Lemahnya Kaum Muslimin dan Solusinya

Lemahnya Kaum Muslimin & Solusinya 

Ditulis Oleh: Syaikh Abdul Aziz Bin Bazz 

Hendaknya diketahui bahwa kemenangan (kemuliaan) itu hanya di tangan Allah, Dia-lah yang Menolong hamba-hamba-Nya. Akan tetapi Allah memerintahkan untuk melakukan sebab-sebabnya, dan sebab yang paling besar untuk mendapat kemenangan ini adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

 Termasuk ketaatan kepada Allah adalah mempelajari dan mendalami agama hingga Anda mengetahui hukum dan syariat Allah pada diri Anda dan selainnya, serta untuk berjihad menghadapi musuh, dan Anda mempunyai bekal dalam menghadapi mereka. Dengan itu Anda mampu menahan diri dari hal-hal yang diharamkan Allah, dapat menunaikan perintah-perintah Allah, berhenti dari larangan-larangan Allah , saling tolong-menolong dengan saudara-saudaramu kaum muslimin, dapat mempersembahkan sesuatu yang berharga dari diri dan hartamu dijalan Allah , menolong agama Allah dan meninggikan kalimat-Nya, bukan lantaran negri fulan, dan tidak pula untuk kaum fulan. 

Inilah cara, dan inilah jalan untuk dapat menang atas musuh-musuh Allah, yaitu dengan mengajarkan syariat agama dan mendalaminya, baik pemerintah maupun rakyat, orang tua maupun anak muda, setelah itu mengamalkan yang diwajibkan dan meninggalkan apa yang Allah larang.

Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum hingga mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri”. (Ar Ra’du : 11)

Maka barangsiapa menginginkan dari Allah kemenangan, pertolongan dan ketinggian kalimat Allah hendaknya merubah apa yang ada pada dirinya dari kemaksiatan, kejelekan yang menyelisihi perintah Allah , dan Allah berfirman :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nur : 55)

Allah tidak mengatakan : “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang menisbatkan kepada Quraisy atau bangsa Arab, atau kepada orang-orang yang membangun istana-istana dan mengeluarkan minyak-minyak dalam bumi ،K..dst, akan tetapi Allah mengaitkan kekuasaan itu atas keimanan yang benar dan amal yang shalih – baik itu orang Arab atau orang Ajam-.1)

Inilah sebab-sebab kemenangan dan diberikannya kekuasaan di muka bumi, bukan lantaran orang Arab atau selain orang Arab, akan tetapi dikarenakan keimanan yang benar kepada Allah dan Rasul-Nya serta beramal shalih.

Ini adalah sebab dan syarat. Inilah poros semua itu, barangsiapa tegak/istiqamah diatasnya maka dia akan meraih pengokohan dan kekuasaan di muka bumi, serta kemenangan atas musuh-musuhnya.

Dan barangsiapa tidak melakukan hal ini, maka tidak ada jaminan baginya untuk meraih kemenangan, keselamatan dan kemuliaan. Bahkan terkadang orang kafir mengalahkan orang kafir lainnya, orang berdosa mengalahkan orang yang berdosa lainnya, orang munafik mengalahkan orang munafik lainnya, akan tetapi kemenangan yang dijanjikan Allah kepada hamba-Nya yang beriman atas musuh-musuh mereka, hanyalah didapat dengan syarat-syarat dan sifat yang telah dijelaskan Allah yaitu keimanan yang benar dan amal shalih, dari hal inilah datangnya kemenangan Allah. Allah berfirman :

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar ; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Al Haj : 40-41)

Inilah arti menolong agama Allah ; barangsiapa menyuruh kebaikan dan melarang kemungkaran maka sungguh dia telah menolong agama Allah . Termasuk dari kandungan ayat ini adalah menunaikan kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan Allah.

Allah berfirman :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran : 110)

Dan Allah berfirman :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar ; mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran : 104)

Orang-orang yang berhak mendapat kemenangan, pertolongan dan kesuksesan adalah mereka yang beramal shalih, menyuruh kepada kebaikan serta melarang dari kemungkaran, menegakkan shalat, menunaikan zakat dan menolong Allah , mereka itulah yang disebutkan dalam firman Allah :

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (Ar Rum : 47)

Obat sudah jelas, cara penyembuhan sudah terang, akan tetapi dimana orang yang menginginkan obat ini ?

Dimana orang yang menginginkan cara penyembuhan itu ?

Dan dimana orang yang mempergunakan cara ini?

Ini adalah kewajiban penguasa, ulama dan para pemuka di seluruh tempat, di seluruh negeri Islam – jika mereka orang yang benar dalam berdakwah mengajak kepada Islam – ; yang demikian itu adalah dengan mendirikan shalat, menunaikan zakat serta menjaganya.

Menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, memperdalam agama, memperbaiki metode (pengajaran) sekolah-sekolah di seluruh tingkat, dan tolong-menolong dalam melawan musuh,disertai dengan keikhlasan karena Allah dalam beramal, benar dalam beramal karena Allah dan meniatkan untuk hari Akhir. Dengan demikian mereka berhak memperoleh kemenangan dan pertolongan dari Allah, sebagaimana hal ini telah dialami oleh para salafus shalih.

Masih hangat diingatan kita : Al Imam AlMujaddid (pemimpin pembaharu) di dunia Islam yang hidup pada abad 12 H, Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab – tatkala beliau melihat, ditelantarkannya syariat agama, banyaknya kebodohan di Jazirah Arab dan lainnya, sedikitnya para da’i yang menyeru kepada Allah, terpecahnya penduduk jazirah menjadi negeri-negeri kecil – dengan tanpa petunjuk dan ilmu – beliau melihat bahwasanya hal yang wajib dan harus dilaksanakannya adalah berdakwah kepada Allah, memperingatkan mereka dari bahaya yang mereka lakukan, berusaha mengumpulkan kalimat mereka diatas kebenaran, dan dalam satu kepemimpinan yang ditegakkan pada mereka perintah Allah, dan mereka berjihad dijalan Allah, maka beliau bersungguh-sungguh dalam melaksanakan hal ini, berdakwah kepada Allah, berhubungan dengan para pemimpin, menulis kitab-kitab tentang tauhid/perintah untuk meng-Esakan Allah, dan melaksanakan syariat, serta meninggalkan kesyirikan.

Beliau senantiasa bersabar atas yang demikian itu, mengharapkan pahala dari Allah. Sesudah beliau mempelajari dan memperdalam agama dari para ulama di negeri itu dan selainnya, beliau berusaha bersungguh-sungguh dalam berdakwah kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya, mempersatukan umat di kota Huraimala pada awalnya, lalu di Al Uyainah, lalu berpindah – sesudah beberapa perkara – ke Ad Dir’iyyah, dan Muhammad bin Suud membaiatnya untuk berjihad dijalan Allah, untuk menegakkan perintah Allah maka mereka semua adalah orang-orang yang benar dalam hal ini, saling tolong-menolong, maka merekapun berjihad hingga Allah memberi kemenangan, menguatkan mereka. Dan merekapun menyiarkan tauhid, mengajak manusia kepada kebenaran dan petunjuk, menerapkan syariat Allah terhadap hamba-hambaNya.

Disebabkan kejujuran dan isti’anah،¨ (meminta pertolongan) kepada Allah , dan karena tujuan yang benar Allah menolong dan menguatkan mereka. Dan cerita tentang mereka itu sudah tidak asing lagi bagi mereka yang memiliki pengetahuan meski sedikit.

Lalu datanglah Raja Abdul Aziz (sesudah masa yang penuh dengan kekacauan dan perpecahan), beliau bersungguh-sungguh dalam memperbaiki keadaan umat ini sambil memohon pertolongan kepada Allah , kemudian meminta bantuan para ulama, maka Allah pun menolong dan menguatkannya, serta mempersatukan kalimat kaum muslimin Jazirah ini. Diatas Syariat dan di jalan-Nya, sehingga tegak dan bersatu jazirah ini dari penjuru utara hingga selatan, timur hingga barat di atas kebenaran dan petunjuk, dengan sebab kejujuran, jihad, dan menegakkan kalimat Allah . Contoh-contoh tentang hal ini banyak sekali.

Demikian juga kisah Sholahudin Al Ayyubi telah diketahui, dan Mahmud Zanki demikian juga. Maksudnya : bahwa Salafuna shalih ketika mereka itu benar-benar berjihad -baik dimasa nabi mereka maupun sesudahnya- Allah memuliakan, mengangkat derajat mereka hingga menguasai dua kerajaan yang besar (pada waktu itu) yaitu kerajaan Parsi dan Romawi di negeri Syam dan sekitarnya. Kemudian orang sesudah mereka dari yang benar dalam beragama. Allah menolong mereka dikarenakan kejujuran dan adanya tolong-menolong dalam meninggikan kalimat Allah.

Lalu pada waktu yang berlainan datang orang-orang yang memiliki kejujuran, keikhlasan, maka merekapun diberi kemenangan atas musuh-musuh mereka sesuai dengan kadar keikhlasan, kesungguhan dan usaha mereka.

Dan Allah-lah yang menolong orang-orang terdahulu dan sekarang , Dia-lah Penolong orang yang menolong agama-Nya, menghinakan orang yang menghinakan agama-Nya, sebagaimana firman Allah :

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?” (Az Zumar : 36)

Dan Allah juga berfirman :

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.” (Ali Imran : 120)

Dan Allah berfirman :

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al Baqarah : 249)

Akan tetapi musibah itu datang dari diri-diri kita sendiri, sebagaimana firman Allah :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu).” (Asy Syuura : 30)

Musibah itu datang dari kelemahan kaum muslimin, kemalasan, ketergesa-gesaan mereka, kecintaan mereka kepada dunia dan kebencian kepada kematian, mereka meninggalkan apa yang diwajibkan Allah, meninggalkan shalat, mengikuti syahwat, mengutamakan dunia dan melakukan hal-hal yang diharamkan Allah, seperti nyanyian-nyanyian yang bernada kotor dan hal-hal yang bisa merusak hati dan akhlak.

Dengan sebab ini – dan semisalnya – Allah menguasakan kepada kaum muslimin musuh-musuh mereka; sebagaimana firman Allah Tabaroka wa Ta’ala:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami) kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al Isra : 16)

Kami memohon kepada Allah agar memberi karunia kepada kita dan kepada seluruh kaum muslimin dan penguasa-penguasa mereka untuk bertaubat kepada-Nya, istiqamah terhadap perintah-Nya, tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, mempersiapkan bekal untuk melawan musuh-musuh kita dan (agar kita dapat) memperdalam agama, bersabar untuk memperoleh keridhaannnya, menjauh dari kemarahan-kemarahan-Nya .

Kita juga memohon kepada Allah agar Dia melindungi kita semua dari fitnah-fitnah yang menyesatkan, dari sebab-sebab azab, dan agar Dia menolong agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, menghinakan musuh-musuh-Nya, menyatukan kalimat kaum muslimin diatas kebenaran dan petunjuk, dan agar memperbaiki para penguasa kaum muslimin memberi mereka petunjuk, sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Mengabulkan doa.

Dan shalawat serta salam kita limpahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarganya dan sahabatnya. 

Maraji’: Diterjemahkan dari majalah Al-Asholah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: