KASYFUSY SYUBHAATU FIT TAUKHIIDU ( Syubhat-syubhat Tauhid ) tamat

Syubhat – syubhat  Tauhid

Jika dia berkata: Saya sama sekali tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu. Sakali-kali tidak! Namun berlindung kepada orang-orang shaleh bukanlah termasuk syirik.

Maka jawablah: jika Anda mengakui bahwa Allah mengharamkan syirik melebihi pengharaman zina dan Anda pun mengakui bahwa Allah tidak akan mengampuninya, maka soal apakah yang diharamkan Allah itu serta yang disebut-sebut tidak akan diampuni-Nya? Pasti dia tidak akan tahu.

Maka katakanlah: Bagaimana Anda akan membersihkan diri Anda dari syirik sementara
Anda sendiri tidak mengetahui apa itu syirik? Bagaimana Allah akan mengaharamkan sesuatu kepada Anda dan Dia menyebutkan bahwa sesuatu itu tidak akan diampuni-Nya, lalu Anda tidak mau menanyakan dan tidak mau tahu tentangnya? Apakah Anda mengira bahwa Allah mengharamkan sesuatu dan tidak menjelaskannya kepada kita?

Jika dia mengatakan: Syirik adalah penyembahan kepada berhala, sedang kami tidak menyembah berhala itu. Maka jawablah: apa makna menyembah berhala?16

Apakah Anda mengira mereka mempercayai bahwa kayu-kayu dan batu itu yang mencipatakan, memberi rizki dan yang mengatur segala urusan orang-orang yang memujanya?

Hal itu sungguh didustakan Al-Qur’an itu sendiri.17 Jika dia berkata:

menyembah berhala maksudnya adalah memuja kayu, batu, atau bangunan pada
kuburan atau sejenisnya, dimana para pemujanya memohon juga
mempersembahkan sembelihan untuk sesembahannya seraya orang-orang itu
mengatakan (meyakini) sesembahan mereka itu bisa lebih mendekatkan diri
mereka kepada Allah dan bahwa Allah akan menolak bahaya dari mereka karena
berkah dari sesmbahan yang mereka puja atau memberikan mereka sesuatu
karena berkah sesembahan itu pula.

Maka katakanlah: Anda benar! Dan itulah perbuatan Anda terhadap batu-batu bangunan-bangunan yang di atas kuburan atau lainnya. Ia juga mengakui bahwa perbuatan mereka sebagai penyembahan
terhadap berhala-berhala, dan itulah yang dimaksud.

Juga hendaknya dikatakan kepadanya: Ucapan Anda bahwa syirik adalah menyembah berhala ; Apakah yang dimaksud itu berarti bahwa syirik hanya khusus pada masalah tersebut? Dan bahwa bergantung kepada orang-orang shaleh serta meminta kepada mereka tidak masuk di dalamnya?

Jika demikian, berarti ia menolak apa yang disebutkan Allah dalam kitab suci-Nya, tentang
kekafiran orang-orang yang bergantung kepada malaikat, Isa atau kepada orangorang
shaleh. Orang itu mesti mengakui di hadapan Anda bahwa siapa yang menyekutukan dalam Ibadah kepada Allah dengan seseorang dari kalangan orang orang shaleh maka hal ini termasuk syirik yang disebutkan dalam Al-Qur’an, dan itulah yang dimaksud.

Rahasia persoalan ini adalah jika dia mengatakan: Saya tidak melakukan syirik
kepada Allah. Maka tanyakan padanya: Apa sebenarnya syirik kepada Allah itu?

tolong jelaskan! Jika dia menjawab: Syirik yaitu penyembahan berhala, maka
tanyakanlah: Apa makna penyembahan berhala itu? Jelaskan! Jika dia menjawab:
Saya tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah semata, maka tanyakanlah:
Apa makna menyembah kepada Allah semata, jelaskan kepadaku! Jika dia
menjelaskan sebagaimana yang dijelaskan Al-Qur’an maka itulah yang dimaksud.

Tetapi jika dia tidak mengetahuinya, maka bagaimana mungkin ia mengakui sesuatu sementara ia tidak mengetahuinya? Dan jika dia menjelaskan tidak sesuai dengan maknanya maka Anda harus menjelaskan padanya ayat-ayat yang menerangkan tentang makna syirik kepada Allah dan makna penyembahan
berhala. Dan tegaskan hal yang sama itulah yang dilakukan oleh orang-orang pada zaman sekarang ini.

Jelaskan pula bahwa “ibadah kepada Allah semata dengan tidak menyekutukan-Nya” itulah yang membuat mereka ingkar kepada kami dan berteriak sebagaimana kawan-kawan mereka (orang-orang jahilayah) telah berteriak seraya mengatakan:

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini
benar-benar suatu hal yang mengherankan.”(Shad:5).

Jika dia berkata : sesungguhnya mereka itu tidak kafir karena mereka meminta
kepada para malaikat dan para nabi tetapi karena mereka mengatakan bahwa
para malaikat adalah anak-anak permpuan Allah.

Sedangkan kami tidak mengatakan : Abdul Qadir Jailani itu putera Allah atau lainnya. Maka jawabannya adalah: Sesungguhnya pernyataan bahwa Allah mempunyai anak adalah suatu jenis kekufuran tersendiri. Allah berfirman:

“Katakanlah: ‘Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung
kepada-Nya segala sesuatu.”(Al-Ikhlas:1-2).

Al-Ahad (Esa) artinya yang tidak ada yang semisalnya, sedangkan Ash-Shamad
(tempat bergantung) maksudnya yang dituju untuk memenuhi berbagai
kebutuhan,18 barang siapa mengingkari hal ini maka dia telah kafir, meskipun dia
tidak mengingkari keberadaan surat itu. Dan Allah berfirman:

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak tidak ada tuhan (yang lain) beserta-
Nya.”(Al-Mukminun:91).

Karena itu, antara keduanya terdapat perbedaan jelas, sehingga Allah menjadikan
masing-masing sebagai suatu kekufuran yang berdiri sendiri. Allah Ta’ala
berfirman:

“Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal
Allah lah yang menciptakan jin itu dan mereka mendustakan (dengan mengatakan):
‘Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan,’ tanpa (berdasar)
ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka
berikan.”(Al An’am:100).

Karenanya, dua jenis kekufuran itu amatlah berbeda.

Dalil lain dari masalah ini adalah bahwa orang-orang yang kafir karena memuja
Latta, padahal ia adalah seorang yang shaleh, mereka tidak menjadikannya
sebagai putera Allah; demikian juga dengan orang-orang yang kafir karena
menyembah jin itu sebagai putera Allah.

Semua ulama dari empat madzab menyebutkan dalam bab “Hukum orang Murtad” bahwa seorang muslim yang mengira Allah memiliki anak maka dia telah murtad.

Dan mereka membedakan antara dua jenis kekufuraan tersebut. Ini sungguh jelas sekali.
Jika dia membawakan ayat:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(Yunus:62).

Maka katakanlah: Inilah yang benar, tetapi mereka itu tidak disembah. Padahal
kami tidak menyebutkan kecuali bahwa Allah dan mereka menjadikan para wali
itu sebagai sekutu Allah. Sementara wajib bagi Anda mencintai, mengikuti dan
mengakui karamah mereka. Dan sungguh tidak ada orang yang mengingkari
karamah para wali kecuali ahli bid’ah dan orang-orang sesat.

Agama Allah adalah pertengahan antara dua ujung, petunjuk antara dua kesesatan serta kebenaran antara dua kebatilan.

Jika Anda sudah mengetahui bahwa hal yang dinamakan oleh orang-orang
musyrik pada zaman kami ini dengan sebutan “al-i’tiqaad” merupakan syirik yang dimaksud dalam Al-Qur’an dan karenanya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memerangi manusia, maka ketahuilah bahwa bentuk syirik orang-orang terdahulu itu lebih ringan dari bentuk syirik orang-orang zaman kami ini. Dan itu karena dua hal:

Pertama: orang-orang terdahulu tidak menyekutukan Allah serta tidak memohon
kepada para malaikat, wali dan patung-patung di samping menyembah dan
memohon Allah kecuali dalam keadaan senang. Adapun dalam keadaan kesulitan
maka mereka hanya memurnikan permohonan kepada Allah semata, seperti
ditegaskan dalam firman-Nya :

“Dan bila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru
kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan kamu berpaling.
Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih (Al-Isra’ :67)

“Katakanlah: ’Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu atau
datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah, jika
kamu orang-orang yang benar! (tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka
Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia
menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan
(dengan Allah).”(Al-An’am:40-41).

“Dan bila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada
tuhannya dengan kembali pada-Nya, kemudian bila Tuhan memberikan ni’mat-Nya
kepadanya lupalah ia akan kemudharatan yang pernah ia berdoa (kepada Allah)
untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu
bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah:

‘Bersenangsenanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu. Sesungguhnya, kamu
termasuk penghuni Neraka.”(Az Zumar:8).

“Dan bila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah
dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.”(Luqman:32).

Maka barang siapa yang sudah memahami masalah ini sebagaimana yang
dijelaskan Allah dalam Kitab Suci-Nya, yaitu bahwasanya orang-orang musyrik
yang diperangi Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam adalah orang-orang yang
berdoa (memohon) kepada Allah dan berdoa pula kepada selain Allah dalam
keadaan senang. Adapun dalam keadaan susah dan kesulitan maka mereka hanya
berdoa kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan mereka melupakan
sayid-sayid mereka. Dari sini jelaslah perbedaan syirik orang-orang sekarang
dengan syirik orang-orang terdahulu. Namun, adakah orang yang hatinya
memahami masalah ini secara mendalam? Hanya Allah-lah tempat memohon
pertolongan.

Kedua: Orang-orang terdahulu, di samping menyeru kepada Allah mereka juga
kepada orang-orang yang dekat dengan Allah, baik para nabi, wali atau malaikat.
Juga ada yang menyeru batu-batu atau pohon-pohon yang semuanya itu ta’at
kepada Allah dan tidak maksiat kepada-Nya. Adapun orang-orang pada zaman
kita, disamping kepada Allah, mereka pun menyeru kepada orang-orang yang
paling fasik di antara ummat manusia.

Orang-orang yang mereka seru itu adalah orang-orang yang menghalalkan perbuatan keji untuk mereka, seperti: berzina, mencuri, meninggalkan shalat atau lainnya. Sedang orang yang mempercayai manusia shaleh atau yang tidak berbuat maksiat seperti pohon atau batu tentu lebih ringan (dosanya) daripada orang yang mempercayai manusia yang diakui
kefasikan dan kebejatannya, serta terkenal karenanya.

Jika Anda telah mengetahui benar bahwa orang-orang musyrik yang diperangi oleh Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam lebih sehat akalnya dan lebih ringan syiriknya daripada mereka itu, maka ketahuilah bahwa mereka itu memilki syubhat yang mereka kemukakan sebagai jawaban dari apa yang telah kami sebutkan. Syubhat ini termasuk terbesar. Karena itu dengarkanlah baik-baik
jawaban dari syubhat tersebut.

Syubhat itu adalah, bahwasanya mereka mengatakan : Sesungguhnya orang-orang yang Al-Qur’an diturunkan berkenaan dengan mereka, tidak bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan mendustakan Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam, mereka pun mengingkari kebangkitan,mendustakan Al-Qur’an dan menganggapnya sebagai sihir. Sedang kami bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kami mempercayai Al- Qur’an, mengimani hari kebangkitan, kami juga shalat dan puasa.

Lalu bagaimana Anda menyamakan kami dengan orang-orang musyrik terdahulu?

Jawabannya adalah, bahwasanya tidak ada perbedaan pendapat di antara para
ulama jika seseorang membenarkan Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam dalam
suatu hal dan mendustakan beliau dalam hal lain, dia adalah kafir, tidak masuk
ke dalam agama Islam. Demikian pula jika ia mengimani sebagian Al-Qur’an dan
mengingkari sebagian yang lain.

Misalnya, seseorang mengakui tauhid tetapi mengingkari kewajiban shalat, atau sebaliknya, mengingkari puasa, atau mengakui semuanya tetapi mengingkari kewajiban haji, maka hukum orang seperti itu adalah kafir. Karena itu, ketika beberapa orang tidak menunaikan ibadah haji pada zaman Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam maka Allah langsung menurunkan wahyu tentang mereka:

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orangorang
yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah, barang siapa yang
mangingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak
memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”(Ali Imran:97).

Dan siapa yang mengakui semua hal tersebut di atas, tetapi mengingkari hari
kebangkitan maka dia telah kafir berdasrkan ijma para ulama, serta darah dan
hartanya menjadi halal. Sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan
bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya
dengan mengatakan: ‘Kami telah beriman kepada yang sebagian dan kami kafir
terhadap sebagian (yang lain), serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil
jalan (tengah) di antara yang demikian itu (iman atau kafir), merekalah orang-orang
yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu
siksaan yang menghinakan.”(An-Nisa’:150-151).

Jika Allah telah menegaskan dalam kitab-Nya bahwa siapa yang mengimani
sebagian dan mengingkari sebagian yang lain maka dia adalah orang kafir yang
sebenarnya. Dengan demikian, syubhat ini pun menjadi sirna. Dan hal inilah yang
dikemukakan oleh sebagian penduduk Ihsa’ (nama suatu tempat di daerah Saudi
Arabia) dalam surat yang dikirimkan kepada kami.

Katakanlah pula: jika Anda mengakui bahwa orang yang membenarkan Rasul
Shallallahu Alaihi Wasallam dalam segala hal, tetapi dia mengingkari kewajiban
shalat, maka dia telah kafir, dan darah serta hartanya menjadi halal berdasarkan
ijma’.

Demikian pula jika ia mengakui (mengimani) segala hal kecuali masalah hari
kebangkitan. Juga, jika dia mengingkari kewajiban puasa Ramadhan meskipun
mempercayai semua hal di atas, hukumnya adalah kafir. Semua madzab sepakat
dalam hal ini, dan Al-Qur’an pun telah membicarakannya, sebagaimana yang telah
kami jelaskan di muka.

Maka nyatalah bahwa tauhid merupakan kewajiban terbesar yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam; lebih besar dari kewajiban shalat, zakat, puasa dan haji. Lalu, bagaimana jika seseorang mengingkari salah satu perkara itu menjadi kafir, meskipun mengamalkan semua ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam, sementara tidak kafir orang yang mengingkari tauhid, padahal tauhid adalah agama para rasul? Maha Suci Allah , sungguh mengherankan kebodohan ini.

Katakanlah pula: Para shahabat Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam telah memerangi Bani Hanifah 19, padahal mereka telah masuk Islam bersama Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam, mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mereka juga melakukan adzan dan shalat.

Jika dia menyanggah: Masalahnya karena mereka mengatakan Musailamah itu seorang nabi. Jika seorang yang mengangkat seorang laki-laki sampai derajat Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam adalah kafir, halal darah dan hartanya, dan bahwa shahadat dan shalatnya tidak berguna, maka bagaimana pula dengan orang yang mengangkat Syamsan, Yusuf,20 seorang shahabat atau nabi ke derajat Tuhan Yang Menguasai langit dan bumi? Maha Suci Allah , alangkah besar masalahnya.

“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau)
memahami.”(Ar-Rum:59).

Katakanlah pula: orang-orang yang dibakar oleh Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu’anhu 21 semuanya juga mengaku sebagai muslim, mereka termasuk di antara shahabat Ali serta belajar ilmu dari para shahabat, akan tetapi mereka mempercayai tentang Ali Radhiyallahu’anhu sebagaimana kepercayaan sebagian orang kepada Yusuf atau Syamsan dan yang sejenisnya, maka bagaimana mungkin para shahabat bersepakat memerangi dan mengkafirkan mereka? Apakah Anda mengira para shahabat mengkafirkan ummat Islam? Apakah Anda mengira kepercayaan terhadap Ali bin Abi Thalib suatu kekufuran?

Katakan pula: Bani Ubaid Al Qaddah22 yang menguasai Maghrib dan Mesir pada zaman Bani Abbas, mereka semua bersaksi bahwa tiadak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Mereka mengaku beragama Islam, menunaikan shalat Jum’at dan shalat berjamaah. Akan tetapi tatkala mereka menampakan pertentangan terhadap syari’at, dalam
beberapa hal yang tidak sebesar apa yang sedang kita bicarakan ini, para ulama sepakat mengakafirkan dan memerangi mereka serta menyatakan bahwa negeri mereka adalah negeri Harb (yang boleh diperangi). Sehingga umat Islam pun menyerang mereka sampai dapat membebaskan negeri orang-orang Islam dari cengkeraman tangan mereka.

Juga katakan: Jika orang-orang terdahulu tidak kafir kecuali karena mereka sekaligus melakukan syirik dan pengingkaran terhadap Rasul Shallallhu Alaihi Wasallam, Al-Qur’an, hari kebangkitan dan masalah lainnya, lantas apa arti bab yang disebut oleh para ulama dengan “Bab Hukum Orang Yang Murtad” yaitu
orang Islam yang kafir setelah keislamannya, yang di dalamnya disebutkan berbagai perbuatan, yang melakukan salah satu perbuatan tersebut menjadi kafir, harta dan darahnya menjadi halal. Sampai disebutkan juga oleh mereka beberapa perbuatan remeh bagi orang yang melakukannya seperti mengucapkan suatu kalimat kufur dengan lisannya tanpa hatinya, atau menyebutkannya meski hanya
bersendau gurau dan main-main saja.

Katakan pula: Orang yang dimaksud oleh Allah dalam ayat-Nya:

“Mereka (orang-orang munafik) itu bersumpah atas (nama) Allah, bahwa mereka
tidak mengatakan sesuatu yang (menyakitimu). Sesungguhnya mereka
mengucapkan perkataan kekafiran dan telah menjadi kafir sesudah Islam.”(At-
Taubah:74).

Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah mengkafirkan mereka hanya karena
ucapan mereka, padahal mereka hidup di zaman Rasulullah Shallallahu alaihi
Wasallam, berjuang bersama beliau, membayar zakat, dan melaksanakan haji?

Demikian juga dengan orang-orang yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:
“Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu
berolok-olok?’ tidak usah kamu minta maaf karena kamu kafir sesudah
beriman.”(Taubah:65-66).

Allah dengan jelas mengkafirkan mereka setelah keimanan mereka, karena ketika
mereka bersama Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam dalam peperangan Tabuk
mengucapkan suatu kalimat kufur yang mereka ucapkan dengan main-main23.

Maka perhatikanlah syubhat ini dengan seksama, yaitu ucapan mereka: Apakah
kalian mengkafirkan orang-orang dari kaum muslimin yang bersaksi bahwa tiada
tuhan yang berhak disembah selain Allah, mendirikan shalat dan mengerjakan
puasa.

Kemudian perhatikanlah perhatikan jawaban yang telah dijelaskan, karena hal itu termasuk yang palaing besar manfaatnya dalam pembahasan buku ini.

Termasuk dalil yang menunjukan hal tersebut yaitu kisah yang disebutkan Allah
tentang bani Israil, bahwa dengan keislaman, keilmuan, dan kesalehan mereka,
mereka mengatakan kepada Nabi Musa Alaihi salam:

“Buatlah untuk kami tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa
tuhan.”(Al-Araf:138).

Dan ucapan sebagian shahabat, “Buatkan bagi kami Dzaatu Anwaath”. Maka
Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam pun bersumpah bahwa ucapan semacam
ini seperti ucapan Bani Israil terhadap Nabi Musa24 “buatlah bagi kami tuhan
(berhala)”.

Meski demikian, orang-orang musyrik masih saja menghembuskan
syubhat lain dengan mengatakan mengenai kisah ini bahwa Bani Israil tidak
menjadi kafir, demikian juga dengan orang-orang yang berkata kepada Nabi
Shallallhu Alaihi Wasallam “Buatkan bagi kami Dzaatu anwaath” tidak menjadi
kafir karena ucapan mereka itu.

Jawaban atas syubhat ini: bahwa Bani Israil saat itu belum sampai menyekutukan
Tuhan dengan mengambil tuhan selain Allah. Demikian juga dengan orang-orang
yang meminta kepada Nabi, belum sampai menjadikan Dzaatu Anwaath sebagai
tempat keramat mereka. Yang jelas, seandainya Bani Israil melakukan tersebut,
tentu mereka menjadi kafir. Juga dengan orang-orang yang telah dilarang oleh
Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam, seandainya mereka tidak mentaati Nabi dan
menjadikan Dzaatu Anwaath sebagai tempat keramat setelah mereka dilarang,
tentulah mereka menjadi kafir. Inilah yang dimaksud.

Namun, kisah ini juga menunjukan bahwa seorang muslim, bahkan seorang yang alim, kadang terjerumus dalam perbuatn syirik tanpa disadarinya. Jadi kisah ini memberikan
pelajaran dan sikap waspada, juga memberikan pengertian, orang yang bodoh
apabila mengatakan: “Saya sudah memahami tauhid” merupakan kebodohan yang
besar dan tipuan setan.

Pelajaran lain yang bisa diambil dari kisah di atas, yaitu seorang muslim yang berijtihad jika mengucapkan kata-kata kufur, tanpa disadarinya, lantas ia diperingatkan dan segera bertaubat dari perbuatannya itu, maka ia tidak menjadi kafir, haruslah diperingatkan dengan kata-kata yang keras sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam.

Masih ada lagi syubhat lain yang mereka kemukakan, kata mereka: Nabi
Shallallhu Alaihi Wasallam mengecam Usamah atas tindakannya membunuh
orang yang telah mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’ dan beliau bersabda: “Apakah
kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’.”25 Dan sabda
beliau: “Saya diperintahkan memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan
‘Laa ilaaha illallaah’.”26 Juga hadits-hadits yang lain mengenai perlindungan
terhadap orang yang mengucapkannya.

Menurut orang-orang bodoh itu, barang siapa yang telah mengucapkannya tidak
akan kafir, dan tidak boleh dibunuh, sekalipun melakukan perbuatan apa saja.

Jawaban terhadap orang-orang musyrik yang bodoh itu: Telah diketahui bahwa
Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam memerangi orang-orang Yahudi dan
menawan mereka, padahal mereka juga mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’.27 para
shahabat Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam juga memerangi Bani Hanifah padahal
mereka bersaksi ‘La ilaha illallaah-Muhammad Rasulullah’, mengerjakan shalat
dan mengaku beragama Islam. Demikian pula dengan orang-orang yang dibakar
Ali bin Abi Thalib.

Mereka yang bodoh ini mengakui bahwa orang yang mengingkari hari kebangkitan adalah kafir dan dibunuh, walaupun telah mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’, dan orang yang mengingkari salah satu dari
hukum Islam juga kafir dan dibunuh, meski telah mengucapkan kalimat tersebut.

Lalu bagaimana kalimat ini tidak berguna bagi orang yang mengingkari salah satu cabang dari ajaran Islam, tetapi berguna bagi orang yang mengingkari tauhid yang merupakan dasar dan sendi agama para rasul? Sungguh para musuh Allah ini tidak mengerti makna hadits-hadits tadi.

Adapun hadits Usamah, sesungguhnya ia membunuh orang yang mengaku Islam
karena menurut perkiraannya orang tersebut mengaku Islam hanyalah takut atas
jiwa dan hartanya. Padahal jika seseorang menampakan keislaman, maka wajib
dilindungi kecuali jika nyata-nyata ia melakukan tindakan yang bertentangan
dengan pengakuanya.28 Allah telah menurunkan ayat tentang hal tersebut :
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka
telitilah.”(Anda-Nisa’:94).

Maksudnya, carilah kepastiannya. Ayat ini menunjukan bahwa wajib hukumnya menahan diri dan bersikap hati-hati. Jika ternyata setelah itu ia melakukan apa yang bertentangan dengan ajaran Islam maka boleh dibunuh, berdasarkan firman-Nya,

“Maka telitilah”. Jika tidak boleh dibunuh bila telah mengucapkan syahadat, maka tidak ada artinya perintah untuk teliti dalam hal ini. Demikian juga hadits lain yang semisalnya, mempunyai pengertian seperti yang telah kami sebutkan, bahwa orang yang menampakan keislaman dan tauhid, wajib dilindungi kecuali jika nyata-nyata perbuatannya bertentangan dengan hal itu. Dasarnya, Rasulullah
Shallallahu alaihi Wasallam bersabda: “Apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’?”, dan beliau juga bersabda: “Aku diperintahkan memerangi manusia hingga mereka mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’.” Juga sabdanya tentang Khawarij:

“Di manapun kalian bertemu mereka, maka bunuhlah mereka. Seandainya aku menjumpai mereka, niscaya aku akan membunuh mereka sebagaimana pembunuhan atas kaum ‘Ad.”29

Padahal mereka itu adalah orang-orang yang banyak beribadah dan berdzikir dengan ‘Laa ilaaha illallaah’ bahkan para shahabat memandang rendah shalatnya di hadapan mereka, padahal mereka itu belajar ilmu dari para shahabat.

Jadi, ucapan ‘Laa ilaaha illallaah’, ibadah yang banyak dan pengakuan keislaman, sama sekali tidak berguna bagi mereka tatkala tampak dari mereka perbuatan yang bertentangan dengan syariat.

Demikian pula apa yang kami sebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam memerangi orang-orang Yahudi, dan para shahabat memerangi Bani Hanifah. Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam pun pernah berniat menyerang Bani Al Musthaliq ketika diberi tahu mereka menolak membayar zakat, sehingga Allah menurunkan firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik yang membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengatahui keadaan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al Hujarat:6).

Dan ternyata orang yang membawa kabar itu memang berdusta atas mereka.30

Itu semua menunjukan bahwa maksud Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam dalam hadits-hadits, yang mereka jadikan dalih, adalah apa yang kami sebutkan tadi.

Ada syubhat lain yang mereka kemukakan, yaitu apa yang disebutkan oleh Nabi
Shallallhu Alaihi Wasallam bahwa umat manusia pada hari kiamat meminta pertolongan kepada Nabi Adam, kemudian kepada Nabi Nuh, kemudian kepada Nabi Ibrahim, kemudian kepada Nabi Musa dan kepada Nabi Isa. Para nabi itu semuanya menyatakan tidak bisa menolong , sehingga mereka akhirnya datang kepada Nabi Muhammad Shallallhu Alaihi Wasallam. Menurut mereka, hal ini
menunjukan bahwa minta pertolongan kepada selain Allah bukan merupakan perbuatan syirik.

Untuk menjawab syubhat ini, kita katakan: Meminta pertolongan kepada makhluk
dalam rangka yang mampu dilakukannya, kita tidak mengingkari
kebolehannya,seperti yang difirmankan Allah Ta’ala dalam kisah Nabi Musa:

“Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk
mengalahkan orang yang dari musuhnya.”(Al Qashash:15).

Seperti halnya seseorang yang meminta pertolongan kepada temannya ketika
dalam peperangan dan perkara-perkara lain yang mampu dilakukan oleh
makhluk. Namun kita menolak istighatshah ibadah (meminta pertolongan secara
ibadah) seperti yang mereka lakukan di atas kuburan para wali, atau ketika para
wali tidak hadir di hadapan mereka, atas perkara-perkara yang tidak mampu
dilakukan kecuali oleh Allah semata.”31

Jika hal tersebut telah jelas, maka perlu diketahui bahwa meminta pertolongan pada para nabi pada hari kiamat, maksudnya agar mereka memohon kepada Allah semoga berkenan menghisab manusia sehingga ahli Surga terbebas dari malapetaka yang daksyat di tempat dikumpulkannya para makhluk pada hari itu.

Hal ini boleh hukumnya, baik di dunia maupun di akhirat. Anda boleh mendatangi seorang shaleh yang masih hidup, hadir duduk bersama Anda dan mendengar ucapan Anda, lalu meminta kepadanya,”Doakan kepada Allah untukku!..”

sebagaimana para shahabat meminta kepada Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam di masa hidup beliau.

Sedangkan setelah beliau wafat, sama sekali mereka tidak pernah meminta kepada nabi di sisi kuburan beliau. Bahkan para salaf mengingkari orang yang berdoa langsung kepada Allah jika dilakukan di sisi kuburan beliau.Lalu, bagaimana dengan permintaan yang ditujukan kepada beliau sendiri?

Masih ada lagi syubhat mereka yang lain, yaitu kisah Nabi Ibrahim Alaihi salam
ketika dimasukkan ke dalam api, malaikat Jibril menampakkan diri di hadapannya dan berkata: “Apakah engkau perlu sesuatu? Nabi Ibrahim ‘alaihis salam menjawab:” Saya tidak memerlukan sesuatu darimu””32

Kata mereka: seandainya meminta pertolongan kepada Jibril merupakan perbuatan syirik, tentu Jibril tidak menawarkan kepada Ibrahim.

Jawabnya: Hal ini sejenis dengan syubhat pertama. Jibril menjawab kepada Nabi
Ibrahim bantuan yang mampu ia lakukan, karena ia mempunyai sifat seperti yang
disebutkan Allah dalam firman-Nya:

“Ucapan itu tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang
diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.”(Najm:4-5).

Jika Allah mengizinkan kepadanya untuk mengambil api yang membakar Ibrahim
atau mengambil tanah dan gunung-gunung sekitarnya kemudian
melemparkannya ke arah timur atau barat, niscaya Jibril melakukannya.

Dan seandainya Allah memerintahkannya untuk menempatkan Ibrahim di tempat yang
jauh dari musuh-musuhnya, niscaya Jibril akan melaksanakannya. Andaikata pula Allah memerintahkan untuk mengangkat Ibrahim ke langit, niscaya ia laksanakan. Ini seperti halnya seorang kaya yang mempunyai banyak harta, melihat seseorang yang membutuhkan, lalu ia menawarkan pinjaman kepadanya atau memberinya sesuatu bantuan untuk memutupi kebutuhannya, lantas orang
yang membutuhkan tersebut menolak bantuan itu, karena ia lebih memiliki bersabar hingga Allah memberinya rizki dengan karunia-Nya semata. Apakah hal ini termasul istighasah ibadah dan syirik, jika mereka memahami.?33

Mari kita tutup pembahasan ini, Insya Allah, dengan permasalahan yang besar
dan penting sekali, yang dapat dipahami dari yang telah kita bahas terdahulu.

Sengaja kita bahas tersendiri karena permasalahan ini amat penting dan
banyaknya kesalahan mengenainya.

Tidak ada pertentangan bahwa tauhid harus dilakukan dengan hati, lisan dan perbuatan. Jika salah satu dari ketiga hal ini tak terpenuhi, maka seseorang belum bisa dikatakan muslim.

Jika mengetahui tauhid tetapi tidak mengamalkannya, maka ia adalah seorang kafir keras kepala, seperti Fir’aun, Iblis dan semisalnya. Banyak orang yang salah dalam hal ini. Mereka mengatakan: “Ini adalah kebenaran. Kami memahaminya dan bersaksi bahwa itulah yang benar.

Namun kami tidak mampu melaksanakannya. Tidak boleh bagi masyarakat negeri kami kecuali yang sesuai dengan mereka, dan alasan-alasan lainnya.” Orang yang perlu dikasihani ini tidak mengerti bahwa mayoritas para pemimpin kekafiran pun mengetahui kebenaran, tetapi mereka meninggalkannya hanya karena adanya sesuatu dari alasan-alasan tersebut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Mereka menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah.”(At-Taubah:9)
“Mereka mengetahui Muhammad itu sebagaimana mereka mengenal anak-anak
mereka sendiri.”(Al-Baqarah:146)

Dan berbagai ayat lainnya yang senada. Apabila seseorang mengerjakan tauhid
hanya dengan amal lahir saja tanpa memahaminya, atau tidak mempercayai
dengan hatinya, maka dia adalah seorang munafik yang lebih buruk daripada
orang kafir.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkat yang paling
bawah dari Neraka.”(An-Nisaa’:145).

Permasalahan ini merupakan masalah besar dan panjang, akan nyata bagi Anda
jika Anda perhatikan ucapan orang-orang.

Anda melihat seseorang mengetahui kebenaran tetapi ia tidak mengamalkannya karena takut berkurang kekayaan duniawi atau pangkat kedudukannya, atau karena ingin menyenangkan orang lain. Anda juga melihat ada yang mengamalkannya sebatas lahirnya saja, sementara hatinya tidak; jika Anda tanyakan kepadanya tentang apa yang diyakini dalam hatinya, ia tidak mengetahuinya. Namun, hendaknya Anda memahami dua ayat Al-Qur’an berikut ini:

Pertama , firman Allah yang disebutkan di muka:
“Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.”(At-
Taubah:66).

Jika sudah jelas bagi Anda bahwa sebagian shahabat yang ikut berperang melawan Romawi bersama Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam menjadi kafir lantaran kalimat kafur yang mereka ucapkan hanya dengan sendau gurau dan main-main, maka nyatalah bagi Anda bahwa orang yang mengucapkan kekufuran atau melakukannya karena takut berkurang kekayaan duniawi atau pangkat kedudukannya, atau karena ingin menyenangkan orang lain, adalah lebih berat daripada orang yang mengucapkan sesuatu hanya sekedar bermain-main.

Kedua, firman Allah Ta’ala:
“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat
kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa (kafir) padahal hatinya tetap tenang
dalam keadaan beriman (dia tidak berdosa)”(An-Nahl:106)
.
Allah tidak memaafkan seseorang dari mereka kecuali siapa yang dipaksa kafir
sedang hatinya tetap tenang dalam keimanan. Adapun selainnya, maka ia telah
kafir sesudah beriman; baik melakukannya karena takut, atau karena ingin
menyenangkan seseorang, atau karena ambisi terhadap negeri, keluarga, suku
dan harta kekayaannya, atau melakukannya hanya sekedar bermain-main, atau
karena tujuan-tujuan lain; terkecuali orang yang dipaksa. Ayat tersebut
menunjukan hal ini dari dua sisi:

Pertama, firman Allah:
“Kecuali orang yang dipaksa (kafir).”(An-Nahl:106).

Dalam ayat ini, Allah tidak mengecualikan selain orang yang dipaksa. Dan telah
dimaklumi bahwa seseorang tidak dapat dipaksa kecuali dalam perbuatan dan
ucapan. Adapun keyakinan hati tidak seorang pun yang dapat memaksanya.
Kedua, firman Allah:

“Yang sedemikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai
kehidupan di dunia lebih dari akhirat.”(An-Nahl:107).

Dengan jelas disebutkan di sini bahwa kekufuran dan adzab ini bukan disebabkan
keyakinan, kebodohan (ketidaktahuan), kebencian terhadap agama, atau
kecintaan terhadap kekufuran. Akan tetapi disebabkan karena mempunyai suatu
kepentingan duniawi, maka dia lebih mengutamakan daripada agama.

Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lebih mengetahui. Segala puji milik Allah
Tuhan semesta alam. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah
kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para shahabatnya.

Sumber : Dicopy dari http://www.perpustakaan-islam.com

Foot Note :

16 Makna menyembah berhala yaitu mengambil berhal-berhala sebagai wasithah) perantara. Yakni penyembahan berhala itu berusaha mendekatkan diri kepadanya dengan sesuatu yang dianggapnya dapat mendekatkan diri kepada Allah .
seperti dengan melakukan penyembelihan kurban untuk berhala-berhala itu, bernazar dan berdoa kepadanya. Sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang musyrik yang menyembah orang-orang mati.(Ibnu Mani’).

17 Sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Ta’ala :
“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau sipakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan,dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yg mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan sipakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka menjawab Allah.”(Yunus:31).

18 Demikian seperti yang disebutkan Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dari Ibnu abbas (4/609). Liaht tafsirnya dalam Fathul Bari (8/612), bab firman Allah (Allahush Shamad).

19 Mereka adalah Musailamh Al-Kadzdzaab dan para pendukungnya. Para shahabat Radhiyallahu’anhum tidak berselisih dalam memerangi mereka, bahkan semua sepakat dalam satu kata.

20 Yusuf, Syamsan dan Taj adalah nama-nama sebagian dari yang dipercayai negeri itu, sebagaimana Badawi, Dasuki dan
Matbuli di Mesir, atau Ibnu Arabi di Damaskus. Demikian keterangan Muhibbuddin Al-Khatib Rahimahullah.

21 Hadits bahwa Ali membakar orang-orang Rafidhah dengan api, dikeluarkan oleh Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari
(12/282) dalam keterangan hadits Ikrimah no. (6922,3071). Dan ia berkata : “Sanad hadits ini hasan.” Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah juga menyebutkan dalam Al-Majmu (3/279 dan 13/33). Sedangkan Al-Allamah Muhammad As Safarini
menyebutkannya dalam Syarhud Durrah Al Mudhiyyah yang disebutnya Lawami’ul Anwar Al- Bahiyyah (1/80).

22 Mereka adalah orang yang menamakan diri sebagai Ayat Fathimaiyun secara dusta dan mengada-ada. Mereka itu, sebagaimana dikatakan oleh tidak sedikit ulama”secara lahiriah adalah Rawaafidh dan batiniah adalah kafir”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Paling tidak mereka mengaku sebagai orang-orang yang menampakan Islam dan mentaati syariat-Nya, padahal tidak semua orang-orang yang menampakan keislamannya itu menjadi orang yang beriman secara
batin. Sebab, telah diketahui, terdapat dalam orang-orang yang menampakan Islam ada yang mukmin dan ada pula yang munafik. Allah berfirman: “Di antara manusia ada yang mengatakan : ‘Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.”(Al Baqarah:8).

23 Hadits ini dikelurkan oleh At Thabari dengan sanad yang shahih, seperti dikatakan Syaikh Mahmud Syakir (no. 1692, 14/333) dengan lafazh: dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Ada seorang lelaki dalam perang Tabuk di sebuah majlis mengatakan’Belum pernah kita melihat orang seperti para pembaca Al-Qur’an ini (maksudnya Nabi dan para shahabatnya), mereka itu lebih buncit perutnya,lebih dusta ucapannya dan lebih takut ketika berperang”.

Salah seorang yang ada di majlis itu berkata: “Pembohong, sungguh kamu adalah seorang munafik. Akan saya laporkan hal ini kepada Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam.” Hal itu pun terdengar oleh Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam hingga
turunlah ayat Al-Qur’an. Abdullah bin Umar berkata: “Saya melihatnya berpegangan pada tali pelana unta Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami hanya bersendau gurau dan main main saja,’ Rasulullah pun menjawab: “Apakah dengan ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok. Tidak kamu minta maaf, karena kamu kafir setelah beriman.”(At Taubah:66).

24 Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam bab “Sungguh kalian akan meniru cara orang-orang sebelum kalian”.

Katanya: “hadits ini hasan shahih”. Menurut lafzh At Tirmidzi: Dari Abu Waqid Al Laitsi bahwasanya Rasulullah
Shallallahu alaihi Wasallam ketika sedang menuju Hunain, beliau melewati sebuah pondok milik kaum Quraisy yang
disebut dengan Dzaatu Anwaath tempat mereka menggantungkan senjata-senjata mereka. Sebagian shahabat berkata:
“Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath sebagaimana yang mereka miliki.” Rasulullah Shallallahu alaihi
Wasallam menjawab: “Maha Suci Allah, ucapan ini seperti yang dikatakan oleh kaum Musa ‘Buatlah untuk kami tuhan
(berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan.’. demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesngguhnya
kalian akan meniru cara orang-orang sebelum kalian.”

25 Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhari, dalam kitab Al Maghazi (Fathul Bari, 7/590, no. 4269), dan kitab Diyat (12/119 no. 6872). Menurut lafzh Al Bukhari berdasarkan hadits dari Usamah Radhiyallahu’anhu: “Kami diutus oleh Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam ke kaum Al Hirqah. Kami pun menemui mereka pada pagi harinya dan kami
segera memerangi mereka. Saya, bersama salah seorang dari Anshar, bertemu dengan salah satu musuh. Ketika kami sudah mengalahkannya, ia mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’. Orang Anshar tersebut sgera menghentikan serangannya, tetapi saya menusuknya dengan tombak saya sampai meninggal. Sepulang kami, orang Anshar itu mengadukan kepada Rasulullah Shallallhu Alaihi Wasallam, beliau bersabda: “Wahai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’? saya menjawab: “Ia mengucapkannya untuk melindungi diri.”namun beliu terus
menerus mengulang-ulang pertanyaanya hingga saya berangan-angan seandainya saya belum masuk Islam sebelum hari itu.”

26 Hadits ini mutawatir, diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitab Zakat (Fathl Bari , 3/300, no. 1399), bab ‘Membunuh orang yang enggan melaksanakan kewajiban dan yang sejenis dengan kemurtadan’. Menurut lafazh Bukhari: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam meninggal, Abu Bakar mengkafirkan kembali orang-orang Arab yang kembali kepada kekufuran. Umar berkata: ‘Bagaimana kita akan memerangi mereka, sedangkan Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam telah bersabda: “Saya diperintahkan memerangi
manusia sehingga mereka mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’. Barang siapa mengucapkannya, maka ia telah terlindung harta dan jiwanya dariku kecuali dengan sebab haq, dan perhitungannya atas Allah.”

27 Hadits tentang perang terhadap orang-orang Yahudi di Bani Quraidah dan penawanan para wanita serta anak-anak mereka, diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Al Maghazi (Fathul Bari, 7/475 no. 4122), dan Muslim dalam bab Hukum
memerangi dan mengingkari janji, dari Aisyah (no. 1154 Mukhtashar Al Mundziri). Menurut lafazh Bukhari: Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, katanya: Sa’d pada waktu perang Khandaq terkena panah seseorang dari Quraisy namanya Habban
bin Al Araqah, terkena pada urat tangannya. Maka Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam mendirikan kemah di masjid agar dapat menjenguknya dari dekat. Tatkala Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam kembali dari Khandaq, beliau meletakan
senjata dan mandi. Lalu datnglah Jibril Alaihi Salam kepada beliau ketika sedang membersihkan debu dari kepalanya, seraya berkata: “Engkau telah meletakan senjata? Demi Allah aku tidak meletakannya. Keluarlah kepada mereka!”. Nabi
Shallallhu Alaihi Wasallam bertanya: “Ke mana?”. Jibril pun menunjuk ke arah Bani Quraidhah. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam mendatangi mereka, lalu mereka menyerahkan keputusannya kepada Sa’d.
Kata Sa’d:
“Sungguh aku memutuskan terhadap mereka agar dibunuh orang yang ikut berperang, ditawan para wanita dan anak keturunan, dan dibagi harta kekayaan mereka…”.

28 Perlu Anda ketahui, semoga Allah melimpahkan kebahagian kepada Anda dengan cahaya tauhid dan melindungi Anda dari noda-noda syirik, bahwa wajib menahan diri terhadap orang yang menunjukan keislamannya, tidak boleh menyebutnya kafir atau yang semisalnya hingga nyata-nyata perbuatannya bertentangan dengan keislamannya dan membatalkannya. Hal-hal yang membatalkan keislaman seseorang mengacu pada 10 kaidah, setiap kaidah terdiri dari bermacam-macam bentuk dan rincian yang sulit dihitung. Kami sebutkan di sini secara ringkas, yaitu: (1) Syirik dalam beribadah kepada Allah. (2) Mengangkat perkara antara dirinya dengan Allah. (3) Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu atas kekafiran mereka, atau membenarkan pemahaman mereka. (4) Berkeyakinan bahwa petunjuk atau hukum orang lain lebih sempurna atau lebih baik dari pada petunjuk atau hukum Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam.
(5) Membenci ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam , sekalipun ia mengerjakannya. (6) Menghina suatu ajaran agama Rasulullah, pahala atau siksanya. (7) Berbagai bentuk sihir. (8) Membantu dan mendukung kaum musyrikin dalam melawan kaum muslimin. (9) berkeyakinan bahwa ada sebagian manusia yang tidak wajib mengikuti syariat Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam. (10) Berpaling dari agama Allah, tidak mempelajari dan tidak pula mengamalkannya. Lihat keterangannya dalam risalah yang kami susun, “Asyru Rasa’il fit Tauhid wan Najat minas Syirik.”

29 Diriwayatkan oleh Al Bukhari (Fathul Bari, no. 6930, 6931), bab ‘Meminta Taubat dan memerangi Orang-orang Murtad dan yang Membangkang’; juga oleh Muslim 3/114), Anda Nasaa’I (no.3823,, Ash Shahih oleh Al-Albani), dalam Shahih
Ibnu Majah (no. 138-145)Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah (10/224) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah Sunnah, (no. 910,914 dst.) dengan takhrij Syaikh albani.

30 Hadits ini disebutkan al Haitsami dalam Majma’uz Zawaaid (7/109), katanya: “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath Thabrani, dan para periwayat yang disebutkan Ahmadadl orang-orang yang terpecaya.” Juga disebutkan Ibnu
Katsirdl tafsirnya (4/223), dan Ibnul Qayyim dalam tafsirnya yang disebut dengan tafsir Al Qayyim, hal 440. menurut lafazh Ibnu Katsir dari hadits Al Haris bin Diraar Radhiyallahu ‘anhu , katanya: “Saya mengahdap Rasulullah Shallallahu
alaihi Wasallam, beliau pun mengajak saya untuk masuk Islam dan saya masuk Islam, beliau pun mengajak saya untuk menunaikan zakat, dan saya mau menunaikannya, saya katakan: ‘Wahai Rasulullah, sy akan kembali ke kaum sy untuk mengajak mereka masuk Islam dan menunaikan zakat. Barang siapa mau mengikuti, sy aka mengumpulkan zakatnya. Selanjutnya engkau kirim seseorang kepada sewaktu-waktu tertentu untuk mengambil zakat yang telah saya kumpulkan dan menyerahkannya kepadamu.’ Ketika Al Harits telah mengumpulkan zakat dari orang-orang yang mengikuti dakwahnya dan telah sampai waktu yang dijanjikan Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam, ternyata pada waktu itu Rasulullah berhalangan dan td bisa mengirim seseorang untuk mengambil zakat, hingga Harits mengira Allah dan Rasul-Nya sedang marah terhadapnya. Kemudian mengumpulkan kaumnya berkata : ‘Sungguh Rasulullah Shallallahu alaihi
Wasallam telah menentukan waktu untuk mengirim utusannya guna mengambil zakat yang telah aku kumpulkan . Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam tidak pernah mengingkari janji dan beliau tidak menunda pengiriman utusannya kecuali karena kemarahan. Mari ikut saya menemui Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam .’ pada saat itu Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam mengirim Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat. Ketika Walid sudah berangkat beberapa lama, di tengah jalan ia merasa ketakutan, lalu ia kembali kepada Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam dan
berkata:’Wahai Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam, sesungguhnya Al Harits menolak menyerahkan zakat kepadaku dan hendak membunuhku.’ Mendengar hal tersebut, Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam marah dan mengirimkan
pasukan kepada Al Harits Radhiyallahu ‘anhu . ketika pasukan ini baru keluar dari Madinah, mereka bertemu dengan Al Harits dan berkata: ‘Itu Al Harits!’. Ketika mendekati mereka, Al Harits bertanya: ‘Kepada siapa kalian dikirim Rasulullah
Shallallahu alaihi Wasallam ?’ Mereka menjawab:’kepadamu.’ Al Harits selanjutnya bertanya:’Kenapa?’ Mereka menjawab: ‘Sungguh Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam telah mengirim Walid bin Uqbah kepadamu dan beliau mengira engkau
telah menolak membayar zakat dan hendak membunuhnya.’ Al Harits berkata: ‘Demi Allah yang telah mengutus Muhammad Shallallhu Alaihi Wasallam dengan haq, sama sekali saya belum bertemu Walid bin Uqbah dan dia tidak mendatangi saya. Kedatangan saya di sini karena Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam terlambat mengirmkan
utusannya hingga saya khawatir ini karena kemarahan aad Rasul-Nya.’ Setelah itu turunlah ayat ‘Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik…..”

31 Bahkan dalam perkara yang bisa dilakukan oleh mkhluk, kita tidak boleh meminta pertolongan kepada orang yang sudah meninggal atau dalam keadaan ghaib (tidak hadir di hadapan kita)

32 Disebutkan Al Baghawi dalam tafsir surah Al Anbiya’ dengan menyatakan dha’if. Katanya: “Diriwayatkan dari Al Ahbar bahwa Ibrahim Alaihi Shalatu was Salam ….tatkala mereka melemparkannya dengan manjaniq (alat perang zaman
dahulu) ke dalam api, beliau pun ditemui oleh Jibril seraya berkata kepadanya: ‘Hai Ibrahim! Apakah engkau perlu sesuatu?’ Ibrahim menjawab: “Jika kepadamu, maka saya tidak perlu sesuatu.’ Kata Jibril: ‘Maka mintalah kepada Tuhanmu!’ Ibrahim menjawab: ‘Cukuplah dengan permintaanku bahwa Dia Maha Tahu akan akan keadaanku’.” Dan disebutkan oleh Ibnu Katsir berasal dari sebagian salaf (3/193).

Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Adh Dha’ifah berkata:
“Kisah ini tidak ada dasarnya… Jelasnya, perkataan yang katanya berasal dari Ibrahim Alaihi Shalatu was Salam ini tidak layak diucapkan oleh seseorang muslim yang mengetahui kedudukan doa dalam agama Islam, lalu bagaimana hal itu diucapkan seorang nabi yang menyebut kita dengan ‘muslimin’? Kemudian saya dapatkan hadits ini disebutkan Ibnu Iraq dalam Tanzihusy Syariah al Marfu’Al-Hadits ‘Anil Akhbarisy Syani’atil Maudhu’Al-Hadits, dan katanya (1/250): Ibnu Taimiyah menyatakan maudhu’.”

33 Mereka yang meminta pertolongan kepada orang yang sudah mati – semoga Allah menunjuki mereka- tidak mengetahui bahwa orang yang sudah mati itu tidak bisa mendengar orang yang meminta pertolongan kepadanya, berdasarkan firman Allah, artinya: “Jikalau kamu berdoa kepada mereka, niscaya mereka tidak bisa mendengar doamu.” Saya nasehatkan kepada mereka agar membaca kitab “Al Ayaat al Bayyinat fii ‘Adami Simaa’ al Amwaat” (Tanda-tanda nyata tentang ketidakmampuan orang-orang yang sudah mati untuk mendengar), karya Al Alusi, dengan tahqiq Syaikh Al-Albani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: