Gadis Kecil Yang Sholihah

Gadis Kecil Yang Sholihah  

Oleh Ummu Mariah Iman Zuhair 

Aku akan meriwayatkan kepada anda kisah yang sangat berkesan ini, seakan-akan anda mendengarnya langsung dari lisan ibunya. Berkatalah ibu gadis kecil tersebut: 

Saat aku mengandung putriku, Afnan, ayahku melihat sebuah mimpi di dalam tidurnya. Ia melihat banyak buruk pipit yang terbang di angkasa. Di antara burung-burung tersebut terdapat seekor merpati putih yang sangat cantik, terbang jauh meninggi ke langit. Maka aku bertanya kepada ayah tentang tafsir dari mimpi tersebut. Maka ia mengabarkan kepadaku bahwa burung-burung pipit tersebut adalah anak-anakku, dan sesungguhnya aku akan melahirkan seorang gadis yang bertakwa. Ia tidak menyempurnakan tafsirnya, sementara akupun tidak meminta tafsir tentang takwil mimpi tersebut. 

Setelah itu aku melahirkan putriku, Afnan. Ternyata dia benar-benar seorang gadis yang bertakwa. Aku melihatnya sebagai seorang wanita yang shalihah sejak kecil. Dia tidak pernah mau mengenakan celana, tidak juga mengenakan pakaian pendek, dia akan menolak dengan keras, padahal dia masih kecil. Jika aku mengenakan rok pendek padanya, maka ia mengenakan celana panjang di balik rok tersebut. Continue reading

SAUDI DI MATA SEORANG ULAMA SUNNAH

SAUDI DI MATA SEORANG ULAMA SUNNAH 

Oleh : Syaikh Al-Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i[1] 

MUQADDIMAH[2] 

Alhamdulillahi Robbil Alamin.. Amma Ba’du, sejak dulu saya merasa ragu-ragu untuk berbicara masalah yang hendak saya bicarakan ini, kemudian sesudah itu kuatlah azamku (untuk menyampaikannya), dan jika sekarang ini saya sedang sakit maka saya khawatir kalau-kalau aku meninggal dalam keadaan belum melepaskan tanggung jawabku dalam masalah ini. 

Keamanan Dan Penegakan Syari’at Islam Di Negeri Saudi 

KEAMANAN DI NEGERI SAUDI

Sesudah ini –semoga Allah menjaga kalian semuanya- aku merasa kagum tatkala aku dipindahkan ke Makkah. Ketika aku di Yaman ada empat penjaga di pintu, dalam keadaan seperti ini kami tidak merasa aman di rumah kami siang dan malam. Dan aku berada di hotel Darul Azhar di Makkah dalam waktu beberapa malam aku tidak bisa tidur, maka aku keluar ke Masjidil Haram di tengah malam seorang diri, aku merasakan kenikmatan, kelapangan, dan kelezatan yang tidak ada bandingnya, aku keluar sendirian walhamdulillah, aku berjalan, thowaf, shalat, dan tinggal selama aku mampu, kemudian aku pulang ke hotel. Inilah keamanan yang tidak pernah aku saksikan di negeri manapun sesungguhnya sebabnya adalah istiqomah di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pemerintah dan mayoritas penduduk negeri ini, maka sungguh benarlah Rabb kami Azza wa Jalla tatkala berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia tentang Ahli Kitab. 

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Rabb mereka, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka, diantara mereka ada golongan yang pertengahan dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka” [Al-Maidah : 66] Continue reading

PRINSIP AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH TERHADAP MASALAH KUFUR DAN TAKFIR

PRINSIP AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH TERHADAP MASALAH KUFUR DAN TAKFIR 

Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafidzahullah 

Definisi Kufur

 Kufur secara bahasa, berarti menutupi. Sedangkan menurut syara’, kufur adalah, tidak beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam , baik dengan mendustakannya atau tidak mendustakannya.[37] Orang yang melakukan kekufuran, tidak beriman kepada Allah dan Rasul- Nya disebut kafir. 

Prinsip-Prinsip Ahlus Sunnah Dalam Masalah Kufur Dan Takfir

Masalah takfir (kafir-mengkafirkan) adalah masalah yang sangat berbahaya. Karena itu, para ulama sangat berhati-hati dalam masalah ini, sebagaimana penjelasan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Karena inilah, wajib berhatihati dalam mengkafirkan kaum Muslimin dengan sebab dosa dan kesalahan (yang dilakukan). Karena hal ini adalah bid’ah yang pertama kali muncul dalam Islam, sehingga pelakunya mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah serta harta mereka”.[38] Continue reading

Dibawah Naungan Keikhlasan ( sub point menanggulangi Riya’ )

Dibawah Naungan Keikhlasan ( sub point menanggulangi Riya’ )

Oleh al ustadz Ali Akbar ( Pekan Baru )

Tidak Panjang angan-angan dan tidak tamak terhadap apa yang ada pada orang lain

Berapa banyaknya orang yang mencintai dunianya , mengejar dan memburu kenikmatannya….

mereka tertipu panjang angan-angan .

Mereka terjebak dalam gelanggang perlombaan berselubung debu kemunafikan dan kehinaan.

Mereka yang terus memburu dunia dalam keresahan dan ketakutan. Takut pada kemiskinan …resah dan bimbang pada kekurangan pengumpulan. Dengan mengendarai kerakusan dan ketamakan mereka terus memburu dunia…untuk dunia….

tidakkah ini mengherankan…

Mereka meyakini adanya maut….

Namun tidak pernah mengadakan persiapan ..

Mereka meyakini Neraka..

Namun tidak pernah takut akan siksanya..

Mereka meyakini Surga..

Namun tak beramal untuknya …

Dan lebih menakjubkan lagi …

Mereka mengerti Dunia …

Dan segala tipu dayanya….

Namun tetap rakus untuk mendapatkannya …..

Sungguh kita telah melihat …orang-orang yang merasa memiliki dunia telah pergi.

Dan kitapun juga telah melihat …mereka yang tidak mendapatkannya pun telah kembali kehadirat Ilahi.

Pintu gerbang yang mereka masuki sama….., apa yang mereka pakai dari bagian dunia juga sama ….sungguh akhir dari perjalanan fana ini adalah keabadian Surga atau Neraka.

Jikapun akan menanti ..maka penantian itu begitu panjang dipenjara Azab atas dosa dan kezhaliman yang tak mengekalkan.

Kalaupun dalam kemaksiatan dan kekufuran mereka memperoleh duniannya…..

Maka pemberian itu bukanlah tanda kemuliyaan dari yang Maha Pemberi Rizki.

Pemberian itu bukan karena cinta dan Kasih sayang-Nya .

Sebab ketika Iblis meminta dipanjangkan usianya hingga akhir jaman , Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengabulkan permintaanya.

Pemberian dunia dari Allah Subhanahu wa ta’ala kepada pendurhakadan ahli kemaksiatan , tidaklah terkait dengan cinta-Nya .

Namun semua itu hanya berhubung dengan kebijaksanaan , keadilan serta Iradah-Nya .

Bagi mereka yang mencari dunia untuk dunianya, tak ada lagi yang tersisa di akhiratn kelak kecuali Neraka.

Ketika seseorang meneguk manis dunia dengan cinta kepadanya, niscaya ia akan merasakan pahitnya akhirat karena menjauhinya.

Sungguh dunia disisi Allah Subhanahu wa ta’ala tidaklah bernilai kendati dibanding dengan selembar sayap nyamuk.

Dunia ibarat bangkai yang membusuk yang kau temui dipinggiran jalanmu menuju kematian.

Kalau kau mengambil dan memakannya …ia mendatangkan kemudharatankan bagi hati dan jiwamu.

Berjalanlah didunia ini seperti musafir kelana dalam keterasingan. Sebab siang dan malammu hanyalah perjalanan menuju kematian.

Arungi Dunia dengan bekal seadanya , bercelaklah dengan kismet surgawi.

Jangan kau buka pintu kesibukan , karena dengannya pintu kesibukan lain dibukakan.

Sumber : Dinukil dari buku Dibawah Naungan Keikhlasan yang ditulis oleh Al ustadzuna Abu Anisah al Atsary ( Ustadz. Ali Akbar dari Pekan Baru ).

%d bloggers like this: