Wahai Saudaraku Hendak Kemana Kau Pergi?

Wahai Saudaraku Hendak Kemana Kau Pergi?

oleh : Ahmad Al-Imran

Pengantar

Segala puji hanya milik Allah subhanahu wata’aala. Kita memuji, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, bertaubat dan berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi oleh Allah petunjuk maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan maka tiada yang dapat menunjukinya. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga shalawat dan salam tetap tercurah atas beliau, seluruh keluarga, sahabat dan para pengikutnya.

Banyak orang yang salah mengukur kebahagiaan sehingga salah jalan mengarungi kehidupan bahkan di antara mereka ada yang menganggap kesesatan dan kehancuran sebagai sumber kebahagiaan sehingga menghalalkan segala cara dan sarana untuk meraih tujuan. Padahal tujuan utama hidup manusia adalah untuk mewujudkan pengabdian, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’aala:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz Dzariyaat: 56).

Berarti kita makan untuk hidup bukan hidup hanya untuk makan sehingga tidak berbeda dengan hewan, pertama bentuk dan gaya hidup orang mukmin dan kedua bentuk dan karakter gaya hidup orang kafir, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’aala:

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ (2) ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

“Orang-orang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (Al Hijr: 2-3).

Kemanakah wahai anak manusia kalian akan melangkahkan kaki, ke Surga atau ke tempat Neraka Jahim Maka sebelum menyesal di akhirat tentukanlah ayunan langkah itu dengan baik sebab dunia adalah tempat menyemai benih pahala bagi orang yang berharap kehidupan bahagia di dunia dan akhirat.

Wahai Saudariku, Hendak Ke mana Kalian?

Segala puji hanya milik Allah. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada junjungan kita nabi besar Muhammad Rasulullah.

Wahai saudariku, banyak sekali untaian nasehat dilantunkan maka manakah orang yang mau mendengarnya?! Semua hakikat kebenaran telah ditampakkan maka manakah orang yang mau mengkajinya?! Jalan telah bersinar terang-benderang maka manakah orang yang mau menitinya?! Ke mana kamu akan melangkahkan kaki dan hendak ke mana kamu akan pergi? Akankah kamu melangkah, ke Surga atau ke Neraka? Bukankah kamu mengetahui bahwa setiap detak nafasmu tertulis dalam catatan amal, setiap untaian kata-katamu terekam dan seluruh niatmu diketahui serta seluruh gerak-gerikmu terhitung, sebagaimana firman Allah:

‏ أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (Al Qiyamah: 36).

Dan kematian telah mendekatimu begitu pula uban sudah mulai memberi tahu bahwa ajalmu akan segera tiba, di hadapanmu telah menunggu sebuah kampung hunian yang harus kamu kunjungi, maka bangunlah dari tidurmu dan sadarlah dari kelalaianmu.

Kampung tersebut tidak lain adalah kampung kematian yang disebut oleh Allah dengan istilah musibah sebagaimana dalam firman Allah:

إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُالْمَوْتِ

“Jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian.” (Al Maidah: 106).

Sebagian alim ulama berkomentar tentang kematian, “Ketahuilah bahwa tidak ada yang bisa mengetahui sakitnya sakaratul maut secara persis kecuali orang yang telah merasakannya. Adapun yang belum pernah merasakan hanyalah tahu dari ibarat rasa sakit yang dirasakan saat ini. Rasa sakit pada saat nyawa dicabut sangatlah berat hingga menyebar ke seluruh tubuh, urat saraf, tulang sumsum dan seluruh persendian bahkan seluruh pangkal rambut hingga ujung kaki terasa sakit dan menahan kepedihan yang amat sangat. Jangan bertanya tentang kepedihan dan penderitaan pada saat sakaratul maut, hingga para alim ulama berkata bahwa sakitnya melebihi sakit yang disebabkan oleh sabetan pedang, lebih pedih daripada digergaji atau badan dicabik-cabik dengan alat pemotong. Sakitnya sabetan pedang, gergajian atau yang lainnya itu hanya menyentuh roh, oleh sebab itu bagaimana bila yang ditarik dan dicabut langsung rohnya.

Orang yang dipukul anggota tubuhnya masih bisa berteriak karena masih ada kekuatan dalam hati dan lisannya, tetapi orang yang sedang menghadapi sakaratul maut dia sudah tidak mampu lagi untuk bersuara apalagi berteriak, karena kekuatan sudah melemah dan kepedihan sudah sampai pada titik klimaks hingga menyayat-nyayat hati. Begitu pula seluruh jasad menahan perih dan pedih yang amat sangat yang membuat seluruh organ tubuh menjadi lunglai dan lemas terkulai, sehingga tidak mempunyai kekuatan untuk berteriak meminta bantuan.

Sementara pikiran kalut dan bingung menahan derita, lisan menjadi bisu dan seluruh persendian serta seluruh ruas jari lemah terkulai. Andaikata sang mayit mampu merintih dan berteriak untuk melupakan kepedihan maka akan dia lakukan. Tetapi hal itu sangatlah tidak mungkin, kalaupun masih tersisa kekuatan maka ia hanya sanggup mendengar suara roh dicabut dan menahan kepedihan saat nyawa ditarik dengan suara dengkuran dan suara sekarat yang terdengar di tenggorakan dan dada, semua warna kulit berubah dan rasa sakit amat sangat menyebar ke seluruh tubuh bagian luar maupun dalam, mata melotot, mulut terkunci rapat, ujung jari-jari menggenggam, urat nadi, seluruh otot dan jasad mulai membeku serta anggota tubuh mulai mati satu per satu yang diawali dari telapak kaki yang dingin lalu betis. Setiap anggota tubuh mengalami sekarat dan kepedihan hingga sampai tenggorokan maka mulai saat itulah sudah putus perhatian dan harapannya terhadap dunia dan keluarga serta tertutuplah pintu taubat. (Ihya ‘Ulumuddin 4/461).

Wahai Dzat Pengambil nyawa dari jiwa manusia pada saat kematian, wahai Dzat Pengampun dosa jauhkanlah kami dari Neraka.

Kampung hunian yang kedua adalah kuburan, bila Utsman bin Affan radhiallahu `anhu berdiri di depan kuburan, maka ia menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya, dikatakan kepadanya, “Kamu diingatkan akan Surga dan Neraka kamu tidak menangis tetapi mengapa kamu menangis karena ini?” Maka beliau berkata, “Kuburan adalah awal kampung hunian alam akhirat. Barangsiapa sukses di alam ini maka setelah itu lebih mudah dan barangsiapa tidak selamat maka setelah itu lebih susah.” Kemudian beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,

مَا رَأَيْتُ مَنْظرًا قَطُ إلاَّ وَالقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ

“Tiada pemandangan yang pernah saya lihat melainkan kuburan adalah yang paling menyeramkan.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

فَارَقْتُ مَوْضِعَ مَرْقَدِي يَوْمًا فَفَارَقَنِي السُكُوْنُ
القَبْرُ أَوَّلُ لَــيْلَةٍ بِاللهِ قُلْ لِيْ مَــا يَكُوْنُ

Aku berpisah dengan tempat pembaringanku pada suatu hari maka aku akan berpisah dengan ketenangan.

Alam kubur adalah malam pertama, demi Allah, katakan kepadaku apa yang akan terjadi.

Dalam hadits Barra’ bin Azib radhiallahu `anhu yang panjang, bahwa tatkala Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam duduk di kuburan beliau bersabda, “Berlindunglah kepada Allah dari adzab kubur.” Ucapan itu diulang hingga dua atau tiga kali, … kemudian beliau bersabda setelahnya, “Maka rohnya dikembalikan ke dalam jasadnya lalu datang dua malaikat dan mendudukkannya, maka keduanya bertanya kepadanya, “Siapa Tuhanmu?” Maka ia menjawab, “Tuhanku adalah Allah.” Keduanya bertanya lagi, “Apa agamamu?” Maka ia menjawab, “Agamaku Islam?” Keduanya bertanya lagi, “Siapa orang yang diutus kepadamu menjadi nabi?” Ia menjawab, “Dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam.” Lalu keduanya bertanya kepadanya, “Bagaimana bisa tahu hal itu?” Ia menjawab, “Saya membaca Kitabullah lalu saya beriman dan membenarkannya.” Maka terdengar dari langit suara panggilan yang memanggil, “Jawaban hamba-Ku sudah benar maka siapkan surganya.” Lalu alam kuburnya diluaskan seluas pandangan matanya. Beliau bersabda, “Maka datanglah seorang laki-laki yang berwajah tampan, berpakaian bagus dan mengenakan wewangian lalu ia berkata, “Bergembiralah dengan sesuatu yang pernah dijanjikan kepadamu.” Maka si mayit bertanya kepadanya, “Siapa kamu? Wajahmu datang membawa kebaikan.” Maka ia menjawab, “Saya adalah amal shalihmu.” Maka ia berkata, “Ya Allah, bangkitkan hari Kiamat hingga aku bisa kembali kepada keluargaku dan hartaku…” Kemudian beliau menceritakan kematian orang kafir beliau bersabda, “Maka rohnya dikembalikan kepada jasadnya lalu datanglah dua malaikat dan mendudukkannya lalu keduanya bertanya kepadanya, “Siapa Tuhanmu?” Ia menjawab, “Ha… ha… saya tidak tahu.” Lalu keduanya bertanya lagi, “Apa agamamu?” Ia menjawab, “Ha… ha.. saya tidak tahu.” Keduanya bertanya lagi, “Siapa orang yang diutus kepadamu menjadi nabi?” Ia menjawab, “Ha.. ha.. saya tidak tahu.” Maka suara panggilan memanggil dari atas langit, “Dia berdusta. Siapkanlah tempat hunian di neraka dan bukalah untuknya pintu ke neraka.” Maka datanglah panasnya dan racunnya sehingga membuat kuburan menjadi sesak dan pengap hingga tulang rusuknya berantakan dan datanglah seorang laki-laki yang berwajah buruk, berpakaian kumal dan berbau busuk. Lalu ia berkata, Bergembiralah dengan nasib buruk ini yang telah dijanjikan kepadamu sebelumnya.” Si mayit bertanya, “Siapa kamu? Yang datang berwajah buruk.” Ia menjawab, “Saya adalah amal burukmu.” Maka ia berkata, “Ya Tuhanku janganlah Engkau bangkitkan hari Kiamat.” (HR. Abu Daud).

Begitulah wahai saudariku, kenikmatan surga bisa sampai kepada orang pada saat masih berada di alam kubur dan demikian pula siksaan sampai kepada orang pada waktu masih berada di alam kubur hingga Malaikat Israfil meniup sangkakala sebagai pertanda hari Kiamat tiba.

وَلَوْ أَناَّ إِذاَ مِتْنَا تُرِكْنَا لَكَانَ المَوْتُ غَايَةَ كُلِّ حَيٍّ
وَلَكِنَّا إِذا مِتْنَا بُعِثْنـَا و نُسْأَلُ بَعْدَهُ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ

“Jika tatkala kita telah mati dibiarkan maka kematian menjadi keinginan setiap yang hidup.”

“Tetapi tatkala kita mati pasti dibangkitkan dan ditanya setelah itu tentang segala sesuatu.”

Dengarlah wahai saudariku, kepada Tuhan Yang Maha Perkasa yang telah berfirman:

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاء اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَام يَنْظُرُونَ

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu putusannya masing-masing.” (Az Zumar: 68).

Dan Allah mensifati kejadian itu dalam surat Yasiin sebagaimana Allah berfirman yang artinya:

“Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata, “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah rasul-rasul(Nya). Tidaklah adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami.” (Yasiin: 51-53)

Masing-masing manusia akan dibangkitkan dari alam kubur mereka sesuai dengan kondisi amal perbuatan mereka pada saat kematian, yang baik akan mendapat husnul khatimah dan yang buruk akan mendapat su’ul khatimah. Semoga kita terlindung darinya. Allah berfirman:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Al Baqarah: 275).

Dari Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

تَخْرُجُ النَّائِحَةُ مِنْ قَبْرِهَا يَوْمَ القِيَامَةِ شَعْثَاءَ غَبْرَاءَ عَلَيْهَا جِلْبَابٌ مِنْ لَعْنَةِ اللهِ وَدِرْعٌ مِنْ نَارٍ وَيَدُهَا عَلَى رَأْسِهَا تَقُوْلُ يَا وَيْلاَه.

“Wanita yang meratapi kematian akan keluar dari 4alam kubur pada hari Kiamat berambut kusut dan tidak teratur, kepalanya mengenakan jilbab dari laknat Allah dan pakaian dari api dan tangannya berada di atas kepala lalu berkata: Aduh celakalah aku.”

Lafazh lain yang berbeda dengan hadits di atas seorang sahabat yang meninggal pada saat sedang ihram haji maka beliau bersabda:

اغْسِلُوْا بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبِهِ ولاَ تَمَسُّوهُ بِطِيْبٍ ولاَ تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ فَإِنَّه يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا.

“Mandikanlah dengan air dan daun bidara lalu kafanilah dengan pakaiannya dan jangan diberi minyak wangi dan jangan kalian tutup kepalanya dengan penutup karena nanti dibangkitkan pada hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyah.” (HR. Muslim).

Mahsyar

Setelah kebangkitan akan berlanjut dengan mahsyar, semua manusia terdahulu dan terkemudian akan berkumpul di tempat itu, anak bersama bapaknya, pembunuh bersama dengan orang yang dibunuh, orang zhalim bersama orang yang dianiaya dan penyebar fitnah bersama dengan orang yang difitnah, sebagaimana firman Allah:

قُلْ إِنَّ الْأَوَّلِينَ وَالْآَخِرِينَ (49) لَمَجْمُوعُونَ إِلَى مِيقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُومٍ

“Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian, benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang kekal.” (Al Waqi’ah: 49-50). Allah berfirman:

هَذَا يَوْمُ الْفَصْلِ جَمَعْنَاكُمْ وَالْأَوَّلِينَ

“Ini adalah hari keputusan; (pada hari ini) Kami mengumpulkan kamu dan orang-orang yang terdahulu.” (Al Mursalaat: 38).

Wahai saudariku, pada saat anda dibangkitkan dalam keadaan telanjang dan tidak beralas kaki, maka Aisyah radhiallahu `anha bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alahi wasallam : Wahai Rasulullah, kaum laki-laki berkumpul bersama kaum wanita, satu sama lain saling melihat? maka Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

يَا عَائِشَةُ الأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ.

“Wahai Aisyah perkara yang dihadapi lebih berat daripada saling memandang satu sama lain.” (Muttafaqun’ alaih)

Ibnu Abbas radhiallhu `anhuma berkata, “Semua makhluk dikumpulkan hingga lalat.” dan Allah berfirman, yang artinya:“Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (At Takwir: 5).

Pada saat itu:

يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ ‏

“Lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras.” (Al Haj: 2).

Pada hari itu:

يَوْمَ تَأْتِي كُلُّ نَفْسٍ تُجَادِلُ عَنْ نَفْسِهَا وَتُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُون

“Tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya sendiri dan bagi tiap-tiap diri disempurnakan (balasan) apa yang telah dikerjakan sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan).” (An Nahl: 111).

Dan pada hari itu:

يَوْمَ لَا يُغْنِي مَوْلًى عَنْ مَوْلًى شَيْئًا وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ ‏

“Seorang karib tidak dapat memberi manfaat kepada karibnya sedikitpun.” (Ad Dukhan: 41).

Setiap manusia hanya sibuk dengan urusan pribadi masing-masing, matahari didekatkan satu mil, manusia terkungkung dengan keringatnya, di antara mereka ada yang tenggelam oleh keringatnya hingga pusar, ada yang hingga dada, ada yang hingga telinga dan di antara mereka ada yang tenggelam seluruh tubuhnya di dalam keringatnya sendiri.

Adapun bentuk manusia di mahsyar terbagi menjadi tiga kelompok:

Dari Abu Hurairah radhiallahu `anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ القِيَامَةِ ثَلاَثَةُ أَصْنَافٍ، صِنْفاً مُشَاةً وصِنْفًا رُكْبَانًا وصِنْفًا عَلَى وُجُوْهِهِم. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ يَمْشُوْنَ عَلَى وُجُوْهِهِمْ؟ قَالَ: إنَّ الَّذِي أَمْشَاهُمْ عَلَى أَقْدَامِهِمْ قَادِرٌ أنْ يُمْشِيَهُمْ عَلَى وُجُوْهِهِمْ أَمَّا أَنَّهُمْ يَتَّقُوْنَ بِوُجُوهِهِمْ كُلَّ حَدْبٍ وَشَوْكٍ

“Manusia dikumpulkan pada hari Kiamat dalam tiga kelompok, kelompok pejalan kaki, kelompok pengendara dan kelompok berjalan di atas wajahnya. Rasulullah ditanya, “Wahai Rasulullah bagaimana mereka bisa berjalan di atas wajahnya?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Dzat Yang Mampu membuat kaki mereka berjalan mampu membuat mereka berjalan di atas wajah mereka, sesungguhnya mereka menjaga segala sesuatu dan diri dengan wajah mereka.” (HR. At-Tirmidzi).

Catatan Amal dan Hisab Bertebaran

Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu `anha, ia berkata, “Saya menangis tatkala mendengar cerita Neraka, maka Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, Kenapa kamu menangis, saya berkata: Neraka diceritakan kepadaku lalu aku menangis, apa engkau masih ingat keluargamu pada hari Kiamat?” Beliau bersabda,

أمَّا فيْ ثَلاَثَةِ مَوَاطِنَ فلاَ يَذْكُرُ أَحَدٌ أَحَدًا، عِنْدَ المِيْزَانِ حَتَّى يَعْلَمَ أيَخِفُّ مِيْزَانٌ أمْ يَثْقُلُ، وعِنْدَ تَطَايُرِ الصُّحُفِ حَتَّى يَعْلَمَ أيْنَ يَقَعُ كِتَا بُهُ أَفِي يَمِيْنِهِ أَمْ فِي شِمَالِهِ أَمْ فِي وَرَاءِ ظَهْرِهِ ، وعِنْدَ الصِّرَاطِ إذَا وَضَعَ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ حَتَّى يَجُوزَ.

“Adapun dalam tiga tempat maka masing-masing orang tidak mengingat orang lain, pada saat penimbangan hingga tahu apakah amalnya ringan atau berat, dan pada waktu catatan amal bertebaran hingga jelas apakah buku catatan itu akan jatuh di tangan kanannya atau tangan kirinya atau di belakang punggungnya, dan pada saat meniti shirath tatkala di hamparkan di atas Neraka Jahannam hingga sukses meniti.” (HR. At-Tirmidzi).

Allah berfirman:

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ (7) فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (Al-Insyiqaq: 7-8).

Dan Allah berfirman:

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ (19) إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ (20) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (21) فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ (22) قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ (23) كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ (24) وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ (25) وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ (26) يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ (27) مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (28) هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ (29) خُذُوهُ فَغُلُّوهُ (30) ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ (31) ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ (32) إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ (33)

“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: “Ambillah, bacalah kitabku (ini).” Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku, wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku” (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya kemudian masuklah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah yang Maha Besar.” (Al Haqqah: 19-33).

Cobalah renungkan wahai saudariku, bila buku catatan amal telah bertebaran, timbangan telah ditegakkan dan masing-masing dipanggil namanya di hadapan orang banyak, di manakah fulanah binti fulan? Datanglah menghadap kepada Allah. Pada saat itu yang ditugasi mengambil kalian adalah malaikat lalu didekatkan ke tempat hisab yang tidak mungkin salah meskipun banyak nama yang serupa. Kamu akan melalui antrian panjang untuk menunggu giliran (menghadap) Allah. Pada saat itu semua pandangan makhluk tertuju kepadamu, hati berdebar, jantung berdetak kencang dan keadaan menjadi gelisah tatkala kamu tahu tempat yang telah ditentukan untukmu.

Renungkanlah bila sekarang di tanganmu terdapat catatan hasil nilai amal perbuatan yang tidak menyisakan sedikitpun rahasia dan dosa, semua tertulis jelas, berapa banyak dosa yang kamu lupakan diingatkan dalam catatan itu, berapa banyak keburukan yang kamu sembunyikan ditampakkan dan berapa banyak amalan yang kamu anggap menguntungkan ternyata menjadikan kamu merugi pada saat itu. Betapa sangat merugi dan menyesalnya hatimu terhadap setiap kelengahan dalam mentaati Tuhanmu. Pada hari dirimu menghadapi hisab sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ سَيُكَلِّمُهُ اللهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ فَيَنْظُرُ أيْمَنَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ مَا بَيْنَ يَدَيْهِ فَلاَ يَرَى إِلاَّ النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ فَاتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ. وَفِيْ رِوَايَةٍ ” وَلَوْ بِكَلِمَةٍ طَيِّبَةِ “.

“Tidaklah di antara kamu sekalian pasti akan diajak bicara oleh Allah tanpa terkecuali, tidak ada di antara Allah dan dia penerjemah, dia memandang ke sebelah kanan darinya dan tidak melihat kecuali amalan yang telah dikerjakan. Dan dia memandang ke sebelah kiri darinya dan tidak melihat kecuali amalan yang telah dikerjakan, dan memandang ke arah depannya dan tidak melihat kecuali neraka sudah di depan mukanya, maka jagalah dirimu dari Neraka walaupun hanya sekedar dengan separuh kurma.” Dalam riwayat lain: “walaupun dengan perkataan yang bagus.” (Muttafaqun’ alaih)

Telaga Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam

Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam, pada saat tersebut memiliki telaga dan kondisinya, telah dijelaskan dalam suatu hadits bahwa airnya lebih putih daripada susu, aromanya lebih harum daripada minyak kasturi, cangkir-cangkirnya laksana bintang di langit, dan barangsiapa meminum darinya maka tidak akan merasa haus selamanya. (Muttafaqun’ alaih).

Apakah kamu sudah tahu wahai saudariku, bahwa di sana ada di antara umat Muhammad yang dihalau dari telaga itu. Karena Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

تَرِدُ عَلَيَّ أُمَّتِي الْحَوْضَ ، وَ أنَا أَذُوْدُ النَّاسَ عَنْهُ ، كَمَا يَذُوْدُ الرَّجُلُ إِبِلَ الرَّجُلِ عَنْ إبِلِهِ، قَالُوْا: يَا نَبِيَّ اللهِ أَتَعْرِفُنَا؟ قَالَ: نَعَم. لَكُمْ سِيَمٌ لَيْسَتْ لأحَدٍ غَيْرَكُمْ، تَرِدُوْنَ غُرًّا مُحَجَّلِيْنَ مِنْ آثاَرِ الْوُضُوْءِ ولَيَصُدَّنَّ عَنِّي طَائِفَةٌ مِنْكُمْ، فَلاَ يَصِلُوْنَ، فَأَ قُوْلُ: يَا رَبِّ هَؤُلاَءِ أَصْحابِيْ، فَيَجِيْءُ مَلَكٌ فَيَقُوْلُ: وَهَلْ تَدْرِيْ مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ.

“Umatku akan melewati telagaku, saya menghalau manusia untuk sampai ke tempat telaga itu seperti orang menghalau unta orang lain dari ontanya. Mereka bertanya: Wahai Nabiyullah, apakah engkau masih mengenali kami? Beliau menjawab: Ya. Kalian mempunyai tanda yang tidak dimiliki oleh seorangpun selain kalian, kalian akan melewati telaga itu dalam keadaan anggota tubuh bersinar bekas wudhu, dan di antara kalian ada yang dihalangi untuk melewati telagaku, akhirnya tidak sampai, maka aku berkata: Wahai Tuhanku, mereka adalah sahabatku, maka datanglah malaikat lalu berkata: Apakah kamu tahu apa yang terjadi pada mereka sepeninggalmu?” (HR. Muslim).

Maka hati-hatilah wahai saudariku, jangan sampai engkau termasuk orang yang dihalau dari telaga Nabi shallallahu ‘alahi wasallam.

Timbangan (Mizan)

Allah subhanahu wata’aala berfirman:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ ‏

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (Al Anbiyaa’: 47).

Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

يُوْضَعُ المِيْزَانُ يَوْمَ القِيَامَةِ فَلَوْ وُزِنَ فِيْهِ السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ لَوَسِعَتْ فَتَقُوْلُ المَلاَئِكَةُ: يَا رَبِّ لِمَنْ يَزِنُ هَذَا فَيَقُوْلُ اللهُ تَعالىَ: لِمَنْ شِئْتُ مِنْ خَلْقِي، فَتَقُوْلُ المَلاَئِكَةُ: سُبْحَانَك مَا عَبَدْنَاكَ حَقَّ عِبَادَتِكَ.

“Timbangan dipasang pada hari Kiamat, jikalau dibuat untuk menimbang langit dan bumi maka akan cukup, maka malaikat berkata, “Wahai Tuhanku, untuk siapa timbangan itu?” Maka Allah berfirman, “Untuk siapa saja dari makhluk-Ku yang Aku kehendaki.” Malaikat berkata, “Mahasuci Engkau, berarti kami belum beribadah dengan benar-benar ibadah.”

Bagi orang yang timbangannya berat akan mendapatkan keuntungan dan kemenangan dan bagi orang yang ringan timbangannya, akan mendapatkan kerugian dan kesengsaraan sebagaimana firman Allah subhanahu wata’aala:

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ (6) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (7) وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ (8) فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ (9) وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ (10) نَارٌ حَامِيَةٌ (11)‏

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu (yaitu) api yang sangat panas.” (Al Qari’ah: 6-11)

Sirath (Titian)

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa bentuk sirath lebih lembut dari rambut dan lebih tajam dari pedang serta di atasnya terdapat pengait-pengait yang sangat besar yang menyambar manusia sesuai dengan amalannya. Di antara mereka ada yang terlempar tetapi selamat dan ada yang berhasil melewati tetapi terdapat bekas cakaran serta ada yang terjungkal ke dalam neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

يُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ جَهَنَّمَ فَأَكُوْنُ أنَا وَأُمَّتِي أَوَّلَ مَنْ يَجُوْزُ وَلاَ يَتَكَلَّمُ يَوْمَئِذٍ إلاَّ الرُّسُلُ وَدَعْوَى الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ وَفِىْ جَهَنَّمَ كَلاَلِيْبُ مِثْلُ شَوْكِ السَعْدَانِ هَلْ رَأَيْتُمُ السَّعْدَانَ؟ قَالُوْا : نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: فَإِنَّهَا مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يُعْلَمُ قَدْرُ عِظَمِهَا إلاَّ اللهُ، تَخْطِفُ النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ فَمِنْهُمُ الْمُوْبِقُ بِعَمَلِهِ وَمِنْهُمُ المُجَازِىْ حَتَّى يُنْجِيَ.

“Dihamparkan sirath (titian) di antara dua tepi Neraka Jahannam, aku dan umatku orang yang pertama kali melaluinya, tidak ada yang berbicara pada hari itu kecuali para rasul, dan doa para rasul pada hari itu, ‘Ya Allah selamatkan, selamatkan. Di Neraka Jahannam terdapat pengait-pengait seperti duri Sa’dan, apakah kalian pernah melihat duri Sa’dan?” Mereka menjawab: “Ya Wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya dia seperti duri Sa’dan tetapi tidak ada yang mengetahui besar ukurannya kecuali Allah, yang menyambar manusia sesuai dengan amalan mereka. Di antara mereka ada yang celaka karena amalannya dan ada yang lolos hingga sukses.” (HR. Muslim).

Manusia yang melewati sirath bermacam-macam, ada yang lewat di atasnya laksana kilat yang menyambar, ada yang lewat laksana angin, ada yang lewat laksana burung dan Nabi kalian shallallahu ‘alahi wasallam berdiri di ujung sirath seraya berdoa:

يَا رَبِّ سَلِّمْ سَلّمْ، حَتَّى يَجِيْءَ الرَّجُلُ ولاَ يَسْتَطِيْعُ السَّيْرَ إلاَّ زَحْفًا وَفيْ حَافَتَيْ الصِّرَاطِ كَلاَلِيْبُ مُعَلَّقَةٌ مَأْمُوْرَةٌ بِأَخْذِ مَنْ أُمِرَتْ بِأَخْذِهِ فَمَخْدُوْشٌ نَاجٍ ومُكَرْدَسٌ فِيْ النَّارِ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إنَّ قَعْرَ جَهَنّمَ لَسَبْعُوْنَ خَرِيْفًا.

“Ya Rabbi, selamatkan, selamatkan hingga datang seseorang yang tidak mampu berjalan kecuali merangkak dan di sekitar sirath terdapat pengait-pengait yang menggantung yang diperintah untuk mengambil orang yang telah diizinkan untuk diambil, di antara mereka ada yang membekas terkena cakaran tetapi selamat dan ada yang terbelenggu masuk ke dalam Neraka, demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, kedalaman neraka Jahannam (sedalam) tujuh puluh tahun.” (HR. Muslim).

Dan Allah subhanahu wata’aala berfirman:

يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ‏

“Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maka Kuasa atas segala sesuatu.” (At Tahrim:8).

Surga

Dia adalah cahaya yang berkilau, bau harum yang semerbak, istana yang sangat megah, sungai yang indah, buah-buhan yang banyak lagi masak dan isteri-isteri yang cantik. Bahan bangunannya terdiri dari batu bata emas dan perak, lumpur lepannya kasturi dan minyak adkhar, kerikilnya permata dan mutiara, dan tanahnya za’faran, siapa yang memasukinya maka dia akan kekal dan tidak pernah bosan, kekal dan tidak pernah mati, serta tidak pernah rusak pakaiannya dan tidak pernah habis masa mudanya.

Di dalamnya terdapat segala sesuatu yang memikat dan menyenangkan hati serta pandangan, di dalamnya terdapat segala sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terpikirkan oleh akal pikiran. Oleh karena itu, Allah subhanahu wata’aala berfirman:

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (As Sajdah: 17).

Makanan ahli surga seperti dalam firman Allah subhanahu wata’aala:

وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ (20) وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ (21)‏

“Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (Al Waqi’ah: 20-21).

Minuman ahli surga seperti dalam firman Allah subhanahu wata’aala:

إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا (5) عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا (6)‏

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur, (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.” (Al Insan: 5-6).

Pakaian ahli Surga seperti dalam firman Allah subhanahu wata’aala:

يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ ‏

 

“Di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera.” (Fathiir: 33).

Dan Allah subhanahu wata’aala berfirman:

يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا ‏

“Dalam Surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, dan mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya dan tempat istirahat yang indah.” (Al Kahfi: 31).

Tempat tidur ahli Surga seperti dalam firman Allah subhanahu wata’aala:

فِيهَا سُرُرٌ مَرْفُوعَةٌ (13) وَأَكْوَابٌ مَوْضُوعَةٌ (14) وَنَمَارِقُ مَصْفُوفَةٌ (15) وَزَرَابِيُّ مَبْثُوثَةٌ (16)‏

“Di dalamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya), dan bantal-bantal sandaran yang tersusun dan permadani-permadani yang terhampar.” (Al Ghasyiyah: 13-16).

Dan Allah subhanahu wata’aala berfirman:

مُتَّكِئِينَ عَلَى فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ

“Maka mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera.” (Ar Rahman: 54).

Sungai-sungai Surga seperti dalam firman Allah subhanahu wata’aala:

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آَسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ

“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya. Sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal dalam neraka, dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (Muhammad: 15).

Pepohonan di Surga seperti dalam firman Allah subhanahu wata’aala:

وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ (27) فِي سِدْرٍ مَخْضُودٍ (28) وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ (29) وَظِلٍّ مَمْدُودٍ (30) وَمَاءٍ مَسْكُوبٍ (31)

“Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah.” (Al Waqi’ah: 27-31).

Dan penghuni Surga akan kekal di dalamnya sebagaimana firman Allah subhanahu wata’aala:

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا (107) خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا (108)‏

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya.” (Al Kahfi: 107-108).

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

يُؤْتَي بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أَمْلَحَ فَيُنَادِي بِهِ مُنَادٍ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ فَيَشْرَبُوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ فَيَقُوْلُ: هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: نَعَمْ. هَذا الْمَوْتُ. وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ، ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ: يَا أَهْلَ النَّارِ، فَيَشْرَ بُوْنَ ويَنْظُرُوْنَ. فَيَقُوْل: هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: نَعَمْ. هَذَا الْمَوْتُ. وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ. فَيُذْبَحُ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، ثُمَّ يَقُوْلُ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْدٌ بِلاَ مَوْتٍ وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُوْدٌ بِلاَ مَوْتٍ.

“Kematian didatangkan seperti bentuk kambing kibas yang sangat gemuk, maka ada suara yang memanggil, “Wahai penghuni Surga!” Maka mereka yang sedang minum saling memandang. Maka Allah berfirman, “Apakah kalian tahu siapakah ini?” Mereka berkata, “Ya, itu adalah kematian.” Dan semua telah melihatnya, kemudian suara memanggil, “Wahai penghuni Neraka. Mereka yang sedang minum saling memandang. Maka Allah berfirman, “Apa-kah kalian tahu siapakah ini?” Mereka berkata, “Ya, itu adalah kematian.” Semua telah melihatnya. Lalu kematian itu disembelih di suatu tempat antara Surga dan Neraka. Kemudian Allah berfirman, “Wahai Penghuni Surga, kekal bagimu tidak ada kematian dan wahai penghuni Neraka, kekal bagimu tidak ada kematian.” (HR. Al-Bukhari).

Pada saat itu ada tambahan kenikmatan yang besar, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’aala:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ (22) إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (23)‏

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (Al Qiyamah: 22-23).

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

إذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ يَقُوْلُ اللهُ تَعَاليَ: تُرِيْدُوْنَ شَيْئًا أَزِيْدُكُمْ؟ فَيَقُوْلُوْن: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوْهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجنَّةَ ونَجَّيْتَنَا مِنَ النَّارِ. قاَلَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوْا شَيْئًا أَحَبَّ إلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إلي رَبِّهِمْ. ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ أْلآيَةَ (لِلَّذِينَ أَحُسَنُو الْحُسَنَى وَزِيَادَةٌ)

“Apabila penghuni surga telah memasuki Surga maka Allah berfirman, “Apakah kalian menginginkan sesuatu yang Aku akan menambahi kepada kalian?” Mereka berkata, “Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga dan bukankah Engkau telah menyelamatkan kami dari neraka?” Beliau bersabda, “Maka tersingkaplah tabir, maka tidak diberikan sesuatu yang paling mereka cintai melainkan melihat kepada Tuhan mereka. Lalu beliau membaca firman Allah, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (Yunus 26).(HR. Muslim).

Neraka

Neraka adalah tempat yang disiapkan oleh Allah untuk menjatuhkan sanksi bagi orang-orang yang durhaka kepada Allah subhanahu wata’aala dan para rasul-Nya. Sebagian ulama salaf tatkala neraka disebut, tidak bisa tidur dan tidak bisa tertawa hingga Said bin Jubair radhiallahu `anhu berkata, “Bagaimana seorang hamba bisa tertawa sementara Neraka Jahannam telah dinyalakan dan belenggu-belenggu telah disiapkan serta malaikat Zabaniyah telah dikerahkan?”

Bagaimana tidak takut, sementara mereka tahu persis bahwa, “Penghuni Neraka yang paling ringan siksaannya adalah orang yang diberi dua sandal terbuat dari api lalu sandal itu membuat ubun-ubunnya mendidih seperti air mendidih dalam bejana.” (Muttafaqun’ alaih).

Bagaimana tidak, mereka sangat faham bahwa, “Neraka itu dinyalakan selama seribu tahun hingga memutih dan seribu tahun hingga memerah serta seribu tahun hingga menghitam hingga berubah menjadi hitam pekat.”

Bagaimana tidak, mereka sangat faham bahwa, “Neraka telah mengeluh kepada Allah dan berkata: Kami saling memakan satu sama lain, maka izinkanlah kami bernafas dua kali, sekali pada saat musim dingin dan sekali pada saat musim panas, pada saat kalian merasakan panasnya musim panas itu adalah racun-racun ganasnya dan pada saat kamu kedinginan pada musim dingin itu adalah hawa dinginnya neraka.”

Bagaimana tidak, mereka sangat faham bahwa, “Akan didatangkan nanti pada hari Kiamat, Neraka Jahannam yang memiliki tujuh puluh ribu kendali dan setiap kendali dikendalikan oleh tujuh puluh ribu malaikat.” (HR. Muslim).

Dan bagaimana tidak, mereka tahu bahwa penghuni Neraka akan diseret ke sana ke mari, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’aala:

يَوْمَ يُسْحَبُونَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ ‏

“(Ingatlah) pada hari mereka diseret ke Neraka atas muka mereka. (dikatakan kepada mereka), “Rasakanlah sentuhan api Neraka”. (Al Qamar: 48).

Bagaimana tidak, mereka sangat faham bahwa pakaian mereka sebagaimana firman Allah subhanahu wata’aala:

هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ ‏

“Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api Neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.”(Al-Hajj: 19).

Dan Allah subhanahu wata’aala berfirman:

سَرَابِيلُهُمْ مِنْ قَطِرَانٍ وَتَغْشَى وُجُوهَهُمُ النَّارُ

“Pakaian mereka adalah dari pelankin (Ter) dan muka mereka ditutup oleh api Neraka.” (Ibrahim: 50).

Bagaimana tidak, mereka faham sekali makanan penghuni Neraka sebagaimana firman Allah subhanahu wata’aala yang artinya:“Sesungguhnya pohon zaqum itu, makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut seperti mendidihnya air yang sangat panas.” (Ad Dukhan: 43-46).

Dan Allah subhanahu wata’aala berfirman yang artinya:“Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah.” (Al Haqqah: 35-36).

Bagaimana tidak, mereka sangat faham bahwa minuman mereka sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wata’aala yang artinya:“Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (Al Kahfi: 29).

Bagaimana tidak, mereka tahu bahwa mereka disiapkan cambuk-cambuk dari besi sebagaimana firman Allah subhanahu wata’aala yang artinya:“Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi.” (Al Haj: 21).

Dan bagaimana tidak, mereka sangat paham bahwa penghuni Neraka disiapkan bagi mereka rantai seperti firman Allah subhanahu wata’aala: “Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.” (Al Haqqah: 32).

Para ulama ahli tafsir menyatakan bahwa rantai itu dimasukkan ke dalam duburnya hingga keluar di mulutnya seperti ayam di tusuk dalam kayu yang hendak dibakar.

Bagaimana tidak, mereka tahu bahwa angan-angan penghuni Neraka itu tidak pernah terwujud, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’aala yang artinya:

“Dan mereka berteriak di dalam Neraka itu, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shalih berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolongpun.” (Fathir: 37).

Dan Allah subhanahu wata’aala berfirman yang artinya:“Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia) kami akan mengerjakan amal shalih, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” (As: Sajdah: 12).

Allah subhanahu wata’aala berfirman yang artinya: “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat. Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami orang-orang yang zhalim.” (Al Mukminun: 106-107).

Pada saat itulah datang jawaban getir dari Rabbul Izzah, sebagaimana dalam firmanNya yang artinya:

“Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku. Sesungguhnya, ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa (di dunia), “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat yang paling baik. Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah kamu selalu mentertawakan mereka.” (Al Mukminun: 108-110).

Di tempat itu mereka meminta kepada para malaikat penjaga Neraka Jahannam agar diringankan siksaan mereka, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’aala yang menceritakan permintaan itu:

“Dan orang-orang yang berada di dalam Neraka berkata kepada penjaga-penjaga Neraka Jahannam, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya dia meringankan adzab dari kami barang sehari.” Penjaga Jahannam berkata: “Dan apakah belum datang kepada kamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?” Mereka menjawab, “Benar, sudah datang.” Penjaga-penjaga Jahannam berkata, “Berdoalah kamu.” Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.” (Al Mukmin: 49-50).

Sejak itu mereka putus asa dari permintaan dan harapan dan mereka berangan-angan untuk mati saja. Mereka minta kepada penjaga Neraka untuk mengajukan kepada Allah agar mereka dimatikan saja, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wata’aala yang artinya:

“Mereka berseru hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja. Dia menjawab, “Kalian akan tetap tinggal (di neraka ini).” Sesungguhnya kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci kebenaran itu.” (Az Zukhruf : 77-78).

Pengajuan keringanan dan permohonan maaf di neraka sudah tidak diterima lagi dan masing-masing orang yang mengikutinya berlepas diri dari orang yang diikutinya bahkan syaitan juga berlepas diri dari para pengikutnya yang selalu mematuhi perintahnya untuk bermaksiat kepada Allah. Perhatikanlah syaitan berkhutbah di hadapan para pengikutnya di Neraka Jahannam dari atas mimbar, sebagaimana yang dituturkan Allah subhanahu wata’aala dalam firmanNya yang artinya:

“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (Ibrahim: 22).

Wahai saudariku yang mulia, ayat-ayat yang menjelaskan tentang sifat neraka dan para penghuninya banyak sekali akan tetapi cukup saya sebutkan ayat-ayat yang mampu menggugah diri kita agar takut kepada siksaan Allah, karena Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

اطَّلَعْتُ فِيْ النَّار فَوَجَدْتُ أَكْثَرَ أهْلِهَا النِّسَاءُ.

“Saya menengok ke dalam Neraka ternyata saya dapatkan kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (Muttafaqun’ alaih).

Dan Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, kepada kaum wanita:

تَصَدَّقْنَ فَإِنِّيْ رَأَيْتُكُنُّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ.

“Wahai wanita bersedekahlah, sesungguhnya saya melihat kebanyakan kalian termasuk penghuni Neraka.”

Wahai saudariku tercinta, ketahuilah, meskipun kamu tidak mendapati tanda-tanda Kiamat, akan tetapi kiamatmu yang khusus yaitu kematianmu, pasti akan kamu hadapi, Telah dekat hari kematianmu karena Allah subhanahu wata’aala telah berfirman yang artinya:

“Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari Kiamat sudah datang?” (Muhammad: 18).

Bagaimana mungkin bisa mengingat dan bertaubat bila telah datang hari Kiamat begitu juga bila telah datang kematian tiada suatu kebaikan yang bisa dikerjakan dan tiada taubat yang bisa diraih. Inilah jalan menuju Surga dan inilah jalan menuju Neraka, maka sekarang perhatikanlah jalan manakah yang kamu tempuh? Dan ke manakah kamu akan pergi?.

Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi mulia Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Sumber : http://www.alsofwah.or.id/

Dipublikasi ulang oleh:  https://abufahmiabdullah.wordpress.com/

One Response

  1. Saya mendapat banyak manfaat dari ulasan ini. Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: