Asy’ariyyah Bukan Ahlus-Sunnah

Asy’ariyyah Bukan Ahlus-Sunnah

Oleh: Redaksi Majalah Fatawa

Asy’ariyyah adalah nama sebuah kelompok atau firqah ahli kalam yang menisbatkan diri kepada Abul-Hasan al-Asy’ari ketika menyatakan diri keluar dari kelompok Mu’tazilah.

Asy’ariyyah menjadikan hujjah-hujjah dan dalil-dalil akal serta ilmu kalam untuk membantah kelompok Mu’tazilah, kaum filosof dan kelompok lain yang menyelisihinya. Bantahan itu dilakukan ketika menetapkan hakikat agama dan akidah Islam, mengikuti pemikiran Ibnu Kullab.

Mereka mengklaim diri mereka sebagai Ahlus-Sunnah. Di negara kita sering disalah-pahamkan bahwa metode Asy’ariyah, sebagaimana Maturidiyah, adalah sama dengan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

Mengenal Abu Hasan al-Asy’ari

Namanya adalah Abul-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari, nashab-nya bersambung hingga Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.1 Lahir di kota Bashrah pada tahun 260 H2 dan wafat pada tahun 324 H di kota Baghdad –menurut pendapat yang benar3– serta dimakamkan di sana. Keyakinan dan pemikiran4 hidupnya mengalami tiga fase, yaitu:

Pertama, ia hidup di bawah asuhan dan bimbingan Abu Ali al-Juba’i –seorang tokoh dan guru kaum Mu’tazilah–, mengambil ilmu darinya dan menjadi wakil serta kepercayaannya. Sehingga dia menjadi seorang Mu’tazilah yang menyerukan pemikiran-pemikiran Mu’tazilah, yang mendahulukan akal daripada naql (nash-nash al-Qur’an dan al-Hadits). Hal itu berlangsung selama kurun waktu 40 tahun.

Kedua, pada suatu ketika dia meneliti ulang tentang keyakinan dan pemikiran Mu’tazilahnya. Dan sempat menghilang dari tengah-tengah khalayak selama 15 hari, berdiam diri di rumahnya guna merenungi dan mengkaji ulang keyakinan dan pemikirannya, lalu beristikharah (meminta petunjuk) kepada Allah hingga ia mendapatkan ketenangan.

Setelah itu dia pun muncul kembali di tengah khalayak dan menyatakan bara’ah-nya (berlepas diri) dari Mu’tazilah, pemahaman yang sejak awal dipelajari dan diyakininya. Dalam hal ini dia menulis kitab al-Luma’ fir-Raddi ‘ala Ahliz-Zaighi wal-Bida’.

Namun setelah ia meniti jalan yang baru, dia kembali terperosok dalam penakwilan nash-nash sifat-sifat Allah yang dianggapnya sesuai dengan hukum akal. Dalam hal ini ia mengikuti jalan yang ditempuh oleh Abdullah bin Sa’id bin Kullab5 yang menetapkan tujuh “sifat dzat” bagi Allah dengan dalil akal, yaitu: sifat Hayat (hidup), sifat ‘Ilmu, sifat Iradah (keinginan), sifat Qudrah (kekuasaan/kemampuan), sifat Sama’ (pendengaran), Bashar (penglihatan) dan sifat Kalam (berbicara).

Adapun sifat khabariyyah, seperti sifat Wajah, sifat Dua Tangan, sifat Telapak Kaki dan Betis6 maka ditakwilkan kepada makna yang menurutnya selaras dengan hukum akal. Sedangkan sifat-sifat Allah yang berkaitan dengan masyi’ah (kehendak)7 ditolaknya (tidak menetapkannya).

Keyakinan dan pemikiran Abul-Hasan al-Asy’ari pada fase kedua inilah yang kemudian diikuti oleh kelompok Asy’ariyyah sampai sekarang. Mereka “menyangka” bahwa inilah fase terakhir yang dialaminya.

Ketiga, yaitu fase di mana Abul-Hasan menemukan jalan Ahlus-Sunnah yang menetapkan semua sifat Allah tanpa tahrif8 dan tasybih/tamtsil9, serta tanpa takyif10 dan ta’thil11; mengikuti manhaj (jalan) yang ditempuh oleh Salafush-Shalih (generasi utama seperti Sahabat, Tabi’in dan Atba at-Tabi’in). Pada fase ini dia menulis beberapa kitab yang utamanya adalah kitab “al-Ibanah ‘An Ushulid-Diyanah.12”

Didalamnya dia menjelaskan bagaimana dia memilih akidah dan manhaj Salaf, serta menyatakan dirinya merujuk kepada Imam Ahlus-Sunnah, Ahmad bin Muhammad bin Hambal. Dia menyatakan di kitab al-Ibanah tersebut (hal. 43);

“Pendapat dan agama yang kami pegang adalah berpegang kepada kitab Rabb kami (al-Qur’an) dan Sunnah Nabi kami (Muhammad) Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta apa yang diriwayatkan oleh para sahabat, tabi’in dan para imam hadits; kami berpegang erat kepada itu semua.

Kami sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Abu ‘Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hambal –semoga Allah menjadikan wajahnya berseri, mengangkat derajatnya dan melimpahkan pahalanya–, dan kita menjauhi orang-orang yang menyelisihinya, karena dia adalah imam yang utama dan pemimpin yang sempurna; melaluinya Allah menjelaskan kebenaran disaat muncul kesesatan dan melaluinya pula Allah menjelaskan jalan yang terang, mengalahkan bid’ah-bid’ah, penyimpangan dan keraguan yang dilakukan oleh para pelakunya…”

Disamping itu dia juga telah menulis kitab “Maqalat al-Islamiyyin” dan “al-Risalah Ila Ahli al-Tsaghr.”

Namun demikian, karena telah begitu lamanya dia mendalami madzhab Mu’tazilah, sehingga menjadikannya tidak selamat dari beberapa kesalahan. Semoga Allah merahmati Beliau dan mengampuni segala kesalahannya.

Sebagian Pemikiran Asy’ariyyah yang Menyimpang dari Ahlus-Sunnah

Dalam banyak hal, pemikiran kelompok Asy’ariyyah menyepakati akidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, namun tidak sedikit pula yang menyelisihinya. Di antaranya yang terpenting adalah:

Pertama: Tentang Sifat-sifat Allah.

Kelompok Asy’ariyyah hanya menetapkan tujuh sifat dzat: Ilmu, Qudrah, Iradah, Sama’, Bashar, Kalam dan Hayat; berdasarkan dalil akal semata. Adapun sifat-sifat khabariyyah, mereka takwilkan; seperti sifat istiwa’ (tinggi di atas arsy-Nya) mereka takwilkan dengan istila’ (menguasai). Mereka juga menolak atau mentakwilkan sifat-sifat fi’liyyah yang berkaitan dengan masyi’ah; seperti sifat Nuzul (Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya)13 yang mereka takwilkan dengan nuzul-amrihi (turunnya keputusan Allah); sifat Tangan yang mereka takwilkan dengan qudrat atau nikmat dan lain-lain yang semisalnya. Menurut mereka, menetapkan sifat-sifat itu berdasarkan dzahir nash, berarti menjadikan Allah ber-jisim (tubuh) dan menyerupakan Allah dengan makhluk.

Ahlus-Sunnah menetapkan semua sifat Allah yang telah Allah tetapkan sendiri untuk-Nya dalam al-Qur’an dan apa yang ditetapkan oleh Rasul-Nya dalam as-Sunnah tanpa tahrif, tasybih/tamtsil, takyif maupun ta’thil. Karena Allah telah menyatakan (yang artinya);

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura : 11)

Dengan kaidah ayat ini, Ahlus-Sunnah menetapkan sifat-sifat Allah yang sesuai dengan kekhususan keagungan dan kebesaran Allah yang tidak bisa diserupakan dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Dan ini berlaku untuk semua sifat Allah, tidak berbeda antara sebagian sifat dengan sifat yang lain.

Karena menetapkan sebagian sifat Allah berarti mengharuskan untuk menetapkan sebagian sifat yang lainnya. Maka, jika mereka bisa menetapkan sebagian sifat, seperti Ilmu, Qudrat (kuasa/mampu), Iradat (keinginan/kehendak), Sama’ (pendengaran), Bashar (penglihatan), Kalam dan Hayat, mengapa mereka tidak bisa menetapkan sifat-sifat yang lainnya –dengan alasan bahwa menetapkannya akan jatuh kepada menyerupakan Allah dengan makhluk.

Bukankah sifat-sifat yang mereka tetapkan seperti ilmu dan lainnya juga dinisbatkan pada makhluk? Maka berarti mereka sendiri telah jatuh pada tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk). Kalau mereka mengatakan bahwa menetapkan sifat-sifat tersebut hanya layak bagi Allah yang tidak sama dengan yang dimiliki makhluk-Nya.

Maka mengapa mereka bisa mengatakan hal itu untuk sifat-sifat yang mereka tetapkan saja. Mengapa mereka tidak bisa mengatakan yang sama untuk sifat-sifat yang lainnya, dengan mengatakan bahwa menetapkan semua sifat-sifat Allah itu adalah hanya layak bagi Allah yang tidak serupa dengan sifat-sifat makhluk-Nya.

Jadi, dengan kaidah ayat diatas, bisa disimpulkan bahwa kesamaan lafazh sifat antara yang ada pada Allah dengan yang ada pada makhluk tidak mengharuskan kita menyerupakan hakikat antara sifat Allah dan sifat makhluk. Dan hakikat sifat-sifat Allah itu tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah sendiri. Wallahu a’lam.

Kedua: Tentang Perbuatan Hamba.

Kelompok Asy’ariyyah mengatakan bahwa perbuatan hamba adalah ciptaan Allah sekaligus merupakan usaha (kasb) hamba. Yang maksudnya bahwa qudrat (kemampuan) hamba tidak memiliki pengaruh terhadap perbuatannya –dengan berbagai bentuknya– yang muncul dari dirinya; karena Allah telah memberlakukan penciptaan perbuatan hamba tersebut bergandengan dengan qodrat-nya –dalam waktu yang bersamaan–, dan inilah yang mereka sebut sebagai kasb. Jadi, yang murni berpengaruh terhadap kemunculan perbuatan hamba adalah qodrat Allah, dalam arti bahwa hamba tidak memiliki ikhtiyar (pilihan). Pendapat mereka dalam masalah ini serupa dengan pendapat Jabriyyah (suatu kelompok dari kalangan Jahmiyyah).

Menurut Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, hal tersebut merupakan perkara yang mustahil dan tidak bisa diterima oleh akal sehat. Karena jika hamba tidak memiliki ikhtiar (pilihan) atas perbuatan, maka apa yang mereka sebut sebagai kasb itu adalah sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal sehat.

Dan perkataan tersebut menghasilkan konsekuensi bahwa kalau hamba tidak dikatakan sebagai pelaku perbuatan yang hakiki, maka berarti pelaku hakiki perbuatan tersebut adalah Allah. Padahal perbuatan tersebut melekat pada hamba dan tidak pada Allah.

Sehingga kalau hamba bukan pelakunya –padahal jelas ia yang melakukannya, maka bagaimana dikatakan bahwa Allah yang menjadi pelakunya? Karena kalau Allah pelakunya, maka hukum-hukum syari’at yang Allah tetapkan akan kembali kepada-Nya –termasuk balasan pahala dan siksa–, dan ini suatu hal yang mustahil. Allah Mahatinggi lagi Mahasuci dari hal ini. Jika demikian, apakah akan dikatakan bahwa perbuatan-perbuatan tersebut tidak ada pelakunya?! Dan ini adalah bathil.

Sedangkan Ahlus-Sunnah berpendapat bahwa perbuatan-perbuatan (hamba) itu pelakunya yang hakiki adalah hamba itu sendiri dengan ikhtiarnya, namun hal itu termasuk di antara perkara yang telah ada catatan takdirnya dari Allah. Jadi hambalah yang betul-betul melakukannya, tetapi Allah yang menciptakannya, yang menciptakan qodrat, iradat dan sebab; yang dengannya hamba melakukan perbuatan.

Periksa kembali bantahan dan jawaban terhadap kelompok Jahmiyyah dalam masalah ini di majalah Fatawa edisi 05/II.

Catatan Kaki:

1. ^ Ali bin Ismail bin Abu Bisyr Ishaq bin Salim bin ‘Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah Amir bin Abu Musa ‘Abdullah bin Qais al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu. al-Asy’ari adalah penisbatan kepada kabilah Asy’ar yang terkenal di Yaman. Asy’ar nama aslinya adalah Nabt bin Udad. (Tarikh Baghdad 11/346 oleh al-Khathib al-Baghdadi; dan Tabyin Kadzibil-Muftara 34-35 oleh Ibnu Asakir)

2. ^ Inilah yang benar sebagaimana dalam Tarikh Baghdad (11/346); lihat juga Muqaddimah Syaikh Hammad bin Muhammad al-Anshari terhadap kitab al-Ibanah karya Abul-Hasan al-Asy’ari (hal. 5-6). Adapun yang tercantum dalam al-Mausu’ah al-Muyassarah fil Adyan wal-Madzahib (1/87) yaitu tahun 270 H, barangkali merupakan kesalahan cetak, wallahu a’lam.

3. ^ Merupakan pendapat Ibnu Hazm sebagaimana dinukil oleh al-Khathib dalam Tarikh-nya (11/346); lihat juga Tabyin Kadzibil-Muftara (hal. 56) oleh Ibnu Asakir.

4. ^ Diantaranya dijelaskan oleh Syaikh Hammad al-Anshari dalam muqaddimahnya terhadap kitab al-Ibanah (hal. 8-12); Beliau nukilkan beberapa perkataan para ulama yang menetapkan tentang fase-fase kehidupan Abul-Hasan al-Asy’ari sehingga menjadi seorang yang berjalan di atas manhaj Salafush-Shalih.

5. ^ Kemudian dikenal dengan Ibnu Kullab dan pengikutnya disebut Kullabiyah.

6. ^ Sifat dzat Allah terbagi dua: pertama, yaitu sifat dzat khabariyyah (yang dari sisi lafazhnya digunakan untuk anggota-anggota tubuh makhluk, namun hakikatnya berbeda antara Allah dengan makhluk-Nya, karena kesamaan dalam lafazh tidak mesti harus sama hakikatnya) seperti sifat Wajah, Dua Tangan, Dua Mata dan lainnya. Kedua, sifat dzat maknawiyyah (selain dari sifat khabariyyah) seperti sifat Hayat (Hidup), Ilmu, Iradah (Keinginan) dan lainnya.

7. ^ Maksudnya adalah sifat-sifat fi’liyyah (perbuatan) yang terkait erat dengan kehendak-Nya. Sifat-sifat fi’liyyah ini terbagi dua pula, yaitu: pertama, sifat fi’liyyah yang berkaitan dengan sebab yang ada pada hamba seperti Mencintai, Membenci, Ridha, Murka (marah) dan lainnya. Kedua, sifat fi’liyyah yang tidak terkait dengan sebab yang ada pada makhluk, seperti sifat Nuzul (turun ke langit dunia pada setiap sepertiga malam yang terakhir), Sifat Dhahik (Tertawa) dan lainnya. Yang kesemuanya berbeda hakikatnya dengan perbuatan-perbuatan makhluk, walaupun sama dalam lafazhnya.

8. ^ Tahrif yaitu menyimpangkan lafazh maupun makna dari nama atau sifat Allah kepada lafazh lain atau makna lain dengan tanpa dalil.

9. ^ Tasybih/tamtsil yaitu menyerupakan atau menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya.

10. ^ Takyif yaitu menetapkan suatu bentuk atau hakikat tertentu dari sifat-sifat Allah, padahal sifat-sifat Allah itu ghaib sebagaimana dzat-Nya.

11. ^ Ta’thil yaitu meniadakan atau mengingkari sebagian maupun keseluruhan dari sifat-sifat Allah.

12. ^ Sebagian orang menolak kebenaran penisbatan kitab ini kepada Abul-Hasan. Namun hal ini terbantah dengan apa yang ditetapkan oleh Ibnu Asakir dalam kitabnya Tabyin Kadzibil-Muftara dan Ibnu Darbas dalam kitabnya adz-Dzabbu ‘An Abil-Hasan al-Asy’ari. Lihat disertasi magister yang ditulis oleh Khalid bin Abdul-Lathif bin Muhammad Nur dengan judul Manhaj Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah wa Manhaj al-Asya’irah (1/32-39).

13. ^ Lihat hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim no. 758.

http://ahlussunnah.info/2009/12/29/artikel-ke-29-asy%E2%80%99ariyyah-bukan-ahlus-sunnah

4 Responses

  1. Dalam hadits riwayat al-Imam Ahmad ibn Hanbal dan al-Imam al-Hakim disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

    لَتُفْتَحَنّ الْقِسْطَنْطِيْنِيّةُ فَلَنِعْمَ الْأمِيْرُ أمِيْرُهَا وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذلِكَ الْجَيْشُ (رَوَاهُ أحْمَد والْحَاكمُ)

    “Kota Kostantinopel (Istanbul sekarang) benar-benar akan ditaklukan oleh seorang panglima. Panglima tersebut adalah sebaik-baiknya panglima dan sebaik-baiknya tentara” (HR Ahmad dan al-Hakim).

    Hadits ini baru menjadi sebuah kenyataan setelah sekitar 800 tahun kemudian dari masa hidupnya Rasulullah. Ialah ketika kota Istanbul takluk di tangan sultan Muhammad al-Fatih. Sebelum beliau, telah banyak panglima yang berusaha untuk menaklukan kota tersebut, termasuk ayah dari sultan Muhammad al-Fatih sendiri, yaitu sultan Murad ats-Tsani. Tentu mereka semua berkeinginan sebagai orang yang dimaksud oleh Rasulullah dalam pujiannya dalam hadits di atas. Namun ternyata hanya sultan Muhammad al-Fatih yang dapat menaklukan kota kostantinopel hingga jatuh secara penuh ke dalam kekuasaan kaum Muslimin.
    Sejarah telah mencatat bahwa sultan Muhammad al-Fatih adalah seorang yang dalam akidah pengikut al-Imam Abu al-Hasan Asy’ari yang sangat tulen. Dalam akidah, beliau sangat kuat memegang teguh Ahlussunnah Wal jama’ah di atas madzhab Asy’ariyyah. Beliau sangat mencintai para ulama dan kaum sufi. Dalam hampir segala keputusan yang beliau tetapkan adalah hasil dari pertimbangan-pertimbangan yang telah beliau musyawarahkan dengan para ulama dan kaum sufi terkemuka. Bahkan sebelum beliau memutuskan untuk turun menaklukan Kostantinopel beliau bermusyawarah dengan guru-guru spiritualnya tersebut. Musyawarah di sini tidak hanya terbatas untuk membentuk mental dan spirit semata, namun juga pembahasan tentang metode, alat-alat perang, perbekalan dan lain sebagainya.
    Kemudian salah satu senjata terpenting yang tertancap kuat dalam keyakinan sultan Muhammad al-Fatih adalah kekuatan tawassul. Karena itu, sebelum turun ke medan perang beliau bertawassul dengan Rasulullah. Beliau meminta kepada Allah agar diluluskan cita-citanya dengan menjadikan Rasulullah sebagai wasilah atau perantara dalam doanya tersebut. Dengan demikian hadits di atas, secara tersirat, memberikan pelajaran penting kepada kita bahwa tawassul adalah sesuatu yang telah disyari’atkan dalam Islam.
    Pujian Rasulullah terhadap panglima penakluk Kostantinopel dalam hadits di atas adalah salah satu bukti kuat akan kebenaran akidah yang diyakini oleh panglima tersebut. Juga bukti kebenaran akidah dari bala tentara atau orang-orang yang bersamanya. Mereka itu semua adalah kaum Asy’ariyyah, kaum yang berkeyakinan akan kesucian Allah dari menyerupai makhluk-Nya. Berkeyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah, bahwa Allah suci dari segala bentuk dan ukuran, dan bahwa Allah tidak disifati dengan sifat-sifat benda. Mereka adalah kaum yang berkeyakinan tentang disyari’atkannya tawassul, baik bertawassul dengan para Nabi, maupun betawassul dengan para wali Allah ataupun orang-orang saleh lainnya. Karenanya, tidak sedikit dari para pengikut sultan Muhammad al-Fatih adalah orang-orang mulia yang berasal kalangan sufi dan para pengikut tarekat.

    • Silakan beri rujukan yang jelas, dikitab mana, siapa pengarangnya “Hattu burhanukum inkumtum shodiqqin”. Syukron Jaziilan

  2. Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Imam Ahmad)”.Perlu diketahui yang menaklukkan konsatantinopel adalah Sultan Muhammad Al Fatih yg beraqidah Asy’ariyyah

    Seperti maklum diketahui dan dicatat oleh sejarah bahwa Sultan Muhammad al Fatih adalah Asy’ari Maturidi, meyakini bahwa Allah ada tanpa tempat. Dengan demikian hadits ini adalah busyra (berita gembira) bagi seluruh Ahlussunnah, al Asy’ariyyah dan al Maturidiyyah bahwa aqidah mereka sesuai dengan aqidah Rasulullah, maka berbahagialah orang yang senantiasa mengikuti jalan mereka.

    Beliau bersama pasukannya termasuk pengikut setia Ahlus Sunnah wal Jamaah madzhab Al Asyari, mencintai kaum sufi, bertawassul, mengikuti tarekat sufi dengan mursyidnya Maulana Syaikh Aqa Syamsuddin, merayakan mawlid nabi, dan tradisi sufi lainnya, sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Walid al Sa’id dalam kitabnya Tabyin Dhalalat al Albani Syaikh al Wahhabiyah al Mutamahdits.

    Aqidah al Asy’ariyyah dan al Maturidiyyah adalah aqidah kaum muslimin dari kalangan Salaf dan Khalaf, aqidah para khalifah dan Sultan, seperti sultan Shalahuddin al Ayyubi ra. Sultan Shalahuddin al Ayyubi adalah seorang ‘alim, penganut aqidah Asy’ariyyah dan madzhab Syafi’i, hafal al Qur’an dan kitab at-Tanbih dalam fiqh Syafi’i serta sering menghadiri majlis-majlis ulama hadits.

    • Terima kasih..atas komentar antum, untuk menjaga amanah ilmiyyah dan kebenaran nukilan antum silakan memberikan rujukan ( referensi yang jelas). Semoga diberikan semangat untuk menuntut ilmu dan Semoga Allah Tabaroka wa Ta’ala memberikan ilmu yang bermanfa’at. Barokallahu fiykum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: