Peringatan Penting !! Menggunakan Kuburan Sebagai Mesjid ( Tahdzirus Sajid Min Ittihadil Qubur Masajid) Bag 1

Telah kita ketahui bersama bahwasannya hampir kita jumpai masjid-masjid khususnya di Jawa dan umumnya Indonesia dan Negeri Islam banyak kita temukan Masjid  yang didalamnya terdapat Kuburan ( Orang Shalih ) ataupun disekeliling Masjid bahkan ada yang didepan tempat sujud Imam  /mihrab ( arah Qiblat ) Na’udzu billah min zhalik..  Bagaimana Syariat Islam melihat hal tersebut , lebih-lebih bila hal tersebut bila dikembalikan kepada wasiat Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam sebelum wafat. Untuk itu Buku dibawah adalah sangat penting dipelajari dan diketahui bagi jiwa yang menginginkan kebenaran dalam merealisasikan Tauhid yang murni kepada Rabbnya , semoga bermanfa’at :

Peringatan Penting !! Menggunakan Kuburan Sebagai Mesjid 

Tahdzirus Sajid Min Ittihadil Qubur Masajid 

Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rohimahullah  

MUKADDIMAH 

Segala puji bagi Allah. Kami memuji, memohon pertolongan, mengharap ampunan dan berlindung kepada Allah Ta’ala dari segala keburukan diri dan kejelekan amal kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tak seorang pun yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tak seorang pun yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah, yang tiada sekutu baginya dan Yang Berdiri sendiri. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Allah berfirman: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, ber-takwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (Ali Imran: 102) Firman-Nya: 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa’: 1) 

Firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71)  

Amma ba’d.

 Pada akhir tahun 1377 Hijriyah, kami telah menyelesaikan satu tulisan dengan judul Tahdzirus-Sajid min Ittihadil-Qubur Masajid. Selama itu naskah aslinya tetap berada di tangan kami. Setiap kali kami melihat suatu manfaat tambahan yang memang sesuai dengan topik ini, maka kami menyisipkannya ke dalam naskah itu. Agar bila ia cetak ulang lagi, naskah ini sudah dalam keadaan diedit.

Maka dari itu kami merasa perlu untuk menyisipkan beberapa tambahan yang cukup penting. Namun ketika ustadz Al-Fadhil Zuhair Syawisy, direktur penerbit Al-Maktabul-Islamy meminta agar kami menyerahkan kembali naskah aslinya untuk dicetak ulang, ternyata naskah itu tidak kutemukan. Kami sudah putus asa untuk mendapatkannya lagi. Maka Kami kirimkan naskah lain yang kupinjam dari seorang teman untuk dicetak seperti apa adanya. Tentu saja dengan tetap berpegang kepada satu kaidah: “Apa yang tidak diketahui secara keseluruhan, bukan berarti dibiarkan detailnya.” Karena ustadz Zuhair sudah menentukan untuk mencetak ulang kembali, maka dengan karunia Allah kami segera mengirimkan naskah itu kepadanya, setelah kami persiapkan sedemikian rupa untuk proses cetak ulang itu.

Mengingat pada waktu menyusun bahasan ini terdapat berbagai faktor khusus dan praktik-praktik tertentu, maka kami merasa perlu menyusun gaya bahasanya tidak seperti gaya bahasa kajian ilmiah secara mutlak, seperti yang biasa terjadi pada setiap karangan kami; Kajiannya lembut dan dalil-dalilnya akurat. Naskah ini kami susun sedemikian rupa sebagai jawaban atas sebagian orang yang tidak tergerak oleh seruan kami untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, jalan orang-orang Salaf, langkah empat imam serta orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan baik.

Bahkan mereka juga tidak mau ketinggalan untuk menyusun sebuah karangan sebagai sanggahan. Boleh jadi mereka menganggap karangannya sebagai suatu jawaban ilmiah yang tepat. Lalu kami tergerak untuk menanggapinya lebih dari itu. Tapi kenyataannya tidaklah begitu. Dan ini sungguh sangat disayangkan. Sebab ternyata mereka menurunkan sebuah tulisan yang tidak memiliki bobot ilmiah, penuh dengan caci maki, umpatan dan tuduhan mengada-ada yang sebelumnya tidak pernah terjadi hal seperti itu. Pada waktu itu kami tidak pernah berpikir untuk berpangku tangan, membiarkan mereka seenaknya sendiri menyebarkan tulisan kepada manusia, tanpa seorang pun yang mengungkap kebodohan dan tuduhan mereka.

Biarlah orang yang berbuat kerusakan menjadi rusak karena suatu keterangan, dan biarlah seseorang yang mengingingkan kehidupan tetap hidup karena keterangan pula. Maka kami merasa perlu untuk menyebutkan nama-nama mereka itu secara jelas. Mengingat kami sama sekali tidak bisa menerima permusuhan dan kebohongan mereka, maka kami berharap tulisan ini dapat dianggap sebagai jawaban secara langsung atas sikap mereka.

Dalam tulisan ini ada nada yang agak keras tentang pendapat sebagian orang yang suka melakukan kedustaan dan kontroversial. Boleh jadi mereka beranggapan, bahwa bila kebodohan dan tuduhannya yang membabi buta itu tidak ditanggapi, dan mereka dibiarkan begitu saja, maka hal itu termasuk sikap tenggang rasa seperti yang mereka sangkakan dalam firman Allah:

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا

“Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, maka mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (Al-Furqan: 63)

Mereka lupa atau pura-pura lupa bahwa hal itu dapat memberi peluang bagi mereka untuk melanjutkan kesesatan dan penyesatannya bagi orang lain. Padahal Allah Subhanahu wa ta’ala sudah berfirman:

 

وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al- Maidah: 2)

 

Lalu perbuatan dosa dan pelanggaran macam apakah yang lebih besar dari pada melemparkan tuduhan yang tidak ada pada diri seorang Islam bahkan tidak seperti kenyataannya? Andaikata mereka sendiri dimusuhi orang lain seperti permusuhan yang kami alami, tentu mereka tidak akan mengulur waktu untuk menjawabnya. Keadaan mereka seperti itu seperti yang dikatakan dalam sebuah syair:

Tidak, tak seorang pun yang tahu siapa kami Justru ketidaktahuan kami di atas ketidaktahuan orang yang tidak tahu.

 

 Atas pertimbangan semua ini, bila kami membiarkan tulisan yang akan dicetak ulang ini tetap seperti keadaannya semula, maka kami tidak melihat manfaatnya yang lebih optimal. Kami perlu membuang beberapa komentar dan menata kembali beberapa susunan kalimatnya, sehingga dapat lebih layak untuk dicetak ulang, tanpa mengurangi bobot ilmiah dan kajian-kajiannya yang penting. Dalam mukaddimah cetakan pertama sudah kami sebutkan, bahwa topik buku ini mencakup dua permasalahan penting, yaitu:

1. Hukum membangun masjid di atas kuburan.

2. Hukum shalat di atas masjid.

Kami merasa berkepentingan membahas masalah ini, karena banyak di antara manusia melakukan sesuatu yang berkaitan dengan masalah ini tanpa dibekali ilmu sama sekali. Mereka mengeluarkan pernyataan yang tidak pernah dikatakan ulama sebelumnya. Terlebih lagi secara keseluruhan manusia tidak memiliki pengetahuan dalam masalah ini secara mutlak. Sehingga mereka melalaikannya dan tidak mengetahui mana yang benar. Apalagi banyak ulama yang mendiamkannya—kecuali hanya sedikit—karena takut opini umum, atau untuk memperlancar jalannya dalam memperoleh kedudukan di hati manusia. Mereka lalai terhadap firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al- Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat.” (Al-Baqarah: 159)

 

Dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:

“Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu, maka Allah akan memasang tali kendali dari api kepadanya pada hari kiamat.” [1]

Akibat dari kebodohan manusia dan apatisme para ulama, kini banyak manusia yang terseret pada perbuatan yang diharamkan Allah Subhanahu wa ta’ala. Padahal orang yang melaksanakannya akan dilaknat. Hal ini akan kami jelaskan di bagian berikutnya.

Ternyata permasalahannya tidak berhenti sampai di sini saja. Banyak di antara mereka yang bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan cara-cara yang diharamkan itu. Sehingga Anda dapat melihat di antara orang-orang yang mencintai kebaikan dan meramaikan masjid, mereka mengeluarkan uang dalam jumlah yang besar untuk mendirikan masjid semata karena Allah Subhanahu wa ta’ala, tapi di situ mereka juga mempersiapkan kuburan. Kemudian ia berwasiat, agar jasadnya dikuburkan di situ apabila sudah meninggal.

Contoh lain dapat kami ketahui secara nyata, dan semoga ini kejadian yang terakhir, adalah sebuah masjid yang dibangun di ujung jalan Baghdad dari arah barat di kota Damaskus, yang dikenal dengan nama “Masjid Ba’ir”. Ternyata di masjid itu pula Ba’ir dikuburkan. Menurut kabar yang sempat kami dengar, tadinya kementerian wakaf melarang jasadnya dikubur di situ. Kami tidak tahu secara persis, apa sebab yang hakiki hingga hal itu bisa terjadi. Akhirnya Ba’ir dikuburkan di dalam masjid, bahkan dikuburkan di arah kiblatnya. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada- Nya-lah kita akan kembali. Hanya Allah-lah yang layak dimintai pertolongan untuk menuntaskan kemunkaran seperti ini.

Beberapa saat yang lalu juga ada seorang mufti dari madzhab Syafi’i yang meninggal dunia. Para kerabatnya ingin menguburkan jasad sang mufti di suatu masjid kuno di Damaskus bagian timur. Kementerian Wakaf melarang hal itu dan akhirnya tidak jadi dikuburkan di situ. Kita perlu mengucapkan terima kasih kepada kementerian Wakaf atas sikapnya yang baik ini, dengan melarang menguburkan jasad orang mati di dalam masjid. Kami berharap kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, semoga orang yang mengeluarkan larangan ini berbuat karena mengharap ridha Allah dan karena mengikuti syariat-Nya, bukan untuk tujuan-tujuan lain yang berbau politik, sosial atau pun lainnya. Semoga keputusan seperti ini merupakan langkah yang baik untuk membersihkan masjid dari perbuatan bid’ah dan kemunkaran yang tak terhitung jumlahnya.

Terutama dalam hal ini, menteri Wakaf Syaikh Al-Baqury memiliki kedudukan yang mulia dalam upayanya memerangi berbagai kemunkaran, khusunya mendirikan masjid di atas kuburan. Dan dalam kajian ini, ia juga mengeluarkan pernyataan yang banyak bermanfaat, dan juga kami nukilkan. Yang sangat disayangkan bagi setiap orang yang benar-benar beriman, banyak sekali masjid-masjid di Syria dan juga negara-negara lainnya yang tidak lepas dari keberadaan kuburan di dalamnya. Seakan-akan Allah pernah memerintahkan hal itu dan tidak melaknat orang yang melakukannya. Alangkah baiknya bila kementerian Wakaf lebih banyak berbuat untuk membersihkan masjid dari kemunkaran ini. Kami sama sekali tidak ragu, bahwa sangat tidak tepat bila dihimpun pendapat umum dalam masalah ini. Bahkan sejak dini harus diumumkan kepada khalayak, bahwa kuburan dan masjid tidak pernah dipadukan di dalam Islam, seperti yang dikatakan para ulama dan akan kami kupas pada bagian berikutnya. Sebab bila keduanya dipadukan menjadi satu, bisa mengurangi kemurnian tauhid dan ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Padahal kemurnian tauhid itulah yang dibutuhkan dalam membangun masjid, seperti yang difirmankan Allah Subhanahu wa ta’ala:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (Al-Jin: 18)

 

Kami yakin, menjelaskan masalah ini merupakan kewajiban yang tidak bisa dipungkiri. Dan semoga apa yang kami kerjakan dalam tulisan ini merupakan pemenuhan dari kewajiban itu. Di dalamnya telah ku himpun beberapa hadits mutawatir yang melarang mengubur mayit di dalam masjid dan menggunakan kuburan sebagai masjid. Sesudah itu juga kami sertakan pendapat dan perkataan beberapa madzhab ulama yang mu’tabarah, yang ikut menguatkan larangan itu. Pada saat yang sama hal itu merupakan saksi bahwa ulama itu adalah orang-orang yang sangat antusias dalam mengikuti Sunnah dan menyeru manusia agar mengikutinya serta memberi peringatan agar tidak menentang Sunnah. Meskipun begitu, Allah Subhanahu wa ta’ala sudah berfirman:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)

 

Inilah bagian-bagian yang kami kupas dalam tulisan ini:

 Bab Pertama : Berisi hadits-hadits yang melarang menggunakan kuburan sebagai masjid.

 Bab Kedua : Pengertian menggunakan kuburan sebagai masjid.

 Bab Ketiga : Menggunakan kuburan sebagai masjid termasuk dosa besar.

 Bab Keempat : Beberapa syubhat dan jawabannya.

 Bab kelima : Hikmah pengharaman membangun masjid di atas kuburan.

 Bab Keenam : Larangan shalat di masjid yang didirikan di atas kuburan.

 Bab Ketujuh : Semua hukum dalam masalah ini men cakup semua masjid, selain masjid Nabawi.

Dengan keragaman bab-bab ini, di sana juga ada sisipan-sisipan lain, sehingga secara keseluruhan mengandung manfaat yang sangat penting, insya Allah. Maka dari itu kami menamakan pembahasan ini dengan judul Tahdzirus-Sajid min Ittihadil- Qubur Masajid. (Peringatan bagi orang yang shalat tentang menggunakan kuburan sebagai masjid). Seperti ini pula yang kami tulis dalam mukaddimah cetakan pertama.

Selanjutnya kami memohon kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala agar melimpahkan manfaat yang lebih banyak kepada kaum Muslimin dengan cetakan ulang ini dari sebelumnya. Kami berharap semoga Allah berkenan menerima usaha ini dengan penerimaan yang baik, serta melimpahkan pahala atas dicetaknya tulisan ini.

Muhammad Nashiruddin Al-Albany

 

 

 

HADITS-HADITS YANG MELARANG MENGGUNAKAN KUBURAN SEBAGAI MASJID

Hadits Pertama: Dari Aisyah ra, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda ketika dalam keadaan sakit yang sesudah itu tidak bangun:

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara, karena mereka menggunakan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat shalat.”

Aisyah berkata, “Andaikata tidak karena sabda beliau ini, maka kuburan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam terletak di luar rumahnya. Namun itu pun dikhawatirkan akan dipergunakan untuk masjid.”[2]

Senada dengan ucapan Aisyah ini, apa yang diriwayatkan dari ayahnya, yang ditakhrij oleh Ibnu Zanjawaih, dari Umar budak Ghafrah, ia berkata, “Ketika mereka (para sahabat) bermusyawarah dalam menguburkan jasad Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, maka di antara mereka ada yang berkata, “Lebih baik kita menguburkannya di tempat biasanya beliau shalat.” Abubakar berkata menanggapi, “Kami berlindung kepada Allah untuk menjadikan diri beliau sebagai patung yang disembah.” Yang lain berkata, “Lebih baik kita menguburkannya di Baqi’ dimana saudara-saudaranya dari Muhajirin dikuburkan.” Abubakar berkata menanggapi, “Kami tidak suka mengeluarkan kuburan Rasulullah hingga ke Baqi’, lalu akhirnya ada sebagian manusia yang berlindung kepadanya. Padahal Allah Subhanahu wa ta’ala mempunyai hak atas dirinya. Dan hak Allah Subhanahu wa ta’ala lebih tinggi dari pada hak Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Apabila kita mengeluarkannya, maka kita akan menghilangkan hak Allah. Apabila kita melanggar hal ini, maka kita akan melanggar kuburan Rasulullah.” Akhirnya mereka berkata, “Lalu bagaimanakah pendapatmu wahai Abubakar?” Abubakar menjawab, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Allah tidak mengambil (mematikan) seorang nabi pun kecuali ia dikuburkan dimana ruhnya diambil.” Mereka berkata, “Demi Allah, engkaulah yang mendatangkan keridhaan dan kepuasan.”

Kemudian mereka membuat garis di sekitar kasur beliau. Ali, Al-Abbas dan beberapa orang keluarganya mengangkat tubuh beliau. lalu orang-orang membuat lubang di tempat kasur beliau.[3]

Hadits Kedua: Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Allah memerangi orang-orang Yahudi, karena mereka meng-gunakan kuburan para nabi-Nya sebagai tempat shalat.”[4]

Hadits Ketiga dan Keempat:

Dari Aisyah dan Ibnu Abbas, bahwa ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjelang wafatnya, beliau menelungkupkan ujung baju dari tenunan bulu ke wajah beliau. Beliau nampak sedih, lalu menyibak ujung baju itu dari wajah dan bersabda:

 “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashara, karena mereka menggunakan kuburan para nabinya sebagai tempat shalat.”

Aisyah berkata, “Beliau memberi peringatan seperti yang mereka perbuat.”[5] Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Seakan-akan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sudah mengetahui bahwa beliau akan pergi selama-lamanya dengan sakitnya itu. Beliau khawatir kuburannya akan diagung-agungkan seperti yang diperbuat orang-orang sebelumnya. Beliau melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara sebagai isyarat atas penghinaan terhadap orang yang berbuat seperti yang mereka perbuat.” Dalam hadits berikutnya (keenam) terdapat larangan terhadap mereka dari perbuatan seperti itu. Maka perhatikanlah dengan seksama.

Hadits Kelima:

Dari Asiyah ra, ia berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sakit, sebagian istri-istrinya menyebut-nyebut gereja di Habasyah yang bernama Maria. Ummu Salamah dan Ummu Habibah pernah datang ke sana. Mereka menyebutkan tentang keindahan gereja itu dan hiasan-hiasannya. Rasulullah langsung mengangkat kepalanya seraya bersabda:

“Mereka itu, apabila di antara mereka ada orang yang shalih, maka mereka mendirikan tempat shalat di atas kuburannya, lalu mereka memasang gambar-gambar. Mereka itu adalah seburuk-buruk ciptaan di sisi Allah (pada hari kiamat)” [6]

Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata dalam Fathul-Bary, “Hadits ini menunjukkan pengharaman membangun masjid di atas kuburan orang yang shalih dan menempelkan gambar diri mereka di dalamnya, seperti yang biasa dilakukan orang-orang Nashara. Tidak dapat diragukan bahwa masing-masing di antara dua hal ini sama-sama dilarang walau tidak dipadukan. Membuat gambar sosok manusia dilarang, dan membangun kuburan di atas masjid juga dilarang, sebagaimana yang dikuatkan beberapa nash lain yang akan kami sebutkan pada bagian berikutnya.”

Ibnu Rajab berkata lagi, “Gambar-gambar yang ditempelkan di dalam gereja seperti yang disebutkan Ummu Habibah dan Ummu Salamah, berada di atas tembok dan juga tempat-tempat lainnya. Membuat gambar seperti gambar para nabi dan orang-orang shalih untuk meminta barakah dan syafaat, diharamkan dalam Islam. Karena hal itu termasuk dalam kategori penyembahan berhala. Maka itulah yang dikabarkan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, bahwa mereka yang berbuat seperti itu merupakan makhluk yang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat. Membuat lukisan untuk hiburan dan bersenang-senang serta pamer, juga dilarang. Sebab hal itu termasuk kesombongan. Pelukisnya adalah orang yang sangat pedih siksanya pada hari kiamat. Dia adalah orang zhalim yang hendak menyerupai perbuatan Allah. Padahal tak sesuatu pun yang dapat menyerupai-Nya.

” Ibnu Rajab menyebutkan di dalam Al-Kawakibud-Darary: “Saya katakan: Tidak ada perbedaan dalam pengharaman lukisan tangan dan membuat gambar dengan alat serta photography.

Hadits Keenam: Dari Jundab bin Abdullah Al-Bajly, bahwa lima hari sebelum Nabi Shallallahu alaihi wa sallam meninggal, ia mendengar beliau bersabda:

“Aku mempunyai saudara dan teman-teman di antara kamu. Dan aku terbebas di hadapan Allah bahwa aku mempunyai seorang kesayangan di antara kamu. Sesungguhnya Allah telah mengambilku sebagai kesayangan-Nya sebagaimana Dia juga mengambil Ibrahim sebagai kesayangan-Nya. Andaikata aku mengambil dari umatku seorang kesayangan, tentu aku akan mengambil Abubakar sebagai kesayanganku. Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih di antara mereka sebagai tempat shalat. Ketahuilah, janganlah kamu menjadikan kuburan sebagai masjid. Aku melarang kamu sekalian dari perbuatan itu.”[7]

Hadits Ketujuh: Dari Al-Harits An-Najrany, ia berkata, “Aku mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda lima hari sebelum meninggal:

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih di antara mereka sebagai tempat shalat. Ketahuilah, janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Aku melarang kamu dari hal itu.” [8]

 

Hadits Kedelapan: Dari Usamah bin Zaid, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sakitnya yang kemudian beliau meninggal: “Suruhlah sahabat- sahabatku masuk menemuiku.” Maka mereka pun masuk, sedang beliau mengenakan selimut dari Yaman. Kemudian beliau menyingkap selimut itu seraya bersabda:

“Allah melaknat orang-orang Yahudi (dan Nashara), karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat shalat. “[9]

Hadits Kesembilan: Dari Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, berkata, “Ucapan terakhir yang disampaikan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah:

“Keluarkanlah orang-orang Yahudi penduduk Hijaz dan najran dari Jazirah Arab. Dan ketahuilah bahwa orang yang paling buruk adalah mereka yang menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat shalat.[10]

 

Hadits Kesepuluh: Dari Zaid bin Tsabit, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Allah melaknat (dalam riwayat lain: Allah memerangi) orang-orang Yahudi, karena mereka menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat shalat.[11]

Hadits Kesebelas: Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai patung.[12] Allah melaknat suatu kaum yang menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat shalat,”[13]

Hadits Keduabelas: Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya di antara orang yang paling buruk adalah yang datang hari kiamat sedang mereka masih hidup, dan orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid.” [14]

Hadits Ketigabelas: Dari Ali bin Abu Thalib, ia berkata, “Aku berjumpa dengan Al-Abbas, lalu ia berkata, “Wahai Ali, pergilah bersama kami menemui Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Siapa tahu kita mempunyai masalah. Dan kalau tidak beliau dapat berwasiat kepada manusia lewat kita.” Maka kami menemui beliau. Sedang beliau telentang seperti pingsan. Lalu beliau mengangkat kepalanya seraya bersabda:

“Allah melaknat orang-orang Yahudi, karena mereka menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat shalat.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Beliau mengulang ucapannya ini hingga tiga kali.”

Setelah kami melihat apa yang terjadi pada diri beliau, kami pun keluar dan tidak bertanya tentang sesuatu pun.”[15]

Hadits Keempatbelas: Dari Ummahatul-Mukminin, bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Bagaimanakah kita harus membangun kuburan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam? Apakah kita menjadikannya sebagai masjid?” Abubakar Ash-Shiddiq berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara, karena menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat shalat.”[16]

II. PENGERTIAN MENGGUNAKAN KUBURAN SEBAGAI MASJID

Dari beberapa hadits yang disebutkan di muka, kini jelaslah bahaya menggunakan kuburan sebagai masjid atau tempat ibadah. Orang yang melakukan hal itu memperoleh ancaman yang keras di sisi Allah. Maka kita harus mengerti benar pengertian penggunaan tersebut, sehingga kita bisa mawas diri. Maka dapat kami katakan bahwa apa yang dapat kita pahami dari penggunaan di sini, mencakup tiga pengertian:

ü Mendirikan shalat di atas kuburan, dalam pengertian bersujud kepada kuburan itu.

ü Bersujud kepada kuburan dan menghadap ke kuburan saat shalat dan berdoa.

ü Membangun masjid di atas kuburan dan shalat di masjid itu.

Pendapat Para Ulama.

Mengenai masing-masing dari ketiga pengertian ini, sebagian ulama mengeluarkan pendapatnya, yang juga didukung oleh nash-nash yang jelas dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Ibnu Hajar Al-Haitamy berkata di dalam bukunya Az-Zawajir:

 

“Menjadikan kuburan sebagai masjid artinya mendirikan shalat di atas kuburan, atau ke arah kuburan.”

Pernyataannya ini menunjukkan kepada pemahamannya bahwa menggunakan kuburan sebagai masjid mengandung dua pengertian. Salah satu di antaranya adalah shalat di atas kuburan.” Sedang Ash-Shan’any berkata di dalam Subulus-Salam: “Menggunakan kuburan sebagai masjid lebih umum dari sekedar pengertian shalat kepada kuburan atau di atas kuburan.” Saya katakan: “Hal itu mencakup dua pengertian secara sekaligus. Bahkan bisa juga mencakup pengertian yang ketiga. Itulah yang dipahami Imam Syafi’i yang akan kami terangkan pada bagian berikut.

Pengertian pertama seperti ini dikuatkan oleh beberapa hadits:

1. Pertama : Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudry, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang mendirikan bangunan di atas kuburan, duduk atau shalat di atasnya.[17]

2. Kedua : Sabda beliau: “Janganlah shalat ke arah kuburan dan janganlah shalat di atas kuburan.” [18]

3. Ketiga: Dari Anas, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang shalat ke arah kuburan. [19]

4. Keempat : Dari Amru bin Dinar, bahwa dia pernah ditanya tentang shalat di tengah kuburan. Ia berkata, “Aku ingat bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dulu bani Israel menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat shalat. Maka Allah melaknat mereka.”[20]

Tentang pengertian yang kedua, Al-Manawy berkata di dalam Faidhul-Qadir dengan menjelaskan pengertian hadits ketiga di atas: “Maksudnya mereka menjadikan kuburan sebagai arah kiblat mereka, yang disertai dengan keyakinan yang batil.

Menjadikan kuburan sebagai tempat shalat merupakan tindakan yang sudah selayaknya, karena mereka mendirikan masjid itu di atas kuburan. itulah sebabnya mereka dilaknat. Di samping itu mereka terlalu berlebih-lebihan dalam mengagung-agungkan kuburan itu.”

Sedang Al-Qadhy (Al-Baidhawy) berkata, “Mengingat orang- orang Yahudi bersujud kepada kuburan para nabinya karena mengagung-agungkan kedudukan mereka, menjadikan kuburan itu sebagai kiblat, mengarahkan shalat ke kuburan itu dan membuat patung-patung di dalamnya, maka mereka dilaknat oleh Allah. Orang-orang Islam dicegah dan dilarang berbuat seperti itu….” Saya katakan, “Pengertian seperti ini sudah menunjukkan adanya larangan yang jelas tentang hal itu.” Maka beliau bersabda: “Janganlah kamu duduk-duduk di atas kuburan dan janganlah shalat ke arahnya.

 

Syaikh Ali Al-Qary berkata memberikan alasan mengenai larangan ini, “Karena di situ terdapat sikap mengagung-agungkan secara berlebih-lebihan, sehingga kuburan itu sejajar dengan (Dzat) yang harus disembah. Andaikata sikap seperti ini benar- benar ditujukan kepada kuburan atau jasad yang dikuburkan di situ, maka itu termasuk kekufuran yang besar. Menyerupai sikap ini adalah perbuatan makruh.

Tapi makruh di sini harus diartikan sebagai suatu pengharaman. Yang serupa dengan pengertian ini adalah meletakkan jenazah di arah kiblat. Inilah yang dialami penduduk Makkah sebelumnya. Mereka meletakkan jenazah di samping Ka’bah, lalu mereka shalat menghadap ke jenazah itu.” Dapat saya katakan bahwa hal ini dimaksudkan dalam shalat fardhu.

Dan inilah malapetaka yang banyak menyebar di Syam, Anadhul dan lain-lainnya. Sejak sebulan yang lalu kami memperoleh salinan gambar foto copy yang sudah buram tentang orang-orang yang bersujud ke arah sebarisan peti mayat orang-orang Turki yang tenggelam di lautan. Dalam kaitannya dengan masalah ini, kita perlu mengalihkan pandangan, bahwa pengertian yang tepat dari petunjuk Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam menshalati jenazah, hendaknya dilakukan di tempat yang dapat dipergunakan untuk shalat di luar masjid. Manfaatnya ialah untuk menjauhkan manusia agar tidak melakukan shalat yang terlarang seperti yang diperingatkan syaikh Al-Qary.

Senada dengan hadits di atas seperti yang diriwayatkan Tsabit Al-Bannany, dari Anas ra, ia berkata, “Aku pernah shalat di dekat kuburan. Umar bin Khathab melihatku lalu ia berkata: “Al-qabru, al-qabru….(Kuburan, kuburan)”. Lalu aku memandang ke arah langit, karena aku mengira Umar bin Khathab berkata: “Alqamar (bulan).”

Tentang pengertian yang ketiga, Al-Bukhary menerjemahkan hadits pertama lalu mengupasnya dalam satu judul: Apa yang tidak disenangi dalam masalah mendirikan masjid di atas kuburan. Ia mengisyaratkan bahwa larangan menjadikan kuburan sebagai masjid, secara langsung juga merupakan larangan membangun masjid di atas kuburan. Ini merupakan masalah yang cukup jelas.

Hal ini juga dikatakan Al-Manawy di bagian muka. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata tentang pengertian hadits ini, “Al-Karmany pernah berkata bahwa manfaat pencegahan menjadikan kuburan sebagai masjid dan mendirikan masjid di atas kuburan, mempunyai pengertian yang tidak sama persis. Hal ini bisa dikatakan serupa tapi pengertiannya tidaklah sama.” Maka itulah pengertian yang diisyaratkan Aisyah dalam kata-katanya: “Andaikata tidak karena sabda beliau ini, maka kuburan Rasulullah terletak di luar rumahnya. Namun hal itu dikhawatirkan akan dipergunakan untuk masjid.” Pengertian ini dikuatkan lagi dengan hadits kelima:

“Mereka adalah orang-orang yang apabila di antara mereka ada seorang shalih, lalu ia mati, maka mereka membangun tempat shalat di atas kuburannya. Mereka adalah ciptaan yang paling buruk.

 

Ini merupakan nash yang sangat jelas mengenai pengharaman mendirikan masjid di atas kuburan para nabi dan orang-orang shalih. Bila hal ini dilakukan, maka mereka akan menjadi manusia yang paling buruk di sisi Allah.

Hal ini juga dikuatkan oleh perkataan Jabir ra: Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang mengapur kuburan, duduk dan mendirikan bangunan di atasnya.[21] Keluasan makna hadits ini mencakup larangan mendirikan masjid di atas kuburan, yang juga mencakup larangan membangun kubah di atasnya. Larangan pertama justru lebih tegas.

Jelaslah sudah bahwa pengertian ini juga benar, yang dikuatkan dengan penggunaan kata ittihad (menggunakan atau menjadikan), yang juga dikuatkan oleh dalil-dalil lain. Cakupan hadits-hadits yang melarang mendirikan shalat di masjid yang dibangun di atas kuburan sudah jelas. Sebab larangan mendirikan masjid di atas kuburan secara langsung mengindikasikan larangan mendirikan shalat di masjid tersebut. Ini termasuk dalam kaidah larangan menggunakan suatu sarana, yang berarti mencakup larangan memanfaatkan sasaran atau tujuan yang menggunakan sarana itu.

Contohnya, bila pembuat syariat melarang memperjual-belikan khamr, maka larangan meminumnya sudah termasuk di situ.

Kini jelaslah sudah bahwa larangan membangun masjid di atas kuburan tidak hanya terbatas pada larangan ini. Itu sama saja dengan membangun masjid di tengah perkampungan atau pemukiman penduduk, yang tidak hanya terbatas pada upaya membangun masjid itu. Tentu saja masjid itu dimaksudkan untuk dipergunakan shalat, terlepas apakah tujuannya positif atau negatif. Hal ini dapat diperjelas lagi sebagai berikut: Andaikata seseorang membangun masjid di tempat terpencil yang tidak ada penghuninya, sehingga tak seorang pun yang datang ke situ untuk shalat, maka orang itu tidak memperoleh pahala apa-apa. Bahkan menurut saya dia justru berdosa. Sebab ia menghambur-hamburkan harta dan meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.

Apabila Pembuat syariat memerintahkan membangun masjid, berarti Ia memerintahkan agar masjid itu dipergunakan untuk shalat. Karena shalat itulah yang menjadi tujuan didirikannya masjid. Begitu pula bila Ia melarang membangun masjid di atas kuburan, maka hal ini juga mencakup larangan shalat di dalam masjid itu. Karena shalat itulah yang menjadi tujuan pendirian masjid itu. Hal ini cukup jelas bagi orang yang berakal, insya Allah.

Keluasan Makna Hadits dan Pendapat Imam Syafi’y.

Dapat dikatakan bahwa hadits-hadits yang disebutkan di atas mencakup tiga makna yag sudah kami jelaskan di atas. Inilah satucakupan dari beberapa perkataan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Dalam hal ini Imam Syafi’y berkata di dalam bukunya Al-Umm:

 

 “Saya tidak suka (menganggap makruh) terhadap masjid yang dibangun di atas kuburan dan shalat di dalamnya. Juga tidak boleh shalat menghadap ke kuburan. Apabila ada orang yang shalat ke arah kuburan, maka ia tetap mendapat pahala dan ia telah melakukan perbuatan yang buruk.

Kami pernah diberitahu Malik bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Allah memerangi orang-orang Yahudi dan Nashara, karena mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat shalat.” Saya tidak menyukai hal ini karena adanya Sunnah. Juga merupakan sesuatu yang tidak disukai– wallahu a’lam- bila seseorang dari kaum Muslimin diagung-agungkan. Artinya, kuburan orang tersebut dijadikan masjid. Sebab fitnah dan kesesatan tidak akan dapat dihindarkan dari orang-orang yang hidup sesudahnya.

” Imam Syafi’y berlandaskan pada hadits yang juga mengandung tiga pengertian di atas. Ini merupakan dalil yang sangat jelas, dan harus dipahami menurut keumuman pengertiannya.

Syaikh Ali Al-Qary juga menukil dari sebagian ulama madzhab Hanafiah, sebagaimana yang ia katakan di dalam buku karangannya Mirqatul-Mafatih, Syarh Misykatil-Mashabih:

 

 “Sebab laknat yang dijatuhkan kepada mereka (Orang-orang Yahudi dan Nashara), entah karena mereka bersujud kepada kuburan para nabinya karena mengagung-agungkan mereka, dan ini merupakan kemusyrikan yang sangat jelas, atau entah karena mereka shalat kepada Allah dan sujud di atas kuburan para nabinya serta shalat dengan menghadap ke kuburan mereka, sehingga perbuatan tersebut dapat dianggap sebagai ibadah kepada Allah dan sekaligus meng-agung-agungkan nabi mereka.

Ini merupakan kemusyrikan yang terselubung, karena mengagung-agungkan makhluk yang tidak diperkenankan untuk diagung-agungkan. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang umatnya melakukan hal itu, entah karena perbuatan tersebut merupakan penyerupaan terhadap kebiasaan orang-orang Yahudi, entah karena perbuatan itu mengandung kemusyrikan yang terselubung. Begitulah pendapat sebagian ulama kami yang membuat syarh, lalu dikuatkan lagi sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa beliau memperingatkan tentang apa yang mereka perbuat.

” Dapat kami katakan sebagai berikut: Sebab pokok apa yang telah disebutkan di muka, yaitu sujud kepada kuburan para nabi karena mengagung-agungkan mereka meskipun tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan orang-orang Yahudi dan Nashara, tidak hanya terbatas pada sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:

 

“Mereka menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat shalat.”

 

Sebab kenyataannya memang mereka menjadikan kuburan itu sebagai tempat shalat yang dimaksudkan untuk beribadah kepada Allah, mengandung pengertian untuk meminta barakah kepada orang yang dikuburkan di situ. Akhirnya hal ini menyeret mereka dan orang selain mereka kepada kemusyrikan seperti yang diisyaratkan oleh syaikh Al-Qary.

Bersambung….

Foot Note :

—————

1 Hadits hasan, Shahih Ibnu Hibban 296, dan Hakim 1/102, dan Adz-Dzahabi menyepakati keshahihannya

2 ucapan Aisyah ini menunjukkan satu bukti yang gamblang mengapa para sahabat mengubur Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di dalam rumahnya. Hal itu dimaksudkan untuk menutup jalan bagi orang yang hendak membangun masjid di atas kuburannya. Berarti hal itu tidak diperbolehkan. Tapi kondisi ini dijadikan alasan bagi orang lain agar dirinya juga dikuburkan di dalam rumah. Tentu saja ini bertetangan dengan landasan pokok. Sebab sunnah penguburan harus di kuburan khusus. Dalam hal ini Ibnu Urwah berkata dalam Al-Kawakibud-Darary: “Penguburan di kuburan khusus orang-orang Islam lebih disenangi Abu Abdullah (Imam Ahmad) dari pada penguburan di dalam rumah. Sebab hal itu lebih sedikit bahayanya bagi ahli warisnya yang masih hidup dan lebih menyerupai tempat yang mengingatkan kepada kehidupan akhirat. Para sahabat dan Tabi’in serta orang-orang sesudahnya menguburkan jenazah di gurun pasir.” Apabila ada yang mengatakan: “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dikuburkan di dalam rumahnya. Lalu bagaimana dua orang sahabatnya yang juga dikubur di sampingnya?” Dapat kami katakan seperti yang dikatakan Aisyah: “Hal itu dilakukan agar kuburannya tidak dijadikan masjid. Sementara Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menguburkan para sahabatnya di baqi’. Perbuatan beliau jelas lebih mulia dari perbuatan orang lain. Para sahabat sendiri mengetahui pengkhususan penguburan beliau ini, sebab pernah diriwayatkan: “Para nabi dikuburkan di tempat meninggalnya.” Hal ini untuk membedakan beliau dengan orang lain.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhary, 3/156, 198; 8/114; Muslim, 2/67 dan lain-lainnya. Sanadnya shahih.

3 Ibnu Katsir berkata, “Hadits ini terputus. Sebab Umar budak Ghafrah tidak diketahui pada jaman Abubakar.” Begitu pula yang disebutkan di dalam Al-Jami’ul-Kabir, karangan As- Suyuthy.

4 Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhary, 2/422; Muslim, Abu Awanah dan Abu Daud, 2/71; Ahmad, 2/284; abu Ya’la dalam Musnad-nya, 1/278; Ibnu Asakir, 14/367, dari Sa’id bin Al- Musayyab. 5 Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhary, 1/422; 6/386; 8/116; Muslim, 2/67; Abu Awanah, 1/399, An-Nasa’i, 1/115; Ad- Darimy, 1/326, Ahmad, 1/218.

6 Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhary, 1/416, 422; Muslim, 2/66; An-Nasa’i, 1/115; Ibnu Abi Syaibah, 4/140; Ahmad, 6/51; Abu Awanah, 1/400-401; al-Baihaqy, 4/80; Al-Baghawy, 2/425.

7 Hadits riwayat Muslim, 2/67-68; Abu Awanah, 1/401; Ibnu Sa’d, 2/240.

8 hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah, 2/83. Isnadnya shahih dan disyaratkan oleh Muslim.

9 Hadits riwayat Ath-Thayalisy dalam Musnad-nya, 2/113; Ahmad, 5/204, Ath-Thabrany, 22/1.

10 Hadits riwayat Ahmad, 1691, 1694; Ath-Thahawy, 4’13; Abu Ya’la, 57/1; Ibnu Asakir, 8/367/2. Sanadnya shahih.

11 Hadits riwayat Ahmad, 5/184, 186. Orang-orangnya terpecaya selain Ibnu Abdirrahman. Asy-Syaukany mengatakan: “Orang-orangnya jayyid.”

12 Ibnu Abdil-Barr berkata, “Patung sama dengan arca, Rasulullah juga bersabda: “Janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai arca yang dishalati, disujudi dan disembah. Sungguh keras kemarahan Allah kepada orang yang berbuat seperti itu.” Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memperingatkan para sahabatnya dan juga semua umatnya tentang keburukan perbuatan orang-orang sebelum mereka. Mereka mendirikan shalat ke arah kuburan para nabinya, bersujud dan mengagung-agungkannya. Ini merupakan perbuatan syirik yang paling besar. Beliau mengabarkan kepada para sahabat mengenai kemarahan Allah dalam kaitannya dengan masalah ini. Karena hal itu merupakan perbuatan yang sama sekali tidak diridhai. Beliau merasa takut bila para sahabatnya mengikuti cara orang-orang sebelum mereka. Secara keseluruhan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyukai sesuatu yang berbeda dengan kebiasaan Ahli Kitab dan orang-orang kafir. Beliau takut bila umatnya mengikuti cara mereka itu. Anda dapat melihat bagaimana ucapan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang mengandung penghinaan: “Kamu akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kamu dengan mengenakan sandal seperti yang mereka kenakan. Sehingga bila salah seorang di antara mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu pun akan mengikutinya.” Begitulah yang disebutkan di dalam Fathul-Bary, Ibnu Rajab.

13 Hadits riwayat Ahmad, 7352; Ibnu Sa’d, 2/241, Abu Ya’la, 312/1; Abu Nu’aim, 6/283; 7/317. Sanadnya shahih. 14 Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, 1/92/2; Ibnu Hibban, 340, 341; Ibnu Abi Syaibah, 4/140; Ath-Thabrany, 3/77/1; Ahmad, 3844, 4142,

15 Hadits riwayat Ibnu Sa’d; 4/28; Ibnu Asakir,12/172/2.

16 Hadits riwayat Ibnu Zanjawaih dalam buku Fadha’il Ash-Shiddiq, sebagaimana yang disebutkan di dalam buku Al- Jami’ul-Kabir, 3/147/1.

17 Hadits riwayat Abu Ya’la dalam Musnad-nya, 66/2, isnadnya shahih. Al-Haitsamy berkata bahwa orang-orangnya dapat dipercaya.

18 Hadits riwayat Ath-Thabrany di dalam Al-Mu’jamul- Kabir, 3/145/2. Dari Ath-Thabrany diriwayatkan oleh Dhiya’ul- Maqdisy di dalam Al-Mukhtar, dari Abdullah bin kaisan dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, bahwa hadits tersebut marfu’. Dari Abdullah Kaisan, Al-Bukhary menyatakan bahwa hadits tersebut munkar. Sedang Abu Hatim Ar-Razy mengatakan bahwa hadits ini dha’if. An-Nasa’i berkata: Tidak kuat. Tapi kami berpendapat hadits ini shahih. Menurut Ath- Thabrany, di sana ada jalan lain yang lebih baik, yaitu dari Ibnu Abbas, yang juga diterangkan oleh Al-Bukhary di dalam At- Tarikhush-Shaghir, hal. 163.

19 Hadits riwayat Ibnu Hibban, 343.

20 Hadits riwayat Abdurrazzaq, 1591. Isnadnya shahih namun hadits ini mursal.

21 Hadits riwayat Muslim, 3/62; Ibnu Abu Syaibah, 4/134; At- Tirmidzy, 2/155; Ahmad, 3/339, 399. Hadits dari Jabir yang berisi larangan membangun masjid di afas kuburan ini shahih, dan diketahui secara persis oleh orang yang mempunyai ilmu.

Advertisements

One Response

  1. jazakallohu khoir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: