Belajar dari Sejarah Dakwah Bijak Rasulullah Shalallallahu alaihi wa sallam

Belajar dari Sejarah Dakwah Bijak Rasulullah Shalallallahu alaihi wa sallam

oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A. & Ustadz Firanda Andirja, Lc. ( muslim.or.id )

Marilah kita renungkan bersama sikap arif yang dicontohkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pada dua kisah berikut ini:

Kisah Pertama:

A’isyah radhiallahu ‘anha mengkisahkan: Pada suatu hari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

لولا حداثة عهد قومك بالكفر لنقضت الكعبة ولجعلتها على أساس إبراهيم فإن قريشا حين بنت البيت استقصرت ولجعلت لها خلفا. متفق عليه

“Seandainya bukan karena kaummu yang baru saja meninggalkan kekufuran (baru masuk Islam), niscaya aku akan menghancurkan Ka’bah, dan aku bangun kembali di atas pondasi Nabi Ibrahim; karena tatkala orang-orang Quraisy membangunnya, mereka kekurangan biaya, dan akan aku tambah satu pintu dari arah belakang.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Imam Nawawi rahimahullah tatkala menjelaskan hadits ini beliau berkata, “Hadits ini merupakan dalil bagi beberapa hukum penting, di antaranya: Bila pada suatu saat terjadi pertentangan antara beberapa kepentingan (kemaslahatan), atau pertentangan antara kemaslahatan dan mafsadah (kerugian), dan tidak mungkin untuk digabungkan antara perbuatan meraih kemaslahatan dan meninggalkan kerugian, maka sikap yang benar ialah dengan mendahulukan yang lebih penting. Karena Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa mengembalikan bangunan Ka’bah seperti sediakala di masa Nabi Ibrahim adalah satu kemaslahatan. Akan tetapi kemaslahatan ini bertentangan dengan kerugian yang lebih besar, yaitu kekhawatiran akan timbulnya fitnah (yaitu murtadnya) sebagian orang yang baru masuk Islam. Hal ini dikarenakan mereka (orang-orang yang baru masuk Islam) meyakini akan keutamaan Ka’bah, sehingga mereka menganggap pemugaran Ka’bah adalah suatu kejahatan besar. Oleh karena itu Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mengurungkan keinginannya itu”. [Syarah Shahih Muslim 9/89]

Kisah Kedua:

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه يقول: كنا مع النبي صلى الله عليه و سلم في غزاة، فكسع رجل من المهاجرين رجلا من الأنصار، فقال الأنصاري: يا للأنصار، وقال المهاجري: يا للمهاجرين. فقال رسول الله: ما بال دعوى الجاهلية؟! قالوا: يا رسول الله كسع رجل من المهاجرين رجلا من الأنصار. فقال: دعوها فإنها منتنة، فسمعها عبد الله بن أبي، فقال: قد فعلوها؟! والله لئن رجعنا إلى المدينة ليخرجن الأعز منها الأذل. قال عمر: دعني أضرب عنق هذا المنافق. فقال: دعه لا يتحدث الناس أن محمدا يقتل أصحابه. متفق عليه

“Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, ia mengisahkan: Pada saat kami bersama Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu peperangan, tiba-tiba ada seseorang dari kaum Muhajirin yang memukul pantat seseorang dari kaum Anshar, maka orang Anshar tersebut berteriak meminta pertolongan kepada kaumnya; orang-orang Anshar, dan sebaliknya orang Muhajirin tadi juga berteriak meminta bantuan kepada kaumnya orang-orang Muhajirin. Mendengar hal tersebut Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mengapa kalian menyeru dengan seruan orang-orang jahiliyah?!” Mereka pun menjawab, “Wahai Rasulullah, ada seseorang dari Muhajirin yang memukul pantat seseorang dari kaum Anshar. Maka Nabi pun bersabda, “Tinggalkanlah, karena sesungguhnya itu (seruan jahiliyyah) adalah busuk”. Maka tatkala Abdullah bin Ubai mendengar hal itu ia berkata, “Apakah mereka (orang-orang Muhajirin) benar-benar telah melakukannya (berbuat semena-mena terhadap kaum Anshar)? Sungguh demi Allah bila kita telah tiba di kota Madinah, niscaya orang-orang yang lebih mulia [Yang ia maksud ialah orang-orang Anshar –pen] akan mengusir orang-orang yang lebih hina” [Yang ia maksud ialah orang-orang Muhajirin –pen] (Mendengar ucapan demikian ini) Umar bin Khattab berkata kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, “Izinkanlah aku untuk memenggal leher orang munafik ini (Abdullah bin Ubai), Maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Biarkanlah dia, jangan sampai nanti orang-orang beranggapan bahwa Muhammad telah tega membunuh sahabatnya sendiri.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Kita semua tahu bahwa berjihad melawan orang-orang munafikin adalah wajib hukumnya, karena selain mereka itu adalah orang-orang kafir yang akan kekal di neraka, mereka juga membahayakan umat Islam. Dan perilaku atau ulah gembong munafikin ini, yaitu Abdullah bin Ubai bin Salul yang merugikan ummat Islam sudah terlalu banyak. Agar lebih jelas betapa besar kejahatan manusia satu ini, maka kami ajak saudara-saudaraku untuk mengingat-ingat kembali beberapa kejadian berikut:

1. Siapakah yang mendalangi terjadinya tuduhan berzina kepada istri Nabi ‘Aisyah radhiallahu ‘anha?
2. Siapakah yang mendalangi kembalinya sekitar 300 pasukan kaum muslimin, sehingga mereka tidak ikut dalam perang Uhud?
3. Siapakah yang memelopori pembangunan Masjid Dhirar?
4. Siapakah yang enggan ikut serta dengan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan pasukannya dalam perang Tabuk?
5. Siapakah yang tidak ikut serta membela kota Madinah dalam perang Khandak? Semua kejadian ini didalangi oleh Abdullah bin Ubai bin Salul serta kawan-kawannya.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh mahluk satu ini sedemikian besarnya, akan tetapi Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengizinkan para sahabat untuk membunuhnya. Bahkan anak orang munafik ini, yaitu Abdullah bin Abdullah bin Ubai bin Salul telah datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam meminta izin darinya untuk membunuh ayahnya sendiri, akan tetapi Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam malah memerintahkannya agar ia berlemah lembut kepadanya [Baca Tarikh At Thobari 2/110, dan Sirah Ibnu Hisyam 4/255].

Ini semua karena beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak ingin timbul perpecahan di tengah-tengah umat, walaupun orang munafik ini telah banyak berupaya untuk menimbulkan perpecahan dan senantiasa berusaha untuk memecah belah umat.

Bahkan dengan sikap Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam yang demikian ini, kemunafikan orang ini menjadi diketahui oleh setiap orang, sehingga setiap kali ia membikin ulah, kaumnya sendirilah yang memarahi dan mengancamnya. [idem]

Lihatlah, sikap bijak dan hikmah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghadapi kejahatan gembong munafikin ini telah membuktikan kepada kita bahwa tidak setiap kesalahan harus disikapi dengan keras, akan tetapi kadang kala sikap lembut lebih efektif dan manjur dalam meredam dan memberantas kerusakan. Dan betapa besar perhatian Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan upaya yang beliau tempuh guna menjaga persatuan kaum muslimin.

Sumber : Dikutip dari risalah (Koreksi singkat terhadap Buku: Siapa Teroris? Siapa Khawarij? & Mereka Adalah Teroris!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: