Aqidah Imam Empat (Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i dan Ahmad) Tamat

A. Pendapat Imam Ahmad tentang Tauhid

  • Di dalam kitab Thabaqat al-Hanabilah, terdapat keterangan bahwa Imam Ahmad pernah ditanya tentang tawakkal. Jawab beliau: “Tawakkal itu adalah mengandalkan sepenuhnya kepada Allah dan tidak mengharapkan dari manusia.” [1]
  • Di dalam kitab al-Mihnah terdapat keterangan bahwa Imam Ahmad berkata: “Allah itu sejak azali terus berfirman. Al-Qur’an adalah firman-firman Allah dan bukan makhluk, dan Allah tidak boleh disifati dengan sifat-sifat selain yang telah ditetapkan sendiri oleh Allah.” [2]
  • Imam Abu Ya’la meriwayatkan dari Abu Bakr al-Marwazi, katanya, saya bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang hadits-hadits yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah, melihat Allah, Isra’, dan kisah ‘Arsy, yang ditolak oleh kelompok Jahmiyah. Ternyata menurut beliau, hadits-hadits tersebut shahih, dan beliau berkata: “Hadits-hadits itu telah diterima oleh umat Islam, dan jalankanlah (pahamilah) hadits-hadits itu seperti apa adanya.” [3]
  • Abdullah bin Ahmad berkata di dalam kitab as-Sunnah, bahwa Imam Ahmad berkata: “Barangsiapa yang berpendapat bahwa Allah itu tidak berfirman, maka telah kafirlah dia. Kita meriwayatkan hadits-hadits itu seperti apa adanya.” [4]
  • Imam al-Lalaka’i meriwayatkan dari Hanbal bahwa ia bertanya kepada Imam Ahmad tentang ru’yah (melihat Allah di Akhirat). Jawaban beliau: “Hadits-Hadits mengenai ru’yah itu shahih. Kita mengimani dan menetapkannya. Dan semua hadits yang diriwayatkan dari Nabishallallahu ‘alaihi wasallam dengan sanad-sanad yang bagus, kita mengimaninya dan menetapkan keshahihannya.” [5]
  • Imam Ibn al-Jauzi menuturkan dalam kitab al-Manaqib tentang kitab Imam Ahmad bin Hanbal karya Musaddad. Di dalam kitab tersebut ada keterangan di mana Imam Ahmad berkata: “Sifatilah Allah dengan sifat-sifat yang dipakai oleh Allah untuk mensifati diri-Nya sendiri, dan tinggalkanlah hal-hal yang ditinggalkan oleh Allah untuk mensifati diri-Nya sendiri.” [6]
  • Di dalam kitab ar-Radd ‘ala al-Jahmiyah karya Imam Ahmad, beliau mengatakan: “Jahm bin Shafwan berpendapat, bahwa orang yang mensifati Allah dengan sifat-sifat yang dipakai Allah untuk mensifati diri-Nya sendiri seperti yang terdapat dalam Kitab Allah dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka orang itu telah menjadi kafir dan termasuk kelompok musyabbihah (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya).” [7]
  • Imam Ibn Taimiyah menuturkan dalam kitab Dar’u Ta’arud al-‘Aql wa an-Naql, ucapan Imam Ahmad: “Kami mengimani bahwa Allah ada di atas ‘Arsy, bagaimana Dia berkehendak dan seperti apa yang Allah kehendaki, tanpa batasan dan sifat yang dipakai oleh seseorang untuk mensifati dan membatasi sifat itu. Sifat-sifat Allah adalah sifat-sifat yang digunakan untuk Allah, yaitu seperti Allah mensifati diri-Nya sendiri, bahwa Dia tidak dapat dilihat oleh mata.” [8]
  • Imam Abi Ya’la juga meriwayatkan dari Imam Ahmad, bahwa beliau berkata: “Orang yang berpendapat bahwa Allah itu tidak dapat dilihat di Akhirat, maka dia telah kafir dan mendustakan Al-Qur’an.” [9]
  • Imam Ibnu Abi Ya’la juga meriwayatkan dari Abdullah putera Imam Ahmad, katanya, saya pernah bertanya kepada ayah saya tentang orang-orang yang berpendapat bahwa ketika Allah berfirman kepada Nabi Musa, Allah berfirman tanpa suara. Kemudian ayah saya berkata: “Allah berfirman dengan suara. Hadits-hadits ini kita riwayatkan sesuai apa adanya.” [10]
  • Imam al-Lalaka’i meriwayatkan dari Abdus bin Malik al-Attar, katanya, saya mendengar bahwa Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Al-Qur’an adalah Kalamullah, bukan makhluk. Dan janganlah kamu lemah untuk berkata bahwa al-Qur’an itu bukan makhluk, karena Kalamullah itu dari Allah, dan tidak ada sesuatu yang keluar dari Allah itu disebut makhluk.” [11]


B. Pendapat Imam Ahmad tentang Qadar

  • Imam Ibn al-Jauzi menuturkan dalam kitab al-Manaqib tentang kitab Imam Ahmad bin Hanbal karya Musaddad. Dalam kitab itu terdapat keterangan bahwa Imam Ahmad berkata: “Kita mengimani taqdir, yang baik, yang buruk, yang manis, yang pahit, semuanya dari Allah.” [12]
  • Imam al-Khallal meriwayatkan dari Abu Bakr al-Marwazi, katanya, Imam Ahmad pernah ditanya: “Apakah kebaikan dan keburukan itu ditaqdirkan kepada hamba Allah, dan apakah Allah menciptakan kebaikan dan keburukan?” Beliau menjawab: “Ya, Allah telah mentetapkannya.” [13]
  • Dalam kitab as-Sunnah karya Imam Ahmad beliau mengatakan: “Taqdir itu, yang baik dan yang buruk, yang sedikit dan yang banyak, yang lahir dan yang batin, yang manis dan yang pahit, yang disuka dan yang dibenci, yang elok dan yang jelek, yang awal dan yang akhir, semuanya sudah ditetapkan oleh Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Dan tidak ada seorang pun dari hamba Allah yang dapat keluar dari kehendak dan ketetapan Allah. ” [14]
  • Imam al-Khallal juga meriwayatkan dari Muhammad bin Abu Harun, dari al-Harits, katanya, saya mendengar Imam Ahmad berkata: “Allah Subhaanahu Wata’ala telah mentaqdirkan ketaatan dan maksiat, kebaikan dan keburukan. Orang yang telah ditetapkan sebagai orang yang berbahagia, maka ia berbahagia, dan orang yang telah ditetapkan sebagai orang yang celaka, ia akan celaka.” [15]
  • Abdullah putera Imam Ahmad berkata, “Saya mendengar ayah saya, ketika beliau ditanya Ali bin Jahm tentang “Orang yang berbicara tentang qadar, apakah ia menjadi kafir?” Beliau menjawab: “Ya apabila ia mengingkari ilmu Allah. Apabila ia berpendapat bahwa Allah itu tidak mengetahui, sampai Allah menciptakan ilmu, dan barulah Allah mengetahui, maka ia mengingkari ilmu Allah, dan dengan demikian ia menjadi kafir.” [16]
  • Abdullah, putera Imam Ahmad juga menuturkan, saya pernah bertanya ayah saya sekali lagi tentang shalat menjadi makmum di belakang paham Qadariyah. Beliau menjawab: “Apabila penganut Qadariyah itu selalu berdebat dan menyebarkan paham tersebut, maka kamu jangan shalat di belakangnya.” [17]

C. Pendapat Imam Ahmad tentang Iman

  • Imam Abu Ya’la meriwayatkan dari Imam Ahmad, bahwa beliau berkata: “Di antara yang paling mulia dari masalah-masalah iman adalah cinta karena Allah dan marah karena Allah.” [18]
  • Imam Ibn al-Jauzi meriwayatkan dari Imam Ahmad, bahwa beliau berkata: “Iman itu bertambah dan berkurang, seperti diterangkan dalam hadits :

أَكْمَلُ الْمُؤْ مِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang mukmin yang paling bagus akhlaknya.” [19]

  • Imam al-Khallal meriwayatkan dari Sulaiman bin Asy’ats, katanya, bahwa Imam Ahmad mengatakan: “Shalat, zakat, haji dan berbuat kebajikan adalalah sebagian dari iman. Sedangkan menjalankan maksiat dapat mengurangi iman.” [20]
  • Abdullah, putera Imam Ahmad, mengatakan, saya pernah bertanya ayah saya tentang “Seseorang yang berpendapat bahwa iman itu adalah ucapan dan pengamalan, bertambah dan berkurang tanpa menyebut insya Allah, apakah ia seorang Murji’ah?” Beliau menjawab: “Saya berharap mudah-mudahan orang tersebut bukan penganut paham Murji’ah.” Abdullah berkata lagi, saya mendengar ayah berkata: “Dalil yang melawan pendapat orang yang tidak menyebutkan insya Allah dalam menyatakan iman adalah sabda Nabishallallahu ‘alaihi wasallam kepada penghuni kubur:

وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَ حِقُوْنَ

“Kami insya Allah menyusul kamu.” [21]

  • Abdullah juga menuturkan, saya mendengar ayah saya, ketika ditanya tentang paham Murji’ah, beliau menjawab: “Kami mengatakan bahwa iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang. Apabila seseorang melakukan zina atau minum khamar, maka imannya berkurang.” [22]


D. Pendapat Imam Ahmad tentang Sahabat

  • Dalam kitab as-Sunnah karya Imam Ahmad ada keterangan sebagai berikut:
    “Di antara ajaran as-Sunnah adalah menyebut-nyebut kebaikan semua sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menahan diri tidak menyebutkan ketidakbaikan dan pertentangan yang terjadi antara mereka. Orang yang mencaci para sahabat, atau salah seorang saja di antara mereka, maka ia telah berbuat bid’ah, berpaham Rafidhi (Syi’ah), dan berlaku buruk. Allah tidak akan menerima amal kebajikannya.
    Mencintai Sabahat adalah ajaran as-Sunnah, mendo’akan mereka adalah termasuk ibadah, mengikuti mereka adalah cara yang benar, dan memakai pendapat-pendapat mereka adalah suatu kemuliaan. Kemudian, para sahabat itu, sesudah al-Khulafa’ ar-Rasyidin, adalah manusia-manusia terbaik. Tidak boleh ada orang yang menjelek-jelekan mereka dan sebagainya. Apabila ada yang melakukan hal itu, maka Sultan (Pemerintah) wajib memberinya “pelajaran” dan sanksi, dan tidak boleh membebaskannya.” [23]
  • Imam Ibn al-Jauzi meriwayatkan sepucuk surat dari Imam Ahmad yang beliau kirimkan kepada Musaddad. Di dalam surat itu terdapat keterangan sebagai berikut, “Hendaknya Anda menjadi saksi bahwa sepuluh orang sahabat itu telah diberi tahu akan masuk surga. Mereka adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, az-Zubair, Sa’ad, Sa’id, Abdurrahman bin Auf dan Ubaidah bin al-Jarrah. Orang yang telah disaksikan oleh Nabishallallahu ‘alaihi wasallam akan masuk surga, kita juga menjadi saksi.” [24]
  • Abdullah putera Imam Ahmad, menuturkan, saya pernah bertanya ayah saya tentang siapa imam-imam ummat ini. Beliau menjawab: “Mereka adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.” [25]
  • Abdullah juga mengatakan, bahwa ia pernah bertanya kepada ayahnya tentang “Orang-orang yang berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib itu bukan seorang Khalifah”. Beliau menjawab: “Itu pendapat yang buruk dan jelek.” [26]
  • Imam Ibn al-Jauzi meriwayatkan dari Imam Ahmad, bahwa beliau berkata, “Orang yang tidak mengakui, bahwa Ali bin Abi Thalib itu khalifah, maka ia lebih sesat daripada keledai piaraan yang hilang.” [27]
  • Imam Ibn Abi Laila juga meriwayatkan dari Imam Ahmad, bahwa beliau berkata: “Orang yang tidak mau mengakui Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, jangan kamu ajak bicara dan jangan kamu menikahi keluarganya.” [28]


E. Larangan Imam Ahmad terhadap Ilmu Kalam dan Berdebat dalam Agama.

  • Imam Ibnu Baththah meriwayatkan dari Abu Bakar al-Marwazi, katanya, saya mendengar Imam Ahmad menyatakan: “Siapa yang mengkaji Ilmu Kalam, ia tidak akan beruntung, dan ia tidak akan terlepas dari mengikuti kelompok Jahmiyah.” [29]
  • Dalam kitab Jami’ Bayan al-‘Ilm wa al-Fadhlih, Imam Ibn Abdil Bar meriwayatkan dari Imam Ahmad, bahwa beliau berkata, “Tidak akan beruntung selamanya, orang yang mengkaji Ilmu Kalam, dan Anda hampir tidak akan melihat orang yang mempelajari Ilmu Kalam itu kecuali di dalam hatinya ada ketidakberesan.” [30]
  • Imam al-Harawi meriwayatkan dari Abdullah, putera Imam Ahmad, katanya, Ayah saya pernah menulis surat kepada Ubaidillah bin Yahya bin Khaqan. Dalam surat itu ayah saya berkata: “Kamu itu bukan termasuk ahli Kalam. Kalam yang benar adalah Kitabullah atau Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Berbicara di luar itu tidak terpuji.” [31]
  • Imam Ibnu al-Jauzi meriwayatkan dari Musa bin Abdillah al-Turtusi, katanya, saya mendengar Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Jangan kamu duduk bersama ahli Kalam, meskipun dia itu kelihatannya membela sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” [32]
  • Imam Ibnu Baththah meriwayatkan dari Abu al-Harits ash-Shayigh, katanya, “Orang yang mencintai Ilmu Kalam, maka sebenarnya hal itu tidak keluar dari hatinya. Dan anda tidak akan melihat orang yang mempelajari Ilmu Kalam itu beruntung.” [33]
  • Imam Ibnu Baththah menuturkan dari Ubaidillah bin Hanbal, katanya, saya mendengar Imam Ahmad berkata: “Berpeganglah kamu dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah akan memberikan manfaat kepadamu. Dan hindarilah perdebatan dalam masalah agama, karena orang yang menyukai Ilmu Kalam tidak akan beruntung. Orang yang membuat perdebatan dalam Kalam, ujung-ujungnya adalah membuat bid’ah, karena Ilmu Kalam tidak membawa kepada kebaikan. Saya tidak menyukai Ilmu Kalam, apalagi ikut perdebatan.

Kamu harus berpegang teguh kepada sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, pendapat-pendapat para sahabat, Fiqih yang dapat kamu manfaatkan. Tinggalkanlah perdebatan dan pendapat orang-orang yang hatinya bengkok. Orang-orang yang saya temui, ternyata mereka tidak pernah mengenali para ahli Kalam, mereka juga menjauhi para ahli Kalam. Kalam itu pada akhirnya tidak baik. Semoga Allah menjaga kita semuanya dari fitnah (ujian hati), dan menyelamatkan kita dari kehancuran.” [34]

  • Dalam kitab al-Ibanah, Ibnu Baththah meriwayatkan dari Imam Ahmad, bahwa beliau berkata: “Waspadalah terhadap orang yang menyukai Ilmu Kalam.” [35]

Inilah rangkuman pendapat Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah tentang masalah-masalah Ushuluddin dan sikap beliau terhadap Ilmu Kalam.

Catatan Kaki:

[1] Thabaqat al-Hanabilah, I/416

[2] as-Sunnah, hal. 68

[3] Thabaqat al-Hanabilah, I/56

[4] as-Sunnah, hal. 71

[5] Syarah I’tiqad Ahl as-Sunnah, II/507

[6] Manaqib al-Imam Ahmad, hal. 221

[7] ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah, hal. 104

[8] Dar’u Ta’arudh al-‘Aql wa an-Naql, II/30

[9] Thabaqat al-Hanabilah, I/58, 145

[10] Ibid, I/185

[11] Syarh Ushul I’tiqad Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah, I/157

[12] Manaqib al-Imam Ahmad, hal. 169, 172

[13] al-Khallal, as-Sunnah, lembar 85

[14] as-Sunnah, hal. 68

[15] al-Khallal, as-Sunnah, lembar 85

[16] Abdullah bin Ahmad, as-Sunnah, hal. 119

[17] as-Sunnah, I/384

[18] Thabaqat al-Hanabilah, II/275

[19] Musnad al-Imam Ahmad, II/250. Sunan Abi Daud, V/60 Sunan at-Tirmidzi, III/457. Manaqib al-Imam Ahmad, hal. 153, 168,173.

[20] al-Khallal, as-Sunnah, lembar 96.

[21] Hadits riwayat Muslim, Shahih Muslim, II/669. Abdullah bin Ahmad, as-Sunnah, I/307-308

[22] Ibid

[23] as-Sunnah, karya Imam Ahmad, hal. 77-78

[24] Ibn al-Jauzi, Manaqib al-Imam Ahmad, hal. 170

[25] as-Sunnah, hal. 235

[26] Ibid

[27] Manaqib al-Imam Ahmad, hal. 163

[28] Thabaqat al-Hanabillah, I/45

[29] al-Ibanah, II/538

[30] Jami’ Bayan al-‘Ilm wa al-Fadhlih, II/95

[31] Dzamm al-Kalam, lembar 216-B

[32] Manaqib al-Imam Ahmad, hal.205

[33] Ibn Baththah, al-Ibanah, II/539

[34] Ibid

[35] Ibid, II/540

Khatimah

Dari keterangan-keterangan yang lalu, jelaslah sudah bahwa pendapat Imam Empat itu tidak berbeda, karena aqidah mereka sama, kecuali dalam masalah pengertian iman di mana Imam Abu Hanifah punya pendapat tersendiri. Namun demikian, diberitakan beliau mencabut pendapatnya itu.

Aqidah ini adalah sangat layak untuk menyatukan ummat Islam di bawah satu kalimat, dan menjaga mereka dari perpecahan dalam masalah agama. Karena aqidah ini bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tampaknya sedikit sekali orang yang mengetahui dan memahami aqidah Imam-imam Empat itu dengan sebenarnya. Yang masyhur adalah bahwa Imam Empat itu dinilai sebagai orang-orang yang mufawwidhin, yang menyerahkan arti ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah dan sebagainya kepada Allah. Mereka dinilai hanya dapat membaca saja, tidak lebih dari itu. Seolah-olah Allah bermain-main kata yang tak bermakna dalam menurunkan wahyu.

Allah berfirman :

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya, dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran.” (Shad: 29)

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ

“Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (asy-Syu’ara’: 192-195)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur’an dengan bahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Yusuf : 2)

Karenanya, Allah menurunkan Al-Qur’an untuk direnungkan dan dipahami ayatnya, serta dijadikan sebagai pelajaran. Allah juga menerangkan, bahwa al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas, agar difikirkan dan dipahami maknanya oleh umat manusia.

Jika Allah menurunkan al-Qur’an tersebut untuk dipahami ayat-ayatnya dengan bahasa Arab yang jelas, maka pengertian ayat-ayat itu tentu akan mudah dipahami oleh manusia yang menjadi target diturunkannya al-Qur’an tersebut. Bila tidak demikian, dan pengertian ayat-ayat tersebut tidak bisa dipahami oleh manusia, maka diturunkannya al-Qur’an itu akan sia-sia dan tidak ada gunanya bagi mereka, kerena tak ubahnya seperti huruf-huruf yang tak bermakna.

Tentu pendapat seperti ini merupakan kejahatan terhadap aqidah para Sahabat, Tabi’in dan para Imam sesudah mereka, serta merupakan tuduhan terhadap mereka, yang sebenarnya mereka terbebas dari tuduhan tersebut. Karena mereka adalah orang-orang yang mengerti dan memahami arti ayat-ayat al-Qur’an, karena kedekatan mereka dengan Nabi n. Bahkan sebenarnya merekalah yang lebih tahu tentang maksud-maksud tersebut.

Mereka melakukan ibadah kepada Allah dengan ungkapan-ungkapan yang mereka pahami dari al-Qur’an dan Sunnah Nabishallallahu ‘alaihi wasallam serta mereka meyakininya sebagai suatu kebenaran dan syari’at dari Allah. Apabila mereka dapat memahami cara-cara beribadah kepada sesembahan mereka, yaitu Allah, maka bagaimana mungkin mereka tidak mengetahui sesembahan mereka dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya? Bagaimana mungkin mereka tidak dapat memikirkan makna ayat-ayat al-Qur’an yang telah dijelaskan oleh Allah sendiri kepada para hamba-Nya?

Walhasil, aqidah para Imam Empat itu adalah aqidah yang benar sesuai dengan apa yang disebutkan al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersumber dari sumber yang jernih, tidak bercampur dengan ta’wil, ta’thil, tasybih, dan tamtsil.

Para pelaku ta’thil (yang meniadakan sifat-sifat Allah) dan pelaku tasybih (yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), tidak memahami sifat-sifat Allah kecuali yang layak dengan para makhluk. Pemahaman seperti ini bertentangan dengan fithrah manusia, di mana tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah, baik Dzat, Sifat, maupun Perbuatan-Nya.

Akhirnya, kepada Allah kami panjatkan do’a, semoga buku kecil ini bermanfaat bagi kaum Muslimin, semoga mereka disatukan dalam suatu aqidah dan satu thariqah yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah, serta petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Maha Tahu tentang maksud seseorang. Dia mencukupi kita dan sebaik-baik Dzat yang kepada-Nya kita titipkan diri.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Daftar Pustaka :

1. Ibn Abi Hatim, Adab asy-Syafi’i wa Manaqibuhu, Editor Abd al-Ghani ‘Abd al-Khaliq, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Bairut.
2. Abu Hasan al-Asy’ari, al-Ibanah ‘An Ushul ad-Diyanah, editor Dr. Fauqiyah Husain, Dar al-Anshar, Kairo, 1397 H.
3. Abu Muhammad Mahmud al-‘Aini, al-Binayah fi Syarh al-Hidayah, Dar al-Fikr al-‘Adabi, Beirut, 1401 H.
4. Ibn al-Qayyim, Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyah, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah/al-Farazdaq, Riyadh.
5. Al-Baihaqi, al-Asma’ wa ash-Shifat, Dar Ihya’ at-Taurats al-‘Arabi.
6. Al-Baihaqi, al-‘Itiqad wa al-Hidayah ila Sabil al-Rasyad, editor Ahmad ‘Ashim al-Katib, Dar al-Afaq al-Jadidah, Bairut 1401 H.
7. Az-Zabidi, Ithaf as-Sadah al-Muttaqin, Dar al-Fikr, Beirut.
8. Ibn ‘Abd al-Bar, al-Intiqa’ fi Fadhail ats-Tsalatsa al-Fuqaha’, Dar al-Qutub al-Ilmiyah, Beirut.
9. Ibn Taimiyah, al-Iman, editor Muhammad al-Harras, Dar ath-Thiba’ah al-Muhammadiyah.
10. Ibn ‘Abd al-Bar, at-Tamhid fima fi al-Muwaththa’ min al-Ma’ani wa al-Asanid, editor Musthafa Alawi dkk, wa Zarah al-Auqaf al-Islamiyah, Maroko.
11. Ibn Taimiyah, at Tawassul wa al-Wasilah, editor Rabi’ bin Hadi, Maktabah Linah, Kairo.
12. Abdullah bin Mahmud, as-Sunnah, editor Dr. Muhammad Sa’id al-Qahthani, Dar Ibn al-Qayyim, Dammam, 1406 H.
13. Ibn Abi ‘Ashim, as-Sunnah, al-Maktab al-Islami, Bairut.
14. Al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, Dar al-Fikr, Beirut.
15. Al-Mausu’ah al-‘Arabiyyah al-Muyassarah, Dar Nahdhah, Lebanon, Beirut
16. Imam asy-Syafi’i, ar-Risalah, editor Ahmad Muhammad Syakir, al-Halabi.
17. Ibn ‘Abidin, ad-Durr al-Mukhtar ma’a Hasyiyah Radd al-Mukhtar, al-Babi al-Halabi.
18. Imam Ahmad bin Hanbal, ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah wa al-Zanadiqah, editor Dr.‘Abd ar-Rahman Umairah, cet. II, 1402 H.
19. Al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, Dar al-Kitab al-‘Arabi, Beirut.
20. Ibn Hajar al-‘Asqalani, Taqrib al-Tahdzib, Dar al-Ma’rifah, Beirut, 1395 H.
21. An-Nawawi, Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut.
22. Abd ar-Rahman Badawi, Tarikh al-Ilhad fi al-Islam, Maktabah an-Nahdhah, Kairo.
23. Al-Qadhi ‘Iyadh, Tartib al-Madarik wa Taqrib al-Masalik, Wazarah al-Auqaf, Maroko.
24. Adz-Dzahabi, Tadzkirat al-Huffazh, Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, Beirut.
25. Ibn Hajar al-‘Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, Dairah al-Ma’arif an-Nizhamiyah, Hyderabat India.
26. Ibn ‘Abdil Bar, Jami Bayan al-‘Ilm wa al-Fadhilah, Dar al-Kutub al-Islamiyah, al-Maktabah al-‘Ilmiyah, Madinah.
27. Abu Nu’aim al-Isfahani, Hilyah al-‘Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’, Dar al-Kutub al-‘Arabi, Beirut, 1387 H.
28. Ibn Taimiyah, Dar’u Ta’arudh al-‘Aql wa an-Naql, editor Muhammad Rasyad Salim, Universitas Islam Muhammad bin Sa’ud, Riyadh, 1402 H.
29. Al-Harawi, Dzamm al-‘Ilaj (manuskrip).
30. Abu Daud, as-Sunan, Dar al-Hadits, Syria.
31. An-Nasa’i, as-Sunan, Dar al-Basyair, Beirut, 1406 H.
32. At-Tirmidzi, as-Sunan, Musthafa al-Babi al-Halabi, Kairo, 1398 H.
33. Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, editor Syu’aib al-Arnauth dkk, Muassasah ar-Risalah, 1402 H.
34. Ibn ‘Imad al-Hanbali, Syadzarat adz-Dzahab fi Akhbar man Dzahab, Dar as-Sirah, Beirut.
35. Al-Qari, Syarh al-Fiqh al-Akbar, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah.
36. Al-Mala Hasan Banna al-Iskandari, Syarh al-Washiyah, Dar al-Ma’arif al-Utsmaniyah, Hyderabad, India.
37. Al-Baghawi, Syarh as-Sunnah, editor Syu’aib al-Arnauth, al-Maktab al-Islami, Bairut, 1390 H.
38. Al-Lalaka’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah, editor Dr. Ahmad Sa’ad Hamdan, Dar Thayibah, Riyadh.
39. Al-Khatib al-Baghdadi, Syaraf Ash-hab al-Hadits, editor Muhammad Sa’id al-Khatib Oghli, Dar Ihya’ as-Sunnah an-Nabawiyah.
40. Ibn Abi al-‘Izz al-Hanafi’, Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, Dar al-Bayan, Beirut.
41. Al-Ajuri, Asy Syari’ah, editor Hamd Hamid al-Faqi, Dar Kutub al-Ilmiyah, Beirut, 1403 H.
42. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, bersama Fath al-Bari, al-Maktabah as-Salafiyah.
43. Muslim bin Hijjaj, Shahih Muslim, Ri’asah Idarah al-Bukhuts al-‘Ilmiyah wa al-Ifta’, Riyadh, 1400 H.
44. Ibnu Qadamah, Shifat al-‘Uluw, Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam, Madinah.
45. Al-Qadhi Abu Ya’la, Thabaqat al-Hanabilah, Dar al-Ma’rifah, Bairut.
46. Abu Ishaq as Syirazi, Thabaqat al-Fuqaha’, Dar Raid al-’Arabi, Beirut, 1401 H.
47. Ismail as-Shabuni, ‘Aqidah as-Salaf Ash-hab al-Hadits, editor al-Badr, al-Dar as-Salafiyah, Kuwait.
48. Adz-Dzahabi, al-’Uluw, al-Maktabah as-Salafiyah, Madinah 1388 H.
49. Al-Qari, al-Fiqh al-Akbar Ma’a Syarhihi, Dairah al-Kutub al-‘Ilmiyah.
50. Al-Fiqh al-Absath, editor Muhammad Zahid al-Kautsar, al-Anwar, Kairo.
51. Muhammad Shadiq Khan, Qathf ats-Tsamar fi Bayan ‘Aqidah Ahl al-Atsar, editor Dr. ‘Ashim bin Muhammad al-Qaryuti, Syirkah as-Syarq al-Awsath, Amman.
52. Abd al-‘Alim bin Utsman al-Yamani, Qalaid ‘Uqud al-Adyan, Manuskrip di Perpustakaan Pusat Universitas Islam Muhammad bin Sa’ud, Riyadh.
53. Ibn Mandzur, Lisan al-‘Arab, Dar Shadir, Berut.
54. Ibn Hajar al-‘Asqalani, Lisan al-Mizan, Muassasah al-A’lami, Beirut, 1390 H.
55. Ibn Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, susunan ‘Abd al-Rahman bin Qasim, Muassasah ar-Risalah.
56. Abu Daud as-Sijistani, Masail al-Imam Ahmad, Dar al-Ma’rifah, Beirut.
57. Al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, Maktabah Ibn al-‘Arabi, Libanon.
58. Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, al-Maktab al-Islami.
59. Ahmad al-Makki, Manaqib Abi Hanifah, Dar al-Kitab al-‘Arabi.
60. Al-Baihaqi, Manaqib asy-Syafi’i, editor as-Sayid Ahmad Shaqr, Dar at-Turats, Kairo, 1391 H.
61. Ibn Taimiyah, Manhaj as-Sunnah an-Nabawiyah, editor Dr.Muhammad Rasyad Salim, Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa’ud, Riyadh, 1406 H.
62. An-Nashiri, an-Nur al-Lami’ wa al-Burhan asy-Syathi’, Manuskrip di Perpustakaan as Sulaimaniyah,Turki, No. 2973.

[Disalin dari kitab I’tiqad Al-A’immah Al-Arba’ah edisi Indonesia Aqidah Imam Empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad) oleh Dr. Muhammad Abdurarahman Al-Khumais, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Di Jakarta]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: