Mengidap Pluralisme Agama Pertanda Rusak Akalnya

Mengidap Pluralisme Agama Pertanda Rusak Akalnya

Untuk membuktikan bahwa faham pluralisme agama itu sangat beda dengan Islam, mari kita ajukan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawabannya. Agar lebih mudah maka diilustrasikan dengan tiga orang:

1. Penguji.
2. Muslim anti pluralisme agama.
3. Tokoh pluralisme agama.

Pertanyaan 1.

Penguji: Apakah orang muslim yang pemahamannya benar sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah itu sesembahannya hanya Allah? Continue reading

Dauroh Islam ilmiyyah bersama Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawaz ( Batam dan sekitarnya)

Kisah Taubat Seorang Kyai

Kisah Taubat Seorang Kyai

“Terus terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid’ah yang tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga tempat-tempat yang dianggap keramat sekaligus menjadi imam tahlilan, ngalap berkah kubur, marhabanan atau baca barzanji, diba’an, maulidan, haul dan selamatan yang sudah berbau kesyirikan”

“Kita dulu enjoy saja melakukan kesyirikan, mungkin karena belum tahu pengertian tauhid yang sebenarnya” (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 90) Continue reading

Kyai Mana Yang Saya Ikuti?

Kyai Mana Yang Saya Ikuti?

Pertanyaan:

“Di desa kami terdapat dua orang kyai yang hidup bersebelahan. Manusia mengambil ilmu dari keduanya, begitupula keduanya menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dan memberikan fatwa kepada mereka. Akan tetapi terdapat perbedaan yang bertolak belakang di antara keduanya, hal mana menjadikan manusia masuk ke dalam kebingungan. Kyai pertama sangat menaruh perhatian terhadap sunnah Nabi  dan berusaha meluruskan sebagian keyakinan-keyakinan yang salah sekalipun menyelisihi apa-apa yang telah menjadi tradisi, adat kebiasaan masyarakat.
Adapun kyai yang kedua tidak menaruh perhatian dalam mengamalkan sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang benar. Dia berjalan sesuai dengan kebiasaan manusia, sesuai dengan fikiran, dan keyakinan-keyakinan mereka yang sudah menjadi adat, berurat dan berakar. Di mana adat-adat mereka bersesuaian dengan apa yang telah dia pelajari dan dia warisi dari gurunya. Misalnya, dia sama sekali tidak memperhatikan lurusnya shaf dalam shalat berjamaah, tidak perhatian terhadap hijab wanita-wanita desa, terutama para santriwati, dan masih banyak lagi. Dan dia menganjurkan kepada sebagian masyarakat untuk menyelisihi kyai pertama dan tidak mengikutinya.
Pertanyaan saya, manakah di antara keduanya yang lebih berhak dan utama untuk diikuti?

Kyai pertama yang berkeinginan untuk meluruskan keyakinan manusia ataukah kyai kedua yang berkeinginan untuk membiarkan manusia tetap pada pemikiran dan keyakinan-keyakinan mereka? Apakah yang harus kami lakukan dalam menghadapi perselisihan ini? Bagaimana kami bersikap? ” Continue reading

Kasih sayang dalam Islam

Kasih sayang dalam Islam islam_wallpaper02

Kasih sayang termasuk kebutuhan mendasar bagi manusia ( Insan ) . Lantaran itu semua insan pasti membutuhkan kasih sayang. Bila kasih sayang ini tercabut dari diri manusia , lantas apa bedanya dengan binatangatau bahkan buruk karena binatangpun ternyata memiliki rasa ini . Karena itu pulalah manusia disebut sebagai manusia social, karena saling membutuhkan, termasuk butuh kasih sayang. Continue reading

%d bloggers like this: