TAHRIF NUSHUSH ( PENYELEWENGAN NASH )

TAHRIF NUSHUSH ( PENYELEWENGAN NASH ) 

Disusun oleh : Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah hafidzahullah 

Pada edisi yang lalu kami paparkan tentang pentingnya amanah ilmiah. Bahwa amanah ilmiah adalah karakteristik Ahlus Sunnah wal jama’ah dari Zaman sahabat hingga hari ini, karena ilmu adakalanya adalah penukilan yang jujur dan adakalanya adalah istidlal yang muhaqqaq ( cermat ), sedangkan amanah adalah pokok dari keduanya.

            Amanah adalah perhiasan yang diperintahkan secara Syar’I , sedangkan khiyanat adalah cabang yang rusak yang menggerogoti pokok yang agung ini dan dia adalah tabiat yang terlarang. Di antara contoh khiyanat adalah ‘Tahrif ( penyelewengan ) yang merupakan pembatal yang terbesar terhadap amanah penukilan nash dan perusak terbesar didalam amanah analisa istidlal dan makna-makna.

Tahrif terhadap Nash adalah karakteristik Ahli Bid’ah dan pengekor hawa nafsu dari masa ke masa. Jalan-jalan mereka yang bengkok menyelisihi jalan yang lurus membentur Nash –nash menjerumuskan mereka kedalam penyakit Tahrif ( Penyelewengan ) terhadap Nash untuk melanggengkan dan melariskan kesesatan mereka.

Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tahu berapa banyak dari ayat yang diselewengkan maknanya, berapa banyak hadist yang mereka Tahrif dengan menolak dan mentakwil maknanya, berapa banyak dari perkataan perkataan ulama yang mereka potong ataupun mereka tambah dan mereka kurangi!!.

Akan tetapi para ulama Sunnah tidak tinggal diam . Mereka jelaskan dan mereka singkap tahrif – tahrif orang-orang Ghuluw ini di dalam tulisan –tulisan mereka. Mereka bongkar makar-makar para pengekor hawa nafsu ini dan pelanggaran pelanggaran mereka terhadap amanah ilmiah. Mereka pasukan-pasukan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah disiapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai pembela-pembela agamanya.

Insya Allah didalam bahasan kali ini akan kami paparkan tentang hakikat –hakikat Tahrif ini dan usaha-usaha para ulama Sunnah didalam memeranginya  sebagai upaya kami untuk ikut menempuh jalan-jalan para Ulama –ulama Sunnah tersebut dengan banyak mengambil faedah dari kitab”  Tahrifun Nushush min Maakhidzi Ahlil Ahwa’ fil Istidlal “ oleh Syaikh al allamah Bakr bin Abdullah Abu Zaid Rohimahullah.

HAKIKAT TAHRIF

Tahrif adalah sebuah nama yang dicela oleh Al Qur’an . Celaan tersebut diarahkan kepada orang-orang Yahudi yang telah mentahrif ( menyelewengkan ) kitab Taurot . Allah Tabaroka wa ta’ala  berfirman :

أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?[*]. ( Qs. Al Baqoroh : 75 )

[*] Yang dimaksud ialah nenek-moyang mereka yang menyimpan Taurat, lalu Taurat itu dirobah-robah mereka; di antaranya sifat-sifat Nabi Muhammad s.a.w. yang tersebut dalam Taurat itu.

Merupakan kaidah nash-nash : bahwa setiap nama yang dicela dan diancam dengan hukuman didalam Kitab dan Sunnah , maka para pelakunya adalah tercela, seperti lafadz dusta, khiyanat ,fujur, dan dholim.

Diantara lafadz-lafadz yang tercela adalah at tahrif ( At Tahrifu ) yang hakikatnya adalah

: ” Al ‘Uduulu bil kalaami ‘an wajhihi wa showaabihi ilaa ghoirihi ”

 

 Memalingkan ucapan dari seginya dan yang benar darinya kepada yang lainnya.

Dan dikatakan juga bahwa dia adalah :

” Taghyiirul kalaami ‘an maudli’ihi fiy mabnaahu au ma’naahu hatta yadhunna annahu haqqun”

 

 ” Mengubah ucapan dari tempatnya di dalam bangunan atau maknanya hingga disangka bahwa dia adalah benar.

 

( Lihat Mu’jam Maqoyis  Lughoh : 2/42-43, Terbitan Darul Jail Beirut , Cetakan pertama  1411 H, Lisanul  Arab: 9/43, Terbitan Daru Shodir Beirut, cetakan ketiga 1414 H, Majmu’ Fatawa : 3/165, Showa’iq Mursalah: 1/215, dan Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah : 10/198-205 )

 

Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid Rohimahullah berkata : Hal ini tumbuh karena mengikuti hawa nafsu, pelakunya menginginkan jalan-jalankeluar dari nash-nash , hingga hal itu bisa mendukung pemikirannya..”

Ini adalah hal yang memisahkan antara para pengikut para Rasul dan orang-orang, yang menyelisihi mereka, antara Ahli Sunnah dengan ahli bid’ah antara orang-orang yang mendalam ilmunya dengan orang-orang yang berlagak alim. Dan dia meliputi setiap pelaku tahrif yang dilakukan dengan sengaja pada pokok dan cabang.

 Berdasarkan atas ini maka para ulama menjadikan amanah ilmiah sebagai asas didalam metode penelitian dan penulisan, mereka keras dalam hal ini, selalu waspada terhadap orang-orang yang dibawa sikap ghuluw kepada khiyanat.

Diantara bentuk khiyanat adalah tahrif terhadap nash ayat atau hadist atau atsar atau perkataan ulama, didalam dzat nash atau maknanya dan dalalahnya serta penunaiannya, maka tahrif adalah cela pada amanah dan bertentangan dengannya.

Kaum muslimin telah sepakat atas haramnya tahrif , karena dia adalah saudara kedustaan , karena dia adalah pengkhabaran yang berbeda dengan hakikatnya. ” ( Tahrifun Nushush min maakhidzi Ahlil Ahwa’ fil Istidlal hal 130 )

NAMA_NAMA TAHRIF

Tahrif, tabdil ( mengganti ) dan taghyir ( mengubah ) adalah saktu makna. Adapun takwil maka dia adalah lafadz yang memiliki beberapa makna :

  1. Hakikat sesuatu. ( Lihat majmu’ Fatawa : 13/289)
  2. Tafsir, sebagaimana hal ini banyak dipergunakan oleh al Imam Ibnu Jarir ath Thobari di dalam tafsirnya yang berjudul ” Jami’ul bayan fi Ta’wili Ayil Qur’an.
  3. Tahrif yaitu takwil yang bathil, dan disebut juga dengan takwil tahrif.

 

Karena itulah selayaknya ketika memakai istilah takwil yang bermakna tahrif hendaknya diberi keterangan takwil tahrif atau takwil yang bathil supaya tidak dibawa kepada makna yang pertama dan yang kedua.

Dan disana ada upaya-upaya pengaburan yang dilakukan oleh ahli ahwa yang menamakan tahrif sebagai tahqiq, ma’rifat dan takwil.

Al Imam Ibnul Qoyyim Rohimahullah berkata : ” Takwil yang bathil adalah Ilhad dan tahrif , meskipun para pemiliknya menamakannya sebagai Tahqiq, Irfan, dan Takwil ( Showa’iq Mursalah : 1/217 )

SEJARAH TAHRIF

            Tahrif atau Takwil yang bathil merupakan penyakit kawakan, dia adalah Bid’ah syaithoniyyah, karena iblis adalah pelaku pertama qiyas fasid ( kias Rusak ) yang menyeslisihi nash , dia mengatakan ketika menolak perintah Allah Subhanahu wa ta’ala untuk sujud kepada Adam Alaihi salam .

Iblis berkata : ” Aku lebih baik dari padanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah .” ( QS. Shod [38]: 76 ).

 

Ini adalah takwil yang bathil dan tahrif dengan qiyas yang rusa, menentang wahyu. Iblis telah dikuasai hawa nafsunya hingga menolak sujud kepada Adam alaihi wa sallam. Sejak itu jadilah Iblis Imam ( penghulu 0 bagi setiap orang yang menentang wahyu dengan takwil yang bathil hingga hari kiamat. ( Lihat Showa’iq Mursalah : 1/ 370-372 )

Kemudian tahrif adalah Bid’ah Yahudiyyah, karena orang-orang Yahudi adalah pakar di dalam Tahrif , Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلا يُؤْمِنُونَ إِلا قَلِيلا

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis ” ( Qs. An Nisaa [ 4]: 46 )

Diantara contoh Tahrif orang-orang Yahudi adalah ketika mereka mengubah hokum rajam bagi pelaku Zina diganti dengan melumuri pelakunya dengan arang sebagaimana termaktub di dalam kitab-kitab hadist dan tafsir. ( Lihat Majmu’ Fatawa : 11/425 dan 434 )

Demikian juga tahrif Bid’ah Nashroniyyah, karena merupakan hal yang disepakati oleh para ulama kaum muslimin dan ahli kitab bahwa orang-orang Nashoro telah melakukan tahrif terhadap kitab injil sebagaiman telah dijelaskan dengan panjang lebar oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah di dalam kitab beliau Al Jawab ash- Shohih Liman Baddala Dinal Masih.

Kemudian penyakit Tahrif ini menjalar ke dalam orang-orang yang lepas dari Islam secara batin, merekalah orang-orang munafik , merekalah orang-orang pertama yang mengganti agama Allah Subahanahu wa Ta’ala . Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman :

سَيَقُولُ الْمُخَلَّفُونَ إِذَا انْطَلَقْتُمْ إِلَى مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوهَا ذَرُونَا نَتَّبِعْكُمْ يُرِيدُونَ أَنْ يُبَدِّلُوا كَلامَ اللَّهِ قُلْ لَنْ تَتَّبِعُونَا كَذَلِكُمْ قَالَ اللَّهُ مِنْ قَبْلُ فَسَيَقُولُونَ بَلْ تَحْسُدُونَنَا بَلْ كَانُوا لا يَفْقَهُونَ إِلا قَلِيلا

Orang-orang Badui yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan: “Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu; mereka hendak merubah janji Allah. Katakanlah: “Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami: demikian Allah telah menetapkan sebelumnya”; mereka akan mengatakan: “Sebenarnya kamu dengki kepada kami”. Bahkan mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali. ( QS. Al Fath : 15 )

Kemudian virus Tahrif ini menjalar kepada kelompok –kelompok yang keluar dari Islam secara lahir dan batin , mereka inilah Bathiniyyah, Rofidhoh, Majusi, Bahaiyyah, Qodayaniyyah ( Ahmadiyah ) , dan kelompok –kelompok menyimpang , orang-orang zindiq dan yang lainnya.

Rofidhoh, memiliki dua pokok yang rusakyang menunjukkan bahwa mereka keluar dari Islam secara lahir dan batin, yaitu :

  1. Bahwa Alqur’an yang ada sekarang ini sudah diganti.
  2. Tafsir batin, terhadap Al Qur’an , yang hakikatnya adalah tahrif dan takwil dengan kebatilan dan khayalan-khayalan terhadap ayat-ayat Al Qur’an.

 

Kemudian virus Tahrif ini terus menjalar kedalam kelompok-kelompok bid’ah yang lainnya seperti Qodariyyah Murj’iah, Jahmiyyah, Mu’tazilah, Asy’ariyyah, Maturidiyyah, Thoriqoh-thoriqoh Shufiyyah dan Quburiyyah.

 

Kemudian menjalar kepada kelompok-kelompok yang ghuluw kepada fanatik Madzhab dan kepada orang –oerang yang dikuasai oleh hawa nafsu mereka.

Al Imam Ibnul Qoyyim  Rohimahullah berkata : Hakikat perkara ini bahwa setiap kelompok mentakwil setiap yang menyelesihi pemikiran mereka dan madzhab mereka, standar yang mereka pakai pada sesuatu yang ditakwil dan yang tidak ditakwil adalah madzhab mereka dan kaidah-kaidah yang mereka buat, yang cocok dengan hal itu mereka setujui dan tidak mereka takwil , adapun yang menyelisihi hal itu maka jika mungkin akan mereka tolak , dan jika tidak memungkinkan maka mereka takwil.

Karena itulah tatkala kelompok Syi’ah Rofidhoh membuat pokok permusuhan terhadap para sahabat maka mereka tolak setiap Nash tentang keutamaan dan pujian terhadap para Sahabat, atau setidaknya nash tersebut mereka takwil.

Tatkala kelompok Jahmiyyah mencetuskan pokok-pokok bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak bicara , tidak bicara kepada siapapun , tidak bisa dilihat dengan mata diakhirat , Tidak diatas Arsy, dan tidak memiliki sifat , maka mereka takwil setiap Nash yang menyelisihi pemikiran mereka.

Tatkala kelompok Mu’tazilah mencetuskan pokok bahwa ancaman  Allah Subhanahu wa ta’ala pasti akan terlaksana dan bahwa setiap orang yang masuk neraka tidak akan keluar darinya selamanya, maka mereka takwil setiap Nash yang menyelisihi pokok-pokok pikiran mereka.

Inilah standar Takwil  menurut setiap kelompok , bahkan juga menurut orang-orang yang taklid dalam masalah-masalah furu’ ( cabang ) para pengikut imam-imam madzhab yang meyakini suatu madzhab kemudian mencari-cari dalil untuknya.: Kaidah yang ditakwil dan yang tidak ditakwil menurut mereka adalah yang menyelisihi madzhab atau mencocokinya. Barangsiapa yang menelaah perkataan –perkataan firqoh-firqoh dan madzhab-madzhab mereka maka akan melihat hal itu dengan mata kepala . Wabillahit Taufiq. ” ( Showa’iq Mursalah : 1/230-233)

Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid Rohimahullah berkata : ” Maka Tahrif sebelum dan sesudahnya adalah Bid’ah warisan yang selalu diocehkan oleh setiap pengikut hawa nafsu. Termasuk perkara Tahrif ini pada zaman kita adalah madzhab kelompok islam modern , yang diantara asas-asas mereka adalah menekan Nash agar mengikuti ” Waqi” ( Realita ). Hal ini sama dengan perbuatan orang-orang fanatik madzhab yang menekan nash-nash agar mengikuti madzhab .” ( Tahrifun Nushush min Makhidzi Ahlil  Ahwa’ fil Istidlal hal. 143 )

Demikian juga orang-orang yang memaksa ayat-ayat Alqur’an agar Tafsirnya mengikuti ilmu pengetahuan yang berkembang pada zaman ini.!

MACAM_MACAM TAHRIF

Tahrif ahli ahwa’ terhadap Nash-nash ada beberapa macam :

  1. Tahrif pada nash dan bangunannya

 Hal ini dari beberapa segi :

  1. Tahrif pada tubuh kata.
  2. Tambahan pada nash dengan satu lafadz atau lebih, didalam satu kalimat atau lebih.
  3. Mengurangi Nash
  4. Memotong Nash . Ini lebih khusus dari sebelumnya.
  5. Membolak-balik nash dengan didahulukan atau diakhirkan , tidak sebagaimana konteks yang sebenarnya.
  6. Talfiq, yaitu nash yang dinukil bersambung secara utuh, konteksnya didalam satu halaman atau beberapa halaman , kemudian penukil mengambil beberapa baris dari Nash, dan membinasakannya seakan-akan merupakan perkataan yang utuh.
  7. Menggabungkan kejelekan-kejelekan di atas dalam satu Nash.

 

  1. Tahrif ( Menyelewengkan ) dalil dari penempatan –penempatannya.

Tahrif ini pada penunjukan nash dan maknanya dengan mengeluarkannya dari hakikatnya dengan membuat kedustaan, yaitu memalingkan dalil-dalil dari segi istidlalnya, seperti menyeret perkataan Allah Subhanahu wa ta’ala dan RasulNya Shalallallahu alaihi wa sallam agar mencocoki madzhab ( Lihat Majmu’ Fatawa: 7/35 )

Diantara contohnya adalah Tahrif terhadap hadist sholat Tarawih 8 Roka’at sebagaimana dinukil oleh Qastholani didalam syarah al- Bukhori : 5/4 dari sebagian Syafi’iyyah yang mengatakan : ” Adapun perkataan Aisyah bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah sholat malam di bulan Ramadhan atau selainnya lebih dari sebelas raka’at , maka ini dibawa kepada sholat Witir.”

Syaikh al Albani Rohimahullah telah membantah takwil diatas dengan mengatakan: Lihatlah suatu misal dari sudut pandang yang telah aku nukil dari Syafi’iyyah maka dia nampak sekali kelemahannya, jika engkau mengingat bahwa perkataan Aisyah Rodhiyallahu anha ini hanyalah sebagai jawaban bagi orang yang bertanya kepadanya, bagaimana sholat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di bulan Ramadhan ? sebagaimana telah terdahulu . Maka sholat yang ditanyakan kepada Aisyah Rodhiyallahu anha meliputi seluruh sholat  malam, maka bagaimana shohih dibawa kepada witir saja bukan sholat malam semuanya, bersamaan dengan pemahaman ini memberi faedah bahwa beliau Shalallallahu alaihi wa sallam memiliki dua sholat, salah satunya sholat malam –tidak diketahui berapa roka’atnya ! – dan yang lain sholat witir yang jumlah maksimal roka’atnya sebelas roka’at , ini hal yang tidak pernah diucapkan oleh seorang yang mengilmui Sunnah, maka hadist-hadist yang banyak sepakat bahwa sholat malam Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak lebih dari sebelas roka’at dengan perincian yang telah terdahulu: Inilah diantara hasil-hasil takwil nash-nash untuk mendukung madzhab ( Sholat Tarawih hal 34-35 )

Diantara contoh lainnya  pada zaman ini adalah sebagian orang yang menekan nash agar mengikuti “Waqi” ( realita ).

  1. Tahrif pada bangunan nash dan maknanya

 

Yaitu menempelkan nama-nama islami dan istilah-istilah Syar’i pada hakikat-hakikat bid’ah dan batil , ini upaya Talbis ( pengkaburan ) dan penyesatan yang terjelek.

Seperti kelompok-kelompok ahli bid’ah yang mengambil istilah-istilah Ahlus Sunnah untuk kebid’ahan kebid’ahan mereka, seperti Tauhid Mu’tazilah yang hakikatnya adalah menolak sifat-sifat Allah Subhanahu wa ta’ala atau Taqiyyah Syi’ah yang hakikatnya merupakan kedusataan.

Demikian juga menyebut ” Demokrasi ” kafir sebagai “Syuro” teror dan demonstrasi sebagai ” Jihad “, upaya penyesatan sebagai dakwah Islami dan sebagainya.

 

  1. Tahrif dengan menikam nash atau membatalkannya.

 

       Hal seperti yang dilakukan oleh orang-orang Syi’ah Rafidhoh yang menolak hadist, kecuali jika datang dari sanad-sanad orang-orang ma’shum .

Demikian pula kelompok Mu’tazilah dan Hizbut Tahrir yang menolak hadist-hadist ahad didalam masalah-masalah Aqidah.

Diantara contoh-contoh tahrif yang bisa masuk kedalam macam-macam tahrif diatas adalah perbuatan orang-orang yang ghuluw yang melakukan tahrif pada ayat atau hadist atau istidlal dengan keduanya dengan takwil-takwil yang bathil atau pada sanad dengan mentsiqohkan perawi yang lemah atau melemahkan perawi yang tsiqoh, atau mentalbis periwayat hadist pada periwayat hadist lain yang memiliki kesamaan dalam nama. Atau mentahrif perkataan seorang ulama  dan memalingkannya dari maksudnya.

JALAN-JALAN PELAKU TAHRIF

 

Diantara jalan-jalan yang ditempuh para pelaku tahrif adalah :

1 Mentahrif kitab-kitab ulama salaf dan salafiyyin

 

Makar mereka terhadap kitab-kitab ulama Salaf dan salafiyyin seperti tafsir at Thobari , tafsir Ibnu Katsir, Kitab-kitab Ibnul Qoyyim , adz Adzahabi, Ibnu Rojab , dan yang lainnya . Mereka keluarkan dalam bentuk tahqiq atau ringkasan , yang semuanya itu dengan menyelipkan tahrif yang hina.

Diantara contoh-contoh hal tersebut adalah ” Tahrif Kautsari didalam Ta’liqnya atas al Intiqo’ oleh Ibnu Abdil Barr, al Ikhtilaf fil Lafdzi oleh Ibnu Qutaibah, asma’ wa sihifat oleh al Baihaqi, Syuruthul Aiimmah oleh al Hazimi, Dzuyul Tadzkirotul Huffazh  oleh adz Dzahabi, dan yang lainnya.

Demikian juga ta’liq-ta’liq Abdul Fattah Abu Ghuddah al Hanafi pada Manarul Munif oleh Ibnul Qoyyim dan al Mauqizhoh  oleh adz Dzahabi. Dia banyak melakukan tambahan , pengurangan , membolak-balik nash dan talfiq.

2 At Talawwun ( Bermuka dua )

 

Seperti orang yang memuji –muji Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim, adz Dzahabi dan ulama-ulama Salafiyyin yang lainnya , diwaktu yang sama dia memuji juga orang-orang yang mencela ulama-ulama ini, yang melaknat merekadan yang mengkafirkan mereka.

Dalam hal ini ketika menelaah tulisan-tulisan orang-orang yang menempuh jalan seperti ini betapapun banyak pujian mereka kepada para ulama Salaf  tidak pernah kita jumpai satu kalimat pun   dari mereka yang mengatakan bahwa manhaj Salaf yang haq dan wajib diikuti.

Seperti orang-orang Asyariyyah dan Maturidiyyah yang menjuluki diri-diri mereka sebagai ” Ahli Sunnah “. Ini adalah upaya memperdaya dari satu sisi dan menikam Ahli Sunnah wal jama’ah dari sisi yang lain , hingga tidak tersisa karakteristik bagi ahli sunnah ditengah bid’ah-bid’ah yang menyesatkan.

 

Seperti yang dilakukan oleh situs sesat sxlxfxtobat yang menurunkan artikel-artikel seperti : Ibnu Taimiyah membungkam Wahhabi , Abu hayyan al Andalusy : Ibn Taimiyah al Harrany Sesat !, Ahlus Sunnah menta’wil ayat Mutasyabihat, Ibnu Hajar al Haytami :  Aqidah Imam Ahmad berbeda aqidah Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qoyyim, Ibnu Taimiyah VS Wahaby: Ibnu Taimiyah puji Al Asyaira, Semua ulama Ahlu Sunnah tolak ajaran Sesat Ibnu Taimiyah, dan artikel-artikel penyesatan lainnya.

  1. Mencatut nama-nama dan tulisan Ahli Sunnah

 

Hal yang dilakukan oleh pelakunya ialah dengan menyebutkan nama kitab, jilid, dan halamannya.Ternyata setelah dicek didalamnya penuh dengan Tahrif dan Talfiq yang menafikan amanah Ilmiah.

UPAYA-UPAYA PREVENTIV DARI WABAH TAHRIF

 

Ada tiga jalan untuk menjauhkan diri dari Tahrif:

1. Upaya yang bersifat umum

Wajib atas setiap muslim ahli Sunnah agar menghajr ( setiap pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah dengan hajr yang syar’I ( Lihat kitab Hajrul Mubtadi’ oleh Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid Rohimahullah dan makalah Metode Hajr Terhadap Ahli Bid’ah di dalam Al Furqon Edisi 3 Tahun V rubric Manhaj )

2. Upaya yang bersifat khusus

Untuk itu para ulama membongkar tahrif dengan menyingkapnya dan menjelaskannya , dengan tulisan dan lisan ( Lihat Kitab Ar-Raddu Allal Mukhalif Min Ushulil Islam Oleh Syaikh Bakr Abu Zaid dan makalah “Membantah Ahli Bid’ah” didalam majalah Al Furqon edisi 3 Tahun VII rubric manhaj )

3. Upaya yang lebih khusus lagi

 Yaitu bagi para waliyyul amr yang memiliki kekuatan untuk menerapkan kaidah: ” Upaya pencekalandalam rangka menjaga kebaikan agama lebih utama daripada upaya pencekalan dalam rangka menjaga kebaikan kesehatan tubuh. ” ( Tahrifun Nushush min Maakhidzi Ahlil Ahwa’ fil Istidla hal. 171 )

 

Karena itulah maka para fuqoha’ menyebutkan tentang disyar’iatkannya al Hajr ( pencekalan ) atas seorang mufti yang gila , dokte yang bodoh, dan jika pengidap penyakit berdiam diantara orang-orang yang sehat maka orang-orang yang sehat tersebut boleh melarangnya dari tinggal bersama mereka.

Demikianlah,  diterapkan pelarangan syar’I atas setiap orang yang berlagak ulama padahal dia bodoh . Perkara ini seperti halnya para dokter dan insinyur yang tidak menguasai bidangnya, terlebih atas orang-orang yang lancang terhadap nash dengan melakukan tahrif. Maka dia wajib dicekal berserta kitab-kitabnya dan dilarang beredar serta dijauhkan dari manusia.

Sesungguhnya, merupakan musibah yang melanda dunia adalah gencarnya pena para gembong Tahrif dan diamnya pena ahli Sunnah.

UPAYA_UPAYA ULAMA SUNNAH DI DALAM MELAWAN TAHRIF

Sekalipun  dirasa cukup derasnya pengaruh yang ditimbulkan oleh gelombang Tahrif ini, akan tetapi Allah  Subhanahu wa Ta’ala telah menyiapkan pasukan-pasukannya untuk membendungnya. Mereka adalah para ulama ahli sunnah yang telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam didalam sabdanya :

” Yahmilu hadzal I’lma min kulli kholafin u’duuluhu yanfuuna a’nhu tahriifal ghooliina wantihaalal mubtaliina wa ta’wiilal jaahiliina .”

 

Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi, mereka menghapuskan tahrif orang-orang yang ghuluw, kedustaan orang-orang yang berbuat kebatilan, dan pentakwilan orang-orang yang bodoh.” ( Diriwiyatkan oleh Ath Thohawi didalam Musykili Atsar: 8/373 dan Ibnu Baththoh didalam al-Ibanah al Kubro: I /37 dan dishohihkan oleh al Albani didalam Takhrij Misykat: 1/53) 

 

Diantara para ulama zaman ini yang menjelaskan tahrif-tahrif pengekor hawa nafsu zaman ini adalah :

  1.  
    1. Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baz Rohimahullah, dalam bantahan beliau terhadap ash-Shobuni, dan dan kata pengantar beliau terhadap kitab Barotu Ahli Sunnah oleh Syaikh bakr Abu Zaid Rohimahullah, beliau mensifati Kautsari sebagai “Pendusta lagi pendosa”

 

  1.  
    1. Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al- Abbad Hafidzahullah, yang menjelaskan Khiyanat Ilmiah sebagian orang di dalam lampiran “Musnad Umar bin Abdul Aziz oleh al-Baghandi.

 

  1.  
    1. Syaikh Sholih al- Fauzan Hafidzahullah di dalam bantahan beliau kepada Ash-Shobuni yamg beliau mensifatinya dengan telah melakukan talbis dan khiyanat dalam penukilan.

 

  1.  
    1. Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi Hafidzahullah yang menjelaskan tahrif orang-orang yang ghuluw di dalam kitab beliau Taqsimul Hadist sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh bakr Abu Zaid Rohimahullah di dalam kitab beliau ar-Rudud hal 179.

 

  1.  
    1. Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani Rohimahullah yang menjelaskan dalam banyak kitab-kitab beliau tentang tahrif-tahrif Kautsari, Abu Ghuddah dan ash Shobuni.

 

  1.  
    1. Syaikh Ali bin Hasan al Halabi Hafidzahullah di dalam kitab beliau ” Raddul ‘Ilmi ala Habiburrahman al A’zhami  dan Kasyful Mutawali min Talbisati al Ghumari.

 

  1.  
    1. Syaikh Salim bin Ied al Hilali Hafidzahullah didalam kitab beliau al –Manhaj ar-Raqraq hal.76-98.

 

  1.  
    1.   Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid Rohimahullah, di dalam kitab beliau yang berjudul Barotu Ahli Sunnah minal Waqi’ah fi Ulamail Ummah, at-Tahdzir min Mukhtashorot ash-Shobuni fi Tafsir dan Aqidati Ibnu Abi Zaid ql-Qairowani wa Abtsil Ba’dhil Mu’ashirin Biha.

 

  1.  
    1. Syaikh Sholih bin Abdul Aziz Alu Syaikh Hafidzahullah di dalam kitab beliau ” Hadzihi Mafahimuna yang menjelaskan tentang Tahrif , Talbis, dan Tadlis Muhammad Alwi al Maliki.

 

  1.  
    1. Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Hafidzahullah di dalam kitab beliau Tahdzirul Ikhwan min Inhirofati  Abdurrohim ath-Thohhan.

 

PENUTUP

 

Kami akhiri pembahasan ini dengan perkataan yang agung dari Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid Rohimahullah berikut :

” Dan semua pemaparan ini agar tetaplah ilmu bersama dengan keutamaan amanah ilmiah , dan agar ahlinya kembali kepada jalan generasi awal , dan menunaikan amanah tarikh  dan waktu yang kita hidup di dalamnya. Bagaimana terjadi di dalamnya hal-hal yang keji ini dari tahrif dan serangan kepada nash-nash kemudian tidak tergerak sama sekali orang-orang yang memiliki kemampuan untuk menulis dan bicara…

Dan semuanya ini , agar Ahli Sunnah menjadi waspada,sehingga menjauhi para da’i kepada kebid’ahan serta tulisan-tulisan mereka,  barpaling dari mereka , lari dari mereka, menggolongkan mereka ke dalam orang-orang awam, tidak menerima perkataan –perkataan mereka , tidak mengkosumsi kitab-kitab mereka, tidak dianjurkan untuk dikosumsi oleh manusia , dan dikatakan kepada mereka : Barangsiapa yang memakan bawang putih atau bawang mereka maka hendaknya menjauhi kami!..

Jika telah dilarang mendengarkan perkataan ahli Bid’ah, dan madzhab-madzhab yang menyelisihi al haq – walaupun mereka dikenal dengan keilmuan dan hafalan dan ditinggalkan orang yang parah kesalahannya serta banyak kelirunya; karena hal ini indikasi dari hal-hal yang tidak shohih , maka para ” PenTahrif Nash-Nash ” yang merupakan gudang talbis ( pengkaburan ) dan penyesatan , Lebih utama untuk dihajr ( dijauhi ) beserta dengan tulisan-tulisan mereka….

Dan akhirnya, tulisan ini diantara yang aku harap pahalanya disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan aku yakini sebagai penunaian amanah ilmiah dan menghormati perjanjian telah Allah Subhanahu wa Ta’ala ambil atas hamba-hamba-Nya : ” Sesungguhnya perjanjian itu akan dimintai pertanggungjawaban.” Dan juga sebagai saham didalam menghapus Tahrif orang-orang ghuluw sebagaimana di dalam Hadist :

Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi, mereka menghapuskan tahrif orang-orang yang ghuluw , kedustaan orang-orang yang berbuat kebatilan , dan penta’wilan orang-orang bodoh.”

Seandainya aku sembunyikan hal ini maka aku khawatir akan termasuk ke dalam rombongan mereka, maka Ya Allah sesungguhnya kami berlepas diri kepada-Mu dari perbuatan mereka. Dan tulisan ini sebagai saksi berlepasnya diri kami dari perbuatan mereka. Ya Robb kami sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

( Tahrifun Nushush min Maakhidzi Ahlil Ahwa’ fil Istidlali hal 106-109 )

 

Sumber : Diketik ulang dari Majalah Al Fur’qon Gresik Edisi 5 Tahun kesembilan/ Dzulhujjah 1430 ( Nop/Des 2009 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: