Wahai Mujahidin !! Sebuah Nasehat dan Klarifikasi bagi Mujahidin yang salah langkah

Wahai Mujahidin !! Sebuah Nasehat dan Klarifikasi bagi Mujahidin yang salah langkah

Oleh : Ustadz Abdurrahman bin Thoyib 

Dari Hudzaifah bin Yaman Radhiyallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda : “Akan muncul sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak menelusuri jejakku (petunjukku) dan tidak mengikuti sunnahku dan akan muncul pula diantara mereka orang-orang yang berhati setan dalam tubuh manusia. Aku berkata : Wahai Rasulullah apa yang harus saya perbuat jika saya menemui hal tersebut ? Beliau menjawab : Engkau wajib mendengar dan taat kepada pemimpin tersebut meskipun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu, dengar dan taatilah“. [HR.Muslim no.4762 dengan Syarah Imam Nawawi]

Didalam hadits ini dengan jelas dan gamblangnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengajarkan kepada umatnya terutama para Mujahidin, bagaimana menyikapi para penguasa yang tidak berhukum dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ataupun tidak menjalankan syariat Islam dan dia pun menyimpang dari sunnahnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kepada umatnya agar tetap mendengar serta taat kepada sang penguasa dalam hal yang ma’ruf bukan maksiat, meskipun penguasa tersebut berbuat dzalim seperti merampas harta rakyat (korupsi) ataupun berbuat aniaya. Continue reading

Muhtashar Al-I’tisham

Muhtashar Al-I’tisham 

Peringkas : Syaikh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqqaf 

Pendahuluan

Setiap (kelompok) yang menyimpang dari Sunnah namun mendakwahkan dirinya menerapkan Sunnah, mesti akan takalluf (memaksakan diri) mencari-cari dalil untuk membenarkan tindakannya (penyimpangan) mereka. Karena, kalau hal itu tidak mereka lakukan, (perbuatan mereka) mengesampingkan Sunnah itu sendiri telah membantah dakwaan mereka.

Setiap pelaku bid’ah dari kalangan umat Islam ini mengaku bahwa dirinya adalah pengikut Sunnah -berbeda dengan firqah-firqah lain yang menyelisihinya- hanya saja mereka belum sampai kepada derajat memahami tentang Sunnah secara utuh. Hal itu mungkin karena tidak dalamnya pemahaman mereka tentang perkataan bahasa arab dan kurang paham maksud-maksud yang dikandung Sunnah. Atau, mungkin juga karena tidak dalamnya pemahaman mereka dalam hal pengetahuan kaidah-kaidah ushul sebagai landasan ditetapkannya hukum-hukum syari’at, atau mungkin pula karena dua hal tersebut sekaligus.

  Continue reading

Hakikat Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap Pemerintahan Utsmani

Hakikat Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap Pemerintahan Utsmani 

Oleh : DR. Ali Muhammad Ash-Sholabi1 

Prolog 

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin

Muhammad bin Ahmad bin Rasyid At Tamimi, lahir pada tahun 1115 H./

1703 M. di sebuah tempat yang bernama Uyainah yang berada di sebelah

Utara Riyadh. Jarak antara Riyadh dan Uyainah sekitar 70 kilo meter jika

ditempuh dari sebelah barat.2

Dia sangat mencintai ilmu pengetahuan sejak masa kecilnya.

Selama masa kanak-kanaknya, telah tampak beberapa hal yang sangat

istimewa dari dirinya. Dia hafal Al-Quran, belajar fikih Hanbali, tafsir dan

hadits. Dia banyak mempelajari dan mengagumi buku-buku yang ditulis

Ibnu Taimiyah dalam bidang fikih, akidah dan logika. Selain itu juga, is

pun sangat terpengaruh dengan buku-buku Ibnu Qayyim, Ibnu `Urwah Al–

Hanbali dan yang lainnya. Maka jadilah dia seorang yang menganut

paham salafi.3

Dia mengembara untuk menuntut ilmu ke Mekkah, Madinah,

Bashrah dan Ahsa’. Dia harus menghadapi tantangan yang demikian

keras dan fitnah yang bertubi-tubi di Irak tatkala dia menyatakan pandangan-pandangannya di sana. Setelah itu dia kembali lagi ke Najd.

Saat dia pulang ke Huraimala’ di Najd. dia memulai dakwahnya

untuk melakukan amar makruf nahi mungkar, menyibukkan diri dengan

ilmu dan mengajar serta mengajak manusia pada akidah tauhid yang

bersih. Dia memperingatkan akan bahaya syirik, macam-macam dan

berbagai bentuknya. Bahkan dia harus sering mengalami ancaman

pembunuhan dari orang-orang yang bodoh di Huraimala’ akibat seruannya ini. Setelah itu, dia kembali ke tempat kelahirannya di Huraimala’. Dia disambut hangat oleh penguasa dan mendorongnya untuk melanjutkan dakwah yang sekarang dia tekuni. Continue reading

%d bloggers like this: