YANG MENYIMPANG DARI MANHAJ SALAF

Manhaj yang Menyimpang dari Manhaj Salaf

Ceramah Syeikh Salim bin ‘Ied Al Hilali dalam Daurah Syar’iyyah di Ma ‘had Ali, Al Irsyad Surabaya, pada tanggai3-6 Muharram 1423H bertepatan dengan 17-20 Maret 2002M. Cerarnah ini dlterjemahkan oleb Ustadz Mubarak Bin Mahfudz Bamualim. 

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam  telah mengabarkan tentang pertentangan dan perpecahan. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam memberikan peringatan akan (bahayanya).

Perpecahan dan perbedaan pasti terjadi dalam ummat ini dan bukan suatu yang mustahil. Semua itu merupakan ketentuan Allah secara kauni. Kita diperintahkan Allah dan RasulNya untuk berupaya mengambil langkah-langkah yang dapat menghilangkan perpecahan tersebut. Memperkecil lingkup dan meminimalisasi fitnah yang timbul karenanya. 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman

“ Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali -orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan ,untuk itulah Allah menciptakan mereka. (QS Hud 1:&119). 

Dan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

Orang-orang Yahudi terpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan. 

Dalam hadits Auf bin Malik,

“Semuanya di neraka kecuali satu”

Dan nashara telah terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan.

Dalam hadits Auf bin Malik

Semuanya di neraka kecuali satu.

Dan umatku akan terpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka. kecuali satu golongan , Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ditanya,

Siapakah mereka Rasuluilah?

Dalam hadits Muawiyah dan Anas bin Malik,

Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab: Mereka adalah jama ‘ah

Dalam hadits Abu Umamah Al-Bahili beliau menjawab,

Golongan itu ialah golongan yang mayoritas. Dan dalam hadits Abdullah bin Amr bin Al Ash , beliau menjawab:,

(Golongan yang selamat itu, ialah) yang berada pada apa (yang) aku dan sahabatku berada diatasnya pada han ini. 

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Al lrbadh bin Sariyah, :

Aku tinggalkan kalian di atas sebuah (jalan) yang putih lagi bersih. Malamnya seperti siang, tiada yang menyimpang darinya kecuali orang yang binasa. 

Jika demikian, siapakah yang (berada diatas jalan tersebut)?

Yang tetap di atasjalan tersebut, yaitu para sahabat Nabi dan orang-orang yang berjalan di atas manhaj (jalannya) mereka. 

Siapakah yang telah berpisah meninggalkan jalan tersebut?

Yaitu kelompok-kelompok atau firqah-firqah. Kelompok-kelompok tersebut muncu] karena mereka memisahkan diri dari kelompok yang selamat. Oleh karena itu tidak boleh kita menyamakan antara kelompok-kelompok tersebut dengan ‘golongan yang selamat’.

Ibarat sepotong kain berwarna putih; kemudian datang satu kelompok yang mengambil sepotong dari kain tersebut, dan mewarnainya dengan warna biru. Datang pula kelompok lainnya, mengambil sepotong dan mewarnainya dengan warna kuning dan seterusnya. Setiap datang suatu kelompok, mengambil sepotong kain dan mewarnainya dengan warna khusus yang mereka kagumi. Lalu di tengah-tengah kain tersebut masih tersisa warna putih.

Jika datang seseorang yang tidak mengetahui asal -usul kain tersebut, tentu akan mengatakan bahwa bagian yang putih itu merupakan salah satu bagian dari warna-warna tersebut.

Akan tetapi bagi orang yang mengetahui hakikatnya, dia akan berkata, bahwasannya warna putih tersebut adalah bagian yang asli. 

Dan  bahwasannya warna-warna lainnya ialah yang telah berubah dari warna asalnya. Demikianlah hakikat golongan yang selamat dan kelompok-kelompok sempalan lainnya. 

Para sahabat dan orang-orang yang loyal, mereka tetap berada di jalan yang putih bersih. Mereka adalah Firqah dan Jama ‘ah; dikarenakan memiliki manhaj, pandangan, dan cara tersendiri dalam penggunaan dan penempatan dalil,serta dalam menerima ilmu.

Sedangkan jama’ah-jama’ah dan kelompok kelompok mengambil jalan lain dan menyimpang dari jalan shahabat.

Setiap kelompok itu mengambil bagian kecil dari jalan para shahabat, lalu mewarnainya dengan warna-warna yang khusus bagi mereka.

Maka janganlah kita mengira, bahwa “golongan yang selamat” atau “thaifah yang dimenangkan” sama dengan kelompok lain, walaupun mereka menamakan diri sebagai golongan kelompok yang selamat dan thaffah manshurah. 

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 

Semuanya di neraka kecuali satu. Rasulullal ditanya, “Siapakah meereka ya Rasulullah ?“ Beliau menjawab, “Orang yang berada di atas jalanku dan shahabatku pada hari ini.” 

Saya katakan, bahwa keberadaan seseorang (kelompok-kelompok) pada qurunul mufaddlalah (tiga abad generasi pertama yang diutamakan), tidak berarti suatu bentuk ta ‘dil (pengakuan kebenaran mereka). Tidak ! Akan tetapi kebenaran seseorang ditentukan dengan manhaj dan amal perbuatannya Adapun zaman atau waktu tidak dapat dijadikan penentu bagi kebenaran seseorang.

Demikian pula ‘tempat’ tidak dapat mensucikan seseorang. Oleh sebab itu tatkala Abu Darda’ Radhiallahu anhu menulis sura kepada Salman Al Farisi Radhiallahu hu anhu (keduanya dipersaudarakan oleh Rasulullah dalam Islam) Beliau menganjurkan Salman agar datang ke negeri suci yang diberkati (Baitul Maqdis), maka Salman menulis sebuah surat kepada Abu Danda’ Radhiallahu anhu.

“ Sesungguhnya negeri suci tidak dapat mensucikan seseorang “

Yang mensucikan seseorang ialah amal perbuatannya. Jika anda memiliki amal yang baik dan manhaj yang benar, (maka) anda adalah orang yang dibenarkan dan dipercaya. Namun jika tidak demikian, maka anda bukanlah seorang yang benar dan (tidak) dipercaya.  Nabi Shallallahu alaihi wa sallam  tidaklah meninggalkan dunia ini, kecuali setelah menjelaskan dan menerangkan jalan yang benar. Lalu beliau meninggalkan kita di atas jalan yang putih lagi bersih, malamnya ibarat siang hari. Kalaupun jalan itu mengalami malam hari, maka malamnya ibarat siangnya. ini berarti, bahwa jalan itu tidak mengalami kegelapan. Ia adalah jalan yang benar, yang jelas lagi putih bersih Dikenal dengan jelas ibarat terangnya matahari. 

Kemudian munculah kelompok-.kelompok yang mulai menyimpang sedikit demi sedikit dari jalan Allah dan jalan orang-orang mukmin. 

Kelompok pertama yang keluar ialah Al Khawarij. Banyak hadits mutawatir mencela Khawarij, sebagaimana diungkapkan oleh para pakar ahli hadits. Cikal bakal kelompok ini yaitu takkala pemimpin mereka menentang kebijaksanaan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam pembagian harta rampasan perang Hunain.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam membagi-bagikan harta tersebut tidak seperti biasanya. Beliau membagikan kepada orang-orang mu ‘allaf (yang baru masuk Islam). Maka berkatalah orang tersebut, Berlaku adillah wahai Muhammad, karena ini adalah pembagian yang tidak dimaksud untuk menghadap wajah Allah. 

Orang ini menentang Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam . Padahal menurut hadits-hadits shahih, bahwasanya Ia adalah yang memperpanjang sujud dan memperbanyak shalat. Namun tidak berada di atas sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. 

Dalam hadits Anas yang shahih, dikeluarkan oleh  Ahmad dalam Musnadnya. Dari Abu Ya’la, bahwasannya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah keluar untuk Laksanakan shalat dan beliau melewati seorang yang sedang sujud. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada sahabat–sahabatnya, “Siapa  yang mau membunuh orang ini?”

Maka bangkitlah  Abu Bakar Radhiallahu anhu sambil menghunus pedang dan menggerakkannya, lalu menuju orang tersebut dan mendapatinya sedang sujud.,

Wahai Rasulullah, bagaimana akan kubunuh seseorang yang mengucapkan La ilaha illallah?

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada sahabat-sahabatnya. “Siapa yang mau membunuh orang ini? “ 

Lalu pedang tersebut diambil oleh Umar radhiallahu anhu . Dia melakukan sebagaimana Abu Bakar. Beliaupun kembali dan berkata, Ya Rasulullah, bagaimana mungkin aku membunuh seseorang yang mengucapkan La ilaha Illallah?

Maka Rasulullah , berkata,”Siapa yang akan membunuh orang ini “

Maka Bangkitlah Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu dan menghunus pedangnya, lalu Nabi berkata kepadanya,

Engkau adalah bagiannya,jika engkau menemuinya.

Pergilah Ali bin Abu Thalib, namun ia tidak mendapatinya. Lalu Nabi bensabda, 

“Seandainya orang tersebut dibunuh niscaya tidak akan berselisih dua orang di antara umatku “. 

Lihatlah betapa besarnya bahaya kaum Khawarij, karena mereka menjadi penyebab terjadinya fitnah. Pokok permasalahan yang ditimbulkan oleh Khawarij adalah penyelisihan mereka tenhadap umat Islam dalam menafsirkan Al Quran. Lalu mereka

adalah sebab terjadinya fitnah. 

Dalam hadits shahih dari Abu Said Al Khudni radhiallahu anhu

Nàbi Shallallahu alaihi wa sallam bensabda :

Di antara kamu sekalian ada yang berperang karena penakwilannya (Al Qur’an), sebagaimana aku telah berperang karena diturunkannya. 

Abu Said benkata,”Kami pun mengangkat pandangan, melihat Beliau. Dan ada bersama kami Abu Bakar serta Umar. Maka Rasulullah bersabda,”Ini (dia orangnya), sambil memberi isyarat kepada Ali bin Abi Thalib. Pada saat itu ia sedang memperbaiki sandal Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.” 

Khawarij muncul pertama kali, pada peristiwa Nahrawan, dan apa yang terjadi sesuai dengan pemberitahuan Rasulullah . Mereka diperangi oleh Ali bin Abi Thalib.

Dengan demikian Khawarij adalah kelompok sesat dari jalan yang lurus. Mereka keluar dari pemahaman sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam .

Permasalahan paling berbahaya yang diselewengkan oleh Khawarij, ialah meneka membangun manhaj atas permasalahan iman dan hubungan antara amal penbuatan dengan iman. Mereka menjadikan amnal perbuatan dan iman sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. 

=======================================

Sumber ;MajalahAs-Sunnah Edisi O8ITahun VI/1423H/2OO2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: