Bencana di Atas Bencana (Sebuah Renungan Menjelang Letusan Merapi – bagian 1)

Bencana di Atas Bencana (Sebuah Renungan Menjelang Letusan Merapi – bagian 1)

Penulis: Abu Muslih Ari Wahyudi (Alumni Ma’had Ilmi)
Murojaah: Ustadz Abu Isa

Segala puji bagi Alloh yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji umat manusia siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya, dan semua pengikut mereka yang bersabar dan mengikuti jalan mereka dalam berakidah dan menjalani segala sisi kehidupan beragama. Amma ba’du.

Urgensi Menerangkan Berbagai Fenomena Kesyirikan
Para pembaca yang budiman, bencana adalah sesuatu yang sangat dikhawatirkan terjadi oleh umat manusia. Ini adalah sebuah fenomena yang sangat wajar.

Islam sebagai ajaran yang lengkap dan sempurna tentu sudah memiliki rambu-rambu yang mengatur berbagai kejadian yang pernah, sedang dan akan terjadi. Alloh ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari Ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS Al Maaidah: 3)

Alloh juga memerintahkan kita untuk masuk ke dalam Islam secara total, tidak sebagian-sebagian. Alloh ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS Al Baqoroh: 208)

Islam sudah sempurna, sehingga barang siapa masuk ke dalamnya secara total niscaya dia juga akan meraih kesuksesan dan keselamatan. Oleh sebab itulah dakwah pertama Rasul yang diserukan di hadapan kaumnya adalah, “Wahai Kaumku, katakanlah Laa ilaaha illallaah, niscaya kalian beruntung”. Inilah akidah paling berharga yang tidak boleh dilepaskan barang sedetik pun dari dada-dada umat manusia. Karena barang siapa melepaskan atau mengotori kemurniannya niscaya cepat atau lambat dia akan menuai kebinasaan dan buah pahit dari penyimpangannya itu. Alloh ta’ala berfirman,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh jika kamu berbuat syirik pastilah seluruh amalmu akan terhapus dan kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang merugi” (QS Az Zumar: 65)

Oleh karena itu pada hakikatnya orang yang paling berjasa kepada kita adalah orang yang memperingatkan kita dari segala bentuk kesyirikan dan sarana-sarana yang mengantarkan kepadanya yang begitu banyak bertebaran di alam semesta, walaupun sarana-sarana itu telah dipoles sedemikian rupa…!

Bid’ah Pasti Tercela
Alloh ta’ala berfirman dalam konteks melimpahkan karunia kepada hamba-hambaNya,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari Ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS Al Maaidah: 3)

Ayat yang mulia ini menunjukkan tentang kelengkapan syariat dan kesempurnaannya. Syariat Islam sudah cukup untuk mengatasi segala problematika yang dihadapi oleh umat manusia. Itulah syariat yang mampu merealisasikan hikmah penciptaan mereka, yaitu beribadah kepada Alloh saja. Alloh ta’ala berfirman yang artinya,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyaat: 56)

Imam Ibnu Katsir rohimahulloh mengatakan di dalam kitab tafsirnya tatkala menafsirkan ayat dalam surat Al Maaidah di atas, “Ini merupakan nikmat terbesar yang dilimpahkan Alloh kepada umat ini. Yaitu tatkala Alloh ta’ala telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka, sehingga mereka tidak lagi membutuhkan agama selainnya, dan mereka juga tidak butuh Nabi selain Nabi mereka –semoga sholawat dan salam senantiasa terlimpah kepada beliau-. Oleh sebab itulah Alloh ta’ala menjadikan beliau sebagai penutup para Nabi. Alloh utus beliau kepada seluruh manusia dan jin. Maka tidak ada yang halal selain apa yang Alloh halalkan. Dan tidak ada yang haram selain apa yang Alloh haramkan. Serta tidak ada agama kecuali agama yang Alloh syariatkan. Sehingga segala informasi yang disampaikan Alloh adalah benar dan jujur, tiada sedikit pun unsur kedustaan dan penyimpangan. Hal ini sebagaimana tercantum dalam firman Alloh ta’ala,

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقاً وَعَدْلاً لاَّ مُبَدِّلِ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimatNya dan dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al An’am: 115)

Makna dari kalimat yang benar ialah berita-berita yang dibawakan senantiasa benar dan akurat. Sedangkan makna dari kalimat yang adil ialah semua perintah dan larangan yang ada di dalam Al Quran senantiasa sarat dengan nilai-nilai keadilan. Sehingga ketika Alloh menyatakan sudah menyempurnakan agama bagi mereka ini artinya karunia yang dilimpahkan kepada mereka sudah lengkap dan sempurna.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/19)

Dengan demikian, tidak bisa digambarkan di dalam benak kita ada orang yang tiba-tiba muncul dan menciptakan sebuah perkara baru di dalam tatanan syariat demi melengkapinya. Karena adanya tambahan pada tatanan syariat sama artinya dengan tindakan mengkritik kebijaksanaan Alloh tabaraka wa ta’ala serta mengisyaratkan bahwasanya syariat ini masih belum sempurna, sedangkan adanya anggapan itu jelas sekali bertentangan dengan kandungan ayat di dalam Kitabullah tabaraka wa ta’ala. Oleh karenanya tidak terbayang keberadaan individu tertentu yang berusaha memberikan tambahan dalam tatanan syariat namun menempati posisi yang tidak tercela (Al Bid’ah wal Mashalih Mursalah hal. 111, Taufiq Al Wa’i) (lihat Ilmu Ushul bida’ karya Syaikh Ali bin Hasan hafizhohulloh, hal. 17-18)

Syarat Diterimanya Amal Ibadah
Para ulama menjelaskan bahwa suatu amal ibadah tidak akan diterima kecuali apabila memenuhi dua syarat:

Syarat pertama, harus ikhlas, tidak boleh dicampuri syirik atau riya’ (cari muka)
Syarat kedua, harus sesuai tuntunan, tidak boleh dengan cara yang bid’ah.

Oleh karena itu di samping kita harus membersihkan hati kita dari syirik maka kita juga harus membersihkan tubuh kita dari tata cara beribadah yang tidak ada tuntunannya. Inilah ibadah yang akan diterima oleh Alloh, yang ikhlas dan sesuai tuntunan. Inilah rahasia yang terkandung dalam dua kalimat syahadat. Asyhadu anlaa ilaaha illalloh artinya kita hanya beribadah hanya kepada Alloh. Dan wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah artinya kita beribadah kepada Alloh hanya dengan tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam (lihat At Tauhid li shaffil awwal ‘aali, hal. 61)

Mari Luruskan Niat dan Pemahaman
Imam Ibnul Qayyim rohimahulloh mengatakan, “Pemahaman yang benar dan niat yang baik adalah termasuk nikmat paling agung yang dikaruniakan Alloh kepada hamba-Nya. Bahkan tidaklah seorang hamba mendapatkan pemberian yang lebih utama dan lebih agung setelah nikmat Islam daripada memperoleh kedua nikmat ini. Bahkan kedua hal ini adalah pilar tegaknya agama Islam, dan Islam tegak di atas fondasi keduanya. Dengan dua nikmat inilah hamba bisa menyelamatkan dirinya dari terjebak di jalan orang yang dimurkai (al maghdhuubi ‘alaihim) yaitu orang yang memiliki niat yang rusak. Dan juga dengan keduanya ia selamat dari jebakan jalan orang sesat (adh dhaalliin) yaitu orang-orang yang pemahamannya rusak. Sehingga dengan itulah dia akan termasuk orang yang meniti jalan orang yang diberi nikmat (an’amta ‘alaihim) yaitu orang-orang yang memiliki pemahaman dan niat yang baik. Mereka itulah pengikut shirathal mustaqim..” (I’laamul Muwaqqi’iin, 1/87, dinukil dari Min Washaaya Salaf, hal. 44)

Dua Kaidah Penting
Imam Ibnul Qayyim juga berkata, “Seorang pemberi fatwa atau hakim tidak akan bisa memberikan fatwa dan keputusan dengan tepat dan benar kecuali dengan dua unsur pemahaman:

Pertama, memahami dan mengerti dengan baik realita yang ada. Dan menarik kesimpulan ilmiah dari hakikat kejadian dengan pertimbangan berbagai indikasi, tanda dan ciri-ciri sehingga dia benar-benar memiliki persepsi yang benar tentang persoalan tersebut.

Kedua, memahami apa yang harus dilakukan untuk menghadapi realita tersebut. Yaitu dengan memahami hukum-hukum Alloh yang sudah ditetapkan di dalam Kitab-Nya atau melalui lisan Rasul-Nya untuk menentukan sikap yang harus dipilih ketika menghadapi realita semacam itu.

Kemudian dia harus menggabungkan unsur yang satu kepada unsur yang lain (unsur kedua). Oleh karena itu barang siapa yang mencurahkan kesungguhannya dan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk itu niscaya tidak akan luput darinya dua atau satu pahala.” (I’laamul Muwaqqi’iin, 1/87, dinukil dari Min Washaaya Salaf, hal. 44)

Maka dengan memohon pertolongan Alloh ta’ala pada kesempatan ini kami ingin menyajikan sebuah pembahasan akidah demi menyikapi berbagai fenomena di masyarakat seputar ancaman bahaya letusan Gunung Merapi di Jogjakarta. Sebagai pembuka risalah ini kami akan meringkaskan sebagian berita yang terdapat di beberapa media massa tentang fenomena-fenomena tersebut. Perlu para pembaca ketahui bahwa penggunaan berita dalam tulisan ini bukan sebagai acuan utama. Kami hanya menyebutkannya dalam rangka mengambil pelajaran dan contoh saja. Dan disebutkannya sumber berita ini juga sama sekali bukan berarti kami merekomendasikan media tersebut untuk dibaca, namun hal itu kami lakukan demi menjaga amanat ilmiah saja. Hal ini perlu kami ingatkan, karena sebagaimana kita ketahui bersama bahwa berita-berita yang tersebar di media massa sulit sekali untuk dijamin bersih dari opini wartawan dan pihak-pihak yang berkepentingan di balik berita-berita yang dimunculkan. Apabila kita terapkan undang-undang Ilmu Hadits kepada mereka maka niscaya kualitas hadits (berita) yang ada di koran dan majalah atau situs-situs yang ada entah seperti apa, bisa jadi lemah, lemah sekali atau bahkan palsu dan tidak ada asal-usulnya. Wallohul musta’aan.

Sekilas Berita Media Massa
Kamis, 04 Mei 2006, Gunung Merapi (2.965 mdpl) mulai melelehkan lava pijar di puncaknya sekitar pukul 02.00 WIB. Informasi yang diperoleh dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Kamis (4/5) menyebutkan guguran lava pijar itu berjarak luncur sekitar 200 meter dari puncak gunung ke arah pelataran Gendol. Pada peristiwa erupsi tahun 1994, awan panas Merapi telah menyebabkan kematian 60 orang. Dan sekitar 1.300 orang tewas dalam kasus yang sama tahun 1930.(ss) http://www.geografiana.com (dengan ringkas) Upaya evakuasi warga sudah dilakukan dengan segala cara, dari bujuk rayu hingga imbauan pejabat pusat dan daerah. Tenda-tenda darurat pun sudah dipersiapkan berikut logistiknya. Bahkan, pemerintah pusat sudah menyiapkan dana bantuan bencana senilai Rp 400 miliar untuk Merapi. Namun, tidak ada satu pun tenda darurat maupun tempat penampungan yang terisi penuh oleh penduduk. Warga tetap bersikukuh dengan pendiriannya untuk tetap bertahan di rumah masing-masing, dengan alasan untuk menjaga aset kehidupannya, baik ternak, harta benda, dan sebagainya. Maupun keyakinan bahwa belum ada tanda-tanda dari alam maupun isyarat dari sesepuh desa dan juru kunci bahwa warga perlu mengungsi. Akhir-akhir ini, saat status Gunung Merapi dinyatakan siaga, Sang Juru Kunci Gunung Merapi semakin sering dikunjungi orang. Mereka rata-rata menanyakan kapan Gunung tersebut akan meletus dan seberapa besar dampaknya. Di kediaman Sang Juru Kunci Gunung Merapi, Selasa (25/4) berlangsung upacara ritual oleh penduduk Desa Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Sleman, Yogyakarta, bersama dengan warga Parangtritis. Sesaji yang dipersembahkan oleh penduduk itu berupa 21 tumpeng, kambing kendhit, ayam cemani, pisang sanggan dan buah-buahan. Ubarampe itu mereka usung menuju Batu Dampit, persis di bahu gunung Merapi. Mereka akan bersemedi di tempat tersebut selama 3 hari 3 malam. Ritual sesaji ini bertujuan untuk memohon keselamatan pada Yang Kuasa, ujar Juru Kunci yang juga ikut dalam arak-arakan sesaji menuju Batu Dampit itu. Ada pula tokoh lain yang membantah keras kabar yang menyebutkan Merapi akan meletus dalam waktu dekat. Katanya, hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini. Merapi baru akan meletus berbarengan dengan meluapnya Bengawan Solo, ujarnya. Dia mengaku tidak takut untuk melakukan semedi di Bukit Dampit karena memang belum ada isyarat bahwa Merapi akan meletus. http://www.poskota.co.id (dengan beberapa perubahan) Di tempat lain, yaitu di Dukuh Sumber Desa Klakah Kecamatan Selo Boyolali para warga mengadakan selamatan nasi tumpeng jagung yang dilengkapi dengan uba rampe lainnya yaitu; golong jagung, pelas, polowijo, wedang kopi, teh, air putih dan gula jawa. Selain itu ada pula jenang abang putih, nasi kepyar, bubuk deli panggang buto, jadah bakar, ketela bakar dan rokok. Sesaji lengkap dengan hasil pertanian itu diyakini warga sebagai hidangan kesukaan penguasa gunung Merapi. Seluruh uba rampe itu, kemudian didoakan untuk memohon keselamatan kepada Sang Pencipta agar apabila Merapi meletus, warga bisa terhindar dan tidak ada korban jiwa. Makanan yang tersedia kemudian dibagikan dan dimakan bersama-sama. (dikutip dengan perubahan dari Kedaulatan Rakyat, 06 Mei 2006) Kalau berita-berita ini benar sebagaimana kenyataannya maka saya katakan: Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun!!! Inilah bencana di atas bencana!

Pembaca yang budiman, dari kabar yang disebutkan di atas kita bisa melihat berbagai fenomena penyimpangan dari akidah dan syariat Islam yang lurus. Penyimpangan tersebut antara lain :

Pertama, keyakinan bahwa ada orang yang bisa mengetahui hal yang gaib.
Kedua, Mengantisipasi ancaman bencana dengan cara yang salah.
Ketiga, Menangkal musibah dengan bid’ah.
Keempat, Mendekatkan diri kepada Alloh dengan sesuatu yang haram.

Yang apabila kita ringkas keempat penyimpangan itu berakar dari dua sumber yaitu syirik dan bid’ah. Subhanalloh, adakah bencana yang lebih besar dan lebih berbahaya daripada meninggal di atas akidah syirik dan tenggelam dalam lautan bid’ah?!! Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya barang siapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Alloh maka sesungguhnya Alloh telah mengharamkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” (QS. Al Maaidah: 72)

Alloh ta’ala juga berfirman,

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً

“Katakanlah: maukah Kami kabarkan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi amalnya, yaitu orang-orang yang sia-sia amal usahanya di dunia namun dia menyangka telah melakukan kebaikan dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi : 103-104)

Baiklah, berikut ini kami akan sampaikan keterangan dari Al Quran dan As Sunnah beserta penjelasan para ulama guna memperjelas hakikat permasalahannya. Semoga Alloh memberikan taufik kepada kita.

Penyimpangan Pertama
Keyakinan Bahwa Ada Orang yang Bisa Mengetahui Hal yang Gaib

Yang dimaksud dengan hal yang gaib adalah segala sesuatu yang tidak bisa diketahui oleh manusia, ia meliputi berbagai perkara masa depan, masa lampau dan hal-hal yang tak terlihat oleh mereka, dan Alloh ta’ala telah menjadikan ilmu tentangnya hanya dimiliki oleh-Nya (At Tauhid li shaffits tsaalits ‘aali, hal. 26). Alloh ta’ala berfirman,

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah, Tidak ada sesuatu di langit maupun di bumi yang mengetahui hal gaib kecuali Alloh.” (QS An Naml : 65)

Fatwa Syaikh Al ‘Utsaimin
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh mengatakan, “Hukum bagi orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib adalah orang tersebut kafir. Karena dia telah mendustakan Alloh ‘azza wa jalla. Alloh ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah: Tidak ada sesuatu di langit maupun di bumi yang mengetahui hal gaib kecuali Alloh. Dan mereka tidak menyadari kapan mereka dibangkitkan.” (QS An Naml: 65). Kalau Alloh ‘azza wa jalla memerintahkan kepada Nabi-Nya Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam supaya mengumumkan kepada segenap umat bahwasanya tidak ada sesuatu pun baik di langit maupun di bumi yang mengetahui ilmu gaib selain Alloh. Oleh karena itu maka sesungguhnya orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib telah mendustakan Alloh ‘azza wa jalla dalam penyampaian berita (ayat) ini. Kami katakan kepada orang-orang itu: Bagaimana bisa kalian mengetahui ilmu gaib sementara Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam saja tidak mengetahui hal yang gaib?! Siapakah yang lebih mulia; kalian ataukah Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam? Apabila mereka mengatakan kami lebih mulia daripada Rasul, maka mereka sudah kafir dengan sebab ucapan ini. Apabila mereka mengatakan beliau lebih mulia, maka kami katakan: Kenapa pengetahuan tentang hal yang gaib tidak bisa beliau gapai dan justru kalian yang bisa mengetahuinya?! Padahal Alloh ‘azza wa jalla telah berfirman,

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداً إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَداً

“Allohlah Yang mengetahui hal yang gaib maka Dia tidak memperlihatkan hal yang gaib itu kepada siapa pun kecuali kepada Rasul yang diridhoi-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS Al Jin: 26-27)

Ini adalah ayat kedua yang menunjukkan kekafiran orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib. Dan Alloh ta’ala memerintahkan kepada Nabi-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam agar memproklamirkan di hadapan semua makhluk,

قُل لاَّ أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَآئِنُ اللّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوحَى إِلَيَّ

“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa padaku terdapat berbagai perbendaharaan Alloh dan aku tidak mengetahui ilmu gaib. Aku juga tidak mengatakan kepada kalian bahwa aku adalah malaikat, aku hanyalah mengikuti sesuatu yang diwahyukan kepadaku.” (QS Al An’aam: 50) (lihat Fatawa Arkanul Islam, hal. 40, silakan baca juga At Tauhid li shaffits tsaalits ‘aali, hal. 26-27)

Perdukunan dan Ramal Meramal Dalam Pandangan Ulama
Penyimpangan inilah yang biasa disebut oleh para ulama dengan istilah al kahaanah wal ‘araafah (perdukunan dan ramal meramal). Syaikh Abdul Akhir Hamad Al Ghunaimi mengatakan, “Al Kahanah adalah pengakuan mengetahui ilmu gaib, seperti contohnya mengabarkan tentang apa yang akan terjadi di bumi. Pada asalnya berita itu adalah diperoleh dari jin yang mencuri dengar dari perkataan para malaikat, kemudian jin itu membisikkannya kepada telinga para kahin/dukun. Frekuensi kejadian ini pada saat sekarang jauh lebih kecil apabila dibandingkan dengan kejadian serupa di masa jahiliah dulu. Karena Alloh ta’ala telah menjaga langit dengan syihab/lemparan meteor (silakan lihat Taisir ‘Azizil Hamiid hal.405,406)

Adapun pengertian ‘Arraaf adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “(‘Arraaf) adalah nama bagi dukun, ahli nujum, tukang ramal (paranormal) dan orang-orang seperti mereka…” (lihat Minhah Ilahiyah, hal. 69). Termasuk dalam kategori perdukunan dan ramal meramal adalah meramal nasib dengan melihat garis telapak tangan, menuangkan air dalam cangkir atau baskom, horoskop atau ramalan bintang yang banyak bertebaran di koran, tabloid dan majalah-majalah. Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhohulloh mengatakan bahwa itu semua termasuk kategori perdukunan/kahanah (lihat At Tamhid, hal. 324)

Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhohulloh mengatakan, “Kahin adalah orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib yang diperolehnya dengan bekerjasama dengan syaitan. Sedangkan ‘Arraaf adalah orang yang mengaku mengetahui hal yang gaib akan tetapi tidak menggunakan perantara syaitan, tetapi dia hanya berdasarkan terkaan dan perkiraan seperti mengatakan: akan terjadi demikian dan demikian, namun hanya didasari ramalan-ramalan dusta. Ada juga sebagian ulama yang berpendapat bahwa ‘Arraf sama saja dengan kahin. Kedua-duanya sama-sama mengabarkan perkara-perkara yang gaib, namun perantaranya saja yang berbeda. Oleh karena itu maka setiap muslim wajib mengingkari perdukunan dan ramal meramal dan tidak boleh membenarkan orang yang mendakwakannya, karena mereka bukanlah termasuk wali-wali Alah. Namun sesungguhnya mereka adalah wali-wali syaitan…” (lihat Ta’liq Syarah ‘Aqidah Thahawiyah, cet Darul ‘Aqidah, hal. 544-545)

Syaikh As Sa’di rohimahulloh mengatakan, “…sesungguhnya hanya Alloh ta’ala saja yang mengetahui ilmu gaib. Oleh sebab itu barang siapa yang mengklaim adanya persekutuan bagi Alloh dalam hal itu dalam bentuk perdukunan, ramal meramal atau selainnya, atau membenarkan orang yang mendakwakan diri mengetahuinya maka sesungguhnya dia telah mengangkat sekutu bagi Alloh dalam salah satu hak kekhususan Alloh dan dia juga sudah mendustakan Alloh dan Rasul-Nya. Mayoritas praktek perdukunan yang terlibat kerjasama dengan syaitan pasti berbau dengan kesyirikan dan perbuatan mendekatkan diri (kepada selain Alloh, red) melalui berbagai perantara yang digunakan sebagai jembatan pertolongan dalam menyokong klaim ilmu gaib yang dimilikinya. Maka perbuatan itu adalah syirik dari segi klaim adanya sekutu bagi Alloh dalam hal ilmu yang hanya dimiliki oleh-Nya semata. Dan ia juga termasuk syirik apabila ditinjau dari segi perbuatan mendekatkan diri kepada selain Alloh…” (Qaulus Sadiid, cet Maktabah Al ‘Ilmu Jeddah, hal. 84-85)

Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhohulloh mengatakan, “Perdukunan adalah perbuatan yang bertentangan dengan prinsip pokok tauhid. Seorang kahin adalah orang yang mempersekutukan Alloh jalla wa ‘ala karena dia meminta bantuan kepada jin. Sedangkan jin tidak akan mau memberikan informasi gaib kepadanya apabila tidak ada sesuatu yang digunakan sebagai bentuk taqarrub (pendekatan diri) melalui berbagai bentuk ritual/prosesi (dengan cara menyembelih hewan, mempersembahkan sesaji, tumbal dsb. red) agar bisa memperoleh informasi tersebut.” (At Tamhid, hal. 317)

Subhanalloh, benar sekali penjelasan para ulama, realita menunjukkan kepada kita bahwa dunia perdukunan memang sangat akrab dengan prosesi dan sesaji, setali tiga uang, seperti mimi dan mintuna. Orang Jawa biasa menyebutnya dengan istilah Ubo rampe, tumbal, sajen dan lain sebagainya. Ada yang menggunakan tumpeng, ayam hitam, dan yang lebih parah dan menggelikan adalah rokok juga ikut dipersembahkan??! Siapa yang doyan rokok? Apakah pantas orang mengaku mendekatkan diri kepada Alloh tetapi dia malah mempersembahkan rokok kepada Alloh?! Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, ini bukan pendekatan namanya, tapi penghinaan!!!

Ancaman Bagi Orang yang Mendatangi Dukun/Paranormal
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mendatangi paranormal kemudian menanyakan sesuatu kepadanya maka sholatnya tidak akan diterima selama 40 malam.” (HR. Muslim dan Ahmad) Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz As Sulaiman Al Qar’awi mengatakan, “Para ulama rohimahumulloh menyebutkan bahwa orang yang membenarkan paranormal tidak diharuskan mengulangi sholatnya sebanyak 40 hari, hanya saja dia tidak akan mendapatkan pahalanya.” (Al Jadid, hal. 239)

Rasulullah juga bersabda, “Barang siapa yang mendatangi paranormal atau dukun kemudian membenarkan informasi yang disampaikannya maka sungguh dia telah kafir terhadap ajaran yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Al Hakim, dia berkata shahih dan memenuhi kriteria Bukhari dan Muslim dan disepakati oleh Adz Dzahabi, dishahikan Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil 2006, lihat Minhah Ilahiyah, hal. 69-70) Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh menjelaskan bahwa orang yang bertanya kepada paranormal dan semacamnya terbagi menjadi empat:

Pertama, apabila dia sekedar bertanya saja. Maka hukumnya haram, dan pahala sholatnya tidak diterima selama 40 malam (tapi dia tetap wajib shalat, red)
Kedua, apabila dia bertanya dan membenarkannya. Maka dia kafir.
Ketiga, apabila bertanya untuk mengujinya dusta atau tidak, bukan dalam rangka mengambil beritanya sebagai patokan, maka hukumnya tidak mengapa.
Keempat, apabila bertanya untuk memperlihatkan kepada orang-orang tentang ketidakmampuan dan kedustaannya, maka yang seperti ini sesuatu yang dituntut dan terkadang bisa menjadi wajib. (lihat Qaulul Mufid cet. Maktabah Al ‘Ilmu, 1/330) Kalau mendatangi dukun saja sudah berat ancamannya, lalu bagaimanakah lagi apabila ternyata ada orang yang justru mengundang ‘dukun-dukun’ itu ke rumahnya, dalam bentuk koran, tabloid, majalah, tayangan televisi, atau bahkan dukun sungguhan?!!! Wallohul musta’aan

Bersambung…

Sumber : http://muslim.or.id/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: