Budaya Salah Figur

Budaya Salah Figur  

Hidup ini penuh dengan pelajaran berharga dari masa lalu. Tapi sedikit sekali orang yang mau belajar dari kehidupan manusia di masa lalu. Dalam hal berlebih-lebihan menghormati orang tertentu, telah ada pelajaran dari sejak zaman Nabi Nuh alaihissalam, bahkan secara keras diperingatkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasalam, namun sedikit pelajaran darinya.

 Dalam terminologi (istilah) Islam, sikap di atas disebut dengan ghuluw. Yakni sikap melampaui batas (berlebihan) berdasar syari’at dalam memuji dan menyanjung, baik dengan perkataan maupun perbuatan. 

Penghormatan secara berlebihan kepada seseorang bisa berakibat fatal. Yakni akan menjerumuskannya pada perbuatan syirik. Bahkan syirik yang pertama kali terjadi dalam sejarah kemanusiaan adalah karena penghormatan yang berlebihan. Syirik yang pertama kali tersebut terjadi pada zaman Nabi Nuh alaihissalam Ketika itu, kaum Nabi Nuh AS begitu berlebihannya dalam menghormati orang-orang shalih. Pada mulanya mereka hanya mengagumi orang-orang shalih tersebut di kala mereka masih hidup. Tatkala mereka wafat, kekaguman itu diwujudkan dengan membuat patung-patung peringatan yang dinamai dengan nama-nama orang-orang shalih tersebut. Awalnya, patung-patung itu hanya sebagai sarana mengenang mereka. Hingga ketika orang-orang yang membuat patung-patung itu meninggal dunia dan ilmu agama dilupakan orang, patung-patung itu lalu disembah dan diberhalakan. (Lihat, Kitab Tauhid, hal. 108). 

Dari segi obyek yang dihormati, yakni orang shalih, apa yang dilakukan kaum Nabi Nuh itu sudah benar. Mereka tidak menghormati orang yang salah, misalnya menghormati karena jabatannya, kekuatannya, keturunannya atau lainnya. Bahkan penghormatan kepada orang shalih itu sendiri wajib diberikan. Pertanyaannya kemudian, apa yang salah?

Jawabnya, yang salah adalah sikap mereka yang berlebih-lebihan (ghuluw) dalam menghormati orang-orang shalih tersebut.

 

Kita semua tahu, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa salam adalah orang yang paling mulia di muka bumi ini. Namun beliau shallallahu alaihi wa salam melarang umatnya larut dalam penghormatan yang berlebihan kepada beliau. Beliau tidak mau dipuji lebih dari kapasitasnya sebagai hamba dan Rasul Allah. Dengan tegas Nabi shallallahu alaihi wa salam bersabda:

” Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku, sebagaimana orang-orang Nashrani telah berlebih-lebihan memuji (Isa) putera Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, ‘Abdullah wa rasuluh’ (Hamba Allah dan RasulNya).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). 

Klasifikasi Ghuluw 

Ghuluw ada dua macam, perkataan dan perbuatan. Ghuluw dalam bentuk perkataan (sanjungan dan pujian) ada tiga macam 

Ghuluw yang bisa membatalkan tauhid lantaran termasuk syirik besar. Misalnya mengatakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa salam mampu menolak madharat atau bisa mendatangkan manfaat, berdo’a kepadanya, meminta bantuan terhadapnya dan sebagainya. 

Ghuluw yang bisa menghilangkan kesempurnaan tauhid karena termasuk syirik kecil. Seperti bersumpah dengan menyebut nama-nama orang shalih tersebut atau mengatakan:

“Atas kehendak Allah dan kehendak si fulan.” 

Ghuluw yang diharamkan. Contohnya memberikan sifat-sifat baik yang orang tersebut tidak memilikinya. Misalnya mengatakan, ia seorang pemberani padahal pengecut dsb.

Ghuluw dalam perbuatan juga ada tiga macam:

Ghuluw yang bisa membatalkan tauhid karena termasuk syirik besar. Seperti ruku’, sujud dan bertawakkal kepada orang shalih atau lainnya. 

Ghuluw yang bisa menghilangkan kesempurnaan tauhid lantaran termasuk syirik kecil. Seperti shalat karena Allah di sisi kubur orang shalih dsb. 

Ghuluw yang diharamkan, namun tidak sampai pada perbuatan syirik besar maupun kecil. Misalnya membangun kuburan orang shalih atau lainnya, menemboknya, menghiasinya dsb.

Sikap Keliru dan Konyol 

Berlebihan terhadap figur tertentu dengan hanya mendasarkan pada hal-hal yang sifatnya duniawi adalah sikap keliru dan konyol. Ironinya, inilah realitas yang banyak terjadi di tengah masyarakat muslim. Yang lebih mengenaskan, atas nama kebendaan dan duniawi banyak umat Islam membeo terhadap kemauan figur yang dikaguminya, meski harus mengorbankan agamanya, melanggar ajaran Allah dan menuhankan selainNya. Na’udzubillah. 

Kita banyak menyaksikan sikap ghuluw (berlebih-lebihan) yang dilakukan orang sekarang terhadap figur yang dihormati dan dipujinya tidak sebatas dalam ucapan dan visi. Tetapi secara total ia hibahkan hidupnya untuk membela figur yang dicintainya itu. Bagaimana agar figurnya menjadi pemimpin (meskipun tidak pantas memimpin). Bagaimana agar figurnya mendapat loyalitas dari masyarakat (meski masyarakat muak dengannya), serta usaha-usaha lain dengan segala macam cara; uang, kekuasaan, kekerasan, teror, intimidasi dan sebagainya untuk menggolkan keinginannya.

Maka benarlah apa yang diperingatkan secara keras oleh Nabi shallallahu alaihi wa salam :

“Jauhilah sikap berlebihan, karena sesungguhnya sikap berlebihan itulah yang telah menghancurkan umat-umat sebelum kamu.” (HR. Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas RA ). 

Jika menghormati secara berlebihan terhadap orang-orang shalih yang dilakukan kaum Nuh AS berimplikasi pada pemberhalaan orang-orang shalih tersebut, maka bagaimana pula dengan penghor-matan berlebihan kepada obyek yang salah dan dengan cara dan sarana yang salah pula? Sungguh kita berlindung kepada Allah dari yang demikian.

Diriwayatkan dari ‘Adiy bin Hatim bahwa ia mendengar Nabi membaca firman Allah Ta’ala:

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.”(At-Taubah: 31)

Adiy menyanggah, ‘Sungguh kami tidaklah menyembah mereka.’ Beliau bertanya:

“Tidakkah mereka itu mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, lalu kamu pun mengharamkannya, dan tidakkah mereka itu menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah, lalu kamu pun menghalalkannya?’ Aku menjawab, ‘Ya’. Maka beliau bersabda, ‘Itulah ibadah (penyembahan) kepada mereka’.” (HR. Imam Ahmad dan At-Tirmidzi, dan ia menyatakan hasan). 

Setiap muslim mengetahui keutamaan dan kemuliaan Abu Bakar dan Umar bin Khaththab RA, bahkan keduanya adalah sahabat paling terkemuka dan sangat besar jasanya pada Islam. Tetapi kefiguran Abu Bakar dan Umar RA tidak boleh menjadikan kita secara total mengikuti mereka tanpa reserve. Semuanya harus dirujukkan kepada perintah Allah dan perintah RasulNya. Karena itulah sehingga Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu pernah berkata:

“Aku khawatir bila kalian ditimpa hujan batu dari langit. Aku mengatakan, ‘Telah bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam, tetapi kalian malah mengatakan, ‘Kata Abu Bakar dan Umar?!’.” 

Jika demikian halnya kita harus menyikapi orang yang sangat mulia, seperti sahabat Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu anhuma, lalu bagaimana halnya terhadap orang yang difigurkan karena keduniaannya, kepang-katannya dan keningratannya, yang mereka itu jauh dari agama? Sungguh hanya kepada Allah kita memohon perlindungan. 

Sikap Yang Benar 

Sikap yang benar dalam memperlakukan orang-orang shalih adalah dengan mencintai, menghormati dan meneladani mereka dalam hal kebaikan-kebaikan yang mereka miliki. Juga dengan membantah orang yang menjelek-jelekkan mereka, tetapi dengan tetap meyakini bahwa mereka tidaklah ma’sum (terpelihara dari dosa dan kesalahan). 

Orang-orang shalih itu dikagumi dan diteladani hanya lantaran mereka memenuhi semua kewajiban ibadah kepada Allah dan ittiba’ (mengikuti) sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa salam juga karena mereka meyakini terhadap semua berita yang diwahyukan Allah melalui lisan RasulNya shallallahu alaihi wa salam.

Maka, memfigurkan dan mencintai orang-orang shalih tersebut adalah termasuk mencintai karena Allah dan RasulNya. Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda:

“Tali ikatan iman paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ibnu Jarir). 

Dari uraian singkat di atas jelaslah bahwa memfigurkan seseorang secara berlebihan tanpa alasan yang jelas, atau karena alasan-alasan duniawi dan kepentingan sesaat, yang terkadang malah dengan melanggar syari’at agama adalah termasuk perbuatan yang jauh menyimpang dari Islam. Karena itu, setiap kita yang mengaku muslim, manakala selama ini salah mengambil figur, harus segera bertobat kepada Allah. Selanjutnya, kita tidak mencintai atau membenci kecuali karena Allah subhannahu wa ta’ala, serta tidak menyanjung puji seseorang kecuali sebatas yang dibolehkan agama. Wallahu A’lam.

Sumber : Artikel Buletin An-Nur (Ainul Haris).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: