Darul Islam dan Darul Kufur

Darul Islam dan Darul Kufur 

lstilah Darul Islam dan Darul Kufur begitu sering terdengar dan para aktivis gerakan Islam, bahkan dua kalimat ini adalah kalimat wajib yang harus diketahui setiap pengikut gerakan mereka, Mereka sebarkan doktrin bahwa negeri tempat mereka tinggal adalah Darul Kufur, sehingga mereka, mewajibkan atas setiap pengikut mereka untuk berjuang menegakkan negeri Islam impian mereka. Mereka klaim negeri yang mereka tempati adalah Darul Kufur dalam keadaan syi’ar-syi’ar Islam seperti shalat dan Jama’ah masih ditegàkkan.

Yang lebih parah lagi adalah pemahaman mereka berikutnya, yaitu bahwa di Darul Kufur hokum hukum Islam tidak berlaku, sehingga dengan seenaknya mereka melanggar syari’at-syari’at Islam, membunuh, mencuri, dan merampok dengan alasan hukum Islam belum berlaku sebelum tegak khilafah Islamiyyah “ala mereka!”, bahkan ada dari mereka yang tidak shalat Jum’at dan Jama’ah dengan alasan hal itu tidak wajib sebelum berdiririya Darul Islam.

Kita tanyakan kepada mereka, apakah Rasulullah shalallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya ketika di Makkah tidak melaksanakan shalat dengan alasan waktu itu Makkah belum menjadi Darul Islam?! Setiap orang yang pernah membaca sirah Rasulullah shalallallahu alihi wa sallam tentu akan mengetahui bahwa Rasulullah shalallallahu alihi wa sallam dan para sahabatnya ketika di Makkah tetap menjalankan syari’at Islam sesuai dengan kemampuan mereka meskipun mereka hidup di tengah-tengah orang-orang kafir.

Dari sini kami memandang pentingnya mengangkat pembahasan tentang masalah Darul Islam dan Darul Kufur serta hal-hal yang berhubungan dengannya, karena kekeliruan dalam memahami masalah ini akan menyebabkan kesalahan langkah dan menyebarnya fitnah.

KAPANKAH SUATU NEGERI DISEBUT DARUL ISLAM

Para ulama membagi suatu negeri atau daerah menjadi dua macam; Darul Islam (negeri Islam) dan Darul Kufur (negeri kafir), kemudian mereka berselisih tentang indikasi yang dijadikan patokan dalam menghukumi suatu negeri apakah negeri itu Darul Islam atau Darul Kufur. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa indikasi yang dijadikan patokan dalam menghukumi suatu negeri apakah negeri itu Darul Islam atau Darul Kufur adalah nampaknya hukum-hukum Islam, tetapi kemudian mereka berselisih dalam tafsir dan hukum-hukum Islam yang menjadi pembeda antara dua negeri ini, apakah yang dimaksud adalah sikap-sikap dan amalan-amalan waliyyul amr dan penguasa, ataukah yang dimaksud adalah amalan-amalan penduduk negeri dari syi’ar-syi’ar Islam yang nampak,

seperti shalat Lima waktu, shalat jum’at, dan shalat ‘led. Pendapat terakhir inilah yang benar sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil berikut ini;

I Hadits Anas bahwasanya dia berkata,

” Kaana Rosulullah Shalallallahu alaihi wa sallam yaghiyru idzaa thola’a al fajru wa kaana yastami’u al adzaana fain sama’a adzaanan amsika wa ila aghoro “

Adalah Rasulullah Shalallallahu alaihi wa sallam hendak menyerang daerah musuh ketika terbit fajar. Beliau menunggu suara adzan, jika beliau mendengar adzan maka beliau rnenahan diri, dan jika tidak mendengar adzan maka beliau menyerang. (HR. Bukhari:

6(0 Muslim: (365).

Al-Imam Nawawi rohimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa adzan menahan serangan kaum muslimin kepada penduduk negeri daerah tersebut, karena adzan tersebut merupakan dalil atas keislaman mereka”. (Syarah Nawawi pada Shhih Muslim 4/84)

Al-Imam Qurthuby berkata, “Adzan adalah tanda yang membedakan antara Darul Islam dan Darul kufr “(AlJami’ Liahkamil Qur’an 6/225).

Az-Zarqany berkata, “Adzan adalah syi’ar Islam dan termasuk tanda yang membedakan antara Darul Islam dan Darul Kufur “(Syarah Zarqany atas Muwaththa’ I/215).

2. Hadits ‘Isham Al-Muzani

 

Bahwasanya ‘Isham Al-Muzani berkata,

” Kaanan nabiyyu shalallallahu alaihi wa sallam idzaa ba’atsas sariyyata yaquulu idzaa roaitum masjidan wa sami’tum munaadiyaan taqtuluu akhada ”

Adalah Nabi jika mengutus suatu pasukan beliau bersabda, “Jika kalian melihat masjid atau mendengar adzan maka janganlah kalian membunuh seorang pun. (Diriwayatkan Ahmad dalam Musnadnya 3/448, Abu Dawud dalam Sunannya: 2635 dan Tirmidzi dalam Jami’nya: 1545 dan dilemahkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Dha’ifSunan Abu Dawud hal. 202)

Al-Imam Asy-Syaukani berkata, “Hadits mi menunjukkkan bahwa sekedar keberadaan sebuah’masjid di suatu negeri maka ini cukup menjadi dalil atas keislaman penduduknya, walaupun belum didengar adzan dari mereka,. karena Nabi memerintahkan pasukan pasukannya agar mencukupkan dengan salah satu dari dua hal: adanya masjid atau mendengar adzan” (Nailul Authar 7/287).

Berdasarkan uraian di atas maka jka didengar adzan di suatu negeri atau didapati suatu masjid, dan penduduknya muslim, maka negeri tersebut adalah Darul Islam, meskipun para penguasanya tidak menerapkan syari’at Islam, hal inilah yang dikuatkan oleh

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, beliau berkata, “Keberadaan suatu tempat sebagai negeri kafir atau negeri Iman atau negeri orang-orang fasiq, bukanlah sifat yang tidak terpisah darinya, tetapi dia adalah sifat yang insidental sesuai dengan keadaan penduduknya, setiap jengkal bumi yang penduduknya orang-orang mukmin yang bertaqwa maka tempat tersebut adalah negeri para wali Alloh di saat itu, setiap jengkal tanah yang penduduknya orang-orang fasiq, maka dia adalah negeri kefasiqan di saat itu, dan jika para penduduknya selain yang kita sebutkan tadi, dan bèrubah dengan selain mereka, maka negeri itu adalah negeri mereka” (Majmu’ Fatawa 18/282).

Demikian juga Al-Imam Syaukani berpendapat sebagaimana pendapat Syaikhul Islam lbnu Taimiyyah, beliau memandang bahwa, “Yang dijadikan indikasi adalah nampaknya kalimat Islam, jika perintah dan larangan di suatu negeri di tangan kaum muslimin, di mana orang orang kafir yang tinggal di situ tidak mampu menampakkan kekafiran mereka kecuali dengan izin kaum muslimin dalam hal itu, maka negeri ini adalah negeri Islam, tidak menjadi masalah adanya perbuatan-perbuatan keKufuran di negeri itu, karena hal ini tidak nampak dengan kekuatan orang kafir dan tidak juga dengan serangan orang kafir, sebagaimana hal ini disaksikan pada para ahli dzimmah dan orang-orang Yahudi dan Nashara serta orang-orang kafir yang mendapat jaminan keamanan yang mereka semua tinggal di negeri-negeri Islam. Adapun jika permasalahannya berbalik, maka negeri tersebut juga berbalik statusnya”(Sailul Jarrar 41575).

KAPANKAH DARUL ISLAM BERUBAH MENJADI DARUL KUFUR

Yang rajih dari pendapat para ulama bahwa negeri Islam tidak berubah menjadi Darul Kufur dengan sekedar dominannya hukum-hukum kekafiran padanya, atau sekedar penguasaan orang-orang kafir padanya, selama para penduduknya masih mempertahankan keislaman mereka, bahkan selama mereka masih menegakkan sebàgian darE syi’ar-syi’ar Islam khususnya shalat.

“Negeri Islam tidaklah menjadi Darul Harbi kecuali dengan tiga hal: dengan diberlakukannya hukum-hukum kesyirikan, bersambungnya dengan Darul Harbi, dan tidak tersisa di dalamnya seorang muslim dan dzimmy yang mendapat Jaminan keamanan dari pemerintah Islam.

Darul Harbi berubah menjadi Darul Islam dengan diberlakukannya hukum-hukum Islam padanya seperti shalat Jum’at dan led, meskipun di dalamnya terdapat seorang.kafir asli dan meskipun tidak bersambung dengan Darul Islam.” (Durrul Mukhtar4/l75).

Al-Kaasany berkata, “Tidak ada khilaf di antara para sahabat kami (madzhab Hanafi) bahwasanya Darul Kufur berubah menjadi Darul Islam dengan nampaknya hokum hukum Islam padanya, dan mereka berselisih dengan apa Darul Islam berubah menjadi Darul Kufur,

Abu Hanifah berkata: Darul Islam tidak berubah menjadi Darul Kufur kecuali dengan tiga syarat: yang pertama dominannya hukum-hukum kafir padanya, yang kedua bersambungnya dengan Darul Kufur, yang ketiga tidak tersisa di dalamnya seorang muslim dan seorang dzimmy yang merasa aman dengan jaminan keamanan dari kaum muslimin,

Abu Yusuf dan Muhammad berkata: Darul Islam berubah menjadi Darul Kufur dengan dominannya hukum-hukum Kufur padanya “(Badai’ Shonai’ 7/130).

Ad-Dasuqy berkata, “Sesungguhnya negeri Islam tidaklah berubah menjad Darul Iarbi sekedar dengan penguasaan orang-orang kafir atasnya, tetapi hingga terputus penegakan syi’ar-syi’ar Islam darinya, adapun  selama tetap ditegakkan syi’ar-syi’ar Islam atau sebagian besar darinya, maka tidaklah dia berubah menjadi Darul Harbi”(Hasyiyah Dasuqy 2/188).

Merupakan kaidah dalam syari’at bahwa, ” Al ashlu baqoou maa kaana alaa maa kaana” “Hukum asal sesuatu adalah dikembalikan pada asalnya, tidak berubah hukum asal ini kecuali jika ada yang memindahkannya ke hukum yang lain nya dengan cara yang yakin”.

Di antara contoh-contoh dalam hal ini adalah : negeri Andalusia yang berubah menjadi Darul Kufur sesudah kaum muslimin diusir darinya, dan sejak syi’ar  syi’ar Islam di sana dihukumi tidak ada.

Di antara contoh-contoh hal ini juga adalah negeri2 Islam yang para penguasanya tidak menerapkan hukum Islam bersamaan dengan itu para penduduknya menampakkan syi’ar-syi’ar Islam maka negeri itu adalah Darul Islam, karena tidak ada indikasi yang memindahkannya dari hukum asalnya (Al-Ghuluww fid Din oleh Syaikh Abdurrahman bin Ma’la Al-Luwaihiq hal. 340).

Dari sini jelaslah kepada kita sejauh mana sikap ghuluw (berlebih-lebihan) dari mereka yang mensifati negeri-negeri Islam yang penguasanya tidak berhükum dengan hukum Alloh Azza wa jalla bahwasanya negeri-negeri itu adalah Darul Kufur, kemudian mengumumkan jibad terhadap para penduduknya, mereka halalkan darah, bahkan kehormatan para penduduknya. Lihatlah bagaimana kelompok yang ghuluw mi berbuat di Aijazair, mereka menawan para wanita muslimat dan membunuh kaum muslimin yang shalat !!!..

DARUL KUFUR BUKANLAH PENGHAPUS PENGAMALAN HUKUM-HUKUM ISLAM

Di antara syubhat yang banyak dilontarkan oleb kelompok-kelompok Khawarij adalah bahwa keberadaan seorang muslim di Darul Kufur atau Darul Harbi menjadikan hukum-hukum Islam tidak berlaku lagi atas mereka, sehingga dengan seenaknya mereka melanggar hukum-hukum Islam dengan dalih negeri yang mereka tempati adalah Darul Kufur!, mereka melakukari pembunuhan, perampokan, dan penganiayaan kepada siapa saja yang tidak sependapat dengan mereka, bahkan jika mereka berhutang dengan siapa saja mereka tidak merigembalikannya dengan alasan hukum Islam belum berlaku sebelum” Negeri  Islam “mereka berdiri!

Yang benar bahwasanya keberadaan kaum muslimin di Darul Kufur atau Darul Harbi tidak menjadikan ‘ mereka meninggalkan hukum-hukum Islam, sesuatu yang diharamkan di Darul Islam maka juga diharamkan di Darul Kufur dan diharamkan di semua tempat. Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk bermu’amalah dengan orang kafir dengan cara riba, atau dia meminjam dari orang kafir kemudian tidak mengembalikan kepada pemiliknya dengan dalih bahwa hukum hutang piutang di negeni kafir dianggap tidak ada.!!.

Al-Imam Nawawi rohimahullah  berkata, “Tidak ada perbedaan dalam keharaman riba di Darul Islam dan Darul ‘ Harbi, apa saja yang diharamkan di Darul Islam maka juga diharamkan di Darul Harbi, … ini adalah pendapat madzhab Syafi’l, Malik, Ahmad, Abu Yusuf, dan Jumbur, dan berkataAbu Hanifah,’Tidakdiharamkan riba antara seorang muslim dan ahli Harbi… para sahabat kami berhujjah dengan keumuman diharamkannya riba dalam Al-Qur’an dan Sunnah tanpa membedakan di Darul islam dan Darul Harbi, karena sesuatu yang riba di Darul Islam, . maka dia juga riba yang diharamkan di Darul Harbi.” (AlMajmu’ 9/3 76).

Al-Imam lbnu Qudamah berkata, “Diharamkan riba di Darul Harbi sebagaimana dihanamkan di Darul Islam, ini adalah pendapat Malik, Auza’i, Abu Yusuf, Syafi’i, dan Ishaq. Dalilnya adalah firman Allah Tabaroka wa Ta’ala,

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS. Al-Baqarah: 275),

Juga firman Alloh Tabaroka wa Ta’ala ,

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah: 278)

Keumuman ayat-ayat di atas menunjukkan haramnya riba secara mutlak demikian juga keumuman hadits-hadits yang melarang rba, kanena sesuatu yang diharamkan di Darul Islam adalah diharamkan di Darul Harbi”(AI-Mughni 4/47).

Al-Imam Syaukani rohimahullah mengomentari pernyataan  penulis kitab Hadaiq Azhar yang mengatakan bahwa, “Tidak ada qishash secara mutlak di Darul Harbi.” Al-Imam Syaukany berkata, “Perkataan ini tidak memiliki dalil sama sekali, tidak dari Kitab, tidak dari Sunnah, tidak dari qiyas yang shahih, dan tidak juga dari ijma’, karena hokum-, hukum syar’i selalu berlaku bagi kaum muslimin dimanapun mereka berada, Darul Harbi bukanlah penghapus hukum-hukum syar’i secara keseluruhan atau sebagian.

Hal-hal yang Alloh wajibkan qishash padanya kepada kaum muslimin tetap berlaku di Darul Harbi sebagaimana berlaku di tempat yang lainnya, selama kita bisa melaksanakannya … tidak ada yang menghapus sesuatupun dari hukum-hukum ini kecuali dalil yang pantas untuk mengubahnya, dan jika tidak ada maka wajib menetapi apa yang wajib dalam syari’at dan wajibnya qishash “(Sailul Jarrar 4/552).

 

Al-Imam lbnu Qudamah berkata, “Wajibnya qishash tidak disyaratkan terjadinya pembunuhan di Darul Islam, bahkan bilamana seseorang rnembunuh seorang muslim secara sengaja di Darul Harbi dalam keadaan dia tahu bahwa yang dia bunuh adalah seorang muslim, maka dia wajib diqishash,. ini adalah pendapat Syafi’i.”(AI-Mughni 8/215).

Al-Imam Syafi’i rohimahullah berkata, “Tidak ada perbedaan antara Darul Harbi dan Darul Islam pada apa yang Alloh wajibkan atas makhluknya dari hudud, karena Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat  berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS.AI-Baqarah: 275), (A1-Umm 7/354).

Al-Bahuti rohimahullah berkata, “Tidak disyaratkan dalam wajibnya qishash terjadinya pembunuhan di Darul Islam; jika ada yang membunuh maka dia diqishash sebagai hukuman atasnya dengan persyaratan-persyaratan dilaksanakannnya qishash walaupun hal itu terjadi di Darul Harbi.” (Kasyful Qana’ 5/532).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rohimahullah berkata, “Seorang yang muqim (menetap) mengusap kedua khufnya sehari semalam, dan seorang musafir mengusapnya selama tiga hari tiga malam,…sama saja di Darul Harbi.atau Darul lslam.”(Syarah Umdah 1/255).

HAK DAN KEWAJIBAN ORANG KAFIR DI NEGERI ISLAM

Sebagaimana seorang muslim memiliki kewajiban untuk melaksanakan syari’at Islam ketika berada di negeri kafir, maka orang-orang kafir yang tinggal di negeri Islam (kafir dzimmy) juga memiliki kewajiban untuk mematuhi syari’at Islam yang berhubungan dengan mereka. Di antara kewajiban-kewajiban kafir dzimmy di negeri Islam adaIah..

l. Membayar jizyah (upeti) kepada kaum muslimin setahun sekali (Tahrirul Ahkam: 250, Al-Mughni 10/73, dan RaudhatuThalibin 10/3 I I).

2. Menghormati kaum muslimin, tidak boleh memukul seorang muslim, mencacinya, mengkhianatinya, dan mengeluarkannya dari agamanya.

3. Tidak boleh menampakkan syi’ar-syi’ar agama mereka atau pemikiran-pemikiran batil mereka, jangan sampai kaum muslimin mendengarkan kesyirikan mereka, peribadahan mereka, bacaan mereka, atau keyakinan mereka pada Al-Masih dan Uzair (Tahrirul Ahkarñ: 259).

4. Tidak boleh menjelekkan atau mencela Kitabullah, atau Rasulullah Shalallallahu alihi wa sallam , atau agama Islam (Ahkam Sulthaniyyah: 145)

Demikian juga kafir dzimmi memiliki hak yang harus ditepati oleh kaum muslimin selama mereka melaksanakan kewajiban mereka, di antara hak-hak kafir dzimmi adalah;

I. Menepati perjanjian terhadap mereka. Mereka tidak boleh dikhianati atau diperlakukan dengan curang.

Allah Subhanahu wa ta’ala  berfirman:

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنْقُضُوا الأيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

Dan tepatilah perjanjian dengan Alloh apabila kamu benjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagal saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (QS.An Nahl: 91).

2. Mereka tidak boleh dipaksa masuk Islam.

Alloh Subhanahu wa ta’ala  berfirman,

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (QS. Al-Baqarah: 256).

3. Gereja dan tempat peribadahan mereka tidak boleh diganggu.

Berbuat baik terhadap mereka tanpa mencintai dan loyal kepada mereka.

Alloh Subhanahu wa ta’ala  berfirman:

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena  agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah men yukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarung kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al-  Mumtahanah: 8-9).

5. Mengharamkan darah dan harta mereka, Rasulullah Shalallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Man Qotala nafsan mu’aahidan lam yarij rooikhatal jannati wa inna riykhahaa layuujadu min masiiroti arbai’na  ‘aaman.

Barangsiapa yang membunuh orang kafir yang memiliki perjanjian dengan kaum muslimin maka dia tidak akan mencium bau surga, dan sesungguhnya bau surga didapati dari 40 tahun perjalanan (HR. Bukhari 6/2533).

Selain kafir dzimmy yang juga tidak boleh diganggu adalah orang-orang kafir yang masuk ke negeri Islam dengan jaminan keamanan dan penguasa kaum muslimin, mereka ini haram darah dan harta mereka selama mereka menepati perjanjian mereka dengan kaum muslimin

Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ

Dan jika si terbunuh dari kaum kafir yang ada perjanjian antara mereka dengan kalian, maka hendaknya si pembunuh membayar diat yang diserahkan kepada keluarga si terbunuh serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin (QS. AnNisa’: 92)

Bila saja seorang kafir yang mendapatkan keamanan jika dibunuh dengan tidak sengaja maka yang membunuh harus membayar diat dan kaffarah, maka bagaimana dengan pembunuhan secara sengaja terhadap mereka, jelas kesalahan lebih parah, dan dosanya juga lebih besar.

Maka perbuatan sebagian kelompok-kelompok Islam yang menghalalkan darah dan harta orang-orang kafir yang masuk ke negeri Islam adalah perbuatan yang haram secara syar’i, karena mereka masuk ke negeri Islam dengan jaminan keamanan dan kaum muslimin. Lebih parah lagi jika kelompok-kelompok Islam ini begitu mudah mengkafirkan seorang muslim di luar kelompok mereka, kemudian mereka halalkan darah dan hartanya dengan alasan dia adalah seorang kafir yang halal darah dan hartanya! YaAlloh kami berlindung kepada-Mu dan fitnah kejahilan dan kesesatan.

KESIMPULAN

Indikasi yang dijadikan patokandalam menghukumi suatu negeri apakah negeri itu Darul Islam atau Darul Kufur adalah nampaknya hukum-hukum Islam, yaitu amalan-amalari penduduk negeri dan syi’ar-syi’ar Islam yang nampak, seperti shalat lima waktu, shalat jum’at, dan shalat ‘led. Darul Islam tidak berubah menjadi Darul Kufur

kecuali dengan tiga syarat: yang pertama dominannya hukum-hukum kafir padanya, yang kedua bersambungnya dengan Darul Kufur, yang ketiga tidak tersisa di dalamnya seorang muslim dan seorang dzimmy yang merasa aman dengan jaminah’keamanan dari kaum muslimin.

Keberadaan kaum muslimin di Darul Kufur tidak menjadikan mereka boleh meninggalkan hukum-hukum Islam, sesuatu yang diharamkan di Darul Islam maka juga diharamkan di Darul Kufur.

Sebagaimana seorang muslim memiliki kewajiban untuk melaksanakan syari’at Islam ketika berada di negeri kafir, maka orang-orang kafir yang tinggal di negeri Islam (kafir dzimmy) juga memiliki kewajiban untuk mematuhi syari’at Islam yang berhubungan dengan mereka. Demikian juga mereka juga punya hak yang harus dipenuhi oleh kaum muslimin seperti penjagaan darah dan harta mereka.

Sumber : Diketik ulang dari Majalah Al Furqan, Gresik, Edisi 9, Tahun IV, 2005, halaman 33  37

One Response

  1. makasih udah berbagi ilmu Gan, salam kenal…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: