Kyai Mana Yang Saya Ikuti?

Kyai Mana Yang Saya Ikuti?

Pertanyaan:

“Di desa kami terdapat dua orang kyai yang hidup bersebelahan. Manusia mengambil ilmu dari keduanya, begitupula keduanya menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dan memberikan fatwa kepada mereka. Akan tetapi terdapat perbedaan yang bertolak belakang di antara keduanya, hal mana menjadikan manusia masuk ke dalam kebingungan. Kyai pertama sangat menaruh perhatian terhadap sunnah Nabi  dan berusaha meluruskan sebagian keyakinan-keyakinan yang salah sekalipun menyelisihi apa-apa yang telah menjadi tradisi, adat kebiasaan masyarakat.
Adapun kyai yang kedua tidak menaruh perhatian dalam mengamalkan sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang benar. Dia berjalan sesuai dengan kebiasaan manusia, sesuai dengan fikiran, dan keyakinan-keyakinan mereka yang sudah menjadi adat, berurat dan berakar. Di mana adat-adat mereka bersesuaian dengan apa yang telah dia pelajari dan dia warisi dari gurunya. Misalnya, dia sama sekali tidak memperhatikan lurusnya shaf dalam shalat berjamaah, tidak perhatian terhadap hijab wanita-wanita desa, terutama para santriwati, dan masih banyak lagi. Dan dia menganjurkan kepada sebagian masyarakat untuk menyelisihi kyai pertama dan tidak mengikutinya.
Pertanyaan saya, manakah di antara keduanya yang lebih berhak dan utama untuk diikuti?

Kyai pertama yang berkeinginan untuk meluruskan keyakinan manusia ataukah kyai kedua yang berkeinginan untuk membiarkan manusia tetap pada pemikiran dan keyakinan-keyakinan mereka? Apakah yang harus kami lakukan dalam menghadapi perselisihan ini? Bagaimana kami bersikap? “

Jawaban:
“Ketahuilah bahwa orang yang bertaklid (ikut-ikutan) tidaklah disebut sebagai orang yang alim (berilmu), dan tidak benar penamaan dia sebagai orang yang berilmu sebagaimana dikatakan oleh para ulama.
Ini adalah perkataan madzhab Syafi’iyah. Sebagaimana pula tidak diperbolehkan berfatwa dengan ikut-ikutan, karena yang demikian bukanlah ilmu. Fatwa tanpa ilmu adalah haram.
Sudah jelas, sebagaimana yang saya fahami dari pertanyaanmu, bahwa kyai yang kedua memiliki sedikit perbendaharaan ilmu, dikarenakan dia tidak mampu sampai kepada dalil-dalil, pemahamannya tidak tegas di atas jalan yang bisa diikuti menurut ahli ilmu. Maka dia mencukupkan diri dengan taklid (ikut-ikutan) terhadap gurunya, sekalipun gurunya itu salah.
Dengan sikapnya seperti itu, dia telah menjadikan kedudukan gurunya –seolah-olah- ma’shum (suci) dari kesalahan seperti kedudukan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , wal’iyadzu billah.
Dia lebih mengutamakan mengikuti dan mentaati gurunya daripada mengikuti dan mentaati Allah Subhanahu wa ta’ala  dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Sikap yang demikian menafikan kecintaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala  dan Rasul-Nya .
Allah Ta’ala  berfirman:
“Katakanlah: “”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)
Maka wajib atas setiap orang yang mengaku bahwa dia adalah termasuk ahli ilmu untuk menjauhi sikap taklid. Dia harus mengenal hujjah dan dalil-dalil madzhab lain agar dia senantiasa dekat terhadap al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang shahih. Dengan demikian dia akan menjadi orang yang berittiba’ (mengikuti) atas dasar ilmu, bukan orang yang bertaklid buta, yang dikhawatirkan justru menjadi pintu keburukan bagi umatnya.
Seorang murid yang belajar di atas madzhab gurunya tidak berarti dia tidak boleh keluar dari madzhab gurunya jika ada sebuah dalil yang telah jelas baginya. Bahkan tidak bersikap demikian kecuali orang yang sedikit akal dan agamanya, atau lemah akalnya menurut Imam Ghazali dalam kitabnya al-Munqidz Min al-Dhalal.
Maka seorang mukmin yang sebenar-benarnya adalah yang mengikuti dalil yang shahih jika telah sampai kepadanya dari Kitabullah dan Sunnah Nabi . Barangsiapa menyelisihi hal tersebut maka dia tidak termasuk ahli ilmu, bahkan dia termasuk orang bodoh yang ikut-ikutan.
Siapa saja yang telah jelas baginya sebuah kebenaran yang bertentangan dengan madzhabnya, maka wajib baginya untuk menyelisihi madzhabnya dan mengikuti kebenaran.
Imam Nawawi rohimahullah berkata di dalam al-Majmu’ (1/63): “Telah shahih dari Imam Syafi’i rohimahullah bahwa dia telah berkata: “Jika kalian mendapati dalam kitabku ini sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah , maka ucapkanlah dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, dan tinggalkanlah ucapan (pendapat)ku.”
Imam Nawawi Rohimahullah juga telah menukil dalam al-Majmu’ (6/370) bahwa Imam Syafi’i Rohimahullah telah berkata: “Jika hadits tersebut shahih, maka hadits itu adalah madzhabku, dan tinggalkanlah ucapan (pendapat)ku yang menyelisihinya.”
Telah banyak disebutkan dalam kitab-kitab Syafi’iyah bahwa Imam Syafi’i  telah berkata: “Jika sebuah hadits telah shahih, maka hadits tersebut adalah madzhabku, dan lemparkanlah ucapanku ke tembok.” (Hawasyi as-Syarwani (3/377), Tuhfatul Muhtaj (9/454), Nihayatul Muhtaj (7/250))
Dari hal tersebut di atas kita memahami bahwa Imam Syafi’i  tidaklah berta’ashshub (fanatik) terhadap madzhabnya berdasarkan ucapannya: “”Jika ada sebuah hadits yang shahih menyelisihi ucapaku maka ikutilah hadits””. Bahkan setiap hadits yang telah shahih dari Nabi , maka itu adalah madzhab Syafi’i  sekalipun datang dari selainnya.
Maka mengapakah kyai tersebut yang mengaku sebagai pengikut Imam Syafi’i Rohimahullah tidak berkeinginan untuk melemparkan pendapat gurunya yang bertentangan dengan Sunnah ke tembok?!
Apakah dia dan gurunya lebih tahu daripada Imam Syafi’i rohimahullah yang telah berwasiat untuk meninggalkan pendapatnya jika menyelisihi kebenaran?!
Apakah dia dan gurunya adalah orang-orang yang mengikuti madzhab Syafi’i  yang telah memberikan wasiat untuk berpegang teguh dengan apa saja yang telah shahih dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam?!
Seandainya saja kita mengambil pelurusan shaf yang diremehkan oleh kyai tersebut berdasarkan apa yang ia pelajari dari gurunya sebagai contoh, maka yang benar dalam sunnah adalah meluruskan shaf.
Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa meluruskan shaf hukumnya wajib dikarenakan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda saat melihat seorang laki-laki yang menonjol dadanya:
لَتُسَوُّنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ
“Benar-benar kalian mau meluruskan shaf-shaf kalian ataukah Allah akan memalingkan wajah-wajah kalian.” (HR. al-Bukhari bab Adzan, 717)
Hadits ini adalah sebuah ancaman, dan tidak ada ancaman kecuali karena melakukan yang diharamkan atau meninggalkan sesuatu yang diwajibkan.
Sungguh, Islam telah memperhatikan urusan shaf orang shalat dengan perhatian besar, yaitu dengan memerintahkan untuk meluruskannya, menjelaskan keutamaan meluruskannya, dan perhatian terhadapnya. Imam Nawawi  telah mengisyaratkan hal tersebut dalam syarahnya atas Shahih Muslim (2/179)
Maka apakah setelah itu semua dia lebih mengedepankan ucapan gurunya daripada sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ?!
Sesungguhnya Allah Ta’ala telah melarang dari perpecahan dan perselisihan. Perpecahan di dalam agama sebabnya adalah mengikuti hawa nafsu, dan meniti jalan yang menyelisihi apa-apa yang telah disyariatkan oleh Allah ta’ala.
Sesungguhnya yang menjadikan umat ini terpecah menjadi beberapa firqah, sekte dan kelompok adalah bahwa setiap kelompok mengagungkan dan mensucikan gurunya, lebih mengedepankannya daripada Allah  dan Rasul-Nya . Ini termasuk kesesatan.
Saya sungguh khawatir terhadap kyai tersebut dari fitnah dan adzab yang pedih wal’iyadzubillah, dikarenakan jika sebuah hadits telah memenuhi syarat keshahihannya yang telah diketahui maka tidak boleh mengingkari kebenarannya dan menyelisihinya. Bahkan mengingkarinya setelah dipastikan hadits tersebut dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam termasuk penentangan dan kesombongan.
Barangsiapa mengingkari karena sebab apapun -sama saja karena dia mengikuti gurunya atau lainnya- maka dia kafir.
Imam as-Suyuthi rohimahullah berkata dalam kitabnya Miftahul Jannah fil Ihtijaj bis Sunnah (14): “Ketahuilah, mudah-mudahan Allah Ta’ala merahmati kalian, bahwa siapa saja yang mengingkari sebuah hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, sebuah ucapan beliau atau sebuah perbuatan beliau dengan syarat yang telah diketahui dalam ilmu ushul (hadits) maka dia kafir, keluar dari ruang lingkup Islam, dan merugi bersama Yahudi, Nashrani atau orang yang Dia kehendaki dari kelompok-kelompok kafir.”
Al-‘Allamah Ibnul Jauzi rohimahullah berkata di dalam kitabnya al-‘Awashim wal Qawashim (2/274): “Sesungguhnya mendustakan hadits Rasulullah  dengan mengetahui bahwa itu adalah hadits beliau  adalah sebuah kekufuran yang nyata.”
Sesungguhnya Allah  telah memerintahkan kepada kita untuk mengembalikan segala urusan kepada-Nya dan kepada Rasulullah  saat terjadi perselisihan, dan tidak dikembalikan kepada selain Allah dan Rasul-Nya.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisa: 59)
Sesungguhnya saya mengajak kyai tersebut atau yang semisalnya untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala  terhadap dirinya dan terhadap orang-orang yang nanti dia akan memikul dosa penipuan dan pemalsuan terhadap mereka pada hari kiamat.
Wajib atas orang-orang tersebut untuk tidak mengambil agama mereka dari kyai ini jika dia tetap berada di atas manhaj yang rusak, hingga tidak akan memberikan manfaat apapun bagi mereka nanti pada hari kiamat. Lisan setiap orang yang mengikuti kyai semacam ini akan berkata pada hari kiamat seperti yang kabarkan oleh Allah Ta’ala :
“Dan mereka berkata:””Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.”” (QS. al-Ahzab: 67-68)
Wajib atas kalian untuk mengikuti kyai pertama yang memikul keprihatinan di dalam hatinya, dan berbuat rahmat menyayangi manusia, dengan nasihat dan dakwahnya. Dikarenakan dia takut manusia berbuat maksiat kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam, hingga terjadi adzab Allah Ta’ala atas mereka di dunia dan di akhirat. Oleh karena itulah dia berusaha dengan sunguh-sungguh meluruskan apa-apa yang disenangi oleh manusia dari berbagai macam kesalahan dalam tradisi dan ibadahnya. Dia menanamkan pengagungan terhadap sunnah di tengah-tengah mereka, mengamalkannya, dan memberikan peringatan terhadap orang yang menyelisihinya atau yang mendahulukan perkataan seseorang dari manusia daripada perkataan Allah Ta’ala  dan Rasul-Nya .
Mudah-mudahan Allah  memberkahinya dan memperbanyak orang-orang yang semisalnya. Wallahulmuwafiq. (AR)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: