Pesan- Pesan Terakhir Rasulullah shalallallahu alaihi wa sallam ( Washiyyatu Muwaddi’ ) Tamat

BANTAHAN TERHADAP MEREKA YANG MEMBAGI BID’AH KEPADA BID’AH HASANAH (YANG BAIK) DAN BID’AH SAYYI-AH (YANG BURUK) 

Mereka berkata: “Bid’ah ada yang baik dan ada pula yang buruk.”[44] 

Penulis berkata: “Katakanlah jika kalian kehendaki ada bid’ah yang baik dan ada bid’ah yang buruk, tetapi janganlah kalian lupa bahwa Rasulullah Shalallallahu alihi wa sallam telah bersabda:

“Karena sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di Neraka.” 

Karena setiap nama yang kalian sandangkan itu masuk ke dalam kata kull (setiap) yang telah disebutkan oleh Rasulullah Shalallallahu alihi wa sallam. 

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu anhu, dia berkata: “Setiap perbuatan bid’ah itu adalah sesat, sekalipun orang-orang melihatnya baik.”[45] 

Adapun orang yang berkata: “Sekarang ini bukanlah saatnya untuk melarang bid’ah, namun yang lebih utama adalah memerangi aliran-aliran pemikiran yang menyimpang dari agama,” 

pernyataan ini tentu tidak dapat dibenarkan karena beberapa alasan, yaitu: 

1. Ketika orang-orang tidak menjauhi perbuatan bid’ah, maka sikap tersebut akan me nyebabkan bid’ah semakin besar dan banyak serta semakin memuncak dan akan me nyebabkan tercabut dan hilangnya Sunnah-Sunnah . 

Hal ini yang kemudian menyebabkan tersebarnya kesesatan yang sangat mengkhawatirkan, karena setiap bid’ah adalah sesat. 

2. Mengubah kemungkaran itu adalah wajib atas seorang Muslim sesuai dengan kemampuannya dan berdasarkan tingkatan yang berbeda-beda. Maka barang siapa melihat perbuatan bid’ah di depan kedua matanya, dia wajib mencegahnya, dan hal itu tidak dapat gugur darinya lantaran masih adanya kemusyrikan, komunisme, masuniyah (freemasonry), dan semua aliran kepercayaan yang menyimpang. Demikian pula bahwa keberadaan aliran-aliran batil tersebut tidak menggugurkan kewajiban para ulama, para penuntut ilmu, dan para da’i yang menyeru ke jalan Allah dari tugas mengingatkan ummat manusia tentang haramnya durhaka kepada kedua orang tua, berdusta, riba dan hal-hal haram lainnya. 

3. Tidak adanya pemahaman terhadap agama dan adanya bid’ah-bid’ah yang menyusup ke dalamnya merupakan penyebab lahirnya aliran-aliran destruktif. Masyarakat di kalangan Sahabat adalah masyarakat yang paling jauh dari perbuatan bid’ah dan paling bersih dari genangan air kotor seperti ini, dan ketika itu mereka tidak diuji dengan penyakit-penyakit seperti ini.[46] 

4. Kemudian anggaplah kita telah mengetahui tempat masuk dan keluar dari aliran-aliran palsu dan kelompok-kelompok sesat, lalu apa yang dituntut dari kita? Bukankah untuk menjelaskan kesesatan mereka itu membutuhkan ilmu, pemahaman, dan petunjuk?  Bukankah ilmu tersebut juga harus benar, bersih, dan telah teruji? Tidakkah kita khawatir apabila mereka itu disanggah oleh orang yang tidak memiliki ilmu, yang justru membuat dirinya sendiri tersesat lagi menyesatkan? Apakah cukup hanya dengan perasaan emosional dan semangat untuk menyanggah orang-orang sesat semacam itu? 

Maka orang yang mendalam pemahaman agamanya adalah orang yang paling kuat untuk menerangkan penyimpangan kelompok-kelompok sesat dan penyelewengan mereka, serta meng himpun kaum Muslimin di atas aqidah, pemahaman dan perilaku yang benar. 

BAHAYA BID’AH 

Diriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiyallahu anha, bahwa Rasulullah  Shalallallahu alihi wa sallam bersabda: 

 “Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang tidak termasuk darinya, maka dia tertolak. ”[47] 

Disebutkan dalam riwayat Muslim:[48] 

 “Barang siapa melakukan suatu perbuatan yang tidak berpedoman kepada perintah kami, maka dia tertolak.” 

Jadi, mendekatkan diri kepada Allah Tabaroka wa ta’ala dengan selain dari apa yang terdapat pada al-Quran, as-Sunnah, dan cara Salafush Shalih, adalah bahaya yang sangat besar, selain ia juga merupakan tindakan lancang serta melanggar ketentuan ketentuan Allah Tabaroka wa ta’ala

Sesungguhnya, adalah mudah bagi orang yang mencuri uang sebesar satu dirham untuk mencuri beribu-ribu dirham (setelah itu-ed). Karena sesungguhnya perbuatan mencuri tersebut melanggar ketentuan-ketentuan Allah. Sama halnya dengan keadaan pelaku bid’ah, sementara bid’ah-bid’ah yang besar bahkan terkadang syirik kepada Allah Subhanahu wa ta’ala akan terasa ringan olehnya. Karena, awal keberpalingan dari Sunnah yang shahih serta ridha terhadap bid’ah, merupakan jalan untuk menerima setiap kesesatan dan penyimpangan. 

Sebagaimana kemusyrikan yang terjadi pada kaum Nabi Nuh  alaihi salam yang bermula dari membuat patung orang-orang shalih setelah kematian mereka. Lalu, syaitan menghiasi tujuan dari perbuatan itu, yaitu agar mereka selalu mengingatnya dan meneladani amal-amal baik mereka. Syaitan pun membisikkan kepada orang-orang setelah mereka agar menyembah patung orang-orang shalih tersebut sebagai sesembahan selain Allah Azza wa Jalla dengan menanamkan dugaan bahwa nenek moyang mereka telah melakukan hal itu sebelumnya. 

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu anhuma, dia berkata: “Berhala-berhala yang ada pada kaum Nabi Nuh alaihi salam itulah yang kemudian dikenal dikalangan bangsa Arab setelah itu. Berhala Wadd untuk suku Kalb di daerah Daumatul Jandal (kota di negeri Syam yang dekat dengan Iraq-pent). Berhala Suwa’ untuk suku Hudzail (dekat dengan. Makkah). Berhala Yaghuuts untuk suku Murad dan kemudian untuk Bani Ghuthaif di Juruf yang ada di negeri Saba’. Berhala Ya’uuq untuk suku Hamdan. Dan Berhala Nasr untuk bangsa Himyar, yaitu untuk keluarga Dzil Kala’. Mereka adalah nama-nama orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh alaihi salam. 

Tatkala mereka meninggal dunia, syaitan membisiki kaum mereka agar mereka mendirikan patung di majelis-majelis tempat mereka berkumpul dan menamakannya dengan nama-nama orang shalih tersebut. Lalu, mereka melakukannya, namun patung tersebut tidak disembah. Hingga akhirnya setelah mereka meninggal dunia dan ilmu pun telah dihapus, hingga patung-patung itu pun disembah.”[49] 

Demikianlah, syaitan telah mendekati mereka secara berangsur-angsur melalui pintu bid’ah, dengan mengobarkan semangat beribadah dan keikhlasan terhadap para wali dan orang-orang shalih, hingga akhirnya syaitan mampu menjerumuskan mereka pada perbuatan-perbuatan musyrik dan kufur. 

Akan tetapi, seandainya mereka mau merenungi perihal diri mereka dan mencegah dirinya tersebut dari melakukan hal-hal yang berasal dari bujukan hawa nafsu mereka—meskipun tanpa pengaruh ilmu atau tanpa adanya tanda dari petunjuk—niscaya mereka tidak akan menghancurkan diri mereka dengan melakukan hal-hal yang mengantarkan kepada kekufuran dan menempatkannya pada perbuatan-perbuatan yang merugikan. 

Hal seperti ini pulalah yang terjadi pada orang-orang yang duduk di masjid dengan membuat halaqah (lingkaran-ed) sambil menunggu shalat. 

Pada setiap halaqah terdapat seorang (pemimpin-ed) dan di tangan mereka terdapat kerikil. Lalu orang itu berkata: “Bertakbirlah sebanyak seratus kali.”

Lalu mereka membaca takbir sebanyak seratus kali. Demikian pula yang mereka lakukan dengan bacaan tahlil (Laa ilaaha illallaah) dan tasbih. Karena itulah, ‘Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu anhu  sangat mengingkari perbuatan mereka. Hal ini, sebagaimana disebutkan dalam riwayat shahih, dari al-Hakam bin al-Mubarak, dari ‘Amr bin Yahya, dia berkata: “Aku pernah mendengar ayahku menyampaikan hadits dari ayahnya, dia berkata: “Suatu saat kami duduk di dekat pintu (rumah) ‘Abdullah bin Mas’ud sebelum shalat Shubuh, dan bila dia keluar maka kami pun berjalan bersamanya menuju masjid. Lalu, Abu Musa mendatangi kami dan bertanya: “Apakah Abu ‘Abdirrahman telah keluar menemui kalian?” Kami menjawab: “Belum.” Ia pun duduk bersama kami hingga Ibnu Mas’ud keluar. Tatkala ‘Abdullah keluar, kami semua ber diri menghampirinya, lalu Abu Musa berkata kepadanya:

Wahai Abu ‘Abdirrahman, sesungguhnya tadi aku telah melihat sesuatu yang aku ingkari di dalam masjid, dan alhamdulillaah yang aku lihat selama ini adalah kebaikan.

‘Abdullah bertanya: “Apa itu?” Abu Musa menjawab: “Jika (nanti-ed) kamu masih hidup, niscaya engkau akan melihatnya.” Abu Musa melanjutkan: “Aku melihat di dalam masjid sekelompok orang yang duduk membentuk halaqah (lingkaran) sambil menunggu shalat. Pada setiap halaqah terdapat seorang laki-laki dan di tangan mereka terdapat kerikil,” lalu orang itu berkata: “Bertakbirlah sebanyak seratus kali, mereka pun membaca takbir sebanyak seratus kali.” Lalu orang itu berkata: “Bacalah La ilaaha illallaah seratus kali,” maka mereka pun membaca Laa ilaaha illallaah sebanyak seratus kali. Orang itu juga berkata: “Bacalah tasbih sebanyak seratus kali, lalu mereka pun membaca tasbih seratus kali.”

‘Abdullah bertanya: “Lalu apa yang engkau katakan kepada mereka?” Abu Musa menjawab: “Aku tidak mengatakan apa pun kepada mereka, karena menunggu pendapat darimu atau menunggu perintahmu.” ‘Abdullah berkata: “Mengapa engkau tidak memerintahkan mereka agar menghitung kesalahan- kesalahan mereka lalu engkau menjamin kepada mereka bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan sia-sia?”

Kemudian, ‘Abdullah pergi dan kami pun pergi bersamanya hingga dia mendatangi salah satu halaqah tersebut. Ia pun berdiri di dekat mereka seraya bertanya: “Apa yang kalian lakukan ini?” Mereka menjawab: “Wahai Abu ‘Abdirrahman, ini adalah kerikil untuk menghitung bacaan takbir, tahliil (laa ilaaha illallaah), dan tasbih.”

‘Abdullah berkata: “Kalau begitu, hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, dan aku menjamin tidak akan ada sedikit pun dari kebaikan-kebaikan kalian yang sia-sia. Celaka kalian, wahai ummat Muhammad, alangkah cepatnya kehancuran kalian. Para Sahabat Nabi Shalallallahu alaihi wa sallam kalian masih banyak, baju beliau  Shalallallahu alaihi wa sallam belum lagi usang dan bejana-bejana beliau Shalallallahu alaihi wa sallam juga belum pecah. Demi Yang jiwaku ada di Tangan-Nya, apakah kalian berada di atas satu agama yang lebih benar dari agama Muhammad, ataukah kalian mau membuka pintu kesesatan?” Mereka menanggapi: “Demi Allah, wahai Abu ‘Abdirrahman, tidak ada yang kami inginkan melainkan kebaikan.” Abdullah berkata: “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah Shalallallahu alaihi wa sallam telah menyampaikan kepada kami, bahwa ada satu kaum yang membaca al-Qur-an, namun bacaan tersebut tidak melebihi tenggorokan mereka. Demi Allah, aku tidak tahu barangkali saja kebanyakan merekaitu berasal dari kalian.” Kemudian, ‘Abdullah pun berpaling meninggalkan mereka. 

‘Amr bin Salam berkata: “Kami melihat kebanyakan orang-orang yang berasal dari halaqah-halaqah tersebut turut menyerang kami bersama kaum Khawarij pada perang Nahrawan.”[50] 

Demikianlah, tatkala kaum tersebut berdzikir mengingat Rabb mereka tanpa adanya petunjuk dan penerang dari al-Qur-an maupun as-Sunnah, maka akibat dari perbuatan itu mereka turut bersama kaum Khawarij memerangi kaum Muslimin pada perang Nahrawan. 

Demikianlah, mereka telah keluar dari jalan orang-orang Mukmin, dimulai dari membaca tasbih, laa ilaaha illallaah, dan takbir, dan yang mereka inginkan dari hal itu hanyalah kebaikan,menurut anggapan mereka demikian pula, mereka hanya menginginkan kebaikan ketika memerangi kaum Muslimin pada perang Nahrawan!! 

Lalu, kebaikan mana lagi yang telah membuat mereka sampai menyerang kaum Muslimin dan menumpahkan darah mereka? 

# LARANGAN DALAM WASIAT NABI SHALALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM, YAITU HANYA MENJAUHI BID’AH 

Seandainya engkau merenungi teks wasiat (di atas)semoga Allah merahmatimu , niscaya engkau akan mendapati bahwa perintah yang ada lebih banyak daripada larangan. Karena, siapa saja yang berpegang teguh kepada as-Sunnah, maka dia tidak lagi membutuhkan perincian-perincian tentang kesesatan. 

Adapun perintah yang terdapat pada wasiat itu adalah bertakwa kepada Allah Azza wa jalla ; patuh, dan taat; serta berpegang teguh kepada Sunnah Nabi Shalallallahu alaihi wa sallam  dan Sunnah Khulafa-ur Rasyidin. 

Sedangkan yang berhubungan dengan larangan hanyalah satu hal, yaitu: “Hindarilah perkaraperkara yang diada-adakan (bid’ah).” 

Seakan-akan maknanya: “Jauhilah perbuatan bid’ah dan hal-hal baru yang diada-adakan, niscaya engkau akan selamat dan menang. Karena bid’ah adalah rahasia di balik kesesatan, penyelewengan, dan kerugian, dan dapat menjerumuskan kepada kemusyrikan dan kekufuran. Barang siapa menutup pintu bid’ah, berarti dia telah mendapatkan petunjuk, atas izin Allah Tabaroka wa Ta’ala . Namun, barang siapa membuka pintu bid’ah, berarti dia telah membuka pintu-pintu kesesatan dan terhalangi dari taubat, 

sebagai mana disebutkan dalam sebuah hadits: 

“Sesungguhnya Allah menutup (pintu-ed) taubat dari pelaku setiap perbuatan bid’ah.”[51] 

PENUTUP 

Akhirnya penulis ingin mengatakan: “… memang benar, wasiat Nabi Shalallallahu alihi wa sallam itu seperti nasihat beliau yang dapat membuat hati bergetar dan air mata bercucuran karenanya … hati yang hidup akan bergetar dan air mata yang ikhlas akan bercucuran karenanya. Hati-hati bergetar karena suatu kehinaan yang kita jalani setelah kemuliaan yang pernah kita dengar. Air mata bercucuran karena keterasingan, percerai-beraian, perpecahan, dan perselisihan, setelah kemuliaan, kejayaan, dan kemenangan Wasiat Nabi Shalallallahu alihi wa sallam yang akan berpamitan datang untuk menyelamatkan kita dari bencana, kesusahan, kesia-siaan, dan perpecahan yang menimpa kita. 

Wasiat tersebut mencakup perintah untuk bertakwa kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala, ikhlas kepada-Nya, memerangi hawa nafsu, berpegang teguh kepada Sunnah Nabi Shalallallahu alihi wa sallam dan Khulafa-ur Rasyidin serta memahami al-Qur-an dan Sunnahnya berdasarkan manhaj para Sahabat yang mulia g, serta menjauhi hal-hal yang diada-adakan dan bid’ah-bid’ah (dalam agama-ed). 

Karenanya, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham,semoga Allah Tabaroka wa ta’ala merahmatimu niscaya, insya Allah, engkau akan termasuk orang-orang yang selamat dan beruntung.

Foot Note :

44) Kadang-kadang ada yang berkata: “Sungguh ‘Umar rodhiyallahu anhu telah berkata sebelumnya: ” Ni’matil bid’atu hadzihi”  ‘Sebaik-baik bid’ah adalah amalan ini.” Sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Abdurrahman bin ‘Abdil Qari, dia berkata: 

“Pada suatu malam di bulan Ramadhan, aku keluar bersama ‘Umar bin al-Khaththab menuju masjid. Orang-orang tampak berpencar, seorang laki-laki mengerjakan shalat sendirian dan laki-laki lainnya mengerjakan shalat, lalu ada sekelompok orang menjadi makmumnya (yaitu sejumlah laki-laki yang kurang dari dua puluh orang dan di dalamnya tidak terdapat seorang perempuan pun, Mukhtaarush Shihaah). Lalu ‘Umar berkata: ‘Aku

berpikir seandainya aku kumpulkan mereka kepada seorang imam niscaya itu akan lebih baik.’ ‘Umar pun bertekad untuk mengumpulkan mereka dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab. Pada malam lainnya, aku keluar bersamanya, sedangkan orang-orang melakukan shalat dengan imam mereka. ‘Umar Rodhiyallahu anhu berkata: ‘Sebaik-baik bid’ah adalah hal ini, dan shalat yang mereka tinggalkan karena tidur itu (maksudnya menggantinya dengan shalat di akhir malam) lebih utama daripada shalat yang mereka dirikan (shalat di awal malam), dan orang-orang melakukan shalat di awal malam. (HR. Al-Bukhari, no. 2010). 

Penulis berkata: “Sesungguhnya yang dimaksud oleh ‘Umar dengan kata bid’ah di sini adalah bid’ah dari sisi makna kebahasaannya, yaitu perkara baru yang belum pernah dikenal sebelumnya.” 

Ibnu Rajab berkata dalam kitab Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam dengan sedikit perubahan redaksi: “Sedangkan yang terdapat pada ucapan ulama Salaf berupa anggapan baik terhadap sebagian bid’ah, maka hal itu hanyalah dalam kaitannya secara bahasa, bukan secara syari’at. Di antara hal tersebut adalah ucapan ‘Umar Rodhiyallahu anhu tatkala dia mengumpulkan orang-orang dalam shalat Sunnah Ramadhan pada satu imam di dalam masjid. Kemudian dia keluar dan melihat mereka mengerjakan shalat seperti itu, lalu dia berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah hal ini.” 

Maksudnya adalah bahwa perbuatan semacam ini belum pernah dilakukan dengan cara tersebut sebelumnya, tetapi perbuatan ini memiliki beberapa dasar dalam syari’at yang menjadi acuannya. Di antaranya bahwa Nabi Shalallallahu alihi wa sallam menganjurkan untuk mengerjakan shalat Sunnah Ramadhan dan orang-orang pada masa beliau me lakukannya di masjid dalam beberapa kelompok terpisah maupun sendiri-sendiri, dan beliau Shalallallahu alihi wa sallam sendiri melakukan shalat dengan para Sahabat beliau di bulan Ramadhan tidak hanya satu malam saja. Kemudian, beliau tidak melakukannya dengan alasan bahwa beliau khawatir jika hal tersebut akan diwajibkan atas mereka, sehingga mereka tidak mampu untuk melaksanakannya. Namun kekhawatiran tersebut hilang setelah beliau wafat. 

Di antaranya pula adalah bahwa beliau Shalallallahu alihi wa sallam memerintahkan untuk mengikuti Sunnah Khulafa-ur Rasyi din, hal ini merupakan salah satu bagian dari Sunnah Khufa-ur Rasyidin, karena orang-orang telah berkumpul untuk melakukannya pada masa ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali. 

” Guru kami, al-Albani Rohimahullah berkata dalam kitab Shalaatut Taraawiih (hlm. 43): “Dan ucapan ‘Umar ‘Sebaik-baik bid’ah adalah hal ini’ itu tidak dimaksudkan bid’ah dalam arti syar’inya, yaitu mengada-adakan sesuatu yang baru dalam urusan agama tanpa memiliki contoh se belumnya, sebagaimana yang engkau ketahui bahwa ‘Umar Rodhiyallahu anhu tidak pernah mengada-adakan sesuatu yang baru (dalam agama-ed), justru dia telah menghidupkan lebih banyak lagi Sunnah Nabi yang mulia. 

Sesungguhnya yang dia maksud dengan bid’ah hanyalah bid’ah dalam arti bahasanya, yaitu hal baru yang belum dikenal sebelum diadakan. Dan tidak diragukan lagi bahwa shalat tarawih secara berjamaah di belakang satu imam itu tidak pernah dilakukan dan diamalkan pada masa kekhalifahan Abu Bakr dan separuh dari masa kekhalifahan ‘Umar. Maka, dilihat dari ungkapan ini, dia adalah sesuatu yang baru, tetapi dengan melihat bahwa hal itu sesuai dengan apa yang pernah dilakukan oleh Nabi Shalallallahu alihi wa sallam, maka dia adalah Sunnah, dan bukan bid’ah. Dan tidaklah ‘Umar mensifatinya dengan kata-kata “baik”, melainkan karena ia adalah Sunnah. 

Atas pengertian inilah kiranya para ulama ahli tahqiq menafsirkan ucapan ‘Umar Rodhiyallahu anhu tersebut. ‘Abdul Wahhab as-Subki berkata dalam kitab Isyraaqul Mashaabiih dan kitab Shalaatut Taraawiih (I/168) dari kitab al- Fataawaa: “Ibnu ‘Abdil Barr berkata: ‘‘Umar Rodhiyallahu anhu  tidaklah mensunnahkan sesuatu pada shalat tarawih tersebut melain kan apa yang telah di sunnahkan oleh Rasulullah Shalallallahu alihi wa sallam, disenangi dan diridhai nya. Dan Rasulullah Shalallallahu alihi wa sallam sendiri tidak berhenti melakukannya secara rutin melainkan karena khawatir apabila hal itu akan diwajibkan atas ummat beliau, sedangkan beliau sangat belas kasih dan menyayangi kaum Mukminin. Tatkala ‘Umar Rodhiyallahu anhu mengetahui hal itu dari Rasulullah Shalallallahu alihi wa sallam dan mengetahui bahwa hal-hal yang diwajibkan tidak akan ditambah dan tidak akan dikurangi setelah beliau wafat, maka dia memberlakukannya terhadap masyarakat, meng hidup kannya dan memerintahkannya. 

Hal itu terjadi pada tahun 14 H. Itulah sesuatu yang Allah Subhanahu wa ta’ala simpan dan anugerahkan kepadanya, yang tidak Dia ilhamkan kepada Abu Bakar, sekalipun dia itu lebih utama dan lebih cepat dalam menuju semua kebaikan. Bagi masing-masing dari keduanya memiliki beberapa keutamaan yang tidak dimiliki oleh yang lainnya.”

 As-Subki melanjutkan: “Seandainya hal itu tidak diperintahkan, niscaya itu adalah bid’ah yang tercela sebagaimana yang berlaku pada shalat raghaa-ib pada malam Nisfu Sya’ban dan Jum’at pertama pada bulan Rajab, sehingga wajib mengingkarinya. Sedangkan, membatalkan pengingkaran terhadap shalat tarawih dengan berjama’ah adalah sesuatu yang telah diketahui secara pasti dalam agama.” 

Al-‘Allamah Ibnu Hajar al-Haitami berkata dalam kitab Fatwa-nya, yang berbunyi: “Mengusir orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani dari Jazirah Arab dan memerangi mereka yang enggan untuk membayar zakat, dilakukan atas perintah Nabi Shalallallahu alihi wa sallam, sehingga ia bukanlah bid’ah, sekalipun hal tersebut belum pernah dilakukan pada masa beliau. Dan ucapan ‘Umar Rodhiyallahu anhu mengenai shalat tarawih “sebaik-baik bid’ah adalah hal ini,” dimaksud kan adalah bid’ah secara bahasa, yaitu sesuatu yang dilakukan tanpa adanya contoh, sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

…. قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ

 “… Aku bukanlah yang pertama di antara Rasul-Rasul …”(QS. Al-Ahqaaf: 9) 

Ia bukanlah bid’ah syar’iyyah, karena bid’ah syar’iyah itu sesat sebagaimana dikatakan oleh Nabi Shalallallahu alihi wa sallam. 

Siapa saja dari kalangan ulama yang membagi bid’ah menjadi bid’ah yang baik dan bid’ah yang tidak baik, maka sesungguhnya dia membagi bid’ah secara bahasa.

Dan siapa saja yang mengatakan bahwa setiap perbuatan bid’ah adalah sesat, maka maksudnya adalah bid’ah syar-’iyyah. 

Tidakkah engkau melihat bahwa para Sahabat Rodhiyallahu anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik telah mengingkari adanya adzan untuk selain shalat lima waktu, seperti halnya pada kedua shalat hari raya, sekalipun tidak ada larangan di dalamnya? Dan mereka juga tidak menyukai menyentuh dua rukun Syam (ketika berhaji-ed) dan shalat setelah melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah sebagai bentuk qiyas atas thawaf? Dan demikian pula dengan sesuatu yang ditinggalkan oleh Nabi Shalallallahu alihi wa sallam padahal ada hal-hal yang menuntut untuk melakukannya ketika beliau masih hidup, maka meninggalkannya adalah Sunnah sedangkan melakukannya adalah perbuatan bid’ah yang tercela. 

Terdapat pengecualian dari pernyataan kami di atas: “Padahal ada beberapa hal yang menuntut untuk dilakukan ketika beliau masih hidup,” adalah mengusir orang-orang Yahudi, menghimpun mushaf, dan apa saja yang beliau tinggalkan karena adanya hal-hal yang menghalangi pelaksanaannya, seperti pada masalah melakukan shalat tarawih berjama’ah. Sehingga sesuatu yang menuntut untuk melakukannya dianggap sempurna keberadaannya apabila tidak terdapat hal-hal yang menghalangi pelaksanaannya.” 

Guru kami Rohimahullah berkata mengenai penjelasan ungkapan terakhir, yaitu bahwa kata al-muqtadha at-taamm (sesuatu yang menuntut untuk melakukannya di anggap sempurna) mengandung makna tidak adanya penghalang, seperti halnya pada masalah shalat tarawih secara berjamaah. Tuntutan untuk melakukan hal itu dulunya telah ada, tetapi terdapat hal lain yang menghalangi pelaksanaannya, yaitu kekhawatiran apabila hal itu diwajibkan. Dengan demikian, tuntutan untuk melakukannya dianggap tidaklah sempurna. 

45) Sanadnya shahih, sebagaimana disebutkan dalam kitab Ishlaahul Masaajid (hlm. 13), karya guru kami al-Albani rohimahullah 

46) Akan tetapi, tetap saja pada masa mereka sebagaimana yang terjadi pada setiap masa terdapat pembangkangan, kemusyrikan, kekufuran, kefasikan, dan kedurhakaan, namun Allah telang menguatkan mereka dengan pertolonganNya, dengan pedang, kepala anak panah, argumentasi dan bukti. 

47) HR. Al-Bukhari (no. 2697) dan Muslim (no. 1718).

48) No. 1718

49) HR. Al-Bukhari (no. 4920). Al-Hafizh Ibnu Hajar rohimahullah telah menyebutkan bahwa hadits ini adalah munqathi’. Sekalipun demikian, derajat hadits ini adalah shahih li ghairih, karena ia memiliki jalur lain dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu anhuma dan satu hadits penguat dari murid Ibnu ‘Abbas, yaitu ‘Ikrimah dalam Tafsiir ath-Thabari. Guru kami rohimahullah memberitahukan hal tersebut dan meletakkan keterangan ini pada tahqiq kedua dari kitab Tahdziirus Saajid fii Ittikhaadzil Qubuur Masaajid. 

50) HR. Ad-Darimi (I/68) dan sanadnya shahih. Semua perawinya adalah tsiqah (dapat dipercaya). Lihat: ar-Radd ‘alat Ta ’aqqubil Hatsiits (hlm. 47), karya guru kami, al-Albani Rohimahullah. 

51) HR. Abusy Syaikh dalam kitab Taariikh Ashbahaan, ath-Thabrani dalam kitab al-Mu’jamul Ausath dan lainnya. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1620). 

Sumber : Pesan- Pesan  Terakhir Rasulullah shalallallahu alaihi wa sallam  (Washiyyatu Muwaddi’) karya Syaikh Husain bin ’Audah al-’Awayisyah Penerbit Pustaka Imam asy-Syafi’i.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: