gigi gerahammu, dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap bid’ah adalah kesesatan” (Shahih, diriwayatkan oleh Ahlu Sunan) (dua sub judul ini diambil dari ‘Isyruuna ‘uqbatan fii thariiqil muslim)

Penyimpangan Keempat
Mendekatkan diri kepada Alloh dengan sesuatu yang haram

Bid’ah adalah haram. Maka orang yang mendekatkan diri kepada Alloh dengan bid’ah berarti dia mendekatkan diri dengan cara yang haram. Lalu bagaimana lagi jika yang dituju bukan Alloh, tetapi jin ‘Penguasa Gunung Merapi’ dan yang dipersembahkan adalah rokok yang jelas-jelas haram?!! Lalu bencana apakah yang bisa ditangkal dengan cara haram plus syirik semacam ini?! Inilah bencana di atas bencana!!! Barangkali ini sajalah yang bisa kami sajikan ke hadapan para pembaca, mohon maaf apabila banyak kesalahan.

Astaghfirullaahal ‘azhim. Allohummaghfirlii qaumii fa innahum laa ya’lamuun. Alhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin.

Selesai ditulis di Jogjakarta, Sabtu 15 Rabi’uts Tsani 1427 hijriyah

Seorang hamba yang sangat butuh kepada rahmat Tuhannya – Warga Jogjakarta

Abu Muslih Ari Wahyudi

(Semoga Alloh mengampuninya, mengampuni kedua orang tua dan guru-gurunya, Sahabat-sahabatnya dan kaum muslimin semuanya)

Sumber : http://muslim.or.id/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: