Kerancuan-kerancuan Buku “Ahlussunnah Wal Jama’ah Sebuah Kritik Historis”

Kerancuan-kerancuan Buku “Ahlussunnah Wal Jama’ah Sebuah Kritik Historis”

Oleh: Ustadz Abu Ahmad as-Salafi

Telah sampai kepada kami sebuah buku yang berjudul Ahlussunnah Wal Jama’ah Sebuah Kritik Historis. Di dalam muqaddimahnya penulis mengatakan hendak menelusuri akar sejarah lahirnya Ahlussunnah Wal Jama’ah dan mengkritisi kesalahan-kesalahan persepsi tentang Ahlussunnah Wal Jama’ah. Akan tetapi, setelah kami telaah dari awal hingga akhir ternyata penulis tidaklah meluruskan sejarah Ahlussunnah Wal Jama’ah melainkan hendak mengaburkan sejarah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Demikian juga, penulis banyak menyelisihi pokok-pokok yang agung dari Ahlussunnah Wal Jama’ah dan banyak melontarkan syubhat-syubhat yang membela kebatilan.

Karena itulah, dalam pembahasan kali ini kami berusaha melakukan telaah kritis terhadap buku ini sebagai nasihat buat kaum muslimin dan pembelaan atas manhaj yang haq.

Penulis dan Penerbit Buku ini
Penulis buku ini adalah Dr. Said Aqil Siradj dan diterbitkan oleh Pustaka Cendekiamuda Jakarta cetakan pertama Pebruari 2008.

Kedustaan Penulis Atas Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam

Penulis berkata pada hlm. 15 bukunya ini:
Menurut banyak referensi (maraji’) sejarah (tarikh) Islam, kehadiran Islam sejak semula sarat dengan muatan-muatan politis. Pakar sejarah (muarrikh) banyak menuturkan kisah Afif Al-Kindi. Sebagai seorang pedagang, ia pernah datang ke Makkah saat musim haji, kemudian ia menjumpai Al-Abbas (paman Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam). Pada saat itu ia menyaksikan seorang laki-laki yang sedang shalat menghadap kiblat, lalu disusul oleh seorang perempuan dan seorang pemuda yang turut shalat bersamanya. Ia bertanya kepada Al-Abbas: “Agama apakah ini?” Abbas menjawab: Ini adalah Muhammad bin Abdullah, putera saudara laki-lakiku, dia menganggap dirinya Rasulullah, berobsesi untuk menggulingkan Persia dan Romawi.

Kisah ini seringkali dianggap sebagai bukti bahwa dakwah Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, sejak pertama kali adalah bertendensi politik, yakini obsesi untuk menaklukkan imperium Persia dan Romawi (Bizantium) sebagai adikuasa dunia saat itu. Oleh karena itu, wajarlah apabila persoalan yang muncul dalam kajian faksi-faksi Islam (al-firaq al-Islamiyah) bermula dari masalah politik, kemudian merembet pada persoalan keyakinan (aqidah).

Kami katakan:
Ini adalah kelancangan yang luar biasa dari penulis atas Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam. Bukanlah perkara aneh jika ucapan ini keluar dari mulut-mulut orientalis. Akan tetapi, yang sangat aneh dan menyedihkan, ucapan ini terlontar dari seorang doktor lulusan Arab Saudi!

Kisah di atas diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad-nya: 1/209, al-Fakihi di dalam Akhbar Makkah: 4/250, dan al-Hakim di dalam Mustadrok: 3/183, dari jalan Ibnu Ishaq dari Yahya bin Abil-Asy’ats dari Ismail bin Iyas bin Afif al-Kindi dari bapaknya dari kakeknya.

Ismail bin Iyas dilemahkan oleh Imam al-Bukhori dalam Tarikh Kabir: 1/345 dan bapaknya, Iyas bin Afif, juga dilemahkan oleh Imam al-Bukhori dalam Tarikh Kabir: 1/441. Karena itu, kisah ini adalah kisah yang lemah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Rojab dalam Fathul-Bari: 3/50 dan Akrom al-Umari dalam Siroh Nabawiyyah Shohihah hlm. 134.

Di samping itu, tidak ada satu pun di dalam maroji’ kisah di atas lafazh: “Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berobsesi untuk menggulingkan Persia dan Romawi.” Yang tertera adalah perkataan al-Abbas Rodhiyallohu ‘anhu:

هُوَ يَزْعُمُ أَنَّهُ سَيُفْتَحُ عَلَيْهِ كُنُوزُ كِسْرَى وَقَيْصَرَ

“Dia menganggap bahwa akan dibukakan padanya perbendaharaan-perbendaharaan Kisra dan Kaisar.”

Jelaslah bahwa perkataan penulis di atas adalah dusta dari banyak sisi:

1. Kisahnya lemah, padahal barang siapa yang dengan sengaja membawakan riwayat yang dusta maka dia adalah seorang pendusta.
2. Dia menambah di dalam riwayat kisah sebuah lafadz yang dia buat sendiri, dan ini jelas kedustaan.
3. Perkataan penulis: “Dakwah Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, sejak pertama kali adalah bertendensi politik” adalah kelancangan yang luar biasa atas risalah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam yang suci yang bertujuan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid sebagaimana dalam firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Ibadahilah Alloh (saja), dan jauhilah thoghut itu” …. (QS. an-Nahl [16]: 36)

Maka semua nabi bukanlah manusia-manusia yang mencari kekuasaan. Akan tetapi, mereka berdakwah untuk memberikan hidayah kepada manusia, menyelamatkan mereka dari kesesatan dan kesyirikan, mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam pada awal dakwahnya telah ditawari kedudukan sebagai “penguasa” di Makkah tetapi beliau menolak dan tetap melanjutkan dakwah tauhidulloh dan memerangi kesyirikan. Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dalam Siroh-nya: 1/293-294 dan memiliki syahid (penguat) dari hadits Jabir Rodhiyallohu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abd bin Humaid dan Abu Ya’la. Syaikh Robi’ berkata: “Dengan syahid ini kuatlah sanad kisah ini.” (Manhajul-Anbiya‘ hlm. 116)

Tikaman Penulis Terhadap Para Sahabat Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam

Dengan kacamatanya yang buram penulis memandang para sahabat Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam sebagai orang-orang yang terjangkiti fanatisme kesukuan, haus kekuasaan, gemar menghasut, dan suka memberontak:
1. Penulis menukil perkataan Thaha Husain bahwa mayoritas Bani Umayyah (ketika Umar bin Khaththab menjadi khalifah) minal munafiqiin (termasuk orang-orang munafik). Mereka banyak iri kepada Umar (hlm. 40).
2. Penulis mengatakan bahwa Bani Umayyah yang menghasut Abu Lu’luah al-Yahudi agar membunuh Umar bin Khaththab (hlm. 21).
3. Penulis mengatakan bahwa Abdurrahman bin ’Auf menunjuk Utsman bin Affan sebagai khalifah karena fanatisme kabilah karena istri Abdurrahman bin Auf adalah saudara seibu Utsman bin Affan. (hlm. 41)
4. Penulis berkata dalam hlm. 23:
Pada masa pemerintahan Utsman perselisihan di kalangan kaum muslimin mulai terbuka dan transparan. Fanatisme kabilah menjadi penyekat masing-masing faksi yang menjurus ke arah pengkultusan. Usman didukung oleh mayoritas Bani Umayyah, terlebih lagi setelah Marwan bin Hakam diangkat sebagai sekretaris khalifah. Sementara itu pendukung fanatik Ali mulai memperlihatkan powernya. Di antara mereka ada Khudzifah bin Yaman, Salan Al-Farisi, dan Ammar bin Yasir. Begitu pula Abi Dzar Al-Ghifari, Miqdad bin Aswad, Khabab bin Art, Suhaib Ar-Rumi dan Bilal Al-Habsyi.” (!)
5. Penulis menuduh Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah menghasut para penduduk Bashrah dan Kufah agar memberontak kepada khalifah Utsman. (hlm. 41-42)
6. Penulis mengatakan dalam hlm. 27:
Namun sifat radikal Ali menjadikannya tetap bersikap tegas. (!)

Kami katakan:
Penulis dalam bukunya ini hendak memaparkan profil Ahlus-Sunnah tetapi dia sendiri jahil terhadap pokok yang agung yang disepakati oleh Ahlus-Sunnah, yaitu wajibnya loyal kepada para sahabat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, mencintai mereka tanpa berlebih-lebihan dalam mencintai seorang dari mereka, dan tidak menyebut mereka dengan selain kebaikan.
Imam al-Khotib al-Baghdadi Rohimahulloh menyebutkan ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan kedudukan dan keutamaan para sahabat, di antaranya:

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. at-Taubah [9]: 100)

Kemudian beliau berkata: “Hadits-hadits yang semakna dengan hal ini banyak sekali, semuanya sesuai dengan apa yang datang dalam nash al-Qur‘an, yang semuanya menunjukkan pada kesucian para sahabat dan pemastian atas keadilan mereka, mereka tidak butuh rekomendasi siapa pun setelah rekomendasi Alloh kepada mereka, Alloh Zat yang Maha Mengetahui isi hati mereka …. Ini adalah madzhab seluruh ulama dan fuqoha yang dianggap (tepercaya) perkataannya.” (al-Kifayah hlm. 96)

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Di antara pokok-pokok Ahlus-Sunnah adalah selamatnya hati dan lisan mereka terhadap para sahabat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana pensifatan Alloh Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdo’a: “Ya Robb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; ya Robb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr [59]: 10)

Sikap Ahlus-Sunnah ini merupakan ketaatan kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam sebab beliau bersabda: “Janganlah kalian mencaci para sahabatku, demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud tidaklah itu mencapai satu mud infak seorang dari mereka dan tidak juga mencapai separuhnya.” (Muttafaqun ’alaihi, al-Bukhori: 3673 dan Muslim: 2540)

Maka Ahlus-Sunnah menerima apa saja yang yang datang dalam Kitab, Sunnah, dan ijma’ tentang keutamaan-keutamaan dan tingkatan-tingkatan mereka (para sahabat). Ahlus-Sunnah berlepas diri dari cara orang-orang Rofidhoh (Syiah) yang membenci dan mencaci para sahabat, dan berlepas diri dari cara orang-orang Nawashib yang menyakiti ahlul-bait dengan perkataan atau perbuatan.
Ahlus-Sunnah menahan diri dari apa yang terjadi di antara sahabat. Kata mereka: “Atsar-atsar yang datang tentang kejelekan-kejelekan para sahabat, di antaranya ada yang dusta dan ada yang telah ditambahi atau dikurangi. Adapun yang shohih dari (kisah-kisah tentang kejelekan para sahabat tersebut) maka para sahabat memiliki uzur karena mereka adalah mujtahid (ahli ijtihad), adakalanya menepati kebenaran dan keliru dalam ijtihadnya.”

Bersamaan dengan itu, Ahlus-Sunnah tidak meyakini bahwa masing-masing sahabat terjaga dari dosa-dosa yang kecil dan besar, bahkan secara umum mereka pernah berbuat dosa. Akan tetapi, para sahabat memiliki senioritas dan keutamaan-keutamaan yang bisa menutupi kesalahan yang muncul pada mereka.
Kemudian kalaupun telah muncul kesalahan seorang dari mereka, bisa jadi dia telah bertaubat atau melakukan kebaikan yang bisa menghapusnya atau dia diampuni Alloh dengan keutamaan mereka atau dengan syafa’at Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam kepada mereka, atau dia diuji di dunia dengan ujian yang bisa menghapus kesalahannya.

Barang siapa yang menelusuri siroh (sejarah) para sahabat—dengan ilmu, bashiroh, dan apa yang Alloh anugerahkan kepada mereka dari keutamaan-keutamaan—akan mengetahui dengan yakin bahwa para sahabat adalah makhluk terbaik sesudah para nabi. Tidak ada satu pun yang telah dan akan menyamai mereka. Mereka adalah manusia-manusia pilihan dari umat ini, sedang umat ini adalah sebaik-baik umat dan yang paling mulia di sisi Alloh.” (Aqidah Wasithiyyah hlm. 142-151)

Memanipulasi Sejarah Ahlus-Sunnah

Penulis berkata dalam hlm. 6-7 bukunya ini:
Terminologi Ahlus Sunnah wal Jama’ah secara baku belum dijumpai dalam referensi lama (maraji’ awwaliyyah). Pada masa Al-Asy’ari (w. 324) yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai pendiri madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, belum ditemukan istilah tersebut … Pengenalan istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai suatu aliran di dalam Islam baru nampak pada ashab al-asy’ary (sering disebut Asya’irah – Sunni), seperti Al-Baqilani (w. 403 H) … Pernyataan yang tegas tentang Aswaja baru dijumpai pada pendapat al-Zabidi (w. 1205 H) dalam Ithaf Sadat Al-Muttaqin (syarah Ihya’ Ulumuddin). Beliau berpendapat: Idza uthliqa Ahlussunnah fa al-murad bihi al-Asya’irah wa Al-Maturidiyyah (jika disebutkan Ahlussunnah, maka yang dimaksud adalah penganut Asy’ari dan Maturidi.

Kami katakan: Penulis hendak mengaburkan sejarah Ahlus-Sunnah. Perkataannya di atas adalah dusta. Yang benar, bahwa istilah (terminologi) Ahlus-Sunnah bukanlah hal yang baru muncul pada kelompok Asya’iroh seperti al-Baqilani (wafat 403 H) atau pada zaman al-Zabidi (wafat 1205 H). Bahkan jauh sebelum itu, penamaan istilah Ahlus-Sunnah ini sudah ada sejak generasi pertama Islam pada kurun yang dimuliakan Alloh yaitu generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in.

“Ahlus-Sunnah” adalah nama yang tidak pernah lepas dari perjalanan sejarah umat Islam, sesuai dengan perintah yang tegas dari Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam agar selalu berpegang teguh kepada sunnahnya dan agar selalu menjauhi segala kebid’ahan yang datang sesudahnya sebagaimana dalam hadits ’Irbadh bin Sariyah Rodhiyallohu ‘anhu:
عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة

“Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa‘ur-Rosyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku, dan waspadalah kalian dari perkara-perkara yang baru karena setiap perkara yang yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (Hadits shohih riwayat Ahmad dan ashabus-Sunan)

Menurut riwayat yang shohih, istilah Ahlus-Sunnah muncul pada zaman sahabat sebagaimana dikatakan oleh Muhammad bin Sirin Rohimahulloh, seorang tabi’in (wafat 110 H): “Dahulu, mereka (para sahabat) tidak menanyakan sanad (kepada orang yang mengabarkan hadits). Ketika fitnah terjadi, mereka berkata: ‘Sebutkan para perawi kalian kepada kami.’ Kalau dilihat (perawinya itu) Ahlus-Sunnah maka diambil haditsnya. Kalau dilihat (bahwa perawinya itu) ahli bid’ah maka tidak diambil haditsnya.” (Muqoddimah Shohih Muslim: 1/34)

Yang dimaksud fitnah adalah terbunuhnya Kholifah Utsman bin Affan. Demikian yang dikatakan oleh Yahya bin Sa’id al-Anshori dalam Shohih al-Bukhori: 4/1475.

Kemudian istilah Ahlus Sunnah ini diikuti oleh kebanyakan ulama salaf rohimahumulloh di antaranya:
1. Hasan al-Bashri Rohimahulloh (wafat 110 H) berkata: “Sesungguhnya Ahlus-Sunnah adalah yang paling sedikit dari manusia pada zaman yang telah lewat. Mereka paling sedikit dari manusia pada zaman yang tersisa. Mereka tidak ikut-ikutan (bergaul) dengan orang-orang yang bermewah-mewahan dan juga tidak (bergaul) dengan ahli bid’ah dalam kebid’ahan mereka. Mereka sabar di dalam menjalankan Sunnah hingga bertemu Robb mereka.” (Sunan ad-Darimi: 1/83)

2. Ayyub as-Sikhtiyani Rohimahulloh (wafat 131 H) berkata: “Apabila aku dikabari tentang meninggalnya seorang dari Ahlus-Sunnah, seolah-olah hilang salah satu anggota tubuhku.” (Syarah Ushul I’tiqad Ahlis-Sunnah kar. al-Lalika‘i: 1/59-60)

3. Sufyan ats-Tsauri Rohimahulloh (wafat 161 H) berkata: “Aku wasiati kalian untuk tetap berpegang pada Ahlus-Sunnah dengan baik, karena mereka adalah al-ghuroba‘ (orang-orang yang terasing). Alangkah sedikit Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.” (Syarah Ushul I’tiqod Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah: I/71 no. 50)

4. Fudhoil bin ’Iyadh Rohimahulloh (wafat 187 H) berkata: “Ahlus-Sunnah berkata: Iman itu keyakinan, perkataan, dan perbuatan.”

5. Abu ’Ubaid al-Qosim bin Sallam Rohimahulloh (157-224 H) berkata—dalam muqoddimah kitabnya, al-Iman: “… maka sesungguhnya apabila engkau bertanya kepadaku tentang iman, perselisihan umat tentang kesempurnaan iman, bertambah dan berkurangnya iman dan engkau menyebutkan seolah-olah engkau berkeinginan sekali untuk mengetahui tentang iman menurut Ahlus-Sunnah dari yang demikian….”

6. Imam Ahmad bin Hanbal Rohimahulloh (164-241 H) berkata—dalam muqoddimah kitabnya, as-Sunnah: “Inilah madzhab ahlul ilmi, ashabul-atsar, dan Ahlus-Sunnah, yang mereka dikenal sebagai pengikut Sunnah Rosul Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya, semenjak zaman para sahabat rodhiyallohu’anhum ajma’in hingga pada masa sekarang ini….”
Dengan penukilan di atas, jelaslah bagi kita bahwa lafazh “Ahlus-Sunnah” sudah dikenal di kalangan salaf (generasi awal umat ini) dan para ulama sesudahnya. Istilah “Ahlus-Sunnah” dipakai sebagai lawan “ahlul-bid’ah”. Para ulama Ahlus-Sunnah menulis penjelasan tentang aqidah Ahlus-Sunnah agar umat paham tentang aqidah yang benar dan untuk membedakan antara mereka dengan ahlul-bid’ah. Sebagaimana telah dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Barbahari, Imam ath-Thohawi, dan yang lainnya.

Perbedaan Adalah Rahmat?

Penulis berkata pada hlm. 88:

Di samping Aswaja, dalam kalangan Islam banyak dikenal faksi-faksi yang lain yang pemunculannya disebabkan oleh gejolak yang terjadi dalam tubuh umat Islam sendiri. Faksi-faksi tersebut di antaranya adalah: Syi’ah, Khawarij, Jabariyah, Qadariyah Ula, Murji’ah, dan lain sebagainya. Dengan banyaknya faksi sebagaimana tersebut di atas, diharapkan tidak menimbulkan perpecahan di antara umat Islam yang jutru merugikan diri sendiri. Tetapi mudah-mudahan perbedaan tersebut akan menimbulkan rahamat sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam “Ikhtilafu Ummati rahmah”.

Kami katakan: Ikhtilaf adalah perkara yang dibenci. Sebab itu, Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa orang yang selamat dari ikhtilaf adalah orang yang Dia rahmati, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

…. Dan mereka senantiasa berselisih pendapat kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Robbmu…. (QS. Hud [11]: 118-119)

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam sangat tegas memperingatkan umatnya dari perselisihan, beliau bersabda:
لا تختلفوا فتختلف قلوبكم

“Janganlah kalian berselisih sehingga hati kalian berselisih.” (Hadits shohih riwayat Abu Dawud dan yang lainnya)

Adapun hadits:

اختلاف أمتي رحمة

“Perselisihan umatku adalah rahmat.”

adalah hadits yang lemah bahkan palsu dengan kesepakatan para ahli hadits (lihat Silsilah Dho’ifah: 4/447 dan Dho’iful-Jami’: 230). Hadits ini juga mungkar karena menyelisihi nash-nash yang shohih tentang tercelanya perselisihan. Demikian pula para sahabat sangat membenci perselisihan:

Ali bin Abu Tholib Rodhiyallohu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya aku membenci perselisihan.” (Shohih al-Bukhori: 3707)

Abdulloh bin Mas’ud Rodhiyallohu ‘anhu berkata: “Perselisihan adalah kejelekan.” (Sunan Abu Dawud: 2628)

Para ulama menyebutkan bahwa ikhtilaf di kalangan sahabat—yang merupakan generasi terbaik—sangat sedikit bila dibandingkan dengan ikhtilaf yang terjadi pada generasi-generasi berikutnya. Makin banyak dosa yang dilakukan oleh kaum muslimin maka makin banyak perselisihan di antara mereka disebabkan makin berkurangnya rahmat Alloh kepada mereka.

Jika ikhtilaf dilarang dan dicela oleh Alloh, maka sangatlah tidak layak apabila ada seseorang berargumen dengan adanya ikhtilaf ketika ia keliru. Akan tetapi, hendaklah mengembalikan setiap perselisihan kepada Kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

…. Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Alloh (al-Qur‘an) dan Rosul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian…. (QS. an-Nisa‘ [4]: 59)

Maka kewajiban seorang muslim di dalam setiap ikhtilaf adalah berusaha mengikuti al-haq dengan dalilnya dan tidak bergantung kepada adanya ikhtilaf untuk melegalkan kekeliruannya.

Penutup

Itulah di antara hal-hal yang bisa kami paparkan berupa penjelasan terhadap beberapa syubhat yang dilontarkan penulis buku tersebut. Sebetulnya masih banyak hal lain yang belum kami bahas mengingat keterbatasan tempat.
Semoga yang kami paparkan di atas bisa menjadi pelita bagi kita dari kesamaran syubhat-syubhat tersebut dan semoga Alloh selalu menunjukkan kita ke jalan-Nya yang lurus dan menjauhkan kita dari semua jalan kesesatan. Āmīn.
Wallohu A’lam bish-showab.

http://www.alfurqon.co.id/kerancuan-kerancuan-buku-%e2%80%9cahlussunnah-wal-jama%e2%80%99ah-sebuah-kritik-historis%e2%80%9d/#more-336

One Response

  1. Saudaraku Abu Fahmi Abdullah… semoga anda dirahmati Allah… bacaan hadis anda dan kritik hadis anda banyak diselimuti oleh golongan wahabi… jadi jangan melihat angka 10 hanya dari depan tapi lihatlah dari belakang dia akan menjadi angka 01… artinya pendapat boleh berbeda tapi jangan merasa paling benar…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: