Salah Paham Tentang Salafi

Salah Paham Tentang Salafi

At Tauhid edisi V/18

Oleh: Yulian Purnama

Pepatah lama mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang”. Demikianlah, kadang seorang membenci sesuatu, padahal ia tidak mengenal apa yang ia benci itu. Bisa jadi bila ia mengenalnya, bukan benci namun cinta yang diberikan. Demikianlah yang terjadi pada dakwah Salafiyah atau disebut juga Salafi. Banyak orang bergunjing tentang Salafi, padahal ia tidak mengenal bagaimana sebenarnya Salafi atau dakwah salaf itu. Hasilnya, timbullah tuduhan dan anggapan-anggapan buruk yang keji. Bahkan sampai ada yang menuduh bahwa Salafi adalah aliran sesat! Sungguh Allah-lah tempat memohon pertolongan.

Kenalilah Istilah Salafi

Salaf secara bahasa arab artinya ‘setiap amalan shalih yang telah lalu; segala sesuatu yang terdahulu; setiap orang yang telah mendahuluimu, yaitu nenek moyang atau kerabat’ (Lihat Qomus Al Muhith, Fairuz Abadi). Secara istilah, yang dimaksud salaf adalah 3 generasi awal umat Islam yang merupakan generasi terbaik, seperti yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, “Sebaik-baik umat adalah generasiku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya” (HR. Bukhari-Muslim)

Tiga generasi yang dimaksud adalah generasi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat, generasi tabi’in dan generasi tabi’ut tabi’in. Sering disebut juga generasi Salafus Shalih. Tidak ada yang meragukan bahwa merekalah orang-orang yang paling memahami Islam yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Maka bila kita ingin memahami Islam dengan benar, tentunya kita merujuk pada pemahaman orang-orang yang ada pada 3 generasi tersebut. Seorang sahabat yang mulia, Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu berkata, “Seseorang yang mencari teladan, hendaknya ia meneladani para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam karena mereka adalah orang-orang yang paling mulia hatinya, paling mendalam ilmunya, paling sedikit takalluf-nya, paling benar bimbingannya, paling baik keadaannya, mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi sahabat Nabi-Nya, dan untuk menegakkan agamanya. Kenalilah keutamaan mereka. Ikutilah jalan hidup mereka karena sungguh mereka berada pada jalan yang lurus.” (Limaadza Ikhtartu Al Manhaj As Salafi Faqot, Salim bin ‘Ied Al Hilaly)

Kemudian dalam kaidah bahasa arab, ada yang dinamakan dengan isim nisbah, yaitu isim (kata benda) yang ditambahkan huruf ‘ya’ yang di-tasydid dan di-kasroh, untuk menunjukkan penisbatan (penyandaran) terhadap suku, negara asal, suatu ajaran agama, hasil produksi atau sebuah sifat (Lihat Mulakhos Qowaid Al Lughoh Ar Rabiyyah, Fuad Ni’mah). Misalnya yang sering kita dengar seperti ulama hadits terkemuka Al-Bukhari, yang merupakan nisbah kepada kota Bukhara (nama kota di Uzbekistan) karena Al-Bukhari memang berasal dari sana. Ada juga yang menggunakan istilah Al-Hanafi, berarti menisbahkan diri pada madzhab Hanafi. Maka dari sini dapat dipahami bahwa Salafi maksudnya adalah orang-orang yang menisbahkan (menyandarkan) diri kepada generasi Salafus Shalih. Atau dengan kata lain “Salafi adalah mengikuti pemahaman dan cara beragama para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka”. (Kun Salafiyyan ‘Alal Jaddah, hal. 10)

Sehingga dengan penjelasan ini jelaslah bahwa orang yang beragama dengan mengambil sumber ajaran Islam dari 3 generasi awal umat Islam tadi, DENGAN SENDIRINYA ia seorang Salafi. Tanpa harus mendaftar, tanpa berbai’at, tanpa iuran anggota, tanpa kartu anggota, tanpa harus ikut pengajian tertentu, dan tanpa harus memakai busana khas tertentu. Maka Anda yang sedang membaca artikel ini pun seorang Salafi bila anda selama ini mencontoh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam beragama.

Jika pembaca sekalian memahami penjelasan di atas, maka seharusnya telah jelas bahwa dakwah salafiyyah adalah Islam itu sendiri. Dakwah Salafiyyah adalah Islam yang hakiki. Mengapa? Karena dari manakah kita mengambil sumber pemahaman Al Qur’an dan hadits selain dari para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam? Apakah ada sumber lain yang lebih terpercaya? Apakah Islam dipahami dengan selera dan pemahaman masing-masing orang? Bahkan jika seseorang dalam memahami Al Qur’an dan hadits mengambil sumber dari yang lain, maka dapat dipastikan ia telah mengambil jalan yang salah. Syaikh Salim Bin ‘Ied Al Hilaly setelah menjelaskan surat An Nisa ayat 115 berkata, “Dengan ayat ini jelaslah bahwa mengikuti jalan kaum mu’minin adalah jalan keselamatan. Dan ayat ini dalil bahwa pemahaman para sahabat mengenai agama Islam adalah hujjah terhadap pemahaman yang lain. Orang yang mengambil pemahaman selain pemahaman para sahabat, berarti ia telah mengalami penyimpangan, menapaki jalan yang sempit lagi menyengsarakan, dan cukup baginya neraka Jahannam yang merupakan seburuk-buruk tempat tinggal.” (Limaadza Ikhtartu Al Manhaj As Salafi Faqot, Salim bin ‘Ied Al Hilaly)

Salah Kaprah Tentang Salafi

Di tengah masyarakat, banyak sekali beredar syubhat (kerancuan) dan kalimat-kalimat miring tentang Salafi. Dan ini tidak lepas dari dua kemungkinan. Sebagaimana dijelaskan Syaikh ‘Ubaid bin Sulaiman Al Jabiri ketika ditanya tentang sebuah syubhat, “Kerancuan tentang Salafi yang berkembang di masyarakat ini tidak lepas dari 2 kemungkinan: Disebabkan ketidak-pahaman atau disebabkan adanya i’tikad yang buruk. Jika karena tidak paham, maka perkaranya mudah. Karena seseorang yang tidak paham namun i’tikad baik, jika dijelaskan padanya kebenaran ia akan menerima, jika telah jelas baginya kebenaran dengan dalilnya, ia akan menerima. Adapun kemungkinan yang kedua, pada hakikatnya ini disebabkan oleh fanatik golongan dan taklid buta, -dan ini yang lebih banyak terjadi- dari orang-orang ahlul ahwa (pengikut hawa nafsu) dan pelaku bid’ah yang mereka memandang bahwa manhaj salaf akan membuka tabir penyimpangan mereka.” (Ushul Wa Qowa’id Fii Manhajis Salafi, Syaikh ‘Ubaid bin Sulaiman Al Jabiri )

Dalam kesempatan kali ini akan kita bahas beberapa kerancuan tersebut.

1. Salafi Bukanlah Sekte, Aliran, Partai atau Organisasi Massa

Sebagian orang mengira Salafi adalah sebuah sekte, aliran sebagaimana Jama’ah Tabligh, Ahmadiyah, Naqsabandiyah, LDII, dll. Atau sebuah organisasi massa sebagaimana NU, Muhammadiyah, PERSIS, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dll. Ini adalah salah kaprah. Salafi bukanlah sekte, aliran, partai atau organisasi massa, namun salafi adalah manhaj (metode beragama), sehingga semua orang di seluruh pelosok dunia di manapun dan kapanpun adalah seorang salafi jika ia beragama Islam dengan manhaj salaf tanpa dibatasi keanggotaan.

Sebagian orang juga mengira dakwah Salafiyyah adalah gerakan yang dicetuskan dan didirikan oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab. Ini pun kesalahan besar! Dijelaskan oleh Syaikh ‘Ubaid yang ringkasnya, “Dakwah salafiyyah tidak didirikan oleh seorang manusia pun. Bukan oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab bersama saudaranya Imam Muhammad Bin Su’ud, tidak juga oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya, bukan pula oleh Imam Mazhab yang empat, bukan pula oleh salah seorang Tabi’in, bukan pula oleh sahabat, bukan pula oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, dan bukan didirikan oleh seorang Nabi pun. Melainkan dakwah Salafiyah ini didirikan oleh Allah Ta’ala. Karena para Nabi dan orang sesudah mereka menyampaikan syariat yang berasal dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidak ada yang dapat dijadikan rujukan melainkan nash dan ijma” (Ushul Wa Qowaid Fii Manhajis Salaf)

Oleh karena itu, dalam dakwah salafiyyah tidak ada ketua umum Salafi, Salafi Cabang Jogja, Salafi Daerah, Tata tertib Salafi, AD ART Salafi, Alur Kaderisasi Salafi, dan tidak ada muassis (tokoh pendiri) Salafi. Tidak ada pendiri Salafi melainkan Allah dan Rasul-Nya, tidak ada AD-ART Salafi melainkan Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat.

2. Salafi Gemar Mengkafirkan dan Membid’ahkan?

Musuh utama seorang muslim adalah kekufuran dan kesyirikan, karena tujuan Allah menciptakan makhluk-Nya agar makhluk-Nya hanya menyembah Allah semata. Allah Ta’ala berfirman, “Sungguh kesyirikan adalah kezaliman yang paling besar” [QS. Luqman: 13]. Setelah itu, musuh kedua terbesar seorang muslim adalah perkara baru dalam agama, disebut juga bid’ah. Karena jika orang dibiarkan membuat perkara baru dalam beragama, akan hancurlah Islam karena adanya peraturan, ketentuan, ritual baru yang dibuat oleh orang-orang belakangan. Padahal Islam telah sempurna tidak butuh penambahan dan pengurangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim)

Maka tentu tidak bisa disalahkan ketika ada da’i yang secara intens mendakwahkan tentang bahaya syirik dan bid’ah, mengenalkan bentuk-bentuk kesyirikan dan kebid’ahan agar umat terhindar darinya. Bahkan inilah bentuk sayang dan perhatian terhadap umat.

Kemudian, para ulama melarang umat Islam untuk sembarang memvonis bid’ah, sesat apalagi kafir kepada individu tertentu. Karena vonis yang demikian bukanlah perkara remeh. Diperlukan timbangan Al Qur’an dan As Sunnah serta memperhatikan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh para ulama dalam hal ini. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata, “Dalil-dalil terkadang menunjukkan bahwa perbuatan tertentu adalah perbuatan kufur, atau perkataan tertentu adalah perkataan kufur. Namun di sana terdapat faktor yang membuat kita tidak memberikan vonis kafir kepada individu tertentu (yang melakukannya). Faktornya banyak, misalnya karena ia tidak tahu, atau karena ia dikalahkan oleh orang kafir dalam perang.” (Fitnah At Takfir, Muhammad Nashiruddin Al Albani)

Dari sini jelaslah bahwa menjelaskan perbuatan tertentu adalah perbuatan kufur bukan berarti memvonis semua pelakunya itu per individu pasti kafir. Begitu juga menjelaskan kepada masyarakat bahwa perbuatan tertentu adalah perbuatan bid’ah bukan berarti memvonis pelakunya pasti ahlul bid’ah. Syaikh Abdul Latif Alu Syaikh menjelaskan: “Ancaman (dalam dalil-dalil) yang diberikan terhadap perbuatan dosa besar terkadang tidak bisa menyebabkan pelakunya per individu terkena ancaman tersebut” (Ushul Wa Dhawabith Fi At Takfir, Syaikh Abdul Latif bin Abdurrahman Alu Syaikh)

3. Salafi Memecah-Belah Ummat?

Untuk menjelaskan permasalahan ini, perlu pembaca ketahui tentang 3 hal pokok. Pertama, perpecahan umat adalah sesuatu yang tercela. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya, “Berpegang teguhlah pada tali Allah dan jangan berpecah-belah” (QS. Al-Imran: 103). Kedua, perpecahan umat adalah suatu hal yang memang dipastikan terjadi dan bahkan sudah terjadi. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, “Umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari ini” [HR. Tirmidzi]. Ketiga, persatuan Islam bukanlah semata-mata persatuan badan, kumpul bersama, dengan keadaan aqidah yang berbeda-beda. Mentoleransi segala bentuk penyimpangan, yang penting masih mengaku Islam. Bukan itu persatuan Islam yang diharapkan. Perhatikan baik-baik hadits tadi, saat umat Islam berpecah belah seolah-olah Rasulullah memerintahkan untuk bersatu pada satu jalan, yaitu jalan yang ditempuh oleh para sahabat, inilah manhaj salaf.

Sehingga ketika ada seorang yang menjelaskan kesalahan-kesalahan dalam beragama yang dianut sebagian kelompok, aliran, partai atau ormas Islam, bukanlah upaya untuk memecah belah ummat. Melainkan sebuah upaya untuk mengajak ummat BERSATU di satu jalan yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tersebut. Bahkan adanya bermacam aliran, sekte, partai dan ormas Islam itulah yang menyebabkan perpecahan ummat. Karena mereka tentu akan loyal kepada tokoh-tokoh mereka masing-masing, loyal kepada peraturan mereka masing-masing, loyal kepada tradisi mereka masing-masing, bukan loyal kepada Islam!!

Selain itu, jika ada saudara kita yang terjerumus dalam kesalahan, siapa lagi yang hendak mengoreksi kalau bukan kita sesama muslim? Tidak akan kita temukan orang kuffar yang melakukannya. Dan bukankah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Agama adalah nasehat” (HR. Muslim). Dan jika koreksi itu benar, bukankah wajib menerimanya dan menghempas jauh kesombongan? Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim)

4. Salafi Aliran Sesat?

Orang yang menuduh dakwah salafiyyah sebagai aliran sesat, seperti dijelaskan oleh Syaikh Ubaid, bisa jadi ia memang orang awam yang belum mengenal apa itu salafi, atau bisa jadi ia orang benci kepada dakwah salafiyyah karena dakwah ini telah membuka tabir yang selama ini menutupi penyimpangan-penyimpangan yang dimilikinya.

Anggapan ini sama sekali tidak benar karena dua hal. Pertama, dakwah salafiyyah bukan aliran atau sekte tertentu dalam Islam, sebagaimana telah dijelaskan. Kedua, sebagaimana telah diketahui bahwa sesuatu dikatakan tersesat jika ia telah tersasar dari jalan yang benar, dan menempuh jalan yang salah. Maka bagi yang menuduh hendaknya mendatangkan bukti bahwa dakwah salafiyyah menyimpang dari ajaran Al Qur’an dan As Sunnah yang benar. Niscaya mereka tidak akan bisa mendatangkan buktinya.

Sebagaimana yang dijelaskan Majelis Ulama Indonesia Jakarta Utara dalam menanggapi kalimat-kalimat miring yang menuduh bahwa salafi adalah aliran sesat, dalam surat edaran MUI Jakarta Utara tanggal 8 April 2009 berjudul “Pandangan MUI Kota Administrasi Jakarta Utara tentang Salaf/Salafi”. Dalam surat edaran tersebut ditetapkan:

a) Pertama, penjelasan tentang Salaf/Salafi:

  1. Salaf/Salafi tidak termasuk ke dalam 10 kriteria sesat yang telah ditetapkan oleh MUI. Sehingga Salaf/Salafi bukanlah merupakan sekte atau aliran sesat sebagaimana yang berkembang belakangan ini,
  2. Salaf/Salafi adalah nama yang diambil dari kata salaf yang secara bahasa berarti orang-orang terdahulu, dalam istilah adalah orang-orang terdahulu yang mendahului kaum muslimin dalam Iman, Islam dst. mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka,
  3. Penamaan salafi ini bukanlah penamaan yang baru saja muncul, namun sejak dahulu ada,
  4. Dakwah salaf adalah ajakan untuk memurnikan agama Islam dengan kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah dengan menggunakan pemahaman para sahabat Radhiallahu’anhum.

b) Kedua, nasehat dan tausiah kepada masyarakat:

  1. Hendaknya masyarakat tidak mudah melontarkan kata sesat kepada suatu dakwah tanpa di klarifikasi terlebih dahulu,
  2. Hendaknya masyarakat tidak terprovokasi dengan pernyataan-pernyataan yang tidak bertanggung jawab,
  3. Kepada para da’i, ustadz, tokoh agama serta tokoh masyarakat hendaknya dapat menenangkan serta memberikan penjelasan yang objektif tentang masalah ini kepada masyarakat,
  4. Hendaknya masyarakat tidak bertindak anarkis dan main hakim sendiri, sebagaimana terjadi di beberapa daerah.

(Surat edaran MUI, “Pandangan MUI Kota Administrasi Jakarta Utara tentang Salaf/Salafi”, 8 April 2009, file ada pada redaksi)

Nasihat Untuk Ummat

Terakhir, agama adalah nasehat. Maka penulis menasehati diri sendiri dan kaum muslimin sekalian untuk menjadi Salafi. Bagaimana caranya? Menjadi seorang Salafi adalah dengan menjalankan Islam sesuai dengan apa yang telah dituntunkan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan dipahami oleh generasi Salafus Shalih. Dan wajib hukumnya bagi setiap muslim untuk ber-Islam dengan manhaj salaf. Ibnul Qayyim Al Jauziyyah berkata: “Para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam semua diampuni oleh Allah. Wajib mengikuti metode beragama para sahabat, perkataan mereka dan aqidah mereka sebenar-benarnya” (I’lamul muwaqqi’in, (120/4), dinukil dari Kun Salafiyyan ‘Alal Jaddah, Abdussalam Bin Salim As Suhaimi)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberikan ni’mat, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan orang-orang tersesat. [Yulian Purnama]

http://buletin.muslim.or.id/manhaj/salah-paham-tentang-salafi

2 Responses

  1. CUMA KATA2 CURHAT UNTUK SAYA PRIBADI & PARA PEMBACA

    1. Hendaknya PARA SALAFI tidak mudah melontarkan kata sesat dalam suatu dakwah tanpa di klarifikasi terlebih dahulu,
    2. Hendaknya para SALAFI tidak memprovokasi dengan pernyataan-pernyataan yang tidak bertanggung jawab,
    3. Kepada para da’i, ustadz, tokoh agama serta tokoh masyarakat hendaknya PARA SALAFI BERKOORDINASI DENGAN MEREKA AGAR DAPAT MENGHARGAI SETIAP PERBEDAAN DALAM SUATU ALIRAN ISLAM
    4. MEREKA YANG BUKAN NON MUSLIM BERTEPUK TANGAN DAN BERSORAK GEMBIRA MELIHAT SESAMA MULIM PADA BERANTEM BEREBUT YANG PALING BENAR….

    DARI DULU HINGGA SEKARANG NU & MUHAMADIAH AKUR2 AJA WALAUPUN SERING BEDA PENETAPAN PUASA,IDUL FITRI. MASALAH ZIARAH KUBUR NU PAKE MUHAMADIAH NGGA… ITU AKUR2 AJA…

    SEKARANG ADA YANG DATANG BILANG INI BID’AH… HARAM…SESAT….
    UDAH SAMPAI KELANGIT BERAPA… MEMPELAJARI ISLAM
    JANGAN SAMPAI BARU MENGENAL KULIT UDAH MERASA PALING BENAR….
    JANGAN CUMA COPY PASTE…..RIBUAN HADIST..

    MAAF KLO TIDAK BERKENAN…
    SAYA MALU KLO KITA SESAMA MUSLIM MASIH SALING MENYALAHKAN….MERASA PALING BENAR….
    “SIAPA YANG MENGENAL DIRINYA AKAN MENGENAL TUHANNYA”

    • Jawab : Terima kasih atas curhat antum, setidaknya antum menyampaikan dengan maksud yang baik, mungkin curhat yang antum tulis bermaksud memberikan nasihat kepada saya khususnya dan umumnya kepada Salafiyin . Terlihat dari uraian antum sepertinya antum belum memahami hakikat dakwah salaf . Antum belum membacanya dengan baik tentang risalah diatas, karena uraian antum bertentangan dengan kandungan tulisan diatas ( saya sarankan untuk membacanya kembali dengan tenang , baru memberikan tanggapan ).

      Baiklah, ada beberapa hal yang harus diluruskan dari apa yang antum sampaikan, mungkin apa yang antum sampaikan adalah sebagaimana yang antum rasakan dan alami dan mungkin juga antum hanya dengar tanpa memberikan tabayyun, dan atum memahaminya bahwa risalah atau tulisan saudara-saudara saya salafiyin mudah memberikan vonis terhadap saudaranya ?, ini perlu dibuktikan.

      “ 1. Hendaknya PARA SALAFI tidak mudah melontarkan kata sesat dalam suatu dakwah tanpa di klarifikasi terlebih dahulu,’

      Jawab : Karena antum memberikan Curhat antum pada tulisan diatas, ana Tanya sama antum apakah ada dari tulisan diatas seperti yang antum tuduhkan ?
      Silakan baca lagi tulisan diatas dengan ikhlas, tentang point ke 2 (Salafi Gemar Mengkafirkan dan Membid’ahkan?)

      “2. Hendaknya para SALAFI tidak memprovokasi dengan pernyataan-pernyataan yang tidak bertanggung jawab,

      Jawab : Justru kalau ana lihat dari komentar antum, tuduhan antum sepertinya kurang bertanggung jawab, karena antum memberikan tuduhan tetapi tidak meberikan bukti dan burhan, peryataan seperti ini tidaklah mempunyai amanah ilmiah, karena amanah ilmiah adalah bagian dari agama ini ( ini adalah kaidah yang muliya ), dan hendaknya seorang muslim yang ikhlas tidak terselimuti ashobiyah ( fanatik golongan) mengambil jalan ini karena apa yang antum nasihatkan bulkanlah semata-mata hanya mencari kepuasan hawa nafsu tetapi semata-mata dalam rangka mencari kebenaran karena Allah Tabaroka wa ta’ala.

      3. Kepada para da’i, ustadz, tokoh agama serta tokoh masyarakat hendaknya PARA SALAFI BERKOORDINASI DENGAN MEREKA AGAR DAPAT MENGHARGAI SETIAP PERBEDAAN DALAM SUATU ALIRAN ISLAM

      Jawab : Silakan baca lagi dalam masalah ini pada point 3 (3. Salafi Memecah-Belah Ummat?)

      4. MEREKA YANG BUKAN NON MUSLIM BERTEPUK TANGAN DAN BERSORAK GEMBIRA MELIHAT SESAMA MULIM PADA BERANTEM BEREBUT YANG PALING BENAR….DARI DULU HINGGA SEKARANG NU & MUHAMADIAH AKUR2 AJA WALAUPUN SERING BEDA PENETAPAN PUASA,IDUL FITRI. MASALAH ZIARAH KUBUR NU PAKE MUHAMADIAH NGGA… ITU AKUR2 AJA…SEKARANG ADA YANG DATANG BILANG INI BID’AH… HARAM…SESAT….
      UDAH SAMPAI KELANGIT BERAPA… MEMPELAJARI ISLAM
      JANGAN SAMPAI BARU MENGENAL KULIT UDAH MERASA PALING BENAR….
      JANGAN CUMA COPY PASTE…..RIBUAN HADIST..
      SAYA MALU KLO KITA SESAMA MUSLIM MASIH SALING MENYALAHKAN….MERASA PALING BENAR….
      “SIAPA YANG MENGENAL DIRINYA AKAN MENGENAL TUHANNYA”

      Jawab : Memang benar ,Non Muslim senantiasa bertepuk tangan dan bersorak gembira melihat fenomena banyaknya kelompok-kelompok dalam islam dan tentunya mereka mengaku diatas kebenaran ( menurut versi dan kelompok mereka ) masing2 . Dan mereka Non Muslim senatiasa gembira selama kelompok2 sempalan tersebut masih ngotot dengan pemahaman mereka yang telah jauh dari petunjuk Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para Sahabat ( Salafus Shalih ).Hal ini sebagaimana yang dianugerahkan Allah kepada shahabat-shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang mencukupkan diri kepada apa yang dibawa beliau Shallallahu alaihi wa sallam dan mereka sama sekali tidak membutuhkan hal-hal lain di luar Islam.
      Dan tahukah antum bahwa Non Muslim bergembira karena sebagian dari kita kaum Muslimin banyak tasyabuh dan mengikuti cara beragama mereka, dan tentu mereka akan bergembira karena saudara kita kaum muslimin masih tetap dengan cara pemahaman mereka.
      Tidaklah mereka semuanya mengetahui, bahwa permusuhan agama kita dengan Yahudi adalah permusuhan yang terjadi semenjak dahulu kala, semenjak pemerintahan Islam pertama berdiri di Madinah Al-Munawarah dengan pimpinan Rasul (utusan Allah) untuk seluruh manusia yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan kepada kita tentang hakikat kedengkian Yahudi dan permusuhan mereka terhadap umat Islam, umat Tauhid.

      “Artinya : Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik ….” [Al-Ma’idah : 82]

      “Artinya : orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka …” [Al-Baqarah : 120]

      Adapun perpecahan atas umat ini adalah sunnah kauniyyah sebagaimana sabda Nabi kita Shallallahu alaihi wa sallam.
      Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah mengabarkan tentang pertentangan dan perpecahan. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam memberikan peringatan akan (bahayanya).

      Perpecahan dan perbedaan pasti terjadi dalam ummat ini dan bukan suatu yang mustahil. Semua itu merupakan ketentuan Allah secara kauni. Kita diperintahkan Allah dan RasulNya untuk berupaya mengambil langkah-langkah yang dapat menghilangkan perpecahan tersebut. Memperkecil lingkup dan meminimalisasi fitnah yang timbul karenanya.
      Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

      “ Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali -orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan ,untuk itulah Allah menciptakan mereka. (QS Hud 1:&119).

      Dan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
      Orang-orang Yahudi terpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan.
      Dalam hadits Auf bin Malik, “Semuanya di neraka kecuali satu”Dan nashara telah terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan.

      Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ditanya, Siapakah mereka Rasuluilah?

      Dalam hadits Muawiyah dan Anas bin Malik, Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab: Mereka adalah jama ‘ah Dalam hadits Abu Umamah Al-Bahili beliau menjawab, Golongan itu ialah golongan yang mayoritas. Dan dalam hadits Abdullah bin Amr bin Al Ash , beliau menjawab:

      (Golongan yang selamat itu, ialah) yang berada pada apa (yang) aku dan sahabatku berada diatasnya pada han ini.
      “Berkata al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu

      : ‘Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasiat.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kamu adalah seorang budak Habasiyyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.’” [HR. Nasa’i dan At-Tirmi-dzi, ia berkata hadits hasan shahih)]

      Dengan alasan dalil diatas apakah kemudian antum setuju untuk menselisihi sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam agar kita berdiam diri terhadap cara2 beragama yang datang dari luar Islam ?, tahukah antum peringatan yang kita sampaikan adalah rasa sayang kita terhadap saudara sesama Muslim kita sebagai aplikasi dari Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam :

      “Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, pembantu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam beliau bersabda: Tidaklah seorang dari kalian sempurna imannya sampai mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya” Hadits ini dikeluarkan oleh Iman Al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Iman, bab Min Al Iman An Yuhibba Li akhihi ma yuhibbu linafsihi, hadits no. 13. juga Imam Muslim dalam Shahih-nya, kitab Al Iman, Bab Al Dalil ‘Ala Ana Min Khishal Al Iman An Yuhibba Liakhihi al muslim ma yuhibbu linafsihi min Al khoir, hadits no. 45.

      Adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk saling menasehati sesamanya. Dengan nasehat itulah maka seorang muslim bisa senantiasa berjalan diatas batas-batas yang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

      Dengan nasehat itulah maka akan tegak pilar-pilar penyangga ukhuwah. Seringkali nasehat yang terucap dengan tulus ikhlas menjadi hidangan yang sangat lezat bagi hati yang bersih, jiwa yang lembut dan pikiran yang tenang. Tapi tak jarang nasehat berupa kebenaran itu merupakan obat yang sangat pahit bagi hati yang keras, Tapi ketahuilah duhai sahabat bahwa sepahit-pahit nasehat berupa kebenaran maka itu bukanlah racun yang bisa membinasakanmu akan tetapi itu adalah obat yang dapat menyembuhkanmu dari penyakit yang sangat membahayakan berupa kerasnya hati dan lalainya jiwa akan keberanan.

      Adapun antum mengangkat masalah copy paste ribuan hadist, ini adalah diluar substansi pembahasan dalam mencari penjelasan ( bayan ), adapun copy paste adalah salah satu kelebihan sarana media saat ini yang telah dipermudahkan , sehingga generasi kita sekarang begitu mudah dalam mencari Hadist dari para Imam dari media elektronik, dan tentunya kita tidak sembarangan asal copy paste, tentunya kita selalu memastikan bahwa hal tersebut haruslah ada sumbernya dan ulama yang mensyarahnya, jadi buka dari hasil ra’yu (pikiran ) kita.
      Anda masih salah paham antara memberikan nasihat dan menyalahkan ( tanpa burhan dan bayan ) , dan tentunya kita tidaklah merasa benar sendiri. Karena merasa paling benar sendiri adalah tidak boleh, adapun merasa benar dengan dalil Kitabullah dan Sunnah yang shahih disertai penjelasan syarah dari para ulama yang tegak berjalan diatas manhaj yang lurus adalah wajib.
      Tahukah anda perkataan yang anda sampaikan “SIAPA YANG MENGENAL DIRINYA AKAN MENGENAL TUHANNYA” , ini adalah hadist mawdlu ‘

      مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

      (Man ‘Arofa Nafsahu, Faqad ‘Arofa Rabbahu) “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia telah mengenal Rabb-nya.”
      Imam an-Nawawiy berkata, “Hadits ini tidak valid.”

      Ibn as-Sam’aniy berkata, “Ini adalah ucapan Yahya bin Mu’adz ar-Raziy.”
      Catatan: Syaikh Muhammad Luthfiy ash-Shabbaq (penahqiq) buku ad-Durar al-Muntatsirah Fî al-Ahâdîts al-Musytahirah karya Imam as-Suyûthiy (buku yang kita kaji ini) berkata, KUALITASNYA MAWDLU’ (PALSU);
      Sekali lagi ana sampaikan bahwa tulisan ini tidaklah menyalahkan antum, ini hanyalah nasihat kepada saudaranya, bila diterima Alhamdulillah bila tidak itu terserah antum.Semoga Allah tabaroka wa ta’ala senantiasa memberikan taufiq dan hidayahNya kepada saya dan antum.
      Allahul musta’an.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: