Pesan- Pesan Terakhir Rasulullah shalallallahu alaihi wa sallam ( Washiyyatu Muwaddi’ ) Bag 3

# LALU, APA SOLUSINYA? 

• “Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah

Khu lafa-ur Rasyidin yang mendapatkan pe tunjuk, gigitlah dia dengan gigi geraham” 

“Wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku”, artinya berpegang teguhlah kepada manhaj dan jalanku. Karena dia adalah cahaya, obat dan sekaligus rahmat. As-Sunnah yang menafsirkan al-Qur-anul ‘Azhim dan ia diambil dari sumbernya. 

Bagaimana mungkin orang yang berpegang kepada al-Qur-an dan as-Sunnah dapat tersesat dan celaka, sementara Rasulullah Shalallallahu alihi wa sallam bersabda: 

 “Aku telah meninggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu al-Qur-an dan Sunnah Rasul-Nya.”[20]

Diriwayatkan dari Abul ‘Aliyah, bahwa dia berkata: “Kalian harus berpegang teguh kepada perkara pertama yang dahulu menjadi pedoman mereka (Sahabat) sebelum orang-orang terpecah belah.” 

“Wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku”, tetapi bagaimana kita bisa mengetahui Sunnah beliau? 

Haruslah dengan metode tahqiq (meneliti), tamhiish (klarifikasi), dan mengikuti ulama ahli hadits. Jika tidak, maka kebiasaan-kebiasaan manusia akan tercampur ke dalam Sunnah beliau, sehingga agama menjadi hawa nafsu dan hawa nafsu menjadi agama, dan akal yang terbatas dijadikan penentu, sementara syari’at Allah Ta’ala tidak lagi diberlakukan. Mengenai hal ini, Rasulullah Shalallallahu alihi wa sallam bersabda: 

 “(Akan ada-ed) sekelompok dari ummatku yang senantiasa membela kebenaran. Orang yang menghina mereka tidak dapat membahayakan mereka hingga datang urusan Allah, sedang mereka tetap seperti itu.”[21

Sejumlah ulama menerangkan bahwa yang dimaksud dengan kelompok ini adalah para ahli hadits. Guru kami, al-Albani rohimahullah telah menyebutkan ulama yang menerangkan hal itu dalam kitab Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (I/541), mereka itu adalah: 

1. ‘Abdullah bin al-Mubarak rohimahullah. Ia berkomentar me ngenai hadits di atas: “Menurutku, mereka itu adalah para ahli hadits.”

2. ‘Ali bin al-Madini. Al-Khathib juga meriwayatkan melalui jalur at-Tirmidzi dan ini terdapat dalam kitab Sunan-nya (II/30), ia telah menyebutkan hadits ini dari riwayat al- Muzani yang terdahulu (no. 5)[22], kemudian dia berkata: “Muhammad bin Isma’il (yaitu al-Bukhari) berkata: ‘’Ali bin al-Madini berkata: ‘Mereka itu adalah para ahli hadits.’” 

3. Ahmad bin Hanbal. Ia pernah ditanya mengenai makna hadits ini, lalu ia menjawab:

“Jika kelompok yang ditolong ini bukanlah ahli hadits, maka aku tidak tahu lagi, siapa mereka itu.” 

4. Ahmad bin Sinan, seorang tsiqah dan hafizh. Ia berkata: “Mereka itu adalah para ulama dan ahli atsar (hadits).” 

5. Al-Bukhari dan Muhammad bin Isma’il. Al-Khathib meriwayatkan dari Ishaq bin Ahmad, ia berkata: Muhammad bin Isma’il al-Bukhari meriwayatkan kepada kami dan ia menyebutkan hadits Musa bin ‘Uqbah, dari Abu az-Zubair, dari Jabir, dari Nabi Shalallallahu alihi wa sallam: “Sekelompok dari ummatku senantiasa …” Al-Bukhari berkata: “Yaitu para ahli hadits.” Dan al-Bukhari berkata dalam kitab Shahiih-nya, dan ia meriwayatkan hadits ini secara mu’allaq dan menjadikannya sebagai salah satu bab: “Mereka adalah para ulama.” Tidak ada pertentangan antara pernyataan ini dengan pernyataan sebelumnya, sebagaimana telah tampak jelas (antara keduanya- ed). Karena ulama itu ada lah ahli hadits. Alasannya, tatkala se seorang itu lebih mengetahui tentang hadits, maka ia adalah orang yang lebih me ngetahui tentang ilmu dari pada orang yang lebih rendah darinya dalam bidang hadits, sebagaimana hal itu sudah jelas sekali. 

Imam al-Bukhari juga berkata dalam kitabnya, Khalqu Af’aalil ‘Ibaad (hlm. 77, cetakan India)—dan dia telah menyebutkan dengan sanadnya sendiri hadits Abu Sa’id al-Khudri rodhiyallahu anhu mengenai firman Allah Ta’ala:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia …” (QS. Al-Baqarah: 143) 

Al-Bukhari berkata: “Mereka itu adalah kelompok yang disebutkan oleh Nabi Shalallallahu alihi wa sallam …” Lalu al-Bukhari menyebutkan hadits tersebut.[23]

Sungguh, Rasulullah Shalallallahu alihi wa sallam telah meninggalkan ummat beliau di atas cahaya dan petunjuk, sebagaimana beliau meninggalkan mereka di atas manhaj, seperti bumi yang terang, yang malamnya seperti siangnya, tidak ada yang tersesat darinya kecuali orang yang binasa yang tidak memiliki alasan dan argumentasi sama sekali, sebagaimana disebutkan dalam sabda beliau Shalallallahu alihi wa sallam : 

“Sungguh, aku telah meninggalkan kalian di atas jalan yang terang,[24] malamnya seperti siangnya, tidak ada yang tersesat darinya kecuali orang yang binasa.”[25]

Seakan-akan di dalamnya terdapat penjelasan terhadap firman Allah Ta’ala:

 وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’aam: 153)

 Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallahu anhu, dia berkata: “Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi Shalallallahu alihi wa sallam , tiba-tiba beliau membuat satu garis di depannya, lalu beliau bersabda: ‘Ini adalah jalan Allah Ta’ala.’ Selanjutnya beliau membuat satu garis di sebelah kanannya dan membuat satu garis lagi di sebelah kirinya, seraya bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan syaitan, kemudian beliau meletakkan tangannya di garis paling tengah, lantas membaca ayat ini:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’aam: 153) [26]

• “Wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku”

Beliau tidak mengatakan: “Wajib atas kalian berpegang teguh kepada syaikh fulan, murabbi fulan, dan seorang ulama bernama fulan.” Maka, jauhilah fanatik terhadap siapa saja di antara mereka itu dan hendaklah kita mengambil dari mereka apa saja yang dapat menyampaikan kita kepada as-Sunnah, kepada yang hak dan yang benar. 

• “Dan Sunnah Khulafa-ur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk”

 Jadi, wajib bagi kita untuk memahami Sunnah Nabi, sebagaimana yang dipahami oleh Khulafa-ur Rasyidin. Mereka adalah orang yang paling dekat dengan Nabi Shalallallahu alihi wa sallam, orang yang paling suci otaknya, orang yang paling jujur imannya, orang yang paling banyak amal baiknya, orang yang paling tinggi intensitas kebersamaannya dengan Nabi Shalallallahu alihi wa sallam. Sesungguhnya mereka telah menyaksikan sekian banyak perkara dengan mata kepala mereka sendiri, sedangkan kita hanya mendengarnya dari berita-berita, dan “mendengar berita itu tidak seperti melihat dengan mata kepala.”[27] Rasulullah Shalallallahu alihi wa sallam telah mensifati mereka dengan rasyidiin (orang-orang yang lurus di jalan yang benar) dan mahdiyyiin (orang-orang yang mendapatkan petunjuk), lalu adakah seseorang setelah para Sahabat Nabi Shalallallahu alaihi wa sallam yang di beri sifat dengan sifat ini sehingga kita dapat meng ikutinya? 

# TIDAK BOLEH HANYA BERPEDOMAN KEPADA AL-QUR-AN SEMATA 

Hanya berpedoman kepada al-Qur-an semata tanpa menyertakan Sunnah Nabi merupakan kesesatan yang besar. Kita dapat melihat sendiri bagaimana kebanyakan firqah (kelompok) sesat mengklaim telah berpegang teguh kepada al-Qur-an dengan berpedoman kepada takwil dan penyelewengan (penafsiran-ed), sebagaimana yang diinginkan oleh hawa nafsunya. 

Apakah di dalam al-Qur-an terdapat perincian tentang shalat, zakat, haji, atau dzikirdzikir? Jadi, untuk memahami al-Qur-an haruslah berdasarkan petunjuk Sunnah Nabi.[28] 

Perlu diketahui oleh seorang Muslim, bahwa apa saja yang dihalalkan oleh Rasulullah Shalallallahu alihi wa sallam adalah sama seperti apa yang dihalalkan oleh Allah Azza wa Jalla; dan apa saja yang diharamkan oleh Rasulullah n adalah sama seperti apa yang diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla. 

Diriwayatkan dari al-Miqdam bin Ma’dikariba,dia berkata: “Rasulullah Shalallallahu alihi wa sallam bersabda: 

‘Ketahuilah, telah dekat waktunya seseorang menerima hadits dariku, sementara dia sedang bersandar di dipannya, lalu dia berkata: 

‘Antara kami dengan kalian (hanya-ed) terdapat Kitabullah, maka apa saja yang kami dapatkan halal di dalamnya, maka kami menghalalkannya; dan apa saja yang kami dapatkan haram di dalamnya, maka kami mengharamkannya.’ Sesungguhnya apa saja yang diharamkan oleh Rasulullah adalah seperti apa yang diharamkan oleh Allah.”[29] Hal ini mengingatkan kita kepada perbincangan yang terjadi antara ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu dengan Ummu Ya’qub, sebagaimana yang terdapat dalam hadits ‘Alqamah, dia berkata: 

“’Abdulah telah melaknati perempuan-perempuan yang membuat tato,[30] perempuan-perempuan yang minta dihilangkan dan dicabut bulu di wajahnya,[31] perempuan-perempuan yang merenggangkan giginya[32] agar tampak cantik, yang mengubah ciptaan Allah. Lalu, Ummu Ya’qub berkata: “Apa ini?”

Abdullah berkata: “Bagaimana aku tidak melaknati orang yang telah dilaknati oleh Rasulullah Shalallallahu alihi wa sallam dan terdapat dalam al-Qur-an.” Ummu Ya’qub berkata: “Demi Allah, aku telah membaca seluruh tulisan yang berada di dalam al-Qur-an ini, namun aku tidak pernah menjumpainya.” Lalu, ‘Abdullah berkata: “Demi Allah, jika kamu membacanya, pasti kamu akan menjumpainya:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ 

 ‘… Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah …’ (QS. Al-Hasyr: 7)”[33] 

Jadi, Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu  melaknati perempuan-perempuan

yang membuat tato, perempuan-perempuan yang minta dihilangkan dan dicabut bulu di wajahnya, dan perempuan-perempuan yang merenggangkan giginya agar tampak cantik. Akan tetapi, Ummu Ya’qub tidak mengakui per buatan tersebut. Maka, jawaban Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu  adalah bahwa dia melaknati orang yang dilaknati oleh Rasulullah Shalallallahu alihi wa sallam dan ia mengambil dasar pelaknatan ini dari al-Qur-an. 

Walaupun demikian, Ummu Ya’qub tetap menampakkan penentangan yang keras terhadap ucapan Ibnu Mas’ud, karena dia belum pernah membacanya di dalam al-Qur-an, maka jawaban Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu  adalah: ‘jika engkau membacanya, niscaya engkau akan menjumpainya. Bukankah engkau pernah membaca:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“… Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah …” (QS. Al-Hasyr: 7) 

Karena sesungguhnya Rasulullah Shalallallahu alihi wa sallam telah melaknati jenis-jenis orang seperti ini, sedangkan Allah memerintahkan agar mengikuti Nabi Shalallallahu alihi wa sallam. Maka apa saja yang beliau berikan kepada kita, maka kita menerimanya dan apa saja yang beliau larang bagi kita, maka kita tinggalkan. 

Demikian pula, siapa saja yang dilaknati oleh Nabi Shalallallahu alihi wa sallam maka kita juga melaknatinya. Oleh karena itu, pelaknatan orang seperti ini adalah bersumber dari al-Qur-an. 

Atas dasar inilah, kita dapat mengetahui bahwa mengikuti perintah-perintah Rasulullah Shalallallahu alihi wa sallam hakekatnya merupakan bentuk mengikuti perintah-perintah al-Qur-an al-‘Azhim, dan menjauhi larangan-larangan Rasulullah Shalallallahu alihi wa sallam juga berarti menjauhi larangan-larangan al-Qur-an al- Karim. Demikian pula, apa saja yang dihalalkan oleh Rasulullah Shalallallahu alihi wa sallam adalah sama seperti apa yang dihalalkan oleh Allah Tabaroka wa ta’ala dan apa saja yang diharamkan oleh Rasulullah n adalah sama seperti apa yang diharamkan oleh Allah Tabaroka wa ta’ala. 

Karena inilah, sudah seharusnya kita tidak membeda-bedakan antara al-Qur-an dengan Sunnah Rasulullah Shalallallahu alihi wa sallam

Bersambung

Foot Note :

20) HR. Malik secara mursal dan Al-Hakim dari hadits Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu anhuma. Sanadnya hasan, sebagaimana dikatakan oleh guru kami t dalam kitab at-Tawassul. Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu (hlm. 13).

21)  HR. Muslim (no. 1920) dan lainnya.

22)  Riwayat ini telah disebutkan oleh guru kami t (hlm. 539) dan dia berkata: “ … di dalam al-Musnad (III/436 dan V/34) dengan sanad shahih dan dishahihkan oleh at-Tirmidzi.”

23)  Kemudian, guru kami t menyebutkan sekilas tentang keutamaan ahli hadits dan beliau juga menyebutkan perkataan al-Khathib al-Baghdadi rohimahullah dalam mukaddimah kitab Syaraf Ash haabil Hadiits, sebagai bentuk pem belaan terhadap mereka dan penolakan terhadap orang yang bertentangan dengan mereka. Kemudian dia menyebutkan beberapa bab sebatas yang benar-benar penting sehubungan dengan tema dan untuk melengkapi faedah. Guru kami mengakhiri ucapannya dengan me nyebutkan persaksian monumental bagi ahli hadits dari seorang tokoh ulama madzhab Hanafi, yaitu Abul Hasanat al- Laknawi rohimahullah sehingga hal itu dapat menambah faedah dan kebaikannya. Jika pembaca meng inginkan lebih rinci nya, silahkan lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah pada komentar terhadap hadits yang ditunjuk, yaitu no. 270. 

24)  Yaitu, di atas hujjah yang terang, jelas, kuat, dan pasti. Malam yang terang adalah malam yang di dalamnya bulan dapat terlihat sejak awal hingga akhir malam.

25) Shahih berikut jalur-jalur dan hadits-hadits penguatnya, sebagaimana disebutkan dalam Kitaabus Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim (no. 47, 48, 49).

26) Shahih berikut hadits pendukung. Lihat Kitaabus Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim, (no. 16, 17)

27)  HR. Ahmad, ath-Thabrani, al-Khathib dan lainnya dengan sanad shahih, sebagaimana disebutkan dalam kitab Takhriijul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyah (no. 401). 

28)  Guru kami, al-Albani rohimahullah , memiliki sebuah risalah yang bermanfaat dan baik berjudul Manzilatus Sunnah fil Islaam wa Bayaan annahu laa Yustaghnaa ‘anhaa bil Quraan. 

29) HR. At-Tirmidzi dan lafazh ini miliknya. Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 2146). Ibnu Majah, Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 12). Ad-Darimi dan lainnya.

30)  Al-Wasym, artinya menusuk kulit dengan jarum, kemudian diisi dengan celak atau nila, sehingga bekasnya akan berwarna biru atau hijau. (An-Nihaayah). 

31)  An-Nammaas, artinya menghilangkan dan mencabut bulu yang ada di wajah. Al-Mutanammishah adalah perempuan yang menyuruh orang lain untuk melakukan hal itu terhadap dirinya.

32)  Adalah bentuk jama’ dari kata mutafallijah, yaitu perempuan yang meminta di-falaj. Falaj sendiri adalah merenggangkan jarak antara dua gigi seri. Tafalluj, arti nya merenggangkan antara dua benda yang saling menempel dengan menggunakan kikir atau semacamnya, hal ini biasanya khusus untuk gigi seri dan gigi-gigi yang terletak antara gigi seri dan gigi taring … (Fat-hul Baari) 

33) HR. Al-Bukhari (no. 5939) dan Muslim (no. 2125).

Sumber : Pesan- Pesan  Terakhir Rasulullah shalallallahu alaihi wa sallam  (Washiyyatu Muwaddi’) karya Syaikh Husain bin ’Audah al-’Awayisyah Penerbit Pustaka Imam asy-Syafi’i.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: