Kesempurnaan Islam dsan Bahaya Bid’ah

Kesempurnaan Islam dsan Bahaya Bid’ah

Oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin Rohimahullah 

ALLAH TELAH MENJELASKAN USHUL DAN FURU’ AGAMA DALAM AL QUR’ANUL KARIM

Anda tentu telah tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan dalam Al Qur’an tentang ushul (pokok-pokok) dan furu’ (cabang-cabang) agama Islam. Allah telah menjelaskan tentang tauhid dengan segala macam-macamnya, sampai tentang bergaul sesama manusia seperti tatakrama pertemuan, tatacara minta izin dan lain sebagainya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majlis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. (Surah Al Mujaadalah:11).

Dan FirmanNya :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu minta izin dan memberi salam kepada penghuninya, yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat. Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: ‘Kembalilah!’ maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Surah An-Nuur:27-28).

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan pula kepada kita dalam Al Qur’an tentang cara berpakaian. FirmanNya:

Dan perempuan-perampuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi) tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka 1) dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan. (Surah An-Nuur:60).

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya2) ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surah Al-Ahzaab:59)

Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. (Surah An-Nuur:31).

Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah dari belakangnya 3), akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa, dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya. (Surah Al-Baqarah:189).

Dan masih banyak lagi ayat seperti ini, yang dengan demikian jelaslah bahwa Islam adalah sempurna, mencakup segala aspek kehidupan, tidak perlu ditambahi dan tidak boleh dikurangi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang Al- Qur’an:

Dan Kami turunkan kepadamu kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu. (Surah An-Nahl:89).

Dengan demikian, tidak ada sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia baik yang menyangkut masalah kehidupan di akhirat maupun masalah kehidupan di dunia, kecuali telah dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an secara tegas atau dengan isyarat, secara tersurat maupun tersirat.

Adapun firman Allah Ta’ala:

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam al-kitab. Kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (Surah Al-An’aam:38).

Ada yang menafsirkan al-kitab disini adalah Al-Qur’an. Padahal yang dimaksud yaitu Lauh Mahfuzh. Karena apa yang dinyatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Al-Qur’an dalam firmanNya:

Dan Kami turunkan kepadamu kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu, lebih tegas dan lebih jelas daripada yang dinyatakan dalam firmanNya: Tidaklah Kami alpakan sesuatupun di dalam al-kitab.

Mungkin ada orang yang bertanya: Adakah ayat di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan jumlah shalat lima waktu berikut bilangan raka’at tiap-tiap shalat? Bagaimanakah dengan firman Allah yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk menerangkan segala sesuatu, padahal kita tidak menemukan ayat yang menjelaskan bilangan raka’at tiap-tiap shalat?

Jawabnya: Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan di dalam Al-Qur’an bahwasanya kita diwajibkan mengambil dan mengikuti segala apa yang telah disabdakan dan ditunjukkan oleh Rasulullah. Hal ini berdasarkan atas firman Allah Ta’ala:

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. (Surah An-Nisaa’:80).

Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. (Surah Al-Hasyr:7).

Maka segala sesuatu yang telah dijelaskan oleh sunnah Rasulullah, sesungguhnya Al-Qur’an telah menunjukkannya pula. Karena sunnah termasuk juga wahyu yang diturunkan dan diajarkan oleh Allah kepada Rasulullah. Sebagaimana disebutkan dalam firmanNya:

Dan Allah telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-hikmah (As-Sunnah) kepadamu. (Surah An-Nisaa’:113).

Dengan demikian, apa yang disebutkan dalam sunnah maka sebenarnya telah disebutkan pula dalam Al-Qur’an.

RASULULLAH TELAH MENJELASKAN PULA SELURUH AGAMA

Apabila saudara telah mengakui dan meyakini akan hal-hal di atas, maka apakah masih ada sesuatu hal tentang agama yang dapat mendekatkan kepada Allah belum dijelaskan oleh Nabi

sampai beliau wafat? Tentu tidak. Nabi telah menerangkan segala sesuatu berkenaan dengan agama, baik melalui perkataan, perbuatan atau persetujuan beliau. Beliau telah menerangkannya langsung dari inisiatif beliau, atau sebagai jawaban atas pertanyaan.

Kadangkala, dengan kehendak Allah, ada seorang Badui dating kepada Rasulullah untuk bertanya tentang sesuatu masalah dalam agama, sementara para sahabat yang selalu menyertai Rasulullah tidak menanyakan hal tersebut. Karena itu para sahabat merasa senang apabila ada seorang Badui datang untuk bertanya kepada Nabi.

Sebagai bukti bahwa Nabi telah menjelaskan segala apa yang diperlukan manusia dalam ibadah, mu’amalah dan kehidupan mereka, yaitu firman Allah Ta’ala:

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Surah Al-Maa’idah:3).

SETIAP BID’AH ADALAH KESESATAN

Apabila masalah tadi sudah jelas dan manjadi ketetapan saudara, maka ketahuilah bahwa siapa pun yang berbuat bid’ah dalam agama, walaupun dengan tujuan baik, maka bid’ahnya itu, selain merupakan kesesatan, adalah suatu tindakan menghujat agama dan mendustakan firman Allah Ta’ala yang artinya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu …..

Karena dengan perbuatannya tersebut, dia seakan-akan mengatakan bahwa Islam belum sempurna, sebab amalan yang diperbuatnya dengan anggapan dapat mendekatkan diri kepada Allah belum terdapat di dalamnya. Anehnya, ada orang yang melakukan bid’ah berkenaan dengan dzat, asma’ dan sifat Allah ‘Azza wa Jalla kemudian ia mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk mengagungkan Allah, untuk mensucikan Allah dan untuk menuruti firman Allah Ta’ala:

Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. (Surah Al-Baqarah:22)

Aneh, bahwa orang yang melakukan bid’ah seperti ini dalam agama Allah, yang berkenaan dengan dzatNya, yang tidak pernah dilakukan oleh para ulama salaf, mengatakan bahwa dialah yang mensucikan Allah, dialah yang mengagungkan Allah dan dialah yang menuruti firmanNya:

Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, dan barangsiapa yang menyalahinya maka dia adalah mumatstsil musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhlukNya atau menuduhnya dengan sebutan-sebutan jelek lainnya.

Anehnya lagi, ada orang-orang yang melakukan bid’ah dalam agama Allah berkenaan dengan pribadi Rasulullah. Dengan perbuatannya itu mereka menganggap bahwa dirinya orang yang paling mencintai Rasulullah dan yang mengagungkan beliau, barangsiapa yang tidak berbuat sama seperti mereka maka dia adalah orang yang membenci Rasulullah, atau menuduhnya dengan sebutan-sebutan jelek lainnya yang biasa mereka pergunakan terhadap orang yang menolak bid’ah mereka. Aneh, bahwa orang-orang semacam ini mengatakan: Kamilah, yang mengagungkan Allah dan RasulNya. Padahal dengan bid’ah yang mereka perbuat itu, mereka sebenarnya telah bertindak lancing terhadap Allah dan RasulNya. Allah Ta’ala telah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.. (Surah Al-Hujuraat:1).

Pembaca yang budiman, Di sini penulis mau bertanya, dan mohon -demi Allah- agar jawaban yang Anda berikan berasal dari hati nurani bukan secara emosional, jawaban yang sesuai dengan tuntutan agama Anda, bukan karena taklid (ikut-ikutan). Apa pendapat Anda terhadap mereka yang melakukan bid’ah dalam agama Allah, baik yang berkenaan dengan dzat, sifat dan asma’ Allah Subhanahu wa Ta’ala atau yang berkenaan dengan pribadi Rasulullah, kemudian mengatakan: Kamilah yang mengagungkan Allah dan Rasulullah ?

Apakah mereka ini yang lebih berhak disebut sebagai pengagung Allah dan Rasulullah, ataukah orang-orang yang mereka itu tidak menyimpang seujung jaripun dari syari’at Allah, yang berkata: Kami beriman kepada syari’at Allah yang dibawa Nabi, kami mempercayai apa yang diberitakan, kami patuh dan tunduk terhadap perintah dan larangan, kami menolah apa yang tidak ada dalam syari’at, tak patut kami berbuat lancang terhadap Allah dan RasulNya atau mengatakan dalam agama Allah apa yang tidak termasuk ajarannya ?

Siapakah, menurut Anda yang lebih berhak untuk disebut sebagai orang yang mencintai serta mengagungkan Allah dan RasulNya ? Jelas golongan yang kedua, yaitu mereka yang berkata: Kami mengimani dan mempercayai apa yang diberitakan kepada kami, patuh dan tunduk terhadap apa yang diperintahkan; kami menolak apa yang tidak diperintahkan, dan tak patut kami mengada-adakan dalam syari’at Allah atau melakukan bid’ah dalam agama Allah. Tak syak lagi bahwa inilah orang-orang yang

tahu diri dan tahu kedudukan Khaliqnya. Merekalah yang mengagungkan Allah dan RasulNya dan merekalah yang menunjukkan kebenaran kecintaan mereka kepada Allah dan RasulNya. Bukan golongan yang pertama, yang melakukan bid’ah dalam agama Allah, dalam hal akidah, ucapan atau perbuatan. Padahal anehnya, mereka mengerti sabda Rasulullah:

Jauhilah perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan masuk dalam neraka.

Sabda beliau :setiap bid’ah bersifat umum dan menyeluruh, dan mereka mengetahui hal itu. Rasulullah yang menyampaikan maklumat umum ini, tahu akan konotasi apa yang disampaikannya. Beliau adalah manusia yang paling fasih, paling tulus terhadap umatnya, tidak mengatakan kecuali apa yang dipahami maknanya. Maka ketika Nabi bersabda: Kullu bid’atin dhalalah, beliau menyadari apa yang diucapkan, mengerti betul akan maknanya, dan ucapan ini timbul dari beliau karena beliau benar-benar tulut terhadap umatnya.

Apabila suatu perkataan memenuhi ketiga unsur ini, yaitu: diucapkan dengan penuh ketulusan, penuh kefasihan dan penuh pengertian, maka perkataan tersebut tidak mempunyai konotasi lain kecuali makna yang dikandungnya. Dengan pernyataan umum tadi, benarkah bahwa bid’ah dapat kita

bagi menjadi tiga bagian atau lima bagian?

Sama sekali tidak benar. Adapun pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa bid’ah ada bid’ah hasanah, maka pendapat tersebut tidak terlepas dari dua hal:

Pertama: kemungkinan tidak termasuk bid’ah tapi dianggapnya sebagai bid’ah.

Kedua: kemungkinan termasuk bid’ah, yang tentu syyi’ah (buruk), tetapi tidak mengetahui keburukannya.

Jadi setiap perkara yang dianggapnya sebagai bid’ah hasanah maka jawabannya adalah demikian tadi. Dengan demikian, tak ada jalan lain bagi ahli bid’ah untukmenhjdikan sesuatu bid’ah  mereka sebagai bid’ah hasanah, karena kita telah mempunyai senjata ampuh dari Rasulullah yaitu: Setiap bid’ah adalah kese satan. Senjata ini bukan dibuat di sembarang pabrik, melainkan dating dari Nabi dan dibuat sedemikian sempurna. Maka barangsiapa yang memegang senjata ini tidak akan dapat dilawan oleh siapapun dengan bid’ah yang dikatakannya sebagai hasanah, sementara Rasulullah telah menyatakan bahwa: Setiap bid’ah adalah kesesatan.

BEBERAPA PERTANYAAN DAN JAWABAN

Mungkin ada diantara pembaca yang bertanya: Bagaimanakah pendapat Anda tentang perkataan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu setelah memerintahkan kepada Ubay bin Ka’b dan Tamim Ad-Dari agar mengimami orang-orang di bulan Ramadhan. Ketika keluar mendapatkan para jama’ah sedang berkumpul dengan imam mereka, beliau berkata: Inilah sebaik-baik bid’ah …dst.

Jawabannya:

Pertama: bahwa tak seorangpun di antara kita boleh menentang sabda Nabi, walaupun dengan perkataan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali atau dengan perkataan siapa saja selain mereka. Karena Allah Ta’la berfirman: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih.” (Surah An-Nurr:63),

Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Tahukah Anda, apakah yang dimaksud dengan fitnah? Fitnah yaitu syirik. Boleh jadi apabila menolak sebagian sabda Nabi akan terjadi pada hatinya  suatu kesesatan akhirnya akan jadi binasa.

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hampir saja kalian dilempar batu dari atas langit, Kukatakan Rasulullah bersabda, tapi kalian menentangnya dengan ucapan Abu Bakar dan Umar.”

Kedua: Kita yakin kalau Umar Radhiyallahu ‘Anhu termasuk orang yang sangat menghormati firman Allah Ta’ala dan sabda RasulNya. Beliau pun terkenal sebagai orang yang berpijak pada ketentuan-ketentuan Allah, sehingga tak heran jika beliau mendapat julukan sebagai orang yang selalu berpegang teguh kepada Kalamullah.

Sebagaimana dinyatakan oleh Sayyidah Aisyah  Radhiyallahu ‘Anha bahwa: Nabi pernah melakukan qiyamul lail (bersama para sahabat) tiga malam berturut-turut, kemudian beliau menghentikannya pada malam keempat, dan bersabda: “Sesungguhnya aku takut kalau shalat tersebut diwajibkan atas kamu, sedangkan kamu tidak mampu untuk melaksanakannya.” (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

 Jadi qiyamul lail (shalat malam) di bulan Ramadhan dengan berjama’ah termasuk sunnah Rasulullah. Namun disebut bid’ah oleh Umar Radhiyallahu ‘anhu dengan pertimbangan bahwa Nabi setelah menghentikannya pada malam keempat, ada di antara orang-orang yang melakukannya sendiri-sendiri, ada yang melakukannya secara berjama’ah dengan beberapa orang saja, dan ada pula yang berjama’ah dengan orang banyak. Akhirnya Amirul Mu’minin Umar Radhiyallahu ‘Anhu dengan pendapatnya yang benar mengumpulkan mereka dengan satu imam. Maka perbuatan yang dilakukan oleh Umar ini disebut bid’ah, bila dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang sebelum itu. Akan tetapi sebenarnya bukanlah bid’ah karena pernah dilakukan oleh Rasulullah.                  Dengan penjelasan ini, tidak ada alasan apa pun bagi ahli bid’ah untuk menyatakan perbuatan bid’ah mereka sebagai bid’ah hasanah.

Mungkin juga di antara pembaca ada yang bertanya: Ada hal-hal yang tidak pernah dilakukan pada masa Nabi tetapi disambut baik dan diamalkan oleh umat Islam, seperti: adanya sekolah, penyusunan buku, dan lain sebagainya. Hal-hal baru seperti ini dinilai baik oleh umat Islam, diamalkan dan dipandang sebagai amal kebajikan. Lalu bagaimana hal ini, yang sudah hampir menjadi kesepakatan kaum muslimin, dipadukan dengan sabda Nabi: Setiap bid’ah adalah kesesatan ?

Jawabnya: Kita katakan bahwa hal-hal seperti ini sebenarnya bukan bid’ah, melainkan sebagai sarana untuk melaksanakan perintah, sedangkan sarana itu berbeda-beda sesuai tempat dan zamannya. Sebagaimana disebutkan dalam kaedah: Sarana dihukumi menurut tujuannya. Maka sarana untuk melaksanakan perintah, hukumnya diperintahkan; sarana untuk perbuatan yang tidak diperintahkan, hukumnya tidak diperintahkan; sedang sarana untuk perbuatan haram, hukumnya adalah haram.

Untuk itu, suatu kebaikan jika dijadikan sarana untuk kejahatan, akan berubah hukumnya menjadi hal yang buruk dan jahat. Firman Allah Ta’ala: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (Surah Al-An’aam:108).

Padahal menjelek-jelekkan sembahan orang-orang musyrik adalah perbuatan haq dan pada tempatnya. Sebaliknya menjelek-jelekkan Rabbul ‘Alamien adalah perbuatan durjana dan tidak pada tempatnya. Namun, karena perbuatan menjelek-jelekkan dan memaki sembahan orang-orang musyrik menyebabkan mereka akan mencaci maki Allah, maka perbuatan tersebut dilarang. Ayat ini sengaja kami kutip, karena murupakan dalil yang menunjukkan bahwa sarana dihukumi menurut tujuannya.

Adanya sekolah-sekolah, karya ilmu pengetahuan dan penyusunan kitab-kitab dan lain sebagainya walaupun hal baru dan tidak ada seperti itu pada zaman Nabi, namun bukan tujuan, tetapi merupakan sarana. Sedangkan sarana dihukumi menurut tujuannya. Jadi seandainya ada seseorang membangun gedung sekolah dengan tujuan untuk pengajaran ilmu yang haram, maka pembangunan  tersebut hukumnya adalah haram. Sebaliknya, apabila pembangunnya bertujuan untuk pengajaran ilmu syar’i, maka pembangunannya adalah diperintahkan.

Jika ada pula yang mempertanyakan: Bagaimana jawaban Anda terhadap sabda Nabi: Siapa yang memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu …Sanna di sini artinya:membuat atau mengadakan.

Jawabnya: Bahwa orang yang menyampaikan ucapan tersebut adalah orang yang menyatakan pula; setiap bid’ah adalah kesesatan, yaitu Rasulullah. Dan tidak mungkin sabda beliau sebagai orang yang jujur dan terpercaya ada yang bertentangan satu sama lainnya, sebagaimana firman Allah juga tidak ada yang saling bertentangan..

Dengan demikian tidak ada pertentangan antara kedua hadits tersebut, karena Nabi menyatakan Man Sanna fil Islaam, yang artinya: Barangsiapa berbuat dalam Islam, sedangkan bid’ah tidak termasuk dalam Islam; kemudian menyatakan: Sunnah hasanah, berarti: Sunnah yang baik, sedangkan bid’ah bukan yang baik. Tentu saja berbeda antara berbuat sunnah dengan mengerjakan bid’ah.

 Jawaban yang lainnya, bahwa kata-kata Man Sanna bisa diartikan pula: Barangsiapa menghidupkan suatu sunnah, yang telah ditinggalkan dan pernah ada sebelumnya. Jadi kata sanna tidak   berarti membuat sunnah dari dirinya sendiri, melainkan menghidupkan kembali suatu sunnah yang telah ditinggalkan. Ada juga jawaban yang lain yang ditunjukkan oleh sebab timbulnya hadits di atas, yaitu kisah orang-orang yang datang kepada Nabi dan mereka itu dalam keadaan yang amat sulit. Maka beliau menghimbau kepada para sahabat untuk mendermakan sebagian dari harta mereka. Kemudian datanglah seorang Anshar dengan membawa sebungkus uang perak yang kelihatannya cukup banyak, lalu diletakkan di hadapan Rasulullah. Seketika itu berseri-serilah wajah beliau dan bersabda: Siapa yang memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu….

Dari sini, dapat dipahami bahwa arti sanna ialah: melaksanakan (mengerjakan), bukan berarti membuat (mengadakan) suatu sunnah. Jadi arti dari sabda beliau: Man Sanna fil Islaami Sunnatan Hasanah, yaitu: Barangsiapa melaksanakan sunnah yang baik, bukan membuat atau mengadakannya, karena yang demikian ini dilarang, berdasarkan sabda beliau: Kullu bid’atin dhalalah.

  SYARAT YANG HARUS DIPENUHI DALAM IBADAH

Perlu diketahui bahwa mutaba’ah (mengikuti Nabi) tidak ada tercapai kecuali apabila amal yang dikerjakan sesuai dengan syari’at dalam enam perkara:

Pertama: Sebab. Jika seseorang melakukan suatu ibadah kepada Allah dengan sebab yang tidak disyari’atkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima (ditolak). Contoh: Ada orang yang melakukan shalat tahajud pada malam dua puluh tujuh bulan Rajab, dengan dalih bahwa malam itu adalah malam Mi’raj Rasulullah (dinaikkan ke atas langit). Shalat tahajud adalah ibadah, tetapi karena dikaitkan dengan sebab tersebut menjadi bid’ah. Karena ibadah tadi didasarkan atas sebab yang tidak ditetapkan dalam syari’at.

Kedua: Jenis. Artinya: ibadah harus sesuai dengan syari’at dalam jenisnya. Jika tidak, maka tidak diterima. Contoh; seorang yang menyembelih kuda untuk kurban adalah tidak sah, karena menyalahi ketentuan syari’at dalam jenisnya. Yang boleh dijadikan kurban yaitu unta, sapi dan kambing.

Ketiga: Kadar (bilangan). Kalau ada seseorang yang menambah bilangan raka’at suatu shalat, yang menurutnya hal itu diperintahkan, maka shalat tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima, karena tidak sesuai dengan ketentuan syari’at dalam jumlah bilangan raka’atnya. Jadi apabila ada orang shalat zhuhur lima raka’at, umpamanya, maka shalatnya tidak sah.

Keempat: Kaifiyah (cara). Seandainya ada orang berwudhu dengan cara membasuh tangan, lalu muka, maka tidak sah wudhunya karena tidak sesuai dengan cara yang ditentukan syari’at.

Kelima: Waktu. Apabila ada orang yang menyembelih binatang kurban pada hari pertama bulan Dzul Hijjah maka tidak sah, karena waktu melaksanakannya tidak menurut ajaran Islam. Saya pernah mendengar bahwa ada orang bertaqarrub kepada Allah pada bulan Ramadhan dengan menyembelih kambing. Amal seperti ini adalah bid’ah, karena tidak ada sembelihan yang ditujukan  untuk bertaqarrub kepada Allah kecuali sebagai kurban, denda haji dan aqiqah. Adapun menyembelih pada bulan Ramadhan tersebut sebagaimana dalam Idul Adha adalah bid’ah. Kalau menyembelih hanya untuk memakan dagingnya, boleh saja.

Keenam: Tempat. Andaikata ada orang beri’tikaf di tempat selain masjid, maka tidak sah i’tikafnya. Sebab tempat i’tikaf hanyalah di masjid.

Kesimpulan dari penjelasan di atas, bahwa ibadah seseorang tidak termasuk amal shaleh kecuali apabila memenuhi dua syarat, yaitu:

Pertama: Ikhlas.

Kedua: Mutaba’ah.

            Dan mutaba’ah tidak akan tercapai kecuali dengan enam perkara yang telah diuraikan tadi.

PENUTUP

Penulis berpesan kepada mereka yang terjerat dalam cobaan bid’ah, yang kemungkinan mempunyai tujuan baik dan menghendaki kebaikan, apabila anda memang menghendaki kebaikan maka- demi Allah- tidak ada jalan yang lebih baik daripada jalan para Salaf (generasi pendahulu) radhiyallahu ‘anhum. Pegang teguhlah sunnah Rasul, ikutilah jejak para salaf shaleh, dan perhatikanlah apakah hal itu akan merugikan Anda? Dan kami katakan, dengan sesungguhnya, bahwa Anda akan mendapatkan kebanyakan orang yang suka mengerjakan bid’ah merasa enggan dan malas untuk mengerjakan hal-hal yang sudah jelas diperintahkan dan disunnahkan. Jika mereka selesai melakukan bid’ah tentu mereka menghadapi sunnah yang telah ditetapkan dengan rasa enggan dan malas. Itu semua merupakan dampak dari bid’ah terhadap hati. Bid’ah, besar dampaknya terhadap hati dan amat berbahaya bagi agama. Tidak ada suatu kaum melakukan bid’ah dalam agama Allah melainkan mereka telah pula menghilangkan dari sunnah yang setara dengannya atau melebihinya sebagaimana hal ini dinyatakan oleh seorang ulama salaf. Akan tetapi apabila seseorang merasa bahwa dirinya adalah pengikut dan bukan pembuat syari’at, maka akan tercapai olehnya kesempurnaan takut, tunduk, patuh dan ibadah kepada Rabbul ‘Alamien serta kesempurnaan ittiba’ (keikutsertaan) kepada Imamul Muttaqin, Sayyidul Mursalin, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alahi wa sallam.

            Semoga allah menjadikan kita sebagai penunjuk jalan yang mendapat petunjuk-Nya dan pemimpin yang membawa kebaikan, menerangi hati kita dengan iman dan ilmu, menjadikan ilmu yang kita miliki membawa berkah dan bukan bencana. Serta semoga Allah membimbing kita kepada jalan para hambaNya yang beriman, menjadikan kita termasuk para auliya’Nya yang bretakwa dan golonganNya yang beruntung. Shalawat dan salam semoga tetap dilimpahkan Allah kepada Nabi kita, Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

——————————-

1) Maksudnya: pakaian luar, yang kalau dibuka tidak menampakkan aurat.

2) Jilbab sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.

3) Pada masa jahiliyah, orang-orang yang berihram di waktu haji mereka memasuki rumahnya   dari belakang, bukan dari depan. Hal ini ditanyakan oleh para sahabat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka turunlah ayat ini sebagai penjelasan.

Maraji’: Al-Ibdaa’ fi Kamaalisy Syar’i wa Khatharil Ibtidaa’ (Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: