Bahtera Penyelamat dari gelombang Syubhat

Bahtera Penyelamat dari gelombang Syubhat 

Oleh Al-Al-Ustadz Fariq Gasim Anuz 

Al Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata

“Dan sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat selamat dari fitnah syubhat ini kecuali dengan ittiba’ kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam semata, dan berhukum kepadanya tentang masalah dien dalam hal-hal yang kecil maupun yang besar, baik masalah-masalah zhahir maupun batin, aqidah maupun amaliah, hakekat maupun syari’ah, maka dia mengambil dari beliau hakekat-hakekat Iman dan syariat-syari’at Islam, seperti apa yang telah beliau tetapkan berupa sifat-sifat, perbuatan-perbuatan, dan nama-nama Allah maka kita menetapkannya pula, dan apa-apa yang beliau nafikan harus kita nafikan. 

Begitu pula kita harus mengambil tuntunan beliau dalam hal kewajiban shalat, waktu-waktunya, jumlah raka’atnya, batas-batas nishab zakat, orang-orang yang berhak menerimanya, kewajiban wudhu, mandi janabah, dan puasa Ramadhan (serta yang lainnya, pent), maka janganlah seseorang menjadikan beliau sebagai Rasul dalam suatu urusan, tetapi tidak menjadikan beliau sebagai Rasul dalam urusan dien yang lainnya, bahkan sesungguhnya beliau itu Rasul dalam setiap urusan yang dibutuhkan umat baik dalam hal ilmu ataupun dalam hal amaliah, dan tidak boleh sesuatu diambil kecuali harus darinya, maka petunjuk itu hanya mencakup ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan beliau dan setiap apa yang menyimpang dari tuntunan beliau maka hal tersebut merupakan kesesatan. Apabila seseorang mengikat hatinya atas hal yang demikian dan selain itu ia menolaknya, serta ia selalu menimbang sesuatu dengan apa-apa yang datang dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, apabila sesuai dengan beliau dia menerimanya, bukan dikarenakan orang yang mengucapkannya tetapi karena hal tersebut sesuai dengan risalah Islam. 

Seandainya sesuatu itu bertentangan dengan tuntunan beliau, dia menolaknya, siapapun

yang mengucapkannya, maka inilah yang menyelamatkan manusia dari fitnah-fitnah syubhat, dan apabila ada yang dilanggar maka fitnah syubhat tadi mesti menimpa orang tersebut yang besarnya tergantung dari banyak sedikitnya perkara yang ia tinggalkan.”1) 

Untuk dapat mengikuti tuntunan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam haruslah dengan ilmu, maka menuntut ilmu dien itu hukumnya wajib. 

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman : 

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ

“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada ilah ( yang berhak untuk diibadahi ) kecuali Allah.” (Surat Muhammad 19) 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : 

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.”2) Kewajiban tersebut ada yang wajib ‘ain dan ada yang wajib kifayah.3) 

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Maka pokok dari segala kebaikan adalah ilmu pengetahuan dan keadilan, dan pokok dari segala kejahatan adalah kebodohan dan kezaliman.4)

Allah Subhana wa Ta’ala telah menjadikan batasan bagi keadilan yang harus dipraktekkan oleh manusia, maka barangsiapa yang melewati batas tadi ia termasuk orang yang melampaui batas alias zalim, dia berhak mendapatkan celaan dan hukuman tergantung dari besar kecilnya kezaliman dan pelanggaran yang dia lakukan, karena dia telah keluar dari rel keadilan, maka dari itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah, dan janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Surat Al-A’raaf 31)

Dan Allah berfirman mengenai orang yang mencari selain istrinya dan budak yang ia miliki:

فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

“Barangsiapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Surat Al Mu’minun 7)

Dan firmanNya lagi :

وَلا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Surat Al Baqarah 190)

Sesungguhnya diri manusia itu suka kepada kezaliman dan permusuhan, penyebabnya adalah rusaknya ilmu, atau rusaknya niat, atau kedua-duanya sekalian.5)

Bahkan dapat dikatakan bahwa rusaknya niat timbul dari rusaknya ilmu, karena seandainya ia mengetahui akan sesuatu bahwa hal itu merugikan dan ia tahu akibat buruk yang akan dirasakan apabila ia menjalankannya, tentu ia tidak akan mengutamakannya, seperti orang yang mengetahui tentang makanan yang lezat membuat air liur keluar tetapi mengandung racun maka tentu ia tidak akan menyantapnya, maka kelemahan ilmunya akan adanya kerugian dari sesuatu yang merugikan dan kelemahan tekadnya untuk menjauhi hal itu yang membuatnya terjerumus kedalam pelanggaran.

Begitu pula iman yang hakiki adalah yang mengajak pemiliknya untuk melakukan apa-apa yang bermanfaat baginya, dan mencegah dari melakukan amalan yang merugikannya,

seandainya ia tidak melakukan ketaatan dan tidak meninggalkan larangan, maka ia belum sampai kepada hakekat iman, meskipun ia tetap memiliki iman sesuai dengan amalannya. Karena sesungguhnya seseorang yang beriman akan adanya neraka dengan sebenar-benar iman seakan-akan ia melihatnya, tentu dia tidak akan meniti di atas jalan yang mengantarkannya ke neraka, lebih-lebih lagi ia tidak akan berusaha sungguh-sungguh untuk menempuh jalan ke neraka.

Dan seorang yang beriman kepada surga dengan sebenar-benar iman, ia tidak akan bermalas-malasan untuk mencapai harapannya agar dapat masuk surga. Manusia sendiri mempraktekkan hal ini dalam urusan keduniaan, dalam hal usaha untuk mendapatkan manfaat dunia, dan berusaha sekuat tenaga untuk menghindari kerugian.

Apabila hal ini telah jelas, maka seorang hamba sangat butuh kepada ilmu untuk mengetahui hal-hal apa saja yang dapat merugikan dia agar dapat menghindarinya, dan hal-hal apa saja yang bermanfaat, agar ia benar-benar serius dan mengamalkannya. Lalu ia cinta kepada apa-apa yang bermanfat baginya dan benci kepada apa-apa yang merugikannya, ia cinta kepada apa-apa yang Allah cintai dan benci kepada apa-apa yang

Allah benci, hal ini merupakan konsekuensi dari peribadatan dan percintaan, apabila ia menyimpang dari hal yang demikian, yaitu dengan mencintai apa-apa yang Allah benci dan membenci apa-apa yang Allah cintai, maka berkuranglah peribadatan dia kepadaNya sebesar penyimpangan yang ia lakukan.

Untuk mengetahui hal-hal yang bermanfaat dan hal-hal yang merugikan ada dua jalan, yaitu dengan akal dan dengan syariat.

Adapun dengan akal, Allah telah meletakkan dalam akal-akal dan fitrah-fitrah manusia anggapan yang baik terhadap kejujuran, keadilan, kebaikan, kehormatan diri, keberanian, kemuliaan akhlak, pelaksanaan amanat, menyambung tali kekerabatan, nasehat kepada manusia, tepat janji, perhatian terhadap tetangga, pembelaan terhadap yang dizalimi, pertolongan terhadap orang yang tertimpa musibah, penghormatan terhadap tamu, pemeliharaan terhadap anak yatim dan lain sebagainya. Allah juga meletakkan kepada akal-akal manusia dan fitrah-fitrah mereka berupa anggapan yang buruk terhadap hal-hal sebaliknya dari hal yang telah disebutkan di atas. Anggapan baik dan anggapan buruk yang demikian sama dengan anggapan baik terhadap air dingin pada saat haus, dan terhadap makanan yang bergizi pada saat lapar, dan terhadap pakaian yang dapat menahan dingin sebagaimana dia tidak mungkin menolak anggapan baik hal-hal yang berhubungan dengan diri dan nalurinya, maka begitu pula dia tidak dapat menolak anggapan baik terhadap sifat-sifat kesempurnaan dan manfaatnya yang selaras dengan diri dan fitrahnya.

Begitu pula sebaliknya berkenaan dengan anggapan buruk (terhadap sifat-sifat kekurangan dan kerugiannya), barangsiapa yang berkata bahwasanya sifat-sifat kesempurnaan dan manfaatnya atau sebaliknya tidak dapat diketahui dengan akal sehat maupun fitrah yang suci, tetapi hanya bisa diketahui dengan nash-nash syar`i saja, maka ucapan dia itu ucapan yang batil, telah kami jelaskan kebatilan ucapan tersebut dalam kitab Al Miftah dari enam puluh sisi, kami telah jelaskan di sana dalil-dalil Al Qur`an dan As Sunnah, kemudian berdasarkan akal dan fitrah yang menunjukkan ketidakbenaran ucapan tersebut.

Jalan kedua untuk mengetahui sesuatu yang merugikan dan bermanfaat adalah melalui nash-nash syar`i. Jalan kedua ini lebih luas, lebih jelas dan lebih benar dari jalan pertama,dikarenakan banyak yang belum diketahui dari segi sifat keadaan dan hasil-hasil suatu amalan apabila memakai jalan yang pertama, dan sesungguhnya orang yang

mengetahui hal yang demikian, tiada lain dan tiada bukan hanyalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka orang yang paling berilmu, paling benar akal dan pikirannya, serta anggapan baiknya terhadap sesuatu adalah orang yang akal, pikiran, anggapan baik, dan qiyas (analogi)-nya sesuai dengan As Sunnah, sebagaimana Mujahid berkata, “Seutama-utama ibadah adalah pemikiran yang baik, yaitu mengikuti As Sunnah.”

Allah berfirman :

وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“Dan orang-orang yang diberi ilmu(ahli kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari rabbmu itulah yang benar menunjuki (manusia) kepada jalan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (Surat Saba’ 6)

Dan orang-orang salaf dahulu menamakan ahli pikir yang bertentangan dengan As Sunnah dan dengan apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, baik dalam masalah-masalah ilmu yang berupa kabar berita (keimanan,pent) dan masalah-masalah hukum amaliyah, mereka menjulukinya sebagai ahli syubhat dan ahli hawa, karena pemikiran yang bertentangan dengan As Sunnah adalah kebodohan bukannya ilmu, dan mengikuti hawa nafsu, bukannya mengikuti dien.

Maka orang yang mempunyai pemikiran yang bertentangan dengan As Sunnah, termasuk orang yang mengikuti hawa nafsu tidak mengikuti petunjuk dari Allah ujungnya adalah kesesatan di dunia dan kesengsaraan di akhirat. Adapun orang-orang yang selamat dari

kesesatan dan kesengsaran adalah orang-orang yang mengikuti hidayah Allah melalui para RasulNya yang Ia utus dan melalui kitab-kitabNya yang Ia turunkan, sebagaimana firman Allah :

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Maka jika datang kepada kalian petunjuk dariKu, maka barangsiapa mengikuti petunjukKu, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka, dan barangsiapa berpaling dari peringatanku,, maka sesungguhnya bagi dia penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Surat Thaha 123-124 )

Mengikuti hawa nafsu itu bisa terjadi dalam hal cinta maupun benci, sebagaimana firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah meskipun terhadap diri kalian sendiri atau kedua orang tua atau karib kerabat. Jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu sehingga kalian tidak berbuat adil.” (Surat An Nisa 135 )

Dan firmanNya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas apa yang kalian kerjakan.” (Surat Al Maidah 8)

Hawa nafsu yang dilarang untuk mengikutinya bisa berupa hawa nafsu pribadi bisa pula hawa nafsu orang lain, semuanya dilarang untuk diikuti dikarenakan keduanya bertentangan dengan petunjuk Allah yang telah mengutus Rasul-rasulNya dengan membawa petunjuk tersebut dan telah menurunkan kitab-kitabNya sebagai petunjuk bagi manusia.”6)

Dari ucapan Al Imam Ibnul Qayim rahimahullah mengenai keadilan mengingatkan saya akan syubhat yang berbunyi, “Termasuk kezaliman jika seseorang menceritakan kejelekan orang lain atau kelompok tertentu tanpa menyebutkan kebaikannya, kaidah ini adalah kaidah yang batil, bertentangan dengan Al Qur`an dan As Sunnah serta sikap salafus shaleh.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan orang-orang agar memberi izin kepada seseorang yang akan menemui beliau sambil mengatakan kepada Aisyah radhiallahu ‘anha,  “Ia sejahat- jahat orang di tengah kaumnya.” (Muttafaq Alaih)” 7)

Saya yakin tidak ada seorang muslim pun yang berpendapat bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berbuat zalim karena tidak menyebutkan kebaikan orang yang datang padanya.

Barangsiapa yang menginginkan penjelasan lebih lengkapnya tentang jawaban atas syubhat ini agar supaya merujuk kepada buku atau kaset berikut ini:

a. Buku “Manhaj Ahlis sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub watThawaif”

oleh: Syaikh Doktor Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali

b. Kaset “Tanya Jawab Abul Hasan Al-Mishri dengan Syaikh Al-Albani” no. kaset 851.

Kembali kita kepada pokok permasalahan, yaitu mengenai jalan-jalan keselamatan untuk menolak syubhat agar kita dapat mengikuti tuntunan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam urusan dien Islam ini.

Pertama: Telah kita sepakati bersama akan kewajiban menuntut ilmu, yaitu ilmu Al-Kitab dan As Sunnah.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, Jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan sesat selama-lamanya yaitu : Kitabullah dan Sunnah NabiNya.” 8)

Dan di masa sekarang ini tidak cukup bagi kita mengatakan berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As Sunnah, tetapi harus dijelaskan dengan pemahaman salafus shalih di mana firqah-firqah yang sesat juga mengatakan mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah, tetapi perbedaannya dengan Ahli Sunnah wal Jama’ah atau ahlul hadits dalam masalah

pemahaman terhadap kedua sumber tersebut. Allah berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasulullah setelah jelas petunjuk tersebut baginya dan mengikuti selain jalannya orang orang yang beriman9), Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang ia berjalan di atasnya dan Kami masukan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Surat An-Nisaa 115)

Juga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan bahwa umatnya akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu, yaitu Al-Jama’ah, mereka adalah orang-orang yang mengikuti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya pada hari itu.10)

Kedua: Kita harus menuntut ilmu Al-Kitab dan As Sunnah melalui bimbingan para ulama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : “Maka wajib atas kaum Muslimin setelah loyal kepada Allah dan RasulNya, untuk loyal kepada orang-orang yang beriman sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Lebih khusus lagi, yaitu para ulama di mana mereka itu pewaris para nabi, Allah menjadikan mereka bagaikan bintang di langit, berguna sebagai petunjuk bagi manusia dalam kegelapan malam di darat dan di lautan.” 11)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang melalui suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju sorga. Dan para malaikat sungguh meletakkan sayap-sayapnya menaungi penuntut ilmu karena senang dengan apa yang ia lakukan. Dan sesungguhnya orang alim itu dimintakan ampun

oleh penduduk langit dan bumi, bahkan ikan-ikan di dalam air memintakan ampun kepada Allah untuknya.

Dan keutamaan seorang alim dibandingkan ahli ibadah seperti keutaman bulan dibandingkan dengan sekalian bintang. Dan sesungguhnya ulama itu sebagai pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan uang dinar atau uang dirham, mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mendapatkannya berarti ia telah mendapatkan bagian yang sangat besar.” (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi)12)

Al Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah memberikan syarah terhadap hadits ini sebanyak sepuluh halaman dalam kitabnya Miftah Daris Sa’adah, juz 1 hal 255-256, di antaranya ketika beliau sedang menjelaskan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam “Dan sesungguhnya ulama itu sebagai pewaris para Nabi” terdapat padanya peringatan

bahwasanya para ulama itu sedekat-dekat manusia kepada para Nabi, dan sebaik-baik makhluk setelah mereka. Juga di dalamnya terdapat bimbingan dan perintah kepada umat untuk taat kepada mereka, menghormati, menghargai, dan memuliakan mereka. Juga terdapat di dalamnya peringatan bahwa kecintaan kepada mereka bagian dari dien

ini dan kebencian kepada mereka bukan dari dien ini.

Begitu pula memusuhi dan memerangi mereka adalah memusuhi dan memerangi Allah.

Juga di dalamnya terdapat peringatan untuk para ulama agar mengikuti jalan dan tuntunan para Nabi dalam masalah da’wah, berupa kesabaran, menanggung kesukaran, membalas perlakuan buruk manusia dengan kebaikan, lemah lembut dengan mereka, menarik mereka kepada jalan Allah dengan sebaik-baik cara, mencurahkan kemampuan untuk menasehati mereka, dengan demikian barulah mereka mendapatkan kehormatan berupa warisan yang sangat besar nilainya tetapi sangat tinggi resikonya.

Juga terdapat di dalamnya peringatan untuk ulama dalam hal pendidikan umat agar mendidik mereka seperti seorang ayah mendidik anaknya sendiri, maka para ulama mendidik umat dengan bertahap dan meningkat sedikit demi sedikit dari mulai ilmu yang kecil sampai yang besar dan membebani mereka sesuai dengan kesanggupannya, seperti sesungguhnya orang ayah menyuapi anaknya yang masih kecil. 13)

Seorang yang alim haruslah dia takut kepada Allah Ta’ala, sebagaimana firmanNya :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambanya hanyalah Ulama.” (Surat Fathir 28)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Telah diriwayatkan dari Abu Hayyan At-Taimi bahwasanya ia berkata bahwa ulama itu tiga macam. Pertama, alim billah. Kedua, alim biamrillah. Dan ketiga, alim billah dan alim biamrillah. Alim billah adalah orang yang takut kepada Allah, dan alim biamrillah adalah orang yang mengetahui perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya.

Dalam Shahih Bukhari dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda, “Demi Allah sungguh saya amat berharap agar menjadi orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan yang paling mengetahui batasan-batasanNya di antara kalian.”

Apabila orang-orang yang takut adalah ulama yang mendapatkan pujian dalam Al-Qur’an dan As Sunnah, mereka tidaklah berhak mendapatkan celaan, yang demikan tersebut dikarenakan mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban, sebagaimana Allah berfirman :

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ

وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الأرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ

“Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka, “Kami sungguh- sungguh akan mengusir kalian dari negeri kami atau kalian kembali kepada agama kami.” Maka Allah mewahyukan kepada mereka, “Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu, dan Kami pasti akan menempatkan kalian di negeri-negeri itu sesudah mereka.” Yang

demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadiratKu, dan yang takut ancamanKu.” (Surat Ibrahim 13-14).

Dan firmanNya:

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabbnya terdapat dua surga.” (Surat Ar-Rahman 46)

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang takut kepadaNya akan mendapatkan kemenangan di dunia dan ganjaran di akhirat, yang demikian tersebut dikarenakan mereka telah melaksanakan kewajiban, hal ini menunjukkan bahwa rasa takut mempunyai konsekwensi pelaksanaan kewajiban.”14)

Al Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata :

 

“Tidaklah seseorang itu disifati sebagai alim rabbani sampai ia mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya (kepada orang lain).”15)

Ulama rabbani mereka menyeru orang-orang yang tersesat kepada petunjuk dan sabar atas gangguan manusia, mereka menghidupkan orang- orang yang mati hatinya dengan Al-Qur’an dan menjadikan orang-orang yang buta mata hatinya dapat melihat. Mereka membasmi kesyirikan, bid’ah, dan khurafat agar manusia hanya beribadah kepada Allah

semata. Berbeda dengan orang-orang yang jahil murakkab, ia merasa dirinya ulama karena membandingkan dengan orang-orang di sekitarnya, berda’wah dan berfatwa kepada manusia tanpa ilmu, maka mereka itu sesat dan menyesatkan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu pengetahuan dari manusia begitu saja, tetapi Ia mencabut ilmu dengan mencabut nyawanya para ulama, sampai tidak tersisa seorang alim pun, maka manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pimpinan, lalu mereka ditanya, maka mereka memberi fatwa tanpa ilmu, mereka adalah orang-orang yang sesat dan menyesatkan.” (Muttafaq alaih)16)

Syaikh Salim bin ied Al-Hilali berkata, “Ini adalah kebiasaan ahli fiqih setengah matang, mengaku memiliki ilmu, menampakkan kepada manusia bahwa ilmunya luas, padahal mereka tidak memilikinya, engkau dapatkan mereka tergesa-gesa dalam hal fatwa, menghindari dari celaan orang, takut dikatakan sebagai orang jahil, dan cinta popularitas.

Tetapi, ketahuilah wahai hamba Allah bahwasanya apabila engkau berfatwa maka sesungguhnya engkau menandatangani atas nama Allah, dalam hal perintah dan laranganNya, dan sesungguhnya engkau akan berdiri di hadapan Allah dan pasti akan ditanya tentang hal yang demikian. Oleh karena itu, apabila engkau ditanya seseorang mengenai satu masalah, janganlah kamu berfikir untuk selamat dari si penanya,

tetapi bagaimana supaya dirimu selamat terlebih dahulu dari adzab Allah, maka berfikirlah matang-matang, maka apabila engkau dapatkan dirimu dapat selamat maka berbicaralah, tetapi apabila tidak maka diamlah, karena menahan diri itu lebih selamat bagimu.

Wahai orang-orang yang terfitnah! Perhatikanlah bagaimana kalian berfatwa? Kalian telah menawarkan diri kepada perkara yang sangat besar, di mana para ulama menjadikannya sebagai suatu keterpaksaan.

Sesungguhnya para fuqaha dahulu sangat membenci untuk menjawab permasalahan-permasalahan dan fatwa, sampai mereka tidak mendapatkan jalan, kecuali harus berfatwa, dan apabila mereka menahan diri darinya, itu yang lebih mereka sukai.

Dari Abdurrahman bin Abi Laila, ia berkata :

“Saya mendapatkan seratus dua puluh orang Anshar dari shahabat- shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, apabila salah seorang di antara mereka ditanya tentang suatu permasalahan, maka semuanya menginginkan agar saudaranya yang cukup menjawabnya”.17)

Meskipun telah merajalelanya kejahilan, tetapi dalam setiap masa akan selalu ada ulama rabbbani, meskipun jumlahnya sedikit di muka bumi ini.

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dalam wasiatnya kepada Kumail bin Ziyad An-Nakhai di antaranya berkata18), “Begitulah, matinya ilmu dengan meninggalnya para ulama. Allahumma, tentu bumi ini tidak akan sepi dari pejuang agama Allah dengan hujjah, agar hujjah Allah dan bukti-buktiNya tidak terpendam, mereka itu jumlahnya sedikit, amat besar nilai mereka di sisi Allah.”

Yang menunjukkan bahwa bumi ini tidak akan sepi dari pejuang agama Allah dengan hujjah, adalah hadits shahih dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

 

“Akan selalu ada sekelompok dari umatku dalam keadaan zhahir di atas kebenaran, siapa-siapa yang memusuhi mereka tidak akan mergikan mereka sedikit pun, sampai perkara Allah datang dan mereka tetap demikian.” [H.R.Bukhari (3641), dan Muslim (1920)] Dari hadits Muawiyah radhiallahu ‘anhu.19)

 

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan makna “zhahir“, yang pertama bisa berarti menang, yang kedua dapat berarti mereka itu tidak sembunyi-sembunyi bahkan mereka itu dikenal, dan makna yang pertama lebih utama.20)

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan mengenai makna “sampai perkara Allah datang”, yaitu hembusan angin yang mencabut nyawa setiap mu’min dan mu’minah (di akhir zaman sebelum datangnya kiamat, pent), adapun riwayat lain yang menyatakan “sampai hari kiamat”, yaitu maksudnya sampai dekat dengan hari kiamat.21)

Nama lain dari Thaifah Manshurah ini sama dengan Firqatun Najiyah atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah atau Ahli Hadits, dan tokoh mereka adalah ulamanya.

Imam Al-Khatib Al-Baghdadi rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dalam kitab Syarafu Ashhabil Hadits hal. 25-27 mengenai hadits Thaifah Manshurah ini dan komentar para ulama tentang mereka, dan Syaikh Al-Albani menyebutkan dari enam ulama yang berkomentar hanya satu saja yang lemah riwayatnya, yaitu yang sanadnya sampai kepada Yazid bin Harun 22), yang lainnya dapat dipastikan, seperti Abdullah

Ibnul Mubarak (th.181 H), Ali Ibnul Madini (234 H), Ahmad bin Hambal (241 H). Ketiganya mengatakan bahwa Thaifah Manshurah itu adalah Ashhabul Hadits. Ahmad bin Sinan (259 H) mengatakan bahwa mereka itu adalah Ahli Ilmu dan Ashhabul Atsar. Imam Bukhari (256 H) dalam kitab Syarafu Ashhabil Hadits menyebutkan bahwa mereka itu adalah Ashhabul Hadits, sedangkan dalam Shahih Bukhari (Fathul Bari, juz 13 hal. 306) mengatakan bahwa mereka adalah Ahli Ilmu.

Syaikh Al Albani menyatakan, “Tidak ada pertentangan antara keduanya, dan memang zhahirnya demikian karena Ahli Ilmu itu adalah Ahli Hadits, bahwa setiap orang yang lebih mengerti tentang hadits, tentu dia lebih mengerti tentang ilmu dibandingkan dengan orang yang ilmu haditsnya di bawah dia, sebagaimana kita ketahui bersama.”23)

Sekarang timbul pertanyaan, “Apakah orang-orang yang pandai dalam ilmu hadits, mereka mengerti kaidah-kaidah untuk dapat memisahkan antara hadits hadits shahih dan hadits-hadits dhaif atau maudhu’, apakah pasti termasuk dari Thaifah Manshurah?”

Jawabannya tentu , tidak menjamin orang tersebut dari Thaifah Manshurah atau Firqatun

Najiyah atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah atau Ahli Hadits, bahkan di antara mereka ada yang termasuk ahli bid’ah, seperti Muhammad Zahid Al-Kautsari, dan yang lainnya.

Syaikh Rabi’bin Hadi Al-Madkhali menjelaskan definisi ahli hadits :

“Kalau begitu siapakah ahli hadits tersebut? Mereka adalah siapa saja yang mengikuti jejak para shahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan dari para tabi’in dalam hal berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As Sunnah, serta memegang keduanya erat-erat dan mendahulukan keduanya atas setiap perkataan atau tuntunan, baik dalam masalah akidah, ibadah, muamalah,akhlak atau sosial politik.”24)

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan bahwa umatnya akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu, yaitu Al-Jama’ah 25) dan dalam riwayat lain beliau bersabda yang artinya “Mereka itu siapa-siapa yang mengikuti saya pada hari ini dan para shahabatku,”26) maka orang-orang yang berpegang teguh dengan Islam yang murni, bersih dari segala noda, mereka itu hanyalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Mereka itu terdiri dari shiddiiqiin (orang-orang yang selalu membenarkan kebenaran), para Syuhada, orang-orang yang shalih, di antara mereka terdapat juga tokoh-tokoh petunjuk, pelita-pelita yang menerangi kegelapan, orang-orang yang memiliki keutamaan berdasarkan atsar (yaitu para ulama, pent), di antara mereka terdapat juga para mujaddid dan imam-imam bagi agama ini, di mana kaum muslimin sepakat dan mengakui tentang petunjuk dan pengetahuan mereka, mereka itu adalah Thaifah Manshurah sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam :

“Akan selalu ada sekelompok dari umatku di atas kebenaran mendapatkan pertolongan, tidak akan membuat mudharat mereka orang- orang yang menyalahi dan memusuhi mereka sampai (dekat) datangnya hari kiamat.”27)

Kami memohon kepada Allah agar menjadikan kita sekalian bagian dari mereka, dan agar tidak membelokkan hati kami setelah Ia memberi hidayah kepada kami dan agar memberi kepada kita rahmat dari sisiNya. Sesungguhnya Dia itu Maha Pemberi, Wallahu a’lam.”28)

Ketiga: Jalan yang ketiga adalah menjauhi ahli bid’ah dan menghindari syubhat-syubhat yang disebarkan oleh mereka.

Sebelum kita membahas dalil-dalil tentang menjauhi ahli bid’ah, kiranya perlu bagi kita untuk mengetahui terlebih dahulu siapakah yang disebut ahli bid’ah itu?

Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid berkata:

“Bagi setiap orang yang memahami pembahasan lalu haruslah nampak bagi dia dengan terang adanya perbedaan antara ucapan kami dalam masalah yang diada-adakan bahwa “perbuatan ini adalah bid’ah” dan vonis dari kami atas pelaku bid’ah tadi dengan sebutan bahwa dia itu adalah “ahli bid’ah”.

Karena vonis atas suatu amalan yang diada-adakan dengan sebutan bahwa amalan itu adalah “bid’ah” merupakan hukum yang berlaku sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah dan batasan-batasan ushuliyyah di mana hukum itu muncul setelah diadakan pengkajian dan diikuti penerapannya dengan jelas dan terang.

Adapun pelaku bid’ah tersebut bisa jadi ia seorang mujtahid -sebagaimana sebelum ini telah dibahas-, maka seperti ijtihad ini -meskipun ia salah- ia tidak bisa dicap sebagai ahli bid’ah.

Bisa jadi pula ia seorang yang jahil -disebabkan kejahilannya tersebut-, cap ahli bid’ah ditiadakan dari orang tadi, meskipun ia tetap mendapatkan dosa dikarenakan kelalaiannya dalam menuntut ilmu, kecuali jika Allah menghendaki menghapuskan dosa tadi.

Dan boleh jadi pula ada halangan-halangan lain yang menghalangi orang tersebut untuk dihukumi sebagai ahli bid’ah.

Adapun orang yang terus menerus melakukan kebid’ahannya setelah nampak kebenaran bagi dia karena mengikuti nenek moyang dan menuruti adat istiadat yang berlaku, maka orang yang seperti ini sangat pantas untuk dicap sebagai ahli bid’ah dikarenakan penolakan dan pengingkarannya.”29)

Setelah kita mengetahui batasan ahli bi’ah kita harus lebih hati-hati dalam memvonis orang lain dengan sebutan ahli bid’ah. Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al-Atsari menasehati kita dalam salah satu kajian buku Syarhu As Sunnah oleh Imam Barbahari yang beliau berikan di sebuah masjid di Yordania pada tanggal 19 Rabi’ul Awwal 1417 H,

“Kami kaum muslimin khususnya penuntut ilmu pemula, seperti kita semua ini, tidaklah mereka berhak untuk mengkategorikan bahwa imam ini termasuk ahli sunnah. Adapun imam itu bukan termasuk ahli sunnah, orang ini di jannah, dan orang itu di neraka, orang ini dari firqah sesat, dan orang ini dari firqah ahli bid’ah. Vonis terhadap orang lain itu haknya para imam ahli ilmu dan ulama umat yang selalu Allah tampilkan di setiap zaman sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:

“Yang membawa ilmu ini di setiap generasi adalah orang-orang adilnya, mereka menghilangkan perubahan dari ahli ghuluw, pegangan dari orang-orang yang batil dan ta’wil dari orang-orang yang jahil.”

Dan hadits:

“Selalu ada sekelompok dari umatku di atas kebenaran, tidak akan membuat mudharat mereka orang-orang yang memusuhi dan menyalahi mereka.”

Kalau begitu tugasmu adalah agar engkau memperbaiki aqidah dan manhajmu, dan beristiqamahlah di atas perintah Rabbmu, berpegang teguhlah dengan sunnah Nabimu, tetapi janganlah melampaui kemampuanmu, janganlah lompat tangga, dan janganlah memvonis orang lain tanpa ilmu, sesungguhnya vonis dan iqamatul hujjah (penegakan

hujjah) hanyalah milik ulama di zamannya.”

Ucapan Syaikh Ali di atas bukan berarti bahwa penuntut ilmu yang mapan tidak dapat memvonis orang lain sebagai ahli bid’ah, tidak demikian karena dalam kesempatan yang lain beliau juga menjelaskan bahwa penuntut ilmu yang mapan mungkin mampu untuk menegakkan hujjah atas pelaku bid’ah sehingga ia mampu untuk memvonis orang lain

sebagai ahli bid’ah.

Dari nasehat beliau di atas dimaksudkan sebagai suatu kehati-hatian dan sebagai adab terhadap ahli ilmu agar tidak lancang terhadapnya. Juga tidaklah berarti kalau kita belum berani mencap orang yang memiliki pemahaman atau perbuatan bid’ah dengan sebutan ahli bid’ah, kita boleh seenaknya bergaul dengan mereka tanpa batasan-batasan syar’i.

Bahkan kepada orang yang kita anggap bersih dari syubhat-syubhat kebid’ahan pun kita harus selektif dalam bergaul, khawatir terpengaruh dengan kemaksiatan mereka yang dapat mengotori hati kita. Dalam kesempatan ini penyusun akan menukilkan penjelasan para ulama tentang batasan uzlah dan bergaul dengan manusia, sebagai pendahuluan sebelum memasuki inti pembahasan dari point yang ketiga ini.

Footnote:

————

1) Ighatsatul Lahafan, juz2 hal. 176-177

2) H.R.Ibnu Majah dan lainnya, dishahikan oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Shahih Targhib wat Tarhib, no.69

3) Keterangan mengenai wajib ‘ain dan wajib kifayah dalam menuntut ilmu bisa merujuk kepada buku berikut ini :

a. Miftah Daar As-Sa’adah, juz 1, hal 480-486

b. Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhlih, juz 1, hal.56-62

 

4) Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Dan manusia diciptakan pada asalnya sangat zalim dan sangat bodoh, dan dia tidak dapat terlepas dari kebodohan dan kezaliman, kecuali apabila Allah mengajarkan ilmu yang bermanfaat dan membimbingnya. Maka barangsiapa yang Allah kehendaki baginya

kebaikan maka Allah mengajarkannya ilmu yang bermanfaat sehingga ia terlepas dari kebodohan, dan Allah beri dia manfaat dari apa yang diajarkannya, sehingga ia terlepas dari kezaliman, apabila Allah tidak menghendaki baginya kebaikan, Allah biarkan dia

menurut asal penciptaannya.” (Dari buku Mawaridul Aman, hal. 396-397)

 

5) Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala mencela orang-orang yang menuruti panggilan kejahilan dan kezaliman, Ia berfirman:

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantangannmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu belaka. Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Surat Al-Qashas 50). (Dari buku Mawaridul Aman, hal 397)

6) Ighasatul Lahafan, juz 2 hal 146-148

7) Bahzatun Nadzirin, juz 3 hal 49-50

 

8) H.R Malik secara mursal (Al-Muwatha juz 2 hal 999). Syaikh Al-Albani mengatakan dalam bukunya At Tawassul anwa’uhu wa Ahkamuhu, “Imam Malik meriwayatkannya secara mursal, dan Al-Hakim dari hadits Ibnu Abas dan sanadnya hasan, juga hadits ini mempunyai syahid dari hadits Jabir telah saya takhrij dalam Silsilah Ahadits As-Shahihah no 1761.”

 

9) Jalannya orang-orang yang beriman, yaitu Ijma’nya para shahabat radhiallahu ‘anhum. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surat An- Nisaa 115)

 

10)  Lihat tulisan Ustadz Yazid Jawas dalam majalah As-Sunnah 08/tahun pertama mengenai “Kedudukan hadits tujuh puluh tiga golongan umat Islam”. Juga buku Nushul Ummah fi Fahmi Ahadits Iftiraqil Ummah oleh Syaikh Salim Al-Hilali dan buku Dar’ul Irtiyaab ‘an Fahmi Hadits ma Ana ‘Alaihi wal Ashaab oleh Syaikh Salim Al-Hilali juga.

 

11) Raf’ul malaam ‘an aimmatil a’laam, hal 11

 

12)  Riyadhus Shalihin no 1396. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib, juz 1 no..67. Syaikh Salim Al-Hilali juga mengatakan hasan dan menjelaskan takhrij hadits ini dalam Bahjatunn Naadzirin, juz 2 hal.470-471.

13) Miftah Daris Sa’adah, juz 1 hal 261-262

14) Al-Iman, hal.18

15) Miftah Daris Sa’adah, juz 1 hal. 411

16) lihat Fathul Bari, juz 1 no.100, atau Riyadhus Shalihin no.1400

17) H.R.Ad-Darimi (1/53), Ibnu Sa’ad dalam At-Thabaqat Al-Kubra (6/110), Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd (58), Al-Fusawi dalam Al- Ma’rifah wat Tarikh (2/817-818), dan Ibnul Jauzi dalam ‘Talbis Iblis (hal 132). Syaikh Salim Al-Hilali menjelaskan bahwa atsar ini shahih. (Dari buku Ar-Riyaa’ Dzammuhu wa atsaruhu As-sayyi’fil

Ummah, hal. 31-32)

 

18) Wasiat Ali bin Abi Thalib (, diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa (1/79-80), Al-Khatib Al-Bagdadi dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih (1/49), Al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal (24/220) dan lain-lain. Al-Khatib Al-Bagdadi mengatakan hadits ini hasan. Ibnu Abdil Bar mengatakan dalam kitabnya Jami’u Bayanil Ilmi (2/112), “Dia itu hadits yang masyhur di kalangan para ulama, sehingga tidak perlu kepada sanad lagi karena telah masyhurnya.” Ibnu Katsir mengatakan dalam Al-Bidayah wan Nihayah (9/47), “Yang meriwayatkannya adalah banyak orang dari para huffazh lagi orang-

orang kepercayaan.” (Lihat Miftah Daar As-Sa’adah, juz I hal. 404- 405 berikut catatan kakinya)

 

19) Selain Muawiyah ada beberapa orang shahabat lainnya meriwayatkan hadits Thaifah Manshurah ini, Syaikh Al-Albani menjelaskan takhrij hadits ini dalam kitabnya Silsilah Ahadits As-Shahihah, juz 1 no.270.

 

20) Lihat Fathul Bari, juz 13 hal 307

21) Syarah Shahih Muslim, juz 13 hal. 57

22) Silsilah Ash Shahihah, no. 270

23) As-Shahihah, juz 1 hal.481

24) Makanatu Ahlil hadits wa ma’aatsirihim wa atsarihim Al-Hamidah fi Ad-Dien, hal 4-5

25) Ustadz Alwi bin Abdul Qadir Asseggaf berkata, “Hadits Shahih, H.R. Abu Daud (12/341-‘Aun), Ibnu Majah dan Darimi. Lihatlah Silsilah Ahadits As-Shahihah (1/358) dan As-Sunnah oleh Ibnu Abi Ashim (1/32).” (Lihat catatan kaki no.2 dari Syarah Aqidah Wasithiyah, hal. 260)

 

26) Ustadz Alwi bin Abdul Qadir Asseggaf berkata, “Hadits Hasan, H.R.Tirmidzi, Imam Iraqi mengatakan dalam Takhrij Al-Ihya’ (3/230), hadits tentang perpecahan umat, sanad-sanadnya baik. Al- Hafizh Ibnu Hajar menghasankan sanadnya dalam Takhrij Al-Kasysyaf, hal. 63, no.17. Syaikh Salim Al-Hilali telah mengumpulkan hadits- hadits tentang perpecahan umat ini dalam risalahnya Nushul Ummah fi Fahmi Ahadits Iftiraqil Ummah. Apabila engkau menghendaki, maka merujuklah kepadanya, hal. 9-27.” (Lihat catatan kaki no.1dari Syarah Aqidah Wasithiyah, hal. 61)

 

27) Ustadz Alwi bin Abdul Qadir Asseggaf berkata, “Hadits Shahih, H.R.Bukhari (13/293-Fath), Muslim (13/70-Nawawi), Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya.” (Lihat catatan kaki no.1 Syarah Aqidah Wasithiyyah, hal.60)

28) Syarah Aqidah Wasithiyyah, hal. 260-261

29) Ilmu Ushulil Bida’, hal. 209-210

[Disalin dari buku Fikih Nasehat, Penyusun Fariq Bin Gasim Anuz, Cetakan Pertama, Sya’ban 1420H/November 1999. Penerbit Pustaka Azzam Jakarta. PO BOX 7819 CC JKTM]

2 Responses

  1. Jika Anda mengantungkan diri pada keberuntungan saja, maka Anda membuat hidup Anda seperti lotere.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: