Ka’ab bin Malik; Dan Manisnya Sebuah Kejujuran…

Ka’ab bin Malik; Dan Manisnya Sebuah Kejujuran…

Ka’ab bin Malik Rodhiyallahu anhu adalah salah seorang sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang mendapat anugerah Allah berupa kepiawaian dalam bersyair dan berjidal. Syair-syairnya banyak bertemakan peperangan. Kemampuan sebagai penyair ini, mengantarkannya menduduki posisi khusus di sisi Nabi, selain dua sahabat yang lain, yaitu Hassan bin Tsabit dan Abdullah bin Rawahah. Ka’ab bin Malik termasuk pemuka sahabat dari kalangan Anshar yang berasal dari suku Khazraj. Nama lengkapnya ialah ‘Amr bin Al Qain bin Ka’ab bin Sawaad bin Ghanm bin Ka’ab bin Salamah. Pada masa jahiliyah, ia dikenal dengan kunyahnya (panggilan) Abu Basyir.
Kisah kejujuran Ka’ab bin Malik rodhiyallahu anhu ini, berawal saat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengambil keputusan untuk menyerang Romawi. Beliau memobilisasi para sahabat untuk tujuan itu. Kaum rnuslimin segera melakukan persiapan dan berlomba-lomba menginfakkan harta yang mereka miliki.
Di tengah kesibukan kaum muslimin melakukan persiapan, ada seorang
sahabat yang belum memulainya. la bernama Ka’ab bin Malik. Kali ini,
Allah hendak mengujinya dengan perang Tabuk.
Pada masa tuanya, Ka’ab bin Malik menuturkan kisahnya kepada putranya
: “Aku tidak pernah absen dalam satu peperangan pun bersama
Rasulullah kecuali dalam perang Tabuk dan perang Badr. Tatkala Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam  berangkat bersama pasukan, aku masih terlambat dan belum sempat melakukan persiapan. Batinku berharap, aku bisa menyusul mereka. Namun akhirnya, langkahku benar- benar terhambat. Kesedihanku bertambah, ketika aku tahu bahwa orang-orang yang tidak bergabung dalam jihad itu hanya orang-orang yang tertuduh munafik atau kaum yang lemah fisiknya”.

Saat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tiba di Tabuk, Beliau bertanya: “Apa yang terjadi dengan Ka’ab?”

Seorang laki-laki dari kaumku dengan kiasan menjawab,”Baju
kesayangannya telah menahannya”. Namun Mu’adz menangkisnya,”Sungguh
buruk perkataanmu. Demi Allah, kami tidak mengetahui tentang dirinya
kecuali baik saja”. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam terdiam.
Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, kembali dari peperangan, orang-orang yang absen segera menemui Beliau, untuk menyampaikan alasan-alasan mereka. Jumlah mereka delapan puluh orang lebih. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pun menerima alasan-alasan mereka dan memohonkan ampun bagi mereka.
Sempat terbesit dalam benakku untuk mengajukan alasan dusta kepada
Beliau, agar aku selamat dari kemarahan Beliau. Namun kuurungkan niatku
dan kubulatkan tekad untuk berkata jujur kepada Beliau. Aku mengucapkan
salam kepada Beliau, Beliau tersenyum kecut kepadaku.
Beliau Shallallahu alaihi wa sallam berkata,”Kemarilah!”
Aku pun mendekat dan duduk di hadapan Beliau.
Beliau bertanya kepadaku,”Apa yang menahanmu? Bukankah engkau
telah mempertaruhkan punggungmu?”
Aku menjawab,”Benar, wahai Rasulullah. Demi Allah, seandainya
saat ini aku duduk di hadapan orang selain engkau, tentu aku sampaikan
segala argumentasi yang dapat menyelamatkanku dari kemarahan, lantaran
aku ahli berjidal (pandai bicara). Namun aku sungguh mengetahui, seandainya hari ini aku berdusta supaya engkau memaklumiku, niscaya Allah yang akan memberitahukan kepada engkau. Aku mengatakan alasan yang sebenarnya dengan jujur kepadamu. Dan sungguh, aku berharap ampunan Allah dengan kejujuranku. Demi Allah, aku sama sekali tidak memiliki alasan saat aku berdiam di rumah dan tidak ikut serta perang bersamamu.”
Beliau Shallallahu alaihi wa sallam berkata,”Laki-laki ini telah berkata jujur. Berdirilah sampai Allah memutuskan perkaramu,” aku pun berdiri dan meninggalkan Beliau.
Sekelompok laki-laki dari Bani Salimah mengejarku seraya berkata,”Demi
Allah, kami tidak mengetahui engkau melakukan dosa sebelum ini. Mengapa
engkau tidak beralasan seperti yang dilakukan orang-orang itu? Sungguh,
permohonan ampun Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untukmu akan menghapus dosamu.”
Mereka terus membujukku hingga aku berpikir untuk kembali kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan berdusta kepada Beliau. Aku bertanya kepada mereka,”Adakah orang yang mengalami hal yang sama sepertiku?”
Mereka menjawab,”Ada! Dua orang laki-laki yang mengatakan
alasan seperti alasanmu. Dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan perkataan yang sama kepada mereka, seperti yang Beliau katakan kepadamu.”
Aku bertanya,”Siapa mereka?”
Mereka menjawab,”Murarah bin Ar Rabi’ Al ‘Amri dan Hilal bin Umayyah
Al Waqifi.”
Mereka adalah dua orang sahabat yang ikut dalam perang Badr dan pada
diri mereka terdapat suri tauladan. Aku pun berlalu meninggalkan mereka.
Sejak saat itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang para sahabat berbicara dengan kami, tiga orang yang tidak ikut dalam perang Tabuk. Dua sahabatku, mereka tak tahan menghadapi hajr (isolasi) yang dilakukan kaum muslimin terhadap kami. Mereka mengurung diri dalam rumah dan tak pernah berhenti menangis. Sedangkan aku adalah orang yang termuda dan terkuat di antara mereka. Kukuatkan hatiku untuk menemui orang-orang, berharap akan ada seseorang yang menyapaku. Namun tak ada seorang pun yang mau berbicara denganku.
Ketika aku memasuki masjid, kuucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam . “Apakah Beliau akan menggerakkan bibirnya untuk menjawab salamku?” tanya hatiku.
Aku pun shalat dan mengambil posisi terdekat dengan Beliau. Aku mencuri-curi pandang kepada Beliau. Ketika aku fokuskan pandangan pada shalatku, Beliau memandangku. Dan bila aku meliriknya, Beliau memalingkan wajahnya dariku.
Keadaan itu terus berlanjut hingga beban itu kian berat kurasakan.
Aku pun menemui Abu Qatadah, sepupuku dan orang yang sangat kucintai.
Aku memanjat dinding rumahnya dan kuucapkan salam padanya. Namun dia
tidak menjawab salamku. Aku berkata memelas padanya, “Wahai,
Abu Qatadah! Demi Allah, bukankah engkau mengetahui bahwa aku mencintai Allah dan RasulNya?”
la hanya terdiam dan tidak menanggapi perkataanku. Kuulangi kata-kataku
tadi berkali-kali, hingga ia berujar singkat: “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”. Air mataku pun meleleh tanpa bisa kutahan. Aku berlalu.
Suatu ketika, saat aku berjalan di pasar kota Madinah, seorang laki-laki
dari Syam yang menjual makanan di pasar itu bertanya kepada orang-
orang: “Siapakah yang mau menunjukkan Ka’ab bin Malik kepadaku?”
Orang-orang pun memberitahukannya. Dia pun mendatangiku. Kemudian
menyerahkan sehelai surat dari Raja Ghassan. Tertulis dalam surat
itu:
“Telah sampai berita kepadaku, bahwa temanmu telah menyia-nyiakanmu.
Sedangkan Allah tidak menjadikanmu orang yang terhina dan tersia-siakan.
Bergabunglah dengan kami, maka kami akan menolongmu”.
Aku berkomentar,”lni pun cobaan untukku,” lalu aku
lempar surat itu ke dalam tungku api.
Setelah berlalu empat puluh hari semenjak Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat mengisolasi kami, tiba-tiba datang utusan Beliau dengan membawa perintah agar aku menjauhi istriku. Aku bertanya, “Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang harus kulakukan?”
Sang utusan menjawab,’Tidak, tapi jauhilah ia dan jangan engkau sentuh.”
Aku berkata kepada istriku, “Kembalilah kepada keluargamu.
Tinggallah bersama mereka sampai Allah memutuskan perkara ini.”
Keadaan seperti itu terus berlanjut. Hingga tibalah suatu pagi selepas
aku shalat shubuh. Kondisiku saat itu seperti yang Allah kisahkan,
terasa sempit jiwaku dan bumi yang ku pijak seakan tak kukenali lagi.
Tiba-tiba aku mendengar seseorang berteriak: “Wahai, Ka’ab
bin Malik! Berbahagialah!” Aku pun segera menghaturkan syukur
dengan sujud kehadiratNya. Sungguh telah datang jalan keluar bagi
kami. Rasulullah telah mengumumkan kepada para sahabat setelah shalat
Shubuh. Allah telah menerima taubat kami.
Orang-orang berbondong-bondong menemui kami dan mengekspresikan kegembiraan mereka atas berita ini. Sungguh tak terlukiskan kebahagiaanku saat itu. Aku memberikan dua baju yang kukenakan kepada laki-laki yang
datang membawa kabar gembira itu. Padahal saat itu, aku tidak memiliki
baju selain kedua baju itu. Oleh karena itu, aku meminjam baju dan bergegas ke masjid menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Saat itu Beliau Shallallahu alaihi wa sallam dikelilingi para sahabat. Tiba-tiba Thalhah bin Ubaidillah rodhiyallahu anhu berdiri dan berlari kecil menghampiriku, kemudian ia menggamit tanganku
dan menyalamiku seraya mengucapkan selamat untukku. Sungguh, tidak
ada seorang pun yang berdiri dan melakukan seperti yang ia lakukan,
hingga aku pun tidak pernah melupakan kebaikannya itu.
Aku pun masuk masjid dan mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam . Saat itu wajah Beliau berseri-seri dan bersinar bak rembulan. Tatkala aku sudah duduk di depan Nabi, Beliau berkata: “Berbahagialah dengan hari terbaik yang engkau jumpai semenjak ibumu melahirkanmu”.
“Apakah pengampunan ini darimu, wahai Rasulullah? ataukah
dari Allah?” tanyaku.
Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Tidak! Pengampunan ini datang langsung dari sisi Allah.”
Aku berkata kepada Beliau:
“Wahai, Rasulullah! Sungguh, sebagai cerminan nyata taubatku,
aku sedekahkan hartaku di jalan Allah”.
Beliau berkata, “Tahanlah sebagian hartamu untuk dirimu, karena itu lebih baik bagimu.”
Aku mentaati perintah Beliau dan berkata: “Kalau begitu,
aku tahan anak panahku yang kugunakan dalam perang Khaibar. Dan sungguh
Allah telah menyelamatkanku dari perkara pelik ini karena kejujuran.
Maka sebagai wujud taubatku pula, aku tidak akan berbicara kecuali
dengan jujur”. Sungguh, aku tidak mengetahui ada orang lain
yang mendapat ujian kejujuran seperti Allah mengujiku. Hingga sampai
saat ini, aku tidak pernah bicara dusta satu kali pun sejak berjanji
kepada Rasulullah. Dan aku morion kepada Allah agar menjagaku pada
sisa umurku ini”.
Demikianlah sosok Ka’ab bin Malik rodhiyallahu anhu . Seorang mujahid di jalan Allah dengan pedang dan lisannya. Sosok patriot yang memiliki kejujuran setegar batu karang. Tak terkikis oleh ujian yang menyempitkan hatinya.
Dijalaninya sisa hidupnya dengan selalu menggenggam kejujuran. Pada
masa tuanya, ia kehilangan penglihatannya. Dan putranya, Abdullah
yang menjadi pemandu sejak Allah menghilangkan penglihatannya. Ka’ab
bin Malik wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyyah bin Abi Sufyan.
Semoga rahmat dan keridhaan Allah senantiasa tercurah atas diri penyair
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ini.

Maraji:

  • Adz Dzahabi, Siyar A’lamin Nubala’, Muassasah Ar Risalah, Cet XI,
    Th. 1422 H – 2001M
  • Tafsir Ibni Katsir, Dar At Thayyibah, cet I, tahun 1422 H/2002M
  • Shafiyyur Rahman At Mubarak Furi, Ar Rahiqul Makhtum, cet I , tahun
    1417 H/ 1997M
  • Shahih Bukhari

Disalin dari majalah As-Sunnah edisi 02/ IX/1426H/2005H,

Dipublikasi ulang dari : http://blog.vbaitullah.or.id/2006/06/04/727-kaab-bin-malik-dan-manisnya-sebuah-kejujuran/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: