Praktek Teladan Ulama Salaf dalam mensikapi Pemimpin yang dzolim

Praktek Teladan Ulama Salaf dalam mensikapi Pemimpin yang dzolim

Berikut sebagian contoh nyata dari kehidupan ulama’ salaf dalam menerapkan ketaatan kepada penguasa yang lalim:

Setiap kali membaca biografi Ahmad bin Hambal, kita akan bertemu dengan sosok yang gigih dalam membela sifat-sifat Allah yang haq, meskipun beliau disiksa bertahun -tahun lamanya. Tidak gentar, tidak berpaling, dan tidak mengerahkan murid-muridnya untuk melawan penguasa, tetapi malah selalu mendoakan pemimpin (meski mereka amat sangat zalim sekali), sebagaimana beliau pernah berkata, “Sekiranya saya memiliki doa yang pasti terkabul, tentu doa itu kutujukan untuk pemimpin”.

Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal. Nasab beliau bertemu dengan nasab RasuluLlah sholaLlahu a’laihi wasallam pada diri Nizar bin Ma’d bin ‘Adnan. Yang berarti bertemu nasab pula dengan nabi Ibrahim ‘alaihissalam.Beliau dilahirkan di kota Baghdad pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 164 Hijriyah.

Telah menjadi keniscayaan bahwa kehidupan seorang mukmin tidak akan lepas dari ujian dan cobaan, terlebih lagi seorang alim yang berjalan di atas jejak para nabi dan rasul. Dan Imam Ahmad termasuk di antaranya. Beliau mendapat cobaan dari tiga orang khalifah Bani Abbasiyah 16 tahun lamanya.

Imam Ahmad rahimahullah disiksa dan dipenjara oleh penguasa di zamannya karena beliau tidak mau mengucapkan kalimat kekafiran (yaitu Al-Qur’an adalah mahluk). Meskipun demikian beliau mengharamkan khuruj (pemberontakan) kepada penguasa yang telah menyiksa beliau tersebut.

Abul Haarits berkata, “Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang perkara yang terjadi di Baghdad. Dimana sebagian kaum telah bertekad untuk keluar (memberontak). Maka aku berkata, “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), apakah pendapatmu tentang memberontak bersama kaum tersebut?” Maka beliau mengingkari perbuatan mereka dan berkata, “Subhaanallah, darah… darah…, aku tidak berpendapat demikian, dan aku tidak memerintahkan untuk melakukan hal ini.

Bersabar dengan apa yang menimpa kita lebih baik dari pada fitnah yang menimbulkan tertumpahnya darah, terampasnya harta-benda, dan dilanggarnya perkara-perkara yang haram. Tidakkah engkau tahu (akibat) apa yang menimpa manusia (dahulu yaitu tatkala hari-hari terjadinya fitnah)?”.

Aku berkata, “Bukankah orang-orang sekarang berada di dalam fitnah wahai Abu Abdillah(*)?”

Imam Ahmad berkata, “Meskipun mereka berada di fitnah, sesungguhnya ini hanyalah fitnah yang khusus, adapun jika telah terangkat pedang maka fitnahnya akan menjadi umum (menimpa semua orang -pen) dan terputusnya jalan-jalan. Kesabaran di atas hal ini (dipaksa oleh Al-Makmun untuk mengatakan Al-Qur’an adalah mahluk -pen) dan selamatnya agamamu lebih baik bagimu.”

(*) Sebagian orang yang dipenjara oleh Al-Makmun karena tidak mau mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah mahluk.

Abul Harits berkata, “Aku melihat Imam Ahmad mengingkari pemberontakan kepada para penguasa dan ia berkata, “Darah…darah…, aku tidak berpendapat (bolehnya memberontak) dan aku tidak memerintahkannya.” [As-Sunnah lil Khollaal I/132-133 no 89]

Hanbal berkata, “Tatkala masa pemerintahan Al-Waatsiq berkumpullah para ahli fiqih Baghdad menemui Abu Abdillah (Imam Ahmad). Mereka yaitu Abu Bakr bin ‘Ubaid, Ibrahim bin ‘Ali Al-Mathbakhi, dan Fadhl bin ‘Aashim. Mereka datang menemui Imam Ahmad, maka aku pun memintakan izin untuk mereka kepada Imam Ahmad. Mereka berkata, “Wahai Abu Abdillah, perkara ini telah parah dan tersebar –maksud mereka adalah sikap Al-Waatsiq yang memaksakan aqidah bahwa Al-Qur’an adalah mahluk dan sikap-sikapnya yang lain-.

Maka Imam Ahmad berkata kepada mereka, “Apakah yang kalian kehendaki?” Mereka berkata, “Kami bermusyawarah denganmu bahwasanya kami tidak ridho dengan pemerintahannya dan tidak juga dengan kekuasaannya”.

Maka Imam Ahmad berdialog dengan mereka beberapa saat dan berkata, “Wajib bagi kalian untuk mengingkari dengan hati-hati kalian dan janganlah kalian melepaskan tangan kalian dari ketaatan dan janganlah kalian memecah persatuan kaum muslimin dan janganlah kalian menumpahkan darah-darah kalian.” [As-Sunnah lil Khollaal I/132-133 no 90]

Yang lebih mengherankan lagi Imam Ahmad tidak hanya melarang untuk memberontak kepada penguasa, bahkan beliau juga mendorong untuk memerangi orang-orang yang memberontak terhadap penguasa, padahal penguasa telah memenjarakan dan menyiksa beliau.

Al-Khollaal telah meriwayatkan atsar-atsar tentang hal ini dari Imam Ahmad dengan sanad-sanad yang saling menguatkan diantaranya adalah riwayat Husain As-Shoo’igh: “Tatkala terjadi peristiwa Baabik, Imam Ahmad menganjurkan masyarakat agar melawannya. Beliau menulis sebuah surat yang beliau titipkan padaku untuk Abil Waliid dan ke Al-Bashroh. Beliau menganjurkan mereka agar melawan Baabik”. [As-Sunnah lil Khollaal I/148 no 117]

Yang lebih mengherankan si Baabik Al-Khurromi ini telah memberontak kepada Al-Ma’muun dan Al-Mu’tashim yang kedua khalifah inilah yang telah memenjarakan Imam Ahmad dan menyiksanya. Akan tetapi siksaan mereka berdua terhadap Imam Ahmad tidaklah mencegah Imam Ahmad untuk tetap menyampaikan kebenaran.

Berkata Abu Bakr bin Hammaad, “Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad), Seseorang yang hendak berperang (melawan orang-orang kafir -pen) –dan tatkala itu terjadi fitnah Khurromiyyah (yaitu pengikut Baabik Al-Khurromi -pen)-, maka manakah yang lebih engkau sukai dari kedua sisi ini (memerangi orang-orang kafir ataukah memerangi para pengikut Baabik Al-Khurromi -pen)??” Imam Ahmad berkata, “Dimanakah tempat tinggal orang ini (yang mau berperang -pen)?” Aku (Abu Bakr bin Hammaad) berkata, “Di kota ini”. Maka Imam Ahmad pun mengisyaratkan ke arah Khurromiyah”. (Yaitu beliau mengisyaratkan untuk memerangi pasukan Khurromiyah para pengikut Baabik Al-Khurromi -pen). [As-Sunnah lil Khollaal I/150 no 120 dengan sanad yang shahih]

Maka benarlah perkataan Syaikh Al-‘Utsaimin, “Oleh karena itu Imam Ahmad berkata, “Barangsiapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah mahluk maka ia telah kafir”. Dan Al-Makmun (penguasa di zaman Imam Ahamad -pen) mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah mahluk dan ia menyeru manusia untuk mengikutinya serta memenjarakan orang-orang yang tidak mengikuti pendapatnya ini, meskipun demikian Imam Ahmad tetap memanggil Al-Makmun dengan sebutan “Amiirul Mukminin (pemimpin kaum mukiminin)”. Karena Imam Ahmad memandang bahwa perkataan “Al-Qur’an adalah mahluk” bukanlah kekafiran yang jelas (nyata)…” [Syarah Shahih Al-Bukhari, Syarh Kitaabil fitan wal Ahkaam, kaset no 1 side A]

Peringatan!!

Tidaklah diragukan bahwasanya perkataan Al-Qur’an adalah mahluk merupakan kekafiran. Akan tetapi tidak serta merta setiap orang yang mengucapkan atau berkeyakinan dengan kekafiran ini langsung menjadi kafir.

Ahlus Sunnah membedakan antara takfir mutlak dari takfir mu’ayyan(*), sehingga tidak setiap pelaku kekufuran telah kafir & keluar dari agama Islam. Begitu juga Ahlus Sunnah membedakan antara tafsiq mutlak dari tafsik mu’ayyan, sehingga tidak setiap yang berbuat kefasikan ia telah fasik. Sebagaimana mereka juga membedakan antara tabdi’ mutlak dari tabdi’ mu’ayyan, sehingga tidak setiap yang berbuat bid’ah ia telah menjadi mubtadi’.

Sebagai contoh nyata dari penjelasan Ibnu Taimiyyah di atas, silahkan simak perdebatan antara Imam Ahmad dengan Ibnu Abi Du’ad guru Kholifah Makmun dalam aqidah Jahmiyah-nya:

Ibnu Abi Du’ad berkata: “Wahai syeikh, apa pendapatmu tentang Al-Qur’an?”, maka Imam Ahmad berkata: “Engkau tidak adil, biarkan aku yang bertanya”, maka Ibnu Abi Du’ad berkata: “Silahkan bertanya”, maka Imam Ahmad berkata: “Apa pendapatmu tentang Al-Qur’an?” Maka Ibnu Abi Du’ad menjawab: “Al-Qur’an adalah mahluk”. Maka Imam Ahmad berkata: “Apakah hal ini telah diketahui oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar Utsman, Ali, dan khulafa’ Ar Rasyidun, ataukah sesuatu yang belum pernah mereka ketahui?” Maka Ibnu Abi Du’ad menjawab: “Ini adalah sesuatu yang belum pernah mereka ketahui”. Maka Imam Ahmad berkata: “Subhanallah, sesuatu yang belum pernah diketahui oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak diketahui oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan juga Khulafa’ Ar Rasyidun, akan tetapi (malah) engkau ketahui?” Maka Ibnu Abi Du’ad merasa malu, dan kemudian berkata: “Kalau demikian maafkan aku, dan kita mulai pertanyaannya dari awal”. Maka Imam Ahmad menjawab: “Baiklah, apa pendapatmu tentang Al-Qur’an?” Maka Ibnu Abi Du’ad menjawab: “Al-Qur’an adalah mahluk”. Maka Imam Ahmad berkata: “Apakah hal ini telah diketahui oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan khulafa’ Ar Rasyidun, ataukah sesuatu yang belum pernah mereka ketahui?” Maka Ibnu Abi Du’ad menjawab: “Ini adalah sesuatu yang sudah mereka ketahui, akan tetapi mereka tidak pernah menyeru manusia kepadanya”. Maka Imam Ahmad menjawab: “Kenapa engkau tidak diam, sebagaimana mereka diam?” (Lihat Manaqib Imam Ahmad oleh Ibnul jauzi 432)

Walaupun Ibnu Abi Du’ad telah terpatahkan seluruh dalilnya, dan hal ini dilakukan di hadapan Al Makmun, akan tetapi Imam Ahmad bin Hambal belum memvonis mereka sebagai orang-orang murtad atau kafir.

Bahkan perdebatan semacam ini telah berkali-kali terjadi di hadapan Al Makmun dan setiap kali perdebatan, para penyeru ideologi Jahmiyah ini senantiasa terkalahkan, akan tetapi walau demikian, tidak seorang pun dari ulama’ kala itu yang memvonis kafir kepada Al Makmun.

Oleh karena itu Imam Ahmad tidak mengkafirkan para khalifah (Al-Makmun, Al-Mu’tasihm, dan Al-Waatsiq) yang telah beraqidah bahwasanya Al-Qur’an adalah mahluk serta telah menyiksa beliau dan juga para ulama yang lain semasa beliau karena para khalifah tersebut masih terbelenggu oleh syubhat atau takwil.

Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya orang yang menyeru kepada perkataan (Al-Qur’an mahluk -pen) lebih parah dibandingkan dengan orang yang (hanya sekedar) berpendapat demikian. Dan orang yang menghukumi orang yang menyelisihinya lebih parah lagi dibandingkan orang yang hanya sekedar menyeru kepada pendapatnya. Dan yang mengkafirkan orang yang menyelisihinya lebih parah lagi dari yang (hanya sekedar) menghukumi (orang yang menyelisihinya yang tidak mengatakan Al-Qur’an mahluk-pen).

Meskipun demikian mereka yang merupakan para penguasa berpendapat dengan perkataan Jahmiyah bahwasanya Al-Qur’an adalah mahluk dan bahwasanya Allah tidak dapat dilihat di akhirat serta yang lainnya, mereka menyeru rakyat untuk berpendapat demikian. Mereka menguji rakyat dan menghukum mereka jika mereka tidak setuju dengannya.
Mereka mengkafirkan orang yang tidak memenuhi (seruan mereka/mengkafirkan orang yang tidak mengatakan Al-Qur’an mahluk -pen). Sampai-sampai jika mereka menangkap seseorang tawanan, maka tidak akan mereka lepaskan hingga ia mengakui pendapat Jahmiyah bahwa Al-Qur’an adalah mahluk dan yang lainnya.

Mereka tidak akan mengangkat seorang pejabat, serta tidak akan memberi pembagian dari baitul mal kecuali kepada orang yang berpendapat demikian.

Meskipun demikian Imam Ahmad –rahimahullah- tetap mendoakan kerahmatan bagi mereka dan memohon ampun bagi mereka, karena beliau beranggapan bahwa mereka belum sampai pada tingkatan mendustakan Rasulullah dan menentang syari’at yang beliau emban. Akan tetapi mereka bertakwil dan mereka keliru, serta mereka hanya sekedar taqlid/ikut-ikutan dengan orang lain yang mengajarkan hal itu (aqidah Jahmiyah) kepada mereka”. [Majmuu’ al-Fataawaa XXIII/348-349]

Ibnu Taimiyyah berkata, “Padahal Imam Ahmad tidaklah mengkafirkan setiap orang Jahmiyah, tidak juga mengkafirkan setiap orang yang beliau vonis sebagai anggota sekte Jahmiyah, tidak juga setiap orang yang setuju dengan sebagian bid’ah-bid’ah Jahmiyah.

Bahkan beliau tetap menjalankan sholat di belakang orang-orang Jahmiyah yang menyeru kepada perkataan mereka dan menguji masyarakat dan menghukum orang yang tidak setuju dengan mereka dengan hukuman yang berat, akan tetapi Imam Ahmad dan yang lainnya belum mengkafirkan mereka. Bahkan Imam Ahmad meyakini bahwa mereka masih sebagai orang-orang yang beriman dan beliau tetap meyakini kepemimpinan mereka. Beliau mendoakan kebaikan bagi mereka, dan memandang (bolehnya) bermakmum di belakang mereka ketika sholat, berhaji dan berperang bersama mereka. Beliau melarang pemberontakan terhadap mereka sebagaimana inilah pandangan orang-orang yang semisal beliau (para imam salaf yang lain). Beliau mengingkari bid’ah yang mereka munculkan yaitu perkataan batil yang merupakan kekafiran yang besar meskipun para pelakunya tidak menyadari bahwa perbuatannya itu (perkataan Al-Qur’an mahluk) merupakan kekafiran.

Beliau mengingkari hal ini dan bersungguh-sungguh dalam membantah mereka semampu beliau. Dengan demikian beliau telah menyatukan antara ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya yaitu dengan menampakkan sunnah dan agama serta mengingkari bid’ah Jahmiyah Mulhidin dengan sikap memperhatikan hak-hak orang-orang beriman dari kalangan para penguasa dan ummat meskipun mereka adalah orang-orang jahil, para mubtadi’, dzolim dan fasik”. [Majmuu’ al-Fataawaa VII/507-508]

Sepeninggal Al-Makmun, kekhalifahan berpindah ke tangan putranya, Al-Mu’tashim. Khalifah ini tetap berpegang pada kemakhlukan AlQuran. Imam Ahmad dikeluarkannya dari penjara dan dipertemukan dengan Ibnu Abi Duad dkk.

Mereka mendebat beliau tentang kemakhlukan AlQuran, tetapi beliau mampu membantahnya dengan bantahan yang tidak dapat mereka bantah. Akhirnya beliau dicambuk sampai tidak sadarkan diri lalu dimasukkan kembali ke dalam penjara dan mendekam disana selama sekitar 28 bulan. Selama itu beliau sholat dan tidur dalam keadaan kaki terbelenggu.

Selama itu pula, setiap harinya Al-Mu’tashim mengutus orang untuk mendebat beliau, tetapi jawaban beliau tetap sama, tidak berubah. Akhirnya, bertambah kemarahan Al- Mu’tashim. Dia mengancam dan memaki-maki beliau, dan menyuruh bawahannya mencambuk lebih keras dan menambah belenggu di kaki beliau. Semua itu diterima Imam Ahmad dengan penuh kesabaran dan keteguhan bak gunung yang kokoh menjulang.

Pada akhirnya, beliau dibebaskan dari penjara. Beliau dikembalikan ke rumah dalam keadaan tidak mampu berjalan. Setelah luka-lukanya sembuh dan badannya telah kuat, beliau kembali menyampaikan pelajaran-pelajarannya di masjid sampai Al-Mu’tashim wafat.

Selanjutnya, Al-Watsiq diangkat menjadi khalifah. Al-Watsiq melarang Imam Ahmad keluar berkumpul bersama orang-orang. Akhirnya, Imam Ahmad terpaksa selalu berada di rumah, tidak keluar darinya, bahkan untuk keluar mengajar atau menghadiri sholat berjama’ah. Dan itu dijalani kurang lebih lima tahun, yakni sampai Al-Watsiq wafat tahun 232.

Sesudah Al-Watsiq wafat, Al-Mutawakkil menggantikannya. Selama dua tahun masa pemerintahannya, ujian tentang kemakhlukan AlQuran masih dilangsungkan. Tetapi, pada tahun 234, khalifah menghentikan ujian tersebut. Khalifah mengumumkan ke seluruh wilayah tentang larangan atas pendapat kemakhlukan AlQuran dan ancaman hukuman mati bagi yang melibatkan diri dalam hal itu. Khalifah juga memerintahkan kepada para ahli hadits untuk menyampaikan hadits-hadits tentang sifat Allah. Maka, bergembiralah orang-orang. Mereka memuji-muji khalifah atas keputusannya tersebut dan melupakan kejelekan-kejelekannya.

Demikianlah gambaran ringkas ujian yang dilalui oleh Imam Ahmad. Terlihat bagaimana sikap agung beliau yang tidak akan diambil kecuali oleh orang-orang yang penuh keteguhan lagi ikhlas. Beliau bersikap seperti itu jusrtu ketika sebagian ulama berpaling dari kebenaran. Dan dengan keteguhannya, maka madzhab Ahlussunnah pun dinisbatkan kepadanya karena beliau sabar dan teguh dalam membela kebenaran.

Ali bin Al Madiniy berkata dalam menggambarkan keteguhan Imam Ahmad, “Allah telah mengokohkan agama ini lewat dua orang laki-laki, tidak ada ketiganya. Yaitu, Abu Bakar Ash-Shiddiq pada yaumur Riddah (saat banyak orang murtad pada awal-awal pemerintahannya) dan Ahmad bin Hambal pada Yaumul Mihnah.”

Sumber : # Dikutip sebagian dari risalah (Koreksi singkat terhadap Buku: Siapa Teroris? Siapa Khawarij? & Mereka Adalah Teroris!) oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A. & Ustadz Firanda Andirja, Lc. ( muslim.or.id )
# Dikutip dari ringkasan majalah Fatawa, vol 05/I/Muharram-Safar 1424H-2003M

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: