Peringatan Penting !! Menggunakan Kuburan Sebagai Mesjid (Tahdzirus Sajid Min Ittihadil Qubur Masajid) Tamat

V. HIKMAH YANG BISA DIPETIK 

Sudah menjadi ketetapan syariat bahwa sejak semula manusia merupakan umat yang satu, berada pada tauhid yang murni. Tetapi kemudian datanglah kemusyrikan. Landasannya adalah firman Allah Ta’ala:

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ

“Manusia itu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.” (Al-Baqarah: 213)

Ibnu Abbas ra berkata, “Jarak antara Nuh dan Adam adalah sepuluh abad. Mereka semua berada pada satu syariat yang benar. Kemudian mereka saling berselisih, lalu Allah menurunkan para nabi untuk menyampaikan kabar gembira dan peringatan.”[45]

Ibnu Urwah Al-Hanbaly berkata di dalam Al-Kawakib, “Ini merupakan sanggahan pendapat para ahli sejarah dari kalangan Ahli Kitab yang menyatakan bahwa Qabil dan keturunannya adalah para penyembah api.

” Dapat kami katakan: Ucapannya itu juga merupakan sanggahan bagi sebagian filosof dan orang-orang ateis yang beranggapan bahwa sesungguhnya pada diri manusia sudah tertanam kemusyrikan. Sedang tauhid datang sesudah itu. Jelas itu merupakan pendapat yang batil. kebatilannya dapat dibuktikan dengan ayat di atas dan dua hadits shahih berikut ini: Pertama, sabda beliau Shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Rab-nya:

 

“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-Ku dalam keadaan lurus semua. Tapi kemudian datanglah syetan kepada mereka lalu menggelincirkan mereka dari agamanya, mengharamkan apa yang Ku-halalkan kepada mereka dan menyuruh agar mereka menyekutukan Aku, andaikata Aku tidak menurunkan suatu kekuasaan dengan agama itu.”[46]

 

Kedua, sabda beliau Shallallahu alaihi wa sallam:

“Tidak ada bayi yang dilahirkan kecuali ia dilahirkan menurut fithrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang membuatnya memeluk agama Yahudi, nasrani atau Majusi, sebagaimana hewan yang melahirkan hewan secara keseluruhan. Apakah kamu mengira bahwa jad’a’ (unta Rasuiullah) juga termasuk dalam kelompok binatang itu?” Kemudian Abu Hurairah berkata, “Bacalah sekehendak hatimu: “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.” (Ar-Rum: 30)

Apabila hal ini sudah dimaklumi, maka setiap orang Muslim harus mengetahui bagaimana kemusyrikan datang kepada orang-orang Mukmin, padahal sebelum itu mereka adalah orang-orang yang mengesakan Tuhan. Ada berbagai riwayat yang diambilkan dari orang-orang Salaf dalam menafsiri firman Allah:

“Dan mereka berkata: “jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” (Nuh: 23).

 

Orang-orang Salaf berpendapat bahwa yang dimaksudkan lima orang itu adalah hamba-hamba yang shalih. Setelah mereka mati, syetan membujuk kaumnya agar mereka semua bergerombol di sekitar kuburannya. Syetan juga membujuk orang-orang pada generasi berikutnya agar membuat patung bagi lima orang itu. Syetan mengagung-agungkan hal itu kepada mereka, menyuruh agar mereka mengikuti amal shalih lima orang itu. Pada generasi ketiga, syetan membujuk mereka agar menyembah lima orang itu di samping menyembah kepada Allah. Syetan menyatakan bahwa orang-orang tua mereka juga berbuat seperti itu. Lalu Allah mengutus Nuh yang memerintahkan agar mereka menyembah Allah semata. Tapi tak ada yang mengindahkan perintah dan seruan Nuh ini kecuali hanya sejumlah kecil di antara mereka. Inilah yang dikisahkan Allah dalam surat Nuh.

Dalam Shahih Al-Bukhary (8/543) disebutkan dari Ibnu Abbas, bahwa lima orang itu adalah nama orang-orang shalih dari kaum Nuh. Setelah mereka meninggal, syetan membujuk kaumnya, agar membuat patung di tempat yang biasa mereka duduki, dan memberi nama kepada masing-masing patung dengan nama mereka. Mereka pun melakukan hal itu.” Ada pula riwayat lain yang seperti itu, yaitu dalam tafsir Ibnu Jarir dan juga lain-lainnya yang tidak hanya diambilkan dari satu orang Salaf saja.

Dalam buku Ad-Durrul-Mantsur disebutkan: Abd bin Hamid mentakhrij dari Abu Muthahhir, ia berkata, “Orang-orang sering menyebutkan di hadapan Abu Ja’far (Al-Baqir) tentang Yazid bin Al-Muhallab. Lalu ia berkata, “Sesungguhnya dia adalah orang yang dibunuh di suatu daerah yang pertama kali ada sesembahan kepada selain Allah.”

Kemudian Abu Ja’far juga menyebutkan tentang Wadd, lalu berkata lagi, “Wadd adalah seorang Muslim. Ia dicintai kaumnya. Setelah ia meninggal, mereka juga menetap di sekitar kuburannya di daerah Babil. Kemudian mereka merasa khawatir mengenai kuburan Wadd itu. Ketika Iblis mengetahui kekhawatiran mereka, ia muncul dalam bentuk manusia seraya berkata, “Saya tahu kekhawatiranmu atas kuburan ini. Apakah kamu sekalian setuju bila aku membuatkan gambar yang menyerupai dirinya, sehingga ia selalu ada di antara kamu dan kamu dapat selalu mengingatnya?” Mereka menjawab, “Ya.” Selanjutnya Iblis membuat gambar yang menyerupai Wadd lalu diletakkan di antara mereka. Mereka pun selalu mengingat dirinya. Dan ketika Iblis mengetahui apa yang mereka perbuat, ia berkata, “Maukah kamu bila aku mem-buatkan patung yang menyerupai dirinya dan diletakkan di setiap rumah kalian, sehingga patung selalu ada di dalam rumahnya, sehingga kamu sekalian dapat mengingatnya?” Mereka menjawab, “Ya.”

Maka Iblis membuat patung untuk setiap rumah. Mereka menerima hal ini dengan senang hati dan mereka dapat menyebut-nyebutnya setiap saat. Anak-anak mereka mengetahui semua ini lalu menirukan apa yang mereka perbuat. Kebiasaan ini turun-temurun. Akhirnya mereka menjadikan Wadd sebagai tuhan selain Allah. Jadi sesuatu yang disembah pertama kali selain Allah di muka bumi ini adalah Wadd, yaitu patung yang diberi nama Wadd. Lalu datanglah ketentuan Allah yang mengutus Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam sebagai penutup para rasul. Syariatnya dijadikan penutup semua syariat sebelumnya. Bersamaan dengan itu Allah melarang semua sarana yang dikhawatirkan dapat menjadi benih yang menyeret manusia pada kemusyrikan, yaitu merupakan dosa yang paling besar. Maka dari itu Islam melarang pendirian masjid di atas kuburan. Islam juga melarang sikap berlebih-lebihan dalam mengunjungi kuburan dan menjadikannya sebagai tempat untuk mengadakan suatu perayaan. Sebab hal ini akan menciptakan sikap yang berlebih- lebihan dalam menyanjung suatu kuburan, bahkan akan menganggapnya sebagai sesembahan selain Allah. Apalagi bila ilmu pengetahuan sudah tidak dipedulikan, kebodohan merajalela, nasihat tidak ada, syetan dan jin aktif menyeret manusia pada kesesatan serta mempengaruhi mereka agar tidak menyembah Allah. Maka tidak mengherankan, di sana ada hikmah tersendiri mengenai larangan mendirikan shalat pada tiga waktu (waktu terbit matahari, di tengah-tengah dan saat tenggelamnya). Larangan ini dimaksudkan untuk menyingkirkan benih penyakit dan meniadakan penyerupaan dengan orang-orang musyrik yang menyembah matahari pada tiga waktu itu.

Benih penyakit dalam pendirian masjid di atas kuburan yang menyerupai tindakan orang-orang musyrik, sangat jelas dan sangat dominan. Mungkin kita tidak melihat ekses negatif dari larangan mendirikan shalat pada tiga waktu tersebut. Tetapi kita bisa melihat ekses negatif yang sangat jelas dalam masjid atau suatu bangunan yang didirikan di atas kuburan, seperti mengusapkan tangan ke kuburan itu, meminta pertolongan kepada orang yang dikuburkan di situ, bernadzar, mengucapkan sumpah, sujud dan lain sebagainya dari tindak kesesatan. Semua ini dapat disaksikan di sekitar kita.[47] Maka berlakulah hikmah Allah dengan dilarangnya semua perbuatan itu. Agar hanya Allah jualah yang disembah dan Dia tidak disekutukan dengan sesuatu.

Dengan begitu berlakulah perintah Allah agar doa hanya dipanjatkan kepada-Nya semata, dalam firman-Nya:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (Al-Jin: 18)

 

Yang sangat disayangkan, banyak orang Muslim yang bersih hatinya, namun ia harus sering menyaksikan orang-orang Islam lainnya yang terseret dalam perbuatan yang bertentangan dengan syariat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Mereka menjauh dari ketentuan syariat itu sehingga mengurangi bobot tauhidnya. Kondisi yang memprihatinkan ini ditambah lagi oleh sikap para syaikh dan pemuka agama yang ikut mendukung perbuatan yang kontroversial itu. Alasannya: Toh niat mereka baik.

Kami berani bersaksi kepada Allah, bahwa hampir tidak ada niat mereka yang baik. Kemusyrikan banyak mengambil bagian dalam perbuatan mereka dan semakin semarak karena sikap apatis para pemuka agama. Bahkan tidak jarang mereka ikut mendukung fenomena kemusyrikan dengan alasan yang batil itu.[48]

Manakah niat baik seseorang yang dalam kesulitan, lalu ia datang kepada orang yang sudah mati untuk meminta pertolongan, memohon afiat dan kesembuhan, padahal semua itu hanya layak dimintakan kepada Allah semata dan tidak ada yang mampu memberi melainkan Allah semata? Apabila kaki hewan mereka tergelincir, maka mereka berkata: “Ya Allah ya Baz.” Sementara para pemuka agama mengetahui, bahwa ketika suatu hari beliau mengetahui ada seorang sahabat yang berkata kepada beliau: “Terserah menurut kehendak Allah dan kehendakmu.”, maka beliau berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan diriku sebagai tandingan selain Allah?” Bila hal ini merupakan larangan Rasulullah terhadap orang yang beriman kepadanya agar ia terhindar dari kemusyrikan, lalu mengapa para pemuka agama tidak melarang perkataan: “Ya Allah ya Baz?” Padahal ucapan ini jauh lebih menyiratkan kemusyrikan dari ucapan sahabat tersebut. Hal ini terjadi mungkin karena para pemuka agama itu seide dengan orang-orang itu dalam kesesatannya, atau sengaja menutup-nutupi sesuatu dan tidak memberitahukannya, atau mungkin para pemuka agama itu memperdayai mereka, guna untuk menutupi aib dalam kewajiban dan kehidupannya. Mereka tidak memperdulikan firman Allah:

 

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al- Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati pula oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.” (Al-Baqarah: 159)

 

Betapa meruginya orang-orang Islam seperti itu. Seharusnya mereka menjadi penyeru kepada agama tauhid bagi semua orang dan melakukan sesuatu yang dapat menyelamatkan mereka dari paganisme dan benih-benihnya. Tapi karena kebodohan mereka terhadap agamanya sendiri dan kehendak mengikuti hawa nafsu, justru mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang menyerupai perbuatan orang-orang musyrik. Mereka melakukan sesuatu persis seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi, yaitu mendirikan tempat ibadah di atas kuburan.

Dalam bukunya Da’watul-Haq, ustadz Abdurrahman Al-Wakil berkata (hal. 176): “Paganisme ini diungkapkan oleh seorang tokoh orientalis Inggris, Edward Lyne. Dalam buku karangannya tentang rakyat Mesir pada jaman sekarang, ia berkata: “Orang-orang Islam, terutama rakyat Mesir, memiliki perbedaan pendapat yang tajam—kecuali orang-orang Wahaby—tentang para wali yang sudah meninggal. Perbedaan pendapat ini berkisar pada masalah menghormati dan mensucikan para wali yang sudah meninggal itu, yang sama sekali tidak ada landasannya di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Mereka menyanjung hingga kelewat batas kuburan para wali yang terkenal, dengan mendirikan masjid yang besar dan indah. Dan bila wali yang bersangkutan tidak terkenal, mereka mendirikan masjid kecil atau kubah. Di atas kuburannya ditancapkan tonggak dari batu atau batu bata yang disebut tarkibah, atau bisa juga ditancapi kayu yang disebut tabut. Tonggak tersebut biasanya dibungkus dengan kain sutra atau katun yang dihiasi ayat-ayat Al-Qur’an. Kuburan itu dikelilingi pagar dari kayu yang disebut maqshurah.”

Sesudah itu ia berkata lagi, “Tradisi yang biasa dilakukan orang-orang Islam ini seperti tradisi orang-orang Yahudi yang suka memperbaharui kuburan para pemimpin agama mereka, mengapur dan menghiasinya. Mereka juga memasang tarkibah, tabut dan juga mengganti kain penutup dengan yang baru. Mereka berbuat seperti itu karena riya’, persis seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi.”[49]

Orang-orang Barat yang kafir mengetahui secara persis kesesatan yang sering dilakukan kaum Muslimin ini, terutama lagi orang-orang Syi’ah. Mereka melihat hal itu sebagai sikap yang terlalu berlebih-lebihan, yang akhirnya justru dipergunakan untuk melancarkan tujuan imperialisme mereka.

Syaikh Ahmad Hasan Al-Baqury berkata di dalam fatwa yang melarang menghiasi kuburan, mendirikan kubah dan masjid di atasnya, “Dalam kesempatan ini saya ingin mengingatkan bahwa ada seorang tokoh dari Timur yang memberitahu saya tentang cara-cara yang dilakukan para imperialis di Asia. Mereka perlu mendatangkan rombongan dari India ke Baghdad melalui berbagai daerah di Asia untuk menciptakan trend baru yang dapat menunjang rujuan-tujuan imperialisme. Tidak ada tanda yang kuat bahwa rombongan itu merupakan rombongan dagang. Di tempat yang mereka diami dan berada pada jalur pokok perdagangan, mereka membuat kuburan dan juga kubah di atasnya. Lama kelamaan daerah itu menjadi ramai dan dijadikan tempat tinggal tetap.

Kami ingin menyampaikan peringatan kepada kaum Muslimin di Timur maupun di Barat semata karena mengharap ridha Allah, janganlah mereka menyanjung-nyanjung kuburan. Karena hal itu merupakan kecongkakan bagi seseorang, terkandung seruan kepada egoisme dan aristokrasi yang dapat membunuh jiwa ketimuran. Hendaknya mereka kembali ke pangkuan agama yang menganggap sama semua manusia, baik yang hidup maupun yang sudah mati. Tidak ada keutamaan bagi seseorang dari orang lain kecuali dengan takwa dan amalan yang ia lakukan karena meng-harap ridha Allah.”[50]

 

Seorang penulis dan sejarawan handal, ustadz Rafiq Bik Al-Azham, berkata di dalam bukunya yang mengungkap kehidupan Abu Ubaidah ra, Asyharu Masyahiril-lslam, dalam sub judul: Uraian Tentang Masalah kuburan (hal. 521): “Dengan judul ini saya tidak akan membahas sejarah mengenai kuburan-kuburan kuno seperti Al-Ahram, mummi dan paganisme yang menyertainya. Tetapi saya ingin membawa pikiran pembaca pada perbedaan pendapat para sejarawan tentang tempat kuburan Abu Ubaidah dan juga kuburan para sahabat yang telah membebaskan negeri ini. Banyak para sejarawan yang mengungkap kehidupan mereka, mencurahkan perhatian untuk mengabadikan peninggalan-peninggalan mereka semasa membebaskan berbagai negeri. Sehingga mereka tidak membiarkan setiap orang bertanya-tanya sendiri. Setiap pembaca yang mengamati masalah ini secara cermat, sejak dini tentu tidak merasa heran jika kuburan mereka itu sukar ditemukan kembali dan lolos dari pemberitaan sejarah. Lalu muncul para pelacak sejarah yang menjelaskan kemasyhuran para sahabat dan mengagung-agungkan kuburan mereka karena keimanan dan aktivitas mereka dalam menyebarkan dakwah Islam. Tidak ada salahnya bila pembaca tidak sempat mengamati masalah ini secara mendetail, bahwa banyak orang yang merasa perlu mengetahui kuburan para sahabat itu secara pasti, agar mereka bisa mendirikan kubah yang tinggi dan bagus di atas kuburan mereka.

Kalau bukan karena kemasyhuran mereka, ketakwaan, keimanan dan persahabatan mereka dengan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, lalu buat apa mereka membesar-besarkan amalan mereka? Bagaimanakah kuburan mereka bisa lepas dari perhatian para sejarawan, baru kemudian kuburan mereka dicari-cari, sehingga tempatnya tidak dapat ditentukan secara pasti kecuali melalui satu dua jejak? Setelah jejak kuburan para sahabat diketemukan kembali, maka orang-orang pun mendirikan bangunan di atas kuburan mereka.

Selanjutnya kita bisa mengalihkan pandangan ke kuburan orang-orang yang sudah mati, yang dibangun secara megah, indah dan juga didirikan kubah yang tinggi di atasnya.

Bahkan banyak pula yang didirikan masjid. Padahal boleh jadi kuburan itu adalah kuburan orang-orang zhalim yang tidak pernah bersyukur selama ia berada dalam lindungan Islam, atau kuburan para dajjal yang tidak mengetahui hukum-hukum iman. Sungguh jauh perbedaan mereka dengan para sahabat. Tapi mengapa membesar-besarkan kuburan ini muncul di kemudian hari, termasuk mengais jejak kuburan para sahabat?

Jawabannya: Karena pada jaman sahabat dan Tabi’in tidak pernah ada sikap yang menyanjung-nyanjung keadaan seseorang yang menjadi pahlawan dan idola umat. Kemudian muncul orang-orang yang menyanjung kuburan orang yang sudah mati, meskipun sebenarnya sudah ada larangan dari pembuat syariat yang agung dan lurus. Larangan ini dimaksudkan untuk mencabut akar-akar paganisme dan menghapus pengaruh yang ditinggalkan jasad yang sudah terbujur di liang kubur serta mengenyahkan kebiasaan bergerombol di sekitar kuburan.

Maka dari itu kuburan para sahabat tidak diketahui secara persis oleh generasi sesudah mereka kecuali sebagian kecil saja. Pendapat tentang kepastian tempatnya juga saling berbeda. Biasanya tergantung kepada perawinya serta praduga orang-orang yang menukil riwayat itu. Karena adanya pengaruh penyanjungan kuburan di dalam lingkungan Islam, maka muncullah perbedaan pendapat mengenai kuburan para sahabat dan banyak yang tidak diketahui hingga kini.

Sementara kuburan para dajjal yang suka mengada-adakan bid’ah pada abad pertama masih dapat diketahui hingga kini. Mereka suka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan perbuatan para sahabat dan Tabi’in. Maka tak mengherankan bila di sana banyak terdapat kubah yang menyerupai haikal kuno. Sehingga cerita mengenai paganisme kembali terulang dalam bentuk yang lebih menjijikkan, jauh dari kebenaran dan lebih dekat dengan kemusyrikan. Andaikata tidak ada upaya yang melacak kuburan para sahabat yang ikut andil dalam menegakkan Islam, tentunya mereka tidak akan berani mendirikan kubah di atas kuburan, menyanjung-nyanjung orang yang sudah mati, yang nyata- nyata diperangi oleh akal dan syariat. Perbuatan itu sendiri bertentangan dengan perbuatan para sahabat dan tabi’in yang telah melaksanakan amanat Nabi mereka. Tetapi kemudian kita menyia-nyiakannya. Mereka telah melaksanakan syariat Islam secara mendetail, namun kita meremehkannya.

 

Inilah riwayat Muslim mengenai masalah kuburan, dari Abul-Hayyaj Al-Asady, Ali bin Abu Thalib berkata, “Ketahuilah, bahwa aku akan mengutusmu sebagaimana aku diutus oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam: “Janganlah kamu meninggalkan patung kecuali kamu merobohkannya, tidak pula kuburan yang menonjol kecuali kamu meratakannya.”

Dalam shahih Muslim juga disebutkan dari Tsumamah bin Syufay, ia berkata, “Kami bersama Fadhalah bin Ubaid di negeri Romawi, yaitu di Rodes. Salah seorang di antara sahabat kami ada yang meninggal. Fadhalah memerintahkan untuk menguburkan sahabat kami tersebut dan meratakan kuburannya.

Selanjutnya ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan agar meratakan kuburan.” Itulah sebagian riwayat yang pernah disampaikan orang-orang yang melaksanakan amanat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Untuk menguatkan tanggung jawab amanat tersebut, mereka memulai sendiri apa yang pernah diperintahkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada mereka, dan selanjutnya agar kita mengikuti jalan mereka serta petunjuk Nabi mereka. Tetapi sayang, akal kita tidak pernah mengetahui makna bagian-bagian yang mendetail itu. Kita tidak mau menyadari kedudukan ilmu yang disertai hikmah penetapan hukum dari Allah Tabaroka wa ta’ala . Hati kita tidak pernah terbuka untuk memperhatikan larangan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, agar tidak membesar-besarkan kuburan yang dapat menyeret pada paganisme.

Kita tidak bisa menangkap hikmah larangan tersebut. Lalu kita membuat ketentuan hukum dari sudut akal kita yang serba sempit. Dan selanjutnya kita memperbolehkan membangun kuburan, sambil beranggapan bahwa aspek partikular ini sebagai sesuatu yang sunah. Akibatnya ia berubah menjadi aspek esensial, dan yang fatal adalah merusak tauhid. Lama-kelamaan, kita pun memperbolehkan membangun masjid di atas kuburan, bernadzar dan bertaqarrub lewat kuburan. Karena ekses seperti inilah, pembuat syariat memerintahkan agar kita meratakan kuburan. Namun sayang, kita belum mengetahui hikmah ketentuan syariat. Kita sering menabrak kebenaran. Maka tidak mengherankan jika kebenaran pun menabrak kita. Sehingga kita hancur bersama orang-orang yang mengalami kehancuran.”

Banyak yang beranggapan, terutama orang-orang yang merasa memiliki peradaban modern, bahwa kemusyrikan pada jaman sekarang sudah sirna. Kemusyrikan itu tidak akan muncul kembali karena ilmu pengetahuan sudah menyebar kemana-mana dan pikiran manusia semakin cemerlang. Ini merupakan anggapan yang batil. Karena ternyata realitas berbicara lain. Banyak sekali bukti yang membeberkan kemusyrikan masih merajalela di segala penjuru bumi, terutama di negara Barat. Justru di sanalah terletak kandang kekufuran, penyembahan orang-orang suci, penyembahan patung, materi, orang besar dan para pahlawan. Bukti yang terlihat nyata di depan mata adalah menyebarnya patung di kalangan mereka. Dan anehnya, fenomena ini juga mulai menyusup ke dunia Islam, tanpa perlawanan sedikit pun dari para ulama. Kami akan membawa pembaca agar melayangkan pandangan lebih jauh lagi. Banyak negara-negara Islam, terutama kalangan Syi’ah, yang diwarnai kemusyrikan dan paganisme; seperti bersujud kepada kuburan, bergerombol di sekelilingnya, menghadapkan shalat ke kuburan, memanjatkan doa kepada selain Allah, dan lain sebagainya seperti yang kami singgung di bagian muka. Andaikata dunia ini terbebas dari noda-noda kemusyrikan dan paganisme dengan berbagai bentuknya, maka sekali-kali kita tidak diperbolehkan menggunakan sarana apa pun yang dikhawatirkan dapat menyeret kepada kemusyrikan.

Sebab bagaimana pun juga, sarana itu tidak akan menjamin keselamatan sebagian orang Islam dari jerat kemusyrikan. Kalaupun memang saat ini tidak ada kemusyrikan, tapi suatu saat nanti kemusyrikan akan muncul bila sarana-sarana yang dikhawatirkan dapat menimbulkan kemusyrikan itu tidak segera dibasmi.

Berikut ini kami sajikan beberapa nash dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, agar masalah ini semakin jelas: Pertama:

“Hari kiamat tidak akan tiba hingga ada pantat wanita Daus yang bergoyang-goyang di sekitar Dzil-Khalashah. Ia adalah patung yang disembah orang-orang Daus pada jaman Jahiliyah di Tubalah.”[51]

 

Kedua: “Malam dan siang tidak berlalu hingga Lata dan Uzza disembah.” Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, kalau boleh aku menduga ketika Allah menurunkan ayat: “Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya di atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai”, ternyata hal itu tepat sekali.” Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya hal itu benar-benar akan terjadi seperti itu atas kehendak Allah. Kemudian Allah membangkitkan angin yang sedap. Setiap orang yang di dalam hatinya terdapat iman walaupun hanya seberat biji sawi, akan dimatikan. Sehingga tinggal orang-orang yang di dalam hatinya tidak ada kebaikan. Mereka itu kembali kepada agama para nenek moyangnya.[52]

Ketiga:

“Hari kiamat tidak akan tiba hingga beberapa kabilah dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik dan beberapa kabilah dari umatku menyembah berhala.”[53]

Keempat:

 

“Hari kiamat tidak akan tiba hingga di bumi ini tidak ada ucapan: “Allah, Allah.” Dalam riwayat lain disebutkan: “La ilaha illallah.”[54]

Dalam hadits-hadits ini terkandung bukti yang akurat bahwa kemusyrikan selalu ada di kalangan umat Islam, dan memang itulah yang terjadi. Maka seharusnya kaum Muslimin menjauhi setiap sarana dan faktor yang dapat menyeret seseorang kepada perbuatan syirik, seperti topik yang kita bicarakan dan yang sudah kami jelaskan ini, yaitu membangun masjid di atas kuburan. Hal ini sudah karuan dilarang Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Beliau memperingatkan umatnya dari perbuatan tersebut. Tidak perlu manusia berkedok di belakang peradaban modern. Karena peradaban itu tidak dapat memberi petunjuk orang yang sesat dan tidak menambahi petunjuk bagi orang Mukmin. Semua ini terjadi semata karena kehendak Allah. Cahaya dan petunjuk hanya dibawa oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Maka firman Allah:

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itu Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gdap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seijin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Maidah: 15-16)

 

VI. SHALAT Dl MASJID YANG DIDIRIKAN Dl ATAS KUBURAN

Kami sudah menjawab semua syubhat yang lalu. Dan sudah ada kejelasan bagi pembaca, bahwa pengharaman membangun masjid di atas kuburan mengandung hikmah yang tidak bisa disangkal hingga hari kiamat tiba. Kami juga sudah menjelaskan hikmah pengharaman itu. Maka ada baiknya kita beralih ke masalah lain yang juga terkait erat dengan ketentuan hukum ini, yaitu masalah shalat di masjid yang didirikan di atas kuburan. Sudah kami singgung di bagian muka, bahwa larangan membangun masjid di atas kuburan secara langsung diikuti dengan larangan mendirikan shalat di dalamnya. Sebab larangan terhadap suatu sarana juga harus diikuti dengan larangan terhadap tujuan dari sarana itu. Maka shalat di dalam masjid yang didirikan di atas kuburan adalah dilarang. Larangan dalam kondisi seperti ini harus dikategorikan dalam larangan terhadap sesuatu yang batil, seperti yang sudah disepakati para ulama. Imam Ahmad dan dan juga lain-lainnya menganggap shalat di dalamnya adalah batil. Tapi bagaimana pun juga masalah ini perlu diuraikan secara jelas.

 

Shalatnya Tidak Sah.

Orang yang shalat di masjid yang didirikan di atas kuburan mempunyai dua kondisi:

1. Shalat di dalamnya dimaksudkan untuk menghadapkan wajah ke kuburan dan meminta barakah, seperti yang dilakukan orang-orang awam secara keseluruhan dan juga orang-orang tertentu.

 

2. Shalat di dalamnya karena untuk tujuan shalat itu sendiri dan bukan untuk menghadapkan wajah ke kuburan.

Pada kondisi pertama, shalat di dalamnya jelas diharamkan bahkan shalat itu batil (tidak sah). Sebab bila Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang mendirikan masjid di atas kuburan dan melaknat orang yang melakukannya, maka larangan shalat di dalamnya jauh lebih ditandaskan. Larangan di sini harus diartikan sebagai tidak sahnya shalat itu.

Shalatnya Makruh.

Pada kondisi kedua, kami tidak melihat kejelasan hukum bahwa shalat itu tidak sah. Tapi kami berpendapat shalat itu makruh. Sebab untuk mengatakannya tidak sah dalam kondisi seperti ini harus ada dalil khusus. Sedang dalil yang dapat kami jadikan landasan untuk menetapkan bahwa shalat itu tidak sah hanya pada kondisi pertama. Dan dalil ini tidak bisa diimbaskan ke kondisi kedua. Sebab pembatalan shalat pada kondisi pertama dapat dibenarkan, dengan berlandaskan kepada larangan membangun masjid di atas kuburan. Larangan ini sukar digambarkan kecuali dengan disertai tujuan didirikannya masjid itu. Maka dapatlah dikatakan bahwa tujuan shalat di masjid itu telah membatalkan shalat. Sedang pendapat yang membatalkan shalat di dalamnya tanpa tujuan tersebut, maka tidak ada larangan khusus yang memungkinkan dapat dijadikan landasan. Di sini juga tidak bisa dibuat suatu qiyas yang memungkinkan dapat dibenarkan. Boleh jadi inilah yang mendorong Jumhur untuk memakruhkan shalat pada kondisi kedua, dan tidak membatalkannya. Kami berkata seperti ini sambil mengakui terus terang bahwa topik ini masih membutuhkan penyelidikan lebih jauh. Boleh saja menganggap shalat itu tidak sah, kalau memang ia memiliki landasan ilmu yang jelas dalam masalah ini. Tentu saja kami akan berterima kasih sekali bila hal ini juga dijelaskan oleh orang lain. Memang pendapat yang memakruhkan shalat di dalam masjid yang didirikan di atas kuburan didukung oleh sebagian kecil para pembahas. Sebabnya ada dua macam:

Pertama: Shalat di dalam masjid tersebut menyerupai orang-orang Yahudi dan Nashara. Sebab sejak dahulu hingga kini mereka tetap bersembahyang di dalam ibadah yang didirikan di atas kuburan.[55]

Kedua: Shalat di dalamnya merupakan sarana untuk membesar-besarkan orang yang dikuburkan di situ. Sikap seperti ini jelas keluar dari ketentuan syariat. Maka dari itu ia dilarang, sebagai langkah untuk membendung agar sarana itu tidak ada. Apalagi berbagai macam kerusakan di dalam masjid yang didirikan di atas kuburan nampak jelas di depan mata, seperti yang sudah sering kami singgung.

Para ulama telah menegaskan dua alasan ini. Ibnul-Malik, salah seorang ulama dari madzhab Hanafy berkata, “Mempergunakan masjid di atas kuburan untuk shalat diharamkan, sebab shalat itu ada kesamaan dengan kebiasaan orang-orang Yahudi.” Pernyataan ini didukung oleh syaikh Al-Qary, dan juga ulama lain dari kalangan Hanafy maupun yang bukan Hanafy.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata di dalam buku-nya Al-Qa’idatul-falilah, “Mempergunakan suatu tempat untuk masjid maksudnya mempergunakan tempat itu untuk shalat wajib lima waktu dan juga selain itu. Masjid yang didirikan untuk tujuan itu dan mempergunakan suatu tempat untuk masjid, dimaksudkan sebagai tempat beribadah kepada Allah, berdoa kepada-Nya dan bukan berdoa kepada makhluk.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengharamkan mempergunakan kuburan sebagai masjid yang dimaksudkan untuk shalat di dalamnya, sebagaimana dimaksudkannya mendirikan masjid itu, meskipun orang yang shalat di situ bermaksud untuk beribadah kepada Allah semata. Sebab hal itu dapat menjadi sarana yang dimaksudkan untuk orang yang dikuburkan di situ dan berdoa kepadanya.

Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang tempat ini dijadikan intuk beribadah kepada Allah, agar ia tidak dipergunakan sebagai sarana untuk menyekutukan Allah. Suatu perbuatan yang hanya mendatangkan kerusakan dan tidak mendatangkan kemaslahatan yang jelas, adalah perbuatan yang dilarang seperti dilarangnya shalat pada tiga waktu. Sebab di situ terkandung kerusakan yang jelas, yaitu menyerupai orang-orang musyrik yang akhirnya juga menyekutukan Allah. Sementara mengkhususkan shalat pada waktu-waktu yang dilarang itu tidak mengandung kemaslahatan yang jelas bila dibandingkan dengan ibadah-ibadah tathawwu’ selain waktu-waktu tersebut.

Maka dari itu para ulama saling berbeda pendapat dalam masalah shalat yang mempunyai latar belakang khusus (Dzawatul-Asbab). ‘ Banyak para ulama yang memperbolehkannya pada waktu- waktu tersebut. Inilah pendapat yang paling terkenal di kalangan mereka.

Sebab bila larangan tersebut dimaksudkan untuk meniadakan sarana, berarti diperbolehkan bila ada kemaslahatan yang jelas. Sementara shalat dzawatul-asbab[56] diperlukan termasuk pada waktu-waktu tersebut. Yang berarti ia diperbolehkan karena ada kemaslahatan yang jelas. Selagi di situ ada kerusakan, maka shalat itu wajib dilarang. Kalaupun ada larangan shalat pada waktu-waktu tersebut yang dimaksudkan untuk membendung timbulnya sarana kemusyrikan, maka maksudnya agar manusia tidak bersujud kepada matahari dan berdoa kepadanya, seperti yang dilakukan orang-orang yang menyembah matahari rembulan dan bintang. Mereka itu menyembah matahari dan memohon pertolongan kepadanya. Sudah sama-sama dimaklumi bahwa menyembah matahari dan sujud kepadanya termasuk perbuatan yang diharamkan. Menyembah matahari dilarang agar manusia tidak memohon pertolongan kepada planet. Seperti halnya larangan menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih sebagai masjid.

Bermaksud shalat di dalamnya termasuk dilarang, agar manusia tidak tergerak untuk meminta petolongan kepada mereka. Dengan begitu berdoa dan bersujud jauh lebih diharamkan dari pada menjadikan kuburan mereka itu sebagai masjid.” Ketahuilah, bahwa kemakruhan shalat di masjid ini sudah disepakati para ulama sebagaimana yang sudah dijelaskan di bagian muka, dan juga berikut ini. Namun mereka saling berbeda pendapat dalam masalah batal tidaknya shalat itu.

Madzhab Hanbaly menganggapnya tidak sah. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnul-Qayyim. Dalam buku Iqtidha’ush-Sirathal-Mustaqim, Mukhalifata Ashhabil-Jahim, Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Masjid-masjid yang didirikan di atas kuburan para nabi, orang-orang shalih, raja dan juga lain-lainnya, harus dimusnahkan dengan cara dirobohkan atau dengan cara lain. Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama yang terkenal dalam masalah ini. Shalat di dalamnya juga dibenci (makruh), yang saya ketahui juga tidak ada pertentangan di antara mereka. Shalat itu bahkan tidak sah karena adanya larangan dan laknat serta adanya penegasan dalam berbagai hadits. Dalam masalah ini tidak ada pertentangan karena yang dikuburkan di situ hanya satu orang. Tapi para sahabat kami saling berbeda pendapat tentang adanya satu kuburan dan dikaitkan dengan masjid. Apakah kuburan itu ada batasan tertentu hingga tiga kuburan ataukah larangan shalat itu langsung berlaku bila di situ ada satu kuburan saja, tanpa ada kuburan yang lain? Tidak ada pertentangan dalam pendapat Ahmad dan sahabat-sahabatnya. Pendapat mereka secara keseluruhan dan dengan dalil- dalil yang ada, tetap melarang shalat di masjid walau hanya ada satu kuburan saja. Dan memang inilah pendapat yang benar.

 

Karena yang dinamakan kuburan adalah tempat yang di situ ada seseorang yang dikuburkan. Bukan merupakan kumpulan dari sekian banyak kuburan. Para sahabat kami berkata, “Setiap tempat yang masuk di dalam istilah kuburan adalah tempat di sekitar kuburan, yang tidak boleh dipergunakan untuk shalat.

Al-Amidy dan juga lain-lainnya mengatakan bahwa tidak diperkenankan shalat di situ (di masjid yang tempat kiblatnya ke arah kuburan), kecuali bila antara dindingnya dan kuburannya ada pembatas lain.

Yang lain berkata, bahwa ini merupakan teks ucapan Ahmad.” Abu Bakar Al-Atsram berkata, “Aku mendengar Abu Abdullah, yakni Imam Ahmad ditanya tentang shalat di atas kuburan. Ia membenci (memakruhkan) shalat di atas kuburan. Ia ditanya lagi, “Bagaimana bila tempat sujudnya di antara beberapa kuburan?” Ia pun memakruhkannya. Ia ditanya lagi, “Bagaimana bila antara masjid dan kuburan terdapat pembatasnya?” Ia memakruhkannya apabila shalat fardhu, dan memberi keringanan bila shalat itu shalat jenazah.

 

Imam Ahmad juga berkata, “Tidak diperkenankan shalat di masjid yang berada di kuburan kecuali shalat jenazah. Justru shalat jenazah seperti itu sunnat.”

Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata di dalam Al-Fath: “Pendapat ini diisyaratkan pada perbuatan para sahabat, sebagaimana yang dikatakan Ibnul-Mundzir, bahwa Nafi’, hamba Ibnu Umar berkata, “Kami menshalati (jenazah) Aisyah dan Ummu Salamah di tengah (kuburan) Baqi’. Imamnya pada waktu itu adalah Abu Harairah. Saat itu Ibnu Umar juga hadir.”[57]

Dalam riwayat yang pertama, Imam Ahmad hanya membatasi pada shalat fardhu saja. Tapi bukan berarti shalat-shalat sunnat diperbolehkan. Karena sudah diketahui bahwa shalat nafilah lebih tepat bila dikerjakan di dalam rumah. Maka ia tidak menyebutkan shalat sunnat itu bersama shalat fardhu. Hal ini ia tegaskan dalam pernyataan berikutnya: Tidak diperkenankan shalat di masjid di antara kuburan kecuali shalat jenazah.” Ucapan Imam Ahmad ini juga dikuatkan oleh ucapan Anas: “Ia memakruhkan didirikannya masjid di antara kuburan.” Ucapannya ini cukup gamblang, bahwa dinding masjid tidak hanya cukup sebagai pembatas antara masjid dan kuburan. Bahkan boleh jadi ucapannya ini menafikan sama sekali didirikannya masjid di antara kuburan. Sebab hal itu sangat mudah menimbulkan kemusyrikan. Begitulah pendapat para syaikh dan ulama Islam pada jaman dahulu. Tapi ulama kita sekarang banyak yang melalaikan hukum syariat ini. Banyak di antara mereka menyengaja shalat di dalam masjid yang didirikan di atas kuburan.

 

Dulu selagi kami masih muda remaja dan sedang giat-giatnya mendalami Sunnah, kami juga sependapat dengan mereka. Kami pergi ke kuburan Syaikh Ibnu Araby untuk shalat di sana. Tapi kemudian kami mengetahui pengharaman shalat di atas kuburan. Langsung kami datangi seorang syaikh yang memperbolehkan shalat seperti itu. Setelah kami bertukar pendapat, akhirnya ia mendapat petunjuk Allah dan melarang shalat di atas kuburannya. Ia mengakui terus terang dan menyampaikan rasa terima kasihnya, bahwa kamilah yang menjadi sebab kembalinya kepada petunjuk Allah. Semoga Allah merahmati dan mengampuni-nya. Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada kita. Kita tidak akan mendapat petunjuk jika Allah tidak memberi kita petunjuk.

Kemakruhan Shalat di Masjid Yang Didirikan di Atas Kuburan, Tanpa Menghadap ke Arahnya.

Ketahuilah, bahwa shalat di masjid yang didirikan di atas kuburan, tetap ditolak seperti apa pun keadaannya. Baik kuburan itu ada di belakang orang yang shalat maupun didepannya, di kiri maupun di kanannya. Bagaimana pun juga, shalat di situ hukumnya makruh. Kemakruhan shalat ini semakin berlipat bila menghadap ke arah kuburan. Sebab dalam kondisi seperti ini, orang yang shalat melakukan dua hal yang ditentang; pertama shalatnya di masjid tersebut, kedua shalatnya menghadap ke kuburan. Shalat menghadap ke kuburan merupakan perbuatan yang dilarang secara mu-tlak, baik di dalam masjid maupun tidak di dalam masjid. Dalilnya adalah nash dariRasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana yang sudah kami jabarkan di bagian muka.

Pendapat Para Ulama. Al-Bukhary telah menjelaskan masalah ini dalam Shahih-nya: Ketika Hasan bin Husain bin Ali meninggal dunia, maka istrinya menghancurkan kubah selama setahun kemudian hanya menggundukannya. Orang-orang mendengar seseorang berkata, “Apakah kamu mendapatkan sesuatu yang hilang?” Orang lain menjawab, “Bahkan mereka putus asa lalu pulang.” Kemudian orang itu menukil sebagian hadits di bagian muka yang melarang mendirikan bangunan di atas kuburan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’y menjelaskan masalah ini: Keterkaitan riwayat ini dengan topik yang sedang diper-masalahkan, karena orang-orang yang menetap di Fusthath tidak pernah berhenti mendirikan shalat di sana. Secara otomatis mereka telah membuat masjid di atas kuburan. Bahkan kuburannya itu berada di arah kiblat, sehingga semakin menambah kemakruhannya.”

Di dalam bukunya Umdatul-Qari’, Al-Ainy Al-Hanafy juga menyebutkan riwayat serupa ini.

Dalam Al-Kaukabud-Durry Ala ]ami’it-Tirmidzy, syaikh Muhammad Yahya Al-Kandahlawy Al-Hanafy menyebutkan: “Mendirikan masjid di atas kuburan merupakan perbuatan yang menyerupai orang-orang Yahudi. Mereka membuat tempat peribadatan di atas kuburan para nabi dan pemimpin mereka. Mengingat dalam perbuatan ini terkandung sanjungan terhadap orang yang sudah meninggal dan menyerupai penyembahan terhadap berhala. Kemakruhannya lebih banyak bila kuburan itu berada di arah kiblat dari pada di samping kiri kanan. Bila kuburannya berada di belakang orang yang shalat, kemakruhannya lebih ringan. Tapi bukan berarti terlepas dari perbuatan yang makruh.” Dalam sebuah buku madzhab Hanafy, Syir’atul-Islam disebutkan: “Dimakruhkan mendirikan masjid di atas kuburan serta dipergunakan untuk shalat.” Secara pasti pernyataan ini menguatkan apa yang pernah dikatakan para ulama seperti yang sudah kami jelaskan di bagian muka.

Yang jelas, semua nukilan ini menguatkan pendapat kami tentang kemakruhan shalat di dalam masjid yang didirikan di atas kuburan, baik shalat itu menghadap kepada kuburan atau pun tidak. Harus ada pembedaan antara masalah ini dengan shalat ke arah kuburan yang di situ tidak ada masjidnya. Gambaran seperti ini dapat ditegaskan dengan kemakruhan shalat menghadap ke kuburan. Para ulama melarang shalat di sekitar kuburan secara mutlak seperti yang tertulis dalam buku-buku madzhab Hanbaly.

Hal ini lebih sesuai dengan upaya membendung dipergunakannya berbagai macam sarana dalam beribadah, sebagaimana yang diperingatkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam: “…Barangsiapa yang takut akan syubhat, maka ia telah membebaskan bagi agama dan kehormatan dirinya. Barang-siapa yang berada dalam syubhat, maka ia telah berada dalam hal yang haram, seperti penggembala yang menggembala di

sekitar tanaman yang dilindungi, dikhawatirkan ia mendekatinya lalu berada di dalamnya.[58]

VII. KETETAPAN HUKUM INI BERLAKU UNTUK SEMUA MASJID KECUALI MASJID NABAWY

Ketahuilah, bahwa ketetapan hukum yang sudah kita bicarakan ini mencakup semua masjid, baik yang kecil maupun besar, yang kuno maupun yang baru, karena dalil yang melandasinya bersifat umum.[59] Tidak ada masjid yang mendapatkan pengecualian dalam masalah ini kecuali masjid Nabawy yang mulia. Sebab masjid Nabawy mempunyai fadhilah yang tak dimiliki semua masjid yang didirikan di atas kuburan,[60] seperti yang disabdakan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:

“Shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat dari pada shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil-Haram.” [61] Sabdanya yang lain:

“Apa yang ada di antara rumahku dan mimbarku terdapat sebuah kebun dari kebun-kebun surga.”[62]

Dan fadhilah-fadhilah yang lainnya masih banyak. Shalat di masjid beliau dikatakan makruh bila kedudukannya disamakan dengan masjid-masjid yang lain, dan ia tidak memiliki fadhilah-fadhilah ini. Tentu saja hal ini tidak boleh. Pengertian ini dapat kita nukilkan dari pernyataan Ibnu Taimiyah di muka dalam menjelaskan sebab diperbolehkannya sholat dzawatul-asbab pada waktu- waktu yang dilarang.

Sholat dzawatul-asbab diperbolehkan pada saat-saat itu, sebab kalau dilarang akan menimbulkan hilangnya keutamaan penyebabnya. Begitu pula tentang shalat di masjid Nabawy. Kami mendapatkan Ibnu Taimiyyah berkata seperti itu.

Dan di dalam buku Al-Jawabul-Bahir di Zuril-Maqabir, ia juga berkata, “Shalat di dalam masjid yang didirikan di atas kuburan, dilarang secara mutlak. Berbeda dengan masjid Nabawy. Shalat di sana mempunyai nilai seribu shalat di masjid lain. Ia didirikan atas dasar takwa. Kesucian masjid Nabawy tetap terjaga pada jaman beliau dan Khulafa’ rasyidin, sebelum bilik beliau termasuk bagian dari masjid. Bilik beliau masuk ke dalam masjid setelah meninggalnya semua sahabat.”

Di tempat lain Ibnu Taimiyyah berkata, “Masjid Nabawy ini, sebelum bilik beliau masuk ke dalamnya, merupakan masjid yang sangat mulia. Kemuliaan masjid ini karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam membangunnya bagi dirinya sendiri dan bagi orang-orang Mukmin. Beliau shalat di situ kepada Allah, dan juga dipergunakan shalat oleh orang-orang Mukmin hingga kiamat tiba. Itulah fadhilah masjid Nabawy, seperti yang beliau sabdakan: “Shalat di masjidku ini lebih baik dari pada seribu shalat di lain masjid kecuali Masjidil- Haram.” (Muttafaq Alaih) Beliau juga bersabda: “Janganlah kamu membesar-besarkan bepergian kecuali ke tiga masjid: yaitu Masjidil-Haram, Masjidil-Aqsha dan masjidku ini.” (Muttafaq Alaih).

Fadhilah itu sudah kongkrit sebelum bilik beliau masuk ke dalam masjid. Maka tidak boleh ada anggapan bahwa setelah bilik beliau masuk ke dalamnya, masjid Nabawy itu lebih afdhal dari sebelumnya. Mereka tidak bermaksud memasukkan bilik beliau ke dalam masjid. Tapi mereka bermaksud meluaskan masjid, yang secara otomatis memasukkan bilik istri-istri (kuburan) Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ke dalam masjid. Secara darurat bilik tersebut masuk ke dalam masjid, meskipun sebenarnya orang-orang Salaf tidak menyukainya.”

Kemudian Ibnu Taimiyyah juga berkata, “Barangsiapa yang meyakini bahwa sebelum kuburan beliau masuk ke dalam masjid, maka masjid itu tidak memiliki fadhilah, meskipun Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, Muhajirin dan Anshar shalat di situ. Fadhilah itu muncul pada jaman khalifah Al-Walid bin Abdul-malik, setelah bilik beliau masuk ke dalam masjid.” Jelas ini merupakan ucapan orang bodoh yang terlalu parah kebodohannya, atau mungkin ia orang kafir. Ia mendustakan apa yang beliau bawa dan layak untuk dibunuh. Sebab para sahabat (sesudah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam meninggal), berdoa di masjid itu seperti yang mereka lakukan semasa beliau masih hidup. Tidak ada syariat yang muncul selain syariat yang diajarkan beliau kepada mereka semasa hidupnya. Bahkan beliau melarang mereka menjadikan kuburannya sebagai tempat untuk perayaan, atau kuburan lainnya sebagai masjid, lalu dipergunakan untuk shalat kepada Allah. Larangan ini dimaksudkan untuk menghadang sarana kemusyrikan.

Semoga Allah melimpahkan pahala kepada beliau sebagai nabi bagi umatnya. Beliau telah menyampaikan risalah dan amanat, menasihati umat, berjihad pada jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad dan beribadah kepada Allah sehingga keyakinan selalu datang dari Tuhannya.” Sebagai penutup kata, kami memohon kepada Allah semoga Dia berkenan melimpahkan taufiq atas selesainya tulisan ini. Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya segala amal shalih dapat menjadi sempurna dan segala yang baik dapat terus berlanjut.

Mahasuci Engkau ya Allah, dengan memujimu aku bersaksi bahwa tidak ada llah selain Engkau, kami memohon ampunan dan taubat kepada-Mu. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Muhammad, kepada kerabat dan sahabat-sahabat beliau. Wa akhiru da’wanan anil-hamdulillahi rabbil-alamin.

Foot Note :

45 Riwayat Ibnu Jarir dalam buku Tafsir-nya, 4/275; Al-Hakim, 2/546; Hadits ini shahih dan disepakati oleh Adz- Dzahaby.

46 Diriwayatkan oleh Muslim, 8/159; Ahmad, 4/162; Al-Harby dalam bukunya Al-Gharib, 5/24/2, Ibnu Asakir, 15/328/1; Al- Baghawy, 1/251/2.

47 Dalam bukunya Manasikul-Hajj, An-Nawawy berkata, “Tidak diperkenankan thawaf di sekeliling kuburan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. makruh menempelkan perut dan punggung ke dinding kuburan. Sedang Al-Halimy dan lain-lainnya mengatakan, “Makruh mengusapkan tangan ke dinding kuburan Yang baik adalah menjauh darinya. Inilah yang benar dan disepakati para ulama. Tidak boleh mendustai orang- orang awam dengan membuka perdebatan dalam masalah ini. Yang paling baik ialah mengikuti kesepakatan para ulama.” Sungguh tepat perkataan Abu Ali Al-Fadhil bin Iyadh berikut ini: “Ikutilah jalan petunjuk. Tidak akan membahayakan dirimu meskipun yang menempuh jalan itu hanya sedikit. Hindarilah jalan kesesatan dan jangan terpedaya oleh banyaknya orang-orang rusak yang menempuh jalan itu.” Ada yang beranggapan bahwa mengusapkan tangan ke dinding kuburan Rasulullah akan mendapatkan barakah yang banyak. Tentu saja ini merupakan anggapan yang bodoh. Barakah itu akan didapat bila sesuai dengan ketentuan syariat dan kesepakatan para ulama. Bagaimana mungkin seseorang mencari fadhilah dengan menyalahi kebenaran?

48 Kami pernah berdebat dengan seorang khathib di rumahnya setelah beberapa tahun buku ini terbit, tentang masalah memohon pertolongan kepada selain Allah (orang yang sudah mati). Syaikh itu memperbolehkan perbuatan tersebut, dengan alasan: Orang yang meminta mengetahui bahwa orang yang sudah mati tidak dapat memberi madharat dan tidak pula manfaat. Kami bertanya, “Kalau memang begitu, mengapa ia meminta pertolongan kepadanya?” Ia menjawab, “Itu hanya sekedar sebagai wasilah.” Kami katakan, “Allah Mahabesar. Ucapanmu itu sama dengan ucapan orang-orang (musyrik): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Kalau memang Anda tidak percaya bahwa orang yang sudah mati itu tidak bisa memberi madharat dan manfaat, lalu mengapa Anda tetap menyerunya?”

49 Ini sebagian dari tujuan mereka. Adakalanya yang lain bermaksud untuk mendekatkan diri dan beribadah kepada Allah. Tentu saja ini anggapannya.

50 Laisa Minal-lslam, Muhammad Al-Ghazaly, hal. 174.

51 Diriwayatkan oleh Al-Bukhary, 13/64; Muslim, 8/182; Ahmad, 2/271.

52 Diriwayatkan oleh Muslim, 8/182; Ahmad, 130/2; sanadnya shahih.

53 Diriwayatkan oleh Abu Daud, 2/202, At-Tirmidzy, 3/227; Al-Hakim, 4/448; dan lain-lainnya.

54 Diriwayatkan oleh Muslim, 1/91; At-Tirmidzy, 3/224; Al- Hakim, 4/494, 495; Ahmad, 3/107, 259, 268.

55 Kami pernah membaca sebuah artikel yang dimuat di majalah Al-Mukhtar, Mei 1958, dengan judul: Vatikan kota lama yang suci, yang ditulis oleh seorang penulis wanita, Ronald Carlos Betty. Di situ ia berkata: “Gereja orang suci Petrus merupakan gereja yang paling besar dalam dunia Kristen. Ia didirikan di suatu tanah lapang dan dipergunakan untuk ibadat sejak lebih dari tujuh belas abad. Ia didirikan di atas kuburan Petrus. Pada hari-hari raya Kristen, tempat itu selalu dibanjiri tidak kurang dari seratus ribu orang.

56 Seperti shalat dua rakaat tahiyyatul-masjid, sunat wudhu’ dan lain sebagainya.

57 Riwayat ini ditakhrij oleh Abdurrazzaq, dan sanadnya shahih.

58 Muttafaq Alaihi, dari hadits Nu’man bin Basyir.

59 di dalam bukunya Syarhush-Shudur fi Tahrimi Raf’il- Qubur, dan setelah menyebutkan hadits Jabir: “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang mengapur kuburan dan mendirikan bangunan di atasnya”, Asy-Syaukany berkata, “Di sini terdapat penegasan yang jelas tentang larangan mendirikan bangunan di atas kuburan. Hal ini juga mencakup bangunan yang didirikan di sekitar lubang kuburan seperti yang sering dilakukan banyak orang. Apalagi mendirikan masjid di atasnya.

60 Dalam kesempatan ini kami katakan: “Di antara berita yang aneh dan praduga yang menyesatkan adalah yang ditulis oleh Ibnu Abidin dalam buku Akhbarud-Duwal, yang dinisbatkan kepada Sufyan Ats-Tsaury: “Shalat di masjid Damaskus sama dengan tiga puluh ribu shalat.” Jelas ini merupakan ucapan batil yang tidak bersumber dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, bahkan juga tidak berasal dari Sufyan Ats-Tsaury. Sebab isnadnya dha’if dan tidak diketahui secara pasti.

61 Ditakhrij oleh Al-Bukhary dan Muslim serta lain-lainnya, dari Abu Hurairah.

62 Lafazh yang benar adalah baity (rumahku). Sementara lafazh yang sering dipakai adalah qabry (kuburanku). Bila ditilik dari beberapa riwayat, lafazh kedua adalah salah. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim serta lain-lainnya dari Abdullah bin Zaid; hadits mutawatir.

Sumber : Dipublish ulang dari E-Book http://kampungsunnah.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: