Kasih sayang dalam Islam

Kasih sayang dalam Islam islam_wallpaper02

Kasih sayang termasuk kebutuhan mendasar bagi manusia ( Insan ) . Lantaran itu semua insan pasti membutuhkan kasih sayang. Bila kasih sayang ini tercabut dari diri manusia , lantas apa bedanya dengan binatangatau bahkan buruk karena binatangpun ternyata memiliki rasa ini . Karena itu pulalah manusia disebut sebagai manusia social, karena saling membutuhkan, termasuk butuh kasih sayang.

Sebagai wujud kesempurnaan , Islam sangat peduli dan bahkan syariat islam itu sendiri merupakan wujud kasih sayang, karena Islam diturunkan sebagai Rahmat bagi Dunia ( Rahmatan lil alamin ). Kita yakin semua kaum muslimin mengetahuinya. Artinya dimanapun kapanpun Islam pasti mewarnainya dengan sentuhan Kasih Sayang . Tentunya kita dapat mengaca pada perikehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sebagai bentuk amaliyah nyata dari Kasih Sayang Islam.

Pada suatu kesempatan beliau sabdakan , ” Orang-orang pengasih akan dikasihi Dzat yang Maha Pengasih, sayangilah yang ada dimuka bumi niscaya kalian akan disayangi Dzat yang di Langit “. ( Hadist ini juga menunjukkan bahwa keberadaan Allah adalah di atas langit dan bukan berada dihati makhluknya atau bersemayam di hatinya, ini adalah keyakinan batil menselisihi Nash Al qur’an dan Sunnah ).

Sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam pula ” Siapa yang tidak menyayangi tidak akan disayangi,” Sebagai respon terhadap ucapan Al Aqra’ bin Haabis yang tidak pernah mencium anak-anaknya. ( Bukhari Muslim )

Bahkan kasih sayang ini juga merambah kepada binatang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ” Jika kalian membunuh , bunuhlah dengan baik , jika menyembelih lakukan dengan bagus. Hendaknya salah seorang dari kalian tajamkan pisaunya dan buatlah sembelihannya tidak merasa sakit”. ( Muslim ).

Sebaliknya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam orang yang tidak mengasihi binatang . Sabdanya ” Ada seorang wanita masuk neraka gara-gara seekor kucing , dia ikat kucing itu , tidak memberinya makan dan tidak dilepaskan untuk makan serangga ( Bukhari Muslim )

Dengan demikian penerapan Syariat Islam berarti sama saja dengan menebarkan kasih sayang. Mungkin ada yang mempertanyakan , apakah hukum Rajam bagi yang berbuat Zina  , potong tangan bagi yang mencuri , Qishos, dan semisalnya adalah wujud kasih sayang ? . Jawabnya bagi yang memperhatikan dengan seksama syariat yang suci ini , tentu tidak akan muncul pertanyaan semacam ini dan mampu menjawabnya.

Hukuman tersebut merupakan wujud kasih sayang kepada siterhukum khususnya dan masyarakat pada umumnya . Hukuman itu setimpal dengan tindakan  dan mencegah hukuman yang pedih di akhirat kelak. Dan Masyarakat merasakan keadilan dan keamanan karena pangkal kerusakan telah dihapuskan, sekaligus tercegahnya kerusakan yang berkesinambungan atau menjadikan jera bagi orang yang mau berbuat kerusakan. Disinilah kasih sayang akan terwujud dengan diterapkannya Syariat Islam.

Namun dipihak lain ada yang memiliki persepsi terbalik tentang hakikat Kasih sayang dalam Islam, menurut mereka sebagai wujud kasih sayang seharusnya kaum Muslimin juga menyayangi orang-orang Non Muslim , karena mereka masih hamba Tuhan dan tidak boleh dimusuhi, Kita harus menghargai agama mereka apapun keyakinannya, baik agama yang meyembah patung, Jin, mengakui adanya anak Tuhan, mengakui adanya nabi baru, musyrik, kafir, ( semua manusia tanpa pandang bulu ), dan tidak boleh mengklaim Kasih Allah itu hanya teruntuk orang Muslim saja dan Non Muslim tidak berhak untuk mendapatkannya..

Sekilas pemikiran tersebut nampak rasional, nampak baik tapi kalau dicermati sangat jauh menyimpang dari dienul Islam. Perlu dipahami kasih sayang itu bukan berarti membiarkan perbuatan kemungkaran dan kemaksiatan. Apakah membiarkan kesyirikan nyata dan kemungkaran pada non Muslim adalah wujud kasih sayang ?. Sama halnya membiarkan kejahatan kriminal , apakah itu wujud kasih sayang ?.

Allah Tabaroka wa ta’ala berfirman  dalam surat Ali Imran “Sesungguhnya agama yang (diterima) di sisi Allah adalah Islam) “(Ali Imran :19) dan

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Ali Imran : 85)

Kemudian Allah menghukumi kafir dan syiriknya Yahudi dan Nasrani karena mereka menisbatkan adanya anak bagi Allah Subhanah, serta mereka menjadikan pendeta-pendetanya sebagai tuhan-tuhan selain Allah Azza wa Jalla dengan firman-Nya dalam surat At Taubah : “Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (At Taubah : 30-33)

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam”. (Al Maidah :72) dan “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa” (Al Maidah :73) dan firman-Nya :”Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?, Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (Al Kahfi 103-105).

Adapun agama-agama yang lainya baik itu Yahudi, Nashrani, atau yang lainya, semuanya adalah bathil tidak ada sedikitpun kebenaran di dalamnya. Dan sungguh telah datang syariat nabi kita yang sempurna, tidak ada yang lebih sempurna darinya, karena merupakan syariat yang mencakup seluruh penduduk bumi, adapun yang selainnya maka syariatnya bersifat khusus dan telah dihapus dengan syariat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan sesempurna-sempurnanya dan menyeluruhnya syariat, dan paling bermanfaat bagi seorang hamba bagi kehidupan dunia ataupun akhiratnya, sebagaimana firman Allah ta’la menceritakan kepada Nabi-Nya “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (Al Maidah :48)

Allah telah mewajibkan bagi segenap pribadi mukallaf di seluruh penduduk bumi untuk mengikuti agama ini dan berpegang teguh dengannya sebagaimana firman-Nya “Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al A’raf : 157)

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka denga pertolongan yang datang daripada-Nya.Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan Allah.Ketahuilah, bhwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.”(QS.Al-Mujadilah : 22)

Juga firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata:”Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka):”Marilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.

Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS.Ali Imran 118-120)

Banyak lagi nash yang senada dengan itu dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul. Namun Allah tidak melarang membalas kebaikan orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslimin, atau saling membantu dalam hal-hal yang mubah, seperti berjual beli, saling memberi hadiah dan sejenisnya. Allah berfirman:

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah : 8)

Maka bagi orang yang berakal jawabnya jelas . Dengan demikian mizan kasih sayang bukanlah akal semata dan perasaan tetapi mizannya adalah Syariat. Apa-apa yang dipandang syariat sebagai bentuk kasih sayang berarti senyatanya adalah kasih sayang dan apa –apa yang dipandang syariat bukan kasih sayang maka sama sekali tidak termasuk kasih Sayang.

Allahu ta’ala a’lam bish showab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: