Menangis karena Takut kepada Allah

MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLAH TABAROKA WA TA’ALA

 

Judul  asli:  البكاء من خشية الله ( Weeping out of Fear of Allah)
Penulis: Syaikh Husain al-Awaisyah 

Banyak sebab yang dapat membuat seseorang memangis. Namun diantara sekian banyak sebab, hanya satu jenis tangisan yang dapat mendekatkan seseorang kepada keridhaan Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah sehingga susu itu dapat kembali ke tempat asalnya. Tidak akan berkumpul debu fisabilillah itu dengan asap neraka Jahanam.” (diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, oleh At-Tirmidzin (hasan shahih), an-Nasa’i dan al-Hakim (shahih).
E-Book berikut ini merupakan pencerahan bagi hati, penyejuk bagi jiwa. Melalui buku ini penulis emngajak kita untuk mengenali rasa takut kepada Allah yang dapat menyebabkan seorang hamba menangis, sebab tangisan karena Allah adalah salah satu yang dapat melembutkan hati dan  mendatangkan keselamatan bagi seorang hamba.Sebagaimana yang dikatakan dari Bukair atau Abu Bukair bahwa Ibrahim at-Taimi,
“Hendaknya merasa khawatir orang yang tidak merasakan kesedihan dan duka cita akan menjadi penduduk neraka, karena penduduk Surga akan berkata:
“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.” (QS Al-Fatir [35] : 34)
Dn selayaknya bagi seseorang yang tidak takut (kepada azab Allah) merasa khwatir tidak termasuk dalam salah satu penduduk Surga, karena mereka akan berkata:
“Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)” (QS Atj-Thur [52] : 26)…….

PRINSIP ILMU USHUL FIKIH (EBOOK)

PRINSIP ILMU USHUL FIKIH (EBOOK)

Oleh :Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin Rohimahullah

Ushul Fikih adalah landasan yang seharusnya difahami oleh setiap thullabul ilmi, karena Ushul Fikih ini melandasi semua cara beristidlal dan berhujjah para ulama. Dengan ilmu inilah seseorang dapat memahami bagaimana para ulama di dalam menggali dan mengambil kesimpulan suatu hukum. Namun, ilmu ini bukanlah ilmu yang mudah dan bisa difahami begitu saja, tanpa bimbingan seorang ulama yang mumpuni dan tanpa penelaahan waktu yang panjang.

 

Betapa banyak pula orang yang mempergunakan ilmu ini untuk mempertahankan kesalahan, penyimpangan, bid’ah bahkan kekufurannya. Kita ambil contoh misalnya, komunitas JIL atau Muslim(?) Liberalis, betapa sering mereka menggunakan ilmu ushul fikih ini (secara serampangan tentunya) untuk memperkuat argumentasi dan dalil mereka di dalam menyebarkan kekufuran dan kesesatan. Begitu pula dengan kelompok-kelompok dan aliran sesat lainnya.

Bahkan, saya sendiri pernah terperanjat ketika mendengar ada seorang kiyai pernah mengatakan –ketika ditanya tentang hukum rokok- : “Rokok itu hukumnya makruh, namun bagi saya hukumnya wajib.” Ketika ditanya alasannya, ia dengan entengnya menjawab : “Saya apabila tidak merokok tidak bisa konsentrasi mengajar, sedangkan mengajar adalah kewajiban saya, di dalam kaidah ushul fiqh dikatakan : maa laa yatimmu waajibun illa bihi fahuwa waajib, sesuatu yang apabila tanpa keberadaannya maka tidak sempurna kewajiban maka sesuatu itu wajib hukumnya.” Demikian kurang lebih apa yang sang kiyai ini katakan.

Oleh karena itulah, sesuatu apabila ditempatkan tidak pada tempatnya pastilah keliru, salah bahkan dikatakan zhalim. Untuk menghindari kesalahan seperti ini, maka diperlukan pemahaman mendasar yang harus difahami oleh seorang yang akan belajar ilmu ushul fikih. Oleh karena itulah, buku al-Ushul min ‘Ilmil ‘Ushul ini layak kiranya dibaca bagi orang yang ingin memahami landasan di dalam memahami ilmu ushul yaitu ushul fikih.

Buku ini adalah buku buah karya dari Faqihuz Zaman al-Imam al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, seorang ulama besar ahli fikih, ushul, aqidah, tafsir dan hadits telah wafat 1421 H. kemarin. Semoga Alloh merahmati beliau. Kepergian beliau adalah bencana dan musibah bagi umat islam, sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah bahwa ilmu umat ini tidak akan dicabut sekaligus, namun Alloh mencabutnya dengan mewafatkan para ulama.

Di dalam buku ini banyak sekali faidah dan ilmu yang bisa kita ambil, bahasanya mudah, sistematis dan ringkas, sehingga tidak membuat orang menjadi bosan menelaahnya –kurang lebih inilah yang saya rasakan-. Semoga Alloh membalas penulis buku ini dengan pahala-Nya yang berlimpah dan membalasnya dengan surga Alloh. Buku ini dialihbahasakan oleh al-Akh al-Fadhil Abu Shillah dan isteri jazzahumallahu khoyrol jazaa’ ‘anil Islam wal Muslimin yang telah meluangkan waktu dan bersusah-payah untuk menyebarkan faidah ini kepada umat. Semoga buku ini bisa bermanfaat.

diambil dari blog akh. abu salma. Jazaakalloh khoir.

 

Silakan download (737 kb)

 

 

EBook (CHM) : Qawaidul Fiqhiyyah

EBOOK (CHM) : QOWAIDUL FIQHIYYAH

Oleh: Sulaiman Abu Syeikha Al-Magetiy

E-book ini bersi dua belas kaidah-kaidah fiqih yang disusun oleh penulis.

Berikut cuplikan dari sebagian dari kaidah tersebut :

 

القواعـــد الفقهيــــة

Kaidah-Kaidah Fiqih

Oleh : sulaiman abu syeikha al magetiy

(جزء الأولى)

Bagian Pertama

 

الحمد لله رب العالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريط له، وأشهد أن محمدًا عبد الله ورسوله وصفيّه وخليله، نشهد أنَّه بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح الأمة وجاهد في الله حق الجهاد، صلّى الله وسلّم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهداهم إلى يوم الدين. أمَّا بعد

 

Setelah tahmid dan salam (diatas pent.) dalam kesempatan ini ana akan berusaha sedikit-demi sedikit (insya Allah)  menukilkan “qaidah syariyyah dari qaidah fiqhiyyah muyassaroh / qaidah-qaidah fiqih yang mudah ” yang telah digoreskan oleh ulama’ dari generasi salafus sholeh terdahulu ataupun sekarang, sehingga kita semakin mengenal akan qaidah-qaidah syar’iiyah yang di atasnya di bangun agama ini serta dalam istimbat hukum, sehingga  mempermudah bagi kita untuk memahami agama ini ( insya ALLAH ), dan kitapun beragama dengan qaidah dan ilmu karena makna ilmu mengetahui kebenaran dengan dalilnya. Continue reading

Seri Kaidah Fikih: Perintah dan Larangan Dalam Syariat

Seri Kaidah Fikih: Perintah dan Larangan Dalam Syariat

Kaidah Pertama: Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya tidaklah memerintahkan suatu perkara, kecuali perkara yang murni atau rajih maslahatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya pun tidaklah melarang suatu perkara, kecuali perkara yang murni atau rajih mafsadatnya.

Kaidah ini mencakup seluruh syariat agama ini. Tidaklah ada sedikit pun dari hukum syariat  yang keluar dari kaidah ini. Tidak ada perbedaan antara yang berkaitan dengan pokok atau pun cabang dari agama ini. Sama saja, baik berhubungan dengan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala atau pun yang berhubungan dengan hak para hamba. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, serta Allah melarangmu melakukan perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Qs. An-nahl: 90) Continue reading

Gadai dalam Islam

Gadai dalam Islam

Islam agama yang lengkap dan sempurna telah meletakkan kaidah-kaidah dasar dan aturan dalam semua sisi kehidupan manusia, baik dalam ibadah maupun muamalah (hubungan antar makhluk). Setiap orang membutuhkan interaksi dengan orang lain untuk saling menutupi kebutuhan dan tolong-menolong di antara mereka.

Karena itulah, kita sangat perlu mengetahui aturan Islam dalam seluruh sisi kehidupan kita sehari-hari, di antaranya tentang interaksi sosial dengan sesama manusia, khususnya berkenaan dengan perpindahan harta dari satu tangan ke tangan yang lain.

Utang-piutang terkadang tidak dapat dihindari, padahal banyak muncul fenomena ketidakpercayaan di antara manusia, khususnya di zaman kiwari ini. Sehingga. orang terdesak untuk meminta jaminan benda atau barang berharga dalam meminjamkan hartanya. Continue reading

Keutamaan Membaca Shalawat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam

Keutamaan Membaca Shalawat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ

Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anjuran memperbanyak shalawat tersebut[2], karena ini merupakan sebab turunnya rahmat, pengampunan dan pahala yang berlipatganda dari Allah Ta’ala[3]. Continue reading

Download Audio: Sifat Shalawat & Salam Kepada Nabi – Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Download Audio: Sifat Shalawat & Salam Kepada Nabi – Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab: 56) Continue reading

%d bloggers like this: