Peringatan Penting !! Menggunakan Kuburan Sebagai Mesjid (Tahdzirus Sajid Min Ittihadil Qubur Masajid) Bag 2

III. MEMBANGUN MASJID DI ATAS KUBURAN DAN DOSA BESAR 

Setelah jelas pengertian ittikhadz sebagaimana yang tertuang di dalam hadits-hadits di muka, maka alangkah baiknya apabila kita sedikit mengupas hadits-hadits ini, agar kita mengetahui lebih jauh hukumnya, sambil menukil pendapat sebagian ulama mengenai masalah tersebut. Maka dapat kami katakan bahwa setiap orang yang mengamati hadits-hadits tersebut, akan tampak di hadapannya suatu gambaran yang tak bisa diragukan, bahwa menjadikan kuburan sebagai masjid dan menjadikan masjid itu sebagai tempat shalat, merupakan perbuatan yang dilarang. Bahkan hal itu termasuk dosa besar. Sebab kata-kata laknat yang tertuang di dalamnya dan sifat mereka sebagai orang-orang yang paling buruk di sisi Allah, hanya layak dilemparkan. kepada orang yang melakukan dosa besar, dan ini tidak bisa disangkal.

Pendapat Para Ulama dalam Masalah Ini.

Empat madzhab sepakat untuk mengharamkannya, bahkan di antaranya ada yang menegaskan sebagai dosa besar. Dan inilah rincian dari pendapat masing-masing madzhab:

 

Pertama: Madzhab Syafi’y menganggapnya sebagai dosa besar.

Dalam hal ini Ibnu Hajar Al-Haitamy berkata di dalam buku Az-Zawajir ‘an Iqtirafil-Kaba’ir: “Dosa besar urutan yang ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan adalah menjadikan kuburan sebagai masjid, menyalakan api di atas kuburan, mendirikan patung di atas-nya, berkeliling di sekitarnya, meminta keselamatan darinya dan shalat ke arahnya.”

Selanjutnya ia (Ibnu Hajar) menyebutkan beberapa hadits seperti yang sudah kami sebutkan di muka. Kemudian ia berkata: “Peringatan: Enam hal ini termasuk dosa besar. Inilah yang dikatakan sebagian pengikut madzhab Syafi’y. Maksud menjadikan masjid sebagai kuburan sudah jelas. Orang yang berbuat seperti itu terhadap kuburan para nabinya, akan dilaknat. Dan orang yang berbuat seperti itu terhadap kuburan orang-orang shalih di antara mereka adalah orang yang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat. Maka di situ terdapat peringatan bagi kita sebagaimana yang disabdakan Rasulullah:

 

“Diperingatkan tentang apa yang mereka (Orang-orang Yahudi dan Nashara) perbuat.” Maksudnya beliau memperingatkan umatnya dengan bersabda kepada mereka tentang perbuatan seperti yang diperbuat orang-orang Yahudi, sehingga mereka akan mendapat laknat seperti yang dialami orang-orang Yahudi. Maka sudah selayaknya bila sahabat-sahabat kami berkata: “Diharamkan shalat kepada kuburan para nabi dan wali karena hendak meminta barakah dan sanjungan. Semisal dengan perbuatan ini adalah shalat di atas kuburan mereka karena hendak meminta barakah dan mengagung-agungkannya. Perbuatan yang dianggap sebagai dosa besar ini sudah cukup jelas karena adanya beberapa hadits seperti yang sudah disebutkan di muka.

” Sebagian dari pengikut madzhab Hanbaly berkata: “Tujuan seseorang mendirikan shalat di atas kuburan karena hendak mencari barakah, merupakan sikap yang menentang Allah dan Rasul-Nya serta mengada-adakan urusan agama yang tidak diperkenankan Allah. Untuk melarang perbuatan ini, maka para ulama sudah melakukan ijma’. Sesungguhnya sebab kemusyrikan dan hal-hal diharamkan yang paling besar ialah shalat di atas kuburan, menjadikannya sebagai masjid atau membangun di atasnya.

Pendapat yang menyatakan perbuatan itu sebagai sesuatu yang makruh, hanya bisa untuk hal-hal yang lain. Sebab para ulama tidak akan berani memperbolehkan perbuatan yang sudah diyakini bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melaknat pelakunya. Bahkan wajib menghancurkan bangunan dan kubah yang ada di atas kuburan. Sebab boleh jadi hal itu lebih berbahaya dari masjid Dhirar. Sebab pendirian masjid di atas kuburan merupakan perbuatan durhaka kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, dan jelas hal itu sudah dilarang oleh beliau.

Rasulullah juga memerintahkan untuk menghancurkan kuburan yang memiliki bentuk yang menonjol dari permukaan tanah. Lampu atau pun lentera yang sengaja dipasang di atas kuburan harus dihilangkan. Hal ini tidak boleh dibiarkan dan diremehkan.”

Ini merupakan pernyataan ahli fiqih Ibnu Hajar Al-Haitamy, yang juga ditegaskan oleh Al-Alusy dalam Ruhul-Ma’any. Ini merupakan pernyataan yang menunjukkan seberapa jauh pemahaman mengenai masalah agama.

Perkataannya yang menukil pendapat sebagian ulama madzhab Hanbaly:

“Pendapat yang menyatakan perbuatan itu sebagai sesuatu yang makruh, hanya bisa untuk hal-hal yang lain”, seakan-akan mengisyaratkan kepada pendapat Imam As-Syafi’y: “Saya tidak suka (menganggap makruh) terhadap masjid yang didirikan di atas kuburan…

” Maka dari itu para pengikut Imam Syafi’y, sebagaimana yang tertuang di dalam At-Tahdzib dan syarh-nya Al- Majmu’ termasuk aneh. Sebab mereka juga berargumentasi dengan sebagian hadits di atas. Padahal hadits-hadits itu sudah jelas mengharamkan perbuatan tersebut dan orang yang melakukannya akan dilaknat. Andaikata hukum makruh menurut mereka (pengikut Imam Syafi’y) diartikan sebagai pengharaman, tentunya ini dekat dengan pokok permasalahan. Tapi kenyataannya mereka mengkategorikannya sebagai peringatan belaka.

Bagaimana mungkin mereka sepakat menghukuminya sebagai sesuatu yang makruh, padahal hadits-hadits seperti itulah yang mereka pergunakan sebagai dalil? Mengenai masalah ini dapat kami katakan: “Saya tidak merasa heran dengan istilah makruh dalam ucapan Syafi’y di bagian muka, terutama hukum makruh yang dimaksudkan untuk pengharaman.

Karena memang itulah makna syar’i yang dimaksud menurut istilah Al-Qur’an. Saya merasa yakin bahwa Imam Syafi’y sangat terpengaruh oleh gaya bahasa Al-Qur’an. Apabila kita mengamati perkataannya lalu disesuaikan dengan pengertian khusus di dalam Al-Qur’an, maka mau tidak mau kita harus mengakui pernyataannya itu, tidak menurut pengertian etimologis seperti yang dilakukan ulama jaman sekarang. Kita lihat firman Allah:

وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ

“Menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan.” (Al-Hujurat: 7)

Ketiga hal ini merupakan perbuatan yang diharamkan. Makna seperti inilah yang dikehendaki Syafi’y dengan kata-katanya: Akrahu (Aku tidak suka atau menganggap makruh).

Kemudian ia melanjutkan kata-kata untuk menegaskan: “Apabila ia shalat ke arah kuburan, maka ia tetap mendapat pahala, namun ia telah melakukan kejahatan.”

Perkataannya asa’a artinya melakukan kejahatan, yang berarti melakukan sesuatu yang diharamkan. Pengertian ini pula yang dimaksud dengan kata-kata sayyi’ah (dari kata asa’a) dalam Al-Qur’an. Allah telah berfirman di dalam surat Al-Isra’, setelah melarang manusia membunuh anak, mendekati zina, membunuh jiwa dan larangan-larangan lainnya:

كُلُّ ذَلِكَ كَانَ سَيِّئُهُ عِنْدَ رَبِّكَ مَكْرُوهًا

 “Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Allah.” (Al-Isra’: 38).

 

Makruh di sini artinya sesuatu yang diharamkan. Dari sini dapat ditegaskan bahwa pengertian seperti inilah yang dimaksudkan dari kata makruh dalam ucapan Syafi’y mengenai masalah ini.

Madzhabnya juga mengakui sebuah kaidah: “Asal-muasal larangan ialah pengharaman, kecuali ada dalil yang menunjukkan kepada makna lain.” Hal ini ditegaskan di dalam tulisannya Jima’ul-Ilm, hal. 125 dan Ar-Risalah, hal. 343.

Sebagaimana yang sudah diketahui oleh setiap orang yang mendalami masalah ini beserta dalil-dalilnya, bahwa di sana tidak ada dalil yang mengalihkan larangan seperti yang terkandung di dalam hadits-hadits di atas kepada selain pengharaman. Bagaimana mungkin hal itu terjadi sedang hadits-hadits lain juga menegaskan pengharaman?

Maka dari itu kami berani memutuskan bahwa pengharaman mengenai masalah ini juga merupakan pendapat madzhab Syafi’y. Apalagi ia menyatakan ketidaksukaannya setelah menyebutkan sebuah hadits: “Allah memerangi orang-orang Yahudi dan Nashara karena mereka menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat shalat.” Maka tidak aneh jika Al-Hafizh Al-Iraqy-dari madzhab Syafi’y- yang mengharamkan didirikannya masjid di atas kuburan, Wallahu a’lam.

Maka dapat kami katakan, bahwa salah besar orang yang menisbatkan diri kepada Imam Syafi’y dalam masalah memperkenankan seseorang mengawinkan anak putrinya dari hasil perzinaan, dengan alasan karena Imam Syafi’y menyatakan kemakruhannya. Sesuatu yang makruh tidak bisa berubah menjadi sesuatu yang diperbolehkan dalam masalah yang diperingatkan.

Dalam hal ini Ibnul-Qayyim berkata, “Syafi’y menetapkan bahwa seseorang yang mengawinkan anak putrinya dari hasil perzinaan adalah makruh. Ia sama sekali tidak menyebutkan mubah atau ja’iz (diperbolehkan). Bila disesuaikan dengan keagungan Syafi’y dan kedudukannya tinggi yang diberikan Allah kepadanya dalam agama, maka dapat dikatakan bahwa hukum makruh di sini dimaksudkan untuk pengharaman. Ia menggunakan istilah makruh (tidak disukai atau dibenci), karena sesuatu yang haram selalu dibenci Allah dan Rasul-Nya. Maka Allah menyebutkan hal-hal yang diharamkan, sejak dari firman-Nya:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia….” sampai firman-Nya:

 

كُلُّ ذَلِكَ كَانَ سَيِّئُهُ عِنْدَ رَبِّكَ مَكْرُوهًا

 “Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Allah.” (Al-Isra’: 23-38)

 

Dan dalam sebuah hadits shahih disebutkan: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membenci bagi kamu sekalian kata-mengatakan, terlalu banyak bertanya dan menghambur- hamburkan uang.”

Orang-orang Salaf juga menggunakan kata makruh dalam suatu pengertian yang juga dipergunakan di dalam firman Allah dan sabda Rasulullah. Namun ulama muta’akhkhirin membuat istilah khusus dari kata makruh yang artinya bukan haram, yaitu: Meninggalkan sesuatu lebih baik dari pada melakukannya. Akhirnya kata-kata ini berkembang menjadi istilah modern yang campur aduk tidak karuan. Lebih parah lagi karena istilah makruh ini dirasa kurang layak bila ada dalam firman Allah dan sabda Rasulullah, karena harus tunduk kepada istilah modern itu. Maka dalam kesempatan ini kami katakan: “Kewajiban bagi setiap ulama agar selalu waspada terhadap pengertian-pengertian modern yang menyusup ke dalam lafazh-lafazh Arab, yang membawa pengertian khusus dan tentunya diketahui benar oleh bangsa Arab, tapi tidak menurut pengertian modern seperti ini. Sebab Al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab. Maka kita harus mengetahui makna setiap kata dan kalimat menurut batasan-batasan seperti yang dipahami orang-orang Arab, yang di kalangan mereka Al-Qur’an diturunkan. Tidak boleh membuat penafsiran menurut pengertian terminologi seperti yang sering dipergunakan ulama jaman sekarang. Kalau tidak, maka orang yang menafsiri seperti ini akan terpuruk dalam kesalahan. Bahkan tanpa terasa nantinya ia dapat mengatasnamakan perkataan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Seperti yang sudah terjadi dalam kata-kata makruh, maka di sana ada contoh lain, yaitu dalam kata sunah. Menurut bahasa, sunah artinya jalan. Lafazh ini mencakup semua yang ada pada diri Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, baik berupa petunjuk dan cahaya, baik fardhu maupun nafilah. Sedang menurut pengertian terminologi, sunah artinya khusus untuk hal-hal yang bukan fardhu dari petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Berarti sunah tidak bisa ditafsiri menurut makna terminologi seperti ini, sebagaimana yang tertuang dalam beberapa hadits beliau:

“Hendaklah kamu sekalian menurut sunahku….” Dan juga sabda beliau: “…maka barangsiapa yang tidak menyukai sunahku, dia bukan termasuk golonganku

 

.” Kesalahan seperti ini juga ter-dapat dalam pemahaman ulama jaman sekarang, yang me-nyarankan agar berpegang teguh kepada sunah menurut pengertian terminologi, yaitu: “Barangsiapa yang meninggalkan sunahku, maka ia tidak akan menerima syafaatku. Akhirnya mereka terjerumus dalam dua kesalahan:

1. Pertama, mereka menisbatkan hadits kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang kami ketahui secara persis, bahwa hadits itu tidak mempunyai dasar sama sekali.

2. Kedua, penafsiran mereka terhadap sunah menurut pengertian terminologi, lalu mereka justru melalaikan makna syar’inya. Berapa banyak kesalahan manusia yang ada di sekitar kita karena kelalaian seperti ini.

Maka dari itu Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah dan murid-nya, Ibnul-Qayyim sering memperingatkan hal ini. Mereka memerintahkan agar dalam menafsiri lafazh-lafazh syar’i dikembalikan kepada makna bahasa, bukan pengertian yang direkayasa. Sebenarnya hal ini merupakan landasan pokok yang saat ini disebut dengan istilah “Study historis tentang kata-kata.” Ada baiknya juga kami isyaratkan bahwa tujuan yang paling penting konggres bahasa Arab yang pernah diselenggarakan di Mesir, ialah untuk merancang leksikon sejarah bahasa Arab. Konggres itu juga bertujuan menyebarkan kajian yang mendetail mengenai sejarah sebagian perbendaharaan kata dan perubahan yang terjadi di dalamnya, sebagaimana yang tercantum di dalam alinea dua, sub kedua dari undang-undang nomor 434/1955, yang khusus mengatur penyelenggaraan konggres bahasa Arab (lihat majalah Al-Mujtama’, edisi 8, hal. 5) Maka hendaknya orang-orang Islam mengolah pekerjaan yang besar ini, menyerahkannya kepada orang-orang Arab yang Muslim. Sesungguhnya penduduk Makkah lebih mengetahui seluk-beluk daerahnya dan tuan rumah lebih mengetahui seluk-beluk isi rumahnya. Pekerjaan yang besar ini harus dihindarkan dari tipu daya orang-orang orientalis dan makar imperialis.

 

Kedua: Madzhab Hanafy menganggapnya makruh untuk pengharaman.

Makruh dengan pengertian syar’i seperti ini sudah menjadi kesepakatan madzhab Hanafy. Dalam hal ini Imam Muhammad, murid Abu Hanifah berkata di dalam buku Al-Atsar hal. 45: “Kami tidak pernah berpendapat (tidak setuju) tambahan yang menonjol di atas kuburan. Kami juga membenci (menganggap makruh) bila kuburan itu dikapur atau dilepa (dibata), atau dibangun masjid di atasnya.” Makruh menurut madzhab Hanafy bila dikatakan seperti itu ialah untuk pengharaman. Hal itu sudah diketahui di kalangan mereka. Sementara Masalah ini ditegaskan pengharamannya oleh Ibnul-Malik seperti berikut ini.

Ketiga: Madzhab Maliky mengharamkan.

Al-Qurthuby berkata di dalam tafsirnya, setelah menyebutkan hadits kelima: “Ulama kami mengatakan: Haram bagi orang-orang Islam menjadikan kuburan para nabi dan ulamanya sebagai masjid.”

Keempat: Madzhab Hanbaly mengharamkan.

Madzhab Hanbaly juga mengharamkan menjadikan kuburan sebagai masjid, sebagaimana yang diterangkan di dalam buku Syarhul- Muntaha dan juga buku-buku lainnya. Bahkan sebagian di antara mereka membatalkan shalat di dalam masjid yang dibangun di atas kuburan, dan masjid itu harus dihancurkan. Ibnul-Qayyim menjelaskan masalah ini di dalam buku-nya Zadul-Ma’ad.

 

 Ia menjelaskan pengertian dan manfaat yang terkandung dalam perang Tabuk, dan setelah menyebutkan kisah mengenai masjid Dhirar yang Allah melarang orang Islam mendirikan shalat di sana serta bagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menghancurkannya, maka ia berkata:

“Termasuk dalam hal ini ialah keharusan membakar tempat- tempat yang dipergunakan untuk mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, serta keharusan menghancurkannya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam membakar masjid Dhirar dan memerintahkan untuk menghancurkannya. Tadinya masjid itu juga dipergunakan untuk shalat dan menyebut Allah. Namun ketika keberadaannya menimbulkan bahaya, memecah belah kaum Mukminin, menjadi tempat berkumpul orang-orang munafik, atau mungkin di sana ada tempat-tempat yang seperti ini, maka seorang pemimpin wajib menyingkirkannya. Entah dengan cara menghancurkan atau membakarnya, ataupun merubah bentuknya dan menyingkirkan rencana yang diletakkan dalam pembangunan masjid itu.

Bila dalam mensikapi masjid Dhirar seperti ini, maka indikator-indikator kemusyrikan yang dapat memancing timbulnya sekutu-sekutu selain Allah, jauh lebih layak untuk diperlakukan seperti itu dan lebih wajib untuk dihancurkan. Begitu pula tempat-tempat maksiat dan kefasikan, seperti bar, pub, tempat meminum khamr dan tempat-tempat maksiat lainnya.

Umar bin Khathab pernah membakar satu desa yang di dalamnya diperjualbelikan khamr. Ia juga membakar toko milik Ruwaisyid Ats-Tsaqfy, lalu menamakannya Fuwaisiq (tikus). Ia juga membakar kediaman Sa’d, karena ia bersembunyi di situ dari incaran penduduk. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam juga hendak membakar rumah orang-orang yang tidak mau datang ke shalat jama’ah dan jum’ah.

Padahal beliau hanya melarang para wanita dan kerabat yang memang tidak wajib datang ke shalat jama’ah dan jum’ah itu. Namun sikap seperti itu juga tidak diperbolehkan tanpa maksud-maksud yang baik dan bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana tidak diperbolehkannya mendiamkan masjid tersebut.

Maka atas dasar ini, masjid yang didirikan di atas kuburan harus dihancurkan. Dan mayit yang dikubur di dalam masjid harus digali lagi (dipindahkan). Hal ini ditegaskan oleh Imam Ahmad dan juga lain-lainnya. Masjid dan kuburan tidak akan berkumpul menjadi satu di dalam Islam. Bila salah satu masuk kepada yang lain, maka harus dicegah.

Dan hukum yang dikukuhkan jatuh pada yang lebih dahulu. Bila kedua-duanya dikukuhkan secara bersamaan, jelas tidak diperbolehkan. Tidak diperbolehkan shalat di dalam masjid yang didirikan di atas kuburan, karena larangan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang hal itu. Dan orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid akan dilaknat atau orang yang menyalakan pelita di atas kuburan.[22] Inilah Islam yang disampaikan Allah kepada Rasul dan Nabi-Nya. Inilah keagungan Islam di tengah kehidupan manusia seperti yang Anda ketahui.” Nukilan dari pendapat para ulama ini sudah cukup memberi kejelasan bahwa empat madzhab telah sepakat mengenai manfaat hadits-hadits di muka. Mereka sepakat mengharamkan membangun masjid di atas kuburan.

Ibnu Taimiyah Rohimahullah , orang yang paling banyak mengetahui pendapat para ulama, letak kesepakatan dan perbedaan di antara mereka, pernah ditanya: “Sah atau tidakkah shalat di dalam masjid yang di dalamnya terdapat kuburan, sementara manusia berkumpul di situ untuk mendirikan shalat jama’ah dan Jum’ah? Kalau boleh, apakah kuburan itu dibuat rata, atau diberi tabir atau dinding?” Ibnu Taimiyah menjawab, “Segala puji bagi Allah. Para imam madzhab sudah sepakat bahwa tidak diperkenankan membangun masjid di atas kuburan. Sebab Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sudah bersabda :

“Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu menjadikan kuburan sebagai tempat shalat. Ingatlah, janganlah kamu menjadikan kuburan sebagai masjid. Sesungguhnya aku melarang hal itu.

 

Tak diperbolehkan juga mengubur mayit di dalam masjid. Apabila masjid sudah ada terlebih dahulu, lalu di situ dikuburkan mayit, maka hal ini harus dirombak. Entah dengan meratakan permukaan kuburan, atau memindahkan mayit ke tempat lain. Apabila masjid didirikan di atas kuburan, maka masjid itu harus dirobohkan atau gambaran yang menonjolkan kuburan itu ditiadakan. Masjid yang dibangun di atas kuburan tidak boleh dipergunakan untuk shalat, baik fardhu maupun nafilah. Hal ini dilarang.

” Begitulah yang dikatakan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah di dalam Fatawa-nya, 1/107; 2/192.

Darul-Ifta’ di Mesir juga berlandaskan kepada fatwa Ibnu Taimiyah ini. Kami menukilnya yang menegaskan pengharaman mengubur jenazah di dalam masjid. Bagi siapa yang menghendaki dapat melihat majalah Al-Azhar, edisi 11, hal. 501-503.

Ibnu Taimiyah juga berkata di dalam Al-Ikhtiyaratul-Ilmiyyah:

 

 “Diharamkan menyalakan pelita di atas kuburan dan mendirikan masjid di atasnya serta menonjolkan kuburan. Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini di kalangan ulama yang terkenal.” Ibnu Urwah Al-Hanbaly juga menukil pernyataan ini di dalam bukunya Al-Kawakibud-Darary (2/244) dan menegaskan pendapat ini.

Begitulah kita melihat para ulama sepakat bahwa hadits-hadits di muka mengharamkan mendirikan masjid di atas kuburan. Maka kami menghimbau orang-orang Mukmin tak perlu menentang mereka dan keluar dari pendapatnya. Karena dikhawatirkan mereka akan mendapat ancaman Allah:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa”: 115)

 

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang ia menyaksikannya.” (Qaf: 37)

 

IV. BEBERAPA SYUBHAT DAN JAWABANNYA

Apabila ada seseorang yang bertanya-tanya: “Jika sudah ada ketetapan syariat yang mengharamkan membangun masjid di atas kuburan, maka di sana ada bermacam-macam masalah yang justru bertentangan dengan ketetapan tersebut. Yaitu:

! Pertama:

Sehubungan dengan firman Allah di dalam surat Al-Kahfi: “Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya.” (ayat: 21)

 

Pokok permasalahan sehubungan dengan ayat ini, bahwa yang mengucapkan kata-kata itu adalah orang-orang Nashara, sebagaimana yang disebutkan di dalam buku-buku tafsir. Membuat tempat ibadah di atas kuburan adalah syariat mereka. Syariat sebelum kita juga menjadi syariat kita kalau memang Allah mengisahkan hal itu. Sementara tidak ada penjelasan lain sesudah itu yang menyangkal syariat mereka.

! Kedua:

Keberadaan kuburan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di dalam masjid beliau yang mulia. Kalau memang mendirikan masjid di atas kuburan tidak diperkenankan, mengapa mereka mengubur jasad beliau di dalam masjidnya?

! Ketiga:

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah shalat di masjid Khaif. Padahal di situ terdapat kuburan tujuh puluh nabi seperti yang beliau ceritakan.

! Keempat:

Sebagaimana yang disebutkan dalam sebagian buku, bahwa kuburan Isma’il dan juga orang-orang lainnya berada di dekat Hajar Aswad di Masjidil-Haram. Padahal ia merupakan masjid yang paling mulia dan orang yang shalat di sana meluber.

! Kelima:

Abu Jandal membangun masjid di atas kuburan Abu Bashir ra pada jaman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana yang disebutkan di dalam buku Al-lsti’ab, karangan Ibnu Abdil-Barr.

! Keenam:

Ada sebagian orang yang beranggapan bahwa larangan atau pengharaman membangun masjid di atas kuburan hanya dengan alasan karena takut menimbulkan fitnah terhadap orang yang dikuburkan di situ. Dan hal ini dapat dituntaskan dengan kokohnya tauhid di dalam hati orang yang beriman. Apabila iman kuat, maka larangan itu pun tidak berlaku lagi. Bagaimanakah kita mempertemukan antara masalah-masalah yang menimbulkan tanda tanya ini dengan pengharaman di atas?

Jawabannya dapat kami uraikan sebagai berikut, dan hanya kepada Allah-lah kami meminta pertolongan:

Jawaban atas syubhat pertama:

Jawaban atas syubhat ini dapat disampaikan dari beberapa sisi:

 

Pertama: Sebagaimana yang sudah ditetapkan di dalam ilmu Ushul yang benar, bahwa syariat sebelum kita bukan merupakan syariat kita, berdasarkan beberapa dalil, seperti sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam: “Diberikan kepadaku lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang pun para nabi yang lain sebelum-ku…(lalu beliau menyebutkannya dan yang terakhir:) seorang nabi diutus kepada suatu kaum secara khusus, sedang aku diutus kepada manusia secara keseluruhan.”[23] Kalau memang hal ini sudah jelas, maka kita tidak perlu mempermasalahkan ayat tersebut. Ini pun harus dipertanyakan apakah ayat tersebut memperbolehkan didirikannya tempat ibadah di atas kuburan, benar-benar merupakan syariat orang-orang sebelum kita?

Kedua: Taruhlah bahwa yang benar adalah pernyataan orang yang mengatakan: “Syariat sebelum kita juga merupakan syariat kita.” Hal ini harus ada syarat bahwa apa yang ada pada mereka tidak bertentangan dengan syariat yang ada pada kita. Ternyata syarat ini tidak terpenuhi. Sebab banyak hadits yang melarang mendirikan masjid di atas kuburan seperti yang sudah kita bicarakan di bagian muka. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang ada pada ayat itu bukanlah syariat kita. Ketiga: Kita tidak mungkin menerima begitu saja, bahwa apa yang disebutkan di dalam ayat itu merupakan syariat semua orang sebelum kita. Sebab di situ dikatakan bahwa sebagian orang ada yang berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan rumah peribadatan di atasnya.” Di sini tidak ada penegasan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang beriman. Secara sepintas di dalam ayat ini tidak ada keterangan bahwa mereka itu orang-orang Mukmin yang shalih, berpegang teguh kepada syariat Nabi yang diutus. Justru mereka itu sebaliknya.

Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata di dalam Fathul-Bary fi Syarhil-Bukhary dari bukunya Al-Kawakibud-Darary, dalam menjelaskan hadits: “Allah melaknat orang-orang Yahudi, karena mereka menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat shalat”: “Al-Qur’an telah memberikan bukti seperti yang diberikan hadits ini, yaitu firman Allah dalam mengkisahkan ashhabul- kahfi:

“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan rumah peribadatan di atasnya.

 

Membuat kuburan di atas tempat ibadah merupakan perbuatan orang yang berkuasa atas berbagai urusan. Hal ini mengesankan bahwa yang berbuat seperti itu adalah orang yang suka memaksa, berkuasa dan yang mengikuti hawa nafsu. Itu bukan pekerjaan orang yang memiliki ilmu dan keutamaan yang didukung oleh petunjuk yang diturunkan Allah kepada para utusan-Nya.

” Syaikh Ali bin Urwah berkata di dalam buku Mukhtasharul-Kawakib, mengikuti pendapat Ibnu Katsir dalam tafsirnya: “Ibnu Jarir meriwayatkan tentang orang-orang yang berkata seperti itu, bahwa mereka ada dua macam: Pertama, mereka adalah orang-orang Islam di antara mereka. Kedua, mereka adalah orang syirik di antara mereka. Hanya Allah-lah yang lebih tahu.”

Yang jelas, mereka yang berkata seperti itu adalah orang-orang yang mempunyai kedudukan tertentu di masyarakat. Hanya saja mereka itu layak dipuji ataukah tidak? Berarti hal ini merupakan sisi yang perlu diperhatikan lagi.

Sebab Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang bersabda: “Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara yang telah menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat ibadah”, berarti beliau memperingatkan kita tentang apa yang mereka perbuat. Juga sudah diriwayatkan kepada kita dari Umar bin Khathab, bahwa ketika ia mendapatkan kuburan Daniel di daerah Irak pada jamannya, maka ia memerintahkan agar kuburan itu jangan sampai diketahui orang. Ia memerintahkan agar bukit tempat kuburan itu dimusnahkan. Ini juga merupakan isyarat yang sangat jelas maknanya.

” Bila Anda mengetahui hal ini, maka tidak bisa dianggap benar andaikata menggunakan ayat di atas sebagai alasan, seperti apa pun keadaannya.

Al-Alusy juga berkata di dalam bukunya Ruhul-Ma’any: “Ada orang yang berdalil kepada ayat di atas sebagai alasan untuk memperbolehkan membangun masjid di atas kuburan dan shalat di dalamnya. Di antara ulama yang berpendapat seperti ini adalah Asy-Syihab Al-Khafajy. Jelas ini merupakan pernyataan batil dan rusak. Sebab sudah diriwayatkan:…” Lalu ia menyebutkan beberapa hadits seperti yang sudah disebutkan di muka, dan dinukil pula pendapat Al-Haitamy.

Kemudian Imam Al-Alusy berkata, “Tidak bisa dikatakan: Ayat tersebut sudah jelas tentang syariat sebelum kita yang disebutkan di situ. Ayat itu juga dijadikan landasan dalil. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu alihi wa sallam bersabda: “Barang-siapa yang tidur dan tidak shalat atau ia lupa”, lalu beliau membacakan firman Allah Ta’ala:

“Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” Firman Allah ini ditujukan kepada Musa. Dapat kami katakan:

Pendapat kami tentang syariat sebelum kita, sebagai sesuatu yang tidak sama dengan syariat kita. Walaupun kadang-kadang ada segi persamaannya. Tapi persamaan ini tidak mutlak. Apabila Allah mengisahkan sesuatu kepada kita, maka tidak akan ada penolakan terhadap kisah itu. Jadi apa yang diingkari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sama dengan apa yang diingkari Allah. Anda sudah mendengar: Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melaknat orang-orang yang membangun masjid diatas kuburan. Bagaimana mungkin membangun masjid atau tempat shalat di atas kuburan merupakan syariat sebelum kita, padahal beliau melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara yang berbuat seperti itu?” Untuk menghilangkan rasa penasaran tentang perbuatan mereka itu,dapat dikatakan bahwa yang membangun tempat ibadah di atas kuburan adalah para penguasanya. Inilah yang diriwayatkan oleh Qatadah.

Masih mengenai hal ini, ada orang yang berkata: “Kelompok pertama terdiri dari orang-orang Mukmin dan yang mengetahui tidak diperbolehkannya mendirikan tempat ibadah di atas kuburan. Mereka mengusulkan agar tempat ibadah itu didirikan di pintu gua dan sekaligus dapat dipergunakan untuk menutup pintu gua itu. Tapi usul ini tidak diterima oleh orang yang menjadi pemimpin mereka. Akhirnya mereka berbeda dalam masalah mendirikan tempat ibadah ini.” Apabila Anda hendak berbaik sangka kepada kelompok kedua di antara mereka, maka Anda dapat mengatakan: Pendirian tempat ibadah itu bukan seperti mendirikan tempat ibadah di atas kuburan yang dilarang dan yang pelakunya dilaknat. Tapi mereka mendirikan tempat ibadah di dekat gua. Yang jelas, bila Anda ingin mengetahui yang benar, ikutilah apa yang dilakukan sahabat-sahabat Rasulullah terhadap kuburan beliau. Padahal kuburan beliau adalah kuburan yang paling mulia di muka bumi. Lihatlah bagaimana mereka berziarah ke sana. Semoga Allah memberimu hidayah.

Dapat kami katakan: “Banyak orang yang melandaskan dalil kepada ayat tersebut (Al-Kahfi: 21) tentang diperbolehkannya mendirikan masjid di atas kuburan. Bahkan ada di antara ulama jaman sekarang yang menyarankan agar mendirikan masjid di atas kuburan.

 Padahal pendapatnya seperti itu jelas merupakan perbuatan bid’ah yang diada-adakan. Orang itu berkata: “Bukti yang diambilkan dari ayat ini merupakan penegasan dari Allah atas ucapan mereka, dan yang ternyata tidak ditentang oleh Allah.”[24]

Kami katakan: “Ini merupakan pembuktian batil, yang dapat dilihat dari dua sisi.

Pertama, tidak adanya bantahan terhadap ucapan mereka bukan berarti dapat diartikan sebagai penetapan. Kecuali kalau memang ada keterangan yang jelas bahwa mereka itu adalah orang-orang Mukmin, shalih dan berpegang kepada syariat nabinya. Dalam ayat tersebut juga tidak ada isyarat walau sedikit pun, bahwa mereka adalah orang-orang Mukmin yang shalih. Bahkan ada kemungkinan justru mereka sebaliknya; mereka orang-orang kafir dan lalim, seperti yang dikatakan Ibnu Rajab dan Ibnu Katsir.

Tidak adanya bantahan bukan berarti penetapan, tapi justru merupakan pengingkaran.

Kedua, pembuktian seperti itu biasa dilakukan oleh orang-orang yang selalu ditunggangi oleh bisikan nafsu, baik dahulu maupun sekarang. Mereka hanya mencukupkan diri pada Al-Qur’an sebagai landasan agama, dan tidak menggubris kedudukan Sunnah sama sekali. Sedang orang yang percaya kepada Sunnah, tentu akan mempergunakan dua landasan wahyu: Al-Qur’an dan Sunnah. Di samping itu mereka juga percaya akan sabda beliau: “Ketahuilah, telah diberikan kepadaku Al-Qur’an dan yang seperti itu bersama-nya.” Dan juga sabda beliau Shallallahu alaihi wa sallam :

“Ketahuilah, apa yang diharamkan Rasul Allah adalah seperti yang diharamkan Allah.”

Pembuktian seperti ini jelas merupakan kebatilan. Bantahan terhadap ucapan mereka sudah disebutkan di dalam Sunnah. Allah telah menetapkan siapa diri mereka dan tidak membantah ucapan mereka. Lewat perkataan Nabi-Nya, Allah melaknat mereka.

Lalu jawaban manakah yang lebih jelas dari jawaban ini?

 

Contoh lain orang yang berdalil dengan ayat ini (Al-Kahfi: 21), dan yang ternyata bertentangan dengan hadits, adalah orang yang memperbolehkan membuat patung dan arca, dengan melandaskan pada firman Allah tentang Sulaiman: “Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku).” Mereka hanya berlandaskan kepada ayat ini. Padahal bertentangan dengan hadits-hadits shahih yang mengharamkan patung dan arca. Orang Mukmin yang percaya kepada hadits, tentu tidak akan berbuat seperti itu.

Jawaban atas Syubhat Yang Kedua.

Syubhah kedua: Kuburan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ada di dalam masjid beliau, yang dapat disaksikan hingga saat kini. Kalau memang hal itu dilarang, lalu mengapa beliau dikuburkan di situ?

Jawabannya: Keadaan yang kita saksikan pada jaman sekarang ini tidak seperti yang terjadi pada jaman sahabat. Setelah beliau wafat, mereka menguburkannya di dalam biliknya yang letaknya bersebelahan dengan masjid, dipisahkan oleh dinding yang ada pintunya. Beliau biasa masuk masjid lewat pintu itu.

Hal ini sudah disepakati oleh semua ulama, dan tidak ada pertentangan di antara mereka. Para sahabat mengubur jasad beliau di dalam biliknya, agar nantinya orang-orang sesudah mereka tidak menggunakan kuburan beliau sebagai tempat untuk shalat, seperti yang sudah kita terangkan dalam hadits Aisyah di bagian muka. Tapi apa yang terjadi di kemudian hari di luar perhitungan mereka. Pada tahun delapan puluh delapan Hijriyah, Al-Walid bin Abdul-Malik merehab masjid Nabi dan memperluas masjid hingga ke kamar Aisyah. Berarti kuburan beliau masuk di dalam area masjid. Sementara pada saat itu sudah tidak ada satu sahabat pun yang masih hidup, sehingga dapat menentang tindakan Al-Walid ini seperti yang diragukan oleh sebagian manusia.

Al-Hafizh Muhammad Abdul-Hady menjelaskan di dalam bukunya Ash-Sharimul-Manky: “Bilik Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam masuk dalam masjid pada jaman Al-Walid bin Abdul-Malik, setelah semua sahabat beliau di Madinah sudah meninggal. Sahabat terakhir yang meninggal adalah Jabir bin Abdullah. Ia meninggal pada jaman Abdul-Malik, yang meninggal pada tahun tujuh puluh delapan Hijriyah.

Sementara Al-Walid menjadi khalifah pada tahun delapan puluh enam Hijriyah, dan meninggal pada tahun sembilan puluh enam. Rehabilitasi masjid dan memasukkan bilik beliau ke dalam masjid, dilakukan antara tahun-tahun itu.”[25]

Abu Zaid Umar bin Syabbah An-Numairy berkata di dalam buku karangannya Akhbarul-Madinah:

 “Ketika Umar bin Abdul-Aziz menjadi gubernur Madinah pada tahun sembilan puluh satu Hijriyah, ia merobohkan masjid, lalu membangunnya lagi dengan menggunakan batu-batu yang diukir, atapnya terbuat dari jenis kayu yang bagus. Bilik istri-istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dirobohkan pula lalu dimasukkan ke dalam masjid.

Berarti kuburan beliau juga masuk ke dalam masjid.” Dari penjelasan ini jelaslah sudah bahwa kuburan beliau masuk menjadi bagian dari masjid Nabawy, ketika di Madinah sudah tidak ada lagi seorang sahabat pun. Hal ini ternyata berlainan dengan tujuan saat mereka menguburkan jasad Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam  di dalam biliknya.

Maka setiap orang Muslim yang mengetahui hakikat ini, tidak boleh berhujjah dengan sesuatu yang terjadi sesudah meninggalnya para sahabat. Sebab hal ini bertentangan dengan hadits-hadits shahih dan pengertian yang diserap para sahabat serta pendapat para imam. Hal itu juga bertentangan dengan apa yang dilakukan Umar dan Utsman ketika meluaskan masjid Nabawy tersebut.

Mereka berdua tidak memasukkan kuburan beliau ke dalam masjid. Maka dapat kita putuskan, perbuatan Al-Walid adalah salah. Kalaupun ia terdesak untuk meluaskan masjid Nabawy, toh ia bisa meluaskan dari sisi lain, sehingga tidak mengusik kuburan beliau. Umar bin Khathab pernah mengisyaratkan segi kesalahan semacam ini. Ketika meluaskan masjid, ia mengadakan perluasan di sisi lain dan tidak mengusik kuburan beliau.

Ia berkata, “Tidak ada alasan untuk berbuat seperti itu.” Umar memberi peringatan agar tidak merobohkan masjid, lalu memasukkan kuburan beliau ke dalam masjid. Karena tidak ingin bertentangan dengan hadits dan kebiasaan khulafa’urrasyidin, maka orang-orang Islam sesudah itu sangat berhati-hati dalam meluaskan masjid Nabawy. Mereka mengurangi kontroversi sebisa mungkin.

Dalam hal ini An-Nawawy menjelaskan di dalam Syarh Muslim:

“Ketika para sahabat yang masih hidup dan Tabi’in merasa perlu untuk meluaskan masjid Nabawy karena banyaknya jumlah kaum Muslimin, maka perluasan masjid itu mencapai rumah Ummahatul- Mukminin, termasuk bilik Aisyah, tempat dikuburkannya Rasulullah dan juga kuburan dua sahabat beliau, Abubakar dan Umar. Mereka membuat dinding pemisah yang tinggi di sekeliling kuburan, bentuk-nya melingkar. Sehingga kuburan itu tidak langsung nampak sebagai bagian dari masjid, dan orang-orang pun tidak shalat ke arah kuburan itu, sehingga mereka pun tidak terseret pada hal-hal yang dilarang.”[26]

Ibnu Taimiyah dan Ibnu Rajab yang menukil dari Al-Qurthuby, menjelaskan: “Ketika bilik beliau masuk ke dalam masjid, maka pintunya dikunci, lalu di sekelilingnya dibangun pagar tembok yang tinggi. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga agar rumah beliau tidak dipergunakan untuk acara-acara peringatan dan kuburan beliau dijadikan patung sesembahan.”

Dapat kami katakan: Memang sangat disayangkan bangunan tersebut sudah didirikan sejak berabad-abad di atas kuburan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Di sana ada kubah menjulang tinggi berwarna hijau, kuburan beliau dikelilingi jendela-jendela yang terbuat dari bahan tembaga, berbagai hiasan dan tabir. Padahal semua itu tidak diridhai oleh orang yang dikuburkan di situ, yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Bahkan ketika kami berkunjung ke sana, kami lihat di samping tembok sebelah utara terdapat mihrab kecil. Ini merupakan isyarat bahwa tempat itu dikhususkan untuk shalat di belakang kuburan. Kami benar-benar heran. Bagaimana bisa terjadi paganisme yang sangat mencolok ini dibiarkan begitu saja oleh suatu negara yang mengagung-agungkan masalah tauhid? Namun begitu, kami mengakui secara jujur, selama di sana kami tidak melihat seorang pun mendirikan shalat di dalam mihrab itu. Para penjaga yang sudah ditugaskan di sana mengawasi secara ketat agar mencegah manusia yang datang ke sana dan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat di sekitar kuburan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Ini merupakan sesuatu yang perlu disyukuri atas sikap pemerintah Saudi. Tetapi ini belum cukup dan tidak memberikan jalan keluar yang tuntas.

Tentang hal ini sejak lama sudah kami katakan di dalam buku Ahkamul-Jana’iz wa Bida’uha: “Seharusnya masjid Nabawy dikembalikan ke jamannya semula, yaitu dengan membuat tabir pemisah antara kuburan dengan masjid, berupa tembok yang membentang dari utara ke selatan. Sehingga setiap orang yang masuk ke masjid itu tidak dikejar oleh macam- macam pertentangan yang tidak diridhai pendirinya. Kami merasa yakin, ini merupakan kewajiban pemerintah Saudi, kalau memang ia masih ingin menjaga tauhid yang benar. Andaikata ada rencana perluasan kembali, maka bisa melebar ke sebelah barat atau sisi lainnya. Tapi ketika diadakan perbaikan lagi, ternyata masjid Nabawy tidak dikembalikan ke bentuknya yang pertama pada jaman sahabat.”

 

Jawaban atas Syubhat Yang Ketiga:

Syubhat yang ketiga adalah: Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah mendirikan shalat di masjid Khaif. Padahal pernah disebutkan di dalam sebuah hadits, bahwa di dalam masjid itu terdapat kuburan tujuh puluh nabi.

Jawabannya: Kita tidak menyangsikan shalat Rasulullah Shallallahu alihi wa sallam di masjid itu. Tetapi kami perlu menyampaikan bahwa yang menjadi pokok permasalahan dalam syubhat ini adalah adanya tujuh puluh kuburan para nabi. Karena ternyata hal ini tidak memiliki hujjah, yang dapat kita lihat dari dua sisi:

Pertama, kami tidak bisa percaya begitu saja terhadap kebenaran hadits yang mengisyaratkan adanya kuburan itu. Sebab hadits tersebut tidak diriwayatkan orang yang biasa menghimpun hadits-hadits shahih. Juga tidak dianggap shahih oleh para imam atau peneliti hadits terdahulu, sehingga dapat membantu ke-shahih-an hadits itu. Dalam isnadnya terdapat orang-orang yang biasa meriwayatkan hadits-hadits Gharib.

Tantu saja hal ini membuat hati tak tenang untuk menganggapnya hadits shahih.

Ath-Thabrany berkata di dalam Mu’jamul-Kabir: “Kami diberi tahu Abdan bin Ahmad, kami diberi tahu Isa bin Syadzan, kami diberi tahu Abu Hamam Ad-Dalal, kami diberitahu Ibrahim bin Thahman, dari Manshur, dari Mujahid, dari Ibnu Umar, sebagai hadits Marfu’. Adapun lafazhnya: “Di dalam masjid Khaif terdapat kuburan tujuh puluh nabi.” Al-Haitsamy menyebutkan di dalam Al-Majma’, dengan lafazh: …dikuburkan tujuh puluh nabi.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan orang-orangnya tziqat)

Kami katakan: Orang-orang yang ada dalam riwayat Ath- Thabrany juga tsiqat, kecuali Abdan bin Ahmad. Dia berasal dari Ahwaz (di Iran). Namun Ath-Thabrany menyebutkan: Saya tidak mendapatkan riwayat hidupnya.” Ternyata dia bukan Abdan bin Muhammad Al-Marwazy, yang termasuk guru Ath-Thabrany. Kalau orang ini tsiqat dan seorang hafizh, tentunya dia mempunyai riwayat hidup yang jelas.

Tetapi orang-orang yang terdapat dalam isnad hadits ini ada yang biasa meriwayatkan hadits Gharib, yaitu Isa bin Syadzan. Itulah yang dikatakan Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqat. Karena adanya Ibrahim bin Thahman, Ibnu Ammar Al-Maushily berkata, “Dia termasuk orang yang lemah dalam meriwayatkan hadits.” Karena ia ditolak oleh Ibnu Ammar, berarti dalam ucapannya ada sesuatu yang disangsikan.

Hal ini juga dikuatkan oleh Ibnu Hibban: “Keadaannya serba samar-samar. Kadang ia dikelompokkan kepada orang-orang tsiqat dan kadang ia dikelompokkkan kepada orang-orang lemah.” Kami menyangsikan jangan-jangan hadits ini dirubah. Yaitu kata (qubira: dikuburkan) merupakan pengganti dari kata (shalla: mendirikan shalat).

Sebab lafazh yang kedua inilah yang terkenal di dalam hadits. Seperti hadits di bawah ini, yang ditakhrij oleh Ath-Thabrany, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, sebagai hadits marfu’: “Ada tujuh puluh nabi yang pernah shalat di masjid Khoif.” Dari sejumlah keterangan ini, dapat dikatakan bahwa hadits tersebut dha’if, tidak ada sesuatu yang menguatkan hati agar ia dikatakan sebagai hadits shahih. Kalaupun itu hadits shahih, maka dapat kita lihat jawabannya dari sisi berikut ini.

Kedua, di dalam hadits tersebut tidak disebutkan bahwa di dalam masjid Khoif ada kuburan yang benar-benar nampak. Di dalam bukunya Tarikhu Makkah (406-410), Al-Azraqy menguraikan beberapa bab tentang masjid Khoif. Ia tidak menyebutkan bahwa di situ terdapat kuburan yang nampak. Padahal setiap hukum syariat harus didasarkan pada sesuatu yang nampak. Karena di dalam masjid itu tidak disebutkan adanya kuburan yang nampak, maka tidak ada masalah jika mendirikan shalat di situ. Ternyata kuburan tujuh puluh nabi itu tidak karuan, dan tak seorang pun yang mengetahui di mana letaknya. Andaikata tidak ada pengabaran yang ternyata dha’if ini, tentu tak akan terbetik di dalam sanubari seseorang, bahwa di situ ada kuburan tujuh puluh nabi. Maka kerusakan tidak terjadi di masjid Khoif. Tidak seperti yang sering terjadi, yaitu adanya masjid yang didirikan di atas kuburan yang benar-benar nampak.

Jawaban Atas Syubhat Yang Keempat.

Sebagaimana yang disebutkan dalam sebagian buku, bahwa kuburan Isma’il dan juga lain-lainnya berada pada Hijir yang termasuk bagian dari Masjidil-Haram. Padahal Masjidil-Haram merupakan masjid yang paling mulia, bebas digunakan untuk shalat. Lalu bagaimana ini?

Jawabannya: Tidak diragukan, bahwa Masjidil-Haram merupakan masjid yang paling mulia. Shalat di dalamnya mempunyai derajat seribu shalat. Tetapi perlu diingat, keutamaan ini sudah ada sejak tiang penyangganya yang pertama dipancangkan oleh Ibrahim dan anaknya Isma’il.

Keutamaan itu tidak datang berikutnya karena Isma’il dikuburkan di situ; kalau memang benar Isma’il dikuburkan di situ. Barangsiapa yang beranggapan tidak seperti ini, maka dia termasuk orang yang sesat sesesat-sesatnya. Kemudian muncul ucapan yang tidak pernah dikatakan orang-orang Salaf yang shalih dan tidak disebutkan dalam hadits yang mempunyai landasan hujjah yang kuat.

Apabila ada yang berkata: “Yang Anda sebutkan tak diragukan sama sekali. Apabila Isma’il dikuburkan di situ, berarti tidak bertentangan dengan anggapan tersebut. Tetapi bukankah setidak- tidaknya hal itu menunjukkan kepada kemakruhan shalat di dalam masjid yang di situ ada kuburannya?” Sama sekali tidak begitu. Jawaban atas pertanyaan ini dapat kami uraikan dari beberapa sisi:

Pertama, Tidak pernah disebutkan di dalam hadits marfu’ sekalipun, bahwa Isma’il atau nabi lainnya dikuburkan di dalam masjidil-haram. Juga tidak pernah tercantum di dalam buku-buku hadits yang dapat diandalkan, seperti Kutubus-Sittah, Musnad Ahmad, Ma’ajimuth-Thabrany dan lain-lainnya dari buku-buku yang menghimpun hadits.

Hal ini sudah cukup membuktikan bahwa hadits yang menyebutkan kuburan Isma’il ada di dalam Masjidil-Haram adalah hadits dha’if, atau bahkan maudhu’. Tidak ada orang yang mempedulikan hadits yang sengaja dimunculkan oleh sebagian orang-orang yang suka berbuat bid’ah.

Seperti yang disebutkan As- Suyuthy di dalam Al-Jami’, diriwayatkan oleh Al-Hakim, dari Aisyah Rodhiyallahu anha, marfu’, lafazhnya: “Sesungguhnya kuburan Isma’il di dalam Hijir.

 

Kedua, kuburan yang keberadaannya dianggap di dalam area Masjidil-Haram, tidak nampak dan tidak bisa dibuktikan.

Maka tidak menjadi soal bila kuburan itu berada di dalam perut tanah Masjid. Namun hal ini tak bisa dijadikan hujjah diperbolehkannya membangun masjid di atas kuburan yang nampak di atas permukaan bumi. Bagaimana pun juga ada perbedaan di antara dua kondisi ini.

Maka Syaikh Ali Al-Qary berkata di dalam bukunya Mirqatul- Mafatih, “Ada pula orang lain yang menyebutkan bahwa gambaran kuburan Isma’il berada di dalam Hijir di bawah saluran air. Sedang di Hathim, antara Hajar Aswad dan Zamzam terdapat tujuh puluh kuburan para nabi.”

Lebih lanjut Ali Al-Qary menjelaskan: “Kuburan Isma’il dan nabi-nabi yang lain merupakan kuburan yang tidak nampak. Maka hal ini tidak bisa dijadikan alasan.” Inilah jawaban seorang ulama dan ahli fiqih yang pandai. Di dalam jawaban ini juga terdapat kesamaan dengan apa yang sudah kami sebutkan di atas. Inti pembicaraan dalam masalah ini adalah mengenai kuburan yang nampak dan bisa dilihat secara langsung. Sedang kuburan yang terpendam jauh di dalam perut bumi, tidak bisa dikaitkan dengan hukum syar’i. Setiap ketentuan syariat harus terlepas dari hal-hal semacam ini. Sebab kita mengetahui dan dapat menyaksikan sendiri, bahwa semua bumi ini merupakan kuburan bagi makhluk hidup, sebagaimana firman Allah:

“Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul orang-orang hidup dan orang-orang mati?” (Al-Mursalat: 25-26)

 

 Sedang Asy-syi’by berkata, “Perut bumi bagi orang-orang yang mati di antara kamu dan permukaannya untuk orang yang hidup di antara kamu.”

Yang jelas, bila suatu kuburan tidak diketahui secara pasti di mana tempatnya, maka tentu kuburan itu tidak akan menimbulkan kerusakan seperti yang biasa terjadi pada kuburan yang nampak. Di situ seringkali terlihat kemusyrikan dan paganisme, serta sering dikunjungi orang. Tapi hal seperti ini tidak didapati pada kuburan yang tidak diketahui. Maka ketentuan hukum antara dua kondisi ini juga harus dibedakan. Dan inilah yang ditetapkan oleh syariat seperti yang sudah kami uraikan di bagian muka. Bagaimana pun juga harus ada perbedaan antara keduanya.

Jawaban Atas Syubhat Yang Kelima.

Abu Jandal ra pernah membangun masjid di atas kuburan Abu Bashir pada jaman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu bagaimana ini?

Jawabannya: Syubhat ini tidak sama pemberitaannya. Kalau pun orang-orang pada jaman sekarang berpijak kepada kisah ini dalam menolak hadits-hadits yang sudah jelas makna dan hukumnya, maka seakan-akan hal itu dimaksudkan untuk menutup jalan agar kami tidak bisa memberi jawaban yang menjelaskan kebatilan kisah ini.

Jawaban lebih detailnya dapat kita lihat dari dua sisi:

Pertama, sejak dari semula ketetapan adanya bangunan yang diyakini itu sudah ditolak. Sebab riwayatnya tidak mempunyai isnad yang menopangnya, juga tidak diriwayatkan oleh para ahli hadits yang menghimpun buku shahih, sunan dan musnad. Riwayat itu hanya disebutkan oleh Ibnu Abdil-Barr saja mengenai kehidupan Abu Bashir dalam buku Al-Isti’ab.

 

 Dalam hal ini ia berkata: “Abu Bashir mempunyai kisah yang unik dalam peperangan.

 Ibnu Ishaq juga menyebutkannya, dan diriwayatkan oleh Ma’mar dari Ibnu Syihab. Abdurrazzaq menyebutkan dari Ma’mar, dari Ibnu Syihab, mengenai suatu kisah yang terjadi pada tahun diadakannya perjanjian Hudaibiyah. Ia berkata: “Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pulang ke Madinah. Abu Bashir, seorang Muslim yang masih bersama orang-orang Quraisy datang kepada beliau. Dua orang Quraisy dikirim untuk mencarinya. Mereka berdua berkata kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam: “Perjanjian yang engkau sepakati dengan kami, membuatmu harus menyerahkan orang Islam yang datang kepadamu.”

Beliau menyerahkan Abu Bashir kepada dua utusan Quraisy, lalu mereka pun langsung pergi dan tiba di Dzul-Hulaifah. Mereka singgah di sana sambil memakan kurma yang dibawa.

Abu Bashir berkata kepada salah seorang utusan Quraisy itu, “Demi Allah, kulihat pedangmu ini sangat bagus wahai fulan.” Utusan yang satunya lagi menghunus pedang tersebut seraya berkata, “Benar. Demi Allah, pedang ini memang sangat bagus. Aku sudah pernah mencobanya dan mencobanya lagi.”

Abu Bashir berkata, “Coba kau perlihatkan pedang itu kepadaku. Aku akan melihatnya.” Utusan Quraisy memberikan pedangnya kepada Abu Bashir, dan Abu Bashir langsung menusukkan pedang tersebut kepada orang itu hingga mati. Utusan satunya lagi segera lari menuju Madinah. Ia melapor kepada nabi Shallallahu alaihi wa sallam: “Demi Allah, temanku sudah dibunuh, dan aku pun juga akan dibunuhnya.”

Tak lama berselang Abu Bashir datang seraya berkata kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, demi Allah, Dia telah melunasi jaminanmu; engkau telah mengembalikan aku kepada mereka. Tapi kemudian Allah menyelamatkan diriku dari mereka.” Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Celakalah ibunya yang telah membangkitkan permusuhan. Andai ia mempunyai seseorang yang mendampinginya….” Setelah mendengar ucapan beliau ini, Abu Bashir mengetahui bahwa ia akan dikembalikan lagi kepada orang-orang Quraisy.

Maka ia pun pergi hingga tiba di pinggir laut. Pada saat itu Abu Jandal bin Suhail bin Amru (yang sudah masuk Islam tapi masih berada di Makkah) juga melarikan diri dari Quraisy, lalu bertemu dengan Abu Bashir.” Musa bin Uqbah juga menyebutkan kisah tentang Abu Bashir ini dengan penjelasan yang lebih lengkap:

 “Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menulis surat kepada Abu Jandal dan Abu Bashir, agar datang menghadap beliau beserta orang-orang Islam yang bersamanya. Surat beliau diterima Abu Jandal. Tapi pada saat Abu Jandal membaca surat beliau ini, Abu Bashir meninggal dunia. Abu Jandal langsung menguburkannya di tempat tersebut, menshalatinya, dan mendirikan masjid di atas kuburannya.”

Dapat kami katakan: Anda tahu sendiri riwayat ini hanya berkisar pada Az-Zuhry. Riwayat ini mursal sebab ia seorang Tabi’i yang masih kecil. Ia mendengar riwayat ini dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu . Kalau tidak mursal, maka riwayat ini mu’dhal. Seperti apa pun keadaannya, riwayat ini tidak didasarkan pada hujjah yang kuat. Lafazh yang menjadi titik permasalahan adalah: Lalu Abu Jandal membangun masjid di atas kuburannya.” Lafazh ini tidak terdapat dalam riwayat Ibnu Abdil-Barr, tidak pula dalam riwayat Abdurrazzaq dari Ma’mar. Ini hanya terdapat dalam riwayat Musa bin Uqbah. Sementara Musa bin Uqbah tidak pernah mendengar dari satu sahabat pun. Maka tambahan ini (lalu Abu Jandal membangun masjid di atas kuburannya) harus diingkari. Ini menurut pendapat kami. Sebab kisah ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhary dalam Shahih-nya dan Ahmad dalam Musnad- nya, dari jalan Adurrazzaq, dari Ma’mar, ia berkata: “Aku diberitahu Urwah bin Zubair, dari Musawwar bin Makhramah dan Marwan; tanpa penambahan ini. Kedua, kalau seandainya riwayat itu benar, maka tidak bisa disejajarkan dengan hadits-hadits shahih yang mengharamkan didirikan masjid di atas kuburan, karena dua hal:

Pertama, tak sedikit pun dalam kisah ini yang ditetapkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Kedua, taruklah bahwa beliau mengetahui dan menetapkan hal itu. Maka ini terjadi sebelum adanya pengharaman. Sebab berbagai hadits sudah jelas dan gamblang bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengharamkan membangun masjid di atas kuburan pada akhir hayatnya. Nash yang datang lebih akhir tidak boleh diabaikan dengan mementingkan nash yang datang lebih dahulu. Sekali lagi, kalau memang riwayat itu benar dan diketahui Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Kami memohon kepada Allah agar memelihara kita dari orang- orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya.

Jawaban Atas Syubhat Yang Keenam.

Larangan mendirikan masjid di atas kuburan tentunya ada latar belakang alasannya, yaitu kekhawatiran timbulnya fitnah terhadap seseorang yang dikuburkan. Bila kekhawatiran ini dapat dihilangkan, maka hilang pula larangan tersebut.

Sebagai jawabannya: Kami tidak mengetahui seorang pun ulama yang menyokong syubhat ini, kecuali pengarang buku Ihya’ul- Qubur. la berpegang kepada alasan ini untuk melawan beberapa hadits yang sudah disebutkan di muka serta kesepakatan para imam. Ia berkata (hal. 18-19): “Tentang larangan membangun masjid di atas kuburan, orang-orang sudah sepakat karena adanya dua alasan: Pertama, karena hal itu dapat mengotori masjid. Kedua, dapat menimbulkan kesesatan dan fitnah mengenai kuburan. Sebab apabila kuburan berada di dalam masjid, sementara yang dikubur di situ seorang wali yang terkenal kebaikan dan keshalihannya, tentunya keyakinan yang ditambah-tambahkan orang-orang yang bodoh sukar dihindarkan. Hal itu dapat menimbulkan sanjungan yang berlebih-lebihan, berupa shalat kepada kuburan itu. Sehingga hal ini menimbulkan kekufuran dan kemusyrikan.”

Selanjutnya penulis buku tersebut berkata, “Alasan tersebut dapat dinafikan karena adanya iman yang tertanam kuat di dalam sanubari orang-orang Mukmin, dididik pada tauhid yang murni dan keyakinan untuk meniadakan sekutu bagi Allah. Kekhawatiran itu dapat ditiadakan karena keyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya yang menangani makhluk-Nya. Bila alasan itu dapat digugurkan, maka ketentuan hukum yang menyertainya pun juga gugur. Yang dimaksud ketentuan hukum di sini adalah larangan mendirikan masjid di atas kuburan para wali dan orang yang shalih.”

Dapat kami katakan sebagai jawabannya: “Bisa dikatakan kepadanya: Taruklah sebuah mahligai terlebih dahulu, lalu ukirlah mahligai itu. Taruklah terlebih dahulu bahwa kekhawatiran itulah satu-satunya yang menjadi alasan larangan mendirikan masjid di atas kuburan. Lalu taruklah bahwa kekhawatiran itu pun tidak ada.

Kalau seandainya alasan itu hanya sekedar kekhawatiran semacam ini, maka hal ini tidak ada dalil yang mutlak. Memang bisa dikatakan bahwa itu merupakan sebagian dari alasan. Tapi membatasi diri pada alasan ini, jelas merupakan keputusan yang batil. Sebab bisa saja ditambahi alasan lain yang juga logis, seperti sikap yang menyerupai orang-orang Nashara, seperti yang dikatakan ahli fiqih, Al-Haitamy.

Sedang anggapan penulis tersebut, bahwa alasan adanya kekhawatiran akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dapat ditiadakan berkat kemantapan iman di dalam sanubari orang-orang Mukmin, merupakan anggapan batil, yang dapat kami jelaskan dari beberapa sisi:

Pertama, pendapat itu dilandaskan pada dasar yang batil, bahwa iman kepada Allah sebagai satu-satunya yang menangani makhluk, sudah cukup untuk merealisir iman dan menyelamatkan diri di sisi Allah. Padahal yang benar tidaklah begitu. Tauhid semacam ini di kalangan ulama dikenal sebagai tauhid rububiyah. Orang-orang musyrik Arab, yang Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam diutus kepada mereka, juga memiliki keyakinan seperti ini dan percaya kepada-Nya. Firman Allah: “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka; “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi” tentu mereka akan menjawab: “Allah.” (Luqman: 25) Tapi ternyata keimanan atau tauhid semacam ini tidak dapat menyelamatkan diri mereka sedikit pun. Sebab mereka mengingkari tauhid uluhiyah dan dalam beribadah. Bahkan mereka mengingkari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan pengingkaran yang sangat keras. Maka mereka berkata seperti yang sudah dijelaskan Allah: “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.(Shad: 5)

Di antara syarat tauhid yang mereka ingkari ini adalah tidak memohon kepada sesuatu selain Allah, tidak berdoa kepada sesuatu selain Allah, tidak mengadakan sembelihan untuk sesuatu selain Allah, dan hal-hal lain berupa ibadah yang semata hanya bagi Allah semata. Barangsiapa yang melakukan hal-hal seperti itu untuk selain Allah, maka ia telah berbuat syirik dan menjadikan tandingan bagi Allah, meskipun ia bersaksi dengan tauhid rububiyah. Iman yang menyelamatkan adalah perpaduan antaratauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah.

Tentunya hal ini lebih baik bila dibicarakan dalam topik lain. Bila hal ini sudah jelas, maka Anda bisa mengetahui bahwa iman yang benar tidak akan tertanam secara mantap di dalam hati orang-orang Mukmin hanya dengan mengandalkan tauhid rububiyah. Kami tidak ingin membawa pembaca pada sekian banyak contoh. Kami cukupkan dengan contoh yang disajikan oleh penulis tersebut dalam uraian berikutnya, yang sebelumnya sudah kami bantah ini:

“Kita sering melihat orang-orang awam yang menyanjung-nyanjung para wali. Mereka mengeluarkan pujian tentang diri mereka, yang sebenarnya itu merupakan kekufuran yang sangat jelas dan gamblang tanpa diragukan. Banyak orang-orang awam yang bodoh di Maghribi yang mengucapkan sanjungan terhadap syaikh Abdul- Qadir Jailany. Di antara mereka juga ada yang menyanjung-nyanjung Abdus-Salam bin Masyisy. Mereka katakan: “Dia-lah (Abdus-Salam) yang menciptakan agama dan dunia.” Di antara mereka ada pula yang berkata, ketika hujan turun dengan lebarnya: “Wahai maulana Abdus-Salam, perlakukanlah dengan lembut hamba-hambamu.” Jelas ini merupakan kekufuran. Kekufuran ini bahkan lebih fatal dari kekufuran orang-orang musyrik. Sebab di sini ada pengakuan yang jelas tentang sekutu dalam tauhid rububiyah. Sementara hal itu tidak terjadi pada diri orang-orang musyrik. Sedang kemusyrikan dalam tauhid uluhiyah sering dilakukan orang-orang bodoh dari umat Islam. Bila keadaan orang-orang Islam pada saat ini dan juga sebelumnya seperti itu, lalu bagaimana mungkin penulis itu berkata: “Alasan itu hilang karena kemantapan iman di dalam sanubari orang-orang Mukmin?”

 

Kalau yang dimaksudkan “Orang-orang Mukmin” adalah para sahabat, maka tidak diragukan lagi, bahwa mereka benar-benar orang Mukmin. Mereka mengetahui secara persis hakikat tauhid yang dibawa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam . Akan tetapi syariat Islam adalah syariat yang umum dan abadi. Suatu alasan tidak mungkin dihilangkan begitu saja karena harus tunduk kepada anggapan manusia. Sehingga ketentuan hukum pun juga harus hilang. Padahal alasan itu sudah kongkrit, dan kenyataan juga sering menjadi saksi atas hakikat ini.

Kedua, Anda sudah mengetahui dari beberapa hadits di muka, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memperingatkan umatnya agar tidak mendirikan masjid di atas kuburan pada saat-saat akhir hayatnya, yaitu sejak beliau sakit yang disusul dengan kematiannya. Lalu kapankah alasan seperti yang ia sebutkan itu hilang? Apabila dikatakan: Hilang sesudah kematian beliau. Jelas ini bertentangan dengan keadaan umat Islam pada jaman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, merupakan umat yang paling baik. Sebab ucapan penulis tersebut dapat diartikan bahwa iman tidak tertanam di dalam sanubari para sahabat. Iman itu menjadi mantap setelah kematian beliau. Karena alasan pada waktu itu tidak hilang, dan ketetapan hukum masih berlaku. Maka kami tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin ia melontarkan ucapan yang sudah karuan kebatilannya ini? Apabila dikatakan: “Alasan itu hilang sebelum kematian Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.”

Dapat kami jawab: “Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi, sedang beliau melarang mendirikan masjid di atas kuburan pada saat-saat terakhir dalam kehidupannya?”

Ketiga, dalam sebagian hadits di muka disebutkan bahwa ketentuan hukum itu berlaku hingga datangnya hari kiamat.

Keempat, para sahabat mengubur Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di kamarnya, karena khawatir kuburannya dijadikan masjid, sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam hadits dari Aisyah ra di bagian muka. Tentang kekhawatiran itu bisa dialamatkan kepada para sahabat sendiri, atau kepada orang orang-orang sesudah mereka. Bila kekhawatiran dialamatkan kepada orang-orang sesudah mereka, itu memang lebih tepat. Dan apabila kekhawatiran dialamatkan kepada para sahabat sendiri, maka itulah yang memang terjadi. Ini merupakan bukti yang kongkrit bahwa para sahabat tidak melihat alasan itu hilang, apalagi disertai dengan hilangnya ketentuan hukumnya. Ketetapan ini tetap berlaku pada jaman mereka dan juga jaman sesudah mereka. Berarti pendapat penulis tersebut batil dan sesat, bertentangan dengan pendapat para sahabat.

Kelima, Sejak Salaf, ketetapan hukum ini terus berlaku. Kekhawatiran akan terjadinya fitnah dan kesesatan juga merupakan alasan yang tetap. Apabila alasan ini dapat dihilangkan, tapi dalam praktiknya tetap terjadi kesesatan, maka jawabannya sudah bisa ditebak sendiri. Selanjutnya akan kami sajikan beberapa contoh dari uraian tentang ketetapan hukum ini:

1. Dari Abdullah bin Syarahbil bin Hasanah, ia berkata, “Aku pernah melihat Utsman bin Affan yang memerintahkan agar meratakan kuburan. Ada seseorang yang berkata kepadanya: “Ini adalah kuburan Ummu Amru binti Utsman.” Namun Utsman bin Affan tetap memerintahkan agar meratakannya.”[27]

2. Dari Abul-Hayyaj Al-Asady, ia berkata, “Ali bin Abu Thalib pernah berkata kepadaku: “Tidak inginkah kamu ku utus kepada sesuatu sebagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah mengutusku? Yaitu, janganlah kamu membiarkan patung kecuali kamu menghancurkannya dan tidak pula kuburan yang menonjol (dari permukaan tanah) kecuali kamu meratakannya.” [28]

Mengingat pemberitaan ini merupakan hujjah yang sangat jelas untuk menunjukkan kebatilan syaikh Al-Ghimary sebagaimana yang ia katakan dalam bukunya tersebut, ternyata selanjutnya ia berusaha mengotak-atik dan menyelidiki pemberitaan itu dari dua jalan: – Ia menakwilinya, sehingga dapat sesuai dengan pikirannya.

–          Meragukan kebenarannya. Ia berkata: “Pemberitaan itu mengandung dua kemungkinan, boleh jadi kurang kuat dan boleh jadi dapat diartikan tidak seperti zhahirnya. Dan hal ini harus dilakukan.”

 

Kami katakan: Kebenaran riwayat itu tidak perlu diragukan lagi. Sebab riwayat tersebut berasal dari beberapa jalan, yang sebagian di antaranya disebutkan di dalam Shahih. Tetapi rupanya orang-orang yang ditunggangi oleh hawa nafsu sama sekali tidak mengindahkan kaidah-kaidah ilmiah dalam menetapkan shahih dan dha’ifnya suatu riwayat. Bahkan mereka sering mendha’ifkan riwayat yang sudah jelas shahihnya, seperti riwayat ini. Dan kadang mereka menshahihkan suatu riwayat yang sudah jelas dha’ifnya.

Hal ini akan kami berikan contohnya. Dalam menakwilinya, syaikh Al-Ghimary telah menyebutkan beberapa sisi yang lemah, di antaranya ia berkata: “Ini termasuk pemberitaan yang zhahirnya dapat ditinggalkan. Para imam sudah sepakat untuk memakruhkan perbuatan yang meratakan kuburan. Mereka menghimbau agar menonjolkannya kira-kira sejengkal.”

–           

Dapat kami katakan: Sungguh aneh orang yang mengaku telah melakukan ijtihad dan mengharamkan taqlid, lalu ia memperlakukan hadits seenaknya dan menakwilinya agar sesuai dengan perkataan para imam menurut anggapannya sendiri. Padahal ijtihad yang benar tidaklah seperti itu. Hadits tersebut tidak bertentangan dengan kesepakatan para ulama. Sebab yang dimaksudkan adalah kuburan yang di atasnya diberi bangunan. Bila keadaannya seperti itu, maka bangunan tersebut harus diratakan dengan tanah. Kesepakatan para imam dimaksudkan pada saat penguburan yang harus mendapat perhatian, yaitu meninggikan permukaan tanah barang sedikit. Hal ini tidak dimaksudkan oleh hadits tersebut, yang kemudian dimanfaatkan oleh syaikh Al-Ghimary.

Kemudian ia menukil penakwilan hadits dari para pengikut Imam Syafi’y yang berkata: “Tidak hanya hadits ini saja yang menghendaki agar meratakan kuburan dengan tanah. Tetapi semua hadits menghendaki agar kuburan diratakan.”

Kami katakan: Kalau memang penukilan ini benar, justru hal ini merupakan dalil yang dapat memojokkan Al-Ghimary dan bukan mendukungnya. Ia mengatakan bahwa meratakan kuburan tidak wajib. Justru ia menganggap sunat bila meninggikan kuburan, bahkan boleh mendirikan bangunan atau masjid di atasnya.

Dalam menanggapi hadits itu, akhirnya syaikh Al-Ghimary berkata, “Kami membenarkan bahwa yang dimaksudkan adalah kuburan orang-orang musyrik yang disucikan pada jaman Jahiliyah. Hal ini juga terdapat di negara orang-orang kafir yang ditaklukkan para sahabat. Sebagai bukti mereka menyebutkan adanya patung di sana.”

Kami katakan: Dalam sebagian jalan hadits menurut riwayat Ahmad disebutkan bahwa Ali hanya diutus ke beberapa daerah di Madinah, yaitu ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam masih di sana. Berarti hal ini menggugurkan pernyataan Al-Ghimary, bahwa Ali diutus ke negara orang kafir. Letak kesaksian dari hadits ini: Ali mengutus Abul-Hayyaj agar meratakan kuburan. Ini terkandung dalil yang sangat jelas bahwa Ali, begitu Utsman bin Affan menyadari betul ketetapan hukum itu yang tetap berlaku sesudah beliau wafat. Berarti hal ini bertentangan dengan pendapat Al-Ghimary.

3. Dari Abu Burdah, ia berkata, “Ketika Abu Musa hendak meninggal, ia berwasiat: “Apabila kamu membawa jenazahku, maka percepatlah jalannya, jangan sampai ada tempat pedupaan yang mengikutiku, janganlah kamu meletakkan sesuatu di Liang kuburku, sehingga membatasi diriku dengan tanah, janganlah mendirikan bangunan di atas kuburanku. Aku bersaksi kepadamu sekalian bahwa aku terbebas dari setiap wanita yang memotong rambutnya karena berduka, atau wanita yang meraung-raung karena berduka, atau wanita yang membakar pakaiannya karena berduka.”

Mereka bertanya, “Adakah engkau mendengar sesuatu tentang semua itu?” Abu Musa menjawab, “Benar, Aku mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam [29]

4. Dari Anas ra, bahwa ia membenci masjid yang dibangun di antara kuburan.[30]

5. Dari Ibrahim, bahwa ia sangat membenci bila ada masjid yang didirikan di atas kuburan.[31]

Ibrahim ini adalah Ibnu Yazid An-Nakh’y. Dia termasuk dalam periode Tabi’in meskipun masih kecil. Meninggal pada tahun 96 Hijriyah. Dia menerima ketentuan hukum itu dari para Tabi’in yang sudah tua dan juga para sahabat yang sempat hidup hingga masanya. Di situ terdapat bukti nyata bahwa mereka menyadari akan adanya ketentuan hukum itu dan yang tetap berlaku terus sesudah jaman mereka. Lalu kapankah ketentuan itu dimansukh?

 

6. Kami pernah pergi bersama Umar bin Khathab ra untuk melaksanakan haji. Pada suatu shalat Fajar (Subuh), Umar bin Khathab membacakan untuk kami alam tara… dan li-ilafi quraisyin…. Setelah ibadah haji sudah selesai, ia pun pulang. Tiba-tiba banyak orang yang saling berebut.

 

Umar bertanya, “Ada apa ini?” Ada seseorang yang menjawab, “Ini adalah masjid yang pernah dipergunakan shalat oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.”

Umar berkata, “Seperti itulah Ahli Kitab menjadi rusak. Mereka menjadikan bekas nabi-nabinya sebagai tempat peribadatan. Barangsiapa yang sempat shalat di masjid itu, maka dirikanlah shalat. Dan barangsiapa yang tidak sempat shalat, maka tak perlu ia shalat di situ.”[32]

 

7. Dari Nafi’, ia berkata, “Ada kabar yang sampai didengar Umar bin Khathab bahwa banyak manusia yang berbondong-bondong mendatangi pohon, yang di bawahnya pernah

dilaksanakan baiat (Bai’atur-Ridwan, antara Rasulullah dengan para sahabat). Lalu ia memerintahkan agar pohon itu ditebang.”[33]

8. Dari Qaz’ah, ia berkata, “Saya pernah bertanya kepada Ibnu Umar: Perlukah aku mendatangi gua Tsur?” Dia menjawab, “Tinggalkanlah gua Tsur dan tak perlu kamu datang ke sana.” Lalu ia berkata lagi, “Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam bepergian kecuali ke tiga masjid.”[34]

9. Dari Ali bin Husain, bahwa ia pernah melihat seseorang mendatangi salah satu celah pada kuburan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Ia masuk ke sana lalu berdoa. Ali bin Husain memanggil orang itu seraya berkata, “Tidakkah kamu ingin bila aku memberitahukan kepadamu tentang hadits yang pernah kudengar dari ayahku, dari kakekku Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam? Beliau bersabda: “Janganlah kamu menjadikan kuburanku sebagai tempat peringatan, dan rumahku sebagai kuburan. Bershalawatlah kepadaku. Sesungguhnya shalawat dan salammu akan sampai kepadaku bagaimana pun keadaanmu.”[35]

Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Huzaimah juga meriwayatkan dari Suhail bin Abu Suhail, bahwa ia pernah melihat kuburan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Ia mendekatinya lalu mengelus-elusnya. Ia berkata: “Hasan bin Hasan bin Ali bin Abu Thalib melemparku dengan kerikil seraya berkata, “Rasulullah pernah bersabda: “Janganlah kamu menjadikan kuburanku sebagai tempat peringatan, dan janganlah menjadikan rumahku sebagai kuburan.

 

10. Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu menjadikan rumahku sebagai kuburan, dan janganlah menjadikan kuburanku sebagai tempat perayaan. Bershalawatlah kepadaku. Sesungguhnya shalawatmu sampai kepadaku, bagaimanapun keadaanmu.”[36]

11. Ibnu Umar pernah melihat sebuah kemah di atas kuburan Abdurrahman. Lalu ia berkata, “Wahai pemuda, robohkanlah tenda itu. Sesungguhnya ia dipayungi oleh amalnya.”[37]

12. Dari Abu Hurairah, bahwa ia berwasiat agar mereka tidak mendirikan kemah di atas kuburannya.[38]

13. Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Asakir juga meriwayatkan hal serupa dari Abu Sa’id Al-Khudry.[39]

14. Dari Muhammad bin Ka’ab, ia berkata, “Kemah-kemah yang berada di atas kuburan ini adalah sesuatu yang baru.”[40]

15. Dari Sa’id bin Al-Musyyab, bahwa ketika ia sakit dan disusul dengan kematiannya, ia berkata, “Apabila aku mati, maka janganlah kamu dirikan kemah di atas kuburanku. “[41]

16. Dari Salim, hamba Abdullah bin Ali bin Husain, ia berkata, “Muhammad bin Ali Abu Ja’far berkata: “Janganlah kamu meninggikan kuburanku dari permukaan bumi.”[42]

17. Dari Amru bin Syarahbil, ia berkata, “Janganlah kamu meninggikan kuburanku. Sesungguhnya aku melihat orang-orang Muhajirin membenci hal itu.”[43]

Ketahuilah bahwa riwayat-riwayat ini, meskipun beragam pembuktiannya, tapi secara keseluruhan bertemu pada satu titik, yaitu melarang segala sesuatu yang mengisyaratkan penyanjungan kuburan, sehingga sanjungan ini dikhawatirkan dapat menimbulkan fitnah dan kesesatan. Seperti membangun masjid dan kubah di atas kuburan, mendirikan kemah, meninggikan tanah hingga kelewat ukuran, sering berziarah ke suatu kuburan,[44] mengelus-elus kuburan, mengharap barakah dari bekas peninggalan para nabi dan lain sebagainya. Semua ini tidak pernah dilakukan orang-orang Salaf yang terdiri dari para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan lain-lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka melihat ketetapan alasan larangan tentang membangun masjid di atas kuburan dan mengagung-agungkannya, karena tidak ditentukan syariat. Alasan larangan itu adalah kekhawatiran timbulnya kesesatan dan fitnah terhadap orang yang sudah mati, seperti pernyataan Imam syafi’y yang akan kami nukil pada bagian berikutnya. Ketetapan salah satu dari dua alasan itu tentunya juga diikuti oleh alasan yang satunya lagi. Ketentuan ini sama dengan apa yang dimaksudkan orang-orang yang memakruhkan membangun masjid di atas kuburan. Sedang yang lainnya ada yang secara langsung melarang membangun masjid di atas kuburan dan juga apa pun yang diletakkan di atas kuburan, seperti meninggikan gundukan kuburan, mendirikan kemah dan lain sebagainya. Mereka semua mengatakan bahwa ketentuan hukum itu tetap berlaku. Dan ini merupakan masalah yang prinsipil, karena:

Pertama: Membangun masjid di atas kuburan jauh lebih berdosa dari pada meninggikan kuburan dan mendirikan kemah di atasnya. Sebab sudah ada pernyataan laknat bagi siapa saja yang mendirikan bangunan di atas kuburan, dan tidak menyebutkan larangan meninggikan gundukan kuburan maupun mendirikan kemah di atasnya.

Kedua: Kewajiban yang ada di dalam diri orang-orang Salaf adalah pemahaman dan ilmu. Apabila ada larangan tentang sesuatu dari salah seorang di antara mereka, sementara syariat tidak melarangnya, dan larangan itu juga tidak berasal dari salah seorang di antara mereka, maka setidak-tidaknya larangan itu pun harus diindahkan. Bila larangan itu datang dari syariat, berarti hal ini harus lebih diperhatikan lagi.

Maka jelaslah sudah bahwa tidak berlakunya alasan, dan diperbolehkannya mendirikan bangunan di atas kuburan, merupakan kebatilan yang nyata. Hal ini bertentangan dengan sikap orang-orang Salaf dan juga bertentangan dengan makna

hadits-hatits shahih. Hanya Allah-lah yang layak dimintai pertolongan.

Bersambung….

Foot Note :

23 Ditakhrij oleh Al-Bukhary dan Muslim.

24 Dia adalah syaikh Abul-Faidh Ahmad Ash-Shiddiq Al-Ghimary di dalam buku karangannya Ihya’ul-maqbur... (menghidupkan orang yang sudah dikubur). Buku ini termasuk buku yang membawa celaka bagi kaum Muslimin di jaman ini. Isinya tidak memiliki bobot ilmiah sama sekali. Beberapa bulan sebelum ini saya pernah bertemu dengannya di perpustakaan Azh-Zhahiriyah. Dengan penuh semangat ia menghimbau untuk melakukan ijtihad dan meninggalkan taklid. Dari obrolan yang hanya beberapa saat itu, saya dapat menyimpulkan, sebenarnya ia cukup mendalami hadits. Tapi ia lebih cenderung berorientasi ke sufisme. Sehingga saya tidak mengetahui lebih lanjut bagaimana trendnya dalam akidah. Akhirnya saya bisa mengetahui lebih jauh siapa dia setelah membaca bukunya itu. Ternyata tulisannya itu banyak yang menentang orang yang berpegang kepada tauhid murni, menyatakan adanya bid’ah hasanah dan mendukung orang-orang yang melakukan bid’ah. Setelah saya amati lebih jauh, ternyata seruannya untuk berijtihad itu tak lebih dari semburan orang yang ditunggangi hawa nafsu. Persis seperti orang-orang yang berijtihad dari kalangan Syi’ah. Kalau Anda tidak percaya, bacalah bukunya yang seharusnya dimasukkan ke dalam Liang kubur itu. Karena dia telah mengubur semua hadits mutawatir yang berisi pengharaman membangun masjid di atas kuburan. Antara dirinya dan kebenaran terdapat benteng pemisah. Bagaimana mungkin ia menentang semua hadits yang kami sebutkan di sini dan kesepakatan para imam tanpa hujjah yang jelas? Lebih lanjut akan saya uraikan di antara contoh-contoh lain mengenai ucapannya.

25 A1-Hafizh Ibnu Abdil-Hady tidak menyebutkan peristiwa itu terjadi pada tahun kesekian. Karena tidak ada riwayat yang tetap dari jalan para ahli hadits. Apa yang pernah kami nukilkan dari Ibnu jarir di muka berasal dari riwayat Al-Waqidy. Padahal dia termasuk orang yang tertuduh.

26 Temyata di sini terdapat bukli yang jelas, bahwa adanya kuburan di dalam masjid, yang kelihatan karena ada jendela atau pintunya, tidak dapat menghilangkan akibat yang diperingatkan, seperti yang terjadi pada kuburan Yahya as di masjid bani Umayah di Damaskus. Maka Ahmad menetapkan bahwa shalat yang kiblatnya menghadap ke kuburan tidak diperbolehkan. Antara dinding masjid dan kuburan harus terdapat batas pemisahnya.

27 Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushnaf, 4/128; Abu Zar’ah di dalam Tarikh-nya, 66/2. Sanadnya shahih.

28 Diriwayatkan oleh Muslim, 3/61; Abu Daud, 3/70; Nasa’i, 1/168; Ahmad, 741, 1064; At-Tirmidzy, 2/153-154; Al-Baihaqy, 3/4; Ath-Thayalisy, 1/168. Tidak ada pertentangan antara ucapannya ini dengan ketentuan di dalam hadits tentang meninggikan kuburan barang satu jengkal atau dua jengkal. Agar kuburan itu memiliki tanda tersendiri sehingga tidak diremehkan. Yang dimaksudkan di sini adalah meratakan apa yang nampak di atas kuburan, berupa bangunan. Maka syaikh Al-Qary berkata, bahwa kuburan yang menonjol adalah apa yang dibangun di atasnya. Bukan yang menonjol di atasnya berupa tanah atau pasir, para ulama’ berpendapat: Meninggikan gundukan tanah barang sejengkal tidak apa-apa. Sedang yang melebihi itu harus dirobohkan. Begitu pula yang dilakukan sebagian orang-orang Syi’ah dalam buku Kasyful-Irtiyab, hal. 366. Di dalam buku itu disebutkan bahwa hadits riwayatMuslim dianggap dha’if, karena mereka hanya menuruti hawa nafsunya saja. Na’udzu billah min zhalik.

 

29 Ditakhrij oleh Ahmad, 4/397; isnadnya kuat.

30 Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah, 2/185, orang-orangnya tsiqat.

31 Ibid 4/134, sanadnya shahih

32 Ibid 2/84/1; sanadnya shahih

33 Ibid 2/73/2; orang-orangnya tsiqat, namun ada yang terputus antara Nafi’ dan Umar

34 Ibid, 2/83/2; al-Azraqy di dalam bukunya Akhbar Makkah, hal 304; isnadnya shahih. 35 Ibid, 2/83/2; Abu Ya’la di dalam Musnad-nya, 32/2.

36 Diriwayatkan oleh Abu Daud, 2042; Ahmad, 2/367; sanadnya hasan.

37 Diriwayatkan oleh Al-Bukhary, 2/98.

38 Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, 3/418/6129; Ibnu Abi Syaibah, 4/338; Ar-Rib’y dalam bukunya Washayal-Ulama’, 141/2; isnadnya shahih.

39 isnadnya dha’if. Tapi dari jalan lain menurut Ibnu Asakir adalah shahih.

40 Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah; orang-orangnya tsiqat kecuali Tsa’labah.

41 Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d, 5/142.

42 Diriwayatkan oleh Ad-Daulaby, 1/134-135; orang-orangnya tsiqat kecuali Salim ini. Sebab ia tidak diketahui identitasnya secara jelas.

43 Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d, 6/108; sanadnya shahih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: