KASYFUSY SYUBHAATU FIT TAUKHIIDU (Syubhat -Syubhat Tauhid ) bag 1

Syubhat -Syubhat Tauhid 

Musibah yang menimpa umat ini salah satunya adalah kejahilan tentang hakekat tauhid dan syirik. Sehingga sangat dimungkinkan umat ini akan terjerumus ke dalam perbutan syirik tanpa sadar bahwa dia telah melakukan perbuatan yang merupakan larangan Alloh yang terbesar tersebut. Maka sungguh sangat penting bagi kita untuk mempelajari tauhid dan rinciannya dan mempelajari syirik dan rinciannya supaya kita selamat dari musibah tersebut.

Berikut Risalah yang sangat penting tentang Syubhat Tauhid oleh Syaikh Muhammad At Tamimi Rohimahullah yang menjelaskan hakikat Tauhid dan Syirik dari kita beliau KASYFUSY SYUBHAATU FIT TAUKHIIDU, Semoga bermanfa’at :

KASYFUSY SYUBHAATU FIT TAUKHIIDU

Oleh : Syaikh Muhammad At-Tamimi (1115 H –1206 H) rohimahullah

Syaikh Muhammad At-Tamimi dilahirkan di ‘Uyainah tahun 1115 H (1703 M) dan meninggal di Dar’iyyah tahun 1206 (1792 M). Keadaan umat Islam –dengan berbagai bentuk amalan dan kepercayaan pada masa hidupnya- yang menyimpang dari makna tauhid, mendorong Beliau dan para muridnya untuk melancarkan dakwah Islamiyah guna mengingatkan umat agar kembali kepada tauhid yang murni.

Buku yang ada didepan pembaca merupakan salah satu dari buku-buku yang beliau susun guna memberantas syirik dan menyebarkan tauhid.

Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, tauhid adalah mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dalam beribadah. Tauhid adalah agama para rasul yang karenanya mereka diutus ke segenap hamba-Nya ( 1) .

Rasul yang pertama adalah Nuh ‘alaihis salam (2) . Allah mengutus Nuh kepada kaumnya tatkala mereka berlebih-lebihan kepada orang-orang shaleh mereka seperti: Wadd, Suwa’, Ya’uq, Yaghuts, Nasr.

Adapun rasul terakhir adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaulah yang menghancurkan patung-patung orang-orang shaleh tersebut (3). Allah mengutusnya kepada kaum yang sudah terbiasa beribadah, menunaikan haji, bersedekah, serta banyak berdzikir kepada Allah, tetapi mereka menjadikan

sebagian makhluk sebagai perantara antara mereka dengan Allah. Mereka berdalih, kami ingin agar mereka lebih mendekatkan kami kepada Allah, kami ingin syafa’at mereka di sisi Allah. Sedang para perantara itu terdiri dari para malaikat, Isa bin Maryam dan orang-orang shaleh lainnya.

Maka Allah mengutus kepada mereka Muhammad shallallahu wa’alaihi wa sallam agar memperbaharui agama bapak mereka, Ibrahim ‘alaihis salam, serta mengkhabarkan bahwa taqarrub dan keyakinan itu hanya hak Allah semata.

Keduanya tidak patut diberikan kepada yang lain, meskipun sedikit, baik kepada malaikat, nabi yang diutus, apa lagi kepada selain mereka. Jika tidak, maka sesungguhnya orang-orang musyrik pun mengakui dan bersaksi bahwasanya Allah adalah Maha Pencipta dan Maha Pemberi rizki, tiada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang memberi rizki kecuali Dia, tidak ada yang menghidupkan dan

mematikan kecuali Dia, dan tidak ada yang mengurusi segala perkara kecuali Dia.

Mereka (musyrikin) juga mengakui dan bersaksi bahwa seluruh langit yang tujuh berikut isinya dan segenap bumi berikut isinya adalah hamba-hamba-Nya serta berada di bawah aturan dan kekuasaan-Nya.

Jka Anda menginginkan dalil bahwa orang-orang musyrik yang diperangi Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam itu bersaksi demikian, maka bacalah

firman Allah :

“Katakanlah: ‘Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab:’Allah’. Maka katakanlah:’Mengapa kamu tidak bertakwa [kepada-Nya].” (Yunus:31)

Allah juga berfirman [artinya]: “Katakanlah:’Kepunyaan siapa bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’ Mereka menjawab: ‘Kepunyaan Allah’. Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak ingat?’ Katakanlah:’Siapa yang mempunyai langit yang 7 dan yang mempunyai ‘Arsy yang besar?’ Mereka menjawab:

‘Kepunyaan Allah’. Katakanlah:’Mengapa kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah:’Siapa yang ditangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari [adzab] Nya, jika kamu mengetahui?’

Mereka akan menjawab:’Kepunyaan Allah’. Katakanlah: ‘[Kalau demikian], maka dari jalan mana kamu ditipu?” (Al-Mu’minun:84-89)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain.

Walaupun orang-orang musyrik mengakui hal tersebut (tauhid rububiyah), tetapi tidak menjadikan mereka sebagai ahli tauhid, yang tauhid [uluhiyah] inilah yang merupakan tujuan dakwah Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam kepada mereka. Dan tauhid yang mereka ingkari itu adalah tauhid ibadah (disebut juga uluhiyah) yang oleh orang-orang musyrik pada zaman kita mereka namakan sebagai “al-i’tiqad”.

Seperti mereka berdo’a kepada Allah sepanjang siang dan malam, kemudian diantara mereka ada yang berdo’a kepada para malaikat karena kesalehan dan kedekatannya dengan Allah sehingga bisa memberi syafa’at kepada mereka.

Atau ada juga yang berdo’a kepada orang-orang shaleh, Latta misalnya atau nabi seperti Nabi ‘Isa. Dan Anda tahu bahwasanya Rasulullah shallallahu wa’alaihi wasallam memerangi mereka karena jenis kemusyrikan ini dan menyeru agar mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah semata, sebagaimana firman Allah ta’ala:

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, maka janganlah kamu menyembah seorangpun di dalamnya disamping [menyembah] Allah” (Al-Jin:18)

“Hanya bagi Allah lah [hak mengabulkan] do’a yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagimereka…” (Ar-Ra’d:14)

Dan terbukti bahwa Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam memerangi mereka, agar berdo’a itu disampaikan hanya kepada Allah semata, agar setiap penyembelihan hanya kerena Allah, setiap nadzar karena Allah, istighotsah (minta pertolongan) hanya kepada Allah dan semua bentuk peribadahan ditujukan hanya kepada Allah semata.

Anda tahu bahwa pengakuan mereka terhadap tauhid rububiyah saja tidak dapat memasukkan mereka kepada Islam, dan bahwa tujuan do’a mereka kepada para malaikat, nabi atau para wali agar mendapatkan syafa’at dan taqarrub (kedekatan) kepada Allah. Akan tetapi hal itu justru membuat halal darah dan harta mereka (kufur).

Jika Anda telah mengetahui semua itu, maka Anda telah mengetahui tauhid yang diserukan oleh para rasul, dan tauhid yang diingkari oleh orang-orang musyrik.

Tauhid yang dimaksud itulah makna dari kalimat “laa ilaaha illallah”

Adapun pengertian “illah” bagi orang-orang musyrik itu, yang di mana mereka meminta berbagai hal, baik berupa malaikat, nabi, wali, pohon, kuburan, atau jin; mereka tidak memaksudkan “illah” disini sebagai yang menciptakan, memberi rizki dan yang mengatur, sebab mereka mengetahui bahwa hal itu hanya hak Allah semata, sebagaimana yang telah saya kemukakan dimuka. Tetapi yang mereka maksud dengan “illah” adalah sebagaimana yang dimaksud oleh orang orang musyrik di zaman kita dengan lafadz sayyid.

Lalu Nabi Muhammad shallallahu wa’alaihi wa sallam mendatangi mereka untuk mengajak mereka kepada kalimat tauhid, yaitu “Laa Ilaha Illallah”(tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah). Dan yang dimaksudkan dengan kalimat ini adalah makna hakikinya, bukan sekedar lafadznya.

Orang-orang kafir yang bodohpun mengerti, yang dimaksud Nabi shallallahu wa’alaihi wa sallam dengan kalimat itu adalah mengesakan Allah dengan selalu bergantung kepada-Nya, serta mengingkari dan berlepas diri dari segala sesuatu yang disembah selain Allah.

Maka ketika Nabi shallallahu wa’alaihi wa sallam memerintahkan, ucapkanlah:”Laa Ilaha Illallah” (tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah), orang musyrik malah menjawab:

“Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu sesembahan yang satu saja? sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang mengherankan “(Shad:5)

Jika Anda telah mengatahui bahwa orang-orang kafir yang bodohpun memahami hal itu, maka sangat mengherankan jika ada orang yang mengaku muslim, tetapi tidak mengetahui tafsir dari kalimat [Laa Ilaha Illallah] yang diketahui oleh orang orang kafir yang bodoh itu. Bahkan dia mengira bahwa kalimat [Laa Ilaha Illallah] cukup diucapkan saja huruf-hurufnya saja tanpa meyakini sesuatupun dari

maknanya.

Sedangkan orang intelektual dari mereka mengira bahwa makna Laa Ilaha Illallah yaitu:tidak ada yang menciptakan, memberi rizki dan mengatur segala urusan kecuali Allah. Karena itu, tidak ada kebaikan sama sekali [pengetahuan] seseorang yang orang-orang kafir lebih mengetahui daripadanya

tentang makna Laa Ilaha Illallah.

Jika Anda memahami apa yang saya uraikan dengan pemahaman yang sesungguhnya, dan Anda juga mengetahui jenis syirik yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya:

 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendakinya” (An-Nisaa’:48)

Dan jika Anda telah mengetahui agama yang dengannya Allah mengutus para rasul dari sejak awal hingga paling akhir, yang Allah tidak menerima agama selain daripadanya. Dan Anda juga mengetahui pula kebodohan yang menimpa sebagian besar manusia terhadap masalah ini, niscaya Anda akan mendapatkan 2 pelajaran:

I. Merasa senang dengan karunia Allah dan rahmat Allah, sebagaimana firman-

Nya:

“Katakanlah:’Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka

bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang

mereka kumpulkan” (Yunus:58)

II. Mempunyai rasa takut yang besar. Karena, jika Anda mengetahui bahwa

seseorang bisa kafir lantaran kata-kata yang diucapkannya, bahkan terkadang

kata-kata itu ia ucapkan sementara ia tahu bahwa kata-kata itu bisa membuatnya

kafir, tetapi ketidaktahuannya tidaklah dapat diterima sebagai alasan. Terkadang

pula ia mengucapkan kata-kata-itu seraya mengiranya dapat mendekatkan dirinya

kepada Allah, sebagaimana yang dikira oleh orang-orang musyrik; khususnya jika

Allah memberi ilham kepada Anda tentang kisah kaum nabi Musa Alaihi Salam,

padahal mereka itu orang-orang shaleh dan berpengetahuan, mereka datang

kepada Musa Alaihi Salam sambil mengatakan:

“Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai

beberapa tuhan (berhala).”(Al-A’raf:138).

Maka hal-hal itu akan memperbesar rasa takut Anda, sekaligus Anda akan

berusaha sekeras mungkin agar terbebas dari berbagai hal tersebut dan yang

sejenisnya.

Dan ketahuilah, Allah Subhanahu WaTa’ala, karena hikmah-Nya tidak mengutus

seorang nabi pun dengan membawa tauhid ini kecuali Dia menjadikan beberapa

musuh untuknya, sebagaiman firman-Nya:

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan

(dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikan kepada

sebagian yang lain perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia agar tidak

beriman kepada nabi).”(Al-An’am:112).

Terkadang musuh-musuh tauhid itu banyak memiliki ilmu, macam-macam

pustaka dan berbagai argumentasi, sebagaimana disebutkan Allah Ta’ala dalam

Firman-Nya:

“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka

dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan (ilmu)

pengetahuan yang ada mereka.”(Al-Mu’min:83).

Jika Anda telah mengetahui hal-hal di atas juga telah mengetahui bahwa jalan

kepada Allah itu pasti ditentang oleh musuh, baik dari kalangan ahli orasi, kaum

intelektual maupun mereka yang pandai adu argumentasi. Oleh karena itu, Anda

wajib memahami agama Allah, sehingga mengerti apa yang mesti Anda jadikan

senjata dalam memerangi setan-setan tersebut, yang mana pemimpin dan tokoh

mereka (iblis) telah berikrar di hadapan Tuhan:

“Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang

lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang

mereka, dari kanan dan kiri mereka …”(Al-A’raf:16-17)

Namun, jika Anda takut menghadap menuju Allah, lalu Anda mendengarkan

secara seksama hujjah-hujjah Allah dan berbagai keterangan-Nya, maka Anda

jangan merasa takut atau sedih, sebab:

 “Sesungguhnya tipu daya setan adalah lemah.”(An-Nisa’:76).

Seorang awam dari ahli tauhid bisa mengalahkan seribu intelektualnya orang

musyrik, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Dan sesungguhnya tentara Kami (rasul beserta para pengikutnya) itulah yang pasti

menang.”(Ash-shaffat:173).

Para tentara Allah itu pasti menang dengan hujjah dan lisan, sebagaimana mereka

menang dengan pedang dan tombak. Hanya saja, yang ditakutkan seorang

muwahhid (yang mengesakan Allah) menapaki jalan tanpa bekal senjata. Padahal

Allah telah mengaruniai kita dengan kitab suci-Nya untuk menjelaskan sesuatu,

sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin.

Oleh karena itu, pembawa kebatilan tidak akan dapat mendatangkan hujjah

kecuali di dalam Al-Qur’an telah tercantum jawaban yang membatalkannya dan

menjelaskan kebatilannya, sebagaiman firman-Nya:

“Tidaklah orang kafir itu datang kepada kamu (membawa) sesuatu yang ganjil

melainkan Kami datang kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik

penjelasannya.”(Al-Furqan:33).

Sebagian ahli tafsir mengatakan: ”Ayat ini bersifat umum, yakni dalam setiap

hujjah yang disampaikan oleh para ahli kebatilan sampi hari kiamat.” ( 4)

Saya akan sebutkan kepada Anda beberapa hal yang telah disebutkan Allah dalam

kitab-Nya sebagai jawaban atas apa yang dijadikan hujjah kaum musyrikan

kepada kita pada zaman ini. Kami katakan : Menjawab orang-orang musyrik itu

ada dua metode, secara mujmal (global) dan secara mufashshal (rinci).

Adapun jawaban secara mujmal, merupakan perkara agung dan bermanfaat besar

sekali bagi orang-orang yang mau memikirkannya. Yaitu firman Allah Ta’ala:

“Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepadamu. Di antara (isi)nya ada

ayat-ayat muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat)

mutasyabihat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya condong kepada

kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya

untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya.”(Ali Imran:7).

Dan dalam hadits shahih, Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda:

“Jika kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat

daripadanya, maka mereka itulah orang-orang yang disebut Allah (dengan sebutan

“dalam hatinya condong kepada kesesatan”), Oleh karena itu, waspadalah

terhadap mereka.” (5)

Sebagai contoh, apabila ada orang musyrik mengatakan : Allah berfirman:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran kepada

mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”(Yunus:62).

Atau berdalil bahwa syafaat itu adalah benar adanya dan bahwa para nabi itu

mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah, atau menyebut suatu ucapan Nabi

Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam yang ia gunakan sebagai dalil bagi

kebathilannya, sedangkan ia tidak memahami makna ucapan yang ia sebutkan

itu, maka hendaklah Anda menjawab:

Sesungghuhnya Allah telah menyebutkan dalam kitab-Nya Al-Qur’an bahwa

seseorang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan itu meninggalkan ayat ayat

muhkamat dan mengikuti ayat-ayat mutasyabihat. Dan apa yang saya

ungkapkan kepada Anda bahwa Allah menyatakan, orang-orang musyrikin itu

mengakui rububiyah Allah, dan bahwa kekufuran mereka itu disebabkan oleh

ketergantungan mereka terhadap malaikat, nabi, dan para wali, dengan ucapan

mereka:

“Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.”(Yunus:18).

Hal ini adalah perkara yang muhkam (terang dan mudah dipahami), lagi jelas, tak

seorangpun yang kuasa mengubah maknanya. Sedang apa yang Anda sebutkan

kepada kami, wahai orang-orang musyrik, baik dari Allah maupun dari As-Sunnah

yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam maka kami tidak

mengetahui maknanya. Tetapi kami bisa memastikan, bahwa firman-firman Allah

itu tidak akan saling bertentangan, dan sabda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi

Wasallam tidak ada yang bertentangan dengan firman Allah Azza wa Jalla. Ini

adalah jawaban yang baik dan benar .(6)

Tetapi hal itu tidak akan dipahami kecuali oleh orang-orang yang diberi taufik oleh

Allah, maka Anda jangan meremehkannya, karena Allah berfirman :

“Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan kepada orang-orang yang sabar

dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai

keberuntungan besar.”(Fushshilat:35).

Adapun jawaban mufashshal (rinci) yaitu bahwasanya musuh-musuh Allah tidak

memiliki banyak cara untuk menolak agama para rasul yang dengannya mereka

menghalang-halangi manusia dari agama. Di antaranya mereka mengatakan :

Kami tidak menyekutukan Allah, bahkan kami bersaksi tidak ada yang

menciptakan, memberi rizki dan memberi manfaat atau madharat keculai Allah

semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu

alaihi Wasallam tidak bisa memberikan manfaat atau menimpakan bahaya,(7)

apalah lagi Syaikh Abdul Qadir (8)  atau lainnya. Tetapi kami adalah orang-orang

berdosa, sedangkan orang-orang shaleh itu memiliki kedudukan dan kemulian di

sisi Allah , karena itu kami meminta kepada Allah melalui mereka (9).”

Untuk menjawabnya adalah seperti yang dikemukakan di muka, yaitu

bahwasanya orang-orang yang diperangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

mereka itu juga mengakui dengan apa yang Anda sebutkan, mereka juga

mengakui bahwa patung-patung yang mereka sembah itu tidak bisa mengatur

suatu apapun, tetapi mereka inginkan dari patung-patung itu (yang biasanya

merupakan simbol orang-orang shaleh) kedudukan dan syafa’at di sisi Allah.

Kemudian bacakanlah dalil-dalil yg sudah disebutkan dan diterangkan Allah

dalam Kitabnya.(10)

Jika dia mengatakan : Ayat-ayat (yang Anda sebutkan ) itu adalah ditujukan

untuk para penyembah patung-patung, bagaimana Anda menyamakan orangorang

shaleh itu dengan patung-patung? Atau bagaimana Anda menjadikan para

nabi itu seperti patung-patung?

Jawabannya adalah seperti di muka. Jika dia mengakui bahwa orang-orang kafir

itu bersaksi bahwa seluruh rububiyah adalah milik Allah, dan bahwa mereka itu

tidak menghendaki terhadap apa yang mereka tuju dari sesembahan itu selain

syafaat. Namun, jika dia masih bersikeras membedakan antara perbuatan orang orang

kafir itu dengan perbuatan dirinya, maka katakanlah bahwa di antara

orang-orang kafir itu ada yang berdoa kepada patung-patung, ada pula yang

berdoa kepada para wali, sebagaimana difirmankan Allah:

 “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan

mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)”(Al-Isra:57).

Ada pula yang menyeru kepada Isa bin Maryam dan ibunya, padahal Allah Ta’ala

telah berfirman:

“Al- Masih (Isa) putera Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya

telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar,

keduanya biasa memakan makanan. Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan

kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah

bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). Katakanlah:

‘Mengapa kamu menyembah selain dari pada Allah, sesuatu yang tidak bisa

memberi madharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?’ Dan Allahlah

Yang Mah Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(Al-Maidah:75-76).

Kemudian disebutkan pula firman Allah :

“Dan (ingatlah) hari (yang diwaktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya

kemudian Allah berfirman kepada malaikat: ‘Apakah mereka ini dahulu menyembah

kamu?’ Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau, Engkaulah pelindung

kami, bukan mereka, bahkan mereka telah menyembah jin ; kebanyakan mereka

beriman kepada jin itu.”(Saba’:40-41).

“Dan (ingatlah), ketika Allah berfirman” ‘Hai Isa putera Maryam, adakah kamu

mengatakan kepada manusia : ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain

Allah?’ Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau , tidaklah patut bagiku mengatakan apa

yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya tentulah

Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan

aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Maha

Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.”(Al-Maidah:116).

Lalu katakanlah padanya : Bukanlah (dengan ayat-ayat di atas) Anda mengetahui

bahwa Allah mengkafirkan orang-orang yang menyembah berhala, juga

mengkafirkan pula orang-orang yang berdoa kepada orang-orang shaleh dan

bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerangi mereka?

Jika mereka berkata: Orang-orang kafir itu mengharapkan dari yang mereka

sembah (orang-orang shaleh), sedangkan saya bersaksi bahwasanya Allah adalah

Dzat yang memberi manfaat dan menimpakan madharat, Dialah yang mengatur

segala sesuatu. Karena itu saya tidak mengharapkan kecuali daripada-Nya.

Adapun orang-orang shaleh maka mereka tidak memiliki apapun, hanya saja saya

tujukan doa itu kepada mereka dengan harapan agar mereka memberi syafaat

bagiku di sisi Allah.

Jawaban argumentasi ini: Bahwasanya seperti itu adalah sama saja dengan

ucapan orang-orang kafir. Bacakanlah kepadanya firman Allah :

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): ‘Kami tidak

menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah

dengan sedekat-dekatnya.”(Az-Zumar:3).

Dan firman Allah:

“Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.”(Yunus:18).

Ketahuilah, ketiga syubhat tersebut (11) adalah syubhat yang paling besar yang ada

pada mereka.

Jika Anda mengetahui bahwa Allah telah menjelaskan semuanya itu di dalam Al-

Qur’an dan Anda telah memahaminya dengan baik maka berbagai syubhat selain

itu adalah lebih mudah dan lebih ringan. Kalaupun dia berkata: Saya tidak pernah

menyembah kecuali Allah. Demikian pula berlindung dan berdoa kepada mereka

bukanlah ibadah. Maka katakanlah: Anda mengakui bahwa Allah mewajibkan

kepadamu pemurnian ibadah hanya untuk-Nya, dan itu merupakan hak-Nya

atasmu. Jika dia tidak mengetahui hakekat ibadah dan macam-macamnya maka

jelaslah dengan mengutip firman Allah:

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.

Sesungguhnya, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”(Al-

A’raf:55).

Jika ayat-ayat di atas telah Anda beritahukan kepadanya maka katakanlah :

Bukankah Anda mengerti bahwa berdoa merupakan ibadah, kepada Allah? Ia

tentu akan menjawab, “ya”. Dan doa adalah otak (inti) ibadah.(12)  Lalu katakanlah :

jika Anda mengakui bahwa berdoa adalah ibadah, sehingga Andapun berdoa

kepada Allah sepanjang siang dan malam dengan penuh harap dan cemas, tetapi

pada keperluan (permohonan) yang sama Anda juga berdoa kepada nabi atau

selainnya, bukankah dengan begitu Anda telah menyekutukan Allah dengan

selain-Nya dalam beribadah kepada-Nya? Ia mesti mengatakan, “ya”. Lalu

katakanlah : jika Anda mengamalkan firman Allah:

 “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah kurban.”(Al-Kautsar:2).

Sehingga Anda mentaati Allah dan berkurban untuk-Nya, bukankah ini ibadah? Ia

pasti menjawab, “ya”. Maka katakalah jika Anda berkurban untuk makhluk, nabi,

jin atau lainnya, bukankah dengan demikian  telah menyekutukan Allah

dalam beribadah kepada-Nya? Ia pasti mengakui dan menjawab : “ya”. Lalu

katakanlah pula : Orang-orang musyrik yang Al-Qur’an turun berbicara tentang

mereka, apakah mereka menyembah malaikat, orang-orang shaleh, Latta dan

selainnya? Ia mesti menjawab, “ya”.

Lantas katakanlah: Bukanlah ibadah orangorang musyrik kepada mereka itu kecuali dalam bentuk doa (permohonan), kurban (penyembelihan) dan berlindung kepada mereka serta sejenisnya? Jika tidak, maka orang-orang musyrik itu mengakui bahwa Allahlah yang mengatur segala urusan . namun, doa dan perlindungan mereka kepada [para malaikat, jin, orang-orang shaleh dan sejenisnya itu hanyalah karena mereka (yang diminta) itu memiliki kedudukan dan syafaat. Ini jelas sekali.

Jika dia berkata: Apakah mereka mengingkari syafaat Rasulullah Shallallahu

alaihi Wasallam dan berlepas diri daripadanya? Maka jawablah: tidak, saya tidak

mengingkarinya, juga saya tidak berlepas diri daripadanya, bahkan saya meyakini,

beliau adalah Asy-Syaafi’ (yang memberi syafaat) dan Al-Musyaaffa’ (yang

diperkenankan syafaatnya)13 dan saya sangat mengharapkan syafaat beliau , tetapi

syafaat itu semuanya kepunyaan Allah semata, sebagaimana firman Allah:

“Katakanlah: ‘Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya.”(Az-Zumar:44).

“Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa seizin-Nya?”(Al-

Baqarah:255).

Juga beliau tidak dapat memberi syafaat kepada seorangpun kecuali Allah telah

mengizinkan untuk memberi syafaat kepada orang itu. Allah berfirman:

“Dan mereka tidak dapat memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai

Allah.”(Al-Anbiya:28).

Sedangkan Allah sendiri hanya ridha kepada tauhid, seperti yang di firmankan-

Nya:

“Siapa mencari agama selain agama Islam maka sekali-kali tidaklah akan diterima

(agama itu) dari padanya.”(Ali Imran:85).

Jadi, jika syafaat itu semuanya milik Allah dan tidak akan diberikan kecuali

setelah mendapatkan izin-Nya, dan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi

Wasallam serta orang lain tidak akan memberi syafaat kepada seseorang kecuali

setelah Allah mengizinkan kepadanya, serta bahwa Allah tidak memberi izin

kecuali bagi ahli tauhid; jelaslah bagi Anda bahwa syafaat itu semuanya adalah

milik Allah Ta’ala , maka saya pun memohon dari-Nya dengan berdoa:

“Ya Allah janganlah Engkau haramkan atasku syafaatnya (Muhammad), ya Allah

perkenankanlah syafaatnya bagi diriku.”

Dan doa-doa yang sejenis.

Jika dia berkata: Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam diberi hak syafaat,

dan saya memohon kepada beliau apa yang telah diberikan Allah kepadanya.

Maka jawablah: Allah memberi syafaat dan Allah melarangmu memohon

langsung kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam dengan firman-Nya

:

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu kepunyaan Allah, maka janganlah kamu

berdoa kepada seorangpun di samping (berdoa kepada) Allah.”(Al-Jin:18).

Jika Anda berdoa kepada Allah agar memperkenankan syafaat Nabi untuk Anda,

maka taatilah firman Allah :

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu kepunyaan Allah, maka janganlah kamun

berdoa kepada seorangpun di samping (berdoa kepada) Allah.”(Al-Jin:18).

Hak syafaat itu juga diberikan kepada selain Nabi Muhammad Shallallahu alaihi

Wasallam. Maka benar, bahwa para malaikat akan memberi syafaat, al afrath 14

(anak-anak kecil) akan memberi syafaat, juga para wali akan memberi syafaat 15.

Lalu apakah dengan demikian Anda akan berkata: jika Allah memberi hak syafaat

kepada mereka maka saya akan meminta syafaat kepada mereka? Jika ini yang

Anda katakan berarti Anda kembali melakukan penyembahan kepada orang-orang

shaleh, sebagaimana yang disebutkan Allah dalam Kitab Suci-Nya.

Dan jika Anda katakan,”tidak” berarti batalah ucapan Anda terdahulu, “Allah memberinya (Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam) hak syafaat maka kepada beliau sebagian dari apa yang diberikan Allah itu padanya.”

Jika dia berkata: Saya sama sekali tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu.

Sakali-kali tidak! Namun berlindung kepada orang-orang shaleh bukanlah

termasuk syirik. Maka jawablah: jika Anda mengakui bahwa Allah mengharamkan

syirik melebihi pengharaman zina dan Anda pun mengakui bahwa Allah tidak

akan mengampuninya, maka soal apakah yang diharamkan Allah itu serta yang

disebut-sebut tidak akan diampuni-Nya? Pasti dia tidak akan tahu.

Maka katakanlah: Bagaimana Anda akan membersihkan diri Anda dari syirik sementara

Anda sendiri tidak mengetahui apa itu syirik? Bagaimana Allah akan mengaharamkan sesuatu kepada Anda dan Dia menyebutkan bahwa sesuatu itu  tidak akan diampuni-Nya, lalu Anda tidak mau menanyakan dan tidak mau tahu tentangnya? Apakah Anda mengira bahwa Allah mengharamkan sesuatu dan tidak menjelaskannya kepada kita?

Bersambung……

Sumber : Dicopy dari http://www.perpustakaan-islam.com

Foot Note :

1 Yang dimaksud disini adalah tauhid uluhiyah, Allah berfirman [artinya]:”Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun

sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: bahwa tidak ada illah melainkan Aku, maka sembahlah Aku” (Al-Anbiya:25)

2 Dalam Shahih Bukhari disebutkan tentang hadits syafa’at:”…Datanglah kalian kepada Nuh, Rasul pertama yang diutus oleh Allah…”

3 Yakni Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam menghancurkan patung-patung ketika Yaumul-Fath, membersihkan patung dan gambar di Ka’bah.

4 Saya nasehatkan agar membaca kitab “Tahkiimun Naazhir bimaa jaraa minal Ikhtilaaf baina Ummati Abil Qaasim Shallallahu Alaihi wa Sallam”, karya Shalih bin Ahmad. Kitab ini sangat penting untuk memangkas hujjah-hujjah para ahli kebatilan dari kalangan yang suka bertaklid buta dalam persoalan aqidah dan hukum. Kitab ini diterbitkan oleh Universitas Islam, Madinah Munawwarah.

5 diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, (Fathul Bari 8/57 no. 4547); Muslim no. 2127 dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Mukhtashar Al Mundziri; Shahih Sunan Tirmidzi (2932) dari Aisyah.

6 Sebab para ahli kebenaran memahami Allah dan As-Sunnah berdasarkan pehaman para salaf yang terdiri dari para sahabat dan para tabi’in, karena itulah pemahaman mereka-dengan izin Allah-tidak sesat.

7 Berdasarkan firman Allah Ta’ala , artinya;”Katakanlah (hai Muhammad ):’Aku tidak berkuasa memberi kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan di timpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pemberi kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.”(Al-A’raf:188).

Dan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam kepada keluarga dan kaumnya:”Aku tidak berguna sama sekali bagi kalian di sisi Allah.”

Dan sabda beliau kepada Fatimah:”Wahai Fatimah binti Muhammad Shallallhu Alaihi Wasallam, mintalah padaku apa saja yang kau kehendaki dari hartaku, (tetapi) aku tidak berguna sama sekali bagimu di sisi Allah.”(Fathul Bari, 8/360, hal 3771 dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu).

8 Beliau adalah Syaikh Imam Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi Shalih Al-Jailani, seorang ahli zuhud terkenal. Beliau memilik banyak karamah , ilmu dan ma’rifat, syaikh dalam madzab Hambali. Beliau berkelana ke Baghdad saat usia masih belia. Dan sana ia belajar hadits kepada Al Baqillani, Ja’far As Siraj dan Abu Bakar bin Suus, kemudian belajar adab (sastra) kepada Abu Zakaria At Tirmidzi dan lainnya.

9 Maksudnya menjadikan mereka sebagai perantara, yakni perantara antara dirinya dengan Allah Yang Maha Dekat lagi Maha mengabulkan. Dan inilah yang dilakukan oleh para pemuja orang-orang mati. Hal tersebut adalah suatu kekufuran

berdasarkan ijma’ ulama. (Ibnu Mani’).

10 Yakni ayat-ayat yang menunjukkan bahwa para penyembah patung-patung itu mengakui apa yang disebutkan Allah (tentang rububiyah Allah, pent.), tetapi meski demkian Allah mengkafirkan mereka, membatilkan agama yang mereka anut, dan memerintahkan Rasul-Nya agar memerangi mereka.

11 Pertama , ucapan mereka: kami tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun; kedua, ucapan mereka bahwa ayat ayat tersebut diturunkan dan ditujukan untuk orang-orang yang menyembah berhala; ketiga, orang-orang kafir mengharapkan dari mereka (tidak sekedar sebagai pemberi syafaat). (Ibnu Mani’).

12 Berdasarkan hadits Anas dalam Sunan Tirmidzi (9/310, At-Tuhfah) dengan sanad dhaif, di dalamnya terdapat Ibnu Lahi’ah dan dia adalah orang yang jelek hafalannya. Lihatlah takhrij Al-Misykaat(no. 2331) dan Dha’iiful Jami’ (no. 3003)oleh Syaikh Al-Albani. Adapun hadits senada yang shahih adalah hadits Anda Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhuma dengan lafaz: “ Doa itu adalah ibadah”

Dikeluarkan oleh Tirmidzi (9/311,At-Tuhfah) bab (no. 2370) Shahih Tirmidzi, (no. 2590) bab tafsir, (no. 2685) bab Maa Jaa’a fi Fadhlid Du’Allah, Shahih Ibjnu Majah (no. 3086) bab Fadhlud Du’Allah, dan dikeluarkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/491) dengan menyatakannya shahih dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.

13 Berdasarkan hadits Anas Radhiyallahu’anhu :Saya adalah orang yang pertama kali memberi syafaat dan diperkenankannya syafaatnya.” (Hadits shahih dengan berbagai bukti pendukungnya, lihatlah Zhilalul Jannah fi Takhriijis Sunnah, no. 792, oleh syaik Al-Albani. Dan syaik Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I telah mengumpulkan hadits-hadits

semacam ini dalam kitab Asy-Syafa’Al-Hadits, cet. Daar Thaibah, Riyadh).

14 Al-Afrath maksudnya adalah anak-anak kecil. Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda:

“Tidaklah seorang muslim dari golongan manusia yang kematian tiga anaknya yang belum sampai baligh kecuali Allah memasukannya ke dalam surga karena rahmat-Nya kepada mereka.”(Riwayat Al Bukhari, 3/142 no. 1248, Fathul Bari)

15 Berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu’anhu yang diriwayatkan secara marfu’, Nabi bersabda:”Allah Ta’ala berfirman : Para malaikat telah memberikan syafaat , juga para nabi dan orang-orang mu’min telah memberi syafaat. Tiada lagi setelah itu kecuali Tuhan yang Maha Pengasih, maka Dia menggenggam satu genggaman dari Neraka, lalu Dia keluarkan darinya suatu kaum yang belum pernah berbuat suatu kebaikan apapun.” (Hadits riwayat Muslim, 1/115-116; Ahmad, 3/94. lihatlah Al-Aqidah Ath-Thahaawiyah, takhrij Syaikh Al-Albani, hal. 120 260 dan Hukmi

Taarikish Shalat, oleh Al-Albani).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: