Kuburan Dikunjungi

Kuburan Dikunjungi
oleh : Syaikh Abdullah bin Abdullah bin Humaid 

PENGANTAR PENERBIT

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan seluruh makhluk untuk menyembahNya, sebagaimana firman-Nya: “Dan tiada Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu”. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Dia Subhaanahu Wata’aala menjadikan umat ini sebaik-baik umat yang tampil buat seluruh manusia dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Beliaulah yang meninggikan menara tauhid dan menjaga bentengnya serta memblokade setiap jalan yang menuju kepada kesyirikan. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga tercurah selalu kepada beliau, keluarga, para shahabat, tabi’in serta orang-orang yang berjalan di atas manhaj dan ajaran-nya yaitu para ulama yang mengamalkan ilmunya, para da’i yang memiliki ghirah agama yang tinggi yang tidak takut celaan dan umpatan siapapun.

Amma ba’du; Syi’ar kaum Muslimin yang paling agung adalah masjid-masjid yang di dalamnya senantiasa dikumandangkan dan disebut nama Allah. Masjid-masjid yang diramaikan oleh orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah. Masjid-masjid inilah menara ilmu dan corong dakwah. al-Masjid al-Haram adalah diantara masjid-masjid yang terdepan dalam hal ini dan merupakan kiblat seluruh orang Islam di bagian timur bumi dan baratnya.

Dar Thayyibah al-Khadhra’ di Mekkah mendapatkan kehormatan untuk menerbitkan dan mendistribusikan risalah yang amat berharga ini (dalam versi bahasa Arabnya-penj) “at-Ta’alluq bil qubur amrun fî dînillahi mahdhûr”, yang ditulis oleh Syaikh Abdullah bin Abdullah bin Humaid, Imam dan Khathib al-Masjid al-Haram. Risalah ini semula adalah bagian dari khuthbah-khuthbah Jum’at yang disampaikan di al-Masjid al-Haram. Dan karena urgensi tema ini serta sensitifitasnya maka sebagian ulama memandang perlu dicetaknya risalah ini dengan harapan semoga dapat menerangi jalan bagi orang-orang yang diberi cobaan dengan ketergantungannya kepada kuburan, sekaligus menjadi pelajaran dan peringatan bagi mere-ka yang sudah berjalan di atas rel yang benar. Kami berniat, Insya Allah, menerjemahkannya ke dalam banyak bahasa sehingga manfaatnya merata dan sempurna serta menjadi sumbangsih -atas izin Allah- dalam meninggikan panji tauhid hingga hanya Allah semata yang disembah, tidak disekutukan dengan sesuatu apapun. Dan hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui apa di balik maksud kami.

PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan seluruh makhluk dengan qudrat-Nya, yang dengan iradat-Nya memudahkan mereka sesuai dengan apa yang telah ditakdirkan bagi mereka, dan yang dengan hikmah dan rahmatNya menunjuki kepada mereka dua jalan (jalan kebajikan dan kejahatan).

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya; sebagai pengakuan atas keesaan-Nya dan Aku bersaksi bahwa sayyid/penghulu dan Nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan Rasul-Nya, Nabi Pembawa rahmat, penunjuk jalan umat, dan penyingkap awan kegelapan yang menyelimuti umat dengan seizin Rabbnya. Tiada seorangpun yang memiliki jalan selain jalan yang telah ditunjuki oleh beliau; maka barang-siapa yang menempuh jalan yang telah ditunjuki oleh beliau tersebut maka Allah akan mengkaruniainya cahaya dalam penglihatannya (bashirah) dan barang-siapa yang menyimpang dari jalan tersebut, maka orang tersebut telah tenggelam ke dalam kegelapan dan akan terus goyah dalam keraguannya. Shalawat Allah, salam serta berkah Nya semoga selalu tercurah atas beliau, para shahabat, keluarganya, dan para tabi’in serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dan berjalan di atas petunjuk dan sunnahnya.

Amma ba’du; Zaman ini dijuluki oleh orang sebagai zaman ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), zaman perkembangan ilmiah dan ma’rifat, zaman dimana ilmu pengetahuan maju dengan sangat pesat dan menakjubkan. Negara-negara kecil maupun besar berlomba-lomba dalam menciptakan suatu penemuan dan ciptaan serta sains baru.

Tetapi sungguh aneh, zaman yang identik dengan kehidupan serba logika, materi, ilmu pengetahuan serta penemuan-penemuan baru, ditambah lagi adanya ayat-ayat serta bukti-bukti di jagat raya dan pada diri manusia itu sendiri yang Allah tampakkan kepada mereka; meskipun demikian, realitasnya mereka masih tenggelam dalam dunia maya, dajjalisme dan khurafat. Penyimpangan demi penyimpangan serta kesesatan tersebar secara meluas. Syirik dengan berbagai bentuknya dilakukan di berbagai belahan bumi. Berhalaisme bertebaran di timur dan barat bahkan lebih tragis lagi, syaithan pun disembah secara terang-terangan di zaman ini sehingga perdukunan, sihir dan paranormalisme semakin digandrungi dengan berbagai bid’ah, kesesatan dan pembodohan yang ditawarkan. Sedangkan sebagian dari umat Islam yang lain telah terjangkiti oleh bagian yang tidak bisa dianggap enteng dari hal itu. Mereka keranjingan (hidup bergantung) terhadap kuburan, para penghuni-nya telah lama berkubang dengan tanah dan meminta pertolongan (dalam musibah yang mereka alami) kepada para penyihir dan paranormal.

Di antara ajaran agama yang mendasar (primer) untuk diketahui adalah bahwasanya mentauhidkan Allah dan mengkhususkan ibadah hanya kepada-Nya semata merupakan prioritas agama paling utama dan hal yang paling agung yang menjadi tumpuan perhatian para mushlihin (reformis) .

Berikut ini kami akan paparkan salah satu bentuk dari berbagai bentuk penyimpangan yang amat menjijikkan. Penyimpangan yang teramat sangat menyelimuti sebagian otak manusia manakala posisinya sudah amat jauh dari naql (wahyu) yang shahih dan akal yang jernih/prima dimana sebagai imbasnya kemudian, mereka malah menyandarkan nasib kepada hasil mimpi-mimpi yang mereka alami. Belum lagi kondisi tersebut bertentangan dan menyalahi syari’at, anti tauhid dan mencemarkan kedudukan penghulu para rasul Allah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

BENTUK-BENTUK KESESATAN YANG TERJADI

Salah seorang dari mereka berkata: “Aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas beliau bersabda kepadaku: ‘Jika engkau memiliki hajat dan ingin melakukannya maka bernadzarlah untuk si fulanah meskipun sebanyak satu fils (sejenis uang pecahan-penj) niscaya hajatmu tersebut akan terlaksana’.

Kenapa mesti terjadi ketergantungan dengan kuburan dan orang-orang mati yang telah dikuburkan seperti ini? Ketergantungan semacam ini sampai-sampai membuat mereka tidak dapat berfikir kenapa kuburan seseorang bisa menjadi banyak dan berada di beberapa negara. Akan tetapi para penyesat manusia tidak kehilangan akal dalam mencari alasan atas adanya hal tersebut yang tentunya amat kontradiksi. Mereka mengatakan: “Sesungguhnya bumi bagi jasad-jasad para wali ibarat air bagi ikan dimana ia bisa muncul di beberapa tempat, sehingga dengan begitu, setiap tempat yang dikatakan di sana ada nabi atau wali yang shalih ia akan dikunjungi”. Kemudian bertebaran dan semakin banyaklah kuburan-kuburan. Ada di antara tempat-tempat tersebut yang dinisbatkan kepada orang yang salah atau tempat yang salah. Dalam satu kota saja di sebagian negara kaum Muslimin terdapat lebih dari tiga ratus kuburan yang dikeramatkan. Sementara dalam satu negara terdapat lebih dari enam ratus ribu buah. Di satu tempat terdapat pertunjukan yang dinamakan dengan pertunjukan tujuh puluh tujuh wali.

SKENARIO BAGAIMANA KERANJINGAN TERHADAP KUBURAN TERJADI PADA SESEORANG

Wahai kaum Muslimin! Cobalah kalian merenungi bagaimana skenario yang dibuat sehingga seseorang keranjingan terhadap kuburan berikut ini:

  • Skenario pertama dimulai dengan mengagumi keshalihan dan ketaatan seseorang kemudian menjadi suatu keyakinan akan agung dan dekatnya kedudukan di sisi Allah.
  • Kemudian hal itu dilanjutkan dengan mengunjungi kuburannya tetapi bukan dalam rangka mengingat akhirat dan menjadi i’tibar/pelajaran tetapi merupakan suatu keyakinan akan keberkahan si penghuni kuburan dan tempatnya.
  • Ketika itu baru timbul di hati orang-orang awam dan semi awam untuk berdoa kepada Allah di sisi kuburannya dengan harapan doa tersebut dikabulkan di tempat itu.
  • Setelah itu, secara bertahap timbul keyakinan bahwa tempat tersebut sangat berkah sehingga mereka mengusap-usap dan menciuminya.
  • Kemudian dari hanya sekedar berdoa kepada Allah di sisi kuburan tersebut menjadi berdoa kepada Allah dengan perantaraan keberkahan tempat tersebut, begitu juga untuk bersumpah sehingga jadilah tempat tersebut sebagai wasilah dan perantara dalam meminta syafa’at kepada Allah dengan alasan tempat tersebut suci, mulia dan muqarrab (memiliki kedekatan dengan-Nya), dan akhirnya dianggap memiliki kedudukan tersendiri di sisi Allah.
  • Setelah itu, keyakinan seperti ini meningkat menjadi lebih besar lagi; (mereka mengatakan) selama tempat ini mulia dan memiliki kedudukan khusus di sisi Allah, maka tentunya tidak mustahil bila Allah memberikannya kekuatan ghaib untuk mengatur sebagian urusan dan kondisi alam semesta. Karena itu, kemudian (orang yang ber-keyakinan demikian) meminta, berharap, takut, minta pertolongan dan bantuan kepadanya.
  • Akhirnya berubahlah keyakinan untuk menjadikan kuburan si fulan tersebut sebagai pemilik rahasia yang membuat jiwa dan hati takut kepadanya serta membuat akal oleng dan berdecak kagum, lantas dijadikanlah sebagai tempat tujuan beri’tikaf, berkeliling di sekitarnya, lentera-lentera dinyalakan, tirai-tirai dipasang, masjid dibangun di atasnya, diciumi dan diusap-usap, disembelih persembahan di sisinya serta diadakan hari jadi buatnya sebagai suatu acara ritual (haul).

PEMANDANGAN TRAGIS DARI SUATU PENYIMPANGAN

Renungkan oleh anda semoga Allah merahmati anda ucapan sebagian mereka ketika menceritakan kunjungan mereka terhadap kuburan Syaikh Al-Imam Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah: “Perbuatan pertama yang wajib dilakukan seorang penziarah adalah berwudhu’ secara sempurna, kemudian shalat dua raka’at dengan khusyu’, setelah itu menghadap ka’bah yang mulia (maksud mereka, kuburan Syaikh Abdul Qadir –la haula wala quwwata illa billah- dan setelah memberi salam kepada penghuni kuburan yang dimuliakan, maka dia (penziarah) mengucapkan:

يَا صَاحِبَ الثَّقَلَيْنِ أَغِثْنِي، وَأَمِدَّنِي بِقَضَاءِ حَوَائِجِي وَتَفْرِيْجِ كُرْبَتِي، أَغِثْنِي ياَ مُحْيِ الدِّيْنِ عَبْدَ الْقَادِرِ، أَغِثْنِي يَا وَلِيَّ الدِّيْنِ عَبْدَ الْقَادِرِ، أَغِثْنِي يَا سُلْطَانُ عَبْدَ الْقاَدِرِ، ياَ حَضْرَةَ الْغَوْثِ الصَّمَدَانِي، ياَ سَيِّدِي عَبْدَ الْقَادِرِ اْلجَيْلاَنِي، عَبْدُكَ وَمُرِيْدُكَ مَظْلُوْمٌ عَاجِزٌ مُحْتَاجٌ إِلَيْكَ فِى جَمِيْعِ اْلأُمُوْرِ فِى الدِّيْنِ وَالُّدنْيَا وَاْلآخِرَةِ”


(Wahai pemilik jin dan manusia! tolonglah aku, berilah aku kekuatan untuk memenuhi semua hajatku dan dalam mengatasi cobaan hidupku, tolonglah aku, wahai Penghidup agama, Abdul Qadir, tolonglah aku, wahai Wali agama Abdul Qadir, tolonglah aku, wahai Sultan, Abdul Qadir, wahai Hadhratul Ghauts ash-Shamadi, wahai Sayyidku, Abdul Qadir Al-Jailani, hambamu dan muridmu adalah orang yang dizhalimi, lemah dan amat memerlukanmu dalam seluruh urusan agama, dunia dan akhirat).

MENYESAL DAN BERFIKIR JERNIHLAH!

Wahai saudara-saudara, apa yang mereka lakukan itu? Wahai hamba-hamba Allah, apa yang telah terjadi ini? Sudah separah inikah kondisi keislaman yang terjadi di kalangan umat Islam? Mata mana yang meski dihiasi dan dipoles sedemikian rupa yang tidak berderai melihat pemandangan semacam ini? Pemandangan kaum yang berafiliasi kepada Islam, kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, pemilik ajaran (millah) yang lurus. Pemandangan kaum yang mengelilingi kuburan dan permadaninya dalam keadaan ruku’, sujud, khusyu’, menangis terisak, serta memohon penuh harap di atas onggokan kuburan yang di sekitarnya terpasang tirai-tirai.

Mereka berdiri di hadapan Syaikh al-Jailani dan selainnya, layaknya bermunajat di hadapan Allah, menyifati mereka dengan sifat-sifat yang hanya dikhususkan bagi Allah Subhaanahu Wata’aala. Mereka berkata kepada penghuni kubur (mayit yang sudah dikuburkan): “Engkaulah yang mengatur seluruh makhluk yang ada”, “Engkaulah Sayyid bagi bumi dan langit”, “Pengatur sekalian alam”, “Penghidup agama”, “Penghapus segala dosa” dan “Penolak bencana”.

Di antara hadits-hadits mereka (yang selalu mereka karang dan promosikan-penj):

إِذَا أَعْيَتْكُمُ اْلأُمُوْرُ فَعَلَيْكُمْ بِأَصْحَابِ اْلقُبُوْرِ

“Bila kalian dipusingkan oleh urusan-urusan maka hendaklah kalian minta tolong kepada penghuni-penghuni kubur”.

Dan di antara ucapan-ucapan mereka: “Tidak akan sia-sia orang yang mengunjungi kuburan”.

SERUAN!

Wahai para ulama! Wahai para da’i! Wahai para ulil amri! Berlemah lembut dan kasihanilah orang-orang awam serta selamatkanlah mereka, sesungguhnya Allah Subhaanahu Wata’aala, Tuhan kalian, cemburu bagi diri-Nya, terhadap larangan-larangan-Nya dan terhadap hak-Nya dan pentauhidan kepada-Nya.

KESALAHAN-KESALAHAN YANG WAJIB DIENYAHKAN

Di antara kesalahan yang fatal dan populer dipakai adalah penamaan kuburan-kuburan tersebut dengan ”maqamat” (dalam kosakata bahasa Indonesia sering disebut makam yang artinya adalah posisi, kedudukan–penj) atau “masyahid” sebab sesungguhnya maqam/posisi orang-orang yang shalih sudah tercatat di sisi Tuhan mereka sedangkan kuburan-kuburan itu hanyalah puing-puing, sama seperti kuburan-kuburan yang lain; dilarang memperindahnya dan membuat tembok dinding, meninggikannya, membangun diatasnya, mendekorasinya, membangun bilik-bilik di sekitarnya, haram shalat didalamnya, menghadapnya dan di sisinya, membangun masjid di atasnya, mengelilinginya seperti melakukan thawaf, bermunajat kepada penghuninya, mengharap berkah dengan mengelus-elus dindingnya, menciuminya, bergelayut dengannya. Begitu juga, haram menyalakan lilin-lilin dan lentera-lentera disekitarnya. Dalam hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaknat orang-orang yang menjadikan masjid-masjid dan lentera-lentera diatas kuburan-kuburan.

Dalam kitab “Ash-Shahihain” (yakni kitab “Shahih Bukhari dan Muslim”-penj), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى اْليَهُوْدِ وَالنَّصَارَى ، اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Laknat Allah atas orang Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid-masjid.”

Dalam sabda beliau yang lain:

لاَ تَتَّخِذُوا اْلقُبُوْرَ مَسَاجِدَ فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

“Janganlah kalian jadikan kuburan sebagai masjid, karena sesungguhnya aku melarang hal itu”.

Dalam sabda beliau yang lain:

الَّلهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ ، اشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ


“Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah, sungguh sangat keras kemurkaan Allah terhadap suatu kaum yang menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid”.

WAHAI PARA ULAMA !

Sesungguhnya perangkat fitnah yang paling besar yang membuat hati-hati yang lemah tergiur adalah fitnah keranjingan terhadap kuburan dengan membangun dan memperindahnya.

BERSAMA IMAM ASY-SYAUKANI DAN PETAKA MEMBANGUN KUBURAN

Untuk memperjelas hal tersebut, Imam asy-Syaukani menuturkan: “Tidak diragukan lagi, bahwa sebab utama timbulnya keyakinan pada mayit semacam ini adalah tazyin (hiasan yang dibuat indah oleh) syaithan terhadap manusia dengan merayu mereka agar meninggikan kuburan, menaruh tirai-tirai di atasnya, menyemen, mendekorasi serta memperindahnya dengan seindah-indah dekorasi. Hal tersebut terjadi lantaran dimata orang yang awam (jahil), suatu kuburan yang terdapat di dalamnya kubah, dan ketika masuk dia melihat banyak kuburan, tirai-tirainya indah, lentera-lentera berkilauan di sekitarnya dan menebarkan wewangian semerbak, tentulah hal ini, tanpa diragukan lagi, akan membuat hatinya penuh dengan rasa hormat dan pengagungan terhadap kuburan yang kondisinya demikian. Di kepalanya hanya tergambar betapa penghuni kuburan tersebut (mayit) memiliki kedudukan yang luar biasa. Maka kemudian timbullah rasa terkagum-kagum sekaligus sungkan terhadap kuburan tersebut yang pada gilirannya tumbuh setanisme (kepercayaan akan adanya kekuatan setan) yang merupakan tipu daya syaithan yang paling besar terhadap kaum Muslimin. Salah satu alat/perangkat yang paling canggih yang dimiliki oleh syaithan dalam misi menyesatkan manusia adalah menggoyahkan keislaman seseorang secara bertahap, hingga akhirnya dia meminta kepada penghuni kuburan tersebut, sesuatu yang hanya Allah yang mampu melakukannya”.

SOLUSI TERBAIK

Wahai hamba-hamba Allah! Tidak ada lagi solusi terbaik yang dapat menyelamatkan orang-orang awam dan lemah akal tersebut, selain dengan melakukan hal-hal berikut:

  • Memberikan porsi perhatian kepada penekanan jiwa agar satu-satunya ketergantungan hanya kepada Allah . (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda): “Jika kamu meminta, maka pintalah kepada Allah, dan jika kamu meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepadaNya”.
  • Keyakinan yang sempurna, pasti dan tulus bahwasanya Allah Subhaanahu Wata’aala adalah satu-satunya Yang dapat memberikan manfaat, memberi kemudharatan dan pentadbiran/pengurusan. Sekaligus pula, Dia lah Yang berhak untuk dijadikan Rabb dan Ilah diatas seluruh makhlukNya. Allah Subhaanahu Wata’aala berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُون

Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: ‘cukuplah Allah bagiku’. KepadaNyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri”. (Az-Zumar: 38).

  • Menjelaskan manifestasi tauhid dan pengaruhnya terhadap jiwa dan kehidupan. Pemaparan hal itu dilakukan melalui penjelasan mengenai metode para nabi, orang-orang Shalih dan kaum mushlihin (reformis) yang telah merealisasikan tauhid (mencapai hakikatnya) dan menyeru kepadanya dan hal itulah yang merupakan cita-cita pertama dan bentuk kepedulian paling besar mereka. Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُون

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘bahwasanya tidak ada Tuhan (Yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (al-Anbiya’: 25).

  • Berpegang kepada nash-nash syara’; Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam serta memiliki keinginan kuat untuk melepaskan diri dari keterkaitan dengan kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun oleh para nenek moyang dan tradisi-tradisi yang menyimpang dari Dien yang haq ini, meskipun sebagian orang yang mengaku sebagai Ahli ilmu (ulama) berpendapat demikian (yang bertentangan dengan agama). Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hampir saja bebatuan dari langit menimpuki kalian; sebab, manakala aku katakan: ’Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (begini)’, kalian justru berkata:’Abu Bakar dan ‘Umar berkata (begini)’ “.

Abu Az-Zinad berkata: “Sesungguhnya hadits-hadits Rasul tidak boleh dijadikan arena perdebatan dan tidak pantas untuk diinterpretasi dengan pendapat berdasarkan logika semata sebab bila orang-orang melakukan hal itu, niscaya belum berlalu satu hari penuh melainkan mereka sudah berpindah dari satu agama ke agama yang lain. Akan tetapi sepatutnya hadits-hadits Rasul tersebut dilakoni secara konsekuen, berpegang teguh kepadanya baik hal itu bersesuaian dengan pendapat logika atau pun berseberangan”.

  • Jalan menuju Allah adalah dengan mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; perkataan, perbuatan, ‘azam, ‘akad serta niat. Allah shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman:

وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا

“..dan jika kamu ta’at kepadanya niscaya kamu mendapat petunjuk..”. (Q.S. An-Nur: 54).

  • Pentingnya memberikan penjelasan kepada manusia bahwa semua bid’ah dan hal-hal yang mengada-ada dalam agama memang membuat jiwa bersemangat untuk mengikutinya sementara sikap konsekuen terhadap sunnah-sunnah Rasul amat berat dan susah. Oleh karena itu, para ulama dan da’i harus mengetahui dan menyadari hal itu dan mengajak manusia berpegang teguh kepada sunnah-sunnah dan mencintainya. Imam Abul Wafa’ bin Ibnu ‘Aqil memperingatkan hal itu dan berkata: “Manakala orang-orang yang awam dan lugu merasa beban-beban syara’ amat sulit mereka lakukan, maka mereka berpindah dari melaksanakan aturan-aturan syara’ kepada pengagungan aturan-aturan yang mereka buat sendiri yang dapat mempermudah mereka lantaran tidak melibatkan orang lain dan tunduk terhadap perintahnya, seperti misalnya mengagungkan kuburan dan menghormatinya dengan sesuatu yang dilarang oleh syara’, menciuminya, menyalakan api, berbincang dengan orang-orang mati (seakan mereka hidup) melalui papan/batu tulis dan menulis sesuatu didalamnya (seraya berkata); ya maulaya (wahai tuanku!) kerjakanlah buatku begini dan begitu… dan seterusnya.
  • Memberikan porsi perhatian terhadap penyebaran ilmu yang bermanfaat, menyucikan hati dan jiwa (tazkiyatun nufus) agar dalam berinteraksi dengan wejangan dan hukum-hukum al-Qur’an lebih efektif.
  • Mengingatkan manusia akan bahaya ‘aqidah yang rusak, pengakuan-pengakuan yang bathil serta adat-adat yang tanpa norma yang merusak citra agama dan memutarbalikkan fakta-fakta yang berkaitan dengan agama dan ‘aqidah-‘aqidah Ahlul haq, yaitu manhaj yang murni yang menafikan keisengan orang-orang yang suka berbuat iseng dan penyimpangan yang dilakukan oleh Ahli bid’ah serta kebathilan yang dipromosikan oleh kaum Atheis.

Wahai kaum Muslimin! Islam datang dengan ‘aqidah tauhid yang murni dan bersih sehingga dapat mengangkat jiwa kaum Muslimin dan menanamkan di hati mereka ‘izzah (rasa bangga) terhadap Islam, kehormatan, percaya diri dan sikap ksatria. Membebaskan mereka dari belenggu perbudakan ‘ibadah kepada selain Allah sehingga kaum muda mereka tidak lagi menghina kaum tua dan kaum lemah tidak lagi takut kepada kaum yang kuat dan berkuasa, begitu juga orang yang pantas berkuasa atas mereka hanyalah penguasa yang membawa kebenaran, keadilan dan norma-norma agama.

RISALAH NABI MUHAMMAD

Wahai kaum Muslimin! Allah mengutus Nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan petunjuk dan agama yang haq sehingga dengan itu beliau membedakan antara yang haq dan bathil, petunjuk dan kesesatan, jalan surga dan jalan neraka, wali-wali-Nya dan musuh-musuh-Nya, antara yang ma’ruf dan yang munkar, yang baik dan jelek serta yang halal dan yang haram. Yang halal adalah apa yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya sedangkan yang haram adalah apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya. Tiada jalan bagi seorangpun dari bangsa manusia dan jin menuju keridhaan Allah, mendapatkan kemuliaan dari-Nya serta rahmat-Nya kecuali dengan beriman kepada Muhammad dan mengikutinya.

Oleh karena itu, wajib bagi semua manusia untuk mengikutinya dan menyerahkan vonis hukum kepadanya dalam seluruh masalah agama, baik yang zhahir maupun yang bathin, dalam syari’at-syari’at Islam dan dalam mengetahui hakikat-hakikat iman. Tidak seorang pun yang boleh berpaling dari risalah yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kemudian menyimpang darinya.

PARA SALAF LUPUT DARI FITNAH KERANJINGAN TERHADAP KUBURAN

Luputnya para Salafus Shalih dari penyakit ini, keranjingan terhadap kuburan merupakan rahmat dari Allah kepada umat Islam, sehingga dengan demikian berbahagialah dunia dengan keberadaan mereka dan kehidupan pun akan menjadi stabil dan seimbang. Mereka telah menyampaikan amanat wahyu yang diembankan kepada mereka. Andaikan mereka tergiur oleh fatamorgana ini dan terjerumus ke dalam penyimpangan-penyimpangan niscaya mereka tak akan mampu menduduki dan menapakkan kaki di bumi Allah, serta mereka tak akan meninggalkan kesan dan citra apapun bagi umat.

BERSAMA IMAM ASY-SYATHIBI

Mengomentari hal itu, Imam asy-Syathibi menjelaskannya sembari bertutur “Sesungguhnya tak seorangpun dari para shahabat radhiyallahu ‘anhum sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang terkena fitnah tersebut sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak meninggalkan bagi umat ini orang yang lebih baik dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali ataupun seluruh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dalam hadits yang shahih tidak satu pun yang memberitakan bahwa salah seorang dari mereka yang melakukan tabarruk (mengambil keberkahan) terhadap satu sama lainnya sebagaimana mereka lakukan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di masa hidup beliau bahkan mereka adalah suri teladan yang baik dalam mengikuti hukum-hukum agama yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Terjadinya sikap seperti ini seakan merupakan ijma’ dari mereka untuk meninggalkan perbuatan semacam itu (tabarruk) dan hal ini bisa jadi disebabkan oleh beberapa hal: mungkin karena ada dalil yang mereka ketahui yang menunjukan pengkhususan bolehnya bertabarruk hanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantaran beliau memiliki banyak keberkahan, kesempurnaan perasaan dan jiwanya serta kesucian ruhnya. Berbeda dengan selain beliau, yang tidak mencapai tingkatan itu. Atau boleh jadi disebabkan mereka takut hal itu dijadikan sebagai sunnah maka mereka tinggalkan demi mencegah adanya alasan yang dibuat-buat. Atau juga karena orang awam biasanya tidak akan berhenti hingga di situ tetapi karena kejahilannya akan melampauinya dengan menjadikan hal itu sebagai sarana untuk mencari keberkahan hingga akhirnya membawanya menyimpang dari batasan agama dan memiliki suatu keyakinan terhadapnya; sesuatu yang tidak layak dilakukan”. Imam asy-Syathibi selanjutnya berkata lagi: “Tabarruk merupakan sesuatu yang prinsipil dalam ibadah, dan karenanya pula Umar radhiyallahu ‘anhu menebang pohon yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibai’at di bawahnya. Demikian pula para Salaf meninggalkan semua perbuatan semacam itu karena akan berimbas kepada kerusakan”.

WAHAI KAUM MUSLIMIN!

Ingat dan bertakwalah kepada Allah –semoga Allah merahmati kalian- dan berupayalah dalam menegakkan saddudz dzarai’ (upaya mencegah timbulnya alasan untuk melakukan kerusakan dalam agama) dan memberangus seluruh sarana yang dapat menimbulkan penyimpangan yang amat dahsyat ini dimana dapat membawa pelakunya kepada syirik terhadap Allah bila dilihat dari sisi tauhid uluhiyah yaitu mereka berdoa, berharap dan menggantungkan hati kepada selain Allah. Begitu juga, hal ini bisa membawa pelakunya kepada syirik terhadap Allah dilihat dari sisi tauhid rububiyyah yaitu keyakinan bahwa yang mengawasi dan mengelola urusan alam semesta dimiliki oleh selain Allah. Kita berlindung kepada Allah dari hal-hal yang dapat membuat kita terhina dan terperangkap ke dalam jeratan syaithan.

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua dalam melakukan apa yang Dia cintai dan ridhai dan menunjuki kita kepada jalan yang benar dan lurus, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan permohonan. Shalawat dan salam semoga selalu tercuarah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para shahabatnya.

Sumber : http://www.alsofwah.or.id/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: