Kekeliruan Muncul Saat Berpaling Dari Wahyu

KEKELIRUAN MUNCUL SAAT BERPALING DARI WAHYU

(Tafsir: Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X)

(Qs. al-Hujurat/49:6-8)

Hai orang-orang yang beriman,
jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita,
maka periksalah dengan teliti,
agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada kaum
tanpa mengetahui keadaannya
yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah.
Kalau ia menuruti (kemauan) kamu sekalian dalam beberapa urusan
benar-benarlah kalian akan mendapatkan kesusahan,
tetapi Allâh menjadikan kalian cinta kepada keimanan
dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu
serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan.
Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.
Sebagai karunia dan nikmat dari Allâh.
Dan Allâh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(Qs. al-Hujurat/49 : 6-8)

SEBAB TURUNNYA AYAT YANG PERTAMA

Imam Ahmad rahimahullâh meriwayatkannya dalam hadits yang panjang, di antara isinya:

Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam mengutus al-Walid bin ‘Uqbah untuk menemui al-Harits (bin Abi Dhirar al-Khuza’i dari Bani Musthaliq) untuk mengambil zakat yang sudah dikumpulkan. Tatkala al-Walid telah menempuh beberapa jalan, ia takut dan pulang, kemudian menjumpai Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam seraya berkata:

“Wahai Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, al-Harits menghalangiku untuk mengambil zakat dan berusaha membunuhku,”

Maka Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menyiapkan pasukan menuju al-Harits. Al-Harits datang bersama teman-temannya (menuju Madinah). Delegasi (Nabi) menjumpainya dan mengetahuinya : “Itu al-Harits”.

Ketika al-Harits sudah mendekati delegasi tersebut, ia bertanya: “Kalian diperintahkan pergi kemana?”

Mereka menjawab: “Kepadamu (wahai al-Harits),”

Ia bertanya : “Apa sebab?”

Mereka menjawab : “Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam telah mengutus al-Walid bin ‘Uqbah kepadamu. Menurutnya, engkau menghalanginya mengambil zakat dan ingin membunuhnya,”

Ia (al-Harits) menampik : “Tidak, demi Dzat yang mengutus Muhammad dengan al-haq, aku tidak pernah melihatnya, ia tidak pernah mendatangiku”.

Ketika kemudian al-Harits menemui Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam berkata : “Engkau menolak membayar zakat dan ingin membunuh utusanku?”

Ia (al-Harits) menjawab : “Tidak, demi Dzat yang mengutus Muhammad dengan al-haq, aku tidak pernah melihatnya, ia tidak pernah mendatangiku. Dan tidaklah aku datang (sekarang ini), kecuali karena utusan Rasûlullâh tidak muncul. Aku khawatir kalau hal itu (ketidak hadiran utusan beliau untuk mengambil zakat, Pen) karena adanya kemurkaan dari Allâh Ta’ala dan RasulNya,” maka turunlah ayat ini. [1]

PENJELASAN AYAT

Sebagai penjelasan ayat pertama, kami kutipkan penjelasan dari Syaikh as Sa’di rahimahullâh yang menyatakan :

“Ini juga (merupakan) beberapa adab yang harus dipenuhi dan digunakan oleh orang-orang yang berakal. Yaitu, apabila ada seorang fasik yang datang dengan membawa berita kepada mereka (kaum Muslimin), hendaknya mereka melakukan tatsabbut (klarifikasi) terhadap beritanya, tidak dengan serta merta mengambilnya begitu saja. Karena tindakan ini bisa mengakibatkan bahaya yang besar dan terjatuh dalam perbuatan dosa. Jika beritanya dianggap seperti kabar yang dibawa orang jujur lagi adil, dan dilaksanakan kandungannya, maka akan timbul lenyapnya jiwa dan harta tanpa alasan yang dibenarkan, lantaran isi dari berita (yang tidak benar) itu, yang akhirnya menimbulkan penyesalan. Yang wajib dilakukan terhadap berita orang fasik adalah tatsabbut dan tabayyun (klarifikasi dan konfirmasi). Kalau ada bukti dan kondisi yang menunjukkan kejujurannya, maka bisa dilaksanakan dan dibenarkan. Namun apabila mengindikasikan sebuah kedustaan belaka, maka harus diingkari dan tidak perlu diikuti”.[2]

Ayat ini, kendatipun turun berkenaan dengan sebab tertentu, hanya saja kandungannya umum dan menjadi prinsip dasar penting. Maka kewajiban seseorang, komunitas, negara, tidak boleh menerima sebuah berita yang sampai kepada mereka dan tidak melaksanakan substansinya, kecuali setelah tatsabbut dan tabayyun yang tepat. Karena dikhawatirkan akan menimpakan keburukan kepada seseorang ataupun masyarakat tanpa alasan. (Jadi) memegangi prinsip tatsabbut dan tabayyun dalam menyeleksi berita dari seseorang adalah wajib, yang berguna untuk menjaga kehormatan individu-individu dan pemeliharaan terhadap jiwa dan harta mereka. [3]

(Qs. al-Hujurat/49:7)

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasûlullâh

Firman Allâh Ta’ala di atas, maknanya, seperti dikatakan Imam Ibnu Katsir rahimahullâh :

“Ketahuilah bahwa di tengah kalian ada Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Agungkan dan muliakanlah beliau. Bersikaplah dengan penuh etika saat bersamanya. Tunduklah kalian pada perintahnya. Sebab beliau orang yang paling mengetahui tentang maslahat bagi kalian dan lebih sayang kepada kalian daripada diri kalian sendiri. Daya pertimbangan beliau tentang kalian lebih sempurna dari pemikiran kalian, seperti makna firman Allâh Ta’ala :

(Qs. al-Ahzab/33:6)

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.
(Qs. al-Ahzab/33:6)

Syaikh Abu Bakar al-Jazairi rahimahullâh di dalam tafsirnya menyatakan, Allâh ingin mengarahkan pandangan kaum Muslimin (para sahabat, Pen) pada sebuah substansi penting yang mereka lalaikan. Yaitu, tentang keberadaan Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam di tengah-tengah mereka, dengan wahyu yang turun kepada beliau. Kondisi ini menuntut mereka untuk senantiasa bertutur kata jujur dan bertindak elegan. Kalau tidak, niscaya wahyu akan membuka kedok (kesalahan) mereka secara langsung, jika mereka berdusta.[4]

(Qs. al-Hujurat/49:7)

Kalau ia menuruti (kemauan) kamu sekalian dalam beberapa urusan
benar-benarlah kalian akan mendapatkan kesusahan

Tentang ayat di atas, Imam at Tirmidzi rahimahullâh meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Nadhrah rahimahullâh, dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallâhu’anhu. Tatkala sahabat yang mulia ini membaca ayat di atas, ia berkomentar :

hadist

Ini nabi kalian, diwahyukan kepada beliau wahyu.
Dan mereka (para sahabat) adalah tokoh-tokoh (dari kalangan) kalian.
Seandainya beliau mengikuti mereka dalam banyak urusan,
niscaya mereka akan terjerumus dalam kesulitan.
Bagaimana dengan kalian sekarang? [5]

Artinya, kalau beliau mentaati mereka dalam setiap perkara yang mereka pandang (baik) dan mereka usulkan, niscaya mereka akan terjerembab dalam berbagai permasalahan yang menyeretnya kepada beragam kesulitan yang tidak terpikul, atau bahkan tidak menutup kemungkinan pada dosa-dosa yang besar. [6] Hal ini seperti kandungan firman Allâh Ta’ala : [7]

(QS al Mukminun/23:71)

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka,
pasti binasalah langit dan bumi ini dan semua yang ada di dalamnya.
Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka
tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.
(QS al Mukminun : 71)
Manusia, meskipun fitrahnya lurus, ia sangat membutuhkan bimbingan al-Kitab dan Sunnah untuk mengetahui kebaikan. Sebab, ada saja yang tidak diketahui olehnya, sehingga suatu kebaikan dianggap sebagai kejelekan dan sebaliknya. Akhirnya penilaian pun keliru.

Di dalam Shahihain, dari sahabat Huzhaifah radhiyallâhu’anhu, Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menceritakan keadaan masa mendatang :

hadist

Orang-orang nantinya akan saling melakukan transaksi jual-beli.
Hampir-hampir tidak ada seorang pun yang amanah.
Sehingga akan didengungkan “di kalangan Bani Fulan ada orang yang amanah,”
maka orang itu dipuji : “Alangkah cerdas, beruntung dan kuat dirinya,”
padahal ia tidak memiliki kadar keimanan seberat biji sawi sekalipun. [8]
Bagaimanapun ketinggian ilmu dan keshalihan seseorang, ada saja kebaikan yang tidak diketahuinya. Ketidaktahuan semacam ini juga terjadi pada generasi terbaik, generasi sahabat. Bagaimana dengan generasi lainnya? Tentu sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu, merujuk kepada al-Kitab dan Sunnah menjadi keharusan bagi setiap muslim.

Syaikh Abdul Malik Ramdhani rahimahullâh mengatakan[9]:

“Firman Allâh (yang kedua) di atas, redaksinya mengarah kepada sebaik-baik orang yang beribadah kepada Allâh dan memahami syariat-Nya (para sahabat, Pen). Seandainya mereka dibiarkan begitu saja tanpa diberi penjelasan dari al-Kitab dan Sunnah, niscaya pilihan mereka dalam banyak hal benar-benar akan mengandung kesulitan bagi mereka sendiri. Bagaimana dengan orang yang kualitasnya di bawah mereka?”

Sebagai contoh, ada sebagian sahabat yang mengira, kalau meninggalkan wanita secara mutlak itu menggambarkan sifat ‘iffah dan kesempurnaan dalam beribadah. Maka Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam pun melarangnya, karena ada unsur kesulitan yang timbul, selain karena bertentangan dengan fitrah.

Dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallâhu’anhu, ia berkata :

hadist

Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam
menolak tabattul[10] dari ‘Utsman bin Mazh’un.
Andai beliau membolehkannya, niscaya kami akan mengebiri diri kami.
(Muttafaqun ‘alaih)
Atau riwayat lain yang menceritakan bahwa Mu’adz radhiyallâhu’anhu, tatkala pulang dari Syam, ia sujud di hadapan beliau. Maka Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam mengatakan:

hadist

“Apa-apaan ini, wahai Mu’adz?”
Dia menjawab,”Aku baru datang dari Syam.
Kedatanganku menepati mereka (orang-orang di sana) sedang sujud
untuk uskup dan pendeta-pendeta mereka.
Maka aku ingin melakukannya kepadamu,”
Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menjawab,
”Janganlah kalian lakukan. Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk bersujud,
maka akan kuperintahkan istri untuk bersujud kepada suaminya.” [11]
Dalam hadits di atas, Mu’adz radhiyallâhu’anhu ingin sujud kepada Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam sebagai bentuk penghormatan. Namun Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam melarangnya dan menjelaskan tindakan yang ia anggap baik itu berseberangan dengan prinsip paling penting dalam Islam, yaitu tauhid, sehingga Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam mengingkarinya.

Maka, tidak diragukan lagi, penghormatan kepada orang-orang yang besar dengan cara bersujud mengandung unsur kesulitan yang besar. Di tambah lagi adanya penyimpangan dalam syariat sehingga merubah tatanan nilai. Realita yang ada, percampuran lelaki dan perempuan tidak dipandang masalah, pembatasan anak disebut sebagai wujud kesadaran ekonomi, saling bersalaman usai shalat fardhu dan kebiasaan-kebiasaan lainnya yang bertentangan dengan aturan agama disangka sebagai bagian dari agama. Sehingga keberadaan wahyu mutlak diperlukan oleh setiap manusia.

(Qs. al-Hujurat/49:7)

Tetapi Allâh menjadikan kalian cinta kepada keimanan
dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu
serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan
Tetapi karena Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam membimbing kalian dan Allâh Ta’ala telah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikannya indah di hati-hati kalian, lantaran Allâh memasukkan kecintaan kepada al-haq dan mengutamakannya pada kalbu-kalbu kalian. Dan juga lantaran tegaknya bukti dan petunjuk bagi al-haq yang menunjukkan kebenarannya, hati yang mudah menerima, serta taufik-Nya bagi kalian untuk ber-inabah (kembali) kepada-Nya. Dia menjadikan kalian benci kepada al-kufru dan fusuq, yaitu dosa-dosa besar, serta ‘ishyan, yaitu tingkatan dosa yang di bawahnya melalui rasa benci yang Allâh letakkan di hati-hati kalian dan tiadanya kehendak untuk mengerjakannya, juga melalui tegaknya dalil dan bukti mengenai keburukannya, serta karena fitrah manusia tidak menerimanya.[12]

(Qs. al-Hujurat/49:7)

Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus

Mereka itu (para sahabat Rasûlullâh radhiyallâhu’anhum, Pen) berada di atas jalan yang lurus, mendapatkan petunjuk menuju akhlak yang baik, tidak menyimpang lagi tidak tersesat. [13]

(Qs. al-Hujurat/49:8)

Sebagai karunia dan nikmat dari Allâh.
Dan Allâh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana
Karunia yang dianugerahkan kepada kalian merupakan keutamaan dan kenikmatan-Nya kepada kalian. Allâh Maha Mengetahui orang yang berhak mendapatkan hidayah dan manusia yang pantas tersesat. Demikian juga Allâh Maha Bijaksana dalam setiap firman, tindakan dan aturan syariat-Nya, serta takdir-Nya. [14]

Hidayah yang didapat para sahabat merupakan keutamaan dan anugerah dari Allâh Ta’ala bagi mereka. Allâh Maha Mengetahui niat dan kehendak yang ada pada mereka. Allâh Maha Bijaksana dalam pengaturan-Nya, dengan menjadikan para sahabat sebagai manusia-manusia yang pantas menerima kebaikan, dan menjadikan mereka sebagai umat yang paling baik secara mutlak[15]

BEBERAPA PELAJARAN DARI AYAT

Dari ayat-ayat di atas, bisa mengambil beberapa pelajaran penting, sebagai berikut : [16]

Pertama. Kita memahami, bahwa Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam memiliki kedudukan yang tinggi.

Kedua. Wajib bagi kita melakukan tatsabbut dalam menyikapi berita-berita penting yang bisa mengakibatkan timbulnya gangguan atau bahaya atas diri seseorang berkaitan dengan berita yang kita dengar.

Ketiga. Diharamkan bersikap tergesa-gesa yang dapat mengakibatkan seseorang menghukumi sesuatu dengan dasar persangkaan belaka, sehingga pelakunya nanti akan menyesal di dunia dan akhirat.

Keempat. Di antara kenikmatan besar yang diraih seorang mukmin, bahwa Allâh menjadikannya cinta terhadap keimanan kepada-Nya, dan menjadikan (iman itu) indah di hatinya.

Kelima. Allâh menjadikannya benci kepada tindakan kekufuran, kefasikan dan maksiat. Dengan itu, seorang mukmin menjadi insan yang paling lurus setelah para sahabat Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam.

Washallâhu ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in.

Sumber : http://majalah-assunnah.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: