Ulama Salaf dalam Berbakti kepada Ibu

Ulama Salaf dalam Berbakti kepada Ibu                        

Dari Muhammad bin Sirin diriwayatkan bahwa ia berkata:Pada masa  pemerintahan Utsman bin Affan, harga pokok kurma mencapai seribu           dirham. Maka Usamah (beliau adalah Usamah bin Zaid bin Haritsah,            orang kesayangan Nabi kita Shalallahu alihi wassalam dan juga anak            dari orang kesayangan beliau. Ibu beliau adalah Ummu Aiman, orang            yang merawat Rasulullah dimasa kecilnya)mengambil dan menebang            sebatang pokok kurma dan mencabut umbutnya(yakni bagian di ujung            pangkal kurma berwarna putih, berlemak berbentuk seperti punuk unta,         biasa dimakan bersama madu) lalu diberikannya kepada ibunya untuk            dimakan. Continue reading

ARTI PENTING SUNNAH SEBAGAI SOLUSI BAGI PROBLEMA UMAT

ARTI PENTING SUNNAH SEBAGAI SOLUSI BAGI PROBLEMA UMAT

Oleh : Fadhilatusy-Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali –hafizhahullah-

Pembaca budiman,
Ceramah berikut disampaikan Fadhilatusy-Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali –hafizhahullah-, sebagai penceramah kedua. Kandungan ceramah ini merupakan rangkaian dari ceramah sebelumnya yang telah disampaikan Fadhilatusy-Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al Halabi al Atsari -hafizhahullah- pada sesi pertama.

Setelah menyampaikan pujian pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bershalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan khutbatul-hajah, kemudian Fadhilatusy-Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali hafizhahullah menyampaikan muhadharahnya:

Sungguh, kejadian-kejadian yang menimpa umat Islam dan menyapu negeri mereka, sebenarnya tercakup dalam konteks firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. [Ar-Ra’d/13:11]

Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala , Maha Kuasa melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Seluruh perkara di alam semesta ini terjadi berdasarkan takdir dan ketetapan-Nya. Dia Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan sunnah-sunnah kauniyah dan sunnah syar’iyah bagi terciptanya kemuliaan, (maka) begitu pula (Dia) telah menggariskan sunnah kauniyah serta sunnah syar’iyah bagi terjadinya kehinaan. Continue reading

KESETIAAN ITU MENYELAMATKAN

KESETIAAN ITU MENYELAMATKAN


Bukan kebohongan yang menjadi sebab keselamatan, bukan kedustaan yang menjadi sebab terangkatnya kesulitan dan bukan pengkhianatan yang menjadi sebab kebebasan dari kesengsaraan, bukan semua itu akan tetapi sebaliknya, kejujuranlah yang menjadi sebab keselamatan, kebenaran-lah yang menjadi sebab terangkatnya kesulitan dan kesetiaan-lah yang menjadi sebab kebebasan dari kesengsaraan.

Dua anak muda membawa seorang laki-laki dari pedalaman ke majlis Umar bin Khattab. Umar bertanya, “Siapa orang ini?” Keduanya menjawab, “Ya Amirul Mukminin, pembunuh bapak kami.” Umar bertanya kepada laki-laki itu, “Benarkah kamu membunuh bapak mereka?” Laki-laki itu menjawab, “Benar, aku membunuhnya” Umar bertanya, “Bagaimana kamu membunuhnya?” Laki-laki itu bercerita, “Dengan ontanya dia masuk ke tanahku. Aku menghardiknya tetapi dia tidak mengindahkan. Lalu aku mengirim batu yang mengenai kepalanya, maka dia mati.” Umar berkata, “Qishash, keputusan tak tertolak, hukum yang benar yang tidak perlu dibantah.” Continue reading

Berpegang Teguh Kepada As-Sunnah

Berpegang Teguh Kepada As-Sunnah 

Dari al-‘Irbadh bin Sâriah radhiallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan wejangan kepada kami yang membuat hati ciut dan air mata berlinang, maka kami lantas berkata: sepertinya ini wejangan seorang yang berpamitan/meninggalkan (kami selamanya), lantas (aku berkata) wasiatilah kami !, beliau bersabda : “Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah dan bersikap mendengar dan ta’at (loyal) meskipun orang yang memerintahkan (menjadi Amir/penguasa) adalah seorang budak. Sesungguhnya siapa-siapa yang nanti hidup setelahku maka dia akan melihat terjadinya perbedaan/perselisihan yang banyak; oleh karena itu, berpeganglah kalian kepada sunnahku dan sunnah al-Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk (al-Mahdiyyin), gigitlah dia/sunnahku tersebut dengan gigi geraham, dan tinggalkanlah oleh kalian urusan-urusan baru (mengada-ada dalam urusan agama) karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat”. (H.R. Abu Daud dan at-Turmuzi, dia berkata : hadits ini hadits hasan shahih).

 Catatan : Demikian naskah asli dari kitab “Jami’ul ‘Ulum wal hikam” karya Syaikh Ibnu Rajab al-Hanbali (II/109) yang menyatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Daud dan at-Turmuzi, dan setelah diteliti kembali ternyata matan yang ada dikedua sumber yang disebutkan oleh beliau (sunan Abu Daud dan at-Turmuzi) tidak persis seperti naskah/matan diatas ; barangkali naskah hadits tersebut diriwayatkan secara makna oleh Mushannif, Syaikh Ibnu Rajab al-Hanbali. Oleh karena itu, disini kami lampirkan juga naskah sebagaimana terdapat dalam kedua sunan tersebut : Takhrij hadits secara global Hadits tersebut ditakhrij oleh Imam Ahmad, Abu Daud, at-Turmuzi, Ibnu Majah, Ibnu ‘Ashim, ad-Darimi, ath-Thahawi, al-Baghawi, al-Baihaqi dan lain-lain.  Continue reading

Kontradiksitas

Kontradiksitas

Dengan merendah, ku terangkat tinggi

Karena meninggi, ku jadi rendah diri

—   —

Ketika merasa alim, aku dalam kejahilan

Karena rasa jahilkulah, tanda kealiman

—   —

Besar hatiku… ketika ku anggap kecil masalahku…

Besarnya permasalahan… adlh tanda kecilnya pengharapan…

—   —

saat ku rasa dlm kebebasan, ternyata ku dalam penghambaan

Adakah selain menghamba pada Ar-Rohman, atau menghamba pada setan?!

—   —

Perasaan kaya, adalah biang kefakiran

Siapa merasa kaya thd amalan, pasti akan fakir pahala kebaikan

—   —

Saat datang kesedihan, berarti ku nanti kebahagiaan

Adakah kesedihan, tanpa percikan kebahagiaan?!

—   —

Ketika ku ahli dalam sesuatu, aku bodoh dalam hal lainnya

Tiada yang sempurna ilmunya, selain Alloh yg Maha Esa

—   —

saat ku kejar dunia, ia seakan lari

saat ku harus meninggalkannya, ia malah datang menggoda hati

—   —

Dan makin jauh perjalanan hidupku, adalah makin dekatnya ajalku

Ya Alloh… Jadikanlah akhir kematianku itu awal kehidupanku

(oleh: Addariny, Madinah ‘07-’09)

http://addariny.wordpress.com/2009/12/05/kontradiksitas/

Kerancuan-kerancuan Buku “Ahlussunnah Wal Jama’ah Sebuah Kritik Historis”

Kerancuan-kerancuan Buku “Ahlussunnah Wal Jama’ah Sebuah Kritik Historis”

Oleh: Ustadz Abu Ahmad as-Salafi

Telah sampai kepada kami sebuah buku yang berjudul Ahlussunnah Wal Jama’ah Sebuah Kritik Historis. Di dalam muqaddimahnya penulis mengatakan hendak menelusuri akar sejarah lahirnya Ahlussunnah Wal Jama’ah dan mengkritisi kesalahan-kesalahan persepsi tentang Ahlussunnah Wal Jama’ah. Akan tetapi, setelah kami telaah dari awal hingga akhir ternyata penulis tidaklah meluruskan sejarah Ahlussunnah Wal Jama’ah melainkan hendak mengaburkan sejarah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Demikian juga, penulis banyak menyelisihi pokok-pokok yang agung dari Ahlussunnah Wal Jama’ah dan banyak melontarkan syubhat-syubhat yang membela kebatilan.

Karena itulah, dalam pembahasan kali ini kami berusaha melakukan telaah kritis terhadap buku ini sebagai nasihat buat kaum muslimin dan pembelaan atas manhaj yang haq. Continue reading

Mewaspadai Berbagai Bentuk Syubhat

Mewaspadai Berbagai Bentuk Syubhat

Penulis: Ustadz Abu Isa Abdulloh bin Salam

Sumber: Majalah As Sunnah Edisi 24/II/1418-1997

Kata syubhat tampaknya sudah menjadi kata yang akrab dengan telinga salafiyyin, khususnya dikalangan thalabul ‘ilmi (pencari ilmu). Hal itu terjadi karena memang sering di sebut-sebut di dalam majelis ilmu, terutama tatkala membahas akidah. Adapun kata syubhat biasa untuk menamai suatu dalil dengan alasan yang di pakai untuk suatu hal yang menyelisihi Al Haq. 

Syubhat biasa di pakai oleh kalangan yang ingin melegalisasi pendapat mereka, meskipun sesungguhnya pendapatnya jelas-jelas menyelisihi al haq. Oleh karena itu banyak cara yang bisa ditempuh untuk tercapainya tujuan tersebut. Tentunya yang menjadi korban adalah kalangan awam atau mereka yang kurang waspada akan hal tersebut. Hingga kemudian mereka berpegang dengan syubhat tersebut. Bahkan terkadang ikut pula memopulerkannya, dalam keadaan merasa berpegang kepada dalil atau alasan yang jelas. Continue reading

%d bloggers like this: